Shouldn’t Have #12END

image

by bebebaek_

prolog | chapter 1 | chapter 2 | chapter 3 | chapter 4 | chapter 5 | chapter 6 | chapter 7 | chapter 8 chapter 9 | chapter 10 | chapter 11 |

Main cast : Park Ae Yeon (oc), Oh Se Hun (EXO).

Addicional Cast : Park Chan Yeol (EXO), Nam Hye Jin (oc), Kim Ra Ra (oc), Byun Baekhyun (EXO), Song Ji Min (oc), Kim Jong Dae (EXO).

Genre : family, marriage life, sad, romance.

Length : Chaptered | Rating : PG 15

Hasil khayalan murni, don’t plagiat.

Sorry Typo-.-

.

.

.

Di dalam ruangan yang di dominasi warna putih itu sehun dengan setia menemani rara, duduk di atas kursi tepat di samping gadis itu sehun dengan telaten menyuapkan sendok demi sendok bubur kepada gadis yang tengah bersandar di atas bangsalnya.

“Cha~ sekarang suapan terakhir” suara sehun dengan senyumnya saat mengangkat sendok terakhir bubur yang telah bersih di dalam mangkuknya.

Sehun kembali menyuapkan sendok terakhirnya yang di sambut rara dengan senyum manisnya.

“Bagus, Kau sudah berkerja keras” suara sehun kembali, namja itu tersenyum mengelus pelan puncak kepala rara kemudian meletakkan mangkuk kosong di tangannya ke atas nakas terdekat.

Sehun kembali mendekati rara, membantu gadis itu untuk minum dan membenarkan posisi rara untuk kembali berbaring.

“Rara-ya, sekarang kau beristirahatlah. Aku harus kembali ke kantor” kata sehun setelahnya.

“Hmmmm” angguk rara masih dengan senyum bahagianya.

“Aku akan kembali lagi saat malam, kau harus beristirahat. Jangan lupa minum obat dan ikuti perkataan dokter ataupun perawat” cerewet sehun memperingatkan rara.

“Eoh! Ya. Ya. Aku bukan anak kecil lagi sehun-ah” jawab rara tergelak.

“Bisa saja kau membangkang, kau lupa apa yang terjadi tempo hari ? Dasar gadis nakal” cibir sehun mengingat kejadian beberapa hari yang lalu dimana rara dengan keras kepala ingin berjalan seorang diri, melawan peringatan dari perawat yang ada dan pada akhirnya gadis itu terjatuh setelah beberapa langkah.

“Aku tidak akan mengulanginya” kata rara dengan wajah cemberut.

“Hmmmm, aku percaya padamu” kata sehun kembali mengusap puncak kepala isterinya itu.

“Aku pergi eoh” lanjut sehun setelah menarik kembali lengannya.

“Hati-hati” suara rara yang di sambut senyum sehun kemudian namja itu melangkah meninggalkan ruangan tersebut.

Sehun mengayunkan langkahnya ringan meninggalkan rumah sakit megah tersebut, namja itu terus melangkah melewati koridor panjang rumah sakit dan turun menggunakan lift.

Sehun tidak lagi mencari ataupun berusaha menemui ae yeon. Sehun tahu pasti gadis itu telah mengetahui semuanya dan sehun tidak sanggup untuk menjelaskannya.

Ya, sehun dapat meyakininya terlebih setelah kejadian hari itu, chanyeol tidak mungkin memperlakukannya seperti itu jika tanpa suatu alasan. Jika chanyeol saja dapat melakukan hal seperti itu, maka sehun tidak dapat membayangkan bagaimana remuknya hati gadis yang masih di cintainya itu.

.

.

.

Ae yeon berjalan bersama deretan timnya keluar dari ruang perawatan anak usai melakukan visit siangnya, gadis itu membungkuk hormat sama seperti beberapa orang lainnya setelah melewati pintu ruangan tersebut dan membirkan para professor dan perawat pergi terlebih dahulu.

Ae yeon kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang istirahat dengan senyum yang diulasnya indah, gadis itu membalas setiap sapaan yang di berikan orang-orang kepadanya.

Ae yeon memang masih bisa tersenyum, gadis itu tidak lagi lemah. Ae yeon telah menemukan titik kekuatannya. Ya, gadis itu berusaha menerima segala kenyataan pahit yang di dapat dan meninggalkan luka yang masih menganga di hatinya.

Ae yeon berusaha melupakan namja itu sekali lagi. Sama halnya seperti sehun yang tidak berusaha menemuinya. ae yeon pun tidak lagi menghiraukan namja itu, sekalipun dirinya melihat sosok sehun, ae yeon hanya akan berlalu seolah tidak melihat dan mengenalnya.

Ae yeon menghentikan langkahnya saat seseorang berdiri di depannya. Ae yeon diam menatap orang tersebut dengan tatapan bingung dan penuh tanya.

Ae yeon dan seorang lelaki paruh baya yang beberapa saat lalu menghentikan langkahnya duduk bersama di salah satu meja kantin rumah sakit.

