Oh My! #1

image

by bebebaek_

| prolog |

Main cast :  Oh Se Hun (EXO), Park Ae Yeon (oc).

Addicional Cast : Xi Lu Han, Park Chan Yeol (EXO), Bae Irene (Red Velvet), Kim Ra Ra (oc), Kim Jong In (EXO).

Genre : comedi, school life, romance.

Length : Chaptered | Rating : PG 15.

Hasil khayalan murni, don’t plagiat.

Hargailah karya orang lain jika ingin karyamu di hargai.

Sorry Typo-.-

.

.

.

Ae yeon tengah berjalan tenang di koridor menuju kelas sambil membawa kumpulan kertas hasil ulangan matematika kelasnya yang ia terima setelah Yoo saem memanggilnya ke ruang guru.

Setibanya di depan kelasnya. Ae yeon mengernyit bingung ketika mendapati banyaknya siswa perempuan bergerombol dan berkumpul di depan pintu kelasnya.

Ae yeon bergerak mendekati kerumanan itu berusaha mencari jawaban mengapa mereka berkumpul di depan kelasnya. Ae yeon berusaha melewati kerumanan dengan berkali-kali menyuarakan kata permisi, namun tidak juga di indahkan oleh salah seorang pun.

Sekuat tenaga gadis itu berdesak-desakkan dengan siswa lainnya. Berusaha menerobos kerumunan dan masuk ke dalam kelas.

Ae yeon kembali terperangah saat mendapati kerumanan siswa itu tidak hanya berkumpul dan bergerombol di depan kelasnya tapi juga di dalam kelas. Mengelilingi seseorang yang bahkan tidak memperdulikan kehadiran mereka sama sekali.

Ae yeon mengedarkan pandangannya pada sekeliling, merekam jelas bagaimana kerumunan itu memekik histeris hanya karena pemuda itu. Oh sehun. Sang siswa baru bergerak membenarkan posisi duduknya.

Seluruh siswa perempuan itu bahkan tidak lupa mengarahkan camera ponsel mereka. Mengampil foto pemuda itu dari segala sisi.

Ae yeon mengalihkan pandangannya, menatap pemuda itu datar. Detik selanjutnya gadis itu mengedikan bahunya acuh. Melanjutkan langkahnya meletakkan tumpukan kertas di atas meja guru kemudian melangkah santai menuju kursinya.

Ae yeon kembali mendelik menatap bingung kerumunan siswa di sekelilingnya saat ia mendengar pekikan histeris bahkan ada di antaranya yang mengutuk ketika ia duduk di depan obyek mereka.

Ae yeon mengekorkan pandangannya ke belekang, mengamati gerak pemuda yang hanya diam memejamkan mata dengan earphone yang menutup ke dua telinganya.

Helaan nafas panjang keluar dari bibir mungil ae yeon ketika mendapati tidak ada sesuatu yang menarik dari gerak-gerik pemuda yang menjadi obyek puluhan pasang mata di depannya.

Pandangan datar kembali ae yeon edarkan pada sekelilingnya. Bingung mengapa gadis-gadis itu rela menghabiskan waktu istirahat mereka hanya untuk melihat pemuda yang hanya duduk diam di tempatnya.

Memangnya siapa pemuda di belakangnya ini hingga bisa menarik perhatian hampir seluruh siswa perempuan di sekolahnya. Apa ia begitu tampan ?. Ae yeon kembali mendelik mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri.

Ya. Pemuda di belakangnya ini memang tampan. Tapi apa hanya karena itu ? Lalu bagaimana dengan puluhan siswa tampan lainnya. Seingat ae yeon tidak ada yang pernah di perlakukan seperti pemuda itu saat ini.

Lagi-lagi ae yeon hanya bisa mengedikkan bahunya. Tidak ingin ambil pusing dan memilih menyibukkan diri dengan mengambil satu buku di dalam lacinya.

.

.

.

Kringgggg.. kringgg..

Bel pulang sekolah berdering nyaring. Menginterupsi kegiatan seluruh siswa. Membangunkan beberapa yang diantaranya tengah tertidur pulas di saat pembekalan materi.

Adalah ae yeon yang dengan segera menutup bukunya. Memasukkannya ke dalam tas ransel kemudian bangkit dan melangkah antusias menuju pintu kelas.

