Know Your Mind #2END [2/2] – by bebeaek_

image

by bebebaek_

[ 1 ]

Main cast : Byun Baek Hyun (EXO), Kim Na Na (oc).

Genre : romance.

Length : Twoshoot | Rating : PG teen.

Hasil khayalan sendiri, don’t plagiat.

Sorry Bertaburan Typo-.-

.

.

.

Langkah ringan seorang gadis keluar dari terminal kedatangan luar negeri Incheon International Airport, dengan menyeret koper berwarna biru gelap di belakangnya.

Gadis dengan pakaian santai jins biru dan kaos berwarna putih polos yang di lapisi kemeja berwarna navy itu berhenti di depan sebuah anak tangga kecil, meraih ponsel miliknya yang tengah berdering nyaring di dalam ranselnya.

“Yeoboseo ?” Suara sang gadis setelah meletakkan ponsel tersebut di depan telinganya.

“Nana-ya, kau sudah tiba di korea ?” Tanya seseorang di seberang sana.

“Nae, bi. Baru saja” jawab gadis itu berbinar.

“Ah! Benarkah ? Bagaimana ini apa bibi harus mengirimkan taxi untukmu, paman-mu sedang berada di luar kota dan ba-“

“Tidak perlu repot-repot bi, aku bisa naik taxi di bandara” potong nana menghentikan deretan kalimat nyonya byun.

“Apa kau masih ingat alamat rumah bibi ?” Tanya wanita itu ragu.

“Ya, jika jalanan itu tidak berubah setelahku tinggal sembilan tahun” suara nana mengundang gelak keduanya.

“Baiklah, bibi akan menunggumu di rumah”

“Emmmm”

“Kau, hati-hati eoh ?”

“Nae” jawab nana kemudian memutuskan sambungan keduanya.

Nana menatap luar jendela taxi yang membawa dirinya menuju kediaman keluarga byun, kediaman yang dulu juga menjadi kediamannya dan di angkapnya sebagai keluarga sendiri.

Setelah sembilan tahun berlalu, nana akhirnya dapat kembali menginjakkan kakinya di tanah kelahiran yang telah sangat di rindukannya. Ya, akhirnya keluarganya memutuskan untuk kembali dan menyerahkan perusahan kepada orang kepercayaan tuan kim.

Tuan kim memutuskan untuk kembali dan hanya akan fokus pada perusahaan pusat di korea. Hanya saja saat ini tuan dan nyonya kim tidak bisa kembali bersama nana, masih ada beberapa urusan yang harus di selesaikan keduanya sebelum pindah dan kembali, karena itu nana datang seorang diri dan kembali di titipkan kepada sahabat kedua orang tuanya untuk beberapa bulan ke depan.

Sebenarnya nana bisa saja kembali bersama kedua orang tuanya, namun gadis itu tidak ingin melewatkan pendidikannya. Rencana pindahnya kedua orangnya bertepatan dengan tahun ajaran baru perkuliahannya. Nana telah mengurus segalanya, gadis itu telah mengirimkan berkasnya dan kini tercatat sebagai mahasiswa di salah satu universitas terkemuka di seoul. Nana tidak ingin tertinggal dan melewatkan satu tahun masa kuliahnya hanya karena masalah perpindahannya, gadis itu memutuskan untuk kembali lebih awal, seorang diri.

Gadis itu telah tiba di depan sebuah rumah sederhana yang menyimpan berjuta kenangan di benaknya. Nana menaiki anak tangga rumah tersebut, menatap lekat pintu berwarna cokelat di depannya.

Sekelebat kenangan menyusup di pikirannya, seolah kenangan tersebut berlangsung di depannya sekarang membuat nana menarik sudut bibinya tersenyum.

Kembali tertarik ke detik sebenarnya, gadis itu mengulurkan lengannya dan mengetuk pintu itu teratur.

Tidak lama berselang pintu itu terbuka, menampilkan seorang wanita paruh baya yang meski fisiknya sedikit berubah nana dapat mengenali tanpa ragu siapa di depannya.

“Bibi!” Pekik nana bahagia.

“Nana ? Aigoo, kau benar nana ?” Suara wanita paruh baya itu tidak percaya melihat gadis kecil yang dulu di rawatnya telah menjelma menjadi seorang gadis cantik.

Nana mengangguk antusias dengan kedua bola mata berbinar gadis itu tersenyum lebar.

“Aigoo, ayo masuklah” suara nyonya byun kembali menarik satu lengan nana mempersilahkan gadis itu masuk bersamanya.

“Bibi, bisa saja tidak mengenalimu jika kita bertemu sebelum kau ke sini” lanjut wanita itu lagi.

“Bagaimana kau bisa menjadi gadis secantik ini ?”

“Hentikan bi, aku bisa meledak karena semua pujian bibi” jawab nana sembari tersenyum dengan ronanya.

“Kau malu ? Ouhh manis sekali” nyonya byun menatap nana tersenyum.

“Baiklah, selamat datang kembali di rumah ini. Kau pasti sangat lelah setelah penerbanganmu. Istirahatlah, bibi akan memanggilmu saat makan malam nanti” kata nyonya byun setelah keduanya berada di ruang tengah.

