{Yun-Dae Couple} Everytime – by bebebaek_

by bebebaek_

| Surprice! |

Main  cast : Kim Jongdae (EXO) & Shim Yunmi (oc)

Genre : romance

Rating : General

Don’t plagiat!!!

Sorry typo bertebaran and happy reading.

***

Hanya suara dari televisilah yang mengisi ruang tengah kediaman keluarga shim di petang hari ini.

Yunmi berada di sana, di atas sofa panjang tepat di depan layar besar menyala itu, ia sama sekali mengabaikan tayangannya. Lengan yunmi bergerak teratur memasukkan kripik kentang dari toples di pangkuannya kedalam mulutnya. Sesekali ia mengecek layar ponselnya melihat sudah berapa lama waktu yang terlewat sejak jongdae- kekasihnya itu mengirim pesan pergi menemuinya.

“Yunmi-ya, apa jongdae bilang ia akan datang ?” Tanya nyonya shim setibanya ia dari dapur.

“Eum, ia bilang sedang dalam perjalanan” jawab yunmi menatap ibunya kemudian kembali memasukkan kripik ke dalam mulutnya.

“Eoh. Syukurlah, eomma lega karena tidak akan tidur denganmu” suara nyonya shim yang serta merta mendapat delikan kesal dari sang putri.

Beberapa jam yang lalu yunmi memang menghubungi jongdae atas saran sang ibu untuk mengganti bola lampu di kamar yunmi yang tiba-tiba mati. Yunmi merutuki kebodohannya yang sama sekali tidak kepikiran akan hal itu, gadis itu terlalu sibuk berandai-andai akan tidur di ruang yang gelap, ruang tv atau ikut menumpang di kamar sang ibu.

Yunmi juga merutuki bola lampu kamarnya yang mati di saat ayahnya tengah berada di luar kota. Siapa yang akan menaiki tangga hingga atas dan menggantikan bola lampu kamarnya ? Selama ini hanya ayahnya yang bisa melakukan hal itu di rumah mereka.

“Eomma macam apa yang tidak ingin tidur dengan anak gadisnya ? Apalagi anak gadismu ini tumbuh menjadi gadis yang cantik” yunmi membela diri dengan sedikit menyombongkan diri.

Nyonya shim terkikik geli. “Kecantikanmu itu tidak berdampak pada eomma. Memangnya kau mendapat kecantikan itu dari mana heum ? Salahkan dirimu mengapa kau tidur seperti seorang pendekar ?” Sindir ibu yunmi akan kebiasaan tidur anaknya itu.

Yunmi hanya berdecih jengkel tidak ada lagi sesuatu yang dapat ia gunakan untuk membela diri, sejak awal ia tahu ia pasti akan selalu kalah jika beradu argumen dengan nyonya rumah ini.

Senyum puas tergambar di wajah nyonya shim. “Baiklah. Eomma akan keluar sebentar pastikan lampu kamarmu menyala atas bantuan jongdae” kata nyonya shim kemudian berlalu meninggalkan yunmi yang masih sibuk dengan sisa-sisa kripiknya.

Tidak lama setelah nyonya shim pergi, bel rumah mereka berbunyi nyaring dan menginterupsi yunmi untuk segera bangkit dari duduk nyamannya. Gadis itu membuka pintu rumah yang terbuat dari kayu dengan polesan klasik itu dan jongdaelah yang berada di baliknya.

Yunmi mengembangkan senyumnya lebar menyambut pemuda yang tidak pernah menomer duakan dirinya untuk kepentingan apapun itu.

“Chagi-ya!” Seru yunmi setelah menerima balasan senyum khas dari jongde.

“Eoh. Kau membawa sesuatu ?” Tanya yunmi setelah melihat jongdae tiba dengan sebuah kantong plastik yang ia bawa di tangan kanannya.

“Ya, aku membawa beberapa bola lampu baru. Hanya berjaga-jaga jika kau mungkin tidak memilikinya” jawab jongdae menunjukkan isi dari kantong plastik di tangannya.

“Oh Astaga! Aku benar-benar lupa akan hal itu chagi-ya” seru yunmi menepuk sisi kepalanya.

Jongdae hanya tersenyum melihat reaksi yunmi. Ya, ia tahu betul bagaimana sifat kekasihnya itu dan jongdae menyukainya. Entahlah baginya sifat yunmi yang pelupa, asal bicara dan selalu bergantung pada dirinya itu menggemaskan. Jongdae merasa ia di butuhkan sebagai seorang lelaki, seorang kekasih yang selalu siap melindungi yeojachingunya saat apapun.

