{Yun-Dae Couple} Call Me Daddy – by bebebaek_

image

by bebebaek_

Sweet Orange |

Main cast : Kim Jong Dae (EXO), Shim Yun Mi (oc).

Genre : romance.

Length : Ficlet | Rating : General.

Hasil khayalan sendiri, don’t plagiat.

Sorry Bertaburan Typo-.-

.

.

.

Drrrrrttt…

Suara getaran ponsel memecah konsentrasi yunmi yang tengah sibuk mengoleskan berbagai jenis make up di atas mulus kulit wajahnya.

Gadis itu menoleh pada benda persegi yang tergelak di atas meja riasnya. Yunmi meraihnya kemudian senyum manis segera terukir di bibir pink gadis itu setelah membaca nama pemanggil di dalam layar ponselnya.

“Ya aku sudah siap” Suara yunmi setelah gadis itu menggeser tanda hijau dan menempelkan ponselnya di telinga.

“Eum, baiklah” suara yunmi lagi kemudian memutuskan sambungannya.

Yunmi memasukan ponsel itu ke dalam tas kecil miliknya, kemudian gadis itu bangkit dan menatap pantulan dirinya pada kaca besar di depannya.

Lagi gadis itu tersenyum puas saat melihat pantulan dirinya. Dengan mengenakan dress mekar selutut berwarna baby blue dan tatanan rambut yang di biarkan tergerai indah serta sapuan make up tipis cukup membuatnya begitu terlihat manis.

Yunmi mengalihkan pandangannya, saat indera pendengarannya menangkap sebuah bunyi klakson pertanda seseorang yang tadi menelponnya telah tiba.

Satu demi satu anak-anak tangga di depan rumahnya gadis itu turuni dengan hati-hati. Yunmi kembali mengukir senyumnya saat melihat pemuda yang telah lama bersama dengannya itu melangkah menghampirinya dan menuntun langkahnya.

“Kau masih menggunakan kaca mata chagi-ya ?” Tanya yunmi setelah keduanya berdiri saling berhadapan.

“Chagi ?” Suara yunmi lagi kali ini dengan alis yang saling bertaut bingung karena pemuda di depannya itu mengabaikan pertanyaannya.

“Yak, jongdae-ya!” Kesal yunmi menepuk satu pundak jongdae. Membuat pemuda itu akhirnya tersadar dari diam membatunya.

“Eoh. Maaf chagi-ya, ku rasa aku begitu terkesima padamu. Malam ini yunmi-ku begitu cantik. Ahh… sepertinya aku jatuh cinta kembali” kata jongdae setelahnya. Pemuda itu menatap dalam manik bening gadisnya dengan senyum yang tidak bisa di sembunyikan.

“Jika kau ingin menggodaku, lupakan” jawab gadis itu cepat.

“Hey aku tidak bercanda chagi-ya” jongdae meyakinkan dengan memegang kedua pundak yunmi.

“Berhenti kim jongdae, kau bisa membuat wajahku memerah” suara yunmi lagi, gadis itu menatap kesal pada jongdae sementara pemuda itu semakin mengembangkan senyumnya.

“Yeojachingu-ku benar-benar menggemaskan” jongdae meraih ujung hidung yunmi setelah mengakhiri kalimatnya.

Yunmi mendelik jengkel.

“Yak! Yak! Kau belum menjawab pertanyaanku” yunmi berkata sembari menjauhkan kedua lengan jongdae dari pundaknya.

“Eoh. Kau bertanya ? Bertanya apa ?”

“Ckckc, kau bahkan tidak mendengarnya”

“Aku bertanya kau masih mengenakan kaca mata ? Apa matamu masih sakit ?” Tanya yunmi sedikit khawatir.

“Tidak, mata ku tidak lagi sakit” jawab jongdae dengan senyumnya.

“Lalu kenapa ?-“

“Aku mengenkannya karena ku rasa mataku masih membengkak meskipun mataku tidak lagi memar dan sakit” jelas jongdae.

“Jondae-ku pasti sangat menderita” oceh yunmi sembar mengelus kedua sisi wajah jongdae.

