DESTINY (Final Chapter) – by bebebaek_

image

By bebebaek_

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5

Main cast : Park Chan Yeol (EXO), Nam Hye Jin (oc).

Addicional Cast : Oh Se Hun (EXO), Byun Baek Hyun (EXO), Song Ji Han (oc), Kim Jong Dae (EXO), Do Kyung Soo (EXO), Lee Yee Rim (oc).

Genre : romance, school life, drama.

Length : Chaptered | Rating : General.

Hasil khayalan sendiri, don’t plagiat.

Sorry Bertaburan Typo-.-

.

.

.

Pagi-pagi sekali chanyeol telah berdiri di depan rumah hyejin. Berdiri di sana beberapa menit berharap hyejin akan keluar.

Chanyeol berharap gadis itu akan keluar entah itu untuk pergi atau apapun. Chanyeol hanya ingin hyejin terkejut melihat dirinya di sana. Ya, chanyeol memang tidak ingin menghubungi hyejin dan memberitahu gadis itu jika kini dirinya berada di depan rumahnya.

Chanyeol masih bergelut dengan pikiran-pikiran indahnya, senyumnya tidak pernah hilang selama namja itu berdiri di depan rumah gadis pujaannya.

30 menit chanyeol masih berdiri di tempat yang sama namun tanda-tanda hyejin akan keluar dari rumahnya belum juga terlihat.

Peluh sudah membasahi wajah namja tersebut karena kini matahari pagi telah naik keperaduannya menyapa bumi memberikan cahayanya.

Chanyeol masih belum putus asa, namja itu tetap berdiri di tempatnya dengan keyakinan penuh bahwa hyejin pasti akan keluar.

Sesaat ketika namja itu memandang kearah jendela kamar hyejin, tiba-tiba chanyeol merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya.

Chanyeol tersenyum, berpikir bahwa tangan yang menyentuhnya saat ini adalah tangan hyejin yang baru saja pulang berolah raga. Ya, inikan hari minggu. Bisa saja hyejin keluar pagi-pagi untuk jogging. Pikir namja janggung itu.

Masih dengan senyum cerahnya chanyeol membalikkan tubuhnya menghadap seseorang yang sedari tadi menepuk-nepuk pundak namja itu.

“Chanyeol ? Sedang apa berdiri di sini ? Mengapa tidak masuk ?” tanya seorang ahjumma yang tadi menepuk pundak chanyeol.

Chanyeol masih tersenyum bahkan senyuman namja itu semakin melebar saat mendapati eomma hyejinlah yang menepuk pundaknya beberapa saat yang lalu.

“Ahh, ani eommoni aku hanya menunggu hyejin” kata chanyeol dengan senyum yang menampakkan deretan gigi putihnya.

Ya, eomma hyejin memang sudah begitu mengenal chanyeol. Namja itu sering kali menjeput hyejin meski atas keinginan dan sedikit paksaan dari chanyeol sendiri.

“Apa kau sudah memberi tahu hyejin ?”

“Tidak, aku berniat memberinya sebuah kejutan” aku chanyeol malu-malu.

Eomma hyejin tersenyum, ya walaupun hyejin tidak pernah bercerita apa hubungannya dengan pemuda tampan di depannya ini namun, eomma hyejin bisa tahu dengan begitu mudahnya bahkan hanya dengan melihat ekpresi dan begitu perhatiannya chanyeol kepada putrinya.

“ckckc, anak itu tidak akan keluar dari rumah bahkan dari kamarnya jika tidak memiliki janji di hari minggu seperti ini” jelas eomma hyejin.

“Benarkah ?” Kejut chanyeol.

“eoh, kajja masuklah di luar sudah panas” eomma hyejin berkata sembari membuka pagar rumahnya dan menarik lengan chanyeol untuk masuk mengikutinya.

“Hyejin, hyejin-ah!”

“Hyejin. Turunlah” panggil eomma hyejin.

Tidak lama derap langkah dari lantai atas terdengar, mendekat menuruni anak tangga.

“Ada apa eomm-a ?” Kata hyejin merendah di akhir kalimat mendapati seseorang berdiri di samping eommanya.

“Chanyeol ?” lanjut gadis itu setelah berjalan menghampiri keduanya, dan di jawab oleh namja janggkung itu hanya dengan seulas senyum yang terkesan konyol.

“Ya, nak chanyeol menunggumu sedari tadi di luar rumah, liatlah keadaannya sudah seperti orang mandi” kata eomma hyejin.

“Kenapa tidak memberitahuku ?” Tanya hyejin kepada chanyeol.

Lagi namja itu hanya menyengir ria “aku hanya ingin membuat kejutan untukmu” suara namja itu membuat hyejin memutarkan bola matanya malas.

“Baiklah, eomma ke atas dulu nae ? Pasti ada sesuatu yang nak chanyeol ingin sampaikan kan ?” kata eomma hyejin lagi.

“Ah, nae eommoni. Terima kasih” chanyeol menunduk hormat membuat eomma hyejin tersenyum dan lantas berbalik.

Setelah eomma hyejin hilang di balik anak tangga yang di naikinya, hyejin memutar tubuhnya membuatnya kini berhadapan dengan chanyeol dan menatap namja itu penuh tanya.

Chanyeol kembali tersenyum “kajja! Kita berkencan ?” Kata namja itu dengan ringannya.

“Kencan ?”

“Eoh, kita sudah berkencan selama sebulan. Dan kita tidak pernah pergi berdua”

“Benarkah ? sudah selama itu ?”

“Yak, kau tidak ingat. Kau tidak mengingat tanggal ini”

“Eoh” hyejin mengangguk.

“Ckckc, padahal aku selalu mengingatnya” suara chanyeol kecewa.

“Mian, tapi apa benar sudah selama itu ?”

“Ya. Tidak terasa kan ? Tentu saja. karena kau melewatinya denganku” ucap chanyeol dengan bangga membuat hyejin kembali memutar bola matanya malas.