“Kajja masuklah chagi-ya” suara yunmi menarik lengan jongdae membawa pemuda itu melewati pintu utama.

“Kau mau minum dulu ? Duduklah. Kau pasti lelah” lanjut yunmi menuntun jongdae duduk di sofa dimana ia sebelumnya duduk.

“Nanti saja chagi. Kita selesaikan dulu masalah kamarmu sebelum matahari benar-benar tenggelam” jawab jongdae setelah menilik jam tangan di lengannya.

“Oh. Ya, kau benar. Kajja” suara yunmi lalu melangkah mendahului jongdae menuju kamarnya.

“Di mana tangganya ?” Tanya jongdae setibanya keduanya di dalam kamar yunmi.

Jongdae mengedarkan pandangannya ke atas langit-langit kamar gadisnya yang bernuansa biru muda itu.

“Di sini” suara yunmi mengalihkan perhatian jongdae dari bola lampu yang berada di tengah-tengah langit kamar yunmi itu.

Jongdae menghampiri yunmi yang berdiri di depan lemari pakaiannya. Ya, sebuah tangga lipat terselip di kedua sisi lemari besar itu. Jongdae dengan sigap meraih dan membawanya menuju bawah lampu yang telah mati.

Perlahan dengan setapak demi setapak anak tangga itu di naiki jongdae hati-hati, tidak lupa ia juga membawa satu bola lampu yang ia masukkan di saku sweaternya.

“Hati-hati, chagi-ya” suara yunmi terdengar khawatir.

“Pelan-pelan eoh”

“Perhatikan kakimu”

“Akanku pegang tangganya untukmu” yunmi terus saja bersuara. Jongdae tahu gadis itu mengkhawatirkannya tapi mendengar deretan katanya membuat jongdae tidak bisa menahan kekehan gelinya.

“Tidak perlu chagi-ya, tangga ini cukup kuat kau tidak perlu memegangnya hanya jagalah jarak agar kau aman eum” kata jongdae menginterupsi yunmi untuk menjauh dari sisi tangga yang ia pijaki.

“Tapi-“

“Percayalah padaku” lanjut jongdae dengan senyum teduhnya.

Yunmi menurut. Ia menjauh sediki ke sisi lain kamarnya dan memperhatikan setiap gerakan jongdae tanpa pernah mengalihkannya.

“Selesai!” Seru jongdae tersenyum cerah sembari menatap yunmi setelah ia berhasil melepas dan memasang kembali bola lampu baru yang sebelumnya ia bawa.

Yunmi balas tersenyum.

“Cobalah” suara jongdae lagi yang di balas anggukan dari yunmi, segera ia beranjak kearah dinding kamarnya dan memencet sakelar lampu untuk mengecek lampu yang baru saja jongdae ganti itu menyala atau tidak.

“Menyala!” Pekik yunmi bahagia sementara jongdae turun perlahan.

“Mana lagi yang perlu aku ganti ?” Tanya jongdae yang kini telah berada di sisi yunmi.

“Itu” yunmi menunjuk satu lagi bola lampu kamarnya yang terletal tidak jauh dari pintu kamarnya.

“Sebenarnya itu tidak mati chagi-ya, hanya saja lampunya telah meredup. Jika kau lelah kau tidak perlu menggantinya” suara yunmi menatap jongdae kemudian membenarkan beberapa helai rambut jongdae.

“Tidak apa-apa, kita selesaikan saja lagi pula tidak memakan waktu lama bukan ?” Jawab jongdae kembali menunjukkan senyumnya.

Jongdae sempat menyentil pelan ujung hidung yunmi sebelum kemudian ia kembali meraih tangga dan membawanya menuju bawah bola lampu selanjutnya.

Setelah berada di atas dan berhasil melepas bola lampu sebelumnya jongdae memeriksa sakunya dan tidak menemukan bola lampu di sana. Jongdae lupa memasukkannya.

“Kenapa chagi-ya ?” Tanya yunmi yang mendapati tingkah bingung jongdae.

“Oh. Tidak. Aku hanya lupa membawa gantinya” kata jongdae sembari hendak beranjak turun.

“Tetap di situ chagi-ya, biar aku membawanya untukmu” kata yunmi segera beranjak mendekati tangga dengan membawa bola lampu baru di tangan kanannya.

“Ini ambillah” yunmi mengulurkan lengannya sembari berjinjit berusaha agar jongdae dapat meraih bola lampu di tangannya.

Jongdae sedikit menunduk mencondongkan tubuhnya ke bawah. Saat jemari jongdae telah menyentuh permukaan bundar bola lampu itu pijakannya tiba-tiba goyah.

