{Yun-Dae Couple} we are married – Memories

image

by bebebaek_

First Night |

Main cast : Kim Jong Dae (EXO), Shim Yun Mi (oc), Kim Da Eul (Lee Daeul).

Genre : romance, marriage life, family.

Length : Ficlet | Rating : 17.

Hasil dari mimpi dan imajinasi murni dari diri sendiri, don’t plagiat.

Sorry Bertaburan Typo-.-

.

.

.

“Bagaimana rencanamu melamarnya ?” Suara seseorang yang tidak terlihat bertanya pada namja yang tengah duduk di kursinya.

“Aku memiliki rencana spesial” jawab namja itu malu-malu.

Yunmi terkekeh geli menyaksikan namja tersebut malu-malu pada layar datar tv di kamarnya, ya gadis itu sedang menonton di kamar. Sejak gadis itu kembali ke rumah dan jongdae harus kembali berkerja di perusahaannya, namja itu dengan sendirinya berinisiatif memindahkan layar datar di ruang tengah ke dalam kamar mereka agar yunmi tidak terlalu banyak bergerak dan berharap gadis itu tidak bosan saat menjaga jagoan kecil mereka.

Jongdae telah kembali berkerja sejak tiga hari yang lalu, namja itu harus segera melaksanakan tanggung jawabnya sebagai salah satu general manager perusahaan sang ayah apalagi baru-baru ini jongdae membuka bidang baru di bidang properti dan pakain sport, tentu banyak pekerjaan yang harus di kerjakan namja itu.

Masih dengan posisi berbaring di salah satu sisi tempat tidurnya dan daeul yang tengah tertidur pulas di sisinya, yunmi terlarut pada acara yang di tontonnya hingga gadis itu tidak menyadari seseorang membuka pintu kamarnya.

“aku pulang” suara jongdae membuat yunmi mengalihkan pandangannya dari tv kemudian menyadari namja itu telah meletakkan jas dan tas kerjanya di atas nakas.

“E-eoh, kau sudah pulang” suara yunmi tersadar.

Jongdae tersenyum lembut, satu lengannya melonggarkan ikatan dasi di lehernya kemudian melepas kancing di kedua sisi lengan dan menaikkannya hingga batas siku sembari berjalan menghampiri yunmi, mengecup sayang puncak kepala istrinya tersebut dan duduk di sisi tubuh yunmi.

“Apa yang kau lihat sampai-sampai kau tidak menyadari kehadiranku heum ?” Ucap namja itu lembut.

“Ani aku hanya menonton acara variety show tetang aktris dan aktor yang menikah secara virtual” jelas yunmi.

“Hmmmmm” gumam jongdae mengerti. “Apa jagoan kecil kita rewel hari ini ?” Tanya jongdae lagi sembari memajukan sedikit tubuhnya hendak beranjak mencium daeul yang tidur di sisi tubuh yunmi.

“Yak, jangan mengganggunya, dia baru saja terlelap” cegah yunmi.

“Arasseo” jongdae kembali duduk kemudian mengecup kening yunmi “kau pasti lelah” kata namja itu setelahnya.

Yunmi tidak menjawab kembali fokus pada layar kaca di depannya membuat jongdae mengikutinya.

“Apa begitu menarik ?” Tanya jongdae setelah sepersekian detik hening menyelimuti keduanya.

“Heumm” angguk yunmi.

“Dimana letak menariknya ?”

“Ishhh, kau berisik sekali. Sudah lebih baik kau mandi, lihat tubuhmu begitu lengket”

“Mandikan aku” kata jongdae membuat yunmi mengalihkan pandangannya menatap ngeri jongdae.

Jongdae kembali tersenyum dan lagi-lagi mengecup kening yunmi gemas.

“Jadi mengapa kau begitu tertarik dengan acara ini ?” Jongdae mengalihkan pembicaraan.

“Aku hanya penasaran bagaimana namja itu akan melamar calon istrinya, ughh dia memiliki rencana yang begitu romantis” jelas yunmi.

“Benarkah ? Apa lebih romantis dari caraku melamarmu ?”

Yunmi mendongakkan wajahnya, menatap wajah jongdae dengan tatapan yang sulit di artikan. “Apanya yang romantis dari caramu melamarku ? Kau lupa, kau hanya berkata ‘Benarkah ? Kajja kita menikah yunmi-ya’ dengan senyum bodohmu itu” kata yunmi sembari menirukan mimik jongdae yang begitu di ingatnya.

Jongdae tekekeh geli melihat yunmi menirukan perkataannya sama persis di hari itu, namja itu kembali mengingat hari yang benar-benar bersejarah baginya.