“Kajja! Hyejin-ah, kita berangkat” lanjut chanyeol menarik lengan hyejin.

“Yak, tun-nggu. Kau tidak meliat bagaiamana keadaanku ?” Tanya hyejin membuat chanyeol kini menatap gadis di depannya itu lekat dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Wae ? Kau tetap cantik” polos chanyeol.

“Ishh, yak. Itu tidak lucu” marah hyejin. “Kau tunggu di sini. Aku akan ganti baju sebentar” lanjut hyejin setelahnya.

“Eum” setuju chanyeol menurut.

Tidak menunggu lama, chanyeol kembali mendongakkan kepalanya saat mendengar langkah kecil hyejin kembali mendekat ke arahnya, namja itu menatap lekat gadis yang tengah melangkah dengan mengenakan pakaian santai kaos berwarna gray yang di lapisi kardigan dengan warna senada dan bawahan jins berwarna biru itu. Tas kecil berwarna cokelat tersampir di bahu gadis itu.

“cantik” kata chanyeol sesaat setelah gadis itu kembali berdiri di depannya, yang tanpa aba-aba dari sang gadis membuat wajahnya merona menimbulkan semburat itu muncul dengan jelas di pipi putihnya.

“Yak, mau sampai kapan melihatku seperti itu ? Kau tidak ingin pergi ?” Suara hyejin.

Chanyeol kembali tersenyum lebar kemudian mengambil satu lengan hyejin dan menggenggamnya menuntun gadis itu keluar dari rumah.

“Kajja!”

Saat keduanya tengah duduk di dalam bus diam-diam hyejin menatap sisi wajah chanyeol yang duduk di sampingnya memandang ke arah luar jendela masih dengan senyum hangatnya, tanpa sadar hyejin menarik sudut bibirnya merasakan desir di jantungnya, ya. saat menatap namja itu, melihat jelas lekuk garis wajah tampannya membuat kerja jantungnya tidak dapat di kontrol.

Hyejin benar-benar ingat, selama satu bulan ini namja itu begitu berkerja keras mengubah segala sesuatu dari dirinya yang tidak di sukai hyejin, meskipun dengan segala keluh kesahnya yang terkadang membuat hyejin jengah.

Namja itu kini sudah tidak lagi bertindak sesuka hati, tidak lagi di kuasi emosi meski dengan sekuat tenaga terkadang menahannya. ya, hyejin tau begitu besar usaha namja itu untuk berubah. Chanyeol juga tidak lagi menjadi seorang yang suka membolos, namja itu mengikuti setiap pelajaran dengan tenang bahkan hyejin di buat kaget karena lonjakan nilainya yang begitu naik drastis. Tidak hanya mengundang keterkejutan hyejin tapi juga wali kelas, saem, dan teman-teman kelas mereka.

“Kenapa menatapku seperti itu ? Aku tau aku tampan” kata chanyeol menangkap basah hyejin yang tengah menatapnya.

Hyejin tersenyum manis menanggapi perkataan kelewat percaya diri dari chanyeol yang sudah begitu familiar di telinganya.

“Eoh, kau tampan” jawab gadis itu masih menatap chanyeol membuat chanyeol tersenyum lebar.

“Kalau begitu beri aku satu ciuman” kata chanyeol setelahnya.

“Lupakan. Kau tidak tampan sama sekali” jawab hyejin cepat kemudian memalingkan wajahnya menatap lurus ke depan.

Chanyeol yang melihat reaksi gadis di sampingnya itu terkekeh geli kemudian mengusap kepala hyejin gemas.

Masih dengan tangan besar chanyeol yang berada di puncak kepalanya hyejin kembali memutar wajahnya mendongak menatap chanyeol.

“Chanyeol-ah, kita mau kemana ?”

“Kau akan tau setelah kita tiba di sana” chanyeol berkata dengan lembut.

“Ckckc, sok misterius” kesal hyejin kemudian mengambil lengan chanyeol di puncak kepalanya lalu mengalihkannya kasar membuat lagi-lagi chanyeol terkekeh geli.

Ya. Entah sejak kapan rasa itu mulai tumbuh di hatinya namja itu benar-benar tidak tahu yang jelas dan yang chanyeol tahu saat ini dia begitu menyukai, ingin melindungi dan menyayangi gadis di sampingnya itu.

***

Setelah bus yang membawa hyejin dan chanyeol berhenti di sebuah halte. Chanyeol dengan sigap bangkit dari posisi duduknya, meraih satu lengan hyejin menuntun gadis itu untuk bangkit kemudian mengikuti langkahnya.

Hyejin menatap kagum pada sebuah objek di depannya setelah dirinya dan chanyeol berjalan memasuki kawasan theme park. Ya, chanyeol membawa gadis itu berkencan di lotte world, salah satu taman hiburan terbesar di korea.

image

Kedua bola mata hyejin seolah enggan berkedip saat melewati kastil-kastil megah bak istana di negeri dongeng.

Chanyeol tersenyum melihat ekspresi kagum dari hyejin, namja itu terus saja menggenggam erat tangan hyejin, menggandengnya mengajak gadis itu mencoba satu demi satu area permainan yang tersedia.

Puas mencoba hampir seluruh permainan dengan saling tertawa bersama keduanya kembali baru saja turun dari cyro drop lotte world yang mambuat keduanya terasa terbang ke langit.

“Ah, aku benar-benar pusing” kata hyejin setelah berjalan menjauh dari area tersebut.

“Kau tidak apa-apa ? Apa kau mual ?” Tanya chanyeol khawatir.
“Emmmmm” hyejin menggelengkan kepalanya pelan kemudian tersenyum lembut kepada chanyeol. Gadis itu mengulurkan satu tangannya dengan sedikit berjinjit, hyejin membenarkan rambut chanyeol yang sedikit berantakan karena permaianan tadi.

