There Was Nothing [#prolog]

image

by bebebaek_

Main cast : Park Chan Yeol (EXO), Nam Hye Jin (oc).

Addicional Cast : Oh Se Hun (EXO), Kim Jong In (EXO), Jung Soo Jung (f(x)), Kim Seol Hyun (AOA).

Genre : family, marriage life, sad, romance.

Length : Chaptered | Rating : PG 16.

Hasil khayalan murni, don’t plagiat.

Sorry Typo-.-

.

.

.

Mobil mewah ferrari california berwarna merah berdecit saat sang pengemudi menginjak pedal remnya kencang berhenti di depan sebuah club mewah di daerah gangnam. Namja jangkung itu kemudian turun melangkah pasti memasuki club yang merupakan club mewah dimana para pengunjung kebanyakan merupakan para vip.

Namja itu mengedarkan pandangannya pada seluruh penjuru club tersebut mencari-cari dua sahabatnya yang sebelumnya telah membuat janji untuk berkumpul di tempat itu.

“Oppa!, kau sudah datang ?” Pekik seorang gadis dengan pakaian serba hitam yang melekat seksi pada tubuh s linenya menghambur ke dalam pelukan namja itu kemudian mengelayut manja pada lengannya.

Namja itu melirik sesaat gadis yang kini menempel di sisi kiri tubuhnya. Tanpa menjawab pertanyaan dari sang gadis kedua bola matanya kembali mengedar mencari-cari objek yang sedari tadi tidak juga di temukannya.

“Kau mencari sehun dan jongin. oppa ?” Suara gadis itu lagi.

“Ya, kau melehat mereka seolhyun-ah ?”

“Emmm, mereka ada di dalam salah satu ruangan di lantai atas, kajja. Aku akan mengantarkanmu ke sana” seolhyun menarik lengan namja itu dengan senyum manisnya.

“Eoh, kau sudah tiba chanyeol-sajangnim” kata salah satu pemuda berkulit tan membuka suara setelah mendapati pintu ruangan tersebut terbuka dan menampakkan seorang pemuda jangkung dengan seorang gadis yang masih menggelayut manja di sisi kiri namja tersebut.

“Apa kau sudah mabuk di jam awal begini ?” Suara chanyeol dingin sembari melangkah mendekati dua orang sahabatnya yang telah berada di ruangan tersebut.

“Ckckc, apa aku pernah mabuk duluan ?”

“Yak! Park chanyeol mengapa kau begitu terlambat ? kami hampir saja meninggalkanmu untuk memulai pesta” suara namja lain yang memiliki warna kulit putih pucat kontras dengan namja yang duduk di sebelahnya.

“Yak! Apa yang ingin kalian lakukan ? Kalian ingin berpesta dan mengajak namjachinguku ? Yak! itu hanya akan terjadi di dalam mimpi kalian. Aku akan mencabik-cabik wanita manapun yang akan datang ke sini” suara seolhyun lantang membuat tiga namja di ruangan tersebut hanya dapat menutup mata mereka meredam berisik yang membuat telinga mereka terasa berdengung.

“Yah… jika kau tidak ingin kekasihmu itu berpesta dengan wanita lain, mengapa tidak kau saja yang menemaninya” kata jongin menyeringai.

“Ahhh kau benar juga jongin-ssi” seolhyun kembali menyunggingkan senyumnya sementara chanyeol menolehkan kepalanya jengah.

“Aku tidak ingin berpesta, kalian saja. Aku benar-benar lelah dan pusing dengan segala urusan di hotel” suara chanyeol mendudukkan tubuhnya di atas sofa.

Chanyeol memang tengah di landa lelah yang membuat kondisi tubuhnya berada di level paling bawah. Menjadi putra tunggal dari pemilik Golden Park Hotel yang merupakan salah satu hotel terbesar dan termewah di seoul membuat namja itu pada akhirnya mau tidak mau harus belajar untuk meneruskan usaha tersebut.

