{Yun-Dae Couple} Valentine’s Day – by bebebaek_

image

By bebebaek_

| Injury |

Main cast : Shim Yun Mi (oc), Kim Jong Dae (EXO).

Genre : romance.

Length : Ficlet | Rating : PG teen.

Hasil khayalan sendiri, don’t plagiat.

Sorry Bertaburan Typo-.-

.

.

.

Bip bip biiiip!

Pintu apartement jongdae terbuka, seorang gadis baru saja masuk menyusup ke dalam apartement tersebut tanpa sepengetahuan sang empunya.

Keadaan apartement masih begitu gelap. Hanya ada penerangan dari sinar matahari yang menerobos tirai jendela apartement.

“Apa dia belum bangun” kata gadis itu berbicara sendiri.

Gadis itu terus melangkah melewati ruang tv kemudian mendekat ke arah pintu kamar jongdae.

Saat beberapa langkah lagi gadis tersebut dapat meraih gagang pintu kamar jongdae tiba-tiba pintu tersebut terbuka menampakkan seorang namja dengan mengenakan celana rumahan yang longgar dan kaos oblong berwarna putih, rambut namja tersebut acak-acakan, matanya masih membengkak melangkah melewati pintu dengan membuka lebar mulutnya. Ya, namja tersebut baru saja bangkit dari alam mimpinya.

Jongdae melangkah melewati pintu kamarnya dengan menguap lebar, matanya masih mengerjap hingga dua langkah setelahnya namja tersebut menghentikan langkahnya saat menyadari ada seseorang di apartementnya.

“Eoh, chagi-ya. Kau di sini ?” Kata jongdae dengan suara parau khas orang bangun tidur.

“Ah. Ya. Aku berniat ingin membangunkanmu” jawab yunmi. “Tapi sepertinya aku terlambat” lanjut gadis itu dengan wajah cemberutnya.

Jongdae tersenyum. Senyuman pertamanya di hari ini, namja itu kemudian melangkah mendekati yunmi kemudian mengusap gemas puncak kepala gadisnya tersebut dan setelahnya kembali melangkah menuju dapur.

“Ishhh yak, baru bangun saja kau sudah menyebalkan. Kau tau aku sudah susah payah menata rambutku” rajuk yunmi.

Jongdae tidak menjawab, namja tersebut tetap melangkah kemudian mengambil segelas air putih dan meminumnya.

Jongdae beranjak mengambil dua buah roti di almari dapurnya kemudian meletakkannya di atas mesin pemanggang.

“Kau sudah sarapan ?” Tanya jongdae kepada yunmi tanpa memperdulikan rajukkan sang gadis.

Yunmi tidak menjawab, gadis itu kemudian melangkah mendekati jongdae dengan wajah yang masih cemberut.

Yunmi berhenti saat kini dirinya telah berada di samping jongdae, menyandarkan pinggangnya pada meja pantri kemudian kembali menatap jongdae dengan tatapan kesalnya.

“Mianhae” kata jongdae lembut setelah sebelumnya namja tersebut menghela nafas pelan dan tersenyum.

“Kau pasti belum sarapan, mau ku buatkan satu ?” lanjut jongdae.

“Heum”angguk yunmi.

“Baiklah, tapi sebelum itu beri aku satu senyuman”

Yunmi menaikkan sudut bibirnya, membuat senyum yang terlihat jelas di paksakan.

“Yak, bukan senyum seperti itu. Tapi senyuman shim yunmi yang bisa membuatku kembali jatuh cinta padanya” kata jongdae menggoda membuat yunmi mengulum senyumnya.

“Kajja, yunmi sayang. mana senyuman untukku” namja itu masih tidak putus asa berkata sembari mendekatkan wajahnya kearah yunmi seolah mencari-cari sesuatu.

Yunmi tidak tahan, gadis itu akhirnya mengeluarkan senyumnya. Menatap gemas kepada jongdae kemudian keduanya tertawa bersama.

“Yak! Kau benar-benar menyebalkan” kata yunmi sembari mencubit gemas perut jongdae.

“Tapi kau mencintaiku” sanggah namja itu cepat.

“Ishhh, selalu percaya diri seperti biasanya” gerutu yunmi pelan.

Seolah tidak mendengar apa yang di katakan yunmi, jongdae mengangkat dua buah piring berisi roti pangganh kemudian membawanya menuju meja makan.

