Know Your Mind #1 [1/2] – by bebebaek_

image

by bebebaek_

Main cast : Byun Baek Hyun (EXO), Kim Na Na (oc).

Genre : romance.

Length : Twoshoot | Rating : PG teen.

Hasil khayalan sendiri, don’t plagiat.

Sorry Bertaburan Typo-.-

.

.

.

Derap langkah kecil terdengar saling beradu menaiki anak tangga kecil sebuah rumah sederhana di pinggiran ibu kota seoul.

“Yak! aku yang seharusnya membuka pintu. Ini rumahku bukan rumahmu!” Marah seorang namja kecil.

“Kau terlalu lamban baek-ah, lagi pula aku sudah membukanya. Bleww” jawab seorang gadis kecil dengan pita merah jambu di salah satu sisi kepalanya. Gadis itu menjulurkan lidahnya meledek baekhyun yang semakin kesal karenanya.

Baekhyun menerobos masuk ke dalam rumah sederhana itu, melewati dan menabrakkan bahu kecilnya pada tubuh gadis kecil yang masih memegang gagang pintu rumah tersebut.

“Eomma! Eomma! Eomma!” Panggi baekhyun memasuki rumahnya dengan memanggil-manggil sang ibu.

Baekhyun terus melangkah mencari-cari keberadaan ibunya sementara gadis kecil itu ikut masuk dan mengikuti langkah sang namja kecil dari belakang.

“Eoh, kalian sudah pulang ?” Suara seorang wanita keluar dari salah satu ruangan rumah tersebut.

“Wae baekhyun-ah, apa kau lapar ?” Lanjut wanita itu bertanya.

“Eomma, mengapa dia selalu mengikutiku dan mengapa dia tinggal di rumah kita ?” Tanya baekhyun menunjuk gadis kecil di sampingnya dengan raut tidak suka yang terlihat begitu kentara.

“Ahh! Nana tinggal bersama kita, karena paman dan bibi kim harus pergi jauh. Nana harus tinggal agar dia bisa terus bersekolah” jelas wanita itu.

“Lalu mengapa dia juga harus bersekolah di sekolah yang sama denganku ?” Tanya baekhyun polos.

Wanita itu tersenyum. “Nana bersekolah di tempat yang sama denganmu agar kau bisa menjaganya”

“Mengapa aku harus menjaganya ?”

“Karena jika kalian berada di sekolah, eomma tidak bisa menjaga nana sedangkan bibi kim berpesan kepada eomma untuk menjaga nana. Apa baekhyun tidak ingin membantu eomma untuk menjaga nana ?”

Baekhyun terdiam, mata kecilnya mengerjap beberapa kali mencerna perkataan ibunya.

“Kajja! Kalian pasti lapar, eomma sudah menyiapkan makanan untuk kalian” ibu baekhyun kembali membuka suara.

“Ganti pakaian kalian dan segera ke ruang makan” lanjut wanita itu sembari tersenyum menatap dua anak kelas tiga sekolah dasar di depannya.

“Nae” jawab baekhyun mengeratkan ranselnya dan berlalu menuju kamarnya yang kembali di ikuti nana, gadis itu juga merajut langkahnya menuju kamar barunya tepat di sebelah kamar baekhyun.

“Nana-ya, bagaimana hari pertamamu di sekolah baru ?” suara ibu baekhyun menginterupsi langkah gadis kecil itu.

“Emmm” gadis itu menoleh, memutar tubuhnya kembali menghadap sahabat ibunya itu.

“Menyenangkan bi, semua teman-teman di sana sangat baik. Hanya baekhyun saja yang menyebalkan” kata gadis itu polos.

Wanita itu kembali tersenyum lembut “maafkan baekhyun eoh ? Dia memang seperti itu, karena itulah dia tidak memiliki banyak teman” kata ibu baekhyun dengan suara yang sengaja di rendahkannya.

“Emmm” angguk nana. “Ya, dia memang tidak berteman dengan siapapun. Hanya bermain sendiri” kata nana mengingat apa yang di lihat dan di lakukan baekhyun di sekolah hari ini.

“Benar. Karena itu nana harus menemani baekhyun eoh ?”

