Mask #1 [1/2] – by bebebaek_

image

By bebebaek_

Ketika sebuah goresan luka mendalam memberikan bekas yang dapat membuat seseorang lupa bagaimana rasanya sakit.

***



Main cast : Shim Yun Mi (oc), Chen Kim / Kim Jong Dae (EXO).

Genre : crime, romance.

Length : twoshoot | Rating : 16.

Hasil khayalan sendiri, don’t plagiat.

Sorry Bertaburan Typo-.-

.

.

.

Seoul, 2008.

Appa! Appa ireona.

Seorang anak berusia 7 tahun menangis histeris mendapati tubuh sang ayah tergeletak di atas lantai kamarnya dengan bersimbah darah. Anak itu menelan tangisnya menyisakan isakan seesegukan khas anak kecil merekam segala yang terjadi hari ini, di depan matanya.

Masih dengan memegang pergelangan lengan sang ayah dengan kedua tangan mungilnya, anak lelaki itu menatap nanar pada tempat tidur di ruangan tersebut di mana sang ibu di perlakukan dengan begitu keji oleh seseorang yang dia kenal begitu baik. Di depan mata seorang anak kecil yang tidak sepatutnya melihat hal tersebut. Orang itu dengan penuh senyum kebanggaannya memamerkan kekuatan dan kekuasaan serta keserakahannya.

“Huhh, euhh. Eomma~ andwe eomma”

“eomma. Appa.”

“Eomma!” Pekik seorang pemuda setelah membuka matanya lebar, dengan peluh membasahi kening hingga pelipisnya, namja itu bangkit dari posisi tidurnya. Masih mengatur nafas beratnya namja itu menatap kosong jendela kamarnya.

Mimpi yang sama. Mimpi yang hampir setiap malam muncul saat dia terlelap masuk ke dalam bunga tidurnya kembali memutar memori kelam masa lalunya mengingatkannya pada luka yang tidak pernah mengering bahkan ketika tahun berganti tahun membuat namja itu enggan untuk tidur.

***

Sebuah mobil mewah berwarna hitam pekat berhenti tepat di pintu masuk sebuah perusahaan besar yang menjadi salah satu perusahan paling berpengaruh dalam pendapatan dan ekonomi negara.

Beberapa orang dengan pakaian rapi terlihat berdiri sejajar berbaris teratur di depan pintu masuk, menyambut kedatangan seorang yang masih duduk dengan tenang di kursi penumpang mobil mewahnya.

Seseorang turun dari sisi kursi supir berjalan mengelilingi depan mobil kemudian membuka pintu mobil belakang.

Namja itu turun berdiri tegak di sisi mobil yang membawanya membuat semua orang yang berbaris menunggunya menunduk seragam.

“Semua anggota dewan, direksi, manager dan kepala divisi serta staff kariawan telah berkumpul sajangnim” kata seseorang yang beberapa saat lalu membukakan pintu untuk namja tersebut.

“Baiklah, tidak sia-sia aku mengutusmu terlebih dahulu ke tempat ini, kau sudah berkerja keras xiumin-ah” jawab namja itu dengan sebuah seringaian tajamnya.

Chen kim pemuda cina yang baru beberapa jam menginjakkan kakinya kembali di kota seoul setelah dua pekan yang lalu resmi menjadi president Kcompany sebagai ahli waris tunggal dari sang ayah yang wafat satu bulan yang lalu.

Chen mengayunkan langkahnya memasuki gedung pencakar langit miliknya, meninggalkan orang-orang yang menunggunya di depan pintu utama untuk berjalan di belakangnya, setiap staff kariawan menunduk hormat saat namja itu melewati jalannya.

Perusahaan di bidang tekstil ini memang memiliki cabang di berbagai negara, hanya saja pusatnya berada di korea membuat namja itu mau tidak mau harus menginjakkan kakinya kembali di tanah yang membawa kenangan pahit baginya.