“Eoo-” suara jongdae merasa pijakan tidak lagi seimbang.

“Eoh!” Yunmi memekik terkejut saat melihat gerakan oleng tubuh jongdae di atasnya.

“…”

Bug!

“Heo-okh!” Nafas yunmi tersengkal ketika berat beban tubuh jongdae menimpanya. Ya, jongdae jatuh dan tepat menimpa yunmi hingga kini posisi keduanya sedikit- eumm yah jongdae berada di atas yunmi.

Setelah sadar akan posisi dan apa yang telah terjadi padanya dengan sigap jongdae mengangkat sedikit tubuhnya. Ia mengamati yunmi di bawahnya dengan ekspresi khawatir.

“Yunmi-ya, kau tidak apa-apa ? Apa ada yang terluka ? Kau merasa sakit ?” Cecar jongdae dengan deretan pertanyaannya.

Lagi-lagi yunmi membuang nafasnya berat. “Eoh! Kau berat sekali. Tubuhku terasa remuk dan terasa sakit dimana-mana” jawab yunmi meringis sakit.

“Menyingkirklah” lanjutnya sembari menepuk pelan pundak jongdae dengan sisa tenaga yang ada.

Baru saja jongdae akan bangkit namun pintu kamar yunmi tiba-tiba terbuka.

“Astaga!” Pekik nyonya shim saat mendapati yunmi dan jongdae yang masih dalam posisi-

Sesaat keduanya membatu dengan bola mata yang membulat. Yunmi gelagapan di bawah kukuhan tubuh jongdae saat ialah orang pertama yang sadar akan bagaimana situasi diantara mereka.

“Eo-mma. Eomma ini tidak seperti yang-” kata-kata yunmi terputus saat jongdae yang baru saja tersadar ikut gelagapan dan kembali jatuh menimpanya.

Nyonya shim mengulum senyum jail. “Eoh. Ya. Ya. Eomma mengerti, eomma tidak akan mengganggu kalian. Lanjutkan saja, anggap saja eomma tidak pernah membuka pintu ini” kata nyonya shim kemudian kembali menutup pintu kamar yunmi.

“Eomma-” panggil yunmi lemah.

Hening sesaat. Jongdae masih bertahan dalam posisinya, sejenak keduanya saling menatap dengan raut yang sulit untuk di artikan.

“Menyingkirlah” yunmi kembali membuka suaranya lemah. Semakin lama tatapan jongdae semakin dalam dan itu berefek aneh pada kerja jantungnya.

Jongdae tidak juga bergeming. Yunmi yang tidak kuasa bertahan dalam posisi ini lebih lama lagi memilih untuk beranjak dengan sedikit mendorong pelan pundak jongdae.

Usaha yunmi sia-sia saat lengan jongdae menahannya. Yunmi kembali pada posisinya, gadis itu menatap jongdae penuh tanya sementara pemuda itu kini mencetak cengiran penuh arti di wajahnya.

“Mau apa ?” Tanya yunmi yang entah mengapa menggugup.

Jongdae menyeringai “bukankah eomma sudah mengijinkan kita untuk-“

Jongdae tidak menyelesaikan kalimatnya. Tatapannya kini terkunci pada bibir pink yunmi sementara kepalanya bergerak mendekat dan mendarat di permukaan benda hangat yang rasanya tidak pernah berubah. Selalu manis dan lembut.

Jongdae tidak pernah bosan. Lengannya bergerak naik menuju tengkuk yunmi membawa wajah gadis itu semakin mendekat dan memperdalam ciumannya.

Nafas keduanya memburu saat jongdae dengan terpaksa melepas tautannya. Tatapan keduanya kembali bertemu. Sayu dengan hasrat yang masih terpendam di dasar manik masing-masing.

Jongdae menaikkan sudut bibirnya, mengelus pelan pipi yunmi lalu kembali mendaratkan sebuah kecupan ringan di puncak kepala gadisnya itu.

Yunmi menatap jongdae dalam saat pemuda itu menarik wajahnya dari puncak kepala yunmi dan tanpa aba-aba yunmi yang sebelumnya menangkup kedua pipi jongdae menariknya cepat hingga kini bibir keduanya kembali bertaut.

Fin

Sudah lama ya bebeb gak update series ini ? -duh maafin.

Feelnya masih dapat kah ? Atau berkurang atau bahkan gak ada samsek ? Susah euyy balikin mood.

Yaudah lah ya jangan kebanyakan ngeluh. Ntar bebeb jadi makin lusuh/(?) *paan

Kecup basah dari ayangbeb😘

😗bebebaek_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s