Nana menatap sekelilingnya. Tidak ada yang berubah sama sekali dari rumah ini, segalanya tetap sama bahkan pernak-perniknya juga. Hanya beberapa bingkai foto yang bertambah di atas sebuah lemari datar di depan ruang tengah itu.

“Wae nana-ya ?” Tanya nyonya byun mendapati nana yang terdiam sesaat di sisinya.

“Ah, tidak bi. Kalau begitu ak-ku, apa-” nana berkata terbata kemudian melirik sebuah pintu yang tidak jauh dari tempatnya.

“Tentu saja” suara nyonya byun mengerti. “Kau boleh menempati kamar-mu lagi, kamar itu sepertinya di buat memang untukmu” lanjutnya tersenyum.

“Terima kasih, bi” nana berusaha menenggelamkan canggungnya dengan tersenyum.

“Hmmmm, Beristirahatlah” suara nyonya byun kembali.

Nana melangkah mendekati pintu kamarnya, gadis itu berhenti tepat di depan pintu yang masih berwarna cokelat itu. Untuk beberapa saat nana kembali mematung menatap lekat pada pintu lain yang berada tepat di sebelah pintu kamarnya.

Pandangan gadis itu tajam dan terfokus seakan klise-klise masa lalu kembali muncul dan membayanginya, nana mengerjap sebelum akhirnya gadis itu melangkah memasuki kamar yang pernah di tinggalkannya itu.

.

.

.

“Nana-ya, kau sudah bangun ? Keluar lah, makan malam telah siap” suara nyonya byun lembut di depan pintu kamar nana.

Nana menggeliatkan tubuhnya kemudian membuka matanya berat, gadis itu bangkit dan membuka pintu kamarnya.

“Aigoo, kau pasti lelah sekali” suara nyonya byun kembali setelah mendapati nana di depannya.

“Kajja! Kita makan malam”

“Tunggu sebentar bi, aku cuci muka dulu”

“Eoh, ya. Setelahnya susul bibi eoh ?”

“Nae”  jawab nana masih di depan pintu kamarnya.

Setelah kembali dari kamar mandi untuk sekedar mencuci wajah agar kantuk tidak lagi menyertainya, nana beranjak menyesul sang bibi yang telah menunggunya di depan meja makan.

“Apa paman masih belum pulang ?” Tanya nana ketika telah berada di depan nyonya byun.

“Paman-mu masih akan berada di luar kota untuk satu bulan ke depan. Karena itu bibi sangat senang saat eomma-mu menelpon dan mengatakan kau akan ke sini lagi, bibi jadi tidak kesepian sendiri di rumah” tutur wanita paruh baya itu.

“Kesepian ? Apa baek-“

“Baekhyun ?” tanya nyonya byun memotong kalimat nana membuat gadis itu mengangguk kecil pada akhirnya.

“Ckckc, anak itu selalu sibuk dengan kegiatannya, aku bahkan lupa kapan terakhir kali makan bersamanya. Dia seperti hanya numpang tidur saja di rumah ini” tutur nyonya byun kembali.

Nana terdiam. Gadis itu mencerna perkataan nyonya byun dan mengerti jika teman masa kecilnya itu mungkin telah sangat berubah.

“Kenapa hanya diam, kajja makanlah. Bibi membuatkan makanan kesukaan-mu. Kau masih menyukai menu ini bukan ?”

“Eo-oh ?” ucap nana kembali tersadar. “Ah, ya. Tentu saja bi” lanjut gadis itu dengan senyum manisnya.

.

.

.

Baekhyun menaiki anak tangga kecil di depan rumahnya, namja itu membuka pintu rumah tersebut pelan masuk kemudian melepaskan sepatunya dan meletakkannya di atas tempat sepatu yang berada tepat di sisi kiri pintu rumahnya.

Sejenak baekhyun terdiam memandang sepasang sepatu asing yang telah terletak di sana di sebelah sepatunya.

Masih dengan memandang sepatu di depannya, jauh di dalam dirinya sesuatu kembali berdetak kencang. Baekhyun tahu persis siapa pemilik sepatu yang kini menjadi pusat irisnya.

Baekhyun kembali melangkah membawa degupan itu di dasar dirinya, membiarkannya tanpa bisa menghentikannya. Jika saja orang lain dapat mendengar keras dentungan jantungnya.

Degup itu semakin berderu saat baekhyun memasuki rumahnya berjalan menuju kamarnya, saat langkahnya masih mengayun iris namja itu menangkap seseorang bersama ibunya tengah duduk bersama di depan meja makan. Ya, ruangan dapur dapat terlihat jelas saat baekhyun berjalan di sisi ruangan tersebut.

“A-ku pulang” suara baekhyun berat menyapa dua orang yang tengah sibuk bercengkrama di ambang pembatas ruangan.

“Eoh, baek-ah. Kau sudah pulang ? Mau makan malam bersama ?” Jawab ibu baekhyun menatap putranya.

“Emmm, tidak. Aku sudah makan malam” jawab baekhyun membalas tatapan ibunya tanpa memandang orang lain di tempat yang sama.

“Baek-ah, kau tidak melihat siapa yang datang ?” Suara ibu baekhyun kembali.