Langkah ae yeon tiba-tiba terhenti saat kedua matanya kembali menangkap pemandangan yang sama. Gadis itu tanpa sadar mundur satu langkah saat siswa-siswa itu kembali datang dan bergerombol di depan pintu kelasnya.

Sadar dari keterkejutannya. Ae yeon mengeratkan pegangan tangannya pada kedua tali ransel. Menelan salivanya samar, mengangguk yakin kemudian melanjutkan langkahnya melawan arus kerumunan manusia dan melewatinya dengan susah payah.

Ae yeon menarik nafasnya panjang saat berhasil keluar melewati gerombolan yang kini berada di belakangnya. Gadis itu menatap ngeri gerombolan itu. Menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya kemudian berlalu tanpa suara.

Bukannya melangkah menuju gerbang sekolah. Ae yeon justru berbalik menuju kelas tiga yang berada di ujung koridor.

“Oppa!” Pekik ae yeon saat chanyeol-sang oppa berjalan melewati pintu kelasnya.

“Eoh. Ae yeon-ah. Kau sudah di sini ?” Suara chanyeol bertanya kepada sang adik yang tengah berdiri dengan menyandarkan punggungnya pada dinding kelas chanyeol.

Ae yeon tersenyum simpul menatap seseorang yang baru saja keluar dari pintu yang sama. Berdiri tepat di samping chanyeol membuat pemuda jangkung ikut mengalihkan pandangannya dari ae yeon.

“Hai ae yeon-ah” sapa pemuda itu pada ae yeon yang masih mempertahankan senyum manisnya.

“E-eoh. H-hai sunbae” jawab ae yeon tidak bisa menyembunyikan gugupnya.

Chanyeol menengok kearah luhan yang kini berdiri di sampingnya. Menepuk pundak chanyeol dan tersenyum hangat.

“Aku duluan heum” suara luhan yang di jawab chanyeol hanya dengan senyum bersahabat kemudian membiarkan pemuda itu berlalu.

“Yak! Apa kau akan terus menatapnya seperti itu ? Kau bisa membuat punggungnya terbakar karena tatapanmu” suara chanyeol mengalihkan fokus ae yeon, membuat gadis itu mendelik kesal kepadanya.

Chanyeol tersenyum geli. “Ayo kita pulang” lanjut chanyeol menelan kekehannya. Merangkul pundak ae yeon. Membawa gadis itu beranjak tanpa memperdulikan tatapan mematikan dari sang adik.

Keramaian nampak terlihat jelas dan suara-suara pekikan mengedar di udara. Chanyeol memelankan langkahnya saat ia dan ae yeon melewati gerbang utama sekolah mereka.

“Ada apa ? Tidak biasanya sekolah seramai ini di waktu pulang” tanya chanyeol mengedarkan pandangannya pada obyek keramaian.

Ae yeon menggedikkan bahunya acuh “entahlah, siswa baru itu selalu di elu-elukan dan sepertinya menjadi idola seluruh siswa perempuan di sekolah sekarang” jawab ae yeon menatap datar pada pemuda yang tengah berjalan melalui kerumunan menuju mobil hitam di depannya.

“Siswa baru ?” Chanyeol kembali bertanya. Kali ini menatap ae yeon di sampingnya.

“Hmmmm, dia berada di kelasku” ae yeon menjawab sembari merajut langkahnya yang sempat tertunda.

“Apa dia tampan ?” Chanyeol menimpali dan menyamakan langkahnya.

“Ya. Sepertinya. Karena semua gadis selalu mengekorinya. Lihatlah. Seperti saat ini” ae yeon berargument dengan nada acuh.

“Apa lebih tampan dari ku?” Tuntut chanyeol setengah menggoda.

“Tidak tau. Yang jelas luhan sunbae tetaplah yang paling tampan” ae yeon bersuara datar.

“Ckckck, dasar” chanyeol mengusap puncak kepala ae yeon gemas. Keduanya melangkah bersama. Saling berbagi cerita. Saling menggoda dan terkadang saling menjahili satu sama lain membuat senyum dan tawa tidak bisa lepas dari wajah keduanya.

Sementara chanyeol dan ae yeon saling berbagi tawa. Sehun. Mobil yang membawa pemuda itu melewati keduanya. Sehun menatap datar pada pemandangan di depannya. Pemandangan yang jika saja namja itu boleh berkata jujur.

Ya, jujur sehun iri kepada siapapun yang memiliki tawa itu. Karena selama ini sehun tidak pernah memiliki senyum seperti itu, senyum tanpa sebuah beban dan tanpa harus menjaga sesuatu yang tidak seharusnya di pedulikan.

.

.

.

Sinar matahari petang samar-samar menyapa langsung kulit pucat seseorang yang tengah berbaring di atas meja bekas atap sekolah.

Dengan kedua mata telinga yang tertutup earphone. Pemuda itu menutup matanya damai, merasakan hangatnya mentari merambat di permukan kulitnya.

Hari sudah sore. Namun, sehun seakan enggan beranjak dari sana. Bel pulang sekolah telah lama berdering dan sekolahpun mulai sepi.

Masih dengan menutup kedua bola matanya. Sehun menyelami rasa damainya. Hening yang selalu di dambanya. Hening yang tidak bisa di dapatnya terlebih untuk beberapa hari belakangan.

Samar-samar suara langkah kaki terdengar menaiki anak tangga. Sedikit mengusik rungu sehun tapi pemuda itu berusaha mengabaikannya. Mengingat sekolah telah sepi, tidak mungkin ada siswa perempuan yang masih bertahan menunggu dan mengikutinya.

DUG!

Ae yeon menjatuhkan salah satu penghapus kapur yang di bawanya tepat saat gadis itu tiba di atap sekolahnya.

Hari ini adalah jadwal piket ae yeon. Sudah menjadi kebiasaan bagi gadis itu untuk membersihkan debu sisa kapur di atas atap.

Ae yeon menundukkan tubuhnya berjongkok akan meraih penghapus yang sedikit terlempar di depannya tapi baru saja gadis itu melangkahkan satu kakinya, kaki itu lebih dulu tersandung oleh tumpukan kayu bekas di sisi kiri tubuhnya.

Ae yeon terkejut. Gadis itu diam di tempatnya, berjongkok menatap tumpukan itu tanpa berkedip.

Sehun kembali mendengar kegaduhan mengusik damainya, dengan kasar pemuda itu melepas earphone yang menempel di kedua telinganya. Bola mata pemuda itu menangkap seorang gadis yang tengah berjongkok tidak jauh dari tempatnya.

Sehun bangkit dan dengan langkah pelan tapi pasti pemuda itu mendekat menghampiri ae yeon dengan wajah dinginnya.

Ae yeon yang baru menyadari kehadiran pemuda itu saat sehun berdiri tepat di depannya. Gadis itu menatap sehun dengan kedua alis mengerut.

“Apa kau mengikutiku ?” Tanya sehun dengan wajah datar tanpa ekpresi.

Ae yeon yang sama sekali tidak mengerti perkataan sehun menatap bingung pemuda di depannya itu.

“Kau penguntit?” Lanjut pemuda itu tajam.

“Apa! ?” Suara ae yeon tidak terima.

“Apa saja yang sudah kau ambil ? Kau mengambil fotoku ? Mengambilnya diam-diam kemudian menguploadnya ?”

“Apa ? Yak!” Ae yeon tersentak saat dengan begitu cepat lengan sehun menyusup dan mengambil ponsel di dalam saku blezernya.

Ae yeon segera bangkit. Gadis itu telah mengerti akan apa yang di maksud pemuda di depannya ini.

Tidak terima dan tengah menahan emosinya ae yeon berusaha mengambil kembali ponsel yang kini berada di tangan sehun.

“Yak! Kembalikan ponselku?” bentak ae yeon, berusaha meraih ponselnya.

Sehun berkilah dengan tinggi tubuhnya yang jauh di atas ae yeon dengan mudah pemuda itu menghindar dan membuka aplikasi galeri pada ponsel ae yeon.

“Eoh. Tidak ada” suara sehun bingung ketika tidak mendapati satupun foto dirinya di dalam galeri tersebut.

“Kau tidak mengambil fotoku ?” Tanya sehun pada ae yeon yang telah berhenti berusaha meraih ponselnya.

“Siapa kau hingga aku harus mengambil fotomu” jawab ae yeon santai.

Sehun terperangah terkejut akan jawaban ae yeon yang begitu tidak di duganya. “Kau tidak mengenalku ?” Lagi sehun bertanya penasaran.

“Apa peduliku” acuh ae yeon. Gadis itu mengambil kembali ponsel miliknya kemudian turun dan meninggalkan pemuda yang tengah menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

.

