Mask #2End [2/2] – by bebebaek_

image

By bebebaek_

Ketika rasa sakit memberikan sebuah tameng kebencian yang hanya akan luntur dengan sebuah ketulusan.

***

| Mask [1] |

Main cast : Shim Yun Mi (oc), Chen Kim / Kim Jong Dae (EXO).

Genre : crime, romance.

Length : twoshoot | Rating : 16.

Hasil khayalan sendiri, don’t plagiat.

Sorry Bertaburan Typo-.-

.

.

.

“Kau memanggilku Sajangnim ?” Tanya xiumin setelah namja itu berdiri di depan meja kerja atasannya.

“Eoh. Ya. Kau harus menemaniku berkunjung ke divisi pemasaran hari ini” jawab chen serius.

“Apa aku seorang sekretaris ?” Tanya namja manis itu.

“Ya. Anggaplah seperti itu” jawab chen singkat tidak meladeni gurauan sang sahabat bangkit dari kursinya kemudian berjalan meninggalkan xiumin di belakangnya.

“Bagaimana dengan pengiriman barang kita ke thailand bulan ini kepala hwang ?” Tanya chen pada kepala divisi pemasaran sesaat setelah namja berkaca mata itu menunduk mengetehui kehadiran sang presiden.

“Akan segera di kirimkan besok sore sajangnim” jawab namja tersebut.

Di sisi lain ruangan tersebut seorang yeoja yang baru saja bergabung di dalam tim pemasaran menatap bingung pada seseorang yang tengah berbicara dengan kepala divisinya.

Tidak ingin berlarut-larut menahan rasa penasarannya gadis itu segera saja tanpa berbasa-basi menyenggol lengan seorang yeoja yang memiliki meja di sampingnya.

“Jimin-ssi, kau tau siapa namja itu ?” Tanya gadis itu menunjuk bebas seseorang yang di maksudnya.

“Yak, apa yang tunjuk!” Suara jimin pelan namun penuh penekanan, yeoja itu dengan segera menarik tangan karyawan baru yang begitu lancang tersebut.

“Wae ? Memangnya siapa dia ? Mengapa semua orang diam saat dia masuk ke sini ?” Lagi gadis itu bertanya tanpa peduli situasi.

“Yunmi-ya, kau bisa tenang sedikit ? Kau tidak tau siapa siapa orang itu ?” Tanya jimin setelah begitu risih dengan berbagai pertanyaan gadis di sampingnya itu.

“Aku tidak tahu karena itu aku bertanya padamu” jawab yunmi sembari menatap jimin penuh harap.

“Lupakan” kata gadis itu singkat.

“Yak, ayolah siapa dia” desak yunmi sembari menyenggolkan lengannya pada yeoja yang bahkan baru beberapa jam di kenalnya.

“Ishh, kau ini. Ku bilang lupakan. Kau tau namja itu begitu berbahaya” suara jimin lagi penuh penekanan.

“Aeyyy yang benar saja!” Suara yunmi kali ini meninggi membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut menatap tajam kepadanya tidak terkecuali seseorang yang membuat gadis itu begitu penasaran.

Yunmi tersenyum kaku kemudian membungkuk meminta maaf, saat semua orang telah kembali pada kegiatan mereka masing-masing jimin dengan begitu kasar menarik lengannya membuat gadis itu sedikit terhuyung kemudian kembali duduk di kursinya.

“Sudahku bilang untuk diam, kau ini. Kau tau namja itu adalah chen kim pemilik perusahaan ini” jelas jimin membuat gadis di sampingnya melongo dengan mata bulat sempurna.

“Mengapa kau seperti itu ?” Tanya jimin bingung.

“Eoh, tidak. Kau yakin ? Bukankah dia begitu muda ? Ku rasa mungkin saja kami seumuran” ragu yunmi memunculkan kembali wajahnya di balik meja untuk sekedar menatap namja yang masih terlibat pembicaraan serius dengan kepala hwang.

“Ya. Dia memang masih muda, sukses dan kaya. Tapi kau harus menghindarinya. Ah tepatnya kau harus berhati-hati”

“Wae ?”

“Astaga kau ini benar-benar ingin tahu ? Yak, ku dengar namja itu begitu arogan dan sombong. Ya aku bisa melihatnya dengan mata kepalaku sendiri kalau itu benar tapi yang perlu kau takuti adalah dia tidak segan-segan memacatmu jika kau membuat sebuah gosip seperti di lecehkannya atau secamnya” tutur jimin setahunya.

“Dia tidak terlihat seperti seorang yang sombong tapi dia telihat seperti-” kata yunmi pelan namun penuh selidik sembari memperhatikan raut chen.

“Kau hanya belum melihatanya saja” potong jimin.

“Bukankah itu wajar jika dia memecat orang yang memfitnahnya ?” Tanya yunmi terdengar rasional.

“Ya. Tapi mungkin saja orang yang memfitnah berkata sesungguhnya. Kau tahu kekuasaan dapat membelimu” jawab gadis itu tidak kalah rasional.

Sementara itu chen yang masih terlibat pembicaraan dengan kepala hwang dapat mengetahui jika seseorang tengah membicarakannya terlebih saat gadis yang terlihat asing baginya itu mengeluarkan suara tingginya. Chen memusatkan pendengarannya ke belakang setelah gadis itu membungkuk ke semua orang di ruangan tersebut.

“Kepala hwang, bisakah aku ikut memantau pengiriman barang besok sore” suara chen memindahkan topik pembicaraan.

“Nde ?” kejut namja itu sesaat. “Ah tentu saja sajangnim, kau bisa melihat kesana dengan saya” lanjut namja itu setelahnya.

“Kau tidak perlu repot-repot, ku rasa cukup sekretarismu saja yang menemaniku” kata chen sembari mendelik ke arah dua gadis yang sepertinya tengah dalam pembicaraan yang begitu menarik.

“Ya, tentu saja sajangnim” kikuk kepala hwang.

Chen menyeringai sesaat kemudian memegang lengan kepala divisi pemasaran tersebut sebentar dan setelahnya melangkah menuju pintu keluar ruangan tersebut.

Saat namja itu melewati dua meja gadis yang entah sejak kapan berhenti berbicara, chen mengekorkan mata tajamnya pada sebuah tulisan sekretaris di salah satu meja tersebut namja itu juga merekam pandangan gadis asing dengan manik cokelat di meja lainnya yang juga tengah menatapnya dengan tatapan yang baru pertama kali ini di lihat namja itu, bukan tatapan kagum, memuja ataupun menghinanya sebuah tatapan yang berbeda tatapan yang entah mengapa membuat hatinya terasa sejuk.

