There Was Nothing [#1]

image

by bebebaek_

| Prolog |

Main cast : Park Chan Yeol (EXO), Nam Hye Jin (oc).

Addicional Cast : Oh Se Hun (EXO), Kim Jong In (EXO), Jung Soo Jung (f(x)), Kim Seol Hyun (AOA).

Genre : family, marriage life, sad, romance.

Length : Chaptered | Rating : PG 16.

Hasil khayalan murni, don’t plagiat dan maaf jika di temukan banyak kalimat makian yang kurang berkenan.

Sorry Typo-.-

.

.

.

Matahari semakin rendah di langit yang telah menjingga. Senja telah mengendap memberi sinyal kepada semua orang untuk kembali ke peraduan nyaman mereka.

Jalan-jalan kota seoul semakin padat, mobil-mobil dan para pejalan kaki seolah saling berlomba dengan waktu untuk segera berkumpul dengan keluarga dan melepaskan semua penat hari ini.

Chanyeol menatap kosong pada jendela kaca lebar di dalam salah satu kamar hotel miliknya. Ya, namja jangkung itu memang menempati salah satu suite room di hotelnya sendiri.

Setelah meninggalnya sang ibu dan keputusan tiba-tiba ayahnya untuk kembali menikah, chanyeol masih berusaha untuk menghormati sang ayah meskipun rasa kecewa telah menikamnya.

Chanyeol tidak tahan melihat wanita itu, istri baru ayahnya menempati dan mengantikan posisi ibunya. Tidak ingin tersulut dan terlibat pertengkaran di kemudian hari, chanyeol lebih memilih untuk pergi dan menghindar.

Drrrttt drrrrttt…

Ponsel chanyeol yang tergeletak di atas nakas tidak jauh dari tempatnya berdiri bergetar. Layar benda persegi itu menyala menandakan sebuah pesan masuk.

Ekspresi datar chanyeol berubah setelah membaca deretan kalimat pesan tersebut. Kedua bola matanya menerawang dalam. Tangan chanyeol mengepal erat menggenggam ponsel yang masih berada di tangannya. Emosi kembali menyelimuti hatinya, bayangan akan kejadian yang telah di lihat dengan mata kepala sendiri kembali terulang jelas di kepalanya.

Dengan sigap chanyeol meraih kunci mobil di dalam laci nakas. Chanyeol mengayunkan langkah lebarnya meninggalkan kamar tersebut dalam diam dengan raut penuh amarah.

Mobil chanyeol berhenti di depan salah satu klub tempat biasa namja itu melepas penat dan menghabiskan waktu luangnya. Ekspresi tidak bersahabat masih tercetak kentara di wajah chanyeol saat memasuki tempat hiburan malam itu.

Chanyeol melangkah pasti, melewati kerumunan orang-orang dengan wajah datarnya dan ketika chanyeol menemukan kedua sahabatnya dengan gerakan cepat namja itu menerjang sehun yang tengah memunggunginya, mengabaikan jongin yang melambaikan tangan dengan senyum ramah kepadanya.

Jongin tersentak saat menyadari chanyeol tengah menyerang sehun. Menghadiahi namja pucat itu dengan beberapa tinjunya.

Sehun yang memang tidak siap akan serangan tiba-tiba chanyeol jatuh terjembab di atas lantai. Kegaduhan terjadi membuat keduanya menjadi obyek tontonan. Tidak ada yang berani mendekat ataupun melerai. Chanyeol benar-benar di liputi amarah.

Sehun yang tidak ingin hanya pasrah membiarkan wajah tampannya di rusak chanyeol berusaha bangkit dan melayangkan tinju balasan. Perkelahian terjadi.

Jongin yang sempat terkejut akan apa yang terjadi di depannya segera beranjak dari duduknya, menghampiri keduanya dan berusaha melerai perkelahian yang telah terjadi.

“Yak! Apa yang kalian lakukan!” Teriak jongin setelah berhasil memisahkan keduanya.

“Aku mengundang kalian ke sini bukan untuk berkelahi”

“Setelah lama tidak bertemu.Mengapa kalian seperti ini. Ada apa ?” Cecar jongin di antara keduanya.

“Tanyakan saja kepada sahabatmu ini ? Penghianat” jawab chanyeol penuh penekanan dengan nafas yang menderu.