.

.

Pagi ini sehun melangkah ringan memasuki gerbang sekolah, menyusuri koridor menuju kelasnya. Hari ini tidak lagi di penuhi keributan seperti hari-hari sebelumnya. Sehun sedikit banyak bisa melewati harinya di sekolah seperti siswa pada umumnya walaupun tetap saja masih ada beberapa gadis yang memekik dan mengarahkan kamera kepadanya sepanjang jalan menuju kelas. Tapi sehun tidak peduli, hal seperti itu sudah lewat biasa baginya.

“Oh sehun!” Suara seseorang memanggil nama sehun, menginterupsi langkah pemuda itu. Sehun memalingkan wajahnya pada sumber suara.

Adalah rara, gadis yang berada di kelas yang sama dengan sehun beranjak menghampirinya dengan senyum yang mengambang.

Sehun kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Tidak peduli dengan rara yang terus memanggil namanya dan sedikit berlari agar dapat menyamakan langkah dengannya.

“Selamat pagi” Sapa rara setelah berhasil menghampiri sehun kemudin menyamakan langkahnya di sisi tubuh sehun.

Sehun hanya menoleh singkat dan tersenyum datar menanggapi sapaan gadis itu.

“Kemarin aku melihat proses pengambilan gambar mu. Wahh kau benar-benar keren” Puji rara berbinar.

Sehun diam tidak memberi jawaban atas perkataan rara. Pemuda itu hanya tersenyum tipis menanggapinya tapi meskipun demikian rara tetap menunjukkan rona bahagianya.

Gadis itu mempertahankan senyum manisnya. Ya, bagaimanapun respon dari pemuda di sampingnya itu yang jelas rara tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Bisa bicara dan berjalan bersama dengan seorang yang sejak dulu di idolakannya, mendengar gadis lain bergumam iri dan memekik ingin berada di posisinya cukup membuat gadis itu mengulum senyum bangga.

Deru langkah cepat beradu dengan deru nafas seorang gadis yang terdengar menyeruak di sepanjang koridor.

Pagi ini ae yeon terlambat bangun dan sialnya chanyeol-oppa gadis itu berangkat lebih dulu meninggalkannya tanpa rasa bersalah.

Ae yeon melirik jam tangan yang melekat di lengan kirinya. Tanpa sengaja gadis yang tengah berlari tanpa menatap jalan di depannya itu menabrak tubuh seseorang.

“Yak! Park ae yeon apa yang kau lakukan!” Teriak seseorang saat ae yeon tengah menyeimbangkan tubuh limbungnya.

“Ah maaf, maaf. Aku sedang buru-buru” bungkuk ae yeon tanpa melihat dua orang yang telah menghentikan langkah karenanya.

“Yak! Apa kau tidak bisa hati-hati ?” Suara rara menginterupsi langkah ae yeon yang telah kembali berbalik berniat akan melanjutkan langkahnya.

“Kau tau siapa yang baru saja kau tabrak? Yak! Bisa saja membuatnya terluka”

“Dasar gadis ceroboh” lanjut rara mencibir.

Ae yeon yang merasa telah meminta maaf atas kesalahan yang benar-benar tidak di sengaja olehnya menggerutu kesal saat rara terus menerus memaki dan mencibirnya. Sementara orang yang di tabraknya hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi.

Ae yeon memutar bola matanya malas. Tidak ingin membalas ocehan dari gadis yang memang sudah sangat di kenalnya suka berbuat seenaknya itu. Ae yeon mengerucutkan bibirnya mencibir.

“Ayo sehun-ah, kita bisa terlambat karenanya” suara rara menarik lengan sehun kemudian melangkah meninggalkan ae yeon yang sedang menatap kesal keduanya.

.

.

.

Ae yeon melangkahkan kakinya memasuki sebuah mini market yang berada tidak jauh dari rumahnya.

Dengan mengenakan pakaian santai gadis itu berjalan menghampiri deretan rak yang menyediakan berbagai jenis makanan ringan.

Dua bungkus kripik kentang, satu kotak susu cokelat dan satu pack yogurt telah beralih tempat ke dalam keranjang belanjanya.

Ae yeon kembali melangkah mengitari deretan rak di dalam mini market saat tanpa sengaja kedua bola matanya menangkap samar-samar pemandangan ramai di luar mini market tempatnya saat ini.