***

Enam bulan sudah chen menetap di kota yang benar-benar di bencinya, mengambil kembali perusahaan yang memang seharusnya menjadi miliknya.

Selama kurun waktu itu perusahaan terus mengalami peningkatan, namja itu memang berbakat di bidang ini atau….. ada sesuatu di baliknya.

“Omo! dia benar-benar berwibawa” pekik salah seorang karyawan yeoja saat chen melangkah melewati meja kerjanya bersama seseorang.

“Yak, lihatlah. Dia terlihat begitu keren bahkan hanya dengan berjalan seperti itu” kata yeoja lainnya.

Ya. Siapa yang tidak terpesona dengan seorang chen kim, namja yang masih terbilang begitu muda memegang sebuah perusahaan dengan jabatan president di usianya yang baru menginjak 24 tahun. Meski tidak pernah mengulas senyum, terkesan angkuh dan misterius namja itu tetap menjadi bahan pembicaraan menarik di kalangan karyawan khususnya yeoja.

“Apa kau sudah meletakkan semua berkas cv berkas karywan di mejaku xiumin-ah ?” Tanya chen pada manager kepercayaannya.

“Ah. Ya. Aku sudah meletakkannya, entah apa fungsi kau mengumpulkan cv karyawan beribu lembar tesebut” jawab xiumin heran dengan kebiasaan sahabat sekaligus atasannya tersebut.

Chen menaikkan sudut bibirnya sesaat. Ya, hanya kepada xiumin lah seulas senyum itu dapat tercetak meski hanya sesaat, kemudian namja itu kembali memasang rekspresi dinginnya, ekspresi yang menjadi tamengnya selama ini.

Hanya xiumin, orang kepercayaan sekaligus sahabatnya sejak namja itu di pungut oleh ayah chen dan di perlakukan sama kejamnya dengannya, sejak itulah keduanya saling berbagi tangis, penderitaan, kesakitan dan ketakutan. Tidak ada kebahagiaan ataupun tawa bagi chen namun berbeda bagi xiumin, namja itu masih bisa tertawa meski di sela tangisnya. Hal inilah yang membuatnya berbeda. Karena semua sakit yang di rasakannya tidak sesakit luka dalam yang chen rasakan.

“Apa bagusnya sukses dan tampan jika perilakunya seperti itu ?” Celetuk salah seorang karyawan yeoja lainnya menimpali dua rekannya yang masih menatap kagum chen yang baru saja menghentikan langkahnya dan berbicara dengan kepala divisi di tempat.

“Yak, kau” peringat yeoja lainnya.

“Lihatlah, wajahnya begitu angkuh. Apa dia pikir karena dia begitu berkuasa di sini membuatnya tidak pantas untuk bahkan tersenyum dengan bawahannya” lanjut gadis itu.

Mata tajam chen mengekor ke arah kerumunan karyawan yeoja yang namja itu tahu tengah membicarakannya. Entah sebuah kelebihan yang di dapat namja itu dari mana pendengarannya begitu tajam jika seseorang menghina, mencibir dan menggunjingnya membangkitkan amarah di dalam dirinya membuatnya ingin memberikan sebuah pembalasan akan apa yang di rasakannya dulu saat dirinya masih tidak memiliki kemampuan.

Chen kembali melangkah beranjak dari tempatnya berdiri kemudian berbalik kembali menuju ruangannya. Saat namja itu melangkah melewati kerumunan karyawan yeoja yang beberapa diantaranya masih menatap kagum padanya, namja itu kembali mengekorkan penglihatannya merekam raut seseorang yang menatapnya dengan pandangan berbeda pandangan yang membuat namja itu selalu ingin memusnahkan setiap orang yang memilikinya.

Namja itu kini berada di ruang kerjanya, duduk di kursi kebanggannya dengan memandang sebuah foto besar yang tergantung di dinding ruangan kerjanya. Chen menatap foto tersebut tajam seakan-akan foto tersebut dapat terbakar karenanya.

Tangan namja itu membuka laci di sisi kiri mejanya, mengambil sebuah map berisi ribuan lembar berkas cv kariyawan perusahannya, membuka bagian dari divisi accounting melihat halaman tiap halaman kertas tersebut kemudian berhenti saat mendapati sebuah cv dengan wajah yang begitu di ingatnya, terekam dalam memori kuatnya. Chen mengambil satu lembar cv tersebut memandanganya dengan sebuah seringaian “Song Ji Han” gumam namja itu saat membaca nama yang tertera dalam cv tersebut.

***

Matahari telah tenggalam sejak beberapa jam yang lalu menyisakan kegelapan menyapa, seorang gadis baru saja keluar dari gedung perkantoran tempatnya berkerja. Gadis itu melangkah pasti berjalan menuju halte terdekat berharap bis yang bertujuan ke arah apartementnya masih ada.

Hari ini terbilang begitu melelahkan bagi gadis itu, karena ada beberapa laporan keungan yang harus di rombaknya dalam beberapa jam, entah apa yang salah dari laporan sebelumnya namun satu hal yang gadis itu tau kedatangan seorang atasannya langsung ke divisinya benar-benar membuatnya harus berkerja hingga lembur.

“Namja arogant, sombong dan angkuh itu benar-benar menyusahkan” gerutu ji han di sela kegiatan berjalannya.

“Dimana letak kesalahan laporan yang ku buat hingga harus merombak habis, dan kepala lee benar-benar membuat semuanya semakin memuakkan. Apa harus begitu memarahiku ? Oh astagaa kenapa angka-angka itu bisa berubah ? Apa mataku yang salah waktu itu ? Ah, sepertinya aku harus memeriksa mataku” lanjut gadis itu meluapkan kekesalannya.

Tanpa dia rasa, gadis itu kini telah tiba di halte biasa tempatnya menunggu bis yang akan membawanya kembali ke apartemennya, lama gadis itu menunggu sembari duduk seorang diri.

Malam semakin larut, nampaknya bis terakhir telah berangkat sebelum dia tiba di halte, tidak mau berlama-lama menunggu lagi gadis itu kembali melangkah di sisi jalan ada berharap taxi yang melewatinya.

Tanpa gadis itu ketahui seseorang tengah memperhatikannya dari dalam mobil hitamnya, namja itu mengamati ji han bahkan sejak gadis itu keluar dari gedung kantornya.

Perlahan saat ji han melangkahkan kakinya melewati sisi jalan gelap, mobil itu pun bergerak. Melewati ji han dan detik selanjutnya berhenti. ketika ji han berjalan melewati  mobil itu tiba-tiba jendela mobil dari sisi pengendera bergerak terbuka menampilkan sosok yang begitu di kenali ji han, membuat gadis itu mengerjap sesaat.

“Kau mau pulang ?” Tanya seseorang di belakang setir mobil itu.

“N-nae sajang-nim” jawab ji han mengangguk ragu, seolah tidak percaya seorang sajangnim yang di kenalnya begitu angkuh, sombong dan dingin berbicara padanya.

“Naiklah, aku akan mengantarmu” kata chen masih dengan ekspresi angkuhnya.

“A-ah, tidak usah sajangnim. Sa-ya naik taxi saja” tolak ji han.

“Tidak akan ada taxi yang melewati daerah ini di saat jam-jam larut seperti sekarang” jelas chen “apa kau ingin pulang dengan berjalan kaki ?” tanya namja itu dingin.

“Nde ?”

“Naiklah. Aku akan mengantarmu”

Sesaat ji han diam di tempatnya, gadis itu nampak berpikir yang tidak di hiraukan sama sekali oleh chen. Namun sejurus kemudian gadis itu mengangguk dan menunduk lalu masuk ke kursi penumpang di sebelah chen.

“Maaf, merepotkan anda sajangnim” kata gadis itu sopan sesaat setelah duduk di sebelah chen.

Chen tidak membalas ucapan gadis itu dengan tetap diam namja itu kembali melajukan mobil mewahnya.

“Sa-jangnim, apa kau tau di mana alamatku ? Sedari tadi kau tidak menanyakannya” tanya ji han ragu.

“Aku tahu”

“Nde ?” Kaget ji han.

“Aku pernah membaca cv-mu” jawab namja itu masih fokus pad kegiatan menyetirnya.

“Ahh” hanya kata itu yang dapat ji han lontarkan, terasa begitu aneh baginya. Apa seorang president perusahaan memiliki waktu untuk sekedar melihat cv dirinya yang terbilang hanya sebagai seorang staff biasa. Dan katakanlah jika namja di sampingnya saat ini memang memiliki waktu apa dia masih ingat dimana alamatnya mengingat dirinya sudah bekerja di perusahaan itu dalam kurun waktu 1 tahun lebih bahkan saat namja itu belum menjabat sebagai seorang president.

Ji han hanya diam setelahnya, jujur gadis itu merasa takut saat berada dalam jarak sedekat ini dengan seorang chen kim. Namun perasaan itu berusaha di urungkan ji han takut akan begitu kentara di wajahnya hingga membuat seseorang di sampingnya saat ini akan menyadarinya.

Setelah tiba di kawasan apartement ji han, modil yang di lajukan jongdae berhenti. Gadis itu segera turun kemudian berjalan memutar dan membungkuk hormat di sisi jendela pengemudi.

“Terima kasih sudah mengantarkan saya” kata ji han ramah.

“Kau tidak ingin mengajakku masuk ?” Suara angkuh jongdae terdengar begitu menakutkan di telinga ji han.

“Nde ?”

“Apa kau tidak ingin mengajakku masuk dan memberiku secangkir kopi di cuaca sedingin ini sebagai ucapan terima kasih” kembali chen berujar.

“Eoh. Ya. tentu saja” jawab ji han kikuk, bingung harus bersikap seperti apa di depan atasannya dan rasa takut itu seolah kembali menyelimutinya.

Ji han membuka pintu apartementnya sementara chen masih berdiri tanpa suara di belakangnya. Setelah pintu apartement terbuka gadis itu berbalik berniat mempersilahkan sajangnimnya untuk masuk. Namun, baru saja gadis itu memiringkan tubuhnya namja itu terlebih dahulu melangkah masuk tanpa permisi.

Ji han menatap tak percaya, apa seperti ini perilaku setiap orang yang memiliki segalanya, gadis itu berjalan menghampiri chen yang berjalan meneliti setiap sudut apartemennya.

“Sajang-nim, kopi a-” kalimat ji han terputus saat tiba-tiba chen menarik lengannya mendaratkan ciuman dalam pada bibir gadis itu.

Ji han membulatkan matanya saat menyadari situasi keduanya saat ini, gadis itu berusaha memberontak mendorong bahu chen dengan kedua tangannya. Namun, seolah membatu usaha yang di lakukan gadis itu tidak membuahkan hasil sama sekali, chen masih tetap menguasai bibirnya semakin dalam.

Namja itu menarik wajahnya sesaat memisahkan bibir keduanya membuat ji han dapat melihat seringaian mengerikan di bibir yang baru saja menguasainya. Perlahan dengan banyaknya rasa takut mengelilinginya, gadis itu melangkah mundur saat chen kembali mendekat kearahnya.

Ji han kembali terkesiap saat dengan begitu cepat chen melangkah ketempatnya memojokkannya di dinding apartementnya kemudian mengunci tubuhnya dengan tubuh namja itu.

“S-sajang-nim” kata ji han tergagap saat wajah chen kembali memangkas jarak diantara keduanya.

“Ssstt…” chen meletakkan jari telunjuknya di depan bibir ji han. Mata namja itu menatap seduktif pada gadis di depannya.

“Bibirmu benar-benar manis” chen menyapu bibir ji han masih dengan jari telunjuknya, sementara ji han terpaku oleh rasa takut yang menguasainya.

“Bukankah sayang jika bibir semanis ini hanya mengeluarkan kata-kata kasar yang sama sekali tidak pantas keluar dari sini” lanjur chen kali ini dengan tatapan tajamnya.

“Sa-jang-nim” kata ji han seolah tersadar akan sesuatu. Ya. Sesuatu yang di lontakannya hari ini. Rasa takut itu semakin menjadi, membuat gadis itu tidak lagi bisa berfikir jernih, membuat semua tenaganya seakan lenyap begitu saja. Lutut gadis itu bergetar hebat membuatnya benar-benar harus bersandar pada dinding untuk menopang tubuhnya.

Chen kembali menyeringai tajam mendapati ekpresi ketakutan di wajah ji han yang begitu kentara terlihat olehnya. Namja itu kembali mendekatkan wajahnya kemudian bersuara tepat di telinga gadis itu.

“Karena perkataanmu itu kau patut mendapat hukuman” chen kembali menyeringai tajam sementara ji han menegang saat chen kembali mendaratkan bibirnya di permukaan bibir gadis itu.

“S-sa-jja-ng-nim, eunghh” sebuah lenguhan lolos dari bibir merah ji han saat chen menurunkan ciumannya pada sekeliling leher gadis itu.

Sejak tadi gadis itu terus saja melakukan pemberontakan hanya saja kekuatannya tidak sebanding dengan namja yang mengurungnya saat ini.

“Ku mo-hon saj-angnim” lirih gadis itu, bulir bening telah lolos dari sudut mata bening ji han saat chen benar-benar tidak menghiraukan permohonannya dan tetap melakukan kegiatannya meninggalkan jejak keunguan di tengkuk gadis itu.

Chen menghentikan aksinya, membuat jarak diantara keduanya kemudian tersenyum puas melihat kondisi ji han yang sudah begitu berantakan di depannya. Rambut gadis itu benar-benar kacau, dua kancing kemejanya sudah tidak bertaut pada tempatnya entah sejak kapan chen melepaskannya.

Mata ji han bergerak gelisah mencari celah untuknya bisa kabur dari tempat ini entah itu keluar dari apartementnya ataupun berlari menuju kamarnya dan menguncinya hingga chen pergi meninggalkannya.

Saat masih berpikir gelisah untuk bisa melarikan diri dari tempatnya mata ji han kembali membola saat menangkap seseorang di depannya tengah membuka satu demi satu kancing kemejanya dengan raut begitu santai.

Seolah sebuah alaram peringatan menggelegar di kepalanya gadis itu segera mengayunkan langkahnya berusaha pergi keluar apartement. Namun, baru tiga langkah gadis itu mengayunkan langkahnya lengan gadis itu kembali di cekal oleh chen yang baru saja melemparkan kemejanya asal.

“Aniya, sajangnim. Ku mohon lepaskan aku!” Suara ji han kencang saat kini gadis itu tengah berada di bahu chen, namja itu mempobong tubuh ji han dan berjalan dengan langkah pasti menuju sebuah pintu yang di yakininya sebagai kamar dari sang pemilik apartement.

Ji han terus saja menghentak-hentakkan kedua kakinya berharap chen melepaskannya, kedua tangan gadis itu juga tidak henti-hentinya memukul punggung chen. Namun, namja itu benar-benar kuat. Tanpa goyah sedikitpun chen membuka pintu tersebut dan benar saja pintu itu adalah pintu kamar ji han. Chen kembali melangkah pasti mendekat menuju tempat tidur.

“Maafkan aku, ku mohon…” lirih ji han.

Chen dengan sedikit kasar menghempaskan tubuh ji han di atas tempat tidur gadis itu. Dengan cepat namja yang sudah tidak mengenakan apapun di bagian atas tubuhnya itu merangkat di diatas tempat tidur menindih tubuh berantakan ji han.

“Maaf katamu ? Hehhm. Tidak segampang itu” kata chen dengan seringaian kejinya sembari menarik dua tangan ji han hingga belakang kepala gadis itu. Chen memasang sebuah borgol di kedua lengan gadis itu membuat namja itu dengan leluasa menyingkap helai demi helai benang di tubuh ji han.