*flashback on*

Yunmi duduk di salah satu kursi taman tempat kencan pertama dirinya dan jongdae bertahun-tahun lalu, ya meskipun bertahun berlalu tempat itu masih menjadi tempat yang nyaman untuk keduanya bertemu.

Pukul 10:09. Waktu di mana setiap orang tengah sibuk-sibuknya dengan pekerjaan masing-masing jauh dari kata istirahat membuat suasana di taman tersebut masih sepi.

Yunmi menghentak-hentakkan kedua kakinya, menunggu seseorang yang beberapa saat lalu di telponnya, gadis itu tau jongdae akan datang terlambat karena tidak mudah keluar dari kantornya di saat jam kerja seperti saat, bukan karena namja itu anak dari pemilik perusahaan membuatnya sesuka hati keluar masuk kantor jongdae bukanlah orang seperti itu yunmi tahu betul bagaimana namjachingunya itu bekerja di sana layaknya seorang karyawan biasa.

Yunmi gusar, wajah gadis itu benar-benar tidak bisa menyembunyikan kerisauannya. Apa yang di lihatnya tadi pagi sukses menguasai seluruh isi kepalanya membuatnya terus berpikir berbagai hal membuat gadis itu bimbang bahkan ragu akan keputusan terbaik untuk penyelesaiannya.

Jongdae tiba tepat di saat dua jam yunmi duduk seorang diri menunggu namja itu.

“Mianhae, aku membuatmu menunggu lama” suara namja itu penuh sesal.

Yunmi hanya diam, mendongak menatap jongdae yang berdiri di depannya dengan tatapan yang sulit di artikan.

“Wae chagi-ya ? Mengapa tiba-tiba mengajakku bertemu di jam seperti ini ?”
tanya jongdae lagi namun masih tidak mendapat jawaban dari gadisnya.

“Yunmi-ya, jangan membuatku khawatir” suara jongdae kali ini penuh kelembutan.

“Jongdae-ya” yunmi membuka suaranya, menatap ragu jongdae yang kini duduk di sampingnya.

“Hmmmm”

“Bagaimana ini ?”

“Bagaimana apanya chagi-ya ?”

“Ku rasa. Aku, chagi-ya” yunmi menahan air matanya yang entah sejak kapan menggenang membuat jongdae yang melihatnya semakin di landa bingung dan khawatir.

“Wae ? Apa sesuatu terjadi padamu ? Apa kau sakit ? Apa ada orang yang menyebalkan di kantormu ?”

“Aniya”

“Lalu apa heummm, jangan membuatku khawatir” kata jongdae mengusap penuh sayang sisi wajah yunmi

Yunmi menyodorkan benda  berwarna putih kepada jongdae “tadi pagi aku memeriksanya, ku ra-sa ak-ku ha-mil jongdae-ya”

Jongdae menatap tidak percaya pada benda di depannya, perlahan namja itu meraihnya masih dengan keterkejutannya.

“Bagaimana ini jongdae-ya, apa yang harus aku lakukan ? aku tidak ingin berhenti bekerja tapi aku juga tidak ingin membuangnya” suara yunmi meluapkan kebimbangannya namun sama sekali tidak di dengar jelas oleh namja di depannya.

Masih dengan memandang benda putih tersebut lekat, tanpa di rasa namja itu menaikkan sudut bibirnya membuat senyuman khas miliknya terpampang jelas, jongdae mendongak menatap yunmi sembari tersenyum cerah kontras dengan gadis itu.

“Benarkah ini ? Yunmi-ya kajja kita menikah”

*flasback end*

“Kau sudah mengingatnya tuan kim ?” Tanya yunmi menyadarkan jongdae dari lamunannya.

“Eum, aku mengingatnya. Tapi apa kau lupa ? Aku pernah melamarmu, ani. Tepatnya aku sering melamarmu, hampir setiap musim di tahun yang sama aku melamarmu dan kau selalu menolakku. Kau tau kau membuatku hampir putus asa dan mengira kau tidak mencintaiku hanya karena alasan kau belum siap”

Yunmi mengerjap mendapat pertanyaan yang membuatnya begitu tertohok, terlebih namja itu bertanya dengan jarak wajah begitu dekat.

“Pertama kau menolakku saat musim semi ketika kita merayakan di terimanya aku menjadi karyawan di perusahan appa”

*flasback on*

Yunmi tersenyum cerah secerah cuaca di musim semi saat ini. Gadis itu melangkah ringan menyusuri indahnya taman yang penuhi dengan bunga-bunga bermekaran.

Yunmi tidak berjalan seorang diri di sisi gadis itu jongdae yang juga melangkah mengimbangi gadis di sebelahnya tersenyum lembut memandang yunmi yang tengah sibuk memperhatikan sekitarnya.

“Woahhh berjalan-jalan di sini dengan suasana seperti ini sungguh menyenangkan” kata yunmi tidak mengalihkan fokusnya dari sisi kirinya.

“Kau menyukainya ?” Tanya jongdae menatap sisi wajah yunmi teduh.

“Hmmmm” angguk yunmi tersenyum.

“Tapi mengapa kau tiba-tiba mengajakku ke sini ? Ini bahkan bukan akhir pekan ?” Tanya yunmi bingung dengan ajakan kencan jongdae yang tiba-tiba.

Jongdae tersenyum “ada yang ingin ku sampaikan padamu” kata namja itu mengalihkan pandangannya lurus ke depan.

“Sesuatu ?” penasaran yunmi mendongak menatap namja di sampingnya yang tengah mengukir senyum khas miliknya.

“Eum, sebuah kabar bahagia” jawab jongdae membalas tatapan yunmi.

“Apa ?”

Jongdae menghentikan langkahnya membuat yunmi repleks mengikutinya, namja itu kemudian memiringkan tubuhnya menghadap yunmi yang menatap bingung padanya.

“Aku di terima menjadi karyawan di perusaahan appa” kata jongdae dengan wajah berbinar.

Yunmi membola, ekpresi tidak kalah berbinar tercetak di wajah manisnya. “Benarkah ? woahhhh selamat chagi-ya. kau pasti bahagia karena usahamu masuk bukan karena kau anak dari pemilik perusahaan. Kau masuk dengan cara yang sama dengan orang lainnya” kata yunmi berbinar.

“Aku bangga padamu” lanjut gadis itu.

Jongdae tersenyum kemudian menatap yunmi yang masih memandangnya dengan tatapan dalam.

“Yunmi-ya” panggil jongdae lembut.

“Hmmm”

“Coba lihatlah bunga itu” tunjuk jongdae pada deretan bunga di sisi kiri yunmi.

“Heum, yang mana chagi-ya, di sana banyak bunga” yunmi mencari-cari pada arah tunjukkan jongdae sebelumnya.

“Aniya bukan di sana. Tapi di sini” kata jongdae lagi.

“Heum” yunmi kembali memalingkan wajahnya. Gadis itu tersentak menatap jongdae diam saat mendapati dua cincin mengantung indah di antara dirinya dan jongdae.

Dua cincin yang tergantung indah bak bandul dari rantai putih yang di pegang jongdae sukses membuat yunmi mematung di tempat membuat jongdae kembali menyunggingkan senyum hangatnya.

“Yunmi-ya” panggil jongdae. “Chagi, kau tau aku begitu mencintaimu. Beberapa tahun telah kita lewati bersama dan aku semakin sadar aku tidak bisa jika tidak tanpamu dan aku selalu ingin bersamamu, aku akan merindukanmu jika kau tidak bersamaku bahkan hanya untuk satu detikpun” kata jongdae lembut membuat detak jantung yunmi memompa darahnya cepat mengalirkan ke seluruh tubuhnya membuatnya memanas dalam diam.

“Sekarang meski aku baru memulainya, aku yakin bisa melewatinya bersamamu. Aku ingin membahagiakanmu dan aku janji aku akan bertanggung jawab. Jadi chagi-ya, maukah kau menikah denganku ? Melewati hari-hari selalu bersama denganku selamanya” kata jongdae mantap.

Yunmi mengerjap pelan, kembali mengumpulkan kesadarannya yang melayang saat menatap dan mendengar penuturan indah yang keluar dari bibir jongdae mengalun menyentuh indera pendengarannya.

“Chagi-ya” kata yunmi pelan, meraih rantai yang menguntaikan dua cincin indah tersebut bepindah dari tangan jongdae ke tangannya.

“Indah, benar-benar indah” gumam yunmi menatap dua cincin di telapak tangannya.

“Tapi chagi-ya” yunmi kembali bersuara.

“Hmmm”

“Ku rasa aku belum bisa menerimanya” kata yunmi pelan takut melukai perasaan jongdae yang sungguh sangat di cintainya.

“Ku rasa aku belum pantas chagi-ya, aku belum siap untuk beberapa hal” kata yunmi menatap bersalah pada jongdae.

“Mianhae” kata yunmi memelan bersamaan dengan wajahnya yang kembali menunduk.

Lama jongdae terdiam. Menunduk untuk kemudian mengambil nafasnya pelan “aniya, gwenchana. Aku tidak akan memaksamu” kata jongdae hangat membuat yunmi kembali mendongakkan wajahnya.

“Kau tidak marah ?”

“Kenapa aku harus marah ? Kau hanya menolak lamaranku bukan memutuskanku” kata jongdae sembari menyunggingkan senyumnya.

“Gumawo” kata yunmi lega. “Ini aku kembalikan padamu” yunmi kembali mengulurkan cincin yang tadi di raihnya.