Chanyeol tertegun. Sekecil apapun bentuk perhatian hyejin kepadanya selalu saja berdampak besar pada kerja jantungnya.

“Selesai. Kajja!” Seru hyejin setelah kembali menjauhkan tangannya dari kepala chanyeol dan berbalik melangkah tanpa menyadari perubahan ekpresi namja itu.

Chanyeol yang sedari tadi tidak mengalihkan pandangannya dari hyejin akhirnya menoleh dan menatap lurus pada jalan yang di laluinya, tidak lama setelahnya kedua manik namja itu kembali menangkap sesuatu.

“Hyejin-ah, kau mau itu ?” Tanya chanyeol sembari menunjuk sebuah truk makanan yang menjual aneka jenis jajanan terparkir di seberang jalan.

“Eoh ?” Hyejin menoleh chanyeol di sampingnya kemudian mengikuti arah yang di tunjuk namja itu.

“Hmmm. Kau mau ?” Tanya chanyeol setelah memastikan hyejin melihat apa yang di maksudnya.

“Hmmmm” angguk hyejin antusian.

Keduanya lantas melangkah bersama mendekati truk tersebut kemudian mencoba setiap jajanan yang tersedia seperti tteokbokki, odeng, hot bar, dan twigim. Sesekali keduanya saling menyuapkan makanan satu sama lain. Chanyeol menyodorkan satu potong tteokbokki dengan tangannya ke mulut hyejin yang di sambut gadis itu dengan sebuah senyuman kemudian membuka mulutnya

image

image

image

image

Chanyeol yang melihat ada sisa saos di sudut bibir hyejin segera membersihkannya dengan ibu jarinya sembari tersenyum manis membuat hyejin membeku sesaat dengan perlakuan tiba-tiba dari chanyeol. Setelah chanyeol menarik kembali tangannya, hyejin segera mengambil setusuk odeng kemudian memasukkannya kembali ke dalam mulutnya sembari menatap ke arah lain berusaha menyembunyikan ronanya.

“Eoh, permen kapas” gumam hyejin saat melihat ahjussi penjual permen kapas tidak jauh dari tempatnya saat ini.

Tanpa berbicara kepada chanyeol, hyejin melangkah mendekati ahjussi tersebut. Chanyeol yang bingung mendapati hyejin yang beranjak di sampingnya lantas ikut melangkah menyusul gadis itu.

“Ahjussi, beri aku satu permen kapasnya” kata hyejin segera setelah tiba di depan ahjussi penjual permen kapas tersebut.

“Hyejin-ah” suara chanyeol menyentuh pundak hyejin sesaat setelah namja itu berdiri di samping hyejin.

“Eoh, chanyeol-ah. Mian aku meninggalkanmu” kata hyejin sembari menerima satu permen kapas dari ahjussi tersebut.

Keduanya kemudian beranjak dari tempat itu tentu saja setelah chanyeol membayar permen kapas di tangan hyejin.

“Kau mau ?” Tanya hyejin sembari menjulurkan permen kapas di tangannya kepada chanyeol sembari mengambil secuil permen kapas tersebut kemudian memasukkan sebagian ke dalam mulutnya.

Bukannya menjawab atau mengambil permen kapas di tangan hyejin, chanyeol secepat kilat menyambar sisa permen kapas yang masih di pegang hyejin di depan mulutnya membuat kedua mata hyejin membola mendapati wajah chanyeol yang begitu dekat di depannya.

Chanyeol menarik kembali wajahnya menyunggingkan seulas senyum manis miliknya kepada hyejin namun di balas gadis itu dengan sebuah pukulan pelan di dadanya.

“sudah sore, ayo. kita makan malam dulu sebelum aku mengantarmu pulang” kata chanyeol sembari merangkul pundak gadis pendek di sampingnya.

Seolah teringat sesuatu hyejin tiba-tiba menghentikan langkahnya membuat chanyeol mengernyit bingung, namja itupun ikut menghentikan langkahnya memandang hyejin menunggu gadis itu berucap tanpa perlu di tanyanya.

“Chanyeol-ah, mian. Aku lupa, hari ini aku memiliki janji makan malam bersama eomma dan bibi” kata hyejin setelah cukup lama gadis itu diam berpikir.

Chanyeol tersenyum “begitu ? Baiklah aku akan mengantarmu pulang sekarang, kajja!”

“Kau tidak marah ?”

“kenapa aku harus marah ?” Chanyeol balik bertanya masih dengan senyumnya menatap lembut hyejin di sampingnya yang hanya diam menanggapi pertanyaannya.

***

Chanyeol kembali mengetuk sebuah pintu rumah sederhana di depannya saat ini, masih dengan hyejin yang berdiri di sampingnya namja itu berniat mengantarkan hyejin hingga masuk ke dalam rumah. Ya, bagaimanapun chanyeol harus bertanggung jawab mengembalikan hyejin dalam keadaan tanpa kurang satupun pada eommanya

Setelah mengetuk pintu yang sama untuk ketiga kalinya pintu tersebut berdecit pelan, terbuka dan menampakkan eomma hyejin di baliknya.

“Kalian sudah pulang ?” Tanya eomma hyejin dengan senyum anggunnya.

“nae, ahjumma. saya mengembalikan putri anda” jawab chanyeol dengan senyum konyolnya membuat eomma hyejin terkekeh geli.

“Eomma. Apa aku terlambat ? Aku hampir lupa telah memiliki janji makan malam” suara hyejin setelahnya.

“Tidak. Kalian tepat waktu, eomma dan bibi baru saja selesai memasak”

“Ahh syukurlah, kalau begitu saya pamit ahjumma”

“Kenapa buru-buru, masuklah. bibi hyejin sangat baik, dia pasti menyukaimu” cegah eomma hyejin.