Ae yeon tertegun mendengar deretan kalimat penjelasan yang keluar dari tulus hati seorang ayah. Tuan kim bercerita tentang kondisi rara. Putri semata wayangnya yang terkena penyakit bawaan sejak lahir dan di vonis dokter hanya dapat bertahan kurang dari enam bulan.

Tanpa sadar ae yeon meloloskan buliran bening di sudut irisnya, mungkin rara jauh lebih sakit dari dirinya. Ya, ae yeon memang tidak seharusnya egois. Rara lebih membutuhkan sehun bersamanya saat ini dan karna fakta yang baru di ketahuinya ini ae yeon lebih mantap menetapkan hatinya untuk mengalah.

“Maafkan aku, karena aku sekali lagi kau kehilangan sehun” kata tuan kim sembari meraih kedua lengan ae yeon.

Apa yang di lihatnya di depan ruang perawatan sang putri hari itu kembali terlintas di benaknya. Pemandangan betapa remuknya gadis di depannya saat ini ketika menyaksikan sang menantu kembali memperdulikan dan memberi perhatian kepada putrinya.

“Aku tahu sehun sama sekali tidak memiliki perasaan kepada rara, semua karena-ku, akulah yang mempercepat pernikahan mereka tanpa persetujuan sehun” lanjut tuan kim kemudian.

“Aku hanya ingin membuat putriku bahagia, rara terlihat sangat menyukai sehun. Ku pikir akan membahagian baginya jika aku dapat membuat sehun menjadi miliknya tapi ternyata-” tuan kim memutuskan kalimatnya dan memandang nanar ae yeon di depannya.

“Maafkan aku dan tolong jangan membenci rara” lanjut tuan kim dengan suara bergetar.

“Tidak paman, akulah yang seharusnya meminta maaf” balas ae yeon mengambil alih lengan lelaki paruh baya itu.

“Maafkan aku, aku telah menganggu rumah tangga mereka” lanjut ae yeon menundukkan wajahnya.

“Kau terlalu baik hati ae yeon-ah, aku tahu betapa terpuruknya kau saat mengetahui sehun dan putriku menikah. Aku juga tahu tentang perjodohan masa kecil kalian. Hanya saja aku terlalu egois untuk menyadari kesalahanku”

“Tidak ada siapapun yang patut di salahkan. Paman tidak bersalah begitupun dengan rara, semuanya memang harus berjalan sebagaimana harusnya takdir melilit diantara kami”
kata ae yeon dengan senyum ramahnya.

Tuan kim membalas senyum tulus ae yeon. “Terima kasih” ucap lelaki itu dengan perasaan lega yang terlihat begitu kentara.

.

.

.

Hari berganti dan waktu terus berlalu. Rara masih berbaring di atas bangsal tempat perawatannya sementara dokter melakukan pemeriksaan padanya.

Rara hanya tersenyum lurus saat dokter kembali mengatakan kondisinya membaik dan tidak lama lagi dirinya di perbolehkan untuk pulang. Ya, rara hanya dapat tersenyum sebab gadis itu sudah terlalu sering mendengar perkataan yang sama terlontar.

Rara mengedarkan pandangannya, menatap ayah dan ibu yang selalu setia memberi semangat dan terus berada di sampingnya saat ini. Gadis itu kemudian mengalihkan pandangannya kepada sehun yang juga setia berdiri di dekatnya.

Tuan dan nyonya kim tersenyum hangat kepada rara begitupun dengan sehun yang juga membalas tatapan lesu sang gadis. Lagi-lagi rara hanya dapat tersenyum lurus membalas semangat yang di berikan orang terkasihnya.

Rara sudah terlalu sering mendengar kalimat tentang kondisinya yang selalu dikatakan membaik dan membaik, Namun rara lebih mengetahui kondisi tubuhnya  sendiri.

Gadis itu mengambil nafasnya dalam setelah dokter pergi meninggalkan ruangannya. Kembali rara tersenyum lurus untuk kesekian kalinya di hari ini, hari yang terasa begitu berat dan akan terasa panjang baginya.

Perlahan rara menoleh menatap sehun di sampingnya, gadis itu dengan tertatih mengangkat satu lengannya untuk meraih tangan sehun.

“Sehun-ah” panggil rara pelan.

“Hmmm, ya ?” Jawab sehun lembut.

“Apa kau bertemu dengan ae yeon ?” Tanya rara membuat sehun tidak bisa menyembunyikan ekpresi terkejutnya.

Sehun diam, tidak tahu harus menjawab apa.

“Kau tidak bertemu dengannya ?”

“Kau benar-benar tidak bertemu dengannya ?”

“Apa karena-ku ?” Tanya rara dengan tatapan dalamnya kepada sehun.

“Ahhh… aku jadi semakin merasa bersalah” suara rara kembali setelah mengalihkan pandangannya pada sehun yang masih saja diam membisu.

“Sehun-ah” panggil rara kembali setelah hening beberapa saat.