“Kajja, sarapannya sudah siap” kata namja tersebut sembari berlalu melewati yunmi yang masih berdiri di tempatnya.

Setelah meletakkan roti panggangnya di atas meja namja itu kembali melangkah menuju lemari es mengambil sekotak susu lalu membawanya ke meja makan.

Jongdae duduk di atas kursinya kemudian di ikuti yunmi yang duduk di kursi berhadapan dengan jongdae setelah sebelumnya gadis itu melepaskan jaket tebalnya dan menyampirkannya di atas sandaran kursi.

Kedua terdiam, fokus pada makanan masing-masing. Setelah jongdae selesai dengan sarapannya namja itu menatap pada obyek di depannya.

“Kenapa melihatku ? Apa aku tampan ?” Goda jongdae -lagi- setelah menangkap basah yunmi yang memandang kearahnya.

“Eoh” kata yunmi dengan nada kesal.

“Kau sudah selesai ?”

“Eum, gumawo. sarapan buatan jongdae-ku selalu mengagumkan” kata yunmi memuji membuat jongdae tersenyum geli.

Jongdae bangkit dari duduknya mengangkat piring di depannya kemudian mencondongkan tubuhnya berniat mengampil piring di depan yunmi.

Melihat hal itu gelagapan yunmi bangkit dari duduknya, mengangkat piring di depannya kemudian berkata.

“Biar aku saja yang mencuci piring” tawar yunmi sembari mendekat ke arah jongdae berniat mengambil piring di tangan namja itu.

“Aniya. Biar aku saja. Tuan putriku sebaiknya kembali duduk” kata jongdae sembari tersenyum manis kemudian merampas piring di tangan yunmi dan meletakkannya ke wastafel untuk kemudian di cucinya.

Yunmi hanya memandang punggung jongdae yang tengah mencuci piring yang membelakanginya.

“Chagi-ya, kau mau kemana hari ini ?” Tanya yunmi setelah beberapa saat gadis itu hanya diam tanpa suara.

“Kemana ? aku hanya akan di rumah” jawab jongdae masih dengan kegiatannya.

“Kau tidak memiliki jadwal ?” Tanya yunmi lagi sembari melangkah mendekati jongdae.

“Tidak ada, semenjak kaki ku cedera. Aku belum memulai latihan kembali” jawab jongdae kali ini menghadap kepada yunmi sesaat kemudian kembali berlalu.

“Kau tidak ingin keluar ? Apa kau tidak berencana akan pergi keluar ? eoh. Chagi-ya, yak! Kau benar-benar tidak memiliki rencana ?” Tuntut yunmi sembari mengekori langkah jongdae yang berjalan menuju kamarnya.

Jongdae menghentikan langkahnya saat berada di depan pintu kamarnya, namja itu berbalik menghadap pada yunmi kemudian menatap gadis itu tepat di maniknya.

“Aku tidak memiliki rencana apapun hari ini, tapi yang ku tahu rencanaku saat ini adalah pergi ke kamar mandi dan mandi. kau mau ikut ?” Tawar jongdae dengan seringaian jahilnya.

“Tidak” jawab yunmi cepat, gadis itu segera membalikkan tubuhnya kemudian berjalan dengan menghentak – hentakkan kedua kakinya menuju sofa dan menyalakan tv.

Jongdae kembali terkekeh geli, melihat gadisnya kesal seperti itu benar-benar membuatnya gemas dan ingin kembali menggodanya.

.

.

.

Yunmi terus menatap layar tv yang menyala tanpa minat sejak jongdae memasuki kamarnya.

Raut wajah gadis itu nampak benar-benar kesal.
“Apa jongdae lupa ini tanggal berapa ? Hari apa ? Ohhh! Padahal aku sudah memikirkan banyak hal-hal romantis” Keluh yunmi dalam hati.

Sibuk dengan berbagai keluh kesahnya membuat gadis itu tidak menyadari kehadiran jongdae yang kini berdiri di sampingnya.

Jongdae menduduknya tubuhnya menempatkan diri tepat di samping yunmi membuat gadis tersebut akhirnya sadar akan kehadiran jongdae.