Baekhyun mengangkat alisnya dan mengikuti arah pandangan sang ibu melirik pada orang di depan ibunya yang tidak lain adalah orang yang selalu di harapkannya untuk bisa kembali bertemu.

“Anyeong ba-“

“Aku akan pergi ke kamar” suara baekhyun datar, memotong kalimat nana dan berlalu memalingkan tubuh tanpa menyapa gadis itu sekali pun bahkan membalas sapaanpun tidak.

“Heol!, sepertinya dia tidak berubah sedikitpun ? Dia masih tidak menyukaiku tinggal di sini” suara nana menatap punggung baekhyun dengan wajah kesalnya.

“Hmmm tidak mungkin” suara nyonya byun membuat nana mengalihkan pandangannya dan kembali menatap wanita paruh baya itu penuh tanya.

“Dia tidak pernah membencimu tinggal di rumah ini, dia bahkan sangat kehilanganmu saat kau pergi waktu itu” tutur nyonya byun.

“Kehilangan ?”

“Ya, dia berubah menjadi pendiam dan hanya mengurung diri di kamar untung beberapa minggu. Untuglah saat dia telah masuk sekolah, dia tidak lagi mengurung diri hanya sifat pendiamnya yang masih tersisa hingga saat ini”

“Pendiam ? Baekhyun pendiam ? Benarkah ? Aku benar-benar tidak percaya”

“Seperti tadi, bukankah dia pendiam ?”

“Aku masih tidak bisa percaya namja pengomel itu bisa menjadi seorang pendiam bi” suara nana membuat nyonya byun menyunggingkan senyum gelinya.

“Kau akan melihatnya nanti” suara wanita itu masih dengan senyumnya.

“Padahal aku merindukan deretan omelan darinya” suara nana kembali, kali ini membuat nyonya byun tergelak karenanya.

.

.

.

Baekhyun melangkah cepat menuju kamarnya, membuka pintu dan kembali menutupnya rapat.

Baekhyun masih berdiri di belakang pintu kamarnya, namja itu menghembuskan nafasnya yang seolah terasa sesak sebelumnya. Dengan memegang dadanya yang berdebar kencang namja itu kembali merajut langkah melepaskan ransel di punggungnya dan duduk di tepi tempat tidur.

Kedua bola mata baekhyun memandang tempat kosong di depannya, pikirannya kembali melayang pada hari di mana dengan tanpa sadar dirinya melakukan sesuatu hal yang memalukan. Ya, namja itu baru menyadarinya sesaat setelah gadis itu hilang dari pandangannya.

Entahlah, baekhyun tidak tahu apa yang telah di lakukannya. Dirinya hanya mengikuti emosinya dan pada akhirnya membuat baekhyun merasa bersalah dan canggung saat kembali bertemu dengan gadis itu.

Baekhyun merebahkan tubuhnya, menghempaskannya keras berharap gundah di hatinya ikut terhempas. Bertahun baekhyun berharap bisa kembali bertemu dengan gadis itu namun kenapa saat gadis itu kembali terasa begitu sulit bagi baekhyun bahkan hanya untuk sekedar memandangnya.

.

.

.

Sinar matahari menyusup jendela kamar baekhyun dimana namja itu masih berbaring damai menjelajah dunia mimpinya.

Kedua bola mata kecil baekhyun mengerjap ketika hangat mentari semakin jeli mengganggunya. Perlahan baekhyun membuka matanya, menatap langit-langit putih kamarnya dengan tatapan kosong menerawang.

Baekhyun menghela nafasnya berat, namja itu ingat tadi malam dirinya terlelap begitu saja karena terlalu lelah dengan segala pertanyaan di benaknya, dengan segala rasa bersalahnya dan segala yang sangat sulit untuk di ungkapkannya. Sesuatu yang berusaha di pungkirinya.

Satu lengan baekhyun bergerak menopang kepalanya dan kembali namja itu menghela nafasnya. Pagi ini, entah apa mimpi yang di dapat baekhyun di dalam tidurnya, namun satu hal namja itu telah mengambil keputusan terbaiknya.

Seulas senyum tipis mengukir indah di awal harinya, ya baekhyun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ke duanya. Bukankah dulu dirinya selalu berdoa dan mengharapkan gadis itu kembali. Namja itu paling tidak akan berusaha menghilangkan canggungnya.

Baekhyun membuka pintu kamarnya, dengan pakain yang telah rapi dan ransel yang telah tersampir di dalah satu bahunya, namja itu melangkah meninggalkan kamarnya.

“Eoh, baekhyun-ah. Duduklah mari sarapan bersama” suara nyonya byun setelah menangkap sosok baekhyun melangkah di depan ruang makan mereka.

Baekhyun menghentikan langkahnya, namja itu memandang nyonya byun yang juga tengah memandangnya di ruangan tersebut bersama seseorang yang kembali membuat sesuatu dalam diri baekhyun berdetak cepat, baekhyun menelan salivanya kuat, kembali meyakinkan dirinya akan keputusan yang telah di buatnya. Perlahan baekhyun mendekat dan duduk tepat di sebelah nana.

“Makanlah” kembali nyonya byun membuka suara.

“Hmmmm” angguk baekhyun dan mulai menyentuh sarapannya.

“Kau juga nana-ya, makan lah, jangan sampai terlambat di hari pertamamu” peringat nyonya byun ketiga mendapati nana tidak lagi menyentuh makanannya.

“N-nae” jawab nana kemudian tersadar dari heningnya.

“Kalian berangkat bersamalah” kata nyonya byun membuat baekhyun maupun nana memandang bersamaan kepada wanita paruh baya itu.

“Wae ? Bukankah kalian berada di kampus yang sama ?” Kilah nyonya byun bingung dengan tatapan yang di dapatnya.

“Ah! Benar! bukankah kalian juga berada di jurusan yang sama” kembali baekhyun dan nana terkejut akan kalimat nyonya byun.

Nana menolehkan kepalanya, memandang tidak percaya seseorang di sampingnya.

“Kau juga mengambil jurusan itu ?” Tanya nana.

“E-eoh”

“Benarkan, baek-ah. Kau harus membantu nana menyesuaikan diri. Eomma harap kalian berada di kelas yang sama” lanjut nyonya baekhyun.

“Emmmm” sahut baekhyun “kelas kami memang hanya satu” lanjut namja itu kemudian memasukkan makanan ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan pandangan menunduk sementara nyonya byun tersenyum bahagia kontras dengan gadis di seberangnya yang juga terlihat bingung dan canggung.

“Lama tidak bertemu nana-ya” suara baekhyun memecah keheningan di sela langkah keduanya menyusuri jalanan kawasan perumahan menuju halte bus.

“E-eoh ? Emmmm” jawab nana canggung.

Hening kembali tercipta, keduanya sibuk menyelami pikiran masing-masing terlalu sulit bagi keduanya terlepas dari canggung yang telah tercipta.

Sebenarnya nana tidak ingin berada dalam lingkaran canggung ini, namun saat sapaannya tidak di gubris sama sekali oleh baekhyun tempo hari dan jarak yang seolah di bentangkan namja itu padanya membuatnya ikut terbelit dalam lingkar canggung itu.

“Bagaimana kabarmu ?” Tanya nana berusaha keluar dari situasi canggungnya.

“Baik. Kau ?”

“Hmmmm, sama sepertimu” jawab nana singkat kemudian hening itu kembali lagi.

“Nana-ya” panggil baekhyun tanpa menatap gadis di sisinya itu.

“Hmmmm”

“Maafkan aku”

“Eoh ?”

“Maaf untuk waktu yang telah lalu”

“Waktu yang telah lalu ?” Tanya nana mengerutkan kedua alisnya.

“Waktu- di hari- ketik-“

“Yak! Ya baek-ah, busnya telah tiba. Kajja! lari sebelum busnya pergi” suara nana memotong kalimat baekhyun. Gadis itu kemudian berlari mendahului baekhyun yang masih terdiam di tempatnya.

“Baek-ah! Cepatlah!” Panggil nana menyadarkan baekhyun. Namja itupun mengambil langkah lebarnya menyusul nana yang telah jauh di depannya.

Keduanya kembali terdiam, tidak ada salah satupun diantara keduanya kali ini membuka suara, nana dan baekhyun berdiri saling berdampingan di dalam bus yang begitu penuh di pagi hari.

Baekhyun menyelami pikirannya. Apakah nana telah melupakan kejadian di hari itu ? Atau apakah nana berusah menghindari membahas hal itu karena marah padanya ?. Baekhyun melirik gadis yang tengah memenuhi pikirannya itu, menatap lekat guratan teduh yang semakin indah itu dengan tatapan yang sarat akan rasa penasaran akan perasaan gadis yang terlihat tenang di sisinya sekarang.

Baekhyun dan nana kembali melangkah beriringan memasuki kawasan universitas keduanya.

“Ku rasa kita harus melangkah cepat agar tidak terlambat masuk kelas pertama” suara baekhyun memecah keheningan.

“Eoh. Kau pergilah, aku harus menyerahkan beberapa berkas ke pusat rektor” jawab nana setelah menghentikan langkahnya.

“Eoh, aku akan mengantarkanmu”

“Tidak. Tidak perlu. Hanya akan merepotkanmu” tolak nana membuat baekhyun terdiam.

“Aku akan pergi sendiri, kau masuklah. Jangan sampai terlambat” lanjut nana.

“Baiklah” jawab baekhyun lemah kemudian dengan enggan namja itu kembali melangkah meninggalkan nana di belakangnya.

Baekhyun mengerjap pelan. Namja itu nampak berpikir, apakah nana dapat menemukan pusat rektor ? Baekhyun ingat betul gadis itu terlalu buta arah dan sulit mengingat ataupun menemukan jalan.

Baekhyun menghembuskan nafasnya berat. Ya, mungkin nana telah banyak berubah selama ini. Baekhyun meyakinkan hatinya kemudian melanjutkan langkahnya mantap.

Kelas pertama telah selesai. Baekhyun menunduk memberi hormat kepada prof. Ahn yang beranjak meninggalkan ruangan. Namja itu mengedarkan pandangannya dan terus saja mendongak ke arah pintu masuk di depannya.