Sehun membalas tatapan rara tulus sebagai jawaban atas panggilannya.

“Bisakah aku, me-minta pertolonganmu ?” Tanya rara ragu.

Sehun mengerut sesaat kemudian bersuara “tentu saja, kau ingin aku membantu apa ? Kau ingin aku suapi makan ? Atau kau ingin bangkit dari posisimu ?”
Rara tersenyum, gadis itu kembali meraih satu lengan sehun “bisakah kau panggilkan ae yeon ke sini ?”

Sehun kembali tertegun, namja itu kemudian mengambil alih lengan rara meletakkannya di kedua sisi tubuh lemah gadis itu kemudian merapihkan selimut diatas tubuh rara.

“Kau sebaiknya beristirahat,  wajahmu sudah begitu pucat” kata sehun berusaha mengalihkan pembicaraan.

Rara terus saja menatap setiap gerak sehun, gadis itu kemudian mengambil lagi lengan sehun yang berniat beranjak menjauh dari sisinya.

“Untukku. Ku mohon” suara rara lemah.

“Aku hanya ingin bertemu dan bicara dengannya”

“Sehun-ah, ku mohon” pinta rara dengan suara yang terus melemah.

Sehun diam menatap rara dengan tatapan bertanya, namja itu kemudian menoleh ke arah tuan dan nyonya kim meminta jawaban akan apa yang harus di lakukannya.

Tuan kim mengangguk pasti, dengan senyum tulus pria paruh baya itu memberikan izin kepada sehun untuk memenuhi permintaan sang putri.

Sehun mengambil nafasnya dalam, kembali memandang rara yang masih memandangnya penuh harap dengan lengan yang masih setia menggenggam pergelangan tangan sehun.

“Hmmmm, baiklah” suara sehun setelahnya membuat gadis pucat itu tersenyum bahagia.

Rara melepaskan genggamannya masih dengan senyum yang terulas untuk sehun, membiarkan sehun pergi meninggalkan ruangannya.

.

.

.

Sehun berdiri seorang diri di depan sebuah ruangan di lantai departemen anak. Sejak dua puluh menit yang lalu namja itu hanya diam bersandar pada tempok putih di belakangnya.

Sehun terdiam, namja itu menunduk bingung bagaimana dirinya harus menyampaikan permintaan rara, bagaimana dirinya menjelaskan segalanya kepada ae yeon dan apa yang harus di katakannya. Sehun ragu, sungguh. Namja itu kembali mengambil nafasnya dalam untuk kesekian kali.

Sehun mengangkat kepalanya ketika mendengar suara pintu ruangan di sisinya terbuka, namja itu memandang daun pintu tersebut lekat dan kembali tertegun saat mendapati siapa yang muncul di baliknya.

Sama seperti sehun yang tertegun dan diam di tempatnya, ae yeon yang juga terkejut mendapati sehun tengah berdiri di depan ruangannya hanya mampu memandang namja itu dengan tatapan penuh tanya.

Untuk beberapa saat keduanya hanya diam dan saling berpandangan. Suasana canggung terlihat kentara di antara mereka. Tidak ada yang membuka suara sebelum akhirnya sehun mengambil langkah pendeknya mendekat menghampiri ae yeon.

Sehun berdiri tegak di depan gadis yang entah sudah berapa lama tidak di lihatnya secara langsung. Deru di dalam dadanya menggemuruh, mata beningnya tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan untuk merekam lekuk yang lama di rindukannya.

Bingung dengan sehun yang tiba-tiba berdiri di depannya, ae yeon yang masih menatap mata tajam itu berusaha menyembunyikan rindu batinnya. Gadis itu melangkahkan kedua kakinya berniat berlalu meninggalkan sehun yang masih diam membisu.

“Tunggu” suara sehun lemah menginterupsi langkah ae yeon yang baru saja melewatinya.

Ae yeon menghentikan langkahnya dan menoleh menatap kembali sehun yang juga tengah menatapnya.

“Rara ingin bertemu denganmu” lanjut sehun pelan, namja itu tidak tahu harus berkata apa. Hanya kalimat itu yang saat ini terlintas di kepalanya.

“Eoh ?” Bingung ae yeon.

“Ahh, ya” lanjut ae yeon singkat berusaha meredam canggungnya.

Sehun diam mencerna jawaban ae yeon yang begitu singkat, jujur namja itu terkejut akan respon ae yeon yang dapat di bilang begitu tenang. Tidak ada amarah ataupun permintaan penjelasan seperti apa yang di bayangkan sehun beberapa saat yang lalu.

“Mengapa hanya diam di situ ?” suara ae yeon membuyarkan lamunan sehun.

“Eoh ?”

“Kau tidak ingin mengantakan ku ke ruangan rara ?” Tanya ae yeon lagi.

“Ah, ya. Kajja” jawab sehun terbata, namja itu kemudian mengambil langkah di depan ae yeon.