“Xiumin-ah, ku rasa aku baru pertama kali ini melihat gadis itu” suara chen setelah namja itu keluar dari ruangan tersebut.

“Ya, aku belum meletakkan cv perekrutan karyawan baru di mejamu. Akan ku serahkan setelah istirahat makan siang nanti”

***

Chen tengah berkutat dengan banyaknya kertas putih di depannya, lembar demi lembar kertas tersebut di bacanya dengan saksama terkadang namja itu juga mencoret-coretnya dan terakhir kalinya memberikan sebuah tanda tangan di lembar akhir dokumen tersebut.

Namja itu menghentikan kegiatannya setelah terdengar sebuah ketukan pada pintu ruangannya yang kemudian memunculkan sosok xiumin di balik daun pintu dengan membawa beberapa map di tangannya, namja itu melangkah mendekati meja sang presiden.

“Ini dokumen karyawan-karyawan baru yang di rekrut perusahaan dan ini beberapa laporan bulan lalu” suara xiumin sembari meletakkan beberapa yang tadi di bawanya ke atas meja kerja chen.

“Hmmm” sahut chen meraih tumpukan map tersebut.

“Kalau begitu saya permisi sajangnim”

“Emmm”

Setelah pintu ruangannya kembali tertutup rapat chen membuka salah satu lacinya tangan besarnya terus saja memilah-milah banyaknya tumpukan map dengan tulisan per divisi di bagian atas mapnya, tangan namja itu berhenti kemudian mengeluarkan satu map yang berisi lembar-lembar cv anggota divisi pemasaran.

Chen meletakkan map tersebut di samping beberapa map yang baru saja di letakkan xiumin, membukanya kemudian membalik lembar-lembar cv karyawan dalam divisi tersebut, chen mengambil lembar kedua dari banyaknya lembar cv di dalam map hitam itu membaca sebuah nama kemudian menyeringai tajam.

Seolah teringat sesuatu saat menatap lembar kertas di tangannya dengan segera namja itu meletakkan kertas tersebut diatas mejanya kemudian beralih membuka map yang berada di sebelahnya, chen berhenti membolak-balik lembar kertas tersebut saat mata elangnya menangkap sebuah pas foto seseorang yang di lihatnya beberapa jam yang lalu, seseorang yang memiliki pandangan yang berbeda kepadanya, tanpa sadar namja itu terus saja memperhatikan foto tersebut dalam diam “shim yunmi” gumam chen tanpa ekspresi.

***

“Apa ? Mengapa harus saya ?” Kejut jimin dengan wajah yang seketika memucat saat kepala hwang memberikan perintah untuknya menemani sang presiden perusahaan ke tempat pengambilan dan pengiriman barang.

“Sajangnim sendiri ya memintanya. Kau tidak bisa menolak” jelas kepala hwang menyadarkan jimin akan kekuasaan yang di miliki sang presiden.

“Tapi-“

“Aku tidak bisa berbuat banyak, kau tahu sendiri” potong kepala hwang.

“Arasseo, tapi kepala hwang. Bagaimana jika yunmi ikut, anggaplah pengenalan lokasi bagi karyawan baru” pinta jimin berharap akan ada yang menemaninya.

Sejenak kepala hwang diam. Menunduk perpikir tentang apa yang akan menjadi keputusannya hingga akhirnya namja dengan postur tinggi tersebut mengangguk.

“Baiklah, kau akan pergi dengan yunmi” kata kepala hwang membuat jimin dapat mengukir senyumnya.

Chen tengah mengendarai mobil hitam mewah miliknya bersama dengan dua orang gadis yang satu diantaranya duduk di sisinya dan satu lagi duduk diam di kursi belakang.

Shim yunmi. Gadis yang untuk pertama kalinya chen anggap memiliki pandangan yang tidak pernah orang lain berikan kepadanya kini duduk tepat di sampingnya. Namja itu terkejut sesaat ketika menyadari gadis itu ikut dalam kegiatan pemeriksaan rutin mereka. Namun, setelahnya namja itu kembali dingin. Diam tanpa kata dengan dua bola mata yang tajam memandang lurus pada jalan yang di depannya.

Yunmi diam. Gadis itu bergerak gelisah. Jujur yunmi benar-benar tidak tahan dengan suasana diam tanpa ada yang membuka suara seperti ini. Terlebih aura yang terpancar di dalam mobil saat ini terasa aneh. Sesekali yunmi melirik pada namja yang sedari tadi hanya diam fokus pada jalanan di sampingnya.

Entah mendapat keberanian dari mana, yunmi memandang lama pada chen sang sajangnim. Yunmi merasa namja yang tengah diam, bersikap dingin dan arogan itu hanya menggunakan tamengnya. Namja itu bersembunyi di balik topeng yang di buatnya sendiri. Yunmi yakin namja ini memiliki banyak beban. Ya, yunmi tahu itu bahkan hanya dengan melihat sekilas mata tajam nan lelah chen.

Yunmi mengalihkan pandangannya ketika chen mengerjap dan menatap tajam pada kaca spion belakang di sisi atas kemudinya. Sementara yunmi kembali menatap ke arah luar jendela. Chen dengan seringaian mengerikannya masih memandang gadis yang sedari tadi hanya menunduk diam sejak memasuki mobilnya.

Setelah melihat dan mengawasi pemindahan barang dari tempat penyimpanan ke dalam truk pengangkut yang telah berangkat beberapa saat yang lalu menuju tempat pengiriman kini chen, yunmi dan jimin kembali duduk bersama di dalam mobil Audi Le Mans Concept
milik pemilik perusahaan.

“Sa-jangmin, apa kita tidak pergi ke tempat pengiriman juga ?” yunmi memberanikan diri bertanya karena tidak tahan setelah beberapa lama gadis itu hanya diam bingung mendapati chen yang sedari tadi hanya diam di balik setir tanpa menyalakan mesin mobilnya.

Yunmi mendongak melihat jimin bingung, gadis itu sedari tadi hanya diam dan menunduk. Apa dia sakit ? Benak yunmi.

Baru saja yunmi akan melontarkan suaranya pada jimin namun tertahan karena deheman namja di sampingnya membuat yunmi mengalihkan pandangannya kembali.

“Ehmmmm, shim yunmi-ssi. Bisakah aku meminta pertolonganmu” suara chen untuk pertama kalinya berbica pada yunmi.

“Eo-oh, ya. Pertolongan apa sajangnim ?”

“Bisakah kau membelikanku secangkir coffe latte hangat. Aku merasa dingin dan kerongkonganku terasa kering” kata chen lagi kali ini menatap yunmi di sampingnya.

“Ya, tentu saja. Aku akan segera kembali” kata yunmi dengan senyum polosnya membuka pintu mobil kemudian beranjak menuju kedai coffe terdekat.

Chen menaikkan sudut bibirnya saat yunmi melangkah menjauh dari mobil yang masih terparkir di depan gedung penyimpanan tersebut berbanding terbalik dengan gadis yang menatap cemas kepergian yunmi.

Chen menolehkan kepalanya mengintimidasi gadis yang semakin menunduk dalam menyadari pandangan chen yang mengarah kepadanya.
Chen kembali menyeringai keji, namja itu kemudian bergerak beranjak bangkit dari duduknya dan berpindah dalam sekali langkah duduk di tepat di samping jimin.

Jimin melonjak kaget menyadari keberadaan chen di sampingnya, gadis itu mendongak takut mendapati pandangan tajam chen yang menusuk irisnya. Lengan namja itu mencengkram kedua pundak jimin membuat tubuh gadis itu bergetar hebat.

Yunmi melangkah ringan kembali mendekati mobil hitam yang sudah tertangkap kedua bola matanya, dengan menenteng tiga cup coffe di lengan kanannya gadis itu terus melangkah tanpa curiga.

Yunmi menghentikan langkahnya saat tubuhnya dengan mobil di depannya menyisakan sedikit jarak, gadis itu membeku di tempat menyadari sesuatu yang tengah terjadi di depannya.
Yunmi dapat melihat dengan jelas dua orang di dalam mobil tepat di depan matanya tengah melakukan aktivitas yang tidak sewajarnya di lihatnya.

Bahkan dengan kondisi kaca mobil yang gelap mata bening yunmi dapat melihat jelas bagaimana kondisi jimin dengan pakaian yang sudah begitu berantakan dan tidak pada tempatnya, rok selutut gadis itu tersingkap naik hingga pangkal paha mulusnya, beberapa kancing kemejanya juga telah tidak lagi bertaut sempurna. Kedua tangan gadis itu tertahan di atas kepalanya dengan karena sebuah gelang besi. Yunmi juga dapat melihat dengan jelas seseorang yang berada tepat di atas jimin dengan kondisi pakaian yang serupa, seluruh kancing kemeja namja itu terbuka menampakkan tubuh bagian atasnya menghentak-hentakkan tubuhnya dengan pasti membuat mobil yang di tempati keduanya sedikit bergoyang.

Manik yunmi masih memandang diam pemandangan di depannya, melihat bagaimana buliran bening itu merembes dari sudut mata jimin sementara dirinya masih terpaku di tempat, otaknya benar-benar tidak berfungsi seolah kosong karena keterkejutannya.

Yunmi menaikkan maniknya menatap dalam seseorang yang juga memandang dengan tatapan tajamnya kepadanya, namja itu menatap yunmi. Seolah tidak takut jika sewaktu-waktu yunmi bisa saja berteriak memberitahu semua orang tentang apa yang di lihatnya saat ini. Gadis itu sadar betul jika manik beningnya bertatapan langsung dengan manik gelap namja yang masih menghentakkan tubuhnya di dalam sana, dan entah karena apa gadis itu merasa tidak lagi tahan melihat semuanya. Yunmi memutus pandangannya berbalik kemudian melangkah cepat meninggalkan tempat itu membawa kembali cup coffe yang tadi di belinya.

Mata yunmi memanas. Entah karena apa gadis itu sama sekali tidak tahu, sebuah perasaan aneh menjalar begitu kentara di dadanya. Terasa sakit. Ingin rasanya gadis itu berteriak sekencang mungkin melepaskan perasaan sesaknya yang yunmi sendiri tidak tahu atas alasan apa.

***

Matahari kembali menyapa bumi, menyinari jendela rumah atap kecil seorang gadis yang tinggal di dalamnya seorang diri. Yunmi mengerjapkan matanya beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk dengan irisnya yang masih betah terpejam. Gadis itu bangkit kemudian menggeliatkan badannya dan membuang nafasnya berat. Yunmi menggelengkan kepalnya berusaha melupakan apa yang telah di lihatnya kemarin malam.

Dengan mengenakan pakaian rapi dan rambut yang di ikat menyerupai ekor kuda yunmi memasuki ruangan divisinya, langkah gadis itu memelan saat mendekati mejanya di mana di sebelahnya jimin telah duduk di kursinya nampak sibuk dengan pekerjaannya.

Yunmi memperhatikan dalam diam keadaan jimin, gadis itu nampak pucat bahkan sejak beberapa jam keduanya duduk di kursi masing-masing jimin tidak sekalipun membuka suaranya membuat yunmi juga enggan untuk membuka suara.

“Kenapa kau tidak kembali semalam ?” Tanya jimin memecah keheningan yang tercipta membuat yunmi menoleh dengan tatapan canggungnya pada gadis yang sama sekali tidak mengalihkan tatapannya dari layar komputer miliknya. Ya, jimin bertanya seolah-olah tidak ada yang terjadi kepadanya tadi malam atau gadis itu hanya berpura-pura seakan memang tidak terjadi apa-apa.

“Ah. Ya, mianhae. Aku tersesat dan bingung mencari jalan kembali menuju gedung penyimpanan” suara yunmi canggung berusaha menutupi kejadian yang dia lihat sebenarnya.

“Begitu ? Mian. Kami harus meninggalkanmu karena harus segera melihat barang yang di kirim” suara jimin di buat sebiasa mungkin. Tapi yunmi tahu ada nada sakit di dalamnya.

“Eoh. Gwenchana” jawab yunmi membuat keadaan kembali hening setelahnya.

Jam makan siang hampir berakhir ketika dengan tepat waktu yunmi kembali masuk ke dalam kantor megahnya melewati lobby utama kemudian masuk ke dalam lift menuju lantai dimana ruang divisinya. Saat baru saja pintu lift tersebut hendak menutup sempurna tiba-tiba pintu lift kembali terbuka lebar menampakkan seseorang dengan setelan rapi dan wajah angkuhnya menjegal pintu itu menggunakan satu kakinya.

Yunmi diam di tempat tepat saat maniknya melihat sosok itu dan ketika namja itu masuk berdiri tepat di sampingnya yunmi masih setia dengan sikap bungkamnya.

Chen menaikkan satu sudut bibirnya menyunggingkan seringaian khas miliknya, melirik gadis yang tengah diam membatu di sisinya dengan tatapan lurus ke depan.

“Kenapa kau hanya diam ? Kau takut padaku ?” Suara chen sembari menolehkan kepalanya melihat jelas pemilik manik bening itu.

“Tidak” jawab yunmi singkat masih dengan tatapan lurusnya.

Chen tersenyum sesaat. Senyum yang terkesan meremehkan. “Lalu mengapa kau hanya diam. Bukankah kau melihat semuanya ?”

“Seingatku kita bahkan beradu tatapan kemarin malam” lanjut chen sembari melirik camera cctv di pojok atas lift. “jadi mengapa kau tidak takut ?” Lanjut namja itu penuh penekanan.

“Mengapa aku harus takut ?” Yunmi balik bertanya kali ini gadis itu dengan berani membalas tatapan namja di sebelahnya.

Chen tersenyum sesaat yang detik selanjutnya senyum itu kembali sirna, namja itu kembali dengan tatapan tajamnya dengan secepat kilat lengan namja itu mengayun melempar sesuatu di balik lengannya memecahkan kerasnya camera cctv di dalam lift.

Yunmi tersentak. Gadis itu terkejut dengan bunyi keras yang terdengar tiba-tiba karena benturan camera dengan jam tangan milik namja itu. Yunmi berani bertaruh jam tangan greubel forsey quadruple tourbillion itu pasti memeliki harga yang tidak akan pernah terbayangkan yunmi meski dengan satu tahun gajihnya.

Gadis itu kembali tersentak saat tiba-tiba chen menarik lengannya menyudutkannya diantara dinding lift dan tubuh namja itu. “Kau benar-benar tidak takut ? Aku juga bisa melakukan hal seperti itu kepadamu sekarang” kata chen merekam wajah yunmi dengan mata tajamnya dalam jarak yang begitu dekat.

Yunmi tersenyum. “Kau tidak mungkin melakukannya, di sini di kantormu sendiri” kata gadis itu terlampau begitu berani membalas tatapan tajam chen yang mengintimidasinya.

“Sebenarnya pertanyaanmu bukanlah mengapa aku takut atau tidak. Tapi lebih tepat kepada mengapa aku diam dan tidak menyebarkannya bukan ?” Lanjut gadis itu bertanya.

“Itu bukan urusanku dan aku tidak memiliki hak untuk berkata apapun” lanjut gadis itu kemudian melirik angka yang tertera di atas lift, mendorong tubuh namja di depannya kemudian membungkuk sesaat setelah pintu lift itu terbuka.

“Permisi sajangnim” suara terakhir gadis itu kemudian berlalu meninggalkan chen yang masih berdiri di tempatnya.

Chen tersenyum misterius. Namja itu terus memandang punggung gadis pertama yang berani menatap matanya langsung tanpa rasa takut ataupun benci menimbulkan sebuah rasa penasaran di hatinya membuat chen ingin kembali berada di situasi yang sama dengan gadis tersebut.

Chen merogoh saku jas yang di kenakannya memencet beberapa kali layar datar tersebut kemudian menempelkannya di telinga tajamnya.

“Xiumin-ah, bisa kau ke kantorku” kata chen sembari keluar menuju ruangannya.

“Aku ingin memiliki seorang sekretaris”kata chen menatap xiumin yang telah berdiri di depan mejanya.

“Nde ?” Kaget namja imut itu. “Ah. Ya, aku akan mencarikannya untukmu” lanjut xiumin setelahnya.

“Aku ingin karyawan baru dari divisi pemasaran itu yang menjadi sekretarisku” kata chen lagi semakin membuat terkejut.

“Kau tertarik pada gadis itu ?” Xiumin bertanya sembari tersenyum manis.

“Entahlah” jawab chen sekenanya.

“Baiklah, aku akan mengusahakannya” xiumin kemudian beralalu.

***

Yunmi menatap kepala hwang tanpa berkedip setelah beberapa saat yang lalu kepala divisi pemasaran tersebut menyampaikan transfer atas dirinya dari divisi pemasaran menjadi sekretaris sang sajangmin pemilik perusahaan.

Yunmi mengerjap mengumpulkan kembali kesadarannya, gadis itu kemudian menoleh menilik ekspresi jimin yang duduk di sebelahnya. Namun, yunmi harus puas karena gadis itu hanya diam tanpa sedikitpun komentar.

Gadis dengan rambut sebahu itu menelan ludahnya memantapkan kembali tekadnya sejak awal gadis itu menginjakkan kakinya di perusahaan yang kini menjadi tempatnya berkerja dengan bermodal tekad itulah yunmi menyetujui untuk melalukan transfer dan menjadi sekretaris presiden perusahaan yang terkenal keras, angkuh, sombong dan -.

***

Hampir enam bulan sudah yunmi menjadi sekretaris dari seorang presiden perusahaan. Dalam kurun waktu tersebut juga gadis itu telah mengetahui banyak sifat-sifat yang di miliki chen dan bagaimana cara mengatasinya.

Terkadang namja itu benar-benar menjadi sosok yang mengerikan memberi setumpuk pekerjaan dengan batas waktu yang seolah mencekik yunmi. Namja itu juga akan menjadi sangat menyebalkan jika penyakit percaya diri dan menggodanya kambuh. Tetapi chen juga mampu membuat dada yunmi bergemuruh membuat kedua pipinya memanas dan menyunggingkan senyum tipis karena perhatiannya.

Dari banyaknya sifat chen yang sering kali membuat yunmi bingung, gadis itu menyadari satu hal bahwa namja itu bukanlah orang jahat. Namja yang berusaha menutupi kerapuhannya di balik topeng keangkuhan. Yunmi tahu. Namun, gadis itu hanya diam tidak berani melampaui batasannya saat chen kembali mengenakan topeng tebalnya ketika namja itu menghadapi sebuah tekanan.

Pagi ini saat matahari kembali dari peraduannya, yunmi kembali pada rutinitas hariannya. Gadis itu meletakkan tas yang tadi tersampir indah di salah satu bahunya di atas meja kemudian duduk, mengoperasikan komputer kemudian memeriksa jadwal bulanan sang presiden.

Masih fokus dengan deretan huruf di layar komputernya samar-samar gadis itu mendengar suara keributan di bawah sana. Yunmi melongo menatap bingung ketika beberapa orang dengan seragam yang sama berjalan mendekat ke arahnya. Para polisi itu menorobos masuk ke dalam ruangan presiden perusahaan tanpa meminta izin dan terus berlalu tanpa menghiraukan yunmi.

Yunmi terkejut. Berkali-kali gadis itu menghubungi chen namun ponsel namja itu tidak aktif. Keadaan perusahaan bergejolak, berita tentang penggelapan dana dan hilangnya chen benar-benar membuat keadan perusahaan terpuruk.