“Nae” jawab nana dengan senyum manisnya.

“Baiklah, sekarang nana boleh pergi ke kamar dan ganti baju”

“Nae” jawab gadis itu kemudian berlalu menuju kamarnya meninggalkan ibu baekhyun yang masih tersenyum menyaksikan tingkah keduanya.

Kim nana adalah putri dari sang sahabat yang sekarang tengah melebarkan usaha mereka hingga harus pergi ke benua yang berbeda, meninggalkan nana dan mempercayakan nana padanya.

Ayah nana tidak ingin putri kecilnya bersekolah di luar negeri yang pada akhirnya membuat gadis kecilnya itu tidak mengenal budaya dan jati diri bangsanya. Karena itu meski dengan berat hati kedua orang tua nana menitipkan gadis itu untuk di asuhnya.

.

.

.

“Yak! Menjauh dari sana, kau menghalangiku!” Teriak baekhyun kesal, namja kecil itu menghentikan langkah lebarnya membiarkan bola yang tadi di tendangnya tergeletak di sisi tubuhnya.

“Yak! Kau menghalangiku, pergilah ke tempat lain. Ini permainan untuk anak lelaki” lanjut baekhyun memarahi nana yang sedari tadi berdiri di tengah lapangan menghalangi langkah baekhyun menggiring bolanya.

“Aku tidak tau harus bermain apa ? Kau ingin bermain denganku ?” Suara nana polos.

“Tidak mau! Cepat menyingkir dari sana” desak baekhyun lagi.

Nana menekuk wajahnya kesal, gadis kecil itu kemudian berbalik dan melangkah pergi meninggalkan baekhyun yang menatapnya sesaat kemudian melanjutkan permainannya.

Baru beberapa kali tendangan namja kecil itu berikan pada bolanya, baekhyun kembali meraih bolanya, membiarkannya terdiam. Namja kecil itu berdiri tegak menatap seorang gadis yang tengah duduk dengan wajah cemberut di salah satu kursi taman bermain itu.

Baekhyun menghembuskan nafas pendeknya, merasa bersalah membuat gadis kecil itu cemberut dan terdiam seperti itu. Baekhyun memungut bolanya dan berjalan mendekati nana.

“Kajja! sudah sore, ayo kita pulang” suara baekhyun di depan nana membuat gadis itu menatap lurus padanya.

Nana bangkit dari kursinya, masih dengan wajah cemberutnya gadis itu melangkah mendahului baekhyun.

Baekhyun menatap lurus punggung gadis di depannya, merasa bersalah dan ingin meminta maaf namun namja kecil itu tidak tahu harus berbuat apa, terlalu memalukan baginya untuk meminta maaf langsung dan baekhyun juga tidak tahan jika harus bermain dengan nana.

“Akhhh!”

Baekhyun terperanjat saat mendapati nana menekuk tubuhnya, memegang satu kakinya yang entah kenapa. Baekhyun kemudian berlari menghampiri nana yang terlihat meringis menahan sakit.

“Kau tidak apa-apa ?” Kata baekhyun menekuk tubuhnya di sisi nana.

“Yak! kaki-mu berdarah ? Kau terkena ranting itu ?”

“Apa peduli-mu!” Marah nana menahan isaknya. Gadis itu berusaha bangkit dan menahan rasa sakit di kakinya.

“Dasar ceroboh. memangnya mata-mu kau letakkan di mana saat berjalan” baekhyun kembali bersuara tanpa memperdulikan mata nana yang telah menggenangkan kaca bening di sana.

“Aku tidak peduli denganmu, tapi eomma bilang aku harus menjagamu karena itu diam lah, aku akan membersihkan lukamu” lanjut namja kecil itu melepaskan ranselnya dan mengambil kotak berwarna merah di dalam sana.

“Jangan menangis” suara baekhyun kembali ketika mendengar ringisan sang gadis saat dirinya menyentuh luka di kaki nana.