“Ku harap kau akan menyimpannya dan suatu hari nanti saat aku telah siap, aku akan memintamu untuk memakaikannya padaku” lanjut gadis itu lembut yang di sambut jongdae dengan senyum terbaiknya.

Jongdae kembali menyimpan cincin-cincin tersebut di balik sakunya, menatap sekilas yunmi yang kembali berdiri di sisinya dengan wajah bersalah.

“Hahhh! Kau ingin ice cream” tawar jongdae dengan suara lantangnya menatap yunmi dengan senyum menenangkan membuat gadis itu kembali menatapnya kemudian mengangguk antusias.

“Kajja!” Seru jongdae menggandeng kembali lengan yunmi dan merajut langkah keduanya.

*flashback end*

Jongdae menilik wajah yunmi yang kini hanya diam di sampingnya. “Kedua kau menolakku saat aku melamarmu di libur musim panas kita”

*flasback on*

Jongdae terus mengayuh sepedanya dengan kencang, senyum bahagia terukir sempurna di wajah namja itu saat dirasanya lengan seseorang yang duduk di belakangnya mengencang seiring dengan lajunya kecepatan sepeda yang di kemudikannya.

“Yak! yak! Chagi-ya. Kau mau membuat kita terjatuh ?” Rutuk yunmi sesaat ketika jongdae menghentikan laju sepedanya tiba-tiba.

Jongdae masih mengukir senyumnya meski yunmi telah membentaknya dengan suara cukup keras.

“Aku senang saat mengayuh sepedaku cepat kau memelukku semakin erat, bahkan sekarangpun kau masih memelukku” kata jongdae membuat yunmi tersadar akan lengannya yang masih melingkar sempurna di pinggang jongdae. Dengan cepat gadis itu menurunkan lengannya dengan wajah tertekuk yunmi turun dari sepeda jongdae dan melangkah melewati namja itu.

Jongdae lagi-lagi tersenyum, memarkirkan sepedanya di tempat kemudian berlari menyusul yunmi yang masih kesal padanya.

Jongdae meraih pundak gadisnya dan memeluk gadis itu gemas.

“Mianhae, aku menggodamu berlebihan” jongdae meminta maaf namun tidak juga membuat yunmi memberinya tanggapan.

“Apa aku harus menciummu” kata jongdae lagi.

“Yak!” Pekik yunmi dengan wajah kesalnya langsung mengarah pada namja di sisinya.

“Baiklah, baiklah maafkan aku” jongdae mengalah.

“Chagi-ya kau mau naik itu” tunjuk jongdae pada deretan perahu kecil di tepi danau.

“Eoh, eoh, eoh! Aku ingin chagi-ya” kata yunmi antusias dengan mimik wajah yang seketika berubah.

“Kajja!” Jongdae menggiring yunmi untuk mengikuti langkahnya.

Setelah mendayung cukup jauh hingga keduanya berada di tengah-tangah danau jongdae menghentikan dayungannya.

“Yunmi-ya” panggil jongdae pada gadis yang duduk menghadap menghadap dirinya namun tengah sibuk memasukkan lengannya pada jernihnya air danau.

“Woahhh musim panas memang yang terbaik!” Seru yunmi senang.

“Apa kau begitu menyukai summer ?”

“Eum, aku suka matahari yang terik. Aku suka hangatnya dan aku suka karena kita mendapat libur” kata yunmi diakhiri dengan senyum manis yang di berikannya pada jondae.

“Chagi-ya, andai. Andaikan aku jatuh ke danau ini dan aku sama sekali tidak bisa berenang. Apa yang akan kau lakukan ?”

“Aku akan memanggil pihak ke amanan”

“Tidak ada pihak keamanan, kau juga tidak bisa meminta pertolongan. Hanya ada aku dan kau di sini. Jadi apa yang akan kau lakukan ?”

“Aku. Ak-ku, ahh molla. Kenapa kau berandai-andai seperti itu ? Membuatku takut saja. Kau tau kan aku tidak bisa berenang” kesal yunmi.

“Aku tahu, karena itu aku bertanya” kata jongdae lembut.

“Emmmm, aku akan ikut masuk ke dalam danau berusaha menolongmu meskipun aku tidak tahu apa aku bisa atau tidak, yang pasti jika aku hidup aku ingin bersamamu begitupun jika sebaliknya” ungkap yunmi setelah terdiam beberapa detik.

Jongdae tersenyum puas, namja itu mendekat kearah yunmi membuat perahu kecil mereka sedikit bergoyang di atas air. Namja itu memegang lembut kedua tangan yunmi menatap gadis itu tepat di maniknya.

Jongdae mengecup hangat punggung tangan yunmi membuat gadis itu serta merna memancarkan ronanya.

