Oh My! #2

by bebebaek_

| prolog | chapter 1 |

Main cast :  Oh Se Hun (EXO), Park Ae Yeon (oc).

Addicional Cast : Xi Lu Han, Park Chan Yeol (EXO), Bae Irene (Red Velvet), Kim Ra Ra (oc), Kim Jong In (EXO).

Genre : comedi, school life, romance.

Length : Chaptered | Rating : General.

Hasil khayalan murni, don’t plagiat.

Hargailah karya orang lain jika ingin karyamu di hargai.

Sorry Typo-.-

.

.

.

Di antara dua dinding bangunan tua di ujung gang sepi itu sehun dan ae yeon berdiri berdampingan, dengan punggung yang menempel pada dinding di belakangnya sehun mengekorkan maniknya memastikan kerumanan itu berlalu tanpa mengetahui keberadaan mereka.

Hening tercipta. Hanya suara deru nafas tersengkal yang terdengar dari seorang gadis di sampingnya. Sembari mengatur kembali nafasnya, ae yeon mendelik sesaat menatap sehun yang telah melepas masker di wajahnya. Kaca mata hitam itupun telah mengantung di sela kemejanya.

“Yak! Apa yang kau lakukan ? Mengapa kau berlari tidak jelas di malam hari ?” Suara ae yeon setelah kembali berdiri tegak.

“Apa kau seorang pencopet ?”

“Mereka mengejarmu karena kau mengambil barang mereka ?” Cecar ae yeon menuduh.

Sehun tercengang tidak percaya akan deretan kalimat yang keluar dari mulut gadis di depannya itu.

“Hhaa” Sehun tertawa sumbang. “Apa aku terlihat seperti seorang pencopet ?” Tanya pemuda itu kemudian.

“Kau tidak melihat wajahku ? Hey. Aku terlalu tampan untuk ukuran seorang pencopet” lanjut sehun percaya diri.

Kali ini giliran ae yeon tercengang. Tidak habis pikir bagaimana pemuda itu bisa terlalu percaya diri. “ckckc ia tidak sadar kalau kelakuannya seperti seorang penjahat. Lihatlah pakaiannya. ckckc.” Gumam ae yeon setelah beberapa detik yang lalu ia terdiam.

Sehun dapat mendengarnya. Ya, ae yeon bergumam dengan nyaringnya seolah sengaja menyindir dan itu membuat telinga sehun terasa panas.

“Yak! Kau tidak mengenalku ?”

“Kau ?” Ae yeon menunjukkan jemarinya di wajah sehun.

“Kau Oh Sehun. Siswa baru yang duduk di belakangku” jawab ae yeon jujur.

“Maksudku- sebelumnya kau tidak tahu siapa aku ?”

“Kau bicara apa ? Lupakan. Buang-buang waktu saja” Jawab ae yeon jengah. Gadis itu kemudian berbalik dan mengambil langkahnya.

Sehun menghela nafasnya kesal. Mata elangnya menatap punggung ae yeon di depannya.

“Hey! ya” panggil sehun menginterupsi langkah singkat gadis itu.

Ae yeon berbalik, membalas tatapan pemuda itu tanpa ragu.

“Apa kau tidak memiliki tv di rumah ?” Suara sehun sembari melangkah mendekat.

“Kau tidak tahu siapa aku ?” Lanjut sehun membuat gadis di depannya itu memutar bola matanya malas.

Ae yeon kembali berbalik. Tanpa peduli gadis itu melanjutkan langkahnya kembali membuat jarak meninggalkan sehun di belakangnya.

“Ya! Tunggu!” Suara sehun kembali menginterupsi langkah ae yeon.

“Apa lagi!” Suara ae yeon meninggi. Gadis itu benar-benar kesal dengan pemuda itu.Sehun terdiam, pemuda itu menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal saat mata kesal ae yeon menelitinya.

“Emmmm- Aku orang baru di sini” suara sehun terdengar berbeda. “Kau tau kita berlari sangat jauh-, Karena hanya fokus berlari aku tidak memperhatikan-” sehun menggantung kalimatnya. Pemuda itu menatap kikuk pada ae yeon yang menatapnya berkerut.