“Bagaimana kau berjalan ? Kau harus memperhatikan jalanmu. Jangan menunduk hanya karena kesal denganku”

“Sudah ku bilang untuk bermain ke tempat lain, mengapa kau selalu mengekoriku”

“Kau perempuan, tidak seharusnya bermain sepertiku”

“Aku hanya berkata begitu saja kau marah dan begini jadinya, aku juga kan yang di susahkan” celoteh baekhyun panjang lebar.

“Pembohong” suara nana lemah namun masih dapat di dengar jelas oleh baekhyun.

Baekhyun mengangkat wajahnya mendongak dan menatap gadis di depannya dengan tatapan tidak mengerti.

“Dasar pembohong” kata nana lagi.

“Eoh ?” Tanya baekhyun mengerutkan alisnya.

“Kau bilang kau menjagaku ? Pembohong. Kau sama sekali tidak menjagaku”

“Kau selalu menyuruhku pergi, kau tidak pernah mau bermain denganku. Kau tidak pernah menjagaku. Aku akan mengatakannya kepada bibi” lanjut nana sembari meloloskan buliran bening di sudut matanya.

Baekhyun terdiam sesaat, bola mata kecil namja itu mengerjap berkali-kali, otaknya berkerja keras mencari sebuah kalimat pembelaan atau apapun itu.

“Tapi aku-“

“Apa ? Kau ingin mengelak ? Dasar pembohong. Sekarang kaki-ku terluka karena-mu, aku akan mengadukanmu agar kau di marahi”

“Yak!” Kesal baekhyun.

“Kau sudah memarahiku terlalu banyak, aku akan mengadukanmu agar kau juga di marahi sama seperti aku” angkuh nana.

“Baiklah, sudah selesai” kata baekhyun bangkit dan kembali berdiri tegak.

“Aku duluan eoh, kau tidak memerlukan pertolonganku kan ?” Kata baekhyun lagi, meraih ranselnya dan mengambil langkah santai meninggalkan nana yang masih berjongkok di tempatnya.

Nana menatap kesal ke arah baekhyun yang telah berjalan beberapa langkah di depannya.

“Yak! Byun baekhyun!” Teriak nana.

“Apa ?” Kata baekhyun segera setelah menghentikan langkahnya dan menoleh kembali ke arah nana.

“Aku tidak bisa berjalan” ungkap nana lemah.

“Bukankah kau bilang aku tidak pernah menjagamu ? Pulanglah sendiri, lagi pula kau akan mengadukanku” jawab baekhyun kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.

“Tolong aku” kata nana namun tidak di indahkan oleh baekhyun.

“Aku tidak akan mengadukanmu” lanjut gadis itu dan kali ini sukses membuat langkah baekhyun berhenti.

“Kau yakin ?” Tanya baekhyun menoleh.

“Eum, tolong aku. Ku mohon”

“Benar ?”

“Emmmm” angguk nana.

“Baiklah, kau sudah berjanji eoh ?” Kata baekhyun berbalik dan kembali melangkah menghampiri nana.

Namja itu membantu nana bangkit. “Bangunlah, hati-hati” kata baekhyun kemudian meletakkan satu lengan nana di bahunya membantu gadis itu berjalan.

“Jika kau mengadukanku, aku tidak akan menolongmu lagi. Ingat itu” baekhyun kembali berkata di sela langkah kecil keduanya.

“Hati-hati, dasar ceroboh” kata namja itu lagi ketika langkah nana terjengkal.

“Dasar keras kepala, tadi kau bilang tidak memerlukan bantuanku. Tapi lihatlah berjalan saja kau susah”

“Besok-besok dengarkan perkataanku, jangan selalu merajuk dan cemberut hanya karena aku tidak ingin bermain denganmu”

“Kau harus mandiri, jangan selalu menempel padaku. Bagaimana jika nanti aku tidak bersamamu”

“Bertemanlah dengan banyak anak lainnya, dan carilah teman bermain yang bisa memainkan permainan seperti yang kau maksud biasanya. Jangan aku, aku tidak mengerti permainan perempuan dan jangan paksa aku untuk mengerti” baekhyun terus saja mengalunkan kata-katanya membuat teling nana di sampingnya memanas mendengarnya.

“Berhentilah mengomel, kau seorang lelaki tapi banyak bicara sekali” celetuk nana kesal.