Jongdae melepaskan tangan yunmi, membuat yunmi sadar akan sesuatu telah terpasang indah dijemari tangannya. Yunmi terdiam menatap benda itu ragu.

“Ayo kita hidup bersama yunmi-ya” kata jongdae tulus.

Lama yunmi terdiam dengan wajah yang sulit di artikan.
“Chag-gi-ya” suara yunmi setelahnya.

Jongdae hanya menjawab panggilan yunmi dengan senyum tulusnya.

“Mianhae” kata yunmi pelan kemudian menundukkan kepalanya dalam.

“Kau belum siap ?”

“….” yunmi masih diam menunduk penuh rasa bersalah.

“Tidak perlu meminta maaf chagi-ya, akulah yang seharusnya meminta maaf. Aku terlalu terburu-buru memintamu kembali” kata jongdae tersenyum.

“Yak! Tidak perlu menunduk seperti itu. Chagi-ya lihatlah aku hey”

Perlahan yunmi mendongak menatap ragu pada namja di depannya.

“Aigoo, kau merasa bersalah padaku ?” Kata jongdae mengusap pelan puncak kepala yunmi yang di wajab gadis itu hanya dengan sebuah anggukan lemah.

“Kalau begitu beri aku sebuah kecupan” pinta jongdae yang tanpa sepatah kata protespun segera di berikan oleh gadis di depannya.

CHU~

Yunmi mendaratkan bibirnya kilat mengecup bibir jongdae yang selalu saja memberikan aliran listrik itu menyengat tubuhnya.

Yunmi sekuat tenaga menahan ronanya di depan namja yang tengah menatapnya dengan hangat, senyum yang selalu saja menenangkannya membuatnya merasa nyaman untuk kemudian membalas senyum itu setulus mungkin.

*flashback end*

“Lalu kau juga menolakku saat kita makan siang bersama di taman depan kantormu, ketika aku akan melaksanakan tugas di swiss selama dua bulan”

*flashback on*

Yunmi melambai-lambaikan satu tangannya antusias saat menangkap sosok jongdae yang tengah berjalan ke arahnya dengan membawa dua bungkus plastik berukuran sedang di tangannya.

“Ohh kau membawa begitu banyak” kata yunmi setibanya jongdae di depannya, gadis itu segera mengambil alih kantong plastik dari jongdae meletakkannya di atas kursi taman tempat dirinya menunggu jongdae untuk sekedar makan siang bersama.

“Apa kau menunggu lama ?” Tanya jongdae sembari mendudukkan diri di sisi kosong kursi tersebut.

“Aniya, aku baru saja tiba” jawab yunmi sembari membuka satu persatu kotak makan siang yang tadi di beli jongdae sebelum berangkat menuju taman dekat kantor yeojachingunya itu.

“Mengapa kau membeli begitu banyak chagi-ya ?” lanjut yunmi.

“Yeojachinguku memerlukan banyak energi untuk menyelesaikan pekerjaannya” kata jongdae sembari menyodorkan satu menu makanan kepada yunmi.

“Emmm, gumawo. Kau sudah repot-repot menyusulku”

“Aku tidak pernah merasa repot jika itu untukmu”

Yunmi tersenyum manis, gadis itu mengambil cup minuman dinginnya kemudian menyodorkannya juga kepada jongdae.

“Bukankah ini makan siang terakhir kita ?” Kata yunmi lagi kali ini dengan nada yang sedikit berbeda.

“Hmmmm, kita akan kembali makan siang bersama setelah aku kembali dari tugasku selama dua bulan”

“Kenapa kau pergi lama sekali. Dan kenapa tempatnya sejauh itu” gerutu yunmi membuat jongdae menyunggingkan senyum gelinya.

“Kau akan merindukanku ?”

“Eoh, tentu saja” jawab yunmi dengan wajah kesalnya.

“Chagi-ya, cobalah buka kotak makan terakhir ini” suruh jongdae menyodorkan satu kotak berwarna hijau tua.

“Eoh” yunmi menyambut kotak tersebut, membukanya dan kemudian gadis itu terdiam membeku setelah melihat isi dari kotak tersebut.

“Bagaimana jika kita hidup bersama sekembalinya aku dari tugasku ?” Tanya jongdae penuh harap.

“Chagi-ya” suara yunmi kembali berubah berat.

“Hmmmm”

Yunmi kembali terdiam, pandangannya tidak pernah luput dari cincin-cincin yang sudah begitu familiar di matanya, cincin yang sejujurnya benar-benar ingin dia kenakan. Hanya saja sesuatu membelenggu hatinya, rasa bimbang dan belum siap untuk merubah kesehariannya.