“Makanya lain kali kau harus berhati-hati” suara gadis itu kembali. “Bagaimana bisa bola itu mengenai wajahmu tepat di tepi mata. Ya beruntung itu hanya di tepi mata lalu bagaimana jika bola itu benar-benar mengenai matamu ?” Lanjut yunmi kembali terpancing emosi saat mengingat kejadian minggu lalu.

“Apa kau begitu takut wajah tampan namjachingu-mu ini rusak ?”

“Eoh! Tentu saja”

Jongdae tersenyum lebar. Menyaksikan ekpresi khawati gadisnya entah kenapa membuat hatinya terasa hangat.

“Kau harus membalasnya chagi. Di pertandingan selanjutnya jika kau bertemu dengannya pastikan bola-mu juga mengenai tepi matanya” kata gadis itu terdengar begitu serius.

“Eohhhh… sejak kapan yunmi-ku seorang pendendam ?” Goda jongdae masih dengan senyumnya.

“Kajja, sebelum kita terlambat. Appa dan eomma-ku pasti telah menunggu” suara jongdae menyudahi pembicaraan mereka.

Jongdae meraih pinggang yunmi menuntun gadis itu berjalan menuju mobil yang di kendarainya.

Jongdae membukakan pintu mobil untuk yunmi mempersilahkan gadisnya itu untuk masuk lebih dulu dan kembali menutupnya lalu dengan cepat jongdae dengan setengah berlari mengelilingi depan mobilnya dan masuk di depan kursi kemudi.

“Yunmi-ya” panggil jongdae setelah pemuda itu meraih dan memasangkan safety belt di tubuhnya.

Yunmi menoleh. Menengok menatap pemuda di sampingnya itu.

“Bukankah ini pertama kalinya kita pergi bersama dengan mengendarai mobil ?”

“eumm” angguk yunmi masih dengan menatap jongdae.

“Kalau begitu kita harus kencan setelah pulang dari acara nanti” kata jongdae menunjukkan senyum andalannya. Pemuda itu kemudian melajukan mobilnya meninggalkan halaman depan rumah yunmi menuju perhelatan acara ulang tahun perusahaan keluarga kim.

Tidak memakan waktu lama jongdae dan yunmi tiba di Golden Park Hotel tempat dimana acara di langsungkan.

Suasana meriah diadakannya sebuah pesta nampak terlihat jelas dari pintu masuk dengan begitu banyaknya para undangan yang berlalu silih berganti.

Dengan lengan yang mengamit mesra lengan jongdae keduanya memasuki tempat acara meriah itu berdampingan.

Setelah mengedarkan pandangannya beberapa saat. Jongdae menemukan keberaan kedua orangnya kemudian dengan antusias pemuda itu mengambil langkahnya membawa yunmi untuk mengikutinya.

“Appa. Eomma” sapa jongdae  setelah keduanya tiba di depan tuan dan nyonya kim.

Yunmi menunduk hormat saat tuan dan nyonya kim menyadari kehadiran keduanya.

“Eoh. Kalian sudah di sini ?” Suara tuan kim bertanya.

“Aigoo… yunmi-ya, kau begitu manis malam ini” suara nyonya kim memotong.

“Yunmi-ya, pastikan jongdae tidak akan pernah lepas darimu” lanjut wanita itu lagi membuat yunmi hanya dapat menunduk malu karenanya.

“Tentu saja eomma. Aku sudah terlalu tergila-gila dengan gadis ini” balas jongdae membuat sang ibu tersenyum puas.

“Baiklah. Kalian nikmatilah acara ini, Appa dan eomma-mu harus menyapa para tetamu” suara tuan kim menyudahi perbincangan ibu dan anak itu.

“Ya, silahkan” suara jongdae mempersilahkan kedua orang tuanya untuk kemudian berlalu.

“Yak!” Suara yunmi menahan kesalnya. Gadis itu bahkan menepuk kesal lengan jongdae.

“Kenapa ?”

“Mengapa kau berbicara seperti itu di depan eomma-mu. Kau membuatku malu” protes yunmi atas kejadian beberapa menit lalu.

“Aku tidak mengatakan hal yang salah aku hanya berkata jujur dan menanggapi perkataan eomma-ku”

“Lagipula kau memang sudah menahan hatiku bukan ?” Lanjut jongdae dengan nada menggoda.

“Hentikan” tegas yunmi kesal karena hari ini ia selalu kalah dalam hal seperti ini.