Ae yeon mengikuti jejak sehun, berjalan satu langkah di belakang namja itu tanpa sekalipun membuka suara. Perjalanan menuju ruang inap rara begitu hening, keduanya terdiam dan hanya menjelajahi pikiran masing-masing.

Setibanya di depan pintu ruang perawatan rara, ae yeon menghentikan langkahnya membiarkan sehun tetap melangkah melewatinya dan membuka pintu itu kemudian masuk terlebih dahulu.

Sehun berhenti di ambang pintu menatap rara yang juga menatapnya dengan tatapan penuh harap, sekali lagi sehun menolehkan wajahnya menatap tuan kim meyakinkan.

Tuan kim tersenyum, kedua orang tua rara yang tengah duduk di atas sofa panjang ruangan tersebut mengangguk pasti.

Sehun menolehkan wajahnya kebelakang menatap ragu ae yeon kemudian mengangguk sebagai isyarat untuk gadis itu melangkah masuk.

Ae yeon melangkahkan kakinya pelan, dengan tenang gadis itu melewati sehun dan berdiri di tengah ruangan. Ya, ae yeon menghentikan langkahnya tidak jauh di depan sehun.

Bagaimanapun gadis itu berusaha untuk tenang dan menekan segala di dalam hatinya tetap saja perasaan itu membubuh tinggi, bukan perasaan cemburu ataupun benci melainkan sebuah rasa bersalah yang entah kenapa semakin menyesakkannya saat melihat dari dekat kondisi gadis di depannya itu.

Kedua bola mata ae yeon memanas tanpa bisa di tahan olehnya, gadis itu berusaha menyembunyikannya dengan berkali-kali mengerjap dan mengalihkan pandangannya. Ae yeon menatap bersalah pada tuan kim namun pria paruh baya itu justru menjawabnya dengan sebuah senyum tulus.

Rara tersenyum tulus saat melihat ae yeon memasuki ruangan dan berdiri di depannya.

“Ae yeon-ah, kemari lah ” suara rara pelan.

Ae yeon yang masih berdiri di tempatnya dengan ragu-ragu melangkahkan kedua kakinya pelan. Gadis itu berhenti dan berdiri dengan canggung tepat di salah satu sisi bangsal rara.

Masih dengan mempertahankan senyum lurusnya, rara mengalihkan pandangannya pada ae yeon, rara kembali menatap sehun yang masih berdiri kaku di ambang pintu.

“Sehun-ah, kemarilah” suara rara kembali.

Sehun yang mendengar panggilan rara tersentak sesaat, namja itu terlihat bingung dengan apa yang di inginkan rara.

Perlahan sehun mengayunkan langkahnya berjalan mendekat dan berhenti tepat di sisi ae yeon.

“Ada apa heum ?” Lembut sehun mengambil satu lengan lemah rara.

Rara tersenyum tulus, gadis itu membalas genggaman sehun pada lengannya. Rara mengalihkan pandangannya dari sehun kepada ae yeon.

“Ae yeon-ssi, maafkan aku” suara rara membuat ae yeon balas menatap gadis itu.

“Maafkan aku karena berada di antara kalian dan merusak takdir kalian untuk bahagia” lanjut gadis itu tulus.

Ae yeon terdiam tidak tahu harus berkata apa, otaknya terasa lumpuh mendapati keadaan rara di depannya. Lidahnya kelu tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun.

“Tidak rara-ssi, kau tidak merusak apapun. Akulah yang salah hadir tengah kehidupan kalian” jawab ae yeon dengan susah payah berusaha mendapatkan kembali suaranya.

“Sehun milikmu bukan milikku” lanjut gadis itu tanpa menatap sehun.

Sehun yang mendengar perkataan ae yeon hanya diam di tempatnya, masih dengan menggenggam lengan rara, namja itu menunduk dan menatap datar pada keramik putih pijakannya.

Jika saja sehun boleh berkata jujur, saat ini namja itu tengah di landa perasaan yang bercampur aduk. Sehun tidak ingin membuat rara kecewa namun sehun juga tidak bisa membohongi hatinya, sehun masih menyimpan rasa itu untuk ae yeon.

Sehun tahu dirinya telah banyak menyakiti ae yeon, siap menerima konsekuensinya atau bahkan tidak lagi pantas berada di sisi ae yeon, sehun menyadari hal itu tapi mengapa saat mendengar kalimat yang di lontarkan dari bibir mungil gadis itu, kalimat yang menyatakan dirinya bukan milik gadis itu sehun merasa kecewa, hatinya terasa perih, kosong dan hampa.

Dengan tertatih rara mengangkat satu lengan bebasnya, meraih satu lengan ae yeon dan menggenggamnya bersamaan dengan lengan genggamannya pada lengan sehun.

“Mulai saat ini, aku tidak akan mengganggu kalian. Aku tidak akan menghalangi kalian untuk bersatu”

“Aku tahu kalian saling mencintai. Maafkan keegoisanku” lemah rara menatap keduanya bergantian.

“Sekarang berjanjilah kalian akan hidup bahagia” lanjut rara dengan senyum tulusnya.