Apa nana benar-benar bisa menemukan jalan ? Pikir baekhyun kembali, ada rasa khawatir terselip di hatinya menyadari nana tidak juga muncul di kelas mereka.

Baekhyun mendongak ketika mendapati seseorang memasuki pintu ruang kelas tersebut, namja itu akhirnya bisa bernafas lega ketika melihat nana kini telah berada di kelas yang sama dengannya.

Senyum tipispun tercetak di wajah baekhyun. Namun, tidak lama kemudian senyum baekhyun memudar saat menyadari nana tidak datang sendiri melainkan bersama seseorang yang masuk di belakang nana dan kini berdiri di sisi gadis itu.

Seseorang yang datang bersama nana tersebut melangkah lebih dahulu meninggalkan nana di belakangnya setelah sebelumnya keduanya terlibat percakapan yang sepertinya menyenangkan dengan senyum malu-malu terpatri di bibir keduanya.

Baekhyun menatap tidak suka pada interaksi keduanya, namja itu mendelik kepada orang itu ketika berjalan melewati depan meja baekhyun.

“Baek-ah” panggil nana memutus pandangan tidak sukanya pada namja yang tadi datang bersama nana itu.

“E-oh” jawab baekhyun mengalihkan pandangannya menatap gadis itu.

“Apa aku terlambat ?”

“Hmmm, kau melewatkan satu mata kuliah”

“Ah begitu” gumam nana pelan dengan gurat kekecewaan.

“Apa kau tersesat ?” Tanya baekhyun kemudian.

“Eoh ? Tidak. Aku hanya sedikit kesulitan menemukan jalannya. Tapi untunglah seseorang membantuku” tutur nana menjelaskan.

“Begitu ? Duduklah, sebentar lagi mata kuliah selanjutnya akan di mulai” kata baekhyun mempersilahkan nana duduk di kursi kosong di sebelahnya.

“Terima kasih, tapi aku tidak biasa duduk di depan. A-ku akan mencari kursi lain” suara nana tidak enak.

“A-hh, ya” jawab baekhyun.

Nana kemudian beranjak dari sisi baekhyun melangkah ke belakang mencari-cari kursi kosong yang masih tersedia.

Baekhyun menolehkan kepalanya, namja itu kembali memicingkan matanya menatap tidak suka saat mendapati sehun namja yang tadi datang bersama nana kembali menyapa gadis itu dan mempersilahkannya duduk disisinya.

Baekhyun mendengus, satu tangannya mengepal tanpa di sadarinya ketika nana duduk di sisi namja itu, mengikuti permintaan namja itu.

Waktu terus berlalu dan perkuliahan pun telah selesai, nana beranjak dari duduknya melangkah menuju pintu keluar.

“Nana-ya” panggil baekhyun ketika gadis itu melewatinya.

“Ya ?”

“Kau mau kemana ?”

“Aku akan pergi ke perpustakaan ? Apa kau akan pulang ?”

“Tidak, apa kau tau dimana perpustakaan ?”

“Sebenarnya aku tidak tahu t-“

“Aku akan mengantarkanmu”

“Tidak baek-ah”

“Wae ?”

“Tidak, bukankah sekarang kau adalah orang yang sibuk ?”

“Ah itu aku tidak ada kegiatan hari ini”

“Begitu, tapi-“

“Baekhyun!” Suara seorang namja janggung menginterupsi pembicaraan keduanya.

“Teman-teman sudah menunggumu di ruang rapat. Cepatlah” lanjut namja itu.

“Eoh. Ya, kau duluanlah” jawab baekhyun singkat membiarkan namja jangkung itu kembali berlalu.

“Sepertinya teman-temanmu sudah menunggumu”

“Ya, tapi aku-“

“Gwenchana, aku akan pergi lagipula sehun akan mengantarkanku” jawab nana yang membuat baekhyun terdiam.

“Baek-ah” panggil nana bingung karena namja itu diam saja tidak menjawab perkataannya.

“E-eoh ?”

“Kalau begitu aku akan pergi, sehun mungkin sudah menungguku”

“Y-ya pergilah”

“Anyeong”

“Hmmm” gumam baekhyun membiarkan nana pergi, namja itu lagi-lagi hanya bisa menatap kepergian nana tanpa bisa mencegahnya.

.

.

.

Angin malam musim semi menghembus menerbangkan anak-anak rambut seorang gadis yang kini berjalan berdampingan dengan baekhyun. Namja itu mengekorkan matanya, melirik nana di sampingnya kemudian tersenyum tipis.

“Kau pergi pagi sekali hari ini” suara nana di sela langkahnya.

“Eoh, ada yang harus aku lakukan”

“Dengan klubmu ?”

“Ya”

“Ckckc, kau ternyata benar-benar berubah” kata nana menatap baekhyun.

“Sama sepertimu yang juga banyak berubah” baekhyun membalas tatapan pemilik manik hitam itu.

“Apa kau kesulitan pergi siang ini ?”

“Tidak, aku pergi tepat waktu” jawab nana. “Kau tidak perlu mengkhawatirkanku sekarang”.

“Ckckc” decah baekhyun dengan senyum gelinya. Ya, pagi ini baekhyun memang berangkat lebih dahulu meninggalkan nana yang masih tertidur pulas karena memang kelas mereka di mulai di siang hari.

