Shouldn’t Have #10

image

By bebebaek_

Prolog | chapter 1 | chapter 2 | chapter 3 chapter 4 | chapter 5 | chapter 6 | chapter 7 | chapter 8 | chapter 9

Main cast : Park Ae Yeon (oc), Oh Se Hun (EXO).

Addicional Cast : Park Chan Yeol (EXO), Nam Hye Jin (oc), Kim Ra Ra (oc), Byun Baekhyun (EXO), Song Ji Min (oc), Kim Jong Dae (EXO).

Genre : family, marriage life, sad, romance.

Length : Chaptered | Rating : PG 15

Hasil khayalan murni, don’t plagiat.

Sorry Typo-.-

.

.

.

Petang menjelang menghamparkan langit jingga di atas kota seoul. Adalah sehun yang masih duduk termenung di kursi kerjanya menatap kosong pada jendela kaca besar yang menampakkan pemandangan padatnya kota diantara banyaknya gedung pencakar langit yang berdiri megah.

Sehun membuang nafasnya panjang seolah dengan begitu namja itu dapat meringankan sedikit beban yang begitu berat di benaknya. Pikiran namja itu melayang pada kejadian beberapa bulan yang lalu dimana dengan penuh keyakinan dirinya menyodorkan surat cerai di hadapan rara.

Sejak hari itu hari-hari sehun terasa semakin berat, dengan bekal sedikit keyakianan tersisa namja itu gigih berusaha kembali membangkitkan perusahaan yang beberapa waktu lalu goyah karena banyaknya para investor menarik diri. Sehun tidak ingin menyerah. Namja itu ingin membuktikan kemampuan dan keyakianan terhadap apa yang di katakannya kepada kedua oranganya.

Sulit memang meyakinkan kedua orang tua sehun untuk percaya pada pilihan dan kemampuannya. Namun toh tuan oh tetap memberinya sebuah kesempatan yang terbukti saat ini perusahaan kembali stabil meski memakan waktu beberapa bulan.

Dalam kurun waktu beberapa bulan usaha sehun kembali memperbaiki keadaan perusahaan dalam rentang waktu itu pula tidak ada kabar ataupun kiriman amplop berupa surat cerai yang di kirim rara padanya. Sehun tahu akan sulit untuknya mendapat persetujuan dari gadis itu namun namja itu tetap menunggu.

Penantian sehun tidak membuahkan hasil sebab hingga perusahaannya kembali stabil sehun tidak juga menerima surat tersebut. Rara juga seolah hilang dari pandangan sehun, berbeda dari biasanya gadis itu tidak pernah sekalipun menampakkan wajahnya di depan sehun setelah kejadian tersebut.

Beberapa waktu yang lalu fokus sehun memang terbagi membuat namja itu sedikit melupakan hal penting dalam kehidupan pribadinya.

Drrrrrtt drttt!

Ponsel sehun bergetar membuat namja itu kembali mengehela nafasnya saat melihat deretan angka yang tertera di atas layar benda persegi tersebut.

Entah apa yang di inginkan oleh sang pemilik nomer yang sehun ketahui adalah milik tuan kim, beberapa bulan belakangan orang-orang tuan kim memang tidak lagi mengusik perusahaan membuat sehun sedikit bisa bernafas lega namun itu tidak berlangsung lama sampai beberapa hari belakangan pria paruh baya tersebut selalu menghubunginya.

Bukan bermaksud tidak sopan hanya saja sehun enggan untuk berbicara terlebih jika harus menerima berbagai ancaman yang hanya akan menambah bebannya.

Sehun masih tetap diam tanpa bergeming memandang dingin pada ponsel yang tergeletak di depannya membiarkan ponsel tersebut terus bergetar tanpa sedikitpun niat untuk menyentuhnya.

.

.

.

Ae yeon duduk di depan meja rias kamarnya, memandang pantulan dirinya yang kini telah di balut dengan dress berwarna peach di atas lutut tanpa lengan, rambut gadis itu di biarkan tergerai indah membuatnya nampak begitu cantik meski hanya dengan sapuan make up tipis.

Ae yeon tersenyum sesaat. Gadis itu bangkit untuk kemudian keluar dari kamarnya menuruni anak tangga dan menghampiri ibunya yang tengah sibuk menata berbagai hidangan untuk jamuan makan malam tamu mereka.