Sehun menaikkan sudut bibirnya, smirk meremehkan kini tercetak di sudut bibir yang tengah mengalirkan darah segar itu.

“Jadi kau sudah tau ?” Tanya sehun tanpa rasa bersalah.

“Ya aku tahu dan aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku”

“Apa kau memang seperti ini ? Apa kau tidak memiliki mainan lagi hingga mengusik kepunyaanku ?”

“Atau kau-” chanyeol menggantungkan kalimatnya menatap sehun dengan tatapan meremehkan.

Sehun tersenyum hambar. Namja itu membalas tatapan chanyeol tidak kalah meremehkan.

“Lalu apa baiknya memiliki jika kau tidak bisa menggunakannya”

“Yak mainanmu itu datang kepadaku dengan sendirinya tanpaku minta”

“Kau terlalu sibuk dengan urusanmu hingga mengabaikan mainanmu”

“Jadi jangan salahkan aku jika mainanmu sendiri yang menyerahkan dirinya kepadaku” kata sehun menyudutkan.

“Yak!” Pekik chanyeol kemudian kembali menerjang sehun.

Kali ini sehun lebih siap. Namja itu dengan santai menikmati amarah meletup chanyeol. Namun, terjangan chanyeol tidak berhasil karena sebelumnya jongin kembali meraih dan menahan tubuh namja jangkung itu.

“Yak! Lepaskan aku!”

“Aku harus mematahkan tulangnya”

“Yak!”

“Brengsek!” Umpat chanyeol yang hanya di tanggapi sehun dengan smirknya.

“Yak! Oh sehun sebaiknya kau pergi dari sini” suara jongin di sela usahanya menghentikan pergerakan chanyeol.

Sehun menatap jongin sesaat. Namja itu kemudian tersenyum dan mengangkat satu tangannya. Sehun berbalik, menerobos kerumunan dan pergi meninggalkan tempat tersebut.

“Yak! Keparat mau kemana kau!”

“Yak!”

“Brengsek! Hey!”

“Yak! Chanyeol! Sadarlah” bentak jongin jengah dengan sikap arogan chanyeol.

“Apa kalian seperti ini hanya karena seorang wanita ?”

“Hey kita telah bersahabat sejak SHS, apa hanya karena hal sepele ini kalian berseteru ?”

Chanyeol menghela nafasnya yang masih memburu “sepele ? Heh” chanyeol tersenyum pahit.

“Apa menurutmu dengan dia merebut sesuatu milikku itu adalah hal sepele ?” Lanjut chanyeol kembali penuh emosi.

“Aku di tikam dari belakang. Dan mereka menikamku bersamaan!”

“Chanyeol-ah, kendalikanlah dirimu”

“Yak! Apa kau sadar apa yang kau lakukan ?”

“Apa kau memang benar-benar telah jatuh cinta dengan wanita itu ?” Kata jongin berhasil membuat chanyeol terdiam.

“Bukankah kau sendiri yang mengatakannya kepada kami ? Kau sendiri tidak yakin dengan perasaanmu ? Apa sekarang kau yakin ? Kau menyadarinya ?” Cecar jongin menghujani chanyeol dengan banyak pertanyaan yang memuat namja itu semakin diam.

Chanyeol membatu. Diam dan menundukkan kepalanya dalam. Emosi masih menguasainya, deru amarah itu tidak lagi padam. Perasaan di khianati oleh seorang sahabat dan gadis yang- entahlah chanyeol tidak tahu harus menyebut gadis itu siapa baginya.

Chanyeol menghempaskan cengkraman lengan jongin dari tubuhnya. Dengan gontai dan perasaan yang kacau chanyeol melangkah melewati jongin menabrak bahu namja berkulit tan itu tanpa peduli.

Chanyeol terus saja menenggak cairan berwarna cokelat bening itu setelah tiba di depan meja bar. Entah sudah berapa gelas minuman yang telah lolos melewati tenggorokannya. Kepala namja itu terasa semakin memberat dan kesadarannya telah sedikit banyak memudar.

.

.

.

Sprei lebar berwarna putih itu di bentangkan hyejin di atas sebuah tempat tidur berukuran king size di sebuah kamar vip tempat gadis itu berkerja.