Chanyeol yang dua bulan terakhir menyandang status sebagai CEO dari bisnis perhotelan tersebut harus membiasakan dirinya dengan berbagai pertemuan dan pekerjaan yang benar-benar membuatnya lelah.

“Apa bisnis perhotelan serumit itu ?” Suara jongin mengusik chanyeol yang tengah memejamkan matanya di seberang namja tersebut.

“Kau harus bersyukur karena bisnis di bidang properti tidak serumit perhotelan. Kau hanya harus memasok barang-barangmu ke dalam hotelku” jawab chanyeol masih dengan mata terpejam.

Jongin berdecih kecil menyembunyikan tawanya dari sahabat yang juga menjalin bisnis dengannya itu.

“Ya. Ku rasa bisnis di bidang pariwisata adalah hal yang terbaik. Aku tidak perlu pusing menyidiakan ini dan itu” timpal sehun yang kali ini sukses membuat chanyeol membuka matanya.

“Yak! Bocah. Kau bukannya tidak harus pusing tapi kau tidak ingin pusing” kata chanyeol menatap langsung sehun yang tengah memasang wajah polosnya.

“Kau kira kami tidak tahu. Kau hanya menyuruh asistenmu untuk melakukan semuanya sementara kau berkeliaran dengan bebasnya” timpal jongin melempar satu bantal tepat di wajah namja putih itu.

“Yak! Bukankah aku benar ? Untuk apa pusing-pusing melakukannya sendiri jika kita bisa meminta orang lain untuk melakukannya” suara sehun mengelak.

“Ya. Ya. Ya. Kau benar tuan oh, kau selalu benar” jongin terkikik geli.

“Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan ? Aku tidak mengerti” suara seolhyun yang sejak tadi hanya diam di sisi chanyeol.

“Anak dari seorang menteri tidak akan mengerti” suara sehun pelan sembari menghela nafasnya membuat seolhyun memautkan bibirnya tidak suka.

“Yak! pergilah pemandu pesta kalian telah tiba” kata chanyeol melirik dua sahabatnya ketika pintu ruangan tersebut kembali terbuka dan menampakkan dua orang wanita dengan pakaian minim mereka.

“Eoh, baiklah. Kami pergi dulu” suara sehun sembari bangkit dan melangkah menuju pintu.

“Kalian. Kalain juga bisa berpesta di sini” suara jongin menyeringai melancarkan tatapannya pada chanyeol dan seolhyun yang duduk berdampingan.

Setelah sehun dan jongin pergi dengan kedua pasangan pesta mereka masing-masing, chanyeol mengambil gelas berisi wine di atas meja kemudian menenggaknya habis dalam sekali tenggak.

“Oppa, apa kau benar-benar tidak ingin keluar ? Kau tidak ingin menari denganku ?” Tanya seolhyun menyandarkan kepalanya di salah satu pundak chanyeol.

“Aku lelah seolhyun-ah”

“Kau benar-benar lelah atau hanya menghandariku saja ?” kesal gadis itu mengalihkan kepalanya dan menatap geram chanyeol di depannya.

“Kau sudah bosan denganku ? Kau tidak menyukaiku lagi ?” Lanjut gadis itu dengan wajah masam.

“Tidak. Aku tidak pernah bosan denganmu” suara chanyeol mengulurkan satu lengannya mengusap lembut wajah gadis di depannya.

“Tapi akhir-akhir ini kau selalu mengabaikanku”

“Maafkan aku. Aku benar-benar lelah belakangan ini” kata chanyeol menatap dalam kedua bola mata bening seolhyun.

“Maafkan aku heum” ulang chanyeol lagi dengan suara lembutnya.

Seolhyun mengangguk manis menyunggingkan senyum terbaik miliknya, maniknya menatap chanyeol lekat memuja betapa sempurnanya goresan wajah namja di depannya.