“Apa bedanya denganmu, kau juga banyak bicara” elak baekhyun.

“Tapi kau itu lelaki dan kau banyak bicara. Astaga, apa kau benar-benar seorang lelaki ?”

“Yak! Kau-“

“Itu, itu- kau akan mengomel lagi ? Berhenti karena telingaku sudah sakit karena-mu”

“Aku tidak mengomel”

“Aigoo, lelaki pengomel”

“Tidak, kau pengomel”

“Kau lebih pengomel”

“Tidak”

“Iya”

“Ku bilang tidak”

“Iya”

.

.

.

“Baek-ah” panggil nana menjulurkan kepalanya di balik pintu kamar baekhyun, menatap punggung namja yang sedang duduk di depan meja belajarnya.

“Yak! Biasakan mengetuk pintu terlebih dahulu” kesal baekhyun menoleh dan menatap gadis di depannya itu.

“Apa bedanya, lagi pula kau ada di dalam” elak nana acuh.

“Hanya bersikaplah sedikit sopan”

“Sopan ? Kepadamu ? Lupakan” kata nana mencibir.

“Ada apa kau kemari ?”

“Kau sudah menyelesaikan lembar biodata yang harus di kumpulkan besok ?”

“Sudah”

“Boleh aku lihat ?”

“Tidak”

“Yak! Mengapa tidak boleh, toh yang di isi sama saja, eoh. eoh. eoh baek-ah aku ingin melihat punya-mu”

“Karena sama saja mengapa kau harus melihat punyaku. Lihat saja milikmu sendiri”

“Aku hanya ingin melihat kesan dan pesan-mu”

“Tidak ada yang menarik”

“Aku tidak peduli aku ingin melihatnya atau aku tidak akan keluar”

“Dasar tukang pengancam” gerutu baekhyun.

“Ini, lihatlah. Tidak ada yang menarik seperti yang kau harapkan”

Nana menyambut antusias lembar putih yang di ulurkan baekhyun kepadanya, lembar putih berisi biodata namja itu. Biodata terakhir keduanya yang harus di serahkan sebelum hari kelulusan tiba.

Ya, tiga tahun telah berlalu. Nana dan baekhyun hidup dan menjalani hari-hari mereka bersama.

Tidak ada yang berubah, keduanya masih sering bertengkar ataupun beradu argumen. Saling mengancam dan juga saling menjahili, hanya saja semenjak hari itu, hari di mana nana mendapatkan bekas luka yang sampai hari ini masih terlihat jelas di kaki indah gadis itu, baekhyun lebih sering mengalah meski sebelumnya namja itu tetap mengeluh dan meluncurkan protesnya.

Sama seperti saat ini meskipun baekhyun menolak memperlihatkan lembarnya, pada akhirnya namja itu tetap akan memberikannya.

“Eyyy, kesan apa ini ? ‘Menyenangkan dan aku tidak akan melupakan sekolah’ heyy apa tidak ada pesan lain yang lebih dari ini ?” Protes nana setelah membaca coretan baekhyun di lembarnya.

“Sudah ku katakan padamu sebelumnya” kata baekhyun tenang.

“Dasar lelaki membosankan”

“Aku tidak peduli”

Hening sesaat, nana diam. Lengan gadis perlahan meletakkan lembar milik baekhyun di atas tempat tidur namja itu sementara baekhyun kembali sibuk dengan laptop di depannya.

“Baek-ah” panggil nana pelan.

“Hmmm”

Nana menautkan kedua lengannya gelisah, ada sesuatu yang ingin gadis itu sampaikan kepada baekhyun, sesuatu yang sejak lama di harapkannya namun setelah berhasil mendapatkannya gadis itu merasa ragu akan keinginannya.

“Baek”

“Apa ?”

“Kau sudah menyiapkan seragammu untuk hari kelulusan nanti”

“Sudah”

“Ahh, baguslah”

“Baek-ah” panggil nana lagi.

“Hmmmm”

“Eomma dan appa-ku akan menjemputku” suara nana lemah.

“Kau tau kan, aku sangat ingin ikut bersama mereka. Akhh~ akhirnya hari itu tiba” lanjut gadis itu sembari menghela nafas beratnya.

Baekhyun menghentikan aktivitasnya, namja itu menunduk mengalihkan fokusnya dan mencerna perkataan nana beberapa saat yang lalu.

“Kapan ? Kapan orang tuamu akan menjemputmu ?” Tanya baekhyun tanpa memalingkan tubuhnya.

“Lusa, tepat di hari kelulusan” jawab nana lemah.

“Kau pasti senang bukan ? Tidak akan ada lagi yang mengganggu dan menempel padamu, kau akan bebas bermain dan pergi kemanapun”

“Hmmmm, baguslah” suara baekhyun lemah masih dengan memunggungi lawan bicaranya.

.

.

.

Baekhyun dan nana berjalan beriringan, melewati jalan setapak menuju rumah baekhyun. Keduanya melangkah bersama dalam hening, tidak ada yang bersuara sibuk dengan pemikiran masing-masing.

“Nana-ya” panggil seorang wanita tepat ketika keduanya memasuki rumah kediaman keluarga byun itu.

“Eomma!” Pekik nana berbinar. Gadis itu segera berlari menghambur ke dalam pelukan sang ibu dan ayah yang duduk berdampingan di ruang tamu bersama tuan dan nyonya byun.

“Aku merindukan kalian” suara nana bahagia.

“Kami juga” jawab ayah nana mengelus puncak kepala putrinya.

Baekhyun yang masih berdiri mematung di depan pintu menatap pemandangan di depannya dengan tatapan yang sulit di artikan.

“Eomma, appa, bibi, paman aku permisi ke kamar” suara baekhyun dengan wajah datarnya membuat semua orang menatap bingung padanya.

“Kau sudah membereskan barang-barangmu nana-ya ?” Tanya ibu baekhyun mengalihkan tatapan gadis itu pada punggung baekhyun yang semakin menjauh.

“Eoh, sudah bi” jawab nana dengan senyum manisnya.

Baekhyun terus melangkah gontai menuju kamarnya, membuka pintu itu dengan sedikit tenaga, melemparkan ranselnya sembarang dan mendudukkan dirinya di atas kursi belajarnya.

Baekhyun terus terdiam, menatap kosong objek di depannya sementara pikirannya terus berkecamuk di dalam dirinya.

Baekhyun tidak tahu harus berkata apa dan berbuat seperti apa. Perasaannya kacau, semuanya bercampur aduk menciptakan dilema itu mengambang dan hanya diamlah yang dapat di lakukan baekhyun sekarang. Mungkin.

“Kajja! Nana-ya, kita harus pergi” suara ibu nana menginterupsi gadis yang sedang melamun menatap pintu cokelat kamar baekhyun.

Gadis itu mendongak dan mendapati ke dua orang tuanya telah berdiri begitupun dengan tuan dan nyonya byun.

“Terima kasih telah menjaga dan merawat nana selama ini” tutur ibu nana kepada tuan dan nyonya byun.

“Kami sangat senang bisa merawat nana, kami telah menganggap nana sebagai anak kami sendiri” jawab tuan byun dengan senyum ramahnya.

“Eomma, appa, paman, bibi bolehkah aku permisi sebentar. Aku ingin berpamitan dengan baekhyun” suara nana jujur.

“Ahh ya. Tentu saja” jawab nyonya byun lembut.

“Hmmm” nana tersenyum bahagia. “Eomma, appa. Tunggu sebentar” tutur gadis itu lagi, kemudian melangkah lebar menuju kamar baekhyun.

“Baek-ah” panggil nana setelah dirinya membuka sedikit celah pintu kamar itu dan menjulurkan kepalanya menilik baekhyun yang sedang duduk diam di depan meja belajarnya.

“Baek, aku akan pergi” lanjut gadis itu setelah masuk dan berjalan beberapa langkah.

“Eoh, pergilah” suara baekhyun datar tanpa menoleh nana di belakangnya.

“Hmmmm, annyeong” kata nana dengan nada kecewa. Gadis itu berbalik dan kembali melangkah menuju pintu dengan menundukkan kepalanya.