Hubungan keduanya mulai mencair seiring berlalunya waktu, tidak jarang keduanya saling berbicara mengingat masa kecil mereka meski tidak jarang canggung itu kembali datang dan baekhyun tidak lagi berani mengungkit tentang hari itu.

“Kau sepertinya berteman baik dengan sehun ?” tanya baekhyun setelah keduanya kembali terdiam.

“Hmmm, ya. Wae ?”

“Tidak, aku hanya memperingatimu untuk tidak terlalu dekat dengannya”

“Hanya saja-“

“Sehun seseorang yang baik menurutku, dia selalu membantuku bahkan di hari pertamaku dialah yang menunjukkan arah menuju pusat rektor” tutur nana mengingat kembali pertemuannya dengan sehun.

“Kau belum mengetahui sikap aslinya, aku hanya mengingatkanmu” kata baekhyun kemudian mempercepat langkahnya membuat nana sedikit tertinggal di belakangnya.

Nana tersenyum tipis sementara baekhyun melangkah menjauh darinya.

.

.

.

“Nana-ya!” Panggil baekhyun setelah namja itu membuka pintu kamar nana dan berdiri di ambangnya.

“Isssh! Kau mengagetkan saja. Yak! Tolong ketuk pintu sebelum kau membukanya” omel nana memandang kesal baekhyun yang dengan santainya masuk dan duduk di sisi tempat tidur gadis yang tengah mendelik kesal kepadanya.

“Dulu kau juga tidak pernah mengetuk pintu kamarku jika memanggilku” balas baekhyun acuh pada gadis yang tengah duduk di meja belajarnya itu.

“Yak! Kau lupa ? Bukankah kau yang sering menyuruhku untuk mengetuk pintu sebelum masuk” kata nana tidak mau kalah.

“Benarkah ?”

“Eoh!”

“Kalau begitu lupakan”

“Ckckc” decih nana mencibir baekhyun tidak suka.

“Emmmm, nana-ya” suara baekhyun mengabaikan perdebatan kecil mereka.

“Wae!” Jawab nana masih dilanda rasa kesalnya.

“Kau sudah-, kau sudah memiliki teman kelompok untuk tugas dari prof Lee ?” Tanya baekhyun penuh harap.

“Sudah” jawab nana singkat.

“Sudah ?” Tanya baekhyun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

“Ya, sekarang aku sedang mengerjakan bagianku” jelas nana kembali fokus dan mengetikkan jemarinya pada laptop di depannya.

“Siapa teman kelompokmu ?” tanya baekhyun penasaran.

“Sehun”

“Se-hun” ulang baekhyun dengan nada melemah.

“Eoh, bagaimana denganmu ? Apa kau sudah memiliki teman kelompok ?” Balas nana bertanya.

“A-h, y-yya tentu saja” jawab baekhyun terbata, kedua bola mata baekhyun bergerak gusar. Jika boleh jujur saat ini baekhyun merasa kecewa dan marah.

Tentu saja baekhyun kecewa, namja itu berbohong di depan nana. Baekhyun sama sekali belum memiliki teman kelompok karena namja itu berharap nana akan menjadi teman kelompoknya sama seperti ketika keduanya berada di sekolah dasar. Namun, tidak seperti apa yang di harapkannya gadis di depannya itu ternyata telah memilih orang lain sebagai teman kelompoknya.

Mata baekhyun memerah memendam amarahnya, bukankah dirinya telah memperingatkan nana. Mengapa nana tidak mendengarkannya. Apa gadis itu menyukai sehun yang baekhyun tahu betul tabiatnya.

Baekhyun terdiam.

“Kau juga sudah mengerjakan tugasmu ?” Suara nana tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.

Tidak ada jawaban.

“Baek-” suara nana memanggil baekhyun masih tanpa mengalihkan fokusnya.

“Baek!” Suara nana kemudian memalingkan wajahnya menatap namja yang masih terdiam di tempatnya itu.

“E-oh wae ?” Gagap baekhyun tersadar.

“Kau melamun ?”

“Ti-dak, tadi kau bilang apa ?”

Nana menghela nafasnya pelan “aku bertanya, apa kau sudah mengerjakan tugasmu ?” Ulang nana.

“Belum”

“Belum ?”

“Ya”

“Kau benar-benar belum mengerjakannya ?”

“Ya. Wae ?”

Nana menoleh dan mendelik tajam ke arah baekhyun “Bukankah kau seorang yang selalu cepat menyelesaikan tugas ?” Suara nana penuh penakanan.

“Apa kau berubah sebanyak itu ?” Lanjut nana tidak percaya.

“E-oh, tidak- aku hanya belum menemukan bahan untuk tugasku” jawab baekhyun sembari bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati nana.

Baekhyun berdiri tepat di sisi meja belajar nana. “Kau mengambil bahan apa untuk tugasmu ?” Tanya baekhyun sembari menilik pada layar laptop di sisinya.

Nana yang sedari tadi mengekori gerak baekhyun segera saja menutupi layar laptopnya dengan kedua tepalak tangannya dari baekhyun.

“Yak! Kau tidak boleh melihatnya!”