“Maksudku-. Aku tidak tahu jalan pulang” kata sehun menyerah. Pemuda itu lalu membuang pandangan, merasa malu akan keadaannya.

Ae yeon terperangah. Untuk beberapa saat gadis itu diam menatap sehun tanpa berkedip. Lalu setelahnya ae yeon menghela nafasnya dalam.

Entahlah, ae yeon merasa tidak tega padahal beberapa saat yang lalu pemuda itu benar-benar menyebalkan baginya.

“Dimana alamatmu ?” Suara ae yeon memecah keheningan diantara keduanya.

Dengan gerakan kikuk sehun berjalan menghampiri ae yeon dan menunjukkan alamat apartemen yang tertulis di ponselnya. Ae yeon menilik layar ponsel di depannya, membacanya dengan saksama lalu setelah mengingat-ingat sesaat gadis itu kemudian bersuara.

“Ikut aku”

Langkah demi langkah keduanya rajut dalam kesunyian. Ae yeon kembali terperangah, gadis itu menghentikan langkahnya menatap takjub gedung di depannya.

“Astagaa. Jadi benar di sini ?” Gumam gadis itu seorang diri.

“Apa dia anak seorang presiden atau seorang artis terkenal hingga tinggal di sini” ae yeon masih bergumam kagum seorang diri.

Bagaimana gadis itu tidak kagum, tempat dimana dua kakinya berpijak saat ini adalah sebuah kawasan apartemen elit dan sehun tinggal di sini ?.

Sehun masih setia berdiam diri, Mengabaikan ae yeon dengan kekagumannya.

“Ehem!” Sehun berdehem canggung menyadarkan ae yeon dari kekagumannya.

Ae yeon menoleh dengan wajah kikuknya gadis itu menatap sehun polos.

“Kita sudah sampai” suara ae yeon setelahnya. “Apa kau ingat nomer apartemenmu ? Atau aku perlu mencarikannya untukmu ?” Lanjut ae yeon memberi tawaran. Bukan karena apa-apa, ae yeon hanya ingin melihat bagaimana suasana di dalam sana. Ya, jujur ae yeon tidak pernah melihat bahkan bermimpipun tidak ia bisa berada di kawasan elit seperti ini.

“Tidak perlu. kau pulanglah” jawab sehun datar membuat senyum yang sebelumnya terpatri indah di wajah gadis itu hilang seketika.

Ekspresi wajah ae yeon berubah drastis. “Dasar tidak tahu terima kasih” benak gadis itu kesal.

“Y-” Baru saja ae yeon akan memuntahkan amarahnya pemuda itu telah berlalu dengan santainya, masih dengan wajah datar dan kedua tangan di saku celananya sehun masuk ke dalam gedung pencakar langit itu meninggalkan ae yeon tanpa ucapan terima kasih.

.

.

.

Hari kembali berganti saat bulan di gantikan oleh matahari.

Ae yeon memasuki kelasnya dengan langkah pasti. Gadis itu diam sejenak di depan kursinya saat mendapati sehun telah duduk di sana di balik mejanya dengan earphone yang menyumpal kedua telinganya.

Kekesalan ae yeon kembali datang saat ingatan tentang kejadian semalam kembali terlintas. Gadis itu menatap geram pemuda itu namun nihil tidak ada respon sama sekali karena ya, sehun memejamkan kedua matanya.

Ae yeon kemudian duduk dengan menghentakkan keras kursinya membuatnya dengan sengaja membenturkan kaki kursinya dengan kaki meja sehun.

Ae yeon lantas berbalik. Kembali menatap sehun yang kali ini membuka mata dan membalas tatapannya.

Kekesalan ae yeon semakin bertambah kala sehun hanya menatapnya tanpa ekspresi. Tatapan yang seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

“Dasar tidak tau diri. Pemuda aneh” gumam ae yeon sembari mencibirkan bibirnya.

Tiga mata pelajaran telah di lewati seiring berjalannya waktu dan bel istirahat makan siang itupun akhirnya berdering kencang.

Ae yeon segera menutup bukunya. Gadis itu lantas beranjak menuju pintu kelas.