Dengan cekatan hyejin merapikan sprei baru itu setelah sebelumnya mengambil dan memasukkan sprei terdahulu ke dalam keranjang kosong yang telah di siapkannya. Hyejin menata bantal dan guling di atas tempat tidur itu. Tidak ketinggalan selimut hangat di siapkan gadis bersurai hitam itu di ujung tempat tidurnya.

Setelah selesai merapikan tempat tidur, hyejin beranjak membawa keranjang berisi sprei kotor itu ke sisi lain ruangan tersebut, gadis itu berniat mengambil pakaian kotor sang pelanggan. Namun, baru saja hyejin akan memasuki kamar mandi ruangan tersebut, gadis itu tersentak saat mendengar suara pintu kamar terbuka.

Hyejin memalingkan tubuhnya dan lagi-lagi gadis itu tersentak hebat saat mendapati seseorang memasuki kamar tersebut dengan langkah sempoyongan.

Gadis itu semakin terperanjat ketika tubuh orang itu ambruk dan menimpa sebuah guci besar di sudut ruangan. Bunyi nyaring pecahnya guci itu seketika menyeruak di dalam kamar tersebut.

Hyejin menutup mata rapat dan kedua tangannya refleks menutup telinganya saat bunyi nyaring itu mengeluar menyapa inderanya.

Hyejin berlari menghampiri tubuh ambruk seseorang yang di duga gadis itu adalah seorang pelanggan penghuni kamar tersebut. Gadis itu segera melihat keadaan orang itu, memastikannya baik-baik saja.

Hyejin membantu orang tersebut bangkit dan membopoh tubuh seorang yang gadis itu yakini tengah dalam keadaan mabuk berat itu menuju tempat tidur.

Dengan tertatih gadis itu berusaha kuat menopang berat beban pemuda tinggi itu. Saat tersisa sedikit lagi jarak keduanya tiba di depan tempat tidur. Orang itu, chanyeol berhenti melangkah. Menilik wajah gadis yang tengah membopohnya itu kemudian tersenyum hambar.

Chanyeol menyeka lengan hyejin kasar. Membuat gadis itu terhuyung kebelakang. Chanyeol berdiri tidak seimbang, menghampiri hyejin yang terkejut akan perubahan sikap pemuda itu.

Chanyeol berhenti tepat di depan hyejin. Menatap gadis itu dengan tatapan penuh amarah

“Dasar jalang! Mengapa kau di sini ?” Suara chanyeol membentak.

“Apa kau pikir aku tidak tahu sikap aslimu ? Hehh” chanyeol tertawa meremehkan.

“Kau pikir kau bisa kembali kepada ku setelah kau pergi bersama pria lain heh!” Lagi suara chanyeol meninggi.

“Kenapa ? Kenapa kau ke sini ? Kau ingin menemuiku ?”

“Apa kau tidak puas bersamanya ? Apa dia tidak bisa memuaskanmu ?” Cecar chanyeol di depan gadis yang di anggapnya seolhyun itu.

Hyejin diam tidak membalas. Gadis itu hanya diam tanpa menjawab sepatah katapun makian dari seorang pria yang tidak bisa di pungkiri membuat telinganya memanas.

Jika saja tidak mengingat fakta bahwa pria di depannya saat ini adalah seorang pelanggan dan dalam keadaan mabuk, hyejin bisa saja memukulnya dengan sebuah tongkat atau merobek mulut kotornya itu.

“Mengapa kau diam saja ?”

“Apa kau tidak puas dengannya ?” Lagi chanyeol bersuara dengan tubuh sempoyongan.

“Baiklah aku akan memuaskanmu” kata chanyeol kemudian, gerah dengan sikap hyejin yang hanya diam tidak memberinya jawaban membuat amarahnya kembali membuncah.

Chanyeol menarik kasar lengan hyejin, menjatuhkan tubuh gadis itu di atas tempat tidur kemudian menindihnya.

Hyejin yang sempat tersentak ketika lengan besar pemuda itu mengambil lengan dan menghempaskan tubuhnya dalam sekejap mendadak di landa kepanikan hebat. Sekuat tenaga gadis itu berusaha lepas dari kuncian tubuh chanyeol di atasnya.

“Seolhyun-ah, apa aku mencintaimu ?”