“Kau masih belum siap ?” suara jongdae memecah sunyi yang tercipta di antara keduanya.

Mendapati yunmi yang tidak juga bersuara membuat jongdae tahu betul akan jawaban gadis itu, jongdae menghela nafasnya pelan.

“Chagi-ya, sebenarnya apa yang membuatmu tidak siap heum ? Kita bahkan sudah melewati segalanya bertahun-tahun ?” Tanya jongdae kali ini namja itu tidak bisa menahan rasa penasaran akan alasan penolakan yang di terimanya berkali-kali.

“Kau tidak perlu menjadi sempurna untuk bersamaku. Aku tidak pernah menuntutmu untuk bisa memasak, membersihkan rumah atau lainnya. Aku hanya ingin bisa hidup denganmu, semuanya bisa ku atasi asalkan bersamamu” suara jongdae tulus.

Yunmi memalingkan wajahnya menatap penuh bersalah pada jongdae yang kini menatapnya dengan binar keingin tahuan. Semilir angin musim gugur menerpa wajah keduanya membuat suasana hening itu semakin kentara di rasa.

“Aniya chagi-ya, bukan karena itu” ucap yunmi dengan tatapan sayunya.

“Lantas apa ? Apa kau masih ragu akan perasaanku ? Kau tidak percaya padaku ? Atau kau tidak yakin untuk hidup bersamaku ?”

“Bukan chagi-ya, bukan karena itu. Aku percaya padamu, aku yakin kau begitu mencintaiku dan aku-, aku juga sangat ingin bisa hidup bersamamu” kali ini yunmi telah meloloskan satu bulir bening di sudut matanya.

“Lalu karena apa ?” Suara jongdae melemah.

“Aku hanya bimbang. Aku belum siap untuk kehilangan pekerjaanku saat ini, aku begitu menyukainya” suara yunmi tidak kalah lemah.

Jongdae terdiam. Alasan gadis itu benar-benar membuatnya tidak habis pikir namun juga membuatnya merasa lega karena berbagai kemungkinan yang di pikirkannya selama ini nyatanya hanya ketakuannya semata.

Lagi-lagi jongdae menghela nafasnya pelan “aku tidak akan menyuruhmu untuk berhenti dari pekerjaanmu yunmi-ya”.

“Aku tahu chagi. Tapi cepat atau lambat aku sadar aku harus mengalihkan fokusku hanya pada suamiku nanti. Jadi karena itu kumohon, tunggu aku. Bersabarlah hingga aku siap chagi-ya” lirih yunmi.

Jongdae tersentak akan perkataan yunmi, namja itu tersadar akan egois yang sempat menguasainya dengan rasa bersalah jongdae mendekat merengkuh gadisnya yang hari ini telah meneteskan air mata karenanya.

“Mianhae” suara jongdae lembut. “Maafkan aku karena memaksamu dan tidak mengerti akan perasaanmu” lanjut namja itu sembari mengelus pundak yunmi hangat.

Lama keduanya saling merengkuh hingga akhirnya terasa buliran bening menetesi keduanya.

Tsk! Tsk! Tsk!.

Yunmi mendongakkan kepalanya menatap pada dedaunan yang menguning di atasnya.

“Eoh, chagi-ya. Sepertinya akan turun hujan” suara yunmi setelah menyadari langit telah berubah mendung.

“Kita harus membereskannya dan bergegas pergi sebelum hujan benar-benar turun” lanjut yunmi melepas pelukannya dan segera memberekan kotak makan mereka dengan bantuan jongdae.

Jongdae dan yunmi berlari meninggalkan taman tersebut saat hujan telah benar-benar turun. Jongdae meraih lengan yunmi menuntun gadis itu untuk mengikutinya.

Keduanya berhenti di depan sebuah toko yang kebetulan sedang tutup untuk berteduh di sana. Pakaian yang di kenakan keduanya setengah basah karena terkena hujan saat berlari.

Jongdae melepas jas yang di kenakannya menyampirkannya pada pundak yunmi agar gadis itu tidak kedinginan. Setelah meletakkannya jongdae mengelus lembut rambut yunmi berusaha mengeringkan rambut gadis tersebut dengan tangannya.

Yunmi menatap jongdae dengan senyum manisnya. Gadis itu kemudian melepaskan jas yang tadi di sampirkan jongdae kepadanya saat menyadari namja itu hanya mengenakan kemeja tipisnya.

“Kenapa mengembalikannya padaku ? Apa kau tidak kedinginan ?” Kata jongdae saat yunmi menuntun jongdae untuk kembali mengenakan jasnya.

“Kau yang akan kedinginan jika hanya mengenakan kemeja seperti itu” jawab yunmi masih sibuk menuntun jongdae. “Aku tidak ingin kau sakit saat akan pergi bertugas ke luar negeri” lanjut yunmi tersenyum di depan jongdae.