Tanpa ae yeon sadari di belakangnya sehun mengekor langkahnya. Dengan raut ragu-ragu pemuda itu ingin mengeluarkan suaranya.

Namun niat sehun ia urungkan saat gadis itu bersuara di depan kelasnya.

“Oppa!” Pekik ae yeon saat pemuda tinggi dengan telinga caplang itu berjalan menghampiri ae yeon dengan tersenyum tampan.

Mata tajam sehun meneliti keduanya. Ada sebuah rasa aneh pada diri sehun saat melihatnya, terlebih saat pemuda itu mengusap puncak kepala ae yeon dan gadis itu tersenyum ceria karenanya.

“Sehun-ah” panggil seorang gadis membuat sehun tersentak. Pemuda itu lantas mengalihkan pandangannya.

“E-eoh rara-ya” jawab sehun terbata.

“Sehun-ah mau melihat festival denganku besok ? Aku memiliki dua tiket” ajak rara sembari menunjukkan kedua tiket tersebut.

Sehun mengalihkan perhatiannya. Pemuda itu membalas tatapan rara.

“Tidak bisa. Skedulku padat” suara sehun dingin.

Rara menghela nafasnya berat. Kecewa ? Ya, tentu saja.

“Bagaimana jika pergi denganku” suara berat pemuda dengan warna kulit yang begitu kontras berdiri di samping sehun.

“Cih. siapa kau sampai berani mengajukan diri pergi denganku ?”

“Aku ?, aku masa depanmu. Siswa paling tampan dan seksi di sekolah ini” suara jongin dengan senyum andalannya.

“Cih!” Cibir rara dengan mimik jijiknya.

“Hey rara-ya, kau tidak sadar kau itu di lahirkan untukku. Bahkan sebelum kita menikah namamu sudah kim”

“Itu karena ayahku kim bodoh”

“Sehu-” Rara menggantungkan kalimatnya saat mendapati sehun tidak lagi berada di antara mereka.

“Yak! Ini semua karena mu!” Kesal rara membentak jongin kemudian berlalu pergi.

“Ohc! Kau semakin cantik saat marah rara-ya” gumam jongin tersenyum menatap punggung rara yang semakin menjauhinya.

.

.

.

“Ae yeon!” panggil chanyeol saat melihat gadis itu keluar dari kelasnya.

“Eoh. Oppa!” Kata ae yeon menghampiri chanyeol.

“Sunbae ? An-nyeong” sapa ae yeon di landa kegugupan saat menyadari chanyeol tidak seorang diri. Ada luhan di samping pemuda tinggi itu tersenyum membalas sapaan ae yeon.

“Ae yeon-ah, maaf hari ini oppa tidak bisa pulang denganmu. Oppa ada latihan band mendadak” suara chanyeol setibanya gadis itu di depannya.

“Ah. Ya, tidak apa-apa oppa. Aku bisa pulang sendiri”

“Eyyy… tidak ae yeon-ah, luhan akan menemanimu”

“Ya ? Ah tidak perlu oppa. Lagi pula aku bukan lagi anak kecil yang harus di temani. Aku tidak akan tersesat oppa” jawab ae yeon kikuk menahan malu karena ya oppanya ini terlalu protektif padanya terlebih saat ini ada luhan di depannya, sunbae yang selalu membuat jantungnya berdegup kencang bahkan hanya dengan melihat kehadirannya dari jarak jauh.

“Aku tidak ingin merepotkan luhan sunbae” lanjut gadis itu menunduk malu.

“Tidak. Luhan tidak keberatan lagi pula rumah luhan hanya beda dua komplek dari rumah kita. Bukan begitu luhan ?” Tanya chanyeol menepuk pundak teman sekelasnya itu.

“Ya. Tidak apa-apa ae yeon-ah. Aku sama sekali tidak merasa di repotkan” suara luhan terdengar halus di telinga ae yeon.

Chanyeol tersenyum puas. Entahlah melihat tingkah sang adik merona seperti itu membuat hatinya terasa hangat.

“Baiklah kalau begitu. Aku duluan eoh, luhan-ah aku titip adikku” kata chanyeol dengan senyum mengambang.