“Ku rasa aku harus memastikannya” kata chanyeol menyunggingkan smirknya di atas tubuh hyejin, mengabaikan usaha gadis itu untuk melepas cekalannya.

Chanyeol terdiam setelah menyelesaikan kalimatnya, namja itu menatap tajam hyejin di bawahnya dengan tatapan yang seolah ingin membunuh gadis itu.

Chanyeol mendekatkan wajahnya membuat sirene di kepala hyejin semakin berbunyi nyaring. Tepat saat hanya tersisa sedikit jarak diantara wajahnya dan wajah chanyeol. Hyejin mendorong kuat tubuh chanyeol. Membuat tubuh lemah sempoyongan chanyeol terjungkal dan terjatuh di sisi bawah tempat tidur.

Berhasil terlepas dari kuncian chanyeol, hyejin segera bangkit. Dengan cepat gadis itu mengambil langkahnya berniat meninggalkan kamar itu.

Baru dua langkah gadis itu membuat jarak tiba-tiba sebuah lengan besar kembali mencekalnya, menarik lengannya membuat tubuh hyejin kembali berbalik.

“Mau kemana kau ?”

“Kau mau lari dari ku ?”

“Kau tidak ingin aku melakukannya ?”

“Kenapa ?”

“Bukankah kau selalu menginginkannya”

Chanyeol terus saja meracau, namja itu menatap tajam hyejin dengan mata sayunya. Chanyeol tersenyum meremehkan.

“Yak! Lepaskan aku!” Suara hyejin pada akhirnya.

Kedua bola mata gadis itu memanas, dengan gelisah hyejin terus memberontak berharap chanyeol akan melepaskan cekalan pada lengannya.

Bukannya melepaskan lengan hyejin. Cekalan chanyeol justru semakin kuat membuat hyejin meringis kesakitan.

“Sadarlah tuan. Aku tidak mengenal anda”

“Aku bukanlah orang yang anda maksud” suara hyejin bergetar.

Chanyeol tidak memperdulikan perkataan hyejin. Dengan kasar chanyeol kembali menghempaskan tubuh hyejin ke atas tempat tidur. Menindihnya dan dengan gegabah chanyeol berusaha membuka kancing kemeja yang hyejin kenakan.

Hyejin meronta. Sekuat tenaga gadis itu memukul setiap tubuh chanyeol yang dapat di kapainya. Bulir bening itu lolos di sudut mata gelisahnya. Hyejin hampir putus asa, namun entah kesempatan dari mana hyejin dengan kuat meninjukan sudut lengannya pada perut pria gila di atasnya itu.

Chanyeol mengerang kesakitan. Dengan memegang perutnya namja itu berguling di sisi tubuh hyejin meringsut menahan sakitnya.

Merasa memiliki kesempatan emas untuknya melarikan diri. Hyejin dengan segera bangkit dan berlari meninggalkan kamar tersebut. Membuka kemudian membanting pintu itu keras.

Hyejin terus berlari ketakuan. Setibanya di ruang kebersihan, gadis yang tengah bersandar pada dinding itu memegang dadanya berusaha menetralkan detak jantungnya yang melaju cepat.

Hyejin akhirnya dapat bernafas lega. Ya, gadis itu bersyukur dirinya selamat dari sebuah kejadian yang mungkin saja terjadi. Kejadian yang bahkan tidak ingin di bayangkannya.

.

.

.

Matahari telah benar-benar tinggi namun hyejin masih bergemul dengan selimut bermotif beruang miliknya.

Lelah. Ya, hyejin sangat lelah. Kemarin pekerjaannya benar-benar menumpuk di tambah lagi dengan kejadian-, ah hyejin tidak ingin mengingatnya.

Beruntung hari ini gadis itu mendapat jadwal shif sore. Hyejin perlahan membuka matanya, mengerjap dan menyingkap selimutnya. Dengan langkai gontai hyejin beranjak dari kamarnya mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan.

Setelah mendapati rumah dalam keadaan sepi, hyejin yakin soojung pasti telah berangkat terlebih dahulu. Gadis itu berbalik kembali menuju kamarnya untuk membersihkan diri.

Hyejin terus saja melangkah seorang diri melewati lorong panjang menuju ruang loker tempatnya meletakkan barang-barang pribadi dan berganti seragam.