Chanyeol membalas tatapan seolhyun sama dalamnya menyelami manik hitam pekat itu sayu. Chanyeol menaikkan lagi satu lengan bebasnya menangkup wajah seolhyun dengan kedua tangan besarnya. Namja itu mendekatkan wajahnya, mengahapus jarak yang hanya beberapa centi diantara keduanya.

Seolhyun memejamkan matanya saat bibir lembut chanyeol menyapu hangat bibir tipis miliknya, gadis itu dapat merasakan dengan jelas bagaimana bibir namja itu bergerak lincah di permukaan bibirnya.

Chanyeol kembali membuka matanya setelah menarik kembali wajahnya menyudahi ciuman singkat yang di berikannya kepada yeojachingunya itu.

Seolhyun, seorang anak dari menteri perizinan yang di kenalnya dari pertemuan yang di buat oleh ayah chanyeol untuk kepentingan bisnis semata. Tuan park bermaksud untuk mempermudah perluasan lahan bisnisnya dengan memanfaatkan sang anak untuk mengencani putri dari sang menteri.

Chanyeol menurut. Namja itu menjalin hubungan dengan baik bahkan selalu memperhatikan seolhyun dengan perlakuan manis membuat sang gadis merasa tersanjung dengan begitu cepatnya.

Lama chanyeol menjalani harinya dengan selalu mengikuti perintah dari sang ayah, bersikap manis layaknya seorang namja yang tengah jatuh cinta, memberi perhatian lebih dari sekedar teman akhirnya membuat chanyeol sendiri tidak yakin bagaimana dengan perasaannya yang sesungguhnya, namja itu akui dari sekian banyak gadis yang di kencaninya hanya seolhyunlah satu-satunya gadis yang chanyeol akui dengan lantang sebagai yeojachingunya di depan umum. Namun apakah benar dia telah jatuh cinta pada gadis itu ? Chanyeol sendiri tidak tahu.

—————

“Hyejin-ah, pelanggan di kamar 401 akan segera melakukan chek out. Kau, tolong segera bersihkan kamar itu setelahnya” suara seorang namja berkaca mata yang tidak lain adalah personal manager hotel.

“Nde, saya akan membersihkannya” suara gadis yang tadi di panggil sang manager penuh semangat.

“Eoh, cepatlah dan jangan mengecewakan” kata manager itu lagi.

Hyejin membungkuk pasti kemudian berbalik mengambil langkah untuk memulai pekerjaannya, baru saja gadis itu melangkahkan kedua kakinya beberapa langkah suara manager tersebut terdengar kembali.

“Hyejin-ah” panggil manager menginterupsi langkah gadis tersebut.

Hyejin menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap namja yang jauh di atas usianya tersebut lagi.

“Setelah kau membersihkan kamar tersebut pergilah ke kamar 101, pemilik kamar meminta layanan pembersihan kamar”

“Ah, ya. Akan saya kerjakan” jawab hyejin menunduk sekali lagi kemudian merajut kembali langkahnya yang sempat tertunda.

Hyejin melangkah gontai menyusuri lantai utama gedung hotel tempatnya bekerja, gadis itu melangah memasuki kawasan lobby dan berhenti tepat di depan meja resepsionis.

“Eoh, hyejin-ah. Kau selesai melakukan pekerjaanmu ?” Tanya seorang gadis yang berdiri tepat di belakang meja tersebut.

“Uhhhh… dari mana kau tau soojung-ah, apa kau seorang peramal ?” Suara hyejin menggoda.

“Cckck, bahkan orang yang rabun jauhpun tahu ketika melihat tampilanmu saat ini” balas soojung tidak terima.

“Ya, aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku” aku hyejin mengalah. “Soojung-ah, kau mau ini ?” Lanjut gadis itu menyodorkan sebungkus roti di tangannya.

“Yak! Dari mana kau mendapatkannya ?”

“Aku mengambil beberapa alat kebersihan di belakang dan saat aku melewati dapur, aku bertemu chef lee dan beliau memberi dua bungkus roti untukku. Kau mau satu ?” Jelas hyejin.