Tidak ada yang menjawab. Baik sehun maupun ae yeon hanya diam membisu.

Rara membawa lengan ae yeon mempertemukannya dengan lengan sehun yang masih menggenggam lengannya. Gadis itu kemudian tersenyum bahagia menatap lengan ketiganya yang saling bertaut.

Rara mengalihkan pandangannya, menatap kedua orangnya penuh rasa bersalah.

“Eomma, appa” suara rara memanggil kedua orang tuanya.

Tuan dan nyonya kim lantas mendongak menatap gadis itu dan mendekat. Nyonya kim meraih satu lengan bebas rara. Raut sedih nampak di tahan wanita paruh baya itu.

“Eomma, maafkan aku. Aku selalu merepotkanmu”

“Tidak sayang, kau tidak pernah merepotkan eomma. Kau putri eomma yang sangat penurut” jawab nyonya kim dengan menahan isakkannya.

“Appa, terima kasih telah banyak memberiku kebahagian” kata rara menatap tuan kim yang hanya mengangguk dengan senyum beratnya.

“Aku benar-benar bahagia sekarang” lanjut rara menatap semua orang yang berada di ruangan tersebut.

“Appa, aku bahagia” suara rara kembali, menatap langit-langit kamarnya gadis itu mengambil nafasnya dalam kemudian menghembuskannya perlahan bersama dengan tertutupnya mata dan hilangnya detak jantung gadis itu pada layar monitor.

Tangis nyonya kim pecah setelahnya, kehilangan putri semata wayangnya benar-benar membuat wanita paruh baya itu sedih dan terpuruk. Ya, meskipun nyonya kim mengetahui cepat atau lambat hari ini pasti akan datang namun dirinya tidak siap dan tidak akan pernah siap.

Tuan kim merengkuh tubuh sang istri ke dalam pelukannya berusaha menenangkan meski hatinya tidak lah berbeda. Pria paruh baya itu tidak kalah terpukul hanya saja dirinya berusaha tegar dan menerima segalanya.

Tidak jauh berbeda dari kesedihan yang mendalam dari tuan dan nyonya kim. Ae yeon yang masih berdiri di tempatnya dengan tangan yang masih bertaut bersama sehun dan rara seketika melepaskan tangannya. Gadis itu mundur satu langkah tidak percaya jika gadis yang baru saja menatap dan berbicara padanya itu telah tiada.

Ae yeon menutup mulut menggunakan satu lengannya, gadis itu menunduk dengan pundak yang berguncang setelahnya. Ae menangis, kesedihan juga meliputi hatinya.

Sementara semua orang di dalam ruangan itu menitikkan air mata kehilangan, sehun hanya diam di tempat menatap gadis yang kini telah menutup kedua bola matanya rapat. Benak sehun penuh penyesalan dan rasa bersalah, bagaimanapun dia telah banyak menyakiti gadis itu, membuatnya menangis hingga kondisinya melemah.

Sehun masih menggenggam tangan yang mulai mendingin itu kuat. Menyelami rasa bersalahnya dalam diam.

3 tahun kemudian.

Angin musim gugur berhembus menyapa dua orang yang tengah berdiri sejajar di depan sebuah pusara.

Keduanya terdiam. Tidak ada suara. Hanya memandang gundukan tanah yang sedikit meninggi itu lekat. Diam dengan pikiran dan doa yang di sematkan dalam hati masing-masing.

Dengan mengenakan pakaian serba hitam yang senada, sehun dan ae yeon berkunjung ke makam rara.

Sehun mengambil nafasnya dalam “rara-ya” namja itu membuka suara.

“Aku dan ae yeon akan menikah” lanjut sehun mengambil dan menggenggam tangan ae yeon di sisinya.

“Seperti apa yang kau katakan, kami akan berusaha hidup bahagia. Datanglah dan beri kami restu di hari bahagia itu” suara sehun menatap makam dengan rerumputan hijau yang tertata rapih itu.

Ae yeon menolehkan wajahnya, menatap sisi wajah sehun yang kembali terdiam setelah menyelesaikan kalimatnya.

Gadis itu tersenyum ketika sehun juga menoleh kearahnya. Sesaat keduanya saling berpandangan.

Sehun menarik kedua sudut bibir tipisnya mengukir sebuah senyuman kemudian menarik lembut lengan ae yeon di genggamannya menuntun gadis itu untuk berbalik dan berjalan mengikuti langkahnya.

Setelah berkunjung ke makam rara, keduanya beranjak menuju sebuah butik tempat sehun dan ae yeon memesan setelan tuxedo dan gaun pengantin mereka.

Sehun tengah duduk di atas sofa panjang di salah satu ruang butik tersebut menunggu ae yeon yang tengah mencoba gaunnya keluar.

“Sehun-ah” panggil ae yeon setelah dua orang pegawai butik tersebut menarik tirai ruang gantinya.

Sehun mendongak. Mengalihkan pandangannya dari majalah di depannya. Namja itu terdiam, menatap ae yeon dengan pandangan datarnya.

“Sehun-ah” panggil ae yeon sekali lagi.

“Wae ? Kenapa kau diam saja ? Kau tidak suka ?” Lanjut gadis itu penasaran karena sehun hanya diam di tempatnya.

“Sehun-ah”

“Oh sehun!” Panggil ae yeon kesal. Gadis itu tidak suka dengan tatapan datar sehun yang terlihat dingin dan juga bodoh.

“E-eoh ?” Sehun akhirnya membuka suara. Namja itu kemudian mengerjap beberapa kali dan bergerak mengubah posisi duduknya.

“Kenapa hanya diam saja ? Apa ini terlihat jelek padaku ?”

“Kau tidak suka ?” Tanya ae yeon setelahnya.

Sehun mengambil nafasnya dalam, berdehem singkat kemudian bersuara “tidak. Kau terlihat luar biasa dengan gaun itu”

“Benarkah ? Lalu mengapa kau diam dan memandangku dengan tatapan aneh seperti tadi ?”

“Itu-, itu karena kau sangat sangat dan sangat cantik. Aku sampai tidak bisa bernafas karenanya” jawab sehun menggoda.

“Ckckc, dasar gombal”

“Aku tidak berbohong. Kau bisa tanyakan kepada mereka berdua” bantah sehun menunjuk dua orang pegawai butik di sisi kanan dan kiri ae yeon.

“Hmmm baiklah, aku percaya padamu” kata ae yeon dengan senyum manisnya.

“Tunggu sebentar lagi, aku akan selesai” lanjut gadis masih dengan senyum yang selalu terlihat indah di mata sehun.

Sehun mengangguk. Namja itu membalas senyum manis ae yeon yang kini kembali hilang di balik tirai yang kembali tertutup.

Sehun menatap lekat tirai tertutup itu, dimana beberapa saat yang lalu kedua bola matanya menatap binar bahagia sang gadis. Binar yang berbeda dengan beberapa tahun yang lalu dimana binar itu sama sekali tidak bisa di lihatnya.

Pikiran sehun melayang bersama dengan senyumnya. Kedua bola mata namja itu menerawang menerobos waktu, mengingat kembali hari itu.

*flashback on*

Sehun mengenakan setelan serba hitamnya rapi, namja itu berdiri di sisi tuan dan nyonya kim di kediaman keluarga kim, tempat rara di semayamkan untuk penghormatan terakhirnya.

Banyak para tetamu yang merupakan rekan bisnis tuan kim hadir silih berganti untuk menyampaikan bela sungkawa mereka pada pria paruh baya itu tidak terkecuali keluarga oh dan keluarga park.

Tuan kim menyambut ramah kedua keluarga tersebut, pria paruh baya itu juga tidak lupa menyampaikan ucapan terima kasih dan rasa bersalahnya atas beberapa kejadian tempo hari.

Sehun masih berdiri seorang diri di atas pusara rara yang benar-benar masih basah. Namja itu menatap duka pada tempat persemayaman terakhir sang gadis yang banyak menderita karenanya.

Lama sehun berdiri mematung. Entah sudah berapa lama namja itu berdiri seorang diri di sana, mengabaikan ajakan tuan dan nyonya kim untuk segera beranjak dari tempat tersebut.

Hari semakin sore dan hembusan angin semakin kencang. Namun kedua kaki sehun tetap berdiri kokoh di pijakannya tanpa berniat untuk beranjak. Namja itu bahkan tidak menyadari jika seseorang tengah berdiri tidak jauh di belakangnya.

Matahari mulai turun dan senja telah menyapa. Sehun akhirnya mengambil langkah dan berpaling mengayunkan langkahnya beranjak meninggalkan tempat tersebut.

Langkah sehun kembali tertahan ketika kedua bola matanya menangkap sosok ae yeon yang tengah berdiri di depannya dan menatapnya dengan tatapan sendu.

Pelan-pelan sehun kembali merajut langkahnya mendekat. Keduanya saling memandang dalam diam, mengutarakan segalanya hanya dengan mata yang saling berbicara.

Sehun yang tidak mampu membuka suara dan menjelaskan segelanya dan ae yeon yang terlalu lelah untuk bertanya membuat keduanya yang telah saling menyelami manik masing-masing mengerti dan saling menerima.

Kedua bola mata ae yeon meniliti wajah lelah sehun, satu lengan gadis itu mengusap sisi wajah lelaki yang entah berapa lama tidak di sentuhnya.

Dengan segala perasaan yang membuncah ae yeon mengahambur ke dalam pelukan sehun. Sehun yang juga begitu merindukan gadisnya membalas pelukan ae yeon mendekap gadis itu hangat melepaskan segala beban yang selama ini begitu berat di benaknya.

Lama keduanya saling berpelukan erat, meruntuhkan semua beban yang selama ini bertumpuk di benak keduanya. Semuanya luruh dalam pelukan hangat itu, pelukan yang sarat akan rindu.