Hyejin melangkah dalam diam. Dengan pandangan lurus ke depan bayangan akan kejadian kemarin malam kembali terlintas dalam benaknya. Gadis itu mengerjap, menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menghilangkan ingatan itu dari kepalanya.

“Dasar pria gila”

“Jika kembali melihatnya, Aku akan menamparnya” gerutu hyejin seorang diri.

Hyejin menghentikan langkahnya tiba-tiba saat dengan tidak sengaja ia menabrak seseorang di depannya.

“Maafkan aku. Maaf” kata hyejin tanpa menatap orang tersebut. Gadis itu memukul kepalanya pelan menyesali aktivitas melamunnya.

Hyejin kembali melangkah dengan mengambil arah yang berbeda. Namun, lagi-lagi langkahnya terhenti karena kembali terbentur dengan orang yang sama.

“Ah, maaf” kata hyejin sekali lagi kali ini gadis itu mendongak menatap orang tersebut.

Hyejin tersentak. Kedua bola matanya terbuka sempurna. Gadis itu diam. Bayangan tentang kejadian kemarin malam lagi-lagi terulang di kepalanya.

“Hey, nona bisakah kau menyingkir. Kau menghalangi jalanku” chanyeol bersuara.

“K-kau…” suara hyejin pelan. Gadis itu tidak percaya namja di depannya ini bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.

Chanyeol mengangkat alisnya. Bingung dengan sikap gadis di depannya itu.

“Dasar bajingan” desis hyejin menatap tajam chanyeol yang masih memasang wajah tak berdosanya.

“Pria mesum!” Pekik hyejin kemudian melayangkan tamparan keras pada rahang tegas chanyeol.

Chanyeol terkejut. Refleks satu tangannya menyentuh rahang bekas tamparan gadis aneh yang sama sekali tidak di kenalnya.

Sementara chanyeol menyelami keterkejutannya hyejin berlalu dengan langkah cepat penuh emosi.

Chanyeol berbalik menatap punggung gadis yang dengan seenaknya menampar dan melarikan diri darinya.

“Yak!” Teriak chanyeol memanggil gadis aneh itu.

“Yak! Hey gadis aneh. Berhenti di sana”

“Yak!”

“Haisss” kesal chanyeol karena gadis itu tetap berlalu.

Chanyeol berniat mengambil langkahnya, mengejar gadis yang telah lancang menamparnya itu. Namun, segera di cegah oleh sang sekretaris.

“Tuan. Kita sudah terlambat”

“Para anggota telah berkumpul di ruang meeting” lanjut sekretaris chanyeol.

Chanyeol menghela nafasnya kasar. Berusaha meredam amarahnya. Namja itu mengusap wajahnya gusar kemudian kembali melanjutkan langkahnya.

.

.

.

Dua minggu berselang. Sedikit banyak hyejin telah berusaha melupakan tentang kejadian di hari itu.

Hyejin dengan senyum cerah yang mengambang terus melangkah antusias menghampiri soojung di depan di bagian resepsionis tempat gadis bersurai cokelat itu bertugas.

“Soojung-ah!” Pekik hyejin setelah tiba di sisi soojung.

“Yak, bisakah kau tidak berteriak”

“Hehe. Maaf” cengir hyejin menanggapi.

“Bagaimana ? Kita akan makan siang dimana ? Makan apa ?”

“Jjampong”

“Jajangmyeon”

“Japchae”

“Yak, yak. Berhenti mengabsen nama-nama makanan”

“Sebaiknya kita cepat pergi sebelum jam istirahat makan siang habis” kata soojung mengingatkan.

“Eum” angguk hyejin mengiyakan.

“Apa kalian akan pergi makan siang bersama ?” Suara seseorang menginterupsi kegiatan hyejin dan soojung.

“Eoh, manager lee” sapa hyejin setelah gadis itu berbalik melihat sang empu suara.

Manager lee tersenyum ramah. Ya, pria paruh baya ini memang selalu ramah pada siapa saja. Tidak heran jika manager yang pada umumnya selalu di takuti setiap staffnya itu tidak berlaku pada manager lee. Alih-alih di takuti manager lee justru tampak akrab dengan siapapun.