“Tentu saja” sambar soojung mengambil dengan kecepatan kilat roti yang terulur di lengan hyejin.

“Ckckc, kau berlagak tidak ingin di awal” decih hyejin menatap tidak percaya pada sang sahabat.

“Eoh. Aku memang seperti itu” soojung menanggapi dengan santainya.

“Soojung-ah. Kau pulang malam ini ?”

“Hmmmm”

“Baiklah, kita bisa pulang bersama”

“Ya, tentu saja bisa”

“Apa kita harus memasak makan malam ?”

“Tidak. Tidak. Akan terlalu lama dan aku akan terlanjur kelaparan” tolak soojung lantang.

“Baiklah, kita beli di kedai saja”

“Setuju!” pekik soojung nyaring.

“Bagaimana dengam ayam dan bir ? Kita akan bergadang semalam suntuk hyejin-ah” suara soojung bahagia.

“Kau ingin kita berkerja dengan kepala sempoyongan keesokan harinya ?” Tangkas hyejin mematahkan kesenangan sang sahabat.

“Ahhh, ya. Kau benar” suara soojung kecewa. “Tapi bagaimana dengan karoke….” lanjut gadis itu kembali memekik bahagia.

“Untuk itu, setuju!” Jawab hyejin juga memekik bahagia membuat keduanya tertawa bahagia.

Hyejin dan soojung memang bersahabat sejak keduanya masih kecil. Soojung yang pergi meninggalkan kampung halamannya selepas lulus dari perguruan tinggi dan berkerja menjadi salah satu resepsionis di Golden Park Hotel dengan keyakinan penuh mengajak sang sahabat untuk ikut dengannya saat mendengar kabar bahwa kedua orang tua hyejin telah tiada, gadis itu sebatang kara. Dan beruntung saat hyejin menginjakkan kakinya untuk pertama kali di seoul, di tempat bekerja sang sahabat, personal manager tengah memerlukan seorang room attendent atau room maid karena itulah tanpa harus melakukan wawancara hyejin segera di terima menjadi salah satu karyawan di tempat yang sama dengan soojung berkerja.

Keduanya tinggal di sebuah rumah sederhana di pinggir kota yang di sewa keduanya dari hasil kongsi satu sama lain. Tidak ada kata saling iri atau saling mengungguli, keduanya menjalani hari dengan saling berbagi dan saling melengkapi satu sama lain. Tidak hanya sebagai sahabat tapi juga sebagai keluarga.

—————

Hari berlalu dan musim berganti. Chanyeol semakin di sibukkan dengan segala urusan bisnisnya. Sekarang namja itu telah terbiasa bahkan menyukai segala kerepotan yang mengelilinginya.

Waktu bersenang-senangnya yang tidak lagi banyak tidak lagi membuatnya mengeluh meski itu berarti waktu berkumpul dan bercengkrama dengan sahabat-sahabatnya benar-benar tidak seintens biasanya.

Tidak jauh berbeda dengan jarangnya chanyeol ikut berkumpul dan bersenang-senang dengan para sahabatnya sedari SHS tersebut, waktu chanyeol untuk seolhyunpun berkurang banyak. Bahkan dalam hitungan beberapa bulan terakhir namja itu tidak lagi melihat wujud sang gadis dengan mata kepalanya sendiri. Tidak dengan bertemu tidak pula dengan komunikasi. Terlalu sibuknya chanyeol memperluas dan memperbaiki segalanya memajukan usaha yang di rintis sang ibu membuatnya mengabaikan segala pesan tak berarti, ya tidak berati jika bukan dari klien. Chanyeol begitu serius dengan itikadnya mengambil alih dan mengamankan perusahan warisannya.

Chanyeol menghentikan mobilnya di depan sebuah caffe. Namja itu berniat membeli satu cup moccachino hangat untuk sekedar melepas lelahnya dari meeting panjang bersama beberapa klien.

