{Yun-Dae Couple} Don’t Flirt – by bebebaek_

image

By bebebaek_

Valentine’s Day |

Main cast : Shim Yun Mi (oc), Kim Jong Dae (EXO).

Genre : romance.

Length : Ficlet | Rating : PG teen.

Hasil khayalan sendiri, don’t plagiat.

Sorry Bertaburan Typo-.-

.

.

.

Tit titt…

Pintu lif sebuah apartement terbuka menampakkan sosok namja yang berada di dalamnya keluar kemudian beranjak dari gedung bertingkat tersebut.

Dengan mengenakan jaket putih dan celana jeans biru tua namja itu terus melangkah menuju terminal bus yang akan membawanya ke suatu tempat bertemu dengan seseorang yang beberapa minggu ini di tinggalkannya.

Jongdae menahan senyumnya saat kini namja itu  berada di atas bus dengan memandang foto seseorang yang menjadi wallpaper ponselnya. Ya, namja itu memang meninggalkan yunmi selama dua minggu untuk mengikuti pertandingan basket di musim ke duanya yang di adakan di luar kota. Tahu gadisnya pasti begitu merindukannya maka segera setelah kembali ke seoul sabtu sore namja itu bergegas menghubungi yunmi dan mengajak gadis yang juga di rindukannya tersebut untuk berkencan.

Senyum sumringah namja itu merekah sempurna saat bus yang di tumpanginya merapat di sebuah halte selanjutnya. Jongdae melihat gadisnya tengah berdiri di depan pintu bus yang belum di buka. Dengan balutan sweater navy dan rok pendek mekar putihnya gadis itu nampak begitu manis.

Jongdae melambaikan tangannya setelah yunmi masuk ke dalam bus membuat gadis itu tersenyum melihat namja yang beberapa hari terakhir hanya di lihatnya melalui ponselnya.

Yunmi melangkah mendekat ke arah tempat duduk jongdae dan saat gadis itu berhenti tepat di samping jongdae, namja itu dengan cepat menggeser tubuhnya mempersilahkan yunmi untuk duduk di sampingnya.

Yunmi mengulum senyumnya, gadis itu lantas duduk di samping jongdae tanpa sepatah katapun.

“Annyeong chagi-ya” jongdae membuka suara.

“Emmm, annyeong” jawab yunmi memandang sesaat jongdae di sampingnya kemudian kembali meluruskan pandangan ke depan.

“Woah, chagi-ya sepertinya kita benar-benar berjodoh. Lihat pakaian yang kita kenakan senada seperti janjian saja” kata jongdae membuat yunmi menilik pakaian yang di kenakannya.

“Chagi-ya” panggil jongdae kembali, bingung karena sedari tadi yunmi hanya diam dengan menatap lurus ke depan.

“Hmmmm”

“Kau marah padaku ?” Tanya jongdae merasa aneh dengan diamnya yunmi, namja itu ingat betul tidak ada pertengkaran atau apapun saat terakhir kali dirinya menghubungi yunmi.

“Aniya”

“Kau tidak merindukanku ?”

Yunmi menoleh, kembali melihat jongdae di sampingnya yang gadis itu tau sedari tadi namja itu terus saja memandangnya.

“Wae ?” Tanya yunmi dengan raut datarnya.

“Aniya, biasanya kau akan segera memelukku dan melontarkan banyak pertanyaan setelah kita lama tidak bertemu” jelas jongdae.

“Entahlah, mungkin aku bosan melakukannya”

“Bosan ? Jangan katakan kau juga bosan denganku chagi-ya” kata jongdae dengan raut yang jujur membuat yunmi tidak tahan untuk tidak tertawa.

Gadis itu menelan tawanya sekuat tenaga dan kembali berujar.

“Molla, kim jongdae-ssi”

“Kim jongdae-ssi ?” Tanya jongdae mengerutkan alisnya semakin bingung dengan tingkah yunmi. “Kau yakin chagi-ya ?” Tuntut jongdae.