“Eoh, kau sudah selesai ?” Tanya yunmi sembari menatap jongdae di sampingnya yang telah berganti pakaian namun tetap menggunakan pakaian rumahan, celana pendek dan kaos lengan panjang yang di naikkannya hingga batas siku. Rambut jongdae yang masih setengah basah membuat namja tersebut terlihat seksi di mata yunmi.

“Heum” angguk jongdae.

Ada hening sesaat sebelum akhirnya yunmi menggeser tubuhnya sedikit miring kearah jongdae, gadis itu menatap jongdae serius.

“Chagi-ya, apa kau lupa ini tanggal berapa ?” Tanya yunmi.

“Tanggal 14” jawab jongdae singkat membalas tatapan yunmi.

“Kau tidak tau ini hari apa ?”

“Minggu”

“Aniya. Bukan itu maksudku, kau lupa jika tanggal 14 februari orang-orang me-“

“Merayakan hari kasih sayang ?” Potong jongdae.

“Ya. Kau tidak mau merayakannya denganku?”

“Untuk apa merayakannya, bukankah setiap hari kita selalu merayakannya ?”

Yunmi menatap jongdae dengan kedua alis yang bertaut.

“Maksudku, bukan kh setiap harinya selalu kita lewati dengan saling menyayangi”

Yunmi mengangguk mengerti namun, sesaat setelahnya gadis itu kembali menatap jongdae.

“Tapi… chagi-ya, apa kau tidak ingin melakukan sesuatu hari ini seperti pasangan lain di luar sana ?”

“Tidak”  tegas jongdae dengan fokus pada layar tv.

Yunmi kembali terdiam, memasang wajah cemberut dan ikut menatap layar tv tanpa minat.

Mendapati yunmi yang terus saja cemberut dan mendiamkannya membuat jongdae tersenyum manis karena gemas.

“Baiklah, ayo kita merayakan hari valentine seperti yang lainnya” kata jongdae sembari mengusap pelan puncak kepala nana kemudian membawanya kedalam pelukannya.

Yunmi menatap penuh harap kepada jongdae yang kini memeluknya.

“Benarkah ?” Tanya yunmi mendongakkan kepalanya.

“Hemm” gumam jongdae mengiyakan dengan senyum lebarnya.

Yunmi menggeser sedikit tubuhnya membuat jarak diantara keduanya kemudian memposisikan tubuhnya menghadap jongdae, gadis itu kembali mendekat, menyuntuh dada jongde kemudian berkata.

“Jadi kita akan pergi kemana ?”

“Tidak kemana-mana, kita akan merayakannya di rumah” kata jongdae sembari tersenyum misterius.

Yunmi kembali menautkan kedua alisnya, menatap jongdae penuh tanya.

“Eum, karena kita akan merayakan hari kasih sayang, maka aku ingin merayakannya dengan seharian bersamamu hanya berdua” kata jongdae menjawab kebingungan yunmi.

“Kajja! Ikut aku, ada banyak kegiatan yang harus kita lakukan berdua” lanjut jongdae membawa tubuh yunmi untuk bangkit dari duduknya.

“Kegiatan ?”

“Ya. karena kau ingin merayakannya membuat banyak kegiatan yang harus kita lakukan seperti menyapu, mengepel, membersihkan debu, membersihkan kaca pembatas ruangan, dan merapikan lemariku” jelas jongdae.

“Yak, perayaan macam apa seperti itu. Apa aku pembantu ? Mengapa aku harus melakukannya”

“Karena kau menyayangiku”

“Isshhh, aku memang menyayangimu namja tampanku tapi apa aku terlihat seperti seorang pembantu sampai-sampai kau rela menyuruhku melakukan kegiatan itu ?”

“Aniya. Kau tetap terlihat seperti yeojachinguku yang manis. Aku tidak menyuruhmu mengerjakannya sendiri. Tapi bersama” jawab jongdae masih dengan senyumnya

“Kajja!” Jongdae menarik lengan yunmi. Mengajak gadis tersebut mengambil segala perlengkapan yang mereka butuhkan untuk perayaan mereka.

.

.

.

Keduanya terlarut dalam sebuah perayaan kasih sayang yang tidak biasa, membuat penyampaian sayang dengan sebuah tindakan sederhana namun membawa berjuta tawa. Banyak canda dan tawa tercipta di antara jongdae dan yunmi di sela kegiatan mereka.

Seperti di saat yunmi memulai kegiatannya dengan menyapu, jongdae terus saja menganggu gadisnya itu dengan berjalan bolak balik melewatinya, membuat yunmi kesal dan membalasnya dengan melakukan hal yang sama saat jongdae mulai mengepel. Keduanya saling melempar kekesalan dengan pukulan pelan dan berujung pada tawa dan sebuah pelukan hangat.

“Chagi-ya, tolong pegangkan kursinya untukku” suara jongdae menginteruspi yunmi yang sedang merapikan beberapa majalah di atas meja.

“Eoh, kursinya masih terlihat kokoh chagi-ya, mengapa aku perlu memegangnya ?” Tanya yunmi sembari mendekat ke arah jongdae.

“Kau lupa ? Namjachingumu ini masih dalam paerawatan pemulihan pasca cedera. Apa kau ingin melihatku jatuh dan mengenakan gips kembali di kakiku ?”

“Yak, aniya. Mian. aku lupa. Baiklah akan ku pegang erat, kau naiklah” kata yunmi mengambil posisi memegang kursi yang di maksud dan setelahnya jongdae naik keatas kursi tersebut dan membersihkan lemari ruang tengah dengan sebuah kemoceng.

“Gumawo. Chagi-ya” kata jongdae setelah kembali turun dari kursinya sembari menyodorkan kemoceng yang di pegangnya ke arah yunmi.

“Yak, kau berniat membuatku bersin ? Yak! Kim jongdae jauhkan dariku” marah yunmi, berusaha merebut kemoceng di tangan jongdae.

Setelah berhasil merebut kemoceng tersebut meski dengan usaha penuh dan berakhir di dalam pelukan jongdae, yunmi tetap melancarkan aksinya dengan menyodorkan kepala kemoceng tepat ke arah wajah jongdae. Keduanya kembali tertawa bersama.

Dan ketika keduanya tengah bersama-sama membersihkan kaca pembatas ruangan di sisi yang berbeda. Jongdae sesekali menggoda yunmi yang tengah mengelap kaca tersebut dengan mengurucutkan bibirnya menggoda yunmi seolah meminta sebuah ciuman. Tidak hanya itu jongdae bahkan dengan tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada kaca di depan yunmi kemudian mengecupnya seolah tengah mencium yunmi membuat gadis itu terperanjat karena tingkahnya yang tiba-tiba.

“Kau sedang membuat apa ?” Tanya yunmi sesaat setelah menggelayutkan tangannya manja di bahu dan punggung jongdae, membuatnya dalam posisi memeluk namja itu dari belakang.

Ya, yunmi baru saja keluar dari kamar jongdae. Merapikan lemari namja tersebut seorang diri dan setelahnya mendapati sang namja tengah memasak sesuatu di dapurnya.

“Membuat makan siang untuk kita. Lihatlah, kita melewatkan jam makan siang karena terlalu sibuk dengan kegiatan perayaan” jawab jongdae seolah tidak terganggu dengan pelukan yunmi.

“Emmmm” yunmi hanya bergumam sebagai respon atas jawaban jongdae, gadis itu masih nyaman dengan posisinya menyandarkan kepala pada punggung lebar jongdae.

Jongdae menghentikan kegiatannya sejenak, memegang lembut tangan yunmi kemudian berbalik membuat keduanya kini saling berhadapan.

“Kau pasti sangat lelah” kata jongdae sembari merapikan anak-anak rambut yunmi.

Yunmi hanya diam, menatap teduh pada manik jongdae.

“Beistirahatlah di kamar, aku akan memberitahumu jika semuanya sudah siap” suruh jongdae.

“Aniya. Aku ingin melihatmu” tolak yunmi sembari berjalan kearah meja pantri kemudian mendudukkan dirinya di atas meja tersebut.

Jongdae yang melihat yunmi berjalan dan duduk di atas meja pantri hanya menatap gadis sembari tersenyum.

“Lanjutkan saja, aku tidak akan mengganggu” kata yunmi membalas pandangan jongdae kepadanya.

Jongdae kembali tersenyum mematikan kompor yang masih menyala kemudian berjalan menghampiri yunmi. Jongdae berdiri tepat di depan yunmi yang masih duduk di atas meja pantri, jongdae merapatkan tubuhnya pada meja tersebut memangkas jarak antara dirinya dan yunmi.

Setelah wajh keduanya hanya memiliki jarak beberapa centi, jongdae mengulurkan tangannya menyentuh lembut surai hitam yunmi membuat gadis itu tercekat saat nafas hangat jongdae menyentuh kulit pipinya.

“Kau memang tidak menggangguku, tapi dengan kau duduk disini sembari memandangku manis seperti tadi kau sama saja menggodaku. Kau merusak fokusku chagi-ya” kata jongdae pelan di telinga yunmi.

Yunmi mematung di tempatnya, meskipun dirinya dan jongdae bukan hanya kali ini dalam posisi seperti sekarang namun efeknya tetap saja membuat sistem syarafnya berkerja lamban.

Jongdae menegakkan kepalanya, menyentuhkan kedua ujung hidung mereka dengan masih mempertahankan tatapan teduhnya. Jongdae sedikit memiringkan kepalanya memberi lumatan singkat pada bibir pink yang menjadi candu baginya.

“Aku tidak yakin kita dapat makan siang jika kau masih di sini, sebaliknya. aku yakin mungkin kita akan berakhir di-“

“A-an-ni-ya. Selesaikanlah. Aku lapar” potong yunmi tergagap sembari menarik dirinya menjauhkan wajahnya dari jongdae kemudian berdiri dan pergi menuju ruang tengah.

Jongdae kembali terkekeh geli, namja itu benar-benar suka menggoda yeojachingunya. Masih dengan senyum di wajahnya jongdae terus menatap punggung yunmi yang semakin menjauh darinya.

Setelah maniknya menatap yunmi yang dapat jongdae lihat dengan jelas bahkan dari kejauhan masih merona mendudukkan dirinya di sofa kemudian menyalakan tv, namja itu kembali mengukir senyumnya kemudian beranjak kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.

.

.

.

Beberapa menit berlalu jongdae akhirnya menyelesaikan pekerjaannya, namja itu berjalan menuju ruang tengah dan setelah berdiri di samping sofa jongdae menemukan gadisnya tengah terlelap dengan manisnya.

Lagi jongdae mengulas senyum tulusnya.
“Ahh, dia pasti sangat kelelahan” gumam jongdae kemudian mendekati tubuh yunmi yang tertidur dalam posisi duduk.

Jongdae menulusupkan tangan kanannya pada tengkuk yunmi dan tangan kiri pada lipatan kedua kaki gadis tersebut kemudian mengangkatnya menuju kamar.

Setelah membaringkan yunmi di atas tempat tidurnya, menarik selimut hingga batas perut yunmi. Namja itu kemudian keluar dengan menutup pintu pelan.

.

.

.

Yunmi mengerjap pelan, tubuhnya bergerak ke kanan dan kiri seolah mencari posisi yang nyaman. Gadis itu baru saja bangkit dari alam mimpi.
Yunmi membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali hingga menemukan fokusnya. kepalanya mendongak ke kiri melihat pada jam di atas nakas, pukul 19:09. Ahh yunmi baru saja menyadari jika saat ini dirinya tidak berada di dalam kamarnya, gadis itu juga telah mengingat dirinya tertidur saat menonton tv. Pasti jongdae yang memindahkannya kesini, pikir yunmi.

Baru saja yunmi bangkit dari tempat tidur, berniat keluar dan mencari keberadaan jongdae, langkah gadis itu tertahan saat maniknya menangkap sesuatu yang menggantung di balik pintu kamar jongdae.

‘Untuk shim yunmi’

yunmi membaca note yang berada di atas benda tersebut.

Yunmi meraih benda tersebut hingga berpindah di tangannya kemudian gadis itu kembali membaca.

‘pakailah dan setelahnya keluar. Aku menunggumu

Pangeran tampanmu^^’

Yunmi tersenyum setelahnya, memandang lekat pada sebuah dress di tangannya. Tanpa pikir panjang gadis itu beranjak menuju kamar mandi.

Yunmi keluar dari kamar jongdae setelah mengenakan dress yang di tinggal namja itu untuknya, dress di atas lutut dengan warna navy tanpa lengan yang memamerkan pundak indahnya. Sebuah pita besar di pinggang bagian belakang membuat gadis itu semakin cantik bahkan dengan wajah tanpa make up. Ya. Yunmi hanya mengulas wajahnya dengan bedak tipis dan lipbam miliknya.

Baru saja dua langkah gadis itu mengayunkan kakinya. Yunmi terkesima saat mendapati banyaknya lilin di lantai bawah di sisi berbeda seolah menujukan jalan untuknya terus melangkah dan menemukan seseorang di ujung sana.

Yunmi mengikuti jalan yang di penuhi lilin-lilin kecil itu. dan sekali lagi gadis itu kembali terkesima. Yunmi menghentikan langkahnya saat maniknya menemukan seseorang di depannya berdiri di sisi meja makan dengan mengenakan kemeja putih dan celana berbahan kain berwarna gelap. Sederhana namun begitu tampan di mata yunmi.

Yunmi kembali melangkah dan berhenti tepat di depan jongdae yang sedari tadi hanya tersenyum menatapnya.

Jongdae mengulurkan lengan kanannya mengulurkan sebuket bunga mawar berwarna merah muda kepada gadis di depannya.

Yunmi menatap kagum pada bunga itu, mengambilnya kemudian tersenyum manis pada jongdae.

Jongdae melangkah tanpa kata, menarik sebuah kursi untuk yunmi duduki kemudian mempersilahkannya.

Masih dengan senyumnya gadis itu melangkah kemudian duduk.

Saat yunmi telah duduk di kursinya, jongdae kembali megulurkan satu tangan kirinya mengulurkan sebuah boneka berukuran kecil ke arah yunmi.

Yunmi kembali tersenyum bahagia, mata gadis itu berbinar mendapat banyaknya kejutan indah dari namjachingunya.

Jongdae mendudukan dirinya di kursi yang berseberangan membuat keduanya kini duduk dengan saling berhadapan.

Jongdae tersenyum lembut kepada yunmi yang tengah menatapnya.

“Minumlah, kau pasti kedinginan” suara jongdae setelah beberapa saat yang lalu hanya diam dan tersenyum.

“Eum” angguk yunmi kemudian meraih mug di depannya.

“Karena kita masih belum boleh minum alkohol jadi aku menggantinya dengan cokelat hangat. Valentine juga identik dengan cokelat kan ?” Jelas namja itu.

Baru saja yunmi mengangkat mug tersebut gadis itu terkejut menyadari sesuatu.

“Eoh. Mugnya ?” Kejut yunmi.

“Ya, aku berniat mengganti mug mu yang pecah waktu itu”

“Dimana kau menemukannya ?”

“Di tempat yang sama ternyata masih ada satu. Dan lihatlah” jongdae mengangkat mug di depannya.

“Eoh, itu mug beruang yeojanya ?”

“Ya. Ini untukku” jawab jongdae kembali tersenyum.

“Kajja! Makanlah. Kau tidak ada makan seharian ini” lanjut namja tersebut.

“Eoh, gumawo telah memindahkanku ke kamar”

“Eum. Kau pasti sangat kelelahan” kata jongdae yang hanya di tanggapi yunmi dengan sebuah senyum.

“Eoh kau membuat steak ?” Kagum yunmi.

“Eum. Mianhae membuatmu merayakan valentine di penghujung hari dengan perayaan yang jauh dari apa yang kau angankan” jongdae berbicara tulus dengan menatap langsung manik yunmi.

“Aniya. Ini jauh lebih indah dari apa yang aku harapkan. Gumawo” kata yunmi meraih lengan kanan jongdae dan membalas tatapan teduh namja itu.

Keduanya saling memandang menyelami kekaguman masing-masing, jongdae mengelus punggung tangan yunmi yang menggenggam tanganya. Namja itu mendekatkan tubuhnya kearah yunmi. Seolah mengerti tubuh yunmi ikut mendekat kemudian saat wajah keduanya hampir bertemu yunmi memejamkan matanya merasakan bibir lembut jongdae menyapu bibirnya.

Hanya sesaat. Setelahnya jongdae kembali menarik wajahnya.

“Happy valentine. Ku harap kau akan tetap dan terus menyayangiku seperti aku yang terus dan terus menyayangimu setiap harinya” kata jongdae setelahnya.

“Eum” yunmi mengangguk pasti dengan sebuah senyuman termanisnya membuat jongdae tergoda. Namja itu kembali mