It This Love ? – Chapter 4

by bebebaek_

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

Main cast : Byun Baekhyun & Z.Hera.

Genre : romance.

Length : Ficlet | Rating : General.

-aku yang masih gamon berkelanjutan sama ini couple. Di ambil dari beberapa adegan drama moon lovers : scarlet heart ryeo dan di adaptasi ke zaman modern. Murni imajinasi aku ya, don’t plagiat. Bikin cerita itu susah!-

Happy reading

***

Final test semester telah selesai sejak dua hari yang lalu namun perkuliahan belum juga di liburkan. Tentu saja alasannya adalah belum keluarnya nilai akhir untuk seluruh mahasiswa.

Hera terus melangkah tanpa tujuan di sepanjang koridor lantai dua kampusnya, tidak ada yang harus di kerjakannya selain menunggu beberapa nilai mata kuliah yang menurut kabar akan di keluarkan hari ini.

Langkah hera berhenti tepat di depan ruang vokal dimana pintunya tidak tertutup rapat, meski sedikit ragu hera akhirnya melangkah masuk. Kedua bola mata hera mengedar ke seluruh ruangan. Sepi, tenang dan hera merasa nyaman di sini. Ia terus melangkah menuju sebuah piano yang terletak di ujung ruangan.

Langkah hera berhenti saat ia berada tidak jauh dari piano di depannya tepatnya karena jongdae yang duduk di balik piano itu.

“Annyeong hera-ssi” sapa jongdae sesaat setelah ia menyadari kehadiran hera yang baru saja menginjakkan kakinya di ruang tersebut.

“Ahh. Maaf jika aku mengganggmu-” kata hera tidak enak karena masuk tanpa permisi.

 Jongdae tersenyum ramah. “Tidak apa-apa, lagi pula ruang ini adalah tempat umum aku tidak memiliki hak untuk melarang siapapun masuk ke sini” jawab jongdae setelahnya.

“Apa kau ada keperluan ?” Tanya jongdae kemudian.

“Tidak. Aku hanya berkeliling” jawab hera canggung. “Eumm jongdae-ya, soal waktu dulu-, itu maafkan aku” lanjut hera kembali meminta maaf atas apa yang di lakukannya pada jongdae di waktu keduanya masih kecil.

Jongdae lagi-lagi jongdae tersenyum. “Santailah hera-ya, mau berapa kali kau meminta maaf ? Aku bahkan sudah melupakannya”

Hera ikut tersenyum, lalu manik gadis itu beralih fokus pada piano di depan jongdae. “Kau pandai memainkannya ?” Tanya hera kemudian.

“Ah ini, sebenarnya aku tidak terlalu jago dalam memainkan alat musik” aku jongdae. “Alat ini suamimu itu yang jago memainkannya” celetuk jongdae lagi.

“Ah benarkah ? Aku tidak tahu tentang itu” kata hera rendah.

“Ya, kapan-kapan kau minta saja baekhyun untuk menyanyikan sebuah lagu untukmu”

“Ku rasa dia tidak akan mau” jawab hera dengan suara pelannya namun dapat jongdae dengar dengan jelas.

“Maaf- aku tidak bermaksud-” sadar jongdae kemudian akan hubungan baekhyun dan hera. Ya, jongdae menyadarinya dari perubahan wajah hera.

“Eumm apa kau ingin belajar memainkannya ?” Jongdae berusaha mengubah atmosfir yang telah berubah tidak mengenakkan. “Jika itu tentang hal dasarnya saja ku rasa aku bisa mengajarkannya padamu” lanjut jongdae dengan senyum merekah.

“Benarkah !?” Seru hera antusias kedua manik matanya bahkan berbinar senang.

“Ya, jika kau berjanji tidak akan menertawakan kemampuanku” celetuk jongdae yang di angguki hera antusias.

“Kalau begitu kemarilah” suara jongdae menepuk sisi kosong kursi di sampingnya memberi isyarat pada hera untuk duduk di sana.

Tanpa berpikir sedikitpun hera segera beranjak dan duduk tepat di samping jongdae berbagi kursi yang sama berdua. Jongdae mulai mengajari hera saat tiba-tiba pintu ruangan di depan mereka kembali terbuka.

Minseok dan baekhyun yang melangkah dengan saling berangkulan memasuki ruang vocal menghentikan langkah mereka bersama saat mendapati hera dan jongdae yang bahkan tidak menyadari kedatangan keduanya.

“Ehem!” Dehem minseok sengaja untuk menyadarkan jongdae dan hera akan keberadaan mereka.

“Eoh! Kalian sudah datang” suara jongdae tanpa dosa setelah melihat baekhyun dan minseok berdiri di depan mereka.

“Apa yang kalian lakukan di sini ?” Tanya minseok kemudian.

“Ah ini- hera secara tidak sengaja ke sini di saat aku menunggu kalian dan untuk mengisi waktu aku sedikit mengajarinya dasar-dasar bermain piano” jawab jongdae jujur namun itu justru membuat seseorang yang sedari tadi berdiri tanpa bersuara sepatah katapun di samping minseok mengepalkan kedua tangannya tidak suka.

Rahang baekhyun mengeras terlebih saat ia mendapati hera yang saat ini justru tengah tersenyum bersemu di depan orang lain. Baekhyun tidak suka. Ya, baekhyun benci melihat hera merona untuk orang lain.
“Ahh!! Jadi begitu. Kalian tidak sengaja bertemu!” Kata minseok nyaring berusaha mencairkan suasana yang mungkin hanya minseoklah yang menyadari perubahan raut baekhyun.

“Ikut aku-” kata baekhyun singkat. Baekhyun menarik keras lengan hera dan membawanya keluar dari ruangan tersebut.

“Yak! Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan?” Celetuk minseok mendelik tajam pada jongdae selepas baekhyun dan hera pergi.

Jongdae hanya tersenyum miring menanggapi pertanyaan minseok. “Dia jatuh cinta. Tapi begitu gengsi untuk mengakuinya” ujar jongdae menatap pintu terbuka di depannya.

“Yak, baek-ah lepaskan. Ini sakit” ringis hera sepanjang koridor. Baekhyun menariknya dengan cengkraman begitu kuat pada lengan kanannya.

Baekhyun menghempaskan kasar lengan hera dari cengkramannya setelah keduanya berada di ujung lorong yang begitu sepi. Tatapan baekhyun jelas terlihat berbeda, dingin menahan amarah.

Hera meringis pelan, gadis itu mengusap lengannya yang terasa perih saat baekhyun bersuara tajam “apa kau ingin mempermalukanku ?”

Hera mendongak menatap baekhyun yang kini menodongnya dengan tatapan seolah akan mengulitinya hidup-hidup.

“Apa yang kau lakukan ?” Suara baekhyun lagi tegas.

Hera mengernyit sesaat. Ia tidak pernah melihat ekspresi baekhyun seserius saat ini. “Apa kau tuli ? Ku tanya apa yang kau lakukan di sana!?” Suara baekhyun mengeras. Baekhyun tidak lagi dapat menahan amarahnya terlebih saat gadis di depannya diam seolah tidak mengerti apa-apa.

Hera tersentak. Sekasar apapun baekhyun padanya baru kali ini hera mendengar nyaring pemuda itu membentaknya. Hati hera terasa di paksa keluar dari tempatnya.

“Ak-u hanya tidak se-ngaja masuk dan-“

“Dan kau memintanya mengajarimu- hahhh!! Kau- ? Apa merubah targetmu sekarang ?” Potong baekhyun.

“Yahhh sekarang aku tahu bagaimana dirimu sebenarnya. Kau berlagak tidak tahu apapun, kau tidak hanya seorang preman tapi juga gadis-“

“Cukup!” Pekik hera tidak tahan akan segala tuduhan yang di lontarkan baekhyun kepadanya. Hera tidak sanggup sungguh ia tidak ingin mendengar kalimat yang lebih pahit keluar dari mulut pemuda yang selama ini di sukainya.

“Tidak bisakah kau mendengar apa penjelasanku ? Selama ini kau hanya percaya pada apa yang kau yakini. Apapun yang aku katakan akan selalu salah karena kau selalu menganggap aku dan kehadiranku memanglah sebuah kesalahan sejak awal” kata hera dengan perasaan yang bergemuruh. Dadanya terasa sesak dan kedua matanya terasa memanas menahan bendungan air matanya.

“Kau tidak perlu menjadikan kejadian ini sebagai sebuah alasan. Mempermalukanmu ? Tidak baek-ah aku tidak pernah berniat sekalipun untuk mempermalukanmu. Hanya kaulah selama ini yang malu akan keberadaanku”

“Dan seandainya aku memintamu mengajariku, apa kau yakin kau mau mengajariku ?” Lanjut hera lemah. Hera kemudian beranjak pergi meninggalkan baekhyun yang diam dengan sisa-sisa amarahnya. Dapat baekhyun lihat dengan jelas gadis itu menyeka kasar air matanya di sela laju langkahnya. Hera menangis dan itu karenanya.

~

“Besok kalian akan berangkat ke pulau jeju pukul 09.00, jadi persiapkan barang-barang kalian dan jangan sampai terlambat” suara nyonya byun di sela aktifitas mengunyahnya.

“Woahhh oppa dan eonni benar akan berbulan madu di jeju ?” Tanya dahyun antusias.

“Eomma! Apa aku boleh ikut ? Aku juga ingin berlibur” lanjutnya kemudian.

“Tentu saja tidak. Kau hanya akan mengganggu mereka” sahut nyonya byun cepat.

Dahyun menekuk wajahnya. “Kalau begitu oppa, eonni tolong bawakan aku seorang keponakan setelah kalian kembali nanti” celetuk dahyun kembali.

 Tuan dan nyonya byun yang mendengar ucapan dari putri bungsu mereka ikut tersenyum antusias. “Hahaha. Benar baek-ah, appa juga sudah tidak sabar ingin menggendong cucu appa” kata tuan byun ikut menimpali.

“Eommapun begitu, kalian harus berusaha keras di sana eoh” lanjut nyonya byun menatap keduanya bergantian.
Sementara semua orang di ruang makan itu begitu antusias. Hal berbeda justru terlihat pada baekhyun dan hera, keduanya tidak lagi berbicara sejak hari itu. Hera ingin baekhyun sadar akan kesalahannya. Dan baekhyun yang sama sekali tidak ingin di salahkan. Keduanya berdiri di atas ego masing-masing.

Pagi ini saat matahari masih tertutup tebalnya awan musim dingin baekhyun dan hera telah berada di Gimpo Airport Seoul untuk menunggu penerbangan menuju pulau jeju.

Keduanya berdiri di depan dua buah koper yang beberapa saat lalu di keluarkan oleh supir tuan byun. Ya, mereka pergi hanya di antar oleh sang supir keluarga. Tuan dan nyonya byun serta dahyun hanya menghantarkan keduanya hingga depan pintu rumah mereka.

Baekhyun menarik koper berwarna hitam miliknya kemudian berjalan tanpa sepatah katapun meninggalkan hera yang masih berdiri menatap sekelilingnya. Hera yang mendapati pergerakan baekhyun hanya bisa mencibir tertahan lalu ikut menarik kopernya dan mengikuti langkah panjang baekhyun.

Hera kembali kesusahan saat keduanya telah berada di dalam pesawat. Hera yang ingin memasukkan ranselnya ke dalam kabin nampak kesusahan karena tingginya. Sesekali hera melirik baekhyun yang nampak sama sekali tidak peduli padanya. Lagi-lagi hera hanya dapat mendengus kesal sebelum seorang pramugari menghampirinya dan membantunya meletakkan ranselnya.

“Terima kasih” suara hera berterima kasih sebelum sang pramugari beranjak pergi. Hera kemudian duduk di kursinya tepat di sebelah baekhyun yang benar-benar mengabaikannya. Hera tidak peduli, kali ini ia tidak ingin kembali mengalah.

Baekhyun dan hera telah tiba di pulau jeju setelah melewati penerbangan selama kurang lebih satu jam. Kini keduanya telah berada di salah satu kamar hotel ternama di pulau jeju.

Baekhyun melangkah lebih dulu sembari melepas coat tebal di tubuhnya dan meletakkan di atas tempat tidur pemuda itu lalu beranjak menuju kamar mandi.

Hera masih berdiri di depan pintu kamar mereka. Manik gadis itu meniliti setiap sudut kamar. Wajah hera terlihat gelisah pasalnya di dalam kamar ini hera tidak menemukan satupun sofa atau kursi.

Hera beranjak melangkahkan kakinya menuju salah satu lemari. Hera membuka lemari itu berharap menemukan tambahan selimut di dalam sana namun sepertinya hera hanya dapat menghembuskan nafasnya berat. Tidak ada apapun di dalam lebari tersebut selain rak-raknya yang masih kosong.

“Bagaimana aku tidur…” keluh hera dalam hati.

Baekhyun keluar dari dalam kamar mandi setelah ia selesai membersihkan dirinya. Ia beranjak menuju kopernya untuk mengambil beberapa pakaian dan meletakkannya di dalam lemari.

Baekhyun membuka lemari satu-satunya di dalam kamar tersebut dan menemukan susunan pakaian dan barang-barang hera yang sudah tertata rapi di salah satu sisi raknya. Baekhyun lalu memalingkan wajahnya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar. Ia tidak menemukan hera di manapun.

“Kemana dia ?” Gumam baekhyun pelan.

Baekhyun memperhatikan semua barang-barang hera dan ia tersadar jika tas kecil yang semalam sempat ia lihat di masukkan gadis itu ke dalam kopernya tidak ada.

“Ckck, apa dia telah pergi seorang diri ? Bahkan di tempat yang baru pertama kali ia kunjungi ia berani- hhhh apa peduliku. Dia bisa menjaga dirinya sendiri lagipula dia preman” kata baekhyun sembari meletakkan barang-barangnya.

Ceklek.

Pintu kamar kembali tersebuka. Hera memasuki kamar dan menemukan baekhyun yang telah tertidur di atas tempat tidurnya.

“Apa dia tidak lapar ? Dia tidak memakan apapun sejak di pesawat tadi” gumam hera menilik teduh wajah tidur baekhyun. Hera lalu meletakkan kantong plastik belanjaannya di atas meja dan bergerak mengambil jaket tebal lain miliknya di dalam lemari.

Hera berbaring tepat di sisi bawah tempat tidur dan menutup separuh tubuhnya dengan jaket tebal miliknya.

“Oh dinginnya” pekik hera pelan saat ia telah berbaring di atas lantai telanjang kamar hotel.
Baekhyun mengerjap samar saat sinar matahari menelusup mengusik tidurnya di balik tirai tertutup kamar. Baekhyun merentangkan kedua tangannya saat maniknya menemukan hera yang masih menutup kedua bola matanya rapat, tidur tanpa beralas apapun di bawah tempat tidur.

Seketika perasaan baekhyun di dera angin yang meharu biru di dalam hatinya. Melihat damai wajah hera membuatnya merasa bersalah telah mengabaikan, bersikap seenaknya dan berlaku kasar pada gadis yang tidak bisa baekhyun pungkiri adalah isterinya. Baekhyun tahu kejadian tempo hari murni kesalahannya namun, lagi-lagi pemuda itu tidak ingin mengalah pada egonya.