“Eomma, ada yang bisa aku bantu ?” Tanya ae yeon setelah tiba di sisi ibunya.

“Ahh, kau sudah turun. Eoh tolong bantu eomma ambilkan beberapa buah segar yang telah di potong di dapur” pinta nyonya park pada putri semata wayangnya.

“Eum, nae eomma” sayut ae yeon kemudian melangkah menuju dapur.

Ae yeon kembali dengan membawa piring besar berisi potongan buah-buahan segar di kedua tangannya. Gadis itu menghentikan langkahnya saat mendapati seseorang masuk di balik pintu ruang tengah.

Ae yeon tersenyum bahagia, dengan segera gadis itu meletakkan piring yang tadi di bawanya ke atas meja makan kemudian berlari menghambur ke dalam pelukan oppanya-chanyeol.

“Oppa!” Pekik ae yeon sesaat setelah namja itu memasuki ruang makan. “Yak, mengapa kau begitu jahat. Mengapa tidak pernah mengunjungiku atau bahkan menelponku” rajuk ae yeon dalam pelukan chanyeol.

Chanyeol tersenyum. Menyambut adiknya dalam pelukan hangat miliknya, ya dalam waktu yang cukup lama keduanya memang tidak bertemu mengingat rumah sakit tempat chanyeol berkerja berbeda dengan rumah sakit dimana ae yeon menjalani residennya, terlebih chanyeol sekarang memiliki rumah sendiri.

“Aigoo, memangnya hanya oppamu yang seperti itu ? Kau juga sama saja tidak pernah mengabari eomma jika sudah sibuk dengan pekerjaanmu” suara nyonya park menginterupsi kegiatan keduanya. “Ckck, benar-benar sulit mempunyai dua orang anak yang sama-sama sibuk dengan dunianya” lanjut nyonya park membuat ae yeon, chanyeol dan hyejin yang sejak tadi berdiri di sisi belakang chanyeol tertawa bersamaan.

“Jadi oppa sekarang apa alasanmu tidak menghubungi adik manismu ini ?” ae yeon kembali mengintrogasi chanyeol setelah sebelumnya melepas pelukannya.

“Apa eonni ini melarangmu ?” Lanjut ae yeon sembari mendelik jahil pada hyejin membuat wanita itu tidak tahan untuk tidak tersenyum.

“Apa pekerjaanmu begitu banyak ? apa pasienmu ribuan oppa ?”

“Tidak. Pasienku tidak banyak dan pekerjaanku juga sedikit”

“Lalu apa saja kegiatanmu”

“Hanya menjaga istriku” jawab chanyeol sembari merangkul pinggang sang istri.

“Ckckc, berhenti menjadi pasangan romantis di depanku. Eonni sebesar ini mengapa perlu oppa untuk menjaganya. Bukankah aku dongsaeng oppa ? Oppa juga harus menjagaku” kata ae yeon dengan wajah di buat kesal.

Chanyeol tersenyum. Bercanda dan menggoda adiknya memang selalu menyenangkan bagi namja jangkung itu.

“Eonni-mu ini memang sudah besar tapi seseorang di dalam dirinya masih begitu kecil sehingga aku harus menjaganya ekstra” suara chanyeol sembari melirik hyejin kemudian tersenyum bersama.

Baik ae yeon maupun nyonya park terdiam bersama mencerna perkataan chanyeol mencari makna di balik kalimat yang namja itu lontarkan.

“Ahh! apa eonni sedang mengandung ?” pekik ae yeon setelah lama terdiam.

Chanyeol dan hyejin tidak menjawab, pasangan tersebut hanya tersenyum bahagia yang cukup untuk membuat ae yeon dan nyonya park mengerti makna di balik senyum keduanya.

“Aigoo… jadi eomma sebentar lagi akan menjadi halmoni ?” suara nyonya park tidak kalah bahagia. Wanita paruh baya tersebut kemudian beranjak memeluk hyejin yang masih berdiri di sisi chanyeol.

Titt tiit!

Bunyi klakson mobil menginterupsi pembicaraan nyonya park dengan anak-anak dan menantunya. Chanyeol yang tadi menyandarkan tubuhnya di salah satu kursi di depan meja makan lantas bangkit kemudian melangkah menuju pintu utama menyusul tuan park yang memang sedari tadi telah berada di ruang tengah.