Tepat saat lengan nana akan meraih gagang pintu berwarna cokelat itu sebuah suara menginterupsinya.

“Nana-ya” panggil baekhyun yang dengan segera gadis itu tanggapi dengan menolehkan kepalanya.

“Eoh” suara nana, kali terdengar bersemangat dan ada rasa lega menyertainya.

Baekhyun melangkah mendekati posisi nana dan berhenti tepat di depan gadis itu. “Maafkan aku” suara baekhyun kemudian memajukan wajahnya membuat bibirnya bertemu dengan bibir pink nana.

Bibir baekhyun menempel di sana beberapa detik membuat nana membolakan matanya sempurna terkejut akan tindakan baekhyun yang tiba-tiba.

Kedua bola mata nana masih membola bahkan ketika baekhyun kembali menarik wajahnya. Gadis itu mengerjap beberapa kali, menatap baekhyun dengan penuh tanya.

Keduanya saling beradu tatap, menciptakan keheningan. Tidak ada satupun diantara keduanya yang mampu menggerakkan lidah dan bersuara.

“Nana-ya!” Suara ibu baekhyun memutuskan kontak mata keduanya.

“Nana-ya, cepatlah keluar. Kalian akan terlambat. Eomma dan appa-mu sudah menunggu” lanjut nyonya byun yang di dengar begitu jelas baik oleh nana maupun baekhyun.

“E-eoh, nae!” Jawab nana berusaha mengeluarkan suaranya. Gadis itu berbalik dan bergegas melangkah keluar, namun saat di ambang pintu gadis itu kembali menoleh menatap baekhyun yang masih berdiri di tempatnya dan menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.

Keduanya kembali saling bertatapan hingga pintu itu tertutup dan memutuskan kontaknya, menghilangkan sosok masing-masing di depannya.

Baekhyun terus saja menatap pintu kamarnya yang kini telah kembali tertutup rapat, entah rasa apa yang menyelimuti perasaannya saat ini. Namun namja itu benar-benar merasa berat. Sisi lain hatinya terasa kosong karena sosok itu, sosok yang selalu ada di sampingnya, sosok yang selalu mengikutinya. Sosok yang telah pergi dan menjauh entah sampai kapan, bahkan untuk kembali bertemu lagipun baekhyun meragukan kesempatan itu meskipun jauh di dalam dirinya berharap waktu itu dapat kembali mengahampirinya.

TBC

Yeyyyyy!!! ini hutang bebeb yang ketiga ya…

Kali ini bebeb dateng membawa baek-nana yang sedikit berbeda, jadi cerita ini gak ada sangkut pautnya sama namjachingu ? ataupun Our Love ya… ini murni cerita baru.

Rencananya sih mau di bikin twoshoot moga bisa ya, moga ada ide lanjutinnya.

Bebeb gak tau anak baru lulus sekolah dasar di sana bisa ngelakuin kayak yang baek lakuin gak ya… ah bisa aja deh, di khayalannya bebeb bisa kok, moga di khayalan kalian juga ya. Hahahaha *maksa.

Okay masih may nh may! Masih bulannya my baby bee yang udah fix, jelas, akurat terpercaya mengikrarkan sendiri dia jomblo alias gak taken. Okay! Garis bawah, cetak tebal pake miring ya JOMBLO.

Yesss! Hamdalah akhirnya ada juga klarifikasi dari mulut dan bibir tipis nan sekseh dia sendiri, akhirnya gue bisa pamer dan yakin seyakin yakinnya, padahal dari dulu udah yakin sih baekhyun lepas dari jerat uhuk! Uhuk! Uhuk!

Uhuk! Beneran nih, lupakan. Diatas hanya sekelebat luapan kebahagian bebeb aja sih, gak usah di baca dan jangan masukin dompet ya… sebab gak ada guna dan emang gak bisa. Wkwkwkw

Dari pada bebeb makin gaje udah aja yuk!

Makasih

bebebaek_ (^^)

Advertisements

2 thoughts on “Know Your Mind #1 [1/2] – by bebebaek_

  1. Pingback: Know Your Mind #2END [2/2] – by bebeaek_ | BABY BEE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s