“Yak, bangun. Apa kau ingin tetap tidur seperti itu ?” Suara baekhyun pertama kalinya menyapa rungu hera sejak hari itu.

“Kau tidak bangun ? Yak. Yak! Bangunlah” suara baekhyun lagi saat pemuda itu akan beranjak menuju kamar mandi.

“Jika kau tidak bangun sampai aku selesai mandi. Kau akan ku tinggal berjalan-jalan sendiri” lanjut baekhyun sebelum ia menghilang di balik pintu kamar mandi.

Hera membuka matanya sembari menahan senyum saat di dengarnya suara pintu yang telah tertutup. Hati hera terasa ringan saat mendengar suara baekhyun berbicara padanya dan bukan dirinya yang memulai tapi baekhyun sendiri.

“Baek-ah ini” suara hera setelah keduanya di selimuti keheningan kembali.

Baekhyun menyambut lembar kertas yang di sodorkan hera kepadanya. “Woahhh ternyata eomma benar-benar serius merencanakannya” suara baekhyun setelah ia selesai membaca isi dari lembaran kertas tersebut.

Hera menatap baekhyun dengan tatapan ingin tahunya. “Ini-” ujar baekhyun menunjuk pada baris pertama kolom pada kertas itu.

“Kita lewati saja wisata ke Jeju Loveland ini” lanjut baekhyun setelahnya.

“Kenapa ?” Tanya hera bingung. “Dari namanya sepertinya itu adalah tempat yang bagus”

“Tidak. Di sana tidak ada apa-apa, membosankan. Ya- kau pasti akan menyesal jika pergi kesana” kata baekhyun meyakinkan. Bukan karena apa-apa, baekhyun tahu betul apa yang di suguhkan di sana dan ia tidak dapat membayangkan bagaimana jika pergi ke tempat seperti itu bersama hera.

“Eomma memang benar-benar…” batin baekhyun.

“Lalu- Museum Taddy Bear kita juga akan melewatinya lagi pula kau seorang preman mana pantas pergi ke tempat seperti itu” lanjut baekhyun terlalu lancar berujar. Baekhyun kemudian terdiam dan mencuri lirik pada hera yang telah menunduk sembari menekuk wajahnya.

Baekhyun sadar ia kembali menyinggung hera dengan kata-kata yang bagi baekhyun sudah menjadi kebiasaan baginya.

“Baiklah kita akan pergi ke tempat ini” suara baekhyun canggung namun sejurus kemudian menerbitkan senyum di wajah hera yang sekarang kembali ceria.

Luasnya museum yang menyuguhkan segala macam bentuk boneka beruang dan ukurannya yang bermacam-macam telah keduanya kelilingi. Hera yang begitu antusias dan baekhyun yang selalu memasang wajah datarnya di setiap kali hera menariknya ke sana ke mari.

“Baek-ah aku lapar” suara hera setelah gadis itu merasa cacing-cacing di dalam perutnya telah berdemo meminta jatahnya.

“Kau baru merasakannya sekarang ? Kajja-” sahut baekhyun lalu melangkah mendahului hera.

“Woahhh!” Seru hera penuh semangat saat bibi pemilik kedai menyajikan dua mangkuk jeonbokjuk di depannya dan baekhyun.

“Aku akan makan” suara hera kembali sebelum ia mengayunkan sendok pertamanya pada bubur abalon itu.

“Bagaimana ?” Tanya baekhyun dengan mulut penuhnya.

“Hemmmm enak! Woah daebak” jawab hera juga dengan mulut penuh yang bahkan mengepulkan asap.

Baekhyun tersenyum puas. “Makanlah. Setelah ini kita kembali ke hotel, jalan-jalannya kita lanjutkan besok saja” kata baekhyun lagi masih dengan aktifitas makannya. Ya, baekhyun sudah terlalu lama menahan laparnya saat hera terlalu antusias berkeliling sebelumnya.