“Haruskah ? Apa tidak apa-apa ?” tanya chanyeol sungkan membuat hyejin di sampingnya diam-diam tersenyum geli melihat tingkah kekasihnya.

“Gwenchana, kajja! Masuklah.”

Chanyol kini duduk di depan sebuah meja makan sederhana berhadapan dengan hyejin yang duduk di depannya berdampingan dengan sang eomma. Namja itu terus saja menyunggingkan senyumnya karena rasa bahagia yang tidak bisa di sembunyikannya.

Hyejin meletakkan satu sendok dan sepasang sumpit di depan chanyeol membuat namja itu lagi-lagi tersenyum.

“Yak, berhenti tersenyum seperti itu” protes hyejin risih akan sikap chanyeol, namun namja itu tidak peduli. hyejin hanya dapat mendengus pada akhirnya.

“Eomma, bibi dimana ?” Tanya hyejin karena sedari tadi bibi sang pemilik rumah tidak juga menampakkan kehadirannya.

“Eoh, bibimu sedang mengambil beberapa kimchi di belakang” jawab eomma hyejin yang di balas gadis itu hanya dengan membulatkan bibirnya.

“Aigoo… apa hyejin sudah datang” suara seorang wanita paruh baya memasuki pendengaran ketiganya meski eksistensinya belum terlihat.

“Apa hyejin-ku menca-” perkataan bibi hyejin terpotong saat mendapati kehadiran orang lain di antara mereka, membuat langkah wanita paruh baya itu juga berhenti seketika.

Bibi hyejin membeku di tempat menatap dengan tatapan yang sulit di artikan kepada chanyeol, tiba-tiba nampan berisi kimchi yang baru saja di ambilnya jatuh karena lengannya yang begitu lemas.

Mendengar suara nyaring nampan yang berbenturan dengan lantai keramik membuat chanyeol menoleh ke arah sumber suara, sebelumnya namja itu memang sibuk dengan ponselnya melihat hasil foto kencannya dengan hyejin hari ini.

Sama halnya dengannya apa yang terjadi pada bibi hyejin, chanyeol yang sebelumnya tersenyum manis tiba-tiba berubah menjadi datar, dingin menatap pada satu objek yang begitu lama tidak di lihat kedua maniknya, kedua mata namja itu mengabur menciptakan sebuah lapisan bening dan mengembun di dalamnya. Tatapan chanyeol sarat akan kerinduan, kekecewaan, rasa sakit, dan bahagia karena bisa kembali di pertemukan oleh takdir.

“E-eo-omma” suara chanyeol bergetar sukses membuat hyejin dan sang eomma terkejut setelah beberapa saat bingung akan reaksi keduanya.

Hati wanita paruh baya tersebut mencelos, mendengar panggilan yang bertahun-tahun tidak lagi menyapa indera pendengarannya. Dengan kedua bola mata yang berembun wanita paruh baya itu perlahan menghampiri chanyeol, mengulurkan kedua tangannya yang bergetar hebat untuk kemudian menyentuh sisi wajah chanyeol.

“Chan-yeol-ah” suara wanita paruh baya tersebut bergetar.

Chanyeol menatap dalam wajah ibunya yang selama ini di cari-carinya, sosok yang begitu di rindukannya dan figur yang di butuhkannya.
Chanyeol merengkuh tubuh ibunya memeluk tubuh wanita yang sedikit berubah sejak terakhir kali di lihatnya, menyalurkan rasa yang selama ini di pendamnya hanya lewat sebuah pelukan, chanyeol tidak lagi dapat menguraikan satu demi satu dari banyaknya pertanyaan yang selama ini bersarang di benaknya, namja itu meleburkannya dengan sebuah pelukan hangat, pelukan yang begitu di rindukannya.

Hyejin yang masih duduk di tempatnya menatap haru pada sebuah pemandangan di depannya, gadis itu merengkuh pundak eommanya kemudian tersenyum bersama. Hyejin sama sekali tidak menyangka jika bibi yang memiliki nama yang  sama dengannya, bibi yang begitu baik kepadanya, bibi yang menyayanginya seperti anak sendiri, bibi yang selalu menemani eommanya adalah ibu chanyeol.

Tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas di kepala gadis itu ‘ahhh, jadi itu mengapa chanyeol begitu terkejut saat saem memanggil namanya dan menyebutnya adalah takdirnya’.

“Ayo kita makan” suara eomma chanyeol memecah kehening, wanita paruh baya tersebut lantas melonggarkan pelukannya kemudian menghapus jejak air mata di pipinya dan di kedua pipi chanyeol sembari tersenyum.

Keempatnya masih larut dalam kegiatan makan bersama, eomma chanyeol selalu memperhatikan sisi wajah putra yang di tinggalkannya bertahun-tahun, sesekali wanita itu mengambilkan beberapa lauk kemudian meletakkannya di piring chanyeol. Chanyeol tersenyum yang di balas wanita paruh baya tersebut juga dengan senyum tulusnya.

“Jadi bagaimana kalian bisa saling mengenal ?” Tanya eomma chanyeol membuat keduanya menghentikan aktifitas mengunyah mereka. Chanyeol dan hyejin saling menatap.

“Itu karena w-“

“Karena takdir” potong chanyeol cepat membuat eommanya, eomma hyejin bahkan hyejin menatap bingung pada namja itu.

“Karena hyejin dan hyejin adalah takdirku” jelas chanyeol menatap hyejin dan eommanya bergantian membuat mereka akhirnya tersenyum bersama.

Tawa semakin terdengar jelas saat hyejin dengan begitu cueknya menjelaskan setiap peristiwa pertemuannya dengan chanyeol, gadis itu bahkan tanpa segan menjelek-jelekkan namja itu di depan eomma mereka.

“Yak, yak! Berhenti. Aku tidak seburuk itu” protes chanyeol.