Jongdae tersenyum puas. Pemuda itu menilik wajah kesal gadisnya sesaat dan setelahnya beralih memperhatikan suasana pesta.

“Chagi-ya kau harus siap” suara jongdae lagi setelah pemuda itu diam beberapa saat.

“Eoh ? siap untuk apa ?”

“Kau harus siap. Suatu hari nanti kita akan seperti mereka” lanjut jongdae berbicara sembari menatap kearah kedua orang tuanya yang tengah berbincang ramah dengan tamunya.

“Ya ?”

“Tidak perlu di pikirkan chagi” jongdae kembali bersuara kali ini menatap yunmi dan mengusap pelan puncak kepala gadisnya itu.

“Ah. Tuan. Nona. Maaf mengganggu kalian. Bisakah kalian menolongku” tiba-tiba seorang pria menghampiri keduanya.

“Bisakah kalian menjaga anak ini sebentar ? Ibu dari anak ini sedang pergi ke toilet. Aku sedang buru-buru” kata pria itu menyodorkan seorang bayi di gandongannya kepada yunmi dan jongdae.

Baik yunmi ataupun jongdae menatap bingung pada pria itu. Keduanya saling bertatapan sesaat dan dengan ragu-ragu jongdae mendekat dan berkata.

“Y-ya, kami akan menjaganya”

Lantas pria itu menyerahkan bayi perempuan manis itu ke dalam gendongan jongdae.

“Terima kasih. Maaf merepotkan kalian. Kalau begitu saya permisi” suara pria itu kemudian berlalu meninggalkan yunmi dan jongdae dengan bayi di dalam gendongannya.

“Apa dia tidak akan menangis ?” Tanya yunmi ragu.

“Sepertinya dia anak yang baik. Kau ingin menggendongnya ?” Tawar jongdae yang dengan serta merta di tolak gadis itu.

“Tidak. Tidak. Aku tidak berani. Akan jadi masalah jika aku melakukan kesalahan pada seorang bayi” jawab yunmi jujur karena memang gadis itu tidak pernah berurusan ataupun berinteraksi dengan seorang bayi.

Jongdae tersenyum mendengar deretan penjelasan yang keluar dari bibir tipis yunmi. Pemuda itu kemudian mengalihkan fokusnya pada bayi di gendongannya dengan menimang-nimangnya pelan.

“Chagi-ya. Ku rasa kau benar-benar terlihat seperti seorang ayah” yunmi bersuara sembari memperhatikan keduanya.

“Benarkah ? Jadi aku sudah terlihat cocok menjadi seorang ayah ?”

“Eum” angguk yunmi. “Aigoo… anyeong bayi kecil. Cantik. Astaga kau benar-benar lucu” lanjut yunmi mengajak bicara dan mengelus pipi chubi bayi yang tetap diam di dalam gendongan jongdae.

“Mengapa dia hanya diam seperti itu. Benar-benar lucu” suara yunmi lagi masih menatap lekat bayi di depannya.

“Ah. Aku akan mengambil foto kalian. Kalian terlihat cocok bersama”

Yunmi mengeluarkan ponsel miliknya dan mengarahkannya kepada jongdae dan bayi itu kemudian ‘cekrek’ sebuah foto telah di ambil.

Yunmi menatap lekat pada layar benda persegi di tangannya itu. Tanpa sengaja gadis itu menemukan sesuatu yang membuatnya tanpa sadar mengukir senyum.

“Kenapa ?” Tanya jongdae karena yunmi hanya menatap ponselnya.

“Chagi-ya” panggil yunmi tanpa mengalihkan tatapannya.

“Eum ?”

“Sepertinya dia menyukaimu”
kata yunmi membuat kedua alis jongdae mengerut tidak mengerti.

“Lihatlah dia menggenggam jemarimu dan dia tersenyum manis seolah mengerti jika aku tengah mengambil foto kalian” jelas yunmi mendongak dan menatap tangan kecil bayi itu yang masih menggenggam jemari jongdae.

“Kau menyukai samchun ? Aigoo… lucunya”

Jongdae menahan senyum gelinya saat melihat tingkah lucu yunmi.

“Bukan kah seperti ini kita terlihat seperti sebuah keluarga kecil baru yang bahagia”. Kata pemuda itu setelah menelan tawanya.