Tiga hari berlalu. Kebaradaan chen masih tidak di ketahui oleh siapapun termasuk yunmi dan xiumin. Perusahaan semakin dalam keterpurukan terlebih sebagian dari karyawan memilih untuk hengkang dengan sendirinya dan sebagian lainnya memilih tinggal menunggu kepastian akan nasib perusahaan dan nasib mereka. Di antara sebagian yang memilih untuk tinggal yunmi termasuk salah satunya, gadis itu menunggu chen datang. Yunmi yakin chen pasti akan datang.

Selagi chen menghilang tanpa kabar xiumin terus berusaha mengendalikan gejolak di dalam perusahaan mengambil kendali di bawah situasi darurat. Xiumin berhasil, paling tidak perusahaan masih bisa berdiri dan melakukan aktivitasnya meski terbatas karena pengawasan dan lain sebagainya dari pihak polisi.

Yunmi melangkah gontai melewati gang jalan kecil menuju rumah sewa yang menjadi tempat berteduhnya selama berada jauh dari orang tuanya. Sembari terus menunduk pikirannya melayang pada seseorang yang beberapa hari ini tidak di lihatnya, tanpa gadis itu sadari dirinya mengkhawatirkan chen.

Yunmi tiba di depan pintu rumah atapnya. Gadis itu membeku di tempat menyadari seseorang tengah berdiri di depannya dengan menyilangkan kedua lengannya di depan tubuhnya, namja itu membalas tatapan yunmi.

“Sajangnim” suara yunmi masih tidak percaya orang yang beberapa saat lalu di pikirkannya kini berada di depannya.

Chen diam. Namja itu menatap yunmi dingin kemudian bersuara. “Buka pintumu, aku kedinginan”.

Tanpa ragu yunmi membuka pintu rumahnya mempersilahkan chen masuk meski namja itu menerobos masuk sebelum yunmi meloloskan kalimatnya.

Yunmi mengerutkan keningnya saat chen berlalu melewatinya di depan pintu. Gadis itu bingung bagaimana chen mengetahui rumahnya, namja itu tidak pernah sekalipun bertanya padanya ataupun mengantarkannya.

Tanpa memperduli ekpresi bingung yunmi, chen terus melangkah masuk melihat sekeliling rumah yang terlihat bak sebuah ruangan polos tanpa sekat. Namja itu duduk dengan semena-mena di atas sofa satu-satunya di rumah tersebut.

“Aku tahu alamat semua karyawanku” kata chen sukses membuat yunmi melongo hingga kedua bibirnya terbuka. Bagaimana namja itu tahu apa yang tengah di pikirkannya.

“Kau. Pergi kemana beberapa hari ini ? Kau tau apa yang terjadi di kantor ?” Tanya yunmi membuka suara.

“Hmmm. Aku tahu” jawab chen datar.

“Kau tahu dan kau diam saja ? Mengapa kau tidak kembali dan meluruskan semuanya”

Chen berdecih mendengar perkataan yang baru saja keluar dari bibir manis gadis di belakangnya.

“Sudah hampir setengah tahun kau menjadi sekretarisku. Apa kau begitu bodoh hingga tidak menyadarinya ?” Tanya chen menoleh dan menatap langsung yunmi membuat gadis itu kembali terdiam.

“Aku tahu kau gadis cerdas kau pasti tau apa yg terjadi saat ini” lanjut chen.

Yunmi masih terdiam. Lama keduanya sama-sama diam dengan hanya memandang satu sama lain membiarkan segala pertanyaan di benak mereka meluap dan saling mendorong menuntun jawaban.

“Kenapa kau melakukan hal itu ? kau tau itu salah tapi kenapa-” kata yunmi memberanikan diri meski dengan pertanyaan yang seolah sengaja gadis itu gantung.

“Hanya itu cara berbinis yg ku tahu, hanya itu cara yang ku lihat. Cara yang di wariskan ayahku untukku” kata chen menerawang.

“Tapi-“

“Apa kau punya handuk” potong chen, tidak ingin mendengar pertanyaan gadis itu lagi.

“Kenapa ?” Bingung yunmi.

“Aku ingin mandi”

“Di sini ?”

“Ya. aku akan menginap di sini beberapa waktu” jawab chen sekenanya.

“Tapi- sajangnim apa. Rumahmu ?”

“Rumahku juga telah di geledah polisi sialan itu” kata chen dengan tenangnya kemudian namja itu berlalu menuju satu-satunya ruangan lain yang memiliki pintu di dalam ruangan persegi tersebut.

Malam semakin larut. Yunmi telah siap untuk berangkat menuju alam mimpinya. Gadis itu sedikit mendongak menilik punggung chen yang tengah berbaring di atas sofa dengan selimut yang tadi di berikan yunmi. Namja itu telah terlelap, terbukti dengan teraturnya deru nafas chen yang dapat di dengar yunmi dengan jelas.

Berbeda dengan sang tamu yang terlelap dengan mudahnya yunmi justru tidak bisa memejamkan matanya. Gadis itu terus saja merasa gelisah. Yunmi tahu tindakannya salah karena menyimpan seorang buronan tetapi gadis itu benar-benar tidak tega untuk melapor kepada polisi.

Lelah dengan berbagai pemikiran di kepalanya membuat yunmi akhirnya memejamkan matanya. Namun baru saja gadis itu mulai terlelap yunmi kembali membuka matanya saat mendengar suara gelisah yang berasal dari sofa.

Penasaran. Yunmi mendekat ke arah sofa dan mendapati chen yang masih memejamkan mata dengan keringat dingin yang bercucuran dengan ragu-ragu yunmi menggenggam tangan chen, gadis itu mengetahui jika namja itu pasti tengah bermimpi buruk. Ya, yunmi tahu chen memiliki banyak beban yang sepertinya semakin berat dengan masalah yang baru saja menghantam perusahaan.

Chen membuka matanya dengan nafas tersengkal, namja itu berusaha bangkit dan ekpresi terkejut begitu kentara di wajah basahnya saat mendapati tangannya tengah berada di dalam genggaman yunmi. Menyadari hal itu yunmi ikut tersentak kemudian melepas genggamannya.

“K-au mimpi buruk ?” Tanya yunmi berusaha menutupi  rasa gugupnya.

“Hmmm”

“Sepertinya kau sering mengalami mimpi buruk” tebak yunmi asal.

“Bukan urusanmu” ketus chen.

“Ya, tapi jika mimpi itu terus berulang dan mengganggumu ada baiknya kau bercerita kepada orang lain agar tidak menjadi beban untukmu, dengan bercerita kau pasti akan merasa sedikit lebih nyaman” jelas yunmi membuat chen terdiam tanpa menanggapi perkataannya.

“Dulu saat aku sering bermimpi buruk, eommaku bilang bercerita akan membuatku lega dan itu benar. Aku merasa nyaman setelah bercerita kepadanya. Kau bisa bercerita kepadaku jika kau mau.” lanjut yunmi namun chen tetap diam tidak bergeming.

Yunmi menghela nafasnya pelan. “Baiklah jika kau tidak ingin bercerita. Aku akan kembali tidur” kata gadis itu kemudian bangkit berniat kembali menuju tempat tidurnya. Saat yunmi bangkit dan akan mengayunkan langkahnya chen tiba-tiba bersuara.

“Ayahku di bunuh tepat di depan mataku. Saat aku tengah menangisi kepergian ayahku dalam kondisi bersimbah darah aku melihat ibuku di perkosa oleh orang yang telah membunuh ayahku. Orang yang selama ini dianggap sebagai teman oleh ayah dan ibuku. Dengan begitu kejinya orang itu  tersenyum ke arahku menunjukkan kekuatan dan kekuasaanya. Saat aku tengah menatap benci pada orang itu aku melihat lengan ibuku yang bergetar berusaha meraih pisau buah yang terletak di atas nakas. Ibu mengiris nadinya. Lengannya di penuhi darah. Aku berteriak meminta pertolongan, tapi apa ? Orang itu. Orang itu tertawa, bahagia melihat hancurnya keluargaku. Aku hanya bisa menitikkan air mata untuk kesekian kalinya saat melihat ibuku meregang nyawanya” chen bercerita tentang masa lalunya, kepedihannya yang selalu mengikutinya bahkan kemanapun dirinya pergi.

Yunmi mematung mengetahui betapa beratnya hidup yang telah di lalui namja di depannya saat ini, gadis itu kembali duduk di sisi sofa mendengarkan cerita chen yang baru saja namja itu mulai.

“Setelah memastikan tubuh ibuku tidak lagi bernyawa. Orang itu melangkah mendekatiku, meraih lenganku dengan lengan kotornya kemudian membawaku ke negara asalnya. Orang itu mengangkatku sebagi anak yang sebenarnya hanya di jadikannya kedok untuk mengambil alih kekayaan yang di miliki ayahku. Bahkan saat di rumahnya aku sama sekali tidak di perlakukan sebagai anak. Aku hanya menjadi seorang pelayan untuknya, pelayan yang melayani pestanya bersama wanita-wanitanya, mengantarkan wine dan cemilan kemudian kembali merapikan kamar tersebut keesokan harinya. Aku begitu kesepian. Ingin rasanya aku bunuh diri, tapi aku bertekad untuk balas dendam padanya suatu hari nanti. Dan ketika orang itu membawa xiumin ke rumahnya, aku merasa memiliki seorang teman karena itu aku selalu berusaha melindunginya. Aku tidak memperbolehkannya untuk mengantar minuman ataupun makanan saat orang itu tengah berpesta, aku tidak ingin xiumin menjadi seperti diriku” chen mendongak sesaat menatap wajah yunmi yang sedari tadi setia mendengar ceritanya tanpa suara, gadis itu membalas tatapan chen dengan mata basahnya.

“Aku ingin membalas dendam. Aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri. Membunuhnya seperti dirinya membunuh kedua orang tuaku. Tapi aku tidak bisa, karena saat itu aku tidak memiliki kekuatan dan saat aku sudah beranjak dewasa orang itu mati dengan begitu gampangnya. Karena penyakit ? Aku benar-benar tidak terima. Mengapa dirinya mati dengan begitu mudah bahkan sebelum aku menyentuhnya. Aku ingin membunuhnya!” Suara chen meninggi di penuhi emosi yang meluap dari hatinya.

Tidak tahan melihat seseorang di depannya menahan sakit yang teramat yunmi yang telah meloloskan air matanya segera memeluk namja itu, memberikan kehangatannya berharap dengan itu chen dapat kembali tenang.

“Aku ingin membunuhnya. Aku orang jahat. Aku benar-benar buruk. Aku tidak pantas untuk hidup” suara chen lemah di pundak yunmi.

“Aniya. Kau bukan orang jahat. Kau orang baik. Kau baik kim jongdae-ssi” suara yunmi sembari mengelus pelan punggung chen.

Chen yang untuk pertama kalinya mendengar seseorang memanggil namanya dengan sebutan itu kembali setelah puluhan tahun berlalu lantas merenggangkan pelukannya menatap penuh tanya pada yunmi.

“Kau orang baik kim jongdae-ssi, hanya jalanmu yang salah bukan berarti kau tidak bisa untuk kembali dan menemukan lagi jalanmu” kata yunmi lembut.

“Kau. Dari mana kau-“

“Maaf karena lancang melihat profilmu. Tapi aku berani bersumpah aku tidak sengaja waktu itu aku melihatnya ketika memeriksa file jadwal meetingmu” kilah yunmi setelahnya.

Chen tersenyum mendapati ekpresi yunmi yang begitu cepat berubah. Melihat hal itu yunmi ikut tersenyum.

“Kau kim jongdae jika tengah tersenyum seperti ini” kata yunmi membuat senyum chen sirna.

“Jongdae terdengar lebih baik untukmu dari pada chen. Euhhh nama itu benar-benar memiliki aura gelap” lanjut gadis itu dengan nada bercanda membuat chen kembali mengukir senyumnya.

Yunmi tersenyum, melihat dengan dalam namja yang juga tengah tersenyum kepadanya. Benar, ini adalah kim jongdae seseorang yang bersembunyi di balik angkuhnya seorang chen. Benak yunmi berujar.

***

Aroma roti yang sedang di panggang merasuk menyapa indera penciuman yunmi mengembalikan kesadaran gadis itu dari alam mimpinya.

Yunmi menggeliatkan tubuhnya di atas tempat tidur, beberapa kali gadis itu mengerjap pelan untuk mengembalikan fokusnya. Iris bening gadis itu menangkap seseorang tengah berdiri memunggunginya di depan dapur kecil rumahnya.

“Kau membuatnya sendiri ?” Tanya yunmi setelah duduk di meja makan berhadapan dengan chen yang baru saja mendudukkan tubuhnya dan menyerahkan secangkir susu hangat kepada yunmi.

“Hmmmm”

“Ku kira kau seorang sajangnim yang hanya bisa menyuruh-nyuruh bawahanmu” suara yunmi menyampaikan keterkejutannya akan sesuatu yang baru di ketahuinya dari namja di depannya itu.