“Tidak apanya, kau hanya bisa marah, memerintah dan-“

“Tapi akhirnya kau menyukaiku” kata chanyeol memotong perkataan hyejin, namun ketika sadar akan situasi namja itu langsung menatap canggung eomma hyejin dan eommanya.

“Jadi kalian…” eomma chanyeol menggantung kalimatnya sengaja menatap penuh tanya pada chanyeol dan hyejin.

Chanyeol tersenyum canggung kemudian menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal menanggapi pertanyaan dari eommanya sedangkan hyejin, gadis itu hanya diam dan menunduk malu.

Keempatnya kembali diam saa duduk bersama setelah selesai membereskan meja makan.

Eomma chanyeol menatap chanyeol, tersenyum melihat namja itu tengah sibuk menjahili hyejin.

“Bagaimana kabar appamu ?” Suara eomma chanyeol sukses membuat namja itu memalingkan wajahnya menoleh kepada eommanya dengan raut wajah yang berubah kentara, senyum itu sirna. Rautnya menegang, dingin seperti chanyeol yang di buatnya selama ini.

Menyadari perubahan ekpresi wajah chanyeol, hyejin yang tahu persis hubungan ayah dan anak itu perlahan menyentuh tangan chanyeol dan menggenggamnya, berharap chanyeol kembali tenang dan dapat menekan semuanya.

***

Hyejin berdiri seorang diri di depan gerbang utama sekolah, dengan kedua tangan melipat di depan dadanya gadis itu mendongakkan kepalanya mencari-cari seseorang. Ya, hyejin menunggu chanyeol, sejak kemarin malam gadis itu terus saja kepikiran chanyeol mengingat tegangnya pembicaraan namja itu dengan eommanya ketika wanita paruh baya itu menyinggung ayahnya.

Hyejin khawatir chanyeol kacau seperti terakhir kali dirinya melihat namja itu penuh amarah saat berhadapan dengan sang ayah.

Lama hyejin menunggu sembari m menendang-nendangkan kakinya ke udara hingga akhirnya sosok jangkung itu terlihat melangkah mendekatinya.

“Anyeong my destiny. Kau menungguku ?” Tanya chanyeol setelah tiba di depan hyejin.

Hyejin terpaku, meneliti raut chanyeol mencari kebohongan di dalamnya namun sama sekali tidak di temukan gadis itu, ya jauh berbeda dari apa yang di bayangkan dan di khawatirkannya chanyeol tiba dan berkata dengan raut cerah dan senyuman sumringah hangatnya.

“Apa kau merindukanku ?” Tanya chanyeol lagi. “Eyyyy, kita bahkan baru berpisah beberapa jam” lanjut namja itu masih dengan senyum khas miliknya.

“Yak, Hyejin-ah. Wae ?” chanyeol kembali bertanya karena sedari tadi hyejin sama sekali tidak menjawabnya.

“Kau terpesona pada ketampananku ?” kata chanyeol percaya diri.

“Ckckc, ayo masuk bel sebentar lagi berbunyi” jawab hyejin sembari mengayunkan langkahnya meninggalkan chanyeol di belakangnya.

“Yak, tunggu aku” suara chanyeol di belakang.

Jam pelajaran masih berlangsung saat chanyeol dengan perlahan mengarahkan kepalanya ke samping kemudian mencondongkan wajahnya dan berbisik.

“Yak, kau menyukai Jihan ?” Tanya namja itu pada teman sebangkunya.

Jongdae memiringkan kepalanya mendengar seseorang bersuara di sampingnya, namja itu mengerjap menyadari chanyeol tengah menatap padanya. Jongdae segera mengalihkan pandangannya membenarkan letak kacamatanya dan menunduk menatap buku di depannya, namja itu masih terlalu takut berurusan dengan chanyeol yang terakhir kali akan kembali memukulnya.

Chanyeol tersenyum getir mendapati ekspresi ketakutan dari namja di sampingnya, chanyeol maklum dengan hal itu karena bagaimanapun apa yang telah di lakukannya pada jongdae memang pantas membuat namja itu membencinya.

“Maafkan aku” suara chanyeol kembali memecah keheningan.

Jongdae kembali mendongak menoleh ragu ke sampingnya, walaupun chanyeol berkata dengan begitu pelan namun masih cukup jelas terdengar di telinga jongdae. Namja itu menatap tidak percaya pada chanyeol yang kini menatap lurus ke depan.

Chanyeol kembali tersenyum kemudian membalas tatapan tidak percaya jongdae. “Maafkan aku. Aku tahu kejadian itu begitu-“

“T-tidak apa-apa, aku su-dah melupakannya, kau ti-dak perlu mengingatnya” potong jongdae tergagap.

“Gumawo” kata chanyeol tersenyum tulus.

Jongdae kembali menatap lurus ke depan memperhatikan saem yang tengah menerangkan materi pelajaran.

“Jadi, apa kau menyukai jihan ?” Tanya chanyeol kembali mengusik konsentrasi jongdae dan membuat namja berkaca mata itu menatap bingung padanya.

“Kau tidak perlu takut padaku, aku bukan lagi chanyeol yang dulu dan bukankah kita sudah berteman ?”

“Teman ?”

“Ya. Kau bilang kau sudah memaafkanku” jawab chanyeol tersenyum hangat.

Jongdae tidak lagi bersuara, namja itu bingung harus berkata apa dan hanya memilih diam.

“Kau menyukainya kan ? Aku bisa melihatnya” suara chanyeol tidak menyerah.

“Aku akan membantumu” lanjut chanyeol kali ini menepuk pundak jongdae.

***

Seisi kelas menatap kagum kearah meja chanyeol dan jongdae bahkan para siswa yeoja menatap satu objek tanpa berkedip. Bingung, ya bagaimana mungkin jongdae yang selama ini tidak di pandang kehadirannya karena tampilan cupu dengan kaca mata dan rambut keriting anehnya tiba-tiba berubah menjadi namja ganteng dengan rambut pendek yang di naikkan hingga menampakkan jelas dahinya dan mata cokelatnya yang tidak lagi di tutupi kaca minus tebal membuat namja itu kini terlihat pantas duduk di samping chanyeol yang memang luar biasa sejak kehadirannya di sekolah.