“Aku hanya ingin tahu, bukan berarti aku akan menyalin idemu” kilah baekhyun sembari berusaha menjauhkan lengan nana.

“Tidak! Kau bisa saja berbohong” keras nana masih berusaha menjauhkan lengan baekhyun dari depannya.

“Tidak baek-ah! Menyingkirlah”

“Yak!” Kesal nana. Keduanyapun terlibat perdebatan, baekhyun tetap berusaha ingin melihat layar itu dan nana yang masih enggan memberikannya.

“Baekhyun-ah!”

“Yak! Ku bilang tidak ya tidak”

“Berhenti!”

“Baekhyun!”

“Byun- baek-” suara nana terpotong.

“Hyun” lanjut gadis itu lemah saat mendapati layar laptopnya kini tidak lagi menyala.

Keduanya terdiam sesaat menatap benda persegi tipis itu dengan tatapan yang sulit di artikan.

“Na-na-ya” baekhyun membuka suaranya pelan.

“Oh! Astaga! Bukan kah sudah ku katakan untuk berhenti, yak! Lihatlah apa yang sudah kau lakukan ?” Marah nana bangkit dari duduknya menghadap baekhyun.

“Kau tau aku belum menyimpan semuanya!” Lanjut gadis itu penuh emosi karena nyatanya tugas yang telah di kerjakannya berjam-jam itu hilang dalam sekejap mata.

“Maaf, aku tidak ber-“

“Cukup baek, ku rasa lebih baik kau keluar” suara nana berusaha meredam amarahnya.

“Nana-ya, aku”

“Ku bilang keluar!”

Nana mendengus kesal, menatap tajam pada baekhyun yang tidak juga beranjak dari tempatnya. Tidak tahan untuk kembali bersuara, gadis itu akhirnya mengambil langkah meninggalkan kamarnya dengan kedua bola mata yang telah memanas.

.

.

.

Nana duduk terdiam di kursi taman samping rumah keluarga byun, dengan melipat kedua tangannya di depan dada gadis itu menatap langit malam dengan suasana hati yang bercampur aduk.

Nana menghela nafasnya berat, berusaha menghilangkan rasa kesalnya. Gadis itu terus saja menoleh ke arah lain meskipun nana menyadari baekhyun telah berada di tempat yang sama dengannya.

Baekhyun berdiri canggung pada sisi kursi taman tempat nana kini duduk diam tanpa memandangnya. Terlihat jelas wajah gusar dan rasa bersalah namja itu.

Bingung ingin berbuat apa dengan ragu baekhyun melangkah dan duduk di sisi lain kursi yang sama membiarkan sedikit jarak membentang diantara keduanya.

Mendapati nana yang tidak juga mengindahkan kehadirannya, baekhyun mengambil nafasnya dalam.

“Maafkan aku” suara baekhyun lemah.

“Aku benar-benar tidak bermaksud menghilangkan tugas yang kau kerjakan” lanjut namja itu menunduk dan menautkan kedua jemari tangannya gelisah.

Tidak ada jawaban dari nana, gadis itu masih terdiam dan menatap ke lain arah. Baekhyun memberanikan dirinya mendongak dan menatap gadis yang lebih memilih membelakanginya itu.

Lagi-lagi baekhyun mengambil nafasnya dalam “aku hanya terbawa rasa kesalku, mungkin-“

“Ya, aku kesal karena kau tidak mendengarkan perkataanku untuk menjauhi sehun dan aku semakin kesal karena kau lebih memilih untuk menjadi teman kelompoknya” jujur baekhyun.

“Apa kau sebenci itu pada sehun ? Ahhh.. kau juga pasti membenciku karena kembali ke sini” suara nana menatap baekhyun masih dengan tatapan marahnya.

“Tidak. Aku tidak membencinya” kilah baekhyun cepat.

“Aku hanya-, hanya tidak suka saat dia berdekatan denganmu” lanjut baekhyun kembali menunduk menghindari tatapan nana.

“Aku juga tidak membencimu karena kembali, aku tidak pernah membencimu bahkan sejak kecil. Aku hanya tidak bisa mengambil sikap, aku bingung dan aku takut karena itulah aku selalu kasar denganmu”

“Saat kau mengatakan ingin pergi kembali kepada orang tua-mu sebenarnya aku ingin berkata jangan, tetaplah di sini, aku akan kesepian. Tapi semua kata-kata itu tidak bisa keluar di mulutku dan pada akhirnya kalimat sebaliknyalah yang aku lontarkan”

“Maafkan aku karena bersikap kurang ajar di hari itu. Aku tidak tahu mengapa aku bisa melakukannya. Aku hanya ingin agar kau tau, aku tidak membencimu”

“Dan aku me-nyukaimu” lanjut baekhyun semakin menunduk dalam.

“Aku tahu” jawab nana membuat baekhyun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Namja itu mendongak dan menatap nana yang juga tengah menatap padanya.