Sehun menyudahi pelukan keduanya. Namja itu mengulurkan kedua lengannya menangkup wajah ae yeon dan memandangnya dalam. Mereka kembali berpandangan sebelum kemudian sehun kembali menyudahinya dengan sebuah senyum tipis.

Sehun mengambil satu lengan ae yeon, menggenggamnya erat kemudian menuntun gadis itu melangkah meninggalkan tempat tersebut.

*flashback end*

“Sehun-ah”

“Sehun ? Kau melamun ?” Panggil ae yeon menilik wajah menerawang sehun.

“E-eoh ? Ka-kau sudah selesai ?” Jawab sehun setelah kembali dari ingatan masa lalunya.

“Eyyy kau benar-benar melamun”

“Apa yang sedang kau pikirkan ?” Tanya ae yeon sembari duduk di sebelah sehun dengan memegang tumpukan kertas berwarna peach di tangannya.

“Tidak ada”

“Apa yang kau bawa ?” Sehun balas bertanya.

“Eoh, ini ? Undangan pernikahan kita. Ternyata mereka membuatnya lebih cepat dari batas waktu penyelesaian”

“Benarkah ? Biarku lihat” kata sehun antusias. Namja itu membenarkan posisi duduknya berniat mengambil salah satu undangan tersebut dari tangan ae yeon.

Sehun mengulurkan lengannya mendekat, namun lebih dulu di tepis oleh ae yeon. Namja itu mengerut bingung dan mendongak menatap ae yeon dengan tatapan bertanya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku ?”

“Apa ada sesuatu yang kau khawatirkan ?” Tanya ae yeon penasaran.

Sehun tersenyum geli, mengambil satu lembar undangan di tangan ae yeon tanpa membuka suaranya membuat ae yeon semakin mengerut penasaran.

“Kau mengkhawatirkan pernikahan kita ?” Lagi ae yeon bertanya penasaran.

“Kenapa aku harus mengkhawatirkan pernikahan kita ?” Sehun balik bertanya menatap ae yeon dengan wajah tersenyum.

“Bukankah untuk menuju hari itu kita telah banyak melewati hari-hari yang berat ?” Lanjut namja itu menatap langsung pada manik ae yeon.

Ae yeon terdiam, terkunci akan dalamnya tatapan sehun. Banyak kejadian kembali terputar jelas di kepala gadis itu, tentang luka, pengorbanan, dan rindu.

Sehun merangkulkan lengannya pada pundak ae yeon membawa gadis itu bersandar di pundaknya.

“Dari pada khawatir, aku lebih tidak sabar menantikannya” lanjut sehun teduh.

“Eumm” jawab ae yeon dengan gumaman kecilnya, gadis itu menyandarkan kepalanya nyaman di pundak hangat sehun.

“Ahh aku tidak boleh lupa untuk mengundang jongdae sahabatku. Kau ingat dia ?” Kata sehun mengalihkan pembicaraan setelah melihat kembali undangan di satu tangan bebasnya.

“Tentu saja aku ingat” jawab ae yeon tersenyum.

“Kau tau mereka telah memiliki seorang putra. Sangat lucu dan mirip sepenuhnya dengan jongdae”
“Benarkah ?”

Sehun hanya mengangguk pelan menatap wajah ae yeon di sisinya sebagai jawaban.

“Jika ingat jongdae. Aku juga tidak boleh lupa mengundang jimin” ae yeon kembali bersuara dengan senyum gelinya mengingat kejadian lucu di masa lalu.

Sehun kembali mengangguk, juga dengan senyum yang sama. Keduanya mengingat kembali hal itu.

“Ahhh tapi syukurlah, ku rasa kita bisa berhemat undangan” kata ae yeon setelah menyudahi senyumnya.

Sehun mengerut tidak mengerti.

“Baekhyun sunbae ? Aku tidak perlu memberikan satu undangan khusus untuknya, aku bisa menggabungkannya dengan undangan untuk jimin”

“Maksudmu ?”

“Kau tidak mengerti ? Mereka berkencan. Jadi kau tidak perlu cemberu lagi dengannya” jelas ae yeon menggoda.

“Aku tidak cemburu. Kapan aku cemburu dengannya”

“Ckckc, dasar. aku tau jadi kau tidak perlu berkilah”

“Tidak. Aku tidak cemburu”

“Benarkah ?”

“Heum”

“Jadi haruskah aku mengundangnya khusus ?”

“Yak! Untuk apa-“

“Kau cemburu ? Itu, sekarang kau cemburu bahkan hanya karena undangan. Ckckc” decak ae yeon geli.

“Kau menggodaku ?” Gemas sehun menggelitik.

“Yak!” Pekik ae yeon. Gadis bergerak, berusaha menghindar sementara sehun semakin genjar menggelitiknya.

Keduanya tertawa bersama hingga sehun mengakhiri geletikannya dan kembali membawa ae yeon kedalam dekapnya.

“Sehun-ah, apa tuan kim akan hadir di hari pernikahan kita ?”

“Tentu saja. Dia pasti akan hadir di acara pernikahan kedua anaknya” jawab sehun.

“Wae ? kau mengkhawatirkannya ?” Tanya namja itu menilik wajah ae yeon.

“Eum, aku takut dia tidak akan datang”

“Dari pada mengkhawatirkan tuan kim aku lebih takut pada seseorang”

“Seseorang ?” Tanya ae yeon mendongakkan wajahnya menatap sehun penuh tanya.

“Eum” gumam sehun mengiyakan.

“Siapa ?”

“Oppa-mu, chanyeol hyung. Sudah berapa lama waktu berlalu tapi sikapnya tetap dingin kepada ku. Aku takut dia akan seperti itu selamanya tidak menerimaku bersamamu” tutur sehun.

“Chanyeol oppa ? Hmmmm, ku rasa oppa tidak keberatan tentang ini, jika oppa keberatan dia tidak akan membiarkan kita hingga pada tahap sekarang”

“Tapi sikapnya sama sekali tidak berubah kepada ku, bahkan saat aku berusaha menghampirinya dia dengan begitu saja menjauh”

Ae yeon tersenyum geli “kau harus berusaha lebih keras” suara gadis itu menatap sehun langsung.

“Kau seharusnya membantuku. Bukankah oppa-mu sangat menyayangimu”

“Ya, oppa-ku memang sangat menyayangiku tapi untuk urusan kali ini, kau harus berusaha sendiri”

Sehun mendelik kesal kemudian menghela nafasnya dalam.

Ae yeon memalingkan wajahnya membuat wajah keduanya saling berhadapan.

“Tidak perlu terlalu di pikirkan, kau pasti bisa. Selama ini kau selalu gigih berusaha meraih dan mempertahankan-ku, bahkan di keadaan yang sangat sulit. Aku yakin kau juga akan bisa meluluhkan hati chanyeol oppa” suara ae yeon meraih sisi wajah sehun

Sehun meletakkan satu tangannya diatas tangan ae yeon pada wajahnya.

“Tapi ini berbeda ae yeon-ah, oppa-mu berbeda denganmu dari segala segi apapun akan berbeda”

Ae yeon lagi-lagi tersenyum, gadis itu tahu maksud namja yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.

“Karena kau mencintaiku ?”

“Ya, kau tau betul. Tapi oppa-mu”

“Ya aku tau kau tidak mungkin mencintai oppa” lanjut ae yeon memotong kalimat sehun dengan tawanya.

Sehun ikut tertawa, namja itu mengusap pelan puncak kepala ae yeon mempertemukan kepala keduanya.

Sehun menatap lekat manik yang selalu berhasil membuatnya tidak ingin beralih dari pesona indah beningnya, sehun tersenyum menurunkan pandangannya menatap kedua bibir pink ae yeon kemudian menatap mata gadis itu kembali dan setelahnya namja itu dengan pelan mempertemukan bibirnya dengan bibir ae yeon.

Hanya sebuah kecupan singkat. Sehun menarik wajahnya memberi sedikit jarak namun tetap dengan kepala yang saling bertemu.

Sehun menyunggingkan senyum tulusnya yang di balas ae yeon dengan senyum manisnya. Namja itu terus saja merekam segala lekuk wajah ae yeon, wajah gadis yang sejak dirinya berhasil memasuki hati sehun. Sehun tidak pernah bisa lepas dari bayangannya, memikirkannya, dan terus merindukannya.

Gadis yang tetap setia bertahan di sisinya meski telah banyak menerima luka dan sakit karenanya. Gadis yang selalu ingin di perjuangkannya dan gadis yang ingin di bahagiakannya.

Senyum sehun masih belum pergi dari wajahnya. Masih dengan menatap ae yeon benak namja itu bersuara

“Mulai detik ini, mari membayar segala luka di masa lalu dan hidup bahagia selamanya”

Fin

Huahhhhh sudah berapa lama ff ini gak bisa gue lanjutin ? maaf ya maaf banget.

Jujur bebeb mandek banget akhir-akhir ini, ide, mood dan segala tiba-tiba melayang entah kemana dan karena takut membiarkan SH ini menggantung tanpa kepastian akhirnya gue putusin buat di ending-in aja.

Jadi harap maklum ya jika jalan ceritanya benar-benar ngawur dan aneh. Di bikin dengan feel yang kurang alhasil ya gue juga gak puas sih sama hasilnya.

Sekali lagi maaf ya. Gue berharap gak ada yang kecewa. Walau yakin pasti semua sudah pada lupa sama ff ini.

Gue sebenarnya mau nebus kesalahan ini ntar ya, tapi gak janji takutnya mood gue masih kayak gini aja. Niat sih pingin bikin epilognya tapi gak tau kapan.

Maaf dan terima kasih sudah mengikuti SH selama ini (^^)

bebebaek_ 💜

Advertisements

3 thoughts on “Shouldn’t Have #12END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s