Jongdae bangkit dari duduknya melangkah menghampiri deretan kursi di depan dekat jendela kelas. Ragu-ragu jongdae berhenti melangkah di samping meja dua gadis yang tengah saling berbicara.

“Eoh jongdae” suara hyejin yang pertama menyadari kehadiran namja itu di sisi meja teman sebangkunya.

“Maaf mengganggu kalian” suara jongdae pelan.

“Aniya, gwenchana. Ada apa jongdae-ya” kali ini jihan bersuara.

“Apa aku boleh bicara denganmu ?”

“Emmm, tentu saja. Bicaralah”

“Ani, maksudku tidak di sini. Bisa kah kau ikut denganku ?”

“E-eoh ?” Jihan melirik hyejin sesaat dan mendapat sebuah anggukan dari sang sahabat. “Ya. Baiklah” suara jihan kemudian bangkit dan melangkah bersama jongdae dengan keheningan menyelimuti keduanya.

“Ckckc, mengapa ekpspresinya begitu kentara” gumam hyejin melihat punggung keduanya menjauh dan hilang di balik pintu kelas.

Hyejin kembali fokus pada bukunya mengerjakan beberapa soal yang tadi di jelaskannya kepada jihan.

Bel istirahat kedua berdering kencang, hampir seluruh siswa menghambur keluar kelas dengan tujuan masing-masing baik pergi ke perpustakaan, kantin, lapangan ataupun ruang guru. Hyejin masih duduk di kursinya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku di depannya.

“Hyejin-ah, kajja temani aku ke kantin aku sudah sangat lapar” suara seseorang mengenterupsi kegiatan hyejin membuat gadis itu mendongak menatap sang empu suara.

“Ayolah, kau mau membuatku mati kelaparan” desak chanyeol sembari menarik pelan lengan hyejin.

“Ckckc, dasar tukang paksa” gerutu hyejin sembari bangkit dari duduknya.

Keduanya berjalan menyusuri koridor kelas menuju kantin di lantai utama, saat melewati taman sekolah hyejin menangkap suatu objek yang menarik perhatiannya membuat gadis itu menghentikan langkahnya tiba-tiba.

Mendapati hyejin tidak lagi melangkah di sampingnya, chanyeol menengok ke belakang kemudian mendapati gadisnya menatap serius ke depan membuat namja itu terusik kemudian melangkah mendekati hyejin dan mengikuti pandangan gadis tersebut.

Hyejin masih memfokuskan pandangan pada dua orang di bawah pohon taman sekolahnya, sang namja meraih kedua tangan sahabatnya dan dengan mata seriusnya berujar membuat sahabatnya benar-benar terkejut. Ya, hyejin tahu jihan pasti terkejut gadis itu bisa memastikannya hanya dengan melihat raut sang sahabat saat ini.

Hyejin semakin memecingkan matanya saat dua orang tersebut berpelukan. Hyejin tahu, memang jongdae menyukai sahabatnya hanya saja hyejin belum sempat memastikan jika jihan juga menyukai namja itu.

“Bagaimana, jongdae terlihat tampan bukan ?” Suara chanyeol memecah keterkejutannya.

“Jadi itu ulahmu ?” Tanya hyejin menatap chanyeol di sampingnya dengan sedikit mendongakkan kepalanya.

“Hmmmm, sebagai permintaan maafku”

“Ahhh, begitu”

“Bukankah kau menyukai mereka bersama ?”

“Siapa bilang ?”

“Kau terus saja membicarakan keduanya saat kita mengerjakan tugas kelompok”

“Ahhh, ya waktu itu memang benar” ingat hyejin. “Woahhh ternyata jongdae bisa jadi setampan itu” lanjut hyejin masih menatap dua orang di depan sana.

“Yak, berhenti memandangnya. Kau bisa saja menyukainya jika terlalu memujinya” marah chanyeol menutup mata hyejin dengan telapak tangannya.

“Yak! Apa-apaan kau ini” marah hyejin.

Chanyeol menjauhkan telapak tangannya dari wajah hyejin kemudian memutar tubuh gadis itu membuat keduanya saling berhadapan.

“Kau tidak boleh memandang orang lain, hanya pandang aku saja. Cukup aku” kata chanyeol memandang dalam manik hitam hyejin.

Hyejin terdiam. Seolah terkunci tatapan dalam chanyeol, gadis itu mematung membalas tatapan bening mata chanyeol dengan jantung yang entah sejak kapan berdegum kencang di dalam sana.

“Yak! chanyeol-ah!” suara nyaring seseorang memutus kontak mata kedunya.

Orang yang berteriak tadi repleks menutup mulutnya dengan satu tangannya menyadari hal yang terlampau berani di lakukannya, memanggil chanyeol. Bisa di pastikan namja itu akan marah dan lebih parahnya memukulnya(?).

Dengan langkah pelan namja itu berjalan mundur satu langkah mengekor rekannya dan berlindung di balik bahu namja tinggi itu kemudian bersama mendekati chanyeol.

Setibanya di depan chanyeol keduanya sama sekali tidak melihat raut marah di wajah tegas itu karenanya baekhyun segera mangkir dari bahu sehun dan tersenyum konyol.

“chanyeol-ah, itu pasti kerjaanmu kan ?” Suara baekhyun menunjuk dua objek yang tadi di lihat hyejin dan chanyeol.

“Eoh, wae ?”

“Buat aku keren seperti si cupu itu juga” pinta baekhyun memasang mimik sok manisnya.

“kau sudah keren” jawab chanyeol sembari menarik bahu hyejin menyampirkan lengan kekarnya di sana dan menuntun gadis itu melangkah menjauhi keduanya.