“Makanlah, aku hanya menemukan roti dan sekotak susu di rumahmu” kata chen dengan nada dinginnya.

“Eoh” kata yunmi mengambil roti di depannya. “Sikapnya kembali lagi” gumam yunmi sebelum gadis itu memasukkan roti ke dalam mulutnya.

Selesai dengan sarapan mereka masing-masing, yunmi yang berniat bangkit untuk kemudian membersihkan dirinya harus mengurungkan niatnya karena sesaat ketika gadis itu hendak beranjak chen meraih lengannya memandangnya dengan tatapan penuh beban. Yunmi diam menunggu namja itu bersuara.

“Apa kau tau hukuman untuk seorang koruptor dan pemerkosa ?” Tanya chen dengan wajah datarnya.

Yunmi masih terdiam. “Emmm, aku tidak begitu tahu dengan hukum tapi jika kau sadar akan kesalahanmu dan me-menyerahkan diri menurutku hukumanmu mungkin ya mungkin saja mendapat beberapa potongan” kata yunmi dengan senyum yang benar-benar di paksakan.

“Yunmi-ya, bisa aku meminta tolong padamu ?” Kata chen masih dengan wajah datar dan lengan yang menyentuh lengan yunmi.

“Hmmm, jika aku bisa aku akan membantu” jawab yunmi ringan.

“Bisakah kau menjaga perusahan dan menungguku ?” Kali ini perkataan chen denga nada yang terdengar berbeda di telinga yunmi.

“Sa-jangmin” suara yunmi pelan karena keterkejutannya. “Apa kau-” lanjut gadis itu sengaja menggantungkan perkataannya namun cukup membuat chen mengerti. Namja itu hanya tersenyum sendu menjawab segala pertanyaan di benak yunmi.

***

Sidang putusan atas kasus penggelapan dana dan pemerkosaan yang di akui oleh chen akhirnya di gelar. Namja itu di jatuhi hukuman delapan tahun penjara dan denda senilai 5.690.000$. Tidak berbeda dari chen, xiumin juga di tahan hanya saja masa tahanannya lebih singkat di banding chen.

Yunmi yang menyaksikan sidang putusan tersebut berdiri dan menatap lurus pada seseorang yang berjalan keluar dari ruangan dengan di dampingi dua orang yang berseragam sama di sisinya. Chen tersenyum. Senyum yang yunmi ketahui adalah sebuah senyuman tulus dengan perasaan yang bercampur aduk yunmi membalas senyum itu.

Kini yunmi menjadi pemegang sementara perusahaan K company. Tidak pernah gadis itu bermimpi apalagi membayangkan hal seperti akan terjadi dalam kehidupannya. Ya, yunmi hanyalah seorang gadis yang berasal dari sebuah keluarga sederhana, dengan bermodalkan otak yang cerdas dan ketekunannya gadis itu mengandalkan beasiswa yang di dapatnya untuk mengenyam pendidikan di seoul.

Hari demi hari yunmi lewati. Masa-masa sulit itu perlahan berlalu. Perusahaan kembali mendapat izin untuk melakukan kegiatannya, mengembalikan eksistensi yang beberapa waktu lalu luruh.

Setiap akhir pekan yunmi selalu menyempatkan dirinya untuk berkunjung menemui chen. Gadis itu akan berbagi banyak hal, cerita tentang perusahan yang kembali berkembang, bahkan tentang hal pribadinya. Waktu seolah berjalan begitu cepat ketika yunmi menyadari penjaga ruangan tersebut menghampirinya menandakan jam besuknya telah berakhir.

Yunmi menatap chen dengan senyum manisnya yang di balas namja di depannya itu dengan senyuman yang tidak kalah manisnya. Sekarang namja itu tidak lagi seorang yang angkuh, sombong dan arogan. Topeng itu perlahan telah di buka chen berharap bisa meninggalkannya dan berubah menjadi sosok yang baru.

“Ahhh, sudah berakhir ternyata. Baiklah, aku akan pulang. Minggu depan aku akan kembali lagi. Fighting! Kim jongdae-ssi” kata yunmi masih dengan senyumnya kemudian berlalu meninggalkan ruangan persegi tersebut.

Ya, setelah chen memutuskan untuk menyerahkan diri. Setelah kejadian malam itu dimana chen yang juga tidak mengerti mengapa dengan mudahnya dirinya bercerita tentang hidupnya, tentang masa lalunya kepada seorang yunmi, gadis yang sekarang selalu memanggilnya dengan nama lamanya, gadis yang perlahan membuat dunianya berubah membuat bibir kakunya perlahan terbiasa menyunggingkan sebuah senyuman.

***

Seoul, 2016.

Yunmi berdiri dengan kemeja dan rok kerja kantorannya dengan di lapisi sebuah coat berwarna hitam gadis itu berdiri di depan sebuah pintu besi besar. Yunmi tidak seorang diri tepat di sampingnya sang manager yang juga masih mengenakan pakaian kantoran berdiri dengan menenteng sebuah kantong plastik kecil.

“Kau membawanya ?” Tanya yunmi pada namja di sampingnya.

“Eoh. Tentu saja” jawab namja itu dengan senyum manisnya.

“Kau yakin dia akan memakannya xiumin-ah ?” Ragu yunmi.

“Aku akan memaksanya” jawab xiumin masih mempertahankan senyum manisnya. Ya, namja itu telah kembali pada posisinya setelah menyelesaikan hukumannya dua tahun yang lalu.

Keduanya kembali diam, tidak ada pembicaraan yang kembali tercipta diantaranya membiarkan mereka dengan pikiran masing-masing hingga ketika pintu besar  tersebut bergeser membuat bunyi yang terdengar begitu berat mengalihkan fokus yunmi dan xiumin yang menampakkan seseorang dengan tubuh kurus dan rambut cepak yang menutupi sebagian dahi di baliknya.

Yunmi dan xiumin segera melangkah menghampiri namja yang juga melangkahkan kakinya pelan melewati pintu besi tersebut.

“Ini. Makanlah ini” kata xiumin segera setelah tiba di depan chen. Menyodorkan plastik kecil yang tadi di bawanya.

Chen mengambil plastik tersebut membukanya kemudian tersenyum saat mendapati tahu putih di dalamnya.

“Makanlah, setelah ini kau akan menjadi pribadi yang berbeda” xiumin menambahkan.

Chen hanya diam mempertahankan senyumnya kemudian melahap tahu tersebut tanpa protes membuat xiumin kembali mengukir senyumnya.