Hera hanya mengangguk mengiyakan. Gadis itu terlalu takjub akan rasa bubur abalon yang konon merupakan makanan yang sering disajikan untuk raja-raja. Meskipun berwarna cokelat kehitaman, rasanya enak dan gurih.

~
Baekhyun menemukan hera telah terlelap di lantai hotel dengan berselimutkan jaket tebal untuk menutup setengah tubuhnya saat baekhyun kembali dari kamar mandi.

“Apa tidak apa-apa dia tidur seperti itu” gumam baekhyun melihatnya khawatir.

Baekhyun menatap hera sesaat dan setelahnya ia melanjutkan langkahnya dan berbaring di tempat tidur nyamannya. Baekhyun tidak terlalu memikirkan hera, gadis itu mungkin sudah terbiasa dan baekhyun tahu hera adalah gadis yang kuat.

Baekhyun menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Jeju mungkin tidaklah bersalju seperti seoul namun udara musim dingin di sini tetaplah begitu menyengat hingga tulang-tulangnya.

“Sthhhh hehhh hahhh” sebuah suara halus mengusik rungu baekhyun saat baru beberapa jam pemuda itu larut dalam alam mimpinya. Baekhyun berusaha mengabaikannya sebelum kesadarannya kembali di tarik setelah suara itu kembali muncul dan terdengar jelas.

“Hahhh ehhh” sebuah suara racauan. Dengan enggan baekhyun akhirnya membuka matanya dan betapa terkejutnya ia saat mendapati heralah pemilik suara itu.

Segera baekhyun meletakkan telapak tangannya di atas dahi hera yang terlihat banyak mengeluarkan kerigat.

“Panas. Ia demam” gumam baekhyun sembari menarik kembali tangannya.

Tanpa pikir panjang baekhyun mengangkat tubuh hera dan membaringkannya di atas tempat tidur. Ya, siapapun pasti akan sakit jika tidur tanpa beralas apapun di musim dingin saat ini. Bodohnya baekhyun yang mengira hera telah terbiasa akan hal itu.

Baekhyun membuka pela jaket di tubuh hera lalu menutupinya dengan selimut. Tidak lupa baekhyun juga mengompresnya. Berjam-jam lamanya baekhyun terus terjaga mengganti handuk yang mengering di dahi hera dengan yang baru dan terus memastikan jika demamnya tidak semakin tinggi.

“Eung-” hera menggerakan kepalanya pelan. Sepertinya gadis itu telah bangun.

“Kau sudah merasa baikan ?” Tanya baekhyun segera setelah hera membuka matanya.

“Hemm” gumam hera memejamkan matanya sebagai jawaban jika ia telah merasa baikan.

“Baek-ah apa-“

“Kau terkena demam. Kau kelelahan, makan siang terlambat di tambah dengan tidur tanpa alas- yaah kau benar-benar ceroboh” jelas baekhyun yang tidak lupa selalu di sertai dengan ejekannya.

“Malam ini tidurlah di tempat tidur. Anggap saja pengecualian. Aku tidak ingin eomma memarahiku karenamu” lanjut baekhyun.

“Lalu kau- ?” Tanya hera ragu.

“Aku akan tidur sepertimu. Lagi pula aku ini seorang pria, tubuhku pasti lebih kuat dari gadis preman sepertimu” jawab baekhyun lalu menggelar jaket hera sebagai alas tidurnya.

Hening. Tidak ada yang membuka suara kembali, baik baekhyun maupun hera tenggalam dalam pikiran masing-masing. Keduanya belumlah terlelap.

“Yak. Kau sudah tidur ?” Suara baekhyun mendelik ke arah tempat tidur di atasnya.

“Belum”

“Eummm tentang- hemmm maafkan aku” kata baekhyun sekuat hati menekan egonya.

“Eum” jawab hera menahan senyumnya.

Hening.

“Yak, kau tidak ingin meminta maaf kepadaku juga ?” Suara baekhyun lagi, ia bahkan bangkit dari posisi tidurnya dan menilik hera yang masih berbaring. Hera terkejut. Gadis itu menatap baekhyun tanpa berkedip.