“Aku tahu semua yang kau pikirkan sewaktu kita kecil, aku tahu kau tidak membenciku, aku tahu kau selalu ingin menjagaku, aku tahu kau sedih saat aku akan pergi dan aku juga tahu kau menyukaiku”

“Aku tahu semuanya, karena itulah aku selalu merasa bahagia saat kau mengomel padaku. Aku selalu ingin kembali bertemu denganmu dan aku sangat bahagia saat kembali ke sini”

“Tapi hari itu saat aku menyapamu, kau sama sekali tidak menghiaraukanku. Aku merasa ragu kau masih menyukaiku terlebih kau telah berubah banyak karena itulah aku-“

“Tidak, aku sama sekali tidak berubah. Aku juga selalu berharap kau kembali. Aku terlalu bingung untuk mengambil sikap karena ku pikir kau marah padaku setelah hari itu” potong baekhyun setelah sadar dari ketercengangannya akan penuturan nana.

“Benarkah ?” Tanya nana berusaha mempertahankan ekpresi kesalnya.

“Jadi kau cemburu pada sehun ?” Lanjut nana dengan ekspresi berbeda.

“Tidak. Aku tidak berkata aku cemburu” kilah baekhyun yang terlihat begitu kentara.

“Eyyy, bukankah sudah ku katakan aku tahu semua pikiranmu. Lagipula bukakah kau baru saja menyatakan persaanmu ?” Goda nana sembari sedikit mendekat pada baekhyun.

“Kau juga berkata kau menyukaiku”

“Tidak ada, kapan aku mengatakannya. Aku hanya berkata aku tahu” jawab nana menyembunyikan senyum gelinya.

“Emmmm, kau. Kau tidak lagi marah padaku ?”

“Marah ? Tentang tugasku yang kau hilangkan ? Tentu saja masih” ketus nana.

“Tapi kau baru saja tersenyum”

“Kapan ? Eyyy kau hanya mengalihkan pembicaraan. Kau malu aku tahu kau menyukaiku ?”

“Eoh, aku menyukaimu. Karena itu kau juga harus menyukaiku. Kau tidak boleh menolak bantuan dariku lagi dan kau harus menjauhi sehun” jawab baekhyun tidak lagi tahan terus di goda nana, namja itu berkata lantang dengan mengambil kedua lengan nana.

“Aku menyukaimu” kata baekhyun penuh penekanan.

“Y-ya, aku tahu” jawab nana terbata, gadis itu seolah terkunci oleh pandangan tajam baekhyun padanya.

“Bisakah kau memberiku jawaban lain ?”

“Hmmm ?”

“Aku menyukaimu”

“Ahmm, aku juga menyukaimu”

Baekhyun tersenyum puas, namja itu melepaskan lengan nana dari genggamannya dan beralih merangkul pundak gadis itu.

“Sekarang aku yakin kau benar-benar tidak lagi marah padaku”

“Ya, mungkin tapi kau tetap harus bertanggung jawab dengan tugasku”

“Hmmm, aku tidak akan kabur” kata baekhyun kembali menatap wajah nana.

Nana membalas tatapan itu dengan senyum manisnya, gadis itu kemudian memiringkan sedikit tubuhnya dan menghambur kedalam pelukan baekhyun.

“Aku tidak percaya hari ini benar-benar terjadi”

“Emmm, aku juga”

“Aku sangat tidak percaya”

“Aku lebih tidak percaya”

“Yak! Mengalahlah denganku, kau namjachinguku sekarang” suara nana mendongak.

“Eoh ? Emmmm y-ya”

“Apa kau malu sekarang ? Aigoo namja pengemol yang berubah menjadi namja pendiam sekarang berubah menjadi namja pemalu” goda nana kembali.

“Yak! Hentikan”

Nana tidak lagi dapat menyembunyikan senyum gelinya. Gadis itu terkekeh puas sebelum akhirnya berhenti dan bersuara.

“Aku menyukaimu” suara nana tulus.

“Aku juga menyukaimu” jawab baekhyun dengan senyumnya.

Keduanya saling beratatapan dengan mempertahankan senyum masing-masing, baekhyun mengeratkan rangkulan pada pundak nana begitupun dengan nana yang semakin mempererat pelukannya dan bersandar nyaman di dada bidang baekhyun.

Keduanya menyelami pikiran masing-masing masa lalu mereka yang dulu terasa mengesalkan karena setiap harinya di liputi perdebatan kini terasa begitu manis di ingatan dan tidak hanya di ingatan, keduanya juga akan merajut cerita manis kedepannya, setelah ini setelah hari ini.

Fin

Yeyyyy! Akhhhhh! Akhirnya bebeb bisa nepetin janji, maaf ya ini telat banget updatenya karena jujur beberapa hari belakangan bebeb kehilangan ide dan mood buat nulis (salahin drama china yang buat gue nontonin episodenya maraton).

Maafin ceritanya yang gaje, gak nyambung dan jauh dari harapan kalian. (Btw gue gak pede sumpah!). Ya, dari pada ingkar janji mending gue nutup muka aja ding. Wkwkwk.

Buat bulan depan gue gak janji ya bakal nongol-nongol tapi gue juga gak niat hiatus, cuma stok ff gue ajin yang menipis dan ide lagi nyangkut di koriya nih gak dateng-dateng panggilin dunks #plak.

Ya udah deh meskipun gue gak pede gue tetap berharap ada yang suka (njir maruk).

Makasih ya~

bebebaek_ (^^)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s