“Ahh, aku tidak bisa mengantarkanmu sajangnim. Aku harus ke gudang penyimpanan baru sekarang. Tapi kau tenang saja yunmi akan mengantarkanmu” kata xiumin lagi setelah chen menyelesaikan aktivitas mengunyahnya.

Chen mendelik, menatap gadis yang sedari tadi belum bersuara kepadanya.

“Kalau begitu aku permisi” lanjut xiumin berlalu meninggalkan keduanya.

“Mengantarkanku kemana ?” Tanya chen bingung. Setahunya dirinya sama sekali tidak memiliki tempat tujuan sekarang.

Yunmi tersenyum mendapati wajah chen yang terlihat begitu polos saat tengah kebingungan. “Kau ikuti aku saja. Kajja!” Kata yunmi kemudian beranjak dari tempatnya yang di iringi chen masih dengan bingung.

Yunmi dan chen telah tiba di sebuah apartement sederhana namun memiliki fasilitas yang lengkap.

“Kenapa kita ke sini ?” Tanya chen dengan kedua alis yang mengerut.

“Apa ini tempat tinggal barumu ?” tanya namja itu lagi.

Yunmi tersenyum geli mendapati deretan pertanyaan chen. Gadis itu kemudian memalingkan tubuhnya menatap chen yang berdiri di depannya.

“Ini tempat tinggalmu. Aku menemukannya di catatan salah satu aset perusahaan dan aku memutuskan untuk menyimpannya untukmu karena rumahmu yang-. Ah ya, aku sudah menyiapkan segalanya pakaian dan isi lemari es. Besok kau bisa kembali ke kantor, aku akan mengembalikan posisimu” jelas yunmi.

chen terdiam. Namja itu  bejalan mendekat menghampiri yunmi dan memandang gadis tersebut dalam jarak yang lebih dekat.

“Kau mengembalikannya ? Apa kau tidak ingin memilikinya” tanya chen menatap yunmi dalam.

Yunmi mengerut tidak mengerti dengan apa yang di katakan chen. “Memiliki ?” Tanya yunmi tidak mengerti.

“Mana mungkin itu milikmu aku hnya menjaganya sesuai permintaanmu jadi karena kau sudah kembali aku harus mengembalikannya kepadamu jongdae-ya” lanjut gadis itu.

“Bagaimana kalau memilikinya bersamaku ?” Lagi perkataan chen membuat yunmi mengerutkan alisnya.

“Kau ingat satu permintaan lain ku ? Menungguku ? Ku rasa kau selama ini juga mengabulkan permintaanku itu”

“Maksudmu ?”

“Apa kau sudah memiliki namjachingu ?” Tanya chen lagi yang kali ini sedikit menyentak yunmi.

“Ahh me-ngapa menanyakan hal itu ?” Kata yunmi gugup. Entahlah gadis itu tidak mengerti mengapa tiba-tiba perasaanya di jalari sesuatu yang terasa aneh.

Chen senyum kemudian meraih tagan yunmi di sisi tubuh gadis yang masih berdiri di depannya, membuat gadis itu lagi-lagi tersentak karena sengatan kecil di hatinya.

“Sepertinya belum. Yunmi-ya aku tidak tahu apa rasa ini, terasa asing bagiku hanya saja kau. Aku tau kau mampu membuka topengku, membuatku mudah mengulas senyum dan membuat sesuatu berdebar di sini” kata chen membawa lengan yunmi mengarahkannya pada dadanya yang tengah berdebar kuat di dalam sana.

“Yunmi-ya, apa kau mau menemani dan berada di sisiku mengarahkanku kembali pada jalan yg harusnya di situlah aku berada” Lanjut chen.

Yunmi mematung tidak mengerti akan situasi yang di buat oleh namja di depannya. Tubuh gadis itu terasa begitu kaku bahkan untuk berkedip. Sama halnya dengan dada chen yang berdebar kuat, jantung yunmi juga seakan melompat ketika gadis itu menyentuh dan merasakannya.

“Mengapa kau diam saja ? Apa kau tidak mau ?. Ahh aku tahu aku tidak pantas untuk gadis sebaik dirimu. Maaf karna aku terlalu lancang” kata chen dengan wajah yang telah berubah muram.

Chen mengembalikan lengan yunmi yang di tadi di raihnya melepaskannya kembali di sisi tubuh gadia itu. Namun baru saja chen ingin kembali menarik lengannya tiba-tiba lengan yunmi lebih dahulu meraihnya, menggenggamnya sama seperti apa yang dia lakukan sebelumnya.

“ak-ku tidak tahu, aku juga tidak yakin dengan perasaanku hanya saja aku merasa nyaman denganmu, kau bukanlah orang jahat. Jauh di sini-” yunmi melatakkan lengannya di atas dada chen. “Kau orang terbaik yang pernah ku kenal” lanjut yunmi setelahnya.

Yunmi senyum menatap chen juga menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Lama keduanya saling menatap dalam hingga akhirnya pelan-pelan chen memajukan wajahnya memangkas sedikit jarak yang tersisa diantara keduanya dan saat jarak tersebut hilang chen menyentuh benda itu. Benda lembut, manis dan berwarna pink milik yunmi untuk pertama kalinya.

Chen menyapu lembut bibir manis yunmi, perlahan namja itu melumat penuh sayang gadis yang telah berhasil mengambil seluruh perhatiannya itu. Chen memisahkan tautannya memandang bibir yang  memerah karna ulahnya, namja itu kemudian mengalihkan pandangannya mentap langsung manik indah yunmi yang semakin terlihat indah saat di lihat dengan jarak dekat.

“Gumawo” kata chen pelan di depan bibir yunmi yang masih terlihat basah. Gadis itu hanya tersenyum sebagai jawaban atas ungkapan chen, namja itu kemudian kembali meraup bibir yunmi dan saling betaut dalam.

Fin

Hoahhhh… okay terasa panjang kan kan kan ? Yahhh, mungkin ini chap terpanjang yang pernah bebeb tulis dari ff-ff lainnya. Moga gak bosan ya…

Gimana ceritanya ? Ngebosenin kah ? Gak asik kah. Ya, kayaknya gitu deh. Jujur bikinnya susah saking bejibun part-part yang harus di skip dan di delete supaya bisa tetap jadi twoshoot.

Maaf yunmi sama jongdae -yunmi sukanya manggil jongdae- gak bisa sesuitan krenyess (sweet) banyak di sini. Pasti ada yang kecewa deh. *bhaqq di tabok.

Okay lupakan. Dan tentang hukuman chen. Bebeb benar-benar buta sama dunia hukum. Jadi bebeb gak tahu untuk kasus segitu hukumannya harus gimana. So. Harap di mengerti ya…

bebebaek_ (^^)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s