“Apa manager lee sudah makan siang ?” Tanya soojung membuka percakapan.

“Aku ? Eum sepertinya sebentar lagi”

“Bagaimana jika ikut bersama kami saja” usul hyejin kemudian.

“Ah tidak. Tidak. Aku sudah terlalu berumur jika ikut bersama kalian. Akan terlihat aneh” jawab manager lee menolak.

“Ahh, tidak mengapa manager lee” desak soojung kemudian.

“Orang-orang akan memikirkan tentang yang tidak-tidak” kata manager lee sembari terkekeh geli membuat hyejin dan soojung ikut tertawa dengannya.

Ketiganya larut dalam cengkrama mereka sampai ketika manager lee dengan segera menelan tawanya saat seseorang menghampirnya.

Manager lee membungkuk hormat kepada orang itu dan orang itu membalasnya ramah.

“Apa anda baru kembali tuan muda ?” Tanya manager lee sopan.

“Ya. Aku baru saja tiba” jawab orang itu dengan senyumnya. “Ah kau boleh pergi sekretaris kim” lanjut orang itu mempersilahkan asistennya pergi.

“Apa kalian sedang-” orang itu kembali bersuara dengan menggantungkan pertanyaannya.

“Ahh” sadar manager lee. “Kalian sapalah dia adalah tuan muda Park Chanyeol, CEO baru kita” lanjut manager lee menginterupsi hyejin dan soojung untuk menyapa orang itu.

Soojung membungkuk hormat sementara hyejin diam menegang sejak orang itu tiba di antara mereka. Soojung yang bingung akan sikap diam hyejin segera menyikut lengan gadis itu.

“Yak. kenapa diam saja” bisik soojung canggung.

Tidak ada tanggapan dari hyejin. Gadis itu tetap diam membatu membuat manager lee dan chanyeol ikut menatap gadis itu bingung.

“K-kau. Bukankah kau gadis yang tempo hari berani men-” suara chanyeol setelah mengenali gadis yang masih diam di depannya.

Hyejin tersadar, gadis itu segera mengalihkan tatapannya dari chanyeol.

“Sojung-ah dia adalah pria mesum yang ku ceritakan tempo hari. Tamu yang hampir saja memperk-” hyejin tidak dapat menyelesaikan kalimatnya karena dengan terlebih dahulu soojung menutup mulut gadis itu dengan satu telapak tangannya.

Dengan senyum canggungnya soojung menunduk permisi kemudian menyeret hyejin yang masih tidak bisa berkata apa-apa.

Chanyeol dan manager lee yang menyaksikan tingkah aneh keduanya semakin mengerut bingung. Chanyeol menatap manager lee penuh tanya.

“Apa yang gadis itu katakan ?” Tanya chanyeol kepada menager lee.

“Ahh. entahlah, lupakan saja tuan. Maafkan mereka. Mereka mungkin terkejut karena memiliki atasan seusia mereka terlebih atasan itu tampan seperti anda” jawab manager lee berusaha mencairkan suasana.

Chanyeol menanggapi datar perkataan manager lee. Namja jangkung itu kembali menolehkan wajahnya menatap kepergian dua gadis itu dengan tatapan misterius.

TBC

Hallo. Hallo. Masih ada yang menunggu lanjutan prolog kemaren kah ? *ada ya. Ada aja deh (buat gue bahagia gitu). 😉 😉

Btw gue emang lagi bahagia. Wkwkwkw. Masih ingatkah akan hot news lusa ? Ingat dong ya orang masih hangat gitu. Apaan sih emangnya ?

Itu lo itu foto sama video kiss scenenya chanyeol sama mba yuan *kyaaaaaaaa demi apa gue liatnya greget banget. Hahahaha

Alih-alih baper, sedih, mewek, histeris, yuk mari  kita berbahagia paling tidak khayalan para author selama ini gak semua khayalan semata tentang chanyeol yang jago kiss *ughhh~

Okay! Ini sudah terlalu melenceng jauh. Jangan bash bebeb ya.

Love. Love.

bebebaek_ (^^)

Advertisements

2 thoughts on “There Was Nothing [#1]

  1. Pingback: There Was Nothing [#2] | BABY BEE

  2. Pingback: There Was Nothing [#3] | BABY BEE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s