Yunmi diam. Gadis itu berusaha mencerna kalimat yang baru saja di lontarkan oleh jongdae.

“Kau harus belajar menggendong bayi dari sekarang ?”

“Eoh ?” Suara yunmi tidak mengerti.

“Bukankah kita akan memiliki banyak anak setelah menikah ? 21 ? Jadi kau harus bersiap-siap” kata jongdae lagi kali ini cukup jelas untuk di mengerti otak lamban yunmi.

“Apa ? Yak! Jongdae-ya, jangan memulai”

“Eummm” jongdae menggeleng pasti “jangan panggil aku jongdae, chagi” suara pemuda itu kemudian.

Yunmi mengerut. Lagi-lagi tidak mengerti maksud perkataan jongdae.

“Panggil aku daddy” suara jongdae di beratkan dan setelahnya pemuda itu menunjukkan smirk mematikannya.

“Kau-. Hentikan, ap-“

“Aigoo maaf merepotkan kalian” suara seorang wanita muda memotong perkataan yunmi.

“Apa yerin-ku rewel ?” Suara wanita itu kembali.

“Ah. Jadi anda ibu dari bayi ini ?” Jongdae bersuara mengerti.

“Ya, maaf merepotkan kalian”

“Tidak apa-apa, dia sama sekali tidak rewel” sahut jongdae lagi.

“Aigoo… sepertinya yerin-ku mengerti jika ia tengah di gendong pemuda tampan” wanita itu bersuara sembari meraih bayi itu hingga kini ia berpindah dari gendongan jongdae kembali kepada ibunya.

Jongdae hanya dapat tersenyum simpul saat wanita itu memujinya.

“Jadi nama-mu yerin ?” Suara yunmi meraih satu tangan mungil bayi itu lagi.

“Dia begitu menggemaskan” lanjut yunmi yang di tanggapi wanita itu dengan senyum tulusnya.

“Kami harus segera pergi. Terima kasih telah menjaga yerin”

“Baiklah” jongdae menjawab dengan senyumnya.

“Kalau begitu. Kami permisi” suara wanita itu lalu berlalu meninggalkan jongdae dan yunmi yang menatap kepergian keduanya hingga jarak pandangan mereka tidak lagi menjangkaunya.

“Bagaimana ini chagi ?” Suara jongdae memecah keheningan.

“Eoh ? Kenapa ?”

“Anak kita baru saja pergi”

Yunmi tersedak salivanya sendiri “Yak kau bicara apa ? Kau sudah gila ?” Suara gadis itu setelahnya.

“Eoh, sepertinya aku gila. Yunmi-ya. Ayo menikah dan mempunyai anak” ajak jongdae dengan tatapan yang ah tatapan itu membuat yunmi frustasi.

“Hentikan jongdae-ya” kata yunmi lemah, terlalu lelah meladeni kegilaan sang namjachingu.

“Eum! jangan panggil aku jongdae. Panggil aku daddy. D.a.d.d.y.” protes jongdae penuh penekanan di akhir kalimatnya.

“Eouhh~ berhenti berbicara hal itu. Benar-benar menggelikan” Yunmi bergidik sembari merajut langkahnya meninggalkan jongdae dengan kegilaannya.

Jongdae tersenyum bahagia. Apapun itu menggoda yunmi adalah hal yang paling di sukai dan menyenangkan baginya.

“Chagi-ya, tunggu aku”

“Chagi”

“Ayo pergi bersama”

“Yunmi-ya, call me daddy”

“Daddy”

Fin

Hahahaahaha maafkan cerita amburadul gaje ini.

Jujur bebeb gak siap buat publish ff apapun karena emang bebeb lagi gak ada ide -eh ada deh cuma males ngetik- wkwkwk

Jadi semoga seseorang yang begitu mencintai appa jongdae, yang ngebet banget pengen ff jongdae gendong-gendong bayi, yang nge-fly gara-gara liat foto jongdae gendong bayi suka ya…

bebebaek_ 😉

Advertisements

One thought on “{Yun-Dae Couple} Call Me Daddy – by bebebaek_

  1. Pingback: {Yun-Dae Couple} It’s You – by bebebaek_ | BABY BEE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s