“Sudahku bilang usahamu akan sia-sia” suara sehun dingin yang hanya di balas rengutan dari baekhyun.

“Hari ini kau akan menemaniku ke perpustakaan kan ?” Tanya hyejin ketika keduanya masih berjalan dengan lengan chanyeol yang masih merangkulnya.

“Mianhae, hari ini aku tidak bisa. Eomm akan ke rumah, kali ini aku benar-benar tidak bisa menolaknya”

“Ah, ya. Kau pasti bisa melakukannya”

“Hmmm” ragu chanyeol. “Aku tidak mengerti mengapa eomma begitu ingin ke rumah itu dan selalu menanyakan appa bukan membencinya”

“Terkadang apa yang kita lihat berbeda dengan apa yang mereka rasakan chanyeol-ah, suatu saat kau pasti tahu alasan eomma-mu”

“Emmm” angguk chanyeol tersenyum.

“Aku bisa melakukannya kan ?”

“Tentu saja, kau pasti bisa melakukannya” kata hyejin meyakinkan dengan senyum lembutnya yang entah kenapa memberi kekuatan kepada chanyeol membuat namja itu lagi menyunggingkan senyumnya.

***

Chanyeol memasuki halaman rumahnya bersama seseorang yang beberapa hari terakhir kembali mewarnai hidupnya.

Chanyeol membuka pintu rumah besar tersebut, menggenggam erat tangan eommanya memasuki rumah yang bertahun-tahun chanyeol anggap sebagai nerakanya.

“N-nyo-nya” panggil seseorang dengan suara paraunya.

“Ahjumma” balas eomma chanyeol melihat ahjumma yang sedari dulu membantunya merawat chanyeol.

Ahjumma melangkah pelan mendekati chanyeol dan eommanya berdiri dengan kedua tangan bergetar hemat wanita itu segera memeluk erat eomma chanyeol.

“Akhirnya aku bisa melihatmu lagi, ku kira kita tidak akan-”
“kita bertemu ahjumma” potong eomma chanyeol. Ya hubungan antara eomma chanyeol dan wanita itu memang tidak sekedar nyonya dan asisten rumah tangganya, keduanya memang sangat dekat.

Karena itu lah sekalipun wanita paruh baya itu tidak berniat meninggalkan chanyeol sendirian meski nyonya mudanya telah meninggalkannya.

Chanyeol tersenyum melihat dua wanita yang sangat di cintainya kembali bertemu, berpelukan dan saling melepas rindu.

“Eomma, bukankah eomma mau melihat kamarku ?” Tanya chanyeol setelah keduanya melepaskan pelukan mereka.

“E-oh, eomma ingin melihat bagaimana kamar putra tampan eomma. Apa kau menyembunyikan sesuatu ?” Selidik wanita itu membuat chanyeol terkekeh geli.

“Entahlah, kajja” ajak chanyeol kemudian menuntun eommanya menaiki anak tangga menuju kamarnya, meninggalkan ahjumma yang masih berdiri di tempatnya.

“Aigoo, kamarmu bersih sekali. Apa kau sudah membersihkannya terlebih dahulu ?” Kata wanita itu tidak percaya putra kecilnya benar-benar telah tumbuh dewasa.

Gelap menerpa mengganti hari menjadi malam, waktu yang chanyeol lewati bersama eommanya dalam kehangatan membuat perputaran waktu benar-benar tidak terasa.

Chanyeol kembali menuntun eommanya keluar dari kamar menuruni anak tangga menuju lantai utama. saat dua anak tangga tersisa wanita itu menghentikan langkahnya ketika mendapati seseorang yang juga berdiri mematung beberapa jarak di depannya. Chanyeol yang melihat eomma dan appanya saling menatap dengan tatapan yang sulit di artikan segera meraih lengan eommanya, menggenggamnya erat kemudian kembali merajut langkah melewati namja paruh baya yang masih mematung di tempat.

Chanyeol membuka pintu rumahnya, keluar dan kembali melangkah di sisi eommanya berniat mengantarkan sang eomma kembali ke rumah sederhananya. Namun, baru beberapa langkah keduanya berjalan melewati pintu utama tersebut tiba-tiba sebuah suara terdengar

“Hyejin-ah!” suara tuan park menghentikan langkah keduanya.

Wanita itu memalingkan wajahnya menuju sumber suara dan betapa terkejutnya wanita itu saat mendapati tuan park tengah berlari menuju tempatnya. Refleks dengan perasaan yang tengah bercampur aduk wanita itu memutar tubuhnya saat kini tuan park tengah bersimpuh di depannya.

“Maafkan aku hyejin-ah” suara tuan park lemah, namja paruh baya tersebut berkata sembari menunduk dalam.

“Hyejin-ah” panggil tuan park lagi karena tidak juga mendapat jawaban dari wanita di depannya, namja paruh baya itu mendongak dan mendapati mata berembun wanitanya.

“Mianhae, waktu itu aku di butakan oleh keserakahan. Aku menghianatimu, aku. Aku menyakitimu” kata tuan park menatap langsung manik teduh itu.

“Aku sadar semua salahku. Aku hanya mencari-cari kesalahan yang sama sekali tidak kau lakukan dan aku menyadarinya begitu terlambat. Wanita itu hanya menginginkan hartaku, aki menyuruhnya pergi sama seperti aku mengusirmu dan setelahnya. Setelahnya aku selalu berusaha mencarimu tapi kau pergi tanpa jejak, aku tidak bisa menemukanmu bertahun-tahun hingga aku putus asa, aku bingung harus bagaimana, aku terus saja merasa berdosa padamu karena itu aku bahkan tidak bisa berdiri lama saat berhadapan dengan chanyeol. Aku terus teringat dirimu saat berhadapan dengannya, aku benar-benar appa yang buruk” tutur tuan park kembali menunduk.