Sementara tuan park dan chanyeol menyambut tamu mereka. Nyonya park, hyejin dan ae yeon kembali menata rapi jamuan makan malam di atas meja dan setelah semuanya dianggap telah sempurna ketiga wanita tersebut lantas berdiri berjejer menyambut tamu yang masuk bersamaan dengan tuan park dan chanyeol.

“Ayo masuklah. Tidak perlu sungkan anggap saja rumah sendiri” suara tuan park menyeruak masuk ke ruang makan bahkan sebelum lelaki paruh baya tersebut menampakkan dirinya.

“Hahaha. Maaf merepotkanmu chan seul-ah” suara tuan oh terdengar bersamaan dengan masuknya tuan park dan chanyeol dengan tiga tamu istimewa mereka malam ini.

“Bukankah dulu kita juga sering berkunjung ke rumah masing-masing” lagi tuan park melontarkan perkataan mengingat masa lalu keduanya.

Kedua keluarga tersebut duduk mengelilingi meja makan yang telah di sajikan sang tuan rumah dengan berbagai menu.

Adalah ae yeon yang saat ini duduk dengan menunduk malu saat menyadari seseorang yang duduk tepat di seberang mejanya tengah memperhatikannya dengan tatapan dalam.

Sehun yang terlihat tampan dengan kemeja biru dongkernya berhasil membuat semburat merah di wajah ae yeon begitu kentara, namja itu terus saja memandang ae yeon dalam diam dengan senyum tipisnya. Melampiaskan rasa rindunya setelah lama tidak melihat gadis itu secara langsung.

Ya, keluarga park dan keluarga oh tengah dalam acara makan malam bersama, keluarga park yang tiba-tiba saja mendapat kunjungan dari keluarga oh tentu saja menjamu tamunya dengan begitu istimewa terlebih kedua keluarga itu memang sudah sangat dekat sejak kakek park dan kakek oh yang bersahabat.

Acara yang di adakan kedua keluarga tersebut murni acara makan malam, merekatkan kembali persahabatan yang telah merenggang karena kesibukan masing-masing. Tidak ada pembicaraan sama sekali mengenai perjodohan sehun dan ae yeon yang beberapa saat lalu membuat situasi tidak mengenakkan di antara kedua belah pihak.

Sehun tengah berdiri di salah satu sisi jendela ruang tengah kediaman keluarga park dengan fokus iris tertuju pada satu objek yang tengah begitu manisnya bercengkrama dengan ibu dan keluarganya. Ya, sehun memandang penuh kagum pada ae yeon yang tersenyum manis di sisi nyonya park bercengkrama manis dengan nyonya oh dan hyejin. Di sisi lain sehun juga dapat melihat tuan oh tengah bernostalgia bersama tuan park terbukti dengan tawa yang selalu terdengar di antara cengkrama keduanya.

Sehun mengalihkan fokusnya ketika menyadari seseorang tengah melangkah kearahnya. Sosok yang tingginya setara dengannya itu kini berdiri tepat di sampingnya.

“Sepertinya kau benar-benar menyukai adikku” kata chanyeol membuka suara.

Sehun terdiam. Namja itu hanya kembali memandang seseorang yang tadi di sebut chanyeol adiknya.

“Eoh, aku sangat menyukainya hyung”

Chanyeol nampak menaikkan sudut bibirnya sesaat “tapi ku harap kau masih mengingat perkataanku tempo hari. Bersikaplah layaknya pria sejati” kata chanyeol menatap tajam sehun di depannya.

“Adikku juga begitu menyukaimu, ku harap kau bisa segera menyelesaikan permasalahanmu dan jangan sesekali membuatnya terpuruk dan menangis seperti sebelumnya” lanjut chanyeol.

Sehun menolehkan kepalanya, menatap chanyeol di sampingnya kemudian tersenyum tulus “eum. Aku berjanji” suara namja itu setelahnya.

Lagi chanyol menaikkan sudut bibirnya, menepuk bahu sehun kemudian berlalu bergabung bersama taun park dan tuan oh.

Ae yeon yang sejak tadi memandang penuh tanya pada sehun dan chanyeol yang terlihat sedang dalam pembicaraan serius segera bangkit dan melangkah mendekati sehun setelah chanyeol berlalu dari sisi namja tersebut.

Sehun yang melihat ae yeon tengah berjalan mendekatinya menyambut gadis itu dengan senyuman terbaik miliknya.