Chanyeol melepas safety belt yang melekat di sisi kiri tubuhnya berniat membuka pintu mobil mewah tersebut. Namun, baru saja lengan namja itu memegang kenop pintu mobil, pergerakannya terhenti ketika menangkap dua sosok yang di kenalnya keluar dari caffe yang sama.

Dua orang yang berhasil menarik perhatian itu memasuki mobil bersama kemudian melaju kembali kejalan raya, berbaur dengan mobil lainnya.

Dilanda keingin tahuan yang cukup tinggi, chanyeol kembali mengenakan safety beltnya dan melajukan kembali mobilnya mengikuti dari belakang mobil yang membawa kedua orang yang begitu di kenalnya tersebut.

Mobil itu berhenti di depan sebuah gedung tinggi elit yang chanyeol hapal betul gedung tersebut merupakan apartemen dari salah satu diantara keduanya. Mobil chanyeol ikut berhenti tidak jauh berjarak dari mobil berwarna silver itu, mengamati dari dalam dua orang tersebut turun dari mobil dan mengambil langkah bersama dengan saling merangkul satu sama lain.

Sepersekian detik dua orang tersebut berlalu dari pandangan chanyeol, namja itu ikut turun dan mengambil langkah di jalan yang sama memasuki lift kemudian memencet tombol lantai yang sering di kunjunginya.

Angka di atas pintu lift menunjukkan lantai yang di tuju chanyeol, pintu itu kemudian terbuka dan betapa terkejutnya namja itu saat mendapati dua orang yang di ikutinya sedari tadi, sang sahabat dan gadis yang di akuinya sebagai yeojachingunya satu tahun terakhir tengah saling bertaut di lorong apartemen tepat di depan pintu apartemen namja pucat tersebut.

Chanyeol mengepalkan kedua tangannya tanpa di rasanya, sepasang bola matanya merekam tajam apa yang kini di lihatnya. Namja itu, sahabatnya, oh sehun mencumbu mesra gadisnya melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping seolhyun memberi gadis itu ciuman dalam yang menuntut dan memabukkan.

Pintu lift kembali tertutup perlahan menghilangkan pemandangan itu dari iris gelap tajam chanyeol yang kini menahan amarahnya. Rasa kecewa, tersakiti dan di khianati oleh dua orang terdekatnya membuat api di hatinya mematik dan menyala. Kobaran amarah yang menyesakkan hatinya, membuat nafasnya tersengkal membuatnya memerlukan sebuah pelampiasan untuk dapat kembali bertahan menghirup oksigen yang saat ini seolah menghindarinya.

TBC

Lha kok prolog lagi prolog lagi ?

Hahahaha maafin ya bebeb hadir bukannya bawa SH atau Oh My #1 dan malah bawa prolog lagi (ini apaan lagi beb ?)

Okay! Salahkan ide liar yang ada di kepala bebeb saat mau bikin Our Love & Namjachingu ?. Ehhh ide ini sekelebat muncul dan sayang kalo di biarin jadi biarkan dia menjadi prolog yang bebeb sendiri gak tau kapan akan publish chapter 1 nya. Hahahaha. Bukan php lo ya. Gak ada niat php, pasti di bikin dan ending kok tenang-tenang.

Btw udah ah kebanyakan bacot. Belum tentu ada yang baca juga. Eh ada deh ada. Itu yang itu tu. Iya kamuuuuu #tsahh (iuuh lo ngomong apaan sih beb)

Dari pada gue makin ngawur yaudah deh udah beneran. Moga ada yang suka ya. Makasih. Bybyby.

bebebaek_ (^^)

Advertisements

3 thoughts on “There Was Nothing [#prolog]

  1. Pingback: There Was Nothing [#1] | BABY BEE

  2. Pingback: There Was Nothing [#2] | BABY BEE

  3. Pingback: There Was Nothing [#3] | BABY BEE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s