“Kau harus meminta maaf karena telah mengabaikanku” lanjut baekhyun salah tingkah. Ia kemudian kembali berbaring seperti posisinya semula.

“Kau tau- aku tidak suka di abaikan” gumam baekhyun pelan.

“Maafkan aku” suara hera lembut membuat baekhyun kembali mengalihkan pandangan menatap pada sisi tempat tidur di mana hera berbaring di sana.

“Tapi- aku tidak mengabaikanmu. Kaulah yang mengabaikanku. Aku hanya tidak berani mengajakmu-“

“Harusnya kau berusaha mengajakku bicara” potong baekhyun cepat.

“Maaf” lirih hera.

Hening kembali tercipta saat tidak ada lagi yang membuka suara. Baekhyun telah kehabisan topik dan hera yang tidak tahu ingin berbicara apa membuat keduanya kembali diam dengan pikiran masing-masing.

“Baek-ah” heralah akhirnya yang membuka suara terlebih dahulu.

“Hmmm”

“Kau belum tidur ?”

“Hmmm”

“Apa kau tidak bisa tidur ?”

“Entahlah”

“Kau kedinginan ?”

“Sedikit”
Hera bangkit dari posisi berbaringnya yang kemudian juga di ikuti baekhyun ketika ia menyadari pergerakan hera.

“Kenapa ?” Baekhyun menatap hera penuh tanya.

“Baek-ah, kau tidurlah di sini. Biar aku yang tidur di bawah. Kau tidak terbiasa, kau bisa sakit karenanya. Biar aku saja eum” pinta hera sembari bergerak akan turun dari tempat tidur.

“Tidak. Kau masih sakit. Tetaplah tidur di sana. Aku tidak apa-apa” cegah baekhyun.

“Kau yakin ?” Tanya hera ragu.

“Ti-dak” jawab baekhyun canggung namun membuat hera tersenyum karenanya. Ya, karena pemuda itu berbicara jujur.

“Kalau begitu- eummm. Kalau begitu kau tidurlah di sini” lanjut hera menunjuk tempat kosong tempat tidur di sisinya.

Baekhyun menatap hera tidak percaya. Gadis itu, apa dia yakin dengan apa yang di katakannya ?

“Kau tidak mau ?” Tanya hera lagi dengan wajah polosnya.

“Y-ya” jawab baekhyun tergagap namun secepat kilat pemuda itu beranjak dan segera masuk ke dalam selimut yang sama di sisi hera. Jujur saja baekhyun sudah hampir membeku berbaring di dinginnya lantai. Ya, ia akhirnya merasakan apa yang di rasakan hera selama ini.

“Se-selamat malam” kata baekhyun lalu berbalik memunggungi hera.

“Malam” sahut hera pelan. Hatinya tiba-tiba terasa di terpa deru angin kencang saat melihat punggung tegas baekhyun di sisinya. Hera sadar betul wajahnya telah memanas lalu gadis itu ikut berbalik takut jika baekhyun mungkin saja akan berbalik dan menemukan rona di wajahnya.

Cukup lama keduanya tidak dapat memejamkan mata bahkan saat banyak waktu telah berlalu. Keduanya begitu sibuk mengatur perasaan masing-masing, menjinakkan jantung mereka yang entah kenapa berdetak begitu kencang saat keduanya berbagi tempat tidur.

Baekhyun dan hera akhirnya terlelap dengan sendirinya. Keduanya beranjak memasuki alam mimpi dengan posisi tidur saling memunggungi. Bagaimanapun baik hera maupun baekhyun akhirnya merasa lega karena tidak lagi terlibat perang dingin yang di ciptakan oleh mereka sendiri.

TBC

Advertisements

One thought on “It This Love ? – Chapter 4

  1. Pingback: It This Love ? – Chapter 6 | BABY BEE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s