“Lalu bagaimana denganmu, aku juga tidak ingin kau kedingian dan terkena flu”

“Aku tidak akan kedinginan. Karena aku akan mendapat kehangatan dengan seperti ini” kata yunmi kemudian menghambur kedalam pelukan jongdae.

Jongdae tersenyum bahagia sama seperti yunmi yang juga tengah tersenyum di depan dada jongdae. Namja itu mengelus lembut rambut yunmi membiarkan hangat itu mengeluar dengan sendirinya mengelilingi keduanya dengan perasaan nyaman.

*flashback end*

“Kau juga menolakku lamaranku setelah aku di angkat menjadi general manager di musim dingin terakhir” lanjut jongdae di depan wajah yunmi.

*flashback on*

Jongdae menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya karena dingin yang masih menerpa tubuhnya yang terasa menembus hingga tulangnya.

Kepulan asap mengeluar dari celah yang terbuka diantara kedua bibirnya membuat yunmi yang sedari tadi duduk di depannya tersenyum geli melihat tingkah namjachingunya.

“Apa kau terlalu senang saat menerima jabatan sebagai general manager hingga kau berlari ke sini tanpa jaket tebalmu ?” Tanya yunmi meletakkan kedua tangannya di sisi wajah jongdae.

“Eum” angguk jongdae dengan senyum lebar khas miliknya.

“Ckckc, dasar”

Setelah pelayan datang dan menyajikan makanan yang keduanya pesan, baik yunmi ataupun jongdae terlarut pada makan malam mereka masing-masing.

Jongdae meletakkan garpu dan pisau miliknya menandakan ritual makan malam dirinya telah selesai.
Namja itu kemudian menenggak wine yang masih setengah di dalam gelas miliknya.

Jongdae memandang dalam yunmi yang kini juga tengah menenggak wine miliknya.

“Kenapa menatapku seperti itu ?” Tanya yunmi yang merasa risih karena terus mendapat pandangan dalam dari jongdae.

Jongdae mengukir senyumnya, meraih satu lengan yunmi dan menggenggamnya hangat. Tatapan namja itu berubah serius membuat yunmi merasa akan sebuah sinyal yang selalu di takutinya.

“Chagi-ya, apa kau sudah memikirkannya ?” Suara jongdae membuat yunmi menatap namja itu dalam. Benar pertanyaan inilah yang selalu di takutinya.

Yunmi hanya diam, menatap jongdae dalam tatapan yang seolah memberi semua jawaban pada namja yang masih menggenggam lengannya erat itu.

Jongdae menghela nafasnya berat, namja itu kemudian mengukir senyum tulusnya berusaha tidak menampakkan kekecewaan di wajahnya.

“Arasseo, aku mengerti” suara jongdae tulus membuat perasaan yunmi menghangat, gadis itu tersenyum mengelus lembut punggung tangan jongdae yang menggenggamnya.

Masih dengan saling memandang satu sama lain, satu lengan bebas jongdae kemudian turun meraih sesuatu di balik saku jas hitam yang di kenakannya. Namja itu mengeluarkan sebuah kotak kecil beledru berwarna biru malam, menyodorkannya di atas meja ke arah yunmi membuat kedua alis gadis itu mengerut bingung.

“Kau simpanlah. Aku akan menunggumu hingga kau siap dan memintaku untuk mengenakan benda ini di jari manismu” suara jongdae kemudian.

“Ch-ag-gi-ya” ragu yunmi.

“Gwenchana. Aku akan menunggumu” senyum jongdae tulus.

Ragu-ragu yunmi meraih kotak tersebut menyimpannya hingga dirinya benar-benar yakin untuk mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya itu.

Yunmi mengambil alih lengan jongdae menggenggamnya erat kemudian berkata.

“Aku akan memintanya padamu suatu hari nanti. Percayalah” kata yunmi mendapat anggukan kecil dari jongdae yang masih menyuduhkan senyuman tulus miliknya, senyuman yang seolah selalu di berikannya kepada yunmi apapun yang gadis itu lakukan meski menyakiti sang pemilik senyum itu sendiri.

*flashback end*

“Bagaimana kau mengingatnya nyonya kim ?” Tanya jongdae dengan senyum sumringahnya menyadarkan yunmi dari ingatan masa lalunya.

“E-eoh aku mengingatnya” aku yunmi. “Jadi setelah lamaranmu di musim dingin itu kau merencanakan cara licikmu itu ? Tanya yunmi kemudian.

“Ya, namja mana yang tahan setelah di tolak berkali-kali oleh yeojachingunya ? Mungkin jika itu bukan aku, namja itu akan pergi bahkan setelah di tolak pertama kali” suara jongdae yang sukses membuat yunmi terdiam.