Puluhan gadis yang terlihat seumuran dengannya, masih mengenakan seragam berdiri berjejer di depan pintu mini market yang terbuat dari kaca itu. Sesekali mereka memekik histeris bersama.

Merasa aneh. Ae yeon segera mengedarkan pandangannya pada sekeliling mini market yang di rasanya cukup sepi. Tidak ada sesuatu yang mencurigaan. Ae yeon tidak menemukan apapun selain dua orang pelanggan yang juga tengah berbelanja seperti dirinya. Gadis itu menggedikkan bahunya acuh kemudian beranjak menuju kasir.

“Terima kasih” suara ae yeon saat petugas kasir memberikan kantong plastik besar belanjaannya.

Dengan menenteng kantong tersebut ae yeon melangkah menuju pintu keluar. Menarik pintu tersebut kemudian-

Ae yeon tersentak saat sebuah tangan tiba-tiba menarik lengannya menuntunnya dengan cepat keluar meninggalkan mini market. Belum hilang keterkejutan ae yeon akan seseorang itu. Ae yeon kembali terperanjat mendengar pekikan histeris gadis-gadis yang sebelumnya di lihatnya.

Gerombolan gadis itu mengejar -entahlah. Ae yeon tidak bisa berpikir jernih, yang pasti ae yeon melihat dan mendapati kumpulan itu tengah berlari di belakang langkahnya dan orang asing di sebelahnya.

Ae yeon yang belum juga sadar akan situasinya dengan sekuat tenaga berupaya mengimbangi langkah pemuda berpakaian serba gelap itu. Ae yeon menolehkan kepalanya menengok ke belakang mengawasi kumpulan gadis yang masih berlari penuh semangat di belakang mereka.

“Yak! Jangan menatap mereka. Sembunyikan wajahmu dan cepatlah berlari” suara orang itu sukses membuat ae yeon mengalihkan pandangannya.

Ae yeon tersadar. Insting menyelamatkan dirinya segera bangkit. Takut akan orang yang tengah menariknya itu adalah seorang penjahat yang berencana menculik atau bahkan membunuhnya, ae yeon segera memelankan langkahnya berharap gadis-gadis di belakangnya dapat menyelamatkannya dan menangkap penjahat ini.

“Yak! Mengapa kau berhenti ? Cepat sebelum mereka menemukan kita” orang itu kembali bersuara dan menarik lengan ae yeon kencang.

Ae yeon mendongak berusaha melihat wajah orang yang tengah mengenakan kaca mata hitam di malam hari. Astaga. Ae yeon mengerut sesaat. Gadis itu lagi-lagi tersentak dan tanpa sadar mulutnya terbuka tidak percaya orang di sebalahnya saat ini adalah orang yang di kenalnya. Cukup. Mungkin.

“Oh se-hun ?”

TBC

Holla. Hallo. Yeyyy! Selamat hari raya idul fitri!

Telat ya? Telat? Ya gak apa-apa ya? Masih nuansa lebaran. *hehehe

Masih ada yang ingat kah sama oh my! Ini ? Udah lama banget sih. Wajar kalau pada lupa. *nyengir

Ahhhh~ bebeb gak tau mau ngomong apa, ya udah itu aja. Semoga masih ada yang suka.

Love 💜

bebebaek_ (^^)

Advertisements

8 thoughts on “Oh My! #1

  1. aq koment di prolog koq gk bisa muncul ya kak???
    itu ae yeon suka ma luhan kah???
    dan dia jg gk tau klau sehun itu adlh seorang model yg lagi naik daun,, pdhl dia suka exo tp gk tau sehun,hehehe….
    dsini sehun bukan anggota exo sih ya 🙂
    oh iya kmren itu kan sehun duduk dibelakang bangku ae yeon, knp skrg jadi disebelah ae yeon kak???
    aq tunggu chapter selanjutnya ya 🙂
    aq suka bgt ceritanya,, semangat ^_^

    Like

    • Masuk kok komennya cuma belum di tampilin aja kemarin.

      Iya ae yeonnya gak kenal sehun yg seorang model. sehunnya bukan member exo sih. Hehehe.

      Ae yeon msh duduk di depannya sehun kok gak sebelahan mereka.

      Makasih ya udah suka n komen^^

      Like

  2. Pingback: Oh My! #2 | BABY BEE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s