“Akhhh~” ji han kembali memekik tertahan saat chen menghentakkan tubuhnya begitu kasar di bawah sana.
Gadis itu sudah terkulai tidak berdaya, dengan nafas tersengkal dan air mata yang terus mengalir namun tidak dapat berbuat apa-apa. Ji han hanya bisa meringkukkan tubuhnya saat chen melepas kontaknya.

Chen bangkit dari atas tempar tidur memungut celananya, mengenakannya kemudian kembali bergerak mendekat ke arah ji han, namja itu duduk di sisi tempat tidur menundukkan sedikit tubuhnya.

“Kau boleh melaporkanku kepada polisi atau menyebarkan berita tentang malam ini kepada media. Tapi ingat satu hal, bisa ku pastikan tidak akan ada yang percaya pada semua kata-katamu dan kau hanya akan berakhir menjadi seorang gelandangan” kata chen tepat di telinga ji han membuat gadis itu mendongak melemparkan tatapan tajam penuh benci pada namja yang tengah memberinya sebuah seringaian yang begitu menjijikkan.

“Tapi aku tidak sejahat itu. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi seorang pengangguran. Karena itu aku memberimu sebuah penawaran. Tetaplah bekerja dan anggap hari ini tidak pernah ada. Bukankah di korea begitu sulit mencari sebuah pekerjaan ?” lanjut namja itu menunjukkan kekuasaannya.

Chen meraih kedua lengan ji han di atas kepala gadis itu melepaskan borgol yang tadi di pasangnya kemudian beranjak keluar tanpa sepatah katapun.

***

Seorang gadis dengan penuh semangat berjalan menyusuri jalan kecil di gang tempat tinggalnya, dengan pakaian begitu rapi gadis itu bersiul penuh bahagia. Ya. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari pertamanya berkerja setelah di terima di sebuah perusaan. Bukan dengan hanya sekali coba gadis itu hampir putus asa karena beberapa kali mengajukan lamaran dan selalu di tolak.

“Aigooo, kau nampaknya begitu bahagia agashi” sapa seorang ahjumma yang di lewati gadis itu.

“Nae, ahjumma. Hari ini adalah hari pertamaku berkerja” jawab gadis itu dengan senyum di kedua matanya.

“Aigoo, chukkae. Semoga harimu berjalan lancar yunmi-ya” kata ahjumaa itu lagi.

“Nae ahjumma. Terima kasih” tutur yunmi sopan kemudian menunduk dan kembali melanjutkan langkahnya.

Setelah tiba di depan kantor tempatnya berkerja, gadis itu mendongak menatap kagum pada gedung puluhan tingkat itu.

“Aku akan berkerja dengan rajin” gumam yunmi pada dirinya sendiri. Membulatkan tekadnya untuk menjadi karyawan yang baik. Gadis itu membuang nafasnya keras lantas kembali merajut langkahnya memasuki gedung tersebut penuh keyakinan.

Di lain sisi saat yunmi baru saja memasuki pintu utama perusahaan, Chen sang president tengah berjalan masuk melewati resepsionis di lantai utama tepat di sisi kanan pintu masuk perusahaan miliknya, namja itu menyeringai penuh kemenangan saat mendapati seseorang yang beberapa hari lalu mendapat hukuman darinya berjalan menaiki anak tangga, berpura-pura tidak melihat akan eksistensinya.

TBC

Bebeb’s here~

Okay kali ini bebeb datang dengan tema baru. Lagi mau coba bikin cerita yang sedikit berbeda dari biasanya dan lagi-lagi chen aka kim jongdae jadi cast utama bahan percobaan gue moga-moga ada (uhuk!) yang suka ya si chen di jadiin liar gini.

Advertisements

One thought on “Mask #1 [1/2] – by bebebaek_

  1. Pingback: Mask #2End [2/2] – by bebebaek_ | BABY BEE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s