“Hmmmm”

“Kau menjadi aneh setelahku tinggal beberapa minggu, apa kau seperti ini karena begitu merindukanku ?” Teliti jongdae yang sukses membuat yunmi mendelik kearahnya dengan kekehan geli yang tidak dapat di tahan gadis itu.

Melihat yunmi yang tertawa begitu cantik di sampingnya membuat keraguan di benak namja itu sirna menimbulkan sebuah seringaian kembali tercetak di wajah jongdae.

“Sepertinya aku benar. Kalau memang seperti itu aku tidak keberatan jika kau tidak melakukan kebiasaanmu tapi sebagai gantinya aku yang akan melakukannya” kata jongdae kemudian memeluk gadis di sampingnya.

“Yak, apa yang kau lakukan ? Kau tidak malu di lihat banyak orang ?” suara yunmi berusaha melepas pelukan jongdae.

Setelah tiba di sebuah pusat perbelanjaan yang sering di datangi keduanya yunmi dan jongdae segera masuk menuju bioskop yang ada di sana, entahlah yunmi mengajukan ingin menonton setiba keduanya di sana dan tanpa banyak protes jongdae hanya menuruti keinginan gadisnya.

Jongdae membeli dua tiket sementara yunmi membeli dua soda dan popcorn setelahnya keduanya masuk menuju kursi paling atas yang tadi di pilih jongdae kemudian duduk menunggu film di mulai.

Lampu studio masih menyala saat keduanya duduk meletakkan minuman dan popcorn di tempat yang di sediakan. Yunmi memandang ke arah jongdae sesaat tersenyum kemudian menyodorkan popcorn pada namja itu membuat namja itu memalingkan wajah ke arahnya yang di sambut gadis itu dengan senyuman. Jongdae balas tersenyum, membuka mulutnya kemudian mengusap lembut puncak kepala yunmi.

Studio menjadi gelap saat film akan di mulai, beberapa saat keduanya hening menatap ke layar besar di depan mereka.

Jongdae terkesiap saat menyadari dua lengan kecil menulusup di tubuhnya, melingkar sempurna memeluknya. Namja itu tersenyum saat menyadari sebuah kepala bersandar di dada bidangnya, jongdae tahu betul siapa pemilik lengan dan kepala yang menempel padanya saat ini, aroma dan kehangatan gadis ini selalu membuatnya nyaman, membuatnya begitu merindukannya saat harus berjauhan dengan sang pemilik kenyamanan.

“Aku merindukanmu” suara yunmi setelah lama terdiam dengan hanya memeluk jongdae erat.

“Aku sangat merindukanmu. Aku begitu kesepian. Mengapa kau meninggalkanku begitu lama ?”

“Mengapa pertandingan itu harus begitu lama dan mengapa harus di adakan di luar kota ?” Cerocos yunmi setelahnya gadis itu kemudian menggarakkan kepalanya pelan mencari posisi ternyaman di antara cekungan leher dan dada jongdae.

Jongdae kembali tersenyum, mengangkat sedikit kepalanya menilik raut yunmi yang masih dapat dilihatnya meski dalam keadaan minim penerangan.

“Aku juga merindukanmu” suara jongdae lembut, yunmi mendongak membuat tatapan  keduanya bertemu.

“Kau tidak nakal kan ?”

“Tidak tebar pesona”

“Tidak menggoda gadis di sana”

“Tidak-“

“Aniya. Aku tidak melakukan semuanya” potong jongdae sembari mengelus lembut sisi wajah yunmi. “Aku selalu mengingat yunmi-ku yang mengoceh banyak hal dan akan memukulku jika aku berani macam-macam” lanjut namja itu dengan senyum khas miliknya.

“Ckckc, eoh aku akan memukulmu jika kau berani macam-macam” aku yunmi membuat jongdae semakin gemas.

Jongdae kembali memegang lembut sisi wajah yunmi membuat tatapan keduanya kembali bertemu, jongdae semakin mendekatkan wajahnya kemudian mengecup lembut bibir pink gadisnya yang sudah sangat di rindukannya. Hanya sebuah kecupan singkat.

Jongdae menjauhkan wajahnya menatap yunmi yang masih menutup matanya membuat jongdae kembali ingin mengecup bibir gadis itu, dan benar saja saat yunmi membuka matanya jongdae kembali menyambar lembut bibir yunmi membuat gadis itu membelalakkan bola matanya sesaat dan setelahnya kembali menutupnya. Sama seperti seperti sebelumnya hanya sebuah kecupan singkat.

Lagi jongdae menjauhkan wajahnya membuat jarak di antara keduanya sementara yunmi masih memejamkan matanya. Jongdae kembali tersenyum kemudian lagi-lagi mempertemukan bibir keduanya entahlah saat jongdae telah menyuntuh bibir lembut gadis yang menjadi candu baginya membuat namja itu begitu susah untuk berhenti merasakannya. Kali ini jongdae melumat lembut bibir gadis itu, merasakan manis yang begitu di rindukannya.

Jongdae menjauhkan wajahnya menatap yunmi teduh yang juga tengah menatap kepadanya, gadis itu memukul pelan dada jongdae membuat namja itu terkekeh kemudian merangkul pundak gadis itu dan mengecup hangat puncak kepala yunmi.

Yunmi tersenyum kemudian kembali menyandarkan kepalanya dan mempererat pelukannya pada jongdae. Keduanya larut menyaksikan kembali film yang beberapa saat terlupakan.

Jongdae dan yunmi melangkah meningkalkan bioskop setelah film yang keduanya tonton selesai beberapa menit yang lalu.

Jongdae menggenggam erat lengan yunmi membawa gadis itu mengelilingi besarnya gedung pusat perbelanjaan tersebut.

Saat keduanya berada di lantai tiga yang merupakan area permainan jongdae menatap sebuah permainannya yang menarik minatnya, namja itu segera melangkah cepat menarik pelan lengan yunmi yang sibuk dengan waffle miliknya untuk mengimbangi langkahnya.

Jongdae berhenti tepat di sebuah area permainan basket dimana terdapat beberapa ring berjejer di depan keduanya.

Yunmi mengerutkan alisnya menatap namja di sampingnya penuh tanya.

“Mau bertanding denganku chagi-ya” kata jongdae menjawab pertanyaan di benak yunmi.

“Dasar sombong. Kau kira hanya karena kau pemain basket kau akan menang melawanku ?” Jawab yunmi

Jongdae tersenyum “bagaimana mau melawanku ?” Lanjut namja tersebut.

“Baiklah, siapa takut tapi jika aku menang kau harus menuruti semua kemaukanku” tantang yunmi.

“Dengan senang chagi” setuju jongdae sembari mengerlingkan matanya kepada yunmi.

Keduanya memulai permaianan, awalnya memang seimbang tapi lama kelamaan gerakan yunmi semakin pelan dan tidak mengenai sasaran sementara jongdae masih sibuk mencetak rentetan skornya.

Yunmi menyerah gadis itu memundurkan satu langkahnya mengambil nafas dalam untuk sekedar mengurangi rasa lelahnya. Melawan seorang atlet basket memang tidak memungkinkan baginya apalagi seorang jongdae yang selalu haus akan kemenangan. Apapun celaan jongdae padanya akan gadis terima.

“Ckckc, apa dia tidak bosan setiap hari berhadapan dengan ring dan bola basket” gerutu yunmi di belakang jongdae.

Gadis itu kembali berdiri tegap setelah di rasa nafasnya sudah kembali teratur dan saat yunmi hendak melangkah mendekati jongdae yang sudah selesai dengan permainannya gadis itu tersadar jika namja itu tengah menjadi pusat perhatian di sekeliling mereka. Ah mungkin karena keduanya terlalu asik bermain dan saat yunmi berhenti namja itu tetap melanjutkan permainanya dengan skor yang begitu sempurna menarik perhatian pengunjung dan mungkin wajah jongdae yang beberapa hari belakangan muncul di salah satu stasiun tv yang menyiarkan pertandingannya membuat salah satu diantara mereka mengenali jongdae.

Yunmi masih berdiri di tempatnya mengalihkan pandangannya dari sekeliling pada jongdae yang kini bersandar pada mesin permainan dengan membuka jaketnya hingga melorot setengah dari lengan atasnya.

Yunmi terbelalak saat menyadari namjachingunya itu menganakan kaos putih yang di capnya sebagai kaos yang berbahaya untuknya.

Jongdae menghela keringat di sekitar lehernya, nampak sekali namja itu juga tengah kelelahan dan mengatur nafasnya. Banyaknya keringat di tubuh namja itu semakin membuat kaos itu lengket dan membentuk lekuk tubuh jondae. Melihat hal itu yunmi kembali mengedarkan pandangannya dan mendapati beberapa yeoja tengah menatap kagum pada namjanya.

Yunmi kesal, ya gadis itu benar-benar tidak suka jika melihat gadis lain menatap penuh harap pada jongdae terlebih melihat sesuatu yang di anggapnya hanya boleh di lihat olehnya. Dengan langkah pasti gadis itu berjalan mendekati jongdae menarik lengan namja itu kasar kemudian membawanya pergi dari tempat itu.

Jongdae yang bingung dengan perubahan sikap yunmi yang tiba-tiba membuatnya hanya mengikuti langkah gadis itu dalam diam.

Setelah keluar dari pusat perbelanjaan tersebut yunmi menghentikan langkahnya, melepaskan cengkramannya pada lengan jongdae kemudian duduk di salah satu kursi di pinggir jalan tidak jauh dari gedung besar tersebut membiarkan jongdae masih berdiri di tempatnya dengan pandangan penuh kebingungan.

“Chagi-ya, wae ?” Tanya jongdae pelan setelah beberapa lama keduanya di selimuti keheningan.

Yunmi mendongak menatap kesal jongdae yang masih berdiri di depannya.

“Kau sengaja melakukannya ?”

“Kau ingin pamer kehebatanmu ?”

“Kau ingin memperlihatkankannya kepada mereka ?”

“Kau. Apa kau bangga ? Apa-“

“Yunmi-ya, apa maksudmu ? Aku tidak mengerti” potong jongdae masih dengan nada pelan di setiap katanya.

Yunmi menundukkan kepalanya dalam “kau sengaja melakukannya untuk menarik perhatian yeoja-yeoja itu kan ? Kau sengaja mengajakku untuk tebar pesona dan pamer kehebatanmu”

“Yeoja-yeoja ?”

“Eoh, kau pura-pura tidak tahu ? Yeoja-yeoja disana memperhatikanmu dan menatapmu penuh harap. kau senang ? Kau bangga ?”

“Oh astaga chagi-ya, aku benar-benar tidak tahu. Aku hanya ingin mengajakmu bermain dan menantikan ocehan kesalmu bukan kemarahanmu” jelas jongdae.

“Lalu mengapa kau membuka jaketmu, kau tau kau tengah mengenakan kaos berbahayaku. Kau sengaja ingin memperlihatkan kepada mereka ?”

Jongdae menatap dirinya dan menyadari penyebab gadis di depannya begitu marah kepadanya, namja itu kemudian menahan senyumnya menelannya agar gadis itu tidak semakin marah padanya.

“Jadi karena kaos ini ?” Tanya jongdae membuat yunmi mendongak.

“Mianhae, aku lupa tengah mengenakannya. Dan tadi aku begitu berkeringat” jelas jongdae sembari mendekat ke arah yunmi.

“Kau cemburu ?” Lanjut namja itu.

“Eoh. Tentu saja. Kau tau saat kau mengenakan kaos itu kau berlipat-lipat kali lebih tampan dan aku benci yeoja-yeoja itu melihatnya”

“Ahhh begitu” suara jongdae menyunggingkan seringainya. Namja itu kemudian mengambil lengan yunmi membuat gadis itu bangkit dari duduknya.

Yunmi yang masih setengah kesal namun tetap diam dan menurut saat jongdae menuntunnya melewati beberapa jalan berliku di dalam sebuah gang kecil, namja itu menghentikan langkahnya saat keduanya berada di sebuah tembok besar yang menjadi ujung dari gang kecil yang mereka lewati.

Jongdae lagi menarik lengan yunmi dan menyandarkan gadis itu pada sebuah celah dinding pembatas tembok besar tepat di bawah sebuah lampu redup yang menjadi sumber pencahayaan satu-satunya.

Yunmi mengerjap saat jongdae semakin mendekat dan menghimpit tubuhnya diantara dinding dan tubuh namja itu.

Jongdae menatap tajam yunmi, meletakkan sebelah lengannya di tembok tepat di sisi kepala gadis itu.

“Sebenarnya aku tidak ingin menjadi namja murahan yang mengajak yeojachingunya untuk bercumbu di tempat seperti ini” suara jongdae menyentak yunmi mengambil kesadaran gadis itu untuk kembali berpikir jernih.

“Tapi aku begitu gemas dengan sikap yeojachinguku hari ini, aku sudah tidak tahan untuk segera memberinya hukuman karena kalah bermain denganku” lanjut namja itu sembari semakin mendekatkan wajahnya kepada yunmi.

“Jong-dae-ya” gugup yunmi menahan dada namja itu.

“Hmmmm” sahut namja itu hanya dengan gumaman, jongdae menjauhkan lengannya dari sisi kepala yunmi membuat gadis itu dapat sedikit bernafas lega.

Namun, keadaan tersebut tidak bertahan lama gadis itu kembali mengerjap saat jongdae kembali menurunkan jaketnya hingga setengah lengannya.

“Y-yak, apa yang kau lakukan ?”

“Tentu saja menggodamu. Bukankah aku begitu berbahaya jika mengenakan kaos ini ?”

“Y-yak, kau akan kedingingan”

“Tidak akan” kata jongdae sembari kembali mendekat “lagipula kau akan menghangatkanku” lanjut namja itu kemudian meraup lembut bibir yunmi, menyesapnya, dan melumatnya penuh kelembutan.

Tangan jongdae menangkup wajah gadisnya membuatnya semakin leluasa melakuan aksinya. Yunmi yang beberapa saat lalu mengerjap kaget lantas ikut memejamkan matanya menyelami kerinduannya pada namja itu. Kedua tangan yunmi melingkar indah di pinggang jongdae membuat gadis itu dapat merasakan bentuk tubuh jongdae yang hanya di balut kaos tipisnya.

Setelah pasokan udara keduanya menipis jongdae dengan raut tidak rela melepaskan tautannya, memandang sayu pada yunmi yang masih menunduk karenanya.

Jongdae meraih sisi wajah yunmi membuat gadis itu mendongak menatapnya, namja itu tersenyum lembut mengelus sisi wajah yunmi juga bibir tipis gadis itu yang masih basah karena ulahnya.

“Mengapa hari ini kau begitu sensitif ? Apa kau sedang dalam masa periode ?” Tanya jongdae sukses membuat semburat merah di wajah yunmi semakin menjadi setelah perlakuan namja itu sebelumnya.

“Yak…” rajuk yunmi menarik sudut kaos jongdae.

“Berhenti menggodaku seperti ini, kau tau saat kau kesal dan merengek seperti ini membuatku semakin ingin menciummu kembali” suara jongdae masih menatap gadis di depannya dalam.

“Yak! Kau kira hanya aku ? Kau juga berhenti menggodaku. Kau tahu betul kau begitu menggoda dengan hanya mengenakan kaos ini” kata yunmi kembali menarik sudut kaos jongdae.

“Jadi haruskah kita kembali-” perkataan jongdae terputus karena terlebih dahulu bibir namja itu di bungkam yunmi dengan bibirnya.

Yunmi kembali melingkarkan lengannya pada pinggang namja itu, menjinjitkan kedua kakinya untuk memperdalam ciumannya membuat jongdae yang hanya diam merasakan perlakuan yeojachingunya itu mengulaskan senyuman di sela ciumannya.

Fin

Advertisements

One thought on “{Yun-Dae Couple} Don’t Flirt – by bebebaek_

  1. Pingback: {Yun-Dae Couple} Good Man – by bebebaek_ | BABY BEE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s