“Chan seul-ah” suara eomma chanyeol lembut. Wanita itu menunduk meraih pundak tuan park menuntun namja paruh baya tersebut bangkit kemudian berdiri saling berhadapan.

Wanita itu tersenyum lembut masih dengan kedua mata yang berkaca-kaca menatap teduh manja di depannya namja yang pernah menyakitanya namun juga di cintainya.

“Kau tidak perlu bersimpuh chan seul-ah, aku sudah memaafkanmu sejak lama” suara wanita itu lembut membuat tuan park mengangkat wajahnya memandang penuh kagum wanita di depannya. Tuan park tidak lagi dapat membendung perasaannya, merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukan hangatnya yang mendingin selama bertahun-tahun karenanya.

Chanyeol yang sedari tadi hanya berdiri mematung menyaksikan keduanya dalam diam tanpa sadar menaikkan sudut bibirnya membentuk senyum tulus sarat kebahagian.

[Three months later…]

Teng teng teng!

Lonceng sebuah gereja sederhana berdentum keras seolab menyuarakan kebahagian pasangan yang akan mengucapkan janji suci pernikahan.

Dan di sinilah chanyeol berdiri di salah satu sisi gereja dengan mengenakan setelan rapi lengkap dengan kemeja putih dan dasi senada yang di lapisi sweater hangatnya menggenggam erat lengan gadis yang di cintainya, gadis yang begitu cantik dengan balutan dress putih bermotif bunga-bunga kecil di atas lutut dengan lengan seperempat berdiri di sampingnya menemaninya menjadi saksi bersatunya kembali appa dan eommanya dalam sebuah ikatan pernikahan.

Chanyeol tersenyum matanya memandang gadis di sampingnya seolah benar-benar memberikan takdir kebahagiaan untuknya, selama kurun waktu belakangan begitu banyak perubahan dan hal yang terjadi.

Jongdae dan jihan dalam waktu singkat berubah menjadi pasangan yang begitu populer di sekolah, pasangan yang begitu romantis yang terkadang membuat chanyeol iri dan merasa salah karena telah mengubah jongdae menjadi keren.

Sehun. namja dingin itu terus berusaha mendekati yee rim, namun selalu di ganggu baekhyun yang tidak terima jika sehun memiliki yeojachingu sebelum dirinya.

Kyungsoo. Setelah sebelumnya namja itu di rawat di sebuah rumah sakit karena masalah mentalnya kembali bersekolah dan memulai hidupnya kembali melupakan segala sesuatu di masa lalunya.

Dan dirinya, chanyeol tidak lagi menjadi siswa paling di takuti di sekolah, sifat angkuhnya itu benar-benar telah lenyap entah kemana. Chanyeol telah berubah menjadi siswa yang tidak lagi bertingkah seenaknya. Satu hal lagi yang namja itu syukuri adalah hyejin takdirnya yang tetap setia di sisinya, merubahnya menjadi lebih baik, menemaninya, memberinya kekuatan dan membuatnya bahagia.

Waktu seakan memihak kepada chanyeol saat ini, namja itu tersadar dari lamunannya saat riuh suasana gereja saat appanya mencium lembut kening eommanya. Lagi-lagi chanyeol terseny bahagia.

Setelah upacara pernikahan selesai, chanyeol yang jengah menghadapi banyaknya tamu pada resepsi yang di adakan di halaman depan gereja tersebut segera menghampiri hyejin menarik lengan gadis itu membawanya menuju taman belakang gereja.

“Hyejin-ah, gumawo”

“Untuk ?”

“Telah menjadi hyejin yang dapat ku percaya dan mengembalikan hyejin yang dulu ku percaya”

Hyejin tersenyum “nado gumawo”

“Untuk ?”

“Menjadi namja pertama yang ku sayang setelah appa”

“Chanyeol memalingkan wajahnya, memutar tubuhnya menghadap hyejin kemudian mengambil kedua tangan gadis itu dan menuntunnya untuk menghadap ke arahnya.

“Aku berjanji akan selalu menjadi namja yang pantas untuk kau sayang”

“Eum” hyejin kembali tersenyum. “Nado, aku juga berjanji akan berusaha menjadi hyejin yang di percaya seorang park chanyeol”

Chanyeol tersenyum kemudian memeluk tubuh hyejin erat. Hyejin membalas pelukan chanyeol, melingkarkan kedua tangannya di pinggang namja itu dan membenamkan wajahnya di dada bidang chanyeol.

Chanyeol melepaskan pelukannya, membuka sedikit jarak diantara dirinya dan hyejin kemudian menatap manik cokelat gadis itu. Chanyeol mengulurkan tangannya, menyentuh pipi lembut hyejin dan menatap sekilas bibir pink gadis itu kemudian menarik tengkuknya dan mempertemukan bibirnya dan bibir hyejin.

Chanyeol mengecup lembut permukaan bibir hyejin kemudian menciumnya lamat-lamat, chanyeol kembali memeluk pinggang ramping hyejin erat, mendesaknya hingga kini tidak ada jarak di antara keduanya. Chanyeol memperdalam ciumannya menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, melumat dan menyesap bibir hyejin lembut. Hyejin larut akan ciuman chanyeol hingga membuat gadis itu menutup mata rapat, merangkulkan kedua tangannya pada leher chanyeol membuat namja jangkung itu sedikit menekuk tubuhnya dan membalas setiap perlakuan chanyeol padanya.

Fin.

Hahhhh! Akhirnya….. selesai juga satu hutang saya.
Maap maap kalau endnya hilang feel atau gak memuaskan. Dan dan dan gumawo^^ untuk yg udah baca n mau nunggu.

Eh tapi sedih juga sih, gak ada yang komen ff ini ampe end, ya mungkin gegara ini cuma karya abal-abal wajar kok wajar blog cem gini mah di read aja sudah syukur, pokoknya mah gumawo buat yang udah mampir 😍😁

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s