“Oppa!” Pekik ae yeon kesal namun juga malu.

Chanyeol terkikik geli lalu mengusap puncak kepala ae yeon gemas dan setelahnya berlalu masih dengan sisa-sisa senyumnya.

“Ayo ae yeon-ah” suara lembut luhan kembali menyapa rungu ae yeon setelah beberapa saat keduanya terdiam dalam suasana yang agak-

“Eoh, ya sun-bae” jawab ae yeon kemudian mengiringi langkah luhan. Memposisikan dirinya berada di samping pemuda itu.

Keduanya berjalan beriringan melewati lorong panjang koridor sekolah. Suasana tidak lagi canggung diantara mereka karena ya, luhan pandai mencairkan suasana. Terhitung hanya beberapa saat keduanya di selimuti suasana kaku itu sebelum kemudian keduanya bahkan sudah terlihat akrab.

Saling berbincang dan sesekali tertawa bersama benar-benar membuat ae yeon lupa akan gugup yang melandanya.

“Benarkah ? Hahaha dia memang seperti itu” suara ae yeon tidak lagi malu-malu.

“Maaf karena oppaku banyak merepotkan sunbae” lanjut ae yeon memberanikan diri menatap pemuda di sampingnya.

“Ae yeon-ah, bisakah kau memanggilku oppa juga ?”

“Ya ?” Kaget ae yeon dengan menatap luhan bingung.

“Emmm maksudku- aku adalah teman oppamu dan aku juga satu kelas dengannya jadi agar terdengar lebih akrab begitu” jelas luhan sedikit gelagapan. Namun pemuda itu berusaha menutupinya.

“Begitu ?” Ae yeon berujar polos.

“Hmmm ya. Bagaimana menurutmu ? Kau keberatan ? Jika ke-“

“Baiklah. Op-pa” potong ae yeon menyebut luhan dengan panggilan oppa untuk pertama kalinya dan itu bereaksi besar nyatanya pada kerja jantungnya.

“Semoga luhan sunbae-oppa tidak mendengar degup jantungku” batin ae yeon menunduk menutupi ronanya.

Luhan tersenyum menilik tingkah adik dari sahabatnya itu. “menggemaskan” pikirnya.

Sementara itu tidak jauh di belakang luhan dan ae yeon sepasang mata mengawasi keduanya menatap lekat dengan manik tajamnya. Dingin namun penuh teliti.

“Dengan siapa lagi dia ?”

“Apa dia seorang-, tidak, tidak! Tampilan sama sekali jauh dari gadis seperti itu”

“Tapi- mengapa ia bersama lelaki berbeda di hari yang sama ?”

“Aishhhh! Mengapa aku mempedulikannya. Ia bahkan tidak mengenalku” gerutu sehun seorang diri. Ada bermacam rasa di benaknya saat ini. Dengan gusar pemuda itu menyudahi terkaannya dan memilih untuk tidak peduli meski hatinya berkata sebaliknya.

Sehun beranjak menuju tempat parkir, masuk ke dalam mobil hitamnya dan kini hanya heninglah yang mengelilinginya. Sehun memejamkan matanya kembali bergelut dengan damai yang di ciptakannya sementara sang supir hanya fokus pada jalan di depannya tanpa sepatah katapun.

“Isssshh mengapa aku memikirkannya” sungut sehun masih dengan mata terpejam dan kedua alis yang mengerut.

TBC

Akhirnya!!! Oh my! Hadir egen. Setelah sekian lama mandek dan tenggelam tanpa kabar. Maafkan ya, ini juga kayaknya isinya rada aneh soalnya belakangan ini bebeb kehilangan ide di tambah lagi bebeb lagi mabok sama lapak baru bebeb.

Ya, bebeb sekarang juga ada di wattpad lo. Go follow @beebbaek ya… ada ff ringan dari bebeb lo, yang beda banget deh dari ff-ff yang bebeb posting di sini.
Aelah bebeb malah promo. *Hihihi).

Tetap ya jangan bosan-bosan menunggu, semoga masih ada yang nungguin dan masih ada yang minat baca.

Makasih.

💜bebebaek_

Advertisements

5 thoughts on “Oh My! #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s