“Apa oppa mengatakan sesuatu yang aneh ?” Tanya ae yeon setelah gadis itu tiba di depan sehun.

“Emmm” sehun menggelengkan kepalanya.

“Lalu kalian berbicara apa ?”

“Aniya. Hanya pembicaraan antar lelaki” jawab sehun tersenyum tipis.

“Ckck” ae yeon berdecih kesal membuat sehun semakin tersenyum lebar.

“Mau jalan-jalan denganku sebentar ?” Ajak sehun mengulurkan tangannya.

“Kau lupa ini rumah siapa ?”

“Entahlah, sang tuan rumah tidak begitu peka mengajak tamunya yang sedang kebosanan sendiri” kata sehun kembali mengundang senyum di bibir pink ae yeon.

Ae yeon tersenyum kemudian melangkahkan kakinya melewati sehun beberapa langkah di depannya.

“Kajja!” Suara gadis itu setelahnya.

Sehun menahan senyumnya lantas mengimbangi langkah ae yeon memasuki taman samping kediaman keluarga park.

Keduanya berjalan beriringan, melangkah di atas rerumputan hijau yang terlihat hitam di bawah gelapnya langit meski mendapat penerangan dari bulan purnama.

Sehun menghentikan langkahnya tiba-tiba membuat ae yeon yang berjalan di sampingnya refleks ikut menghentikan langkahnya. Gadis itu mengernyit bingung saat sehun meraih kedua tangannya menggenggamnya dan membawanya ke depan keduanya.

Lama sehun hanya menatap dalam ae yeon di depannya. Masih dengan kedua tangan yang saling bertaut melayang di udara di depan keduanya sehun kemudian melepasnya untuk kemudian memeluk tubuh mungil ae yeon.

“Aku merindukanmu” suara sehun di sisi wajah ae yeon.

Ae yeon terdiam. Gadis itu begitu terkejut dengan tindakan sehun yang begitu tiba-tiba. Ae yeon mengerjap beberapa kali mengumpulkan kesadarannya, mengembalikan kerja sarafnya yang beberapa saat lalu seolah lumpuh hanya karna dekapan hangat dari seseorang yang masih memeluknya.

“Se-sehun-ah” kata ae yeon tergagap karena kerja jantungnya yang tidak terkendali di dalam sana.

“Eumm” gumam sehun menanggapi panggilan ae yeon, namun namja itu masih enggan melepas pelukannya.

Perlahan tangan ae yeon naik menyentuh sisi kemeja yang di kenakan sehun membalas pelukan dari namja tersebut.

“Aku merindukanmu” kata sehun lagi.

“Mianhae. Akhir-akhir ini aku jarang menemuimu di rumah sakit” lanjut namja itu sembari membuka jarak keduanya dan menatap ae yeon di depannya.

Ae yeon tersenyum. Membalas tatapan hangat sehun.

“Gwenchana, aku mengerti. Kau pasti sangat sibuk”

“Eumm. Bersabarlah, sebentar lagi aku akan menyelesaikannya” suara sehun teduh.

“Sehun-ah” ragu ae yeon.

“Hmmm. kau percaya padaku kan ?” Tanya sehun dengan tatapan dan senyum teduhnya.

“Eumm. Aku percaya” jawab ae yeon juga dengan senyumnya.

Lagi-lagi sehun tersenyum. “Kajja, kita harus kembali ke dalam” kata sehun sembari merangkul pinggul ae yeon menuntun gadis itu mengikuti langkahnya.

Saat keduanya baru saja kembali masuk ke dalam kediaman keluarga park sehun menghentikan langkahnya ketika merasakan ponsel di saku celananya bergetar. Namja itu meraih ponselnya melihat sesaat deretan nomer yang tertera di sana menekan-nekan layarnya sesaat kemudian kembali memasukkannya.

“Kenapa tidak di angkat ?” Tanya ae yeon mengetahui sehun memutuskan sambungan sepihak.

“Aniya. Bukan urusan penting” jawab sehun kemudian kembali merajut langkahnya.

.

.

.

Mobil lamborghini Murcielago LP 640 hitam sehun melaju memecah jalanan kota seoul di pagi buta. Ya, sehun masih di sibukkan dengan berbagai meeting yang harus di hadirinya. Masih dengan mengendalikan laju mobilnya satu lengan sehun meraih mencari sesuatu di balik jas yang di kenakannya mengeluarkan ponsel yang tengah bergetar kemudian melihatnya sekilas.

Sehun membuang nafasnya berat karena lagi-lagi nomer itu yang menghubunginya. Sehun melempar asal ponselnya ke kursi penumpang di sampinya tanpa mempedulikan ponsel yang masih bergetar kemudian kembali fokus pada jalan di depannya.

Tidak sampai setengah jam sehun tiba di perusahaan milik ayahnya. Setelah memarkirkan mobilnya namja itu masuk melewati pintu utama kemudian melangkah menuju lift.

Sehun mengarahkan lengannya pada sisi lift memencet tombol lantai tiga yang tertera di sana hingga pintu lift tertutup.

Setelah pintu lift kembali terbuka sehun lantas mengayunkan langkahnya, namun baru saja namja itu berlalu menuju ruangannya ponselnya kembali bergetar. Masih dengan merajut langkahnya sehun mengambil ponselnya kemudian berhenti tiba-tiba. Namja itu membuang nafas panjang. Ya, sehun jengah karena lagi-lagi nomer yang sama menghubunginya terus menerus tidak memandang waktu beberapa hari belakangan.

Sembari mengambil nafas panjangnya namja itu menggeser tanda hijau di layar persegi miliknya menempelkannya di telinganya kemudian bersuara.

“Yeoboseyo ?”

“……”

Tubuh sehun merosot. Wajah namja itu memucat saat mendengar perkataan seseorang di seberang sana. Pikirannya kini berkecamuk hebat, segala sesuatunya terlintas bak lampiran klise di kepala sehun. Kedua kakinya terasa begitu lemah bahkan sehun harus berpegangan kuat pada sisi pembatas jalan koridor atas untuk menopang tubuhnya agar tidak terjatuh. Pandangan namja itu benar-benar kosong. Sehun tidak tahu apa yang harus di lakukannya. Apa keputusan terbaik yang harus di ambilnya dan siapa yang harus di sakitinya.

.

.

.

Dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa sehun turun dari mobilnya mengambil langkah lebarnya untuk kemudian masuki kawasan rumah sakit hwangju.

Sehun tiba di depan sebuah ruangan yang namja itu yakini benar adalah kamar yang di tujunya dari info yang di dapatnya beberapa jam yang lalu. Perlahan dengan pikiran kosongnya sehun meraih kenop pintu tersebut membukanya dan menemukan seseorang tengah berbaring dengan berbagai alat bantu di sisi tubuhnya.

Hati sehun mencelos, nurani bersalahnya mengelekar keluar dengan langkah berat namja itu memasuki ruang perawatan tersebut, menatap pedih pada objek yang menjadi pusat perhatiannya setelah menerima telpon beberapa saat yang lalu.

“S-se-hun-ah” suara pelan itu keluar dari bibir kering sang empunya membuat lagi-lagi perih di hati sehun saat melihat rara, gadis yang selalu mendapat perlakuan dinginnya terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan selang bantu bernafasnya.

Sehun terus melangkah menuju sisi bangsal tempat rara berbaring kemudian berhenti di sana memandang penuh penyeselan pada -istrinya-.

“Kau pasti, ingin mengambil, surat cerai itu” suara rara lagi yang terdengar susah payah gadis itu lontarkan.

“Mian, aku meninggalkannya di rumah” lanjut rara pelan.

Sehun hanya diam mematung di tempatnya, seolah setengah jiwanya melayang karena rasa bersalahnya membuat kerongkongan namja itu tercekat bahkan untuk mengeluarkan kata-kata.

“Maaf membohongimu tentang penyakitku. Aku, apa aku terlihat benar-benar menipumu ?”

Kim rara. Ya, anak satu-satunya dari pengusaha kaya raya kim junsu memang mengidap kelainan jantung sejak lahir. Gadis itu di vonis mengidap gagal jantung yang terjadi akibat rusaknya katup jantung yang membuat  kondisi otot jantungnya menjadi sangat lemah sehingga tidak bisa memompa cukup darah ke seluruh tubuh pada tekanan yang tepat.

Pada sebagian besar kasus, gagal jantung memang merupakan kondisi seumur hidup yang tidak dapat diobati. Oleh karena itu, penanganan efektif yang terdiri dari kombinasi obat-obatan, peralatan penopang jantung, operasi dan gaya hidup yang sehat harus dijalani rara.

Selama ini rara selalu rutin melakukan pengobatan agar jantungnya bisa tetap berfungsi dengan baik. Gadis itu tidak pernah mengeluh bahkan sesakit apapun perawatan yang di jalaninya. Rara selalu optimis bahkan berkali-kali lipat ingin tetap dalam kondisi terbaik saat gadis itu bertemu dengan sehun. Namun, belakangan setelah pernikahan keduanya saat rara mendapati perlakuan dingin dan kenyataan namja itu mencintai gadis lain membuatnya terpuruk terlebih saat namja itu berujar ingin bercerai darinya melunturkan segala keinginan hidupnya membuatnya mengabaikan kondisinya yang berujung pada kembali melemahnya jantung gadis itu membuatnya harus kembali di rawat intensip di rumah sakit.

Tidak ada satu orangpun di luar sana yang mengetahui tentang fakta menyakitkan ini selain orang-orang kepercayaan tuan kim.

Dengan segala bentuk fasilitas yang di milikinya pria paruh baya tersebut gigih melakukan hal yang terbaik untuk putri tersayangnya kerena itu apapun akan di lakukan tuan kim untuk kebahagiaan putrinya meski dirinya harus berubah dari seorang malaikat menjadi seorang iblis berbahaya.

“S-sehun-ah. Aku, masih tidak ingin bercerai denganmu” suara rara kembali menyentuh pendengaran sehun membuat namja yang sedari tadi hanya diam menatapnya tersebut perlahan menaikkan sudut bibirnya.

Sehun tersenyum. Senyum tulus yang untuk pertama kalinya di berikannya kepada rara.

“Aku tidak akan menceraikanmu” suara sehun terdengar begitu jelas di telinga rara.

Kedua mata rara berkaca-kaca, perasaan hangat menjalar di dadanya. Bahagia karena untuk pertama kalinya gadis itu melihat senyum dan perkataan tulus dari namja yang di cintainya terlebih perkataan itu adalah perkataan yang selama beberapa bulan terakhir di harapkannya keluar dari bibir tipis sehun. Ya, harapan itu tidak lagi sekedar harapan. Rara tersenyum haru menatap sehun dengan tatapan dalam membiarkan keduanya di selimuti kesunyian dengan pikiran masing-masing.

.

.

.

Ae yeon melangkah menuruni satu demi satu anak tangga rumah sakit menuju lantai utama dengan senyum yang setia menghiasi wajah manisnya. Ya, gadis itu bahagia. Sangat karena beberapa saat yang lalu ae yeon berhasil mengajukan tesisnya pada profesor ahn.

Sembari bersenandung bahagia ae yeon terus melangkah. Gadis itu lebih memilih berjalan melewati anak-anak tangga daripada lift, suatu kebiasaan uniknya karena  menurut gadis itu dengan melewati anak-anak tangga dirinya dapat kembali memikirkan hal-hal yang telah di lewati dan hal-hal yang akan di lakukannya.

Ae yeon melangkah melewati halaman depan rumah sakit kemudian berjalan menuju salah satu cafe favoritnya dan jimin. Ya, gadis itu berniat membelikan beberapa menu untuk makan siang mereka.

Setelah menerima satu kantong plastik besar berisi makanan ae yeon segera berlalu kembali menuju rumah sakit. Saat gadis itu memasuki area depan rumah sakit iris cokelatnya menangkap sebuah mobil yang terasa familiar di matanya.

Ae yeon mengabaikan hal tersebut kembali merajut langkahnya memasuki pintu utama rumah sakit. Baru saja gadis itu melangkahkan beberapa ayunan langkahnya maniknya kembali menangkap punggung seseorang yang lagi terasa begitu familiar di matanya.

“Sehun” gumam ae yeon saat menilik sisi wajah namja yang tengah melangkah pasti di depannya.

Ae yeon mengulum senyum manisnya. Mungkin namja itu berniat menemuinya setelah lama keduanya tidak bertemu bahkan akhir-akhir ini namja itu tidak menghubunginya. Ae yeon mengerti, ya. gadis itu sangat mengerti sehun pasti di sibukkan dengan pekerjaannya.

Dengan hati-hati gadis itu melangkah mengikuti sehun yang masih berjalan tanpa menyadari kehadirannya.

Sehun menaiki lift yang akan membawanya menuju lantai yang di tuju. Saat lift tersebut tertutup ae yeon tiba di depan pintu tersebut. Kedua alis gadis itu mengernyit menyadari lantai yang di tuju sehun bukanlah lantai di mana dirinya bertugas.

“Lantai lima ?” Gumam ae yeon bingung memandang pada nomer lantai yang tertera di atas pintu.

Bukankah lantai lima merupakan departemen penyakit dalam ? Siapa yang sakit ? Pikir ae yeon dalam benaknya. Merasa penasaran gadis itu kemudian masuk setelah pintu lif kembali terbuka, menekan tombol lantai lima sama seperti sehun sebelumnya.

Ae yeon masih dapat melihat sehun yang tengah berjalan di koridor sesaat setelah pintu lift kembali terbuka, dengan sebelah tangan yang masih menjinjing plastik besarnya ae yeon melangkah penuh rasa ingin tahu.

Sehun membuka ruang perawatan yang bebehari ini rutin di kunjunginya, namja itu masuk sembari tersenyum manis pada seseorang yang selalu menunggu kedatangannya. Sehun meletakkan seikat bunga yang tadi di bawanya di atas meja nakas sisi bangsal rara kemudian melangkah mendekati gadis itu.

Rara tersenyum bahagia saat sehun mendaratkan kecupan hangat di keningnya membuat gadis itu menutup kedua matanya menikmati sensasi hangat yang lama di harapkannya.

Rara kembali membuka matanya saat sehun menjauhkan wajahnya namun masih menatap dengan senyum tampan di depannya.

Rara tidak bisa membendung rasa bahagianya, gadis itu memberanikan diri untuk kemudian mengangkat lengannya yang masih di tempeli selang infus menunjukkan jemari pada bibirnya meminta sehun untuk kembali mendaratkan ciuman di sana.

Sehun yang mengerti akan maksud gadis di depannya, masih dengan senyumnya namja itu meraih sisi wajah rara menangkupnya kemudian mengecup pelan bibir pucat gadis itu.

Sementara sehun dan rara yang tengah saling bertaut, di luar ruangan seseorang menatap pedih pada pemandangan yang di lihatnya melalui kaca kecil yang menempel di depan pintu ruangan tersebut.

Ae yeon menegang, hatinya terasa begitu sesak menyaksikan keduanya. Jiwanya seolah di tarik paksa keluar dari tubuhnya. Kantong plastik yanh tadi di tenteng gadis itu telah tergelek di atas lantai putih rumah sakit menjadi bukti luruhnya tenaga ae yeon. Mata gadis itu memanas meneskan satu bulir pedih di sudur maniknya.

TBC

Tararararawww yeyyy bebeb balik lagi sama SH neh, kelamaan nunggu ya ? Hahaha maap-maap, ini ff jujur nyari mood ngetiknya susah (Curcol).

Okay pasti pada dilema ini sehun gimana ? Sehun sama siapa ? Kok rara sakit ?

Jadi gini rara sakit itu sebenarnya bukan murni keinginan sesaat bebeb yang ingin segera mengahiri SH ini, sebenarnya sakitnya rara sudah terkonsep sejak awal.

Ingat waktu ayahnya rara menghubungi rara tentang pernikahannya bersama sehun ? (Chap 6). Waktu rara berada di jepang. Nah itu sebenarnya rara lagi ngejalanin pengobatannya.

Ingat juga waktu rara menyusul ibunya ke paris waktu udah nikah sama sehun ? (Chap 7). Sama itu juga rara ngejalanin pengobatannya.

Seenggak nyambungnya cerita ini maap. semoga masih ada yang suka dan tetap nunggu chap selanjutnya.

Gumawo
bebebaek_^^

Advertisements

8 thoughts on “Shouldn’t Have #10

  1. Kenapa sehun gak jdi ceraiin rara? Trus ae yeon gimana?
    Keren thor, wkt baca bagian akhir.x aku marah bgt knp sehun mau aj disuruh rara buat nyium dia, gimana ae yeon pasti lbh marah.
    Ditunggu chapter selanjut.x, jgn kelamaan thor soal.x aku penasaran bgt!

    Liked by 1 person

  2. Pingback: Shouldn’t Have #11 | BABY BEE

  3. Pingback: Shouldn’t Have #12END | BABY BEE

  4. Apa aeyeon bkl nyerah aja….dy jga wanita jdi tau perasaan wanita gmana…kyknya sehun gak bakal ceraikan rara deh…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s