“Jadi, apa mereka lebih romantis dari kita ?” Lanjut jongdae menilik wajah yunmi yang masih diam mematung.

“Entahlah, kau mau mandi ? Aku akan menyiapkan air hangat untukmu ?” Kata yunmi mengalihkan topik pembicaraan, bangkit dari posisi tidurnya kemudian hendak berdiri menuju kamar mandi. Namun, baru saja wanita itu menggeser tubuhnya jongdae dengan cekatan mencekal lengan yunmi menyapukan singkat bibirnya di bibir pink istrinya.

Hanya sebentar, setelahnya namja itu kembali menarik wajahnya menatap yunmi dalam menyunggingkan sebuah seringaian yang yunmi begitu hapal artinya.

Jongdae melepas cekalannya mengalihkan dua lengannya menuju pundak yunmi, perlahan namja itu kembali mendekatkan wajahnya memangkas jarak yang tadi di buatnya.

Saat jarak diantara keduanya tersisa beberapa centi, jongdae menutup matanya bisa namja itu rasakan hembusan nafas hangat teratur yunmi membuatnya semakin mendekat dan-

“Yak! apa yang kau lakukan ? bukankah ku bilang mandi ?” Suara yunmi menghentikan aksi jongdae yang tinggal sedikit lagi akan-

“Mandilah, kau tidak merasa baumu benar-benar ughh” cibir yunmi sembari mendenguskan hidungnya.

“Aku tidak akan mandi jika kau tidak memandikanku” rajuk jongdae.

Yunmi memutar kedua bola matanya malas, tingkah suaminya ini terkadang memang berada di luar batas kewajaran. “Jongdae-ya, kau sekarang seorang appa, apa kau tidak malu memintaku memandikanmu ?”

“Tapi anakku sudah tidur yunmi-ya, sekarang aku seorang suami yang meminta istrinya untuk memandikan. Apa tidak boleh ?”

Yunmi menghela nafasnya kasar, berdebat dengan jongdae bukanlah pilihan tepat. Namja itu bukan tandingannya karena apapun yang yunmi katakan selalu mendapat elakan darinya yang membuat wanita itu tidak bisa berkata apa-apa lagi.

“Baiklah, suamiku. Kajja” suara yunmi kemudian menarik jongdae menuju kamar mandi.

Jongdae tersenyum penuh kemenangan. Lagi-lagi namja itu bertingkah kekanakan  dengan memberatkan langkahnya saat yunmi menarik lengannya.

“Astaga, kau akan tetap seperti ini ?” Suara yunmi yang mendapat senyuman menggoda namun begitu menyebalkan baginya dari jongdae.

Yunmi mendengus, melepaskan lengannya pada lengan jongdae kemudian melangkah kembali melewati jongdae dan berhenti tepat di belakang namja itu, mendorong tubuh tegap suaminya menuju kamar mandi.

“Kau tidak ingin membukakan kemejaku ?” Pancing jongdae.

“Nanti saja di dalam” jawab yunmi kembali membuat jongdae mengukir senyumnya.

“Kajja! kita sudah sampai. Suamiku akan mandi dan-“

Buk!

DUKKK!

Ceklek.

Yunmi mendorong keras tubuh jongdae saat di bibir pintu kamar mandi, menutup pintu itu keras kemudian menguncinya dari luar.

“Yak! Yunmi-ya, buka pintunya. Kau bilang kau akan memandikanku!” Suara jongdae dari dalam kamar mandi.

“Dalam mimpimu kim jongdae” gumam yunmi di balik pintu.

“Yak! chagi-ya. Kau bercanda eoh ? Yak, aku tidak membawa handuk. Buka pintunya chagi”

“Handuk ada di bawah lemari wastapel chagi-ya! Mandilah dengan bersih!” Suara yunmi dari luar.

“Kau benar-benar melakukannya, kau tega ? Yak, daeul eomma kau-“

“Yunmi-ya!”

“Chagi!”

“Kim yunmi!” panggil jongdae namun tidak juga mendapat jawaban dari sang empunya.

“Arasseo. Aku akan mandi sendiri, ingat chagi aku akan membalas dan menghukummu” suara jongdae lagi kali ini dengan seringaian dan penuh penekanan.

“Kau mendengarnya chagi-ya ?”

“Aku akan menghukummu”

“Kau tau artinya ?”

“Benar. Kau pasti tau”

“Tunggu aku keluar chagi-ya. Aku akan membersihkan setiap sudut dan celah-calah tubuhku”

Fin

Advertisements

One thought on “{Yun-Dae Couple} we are married – Memories

  1. Pingback: {Yun-Dae Couple} we are married – Love You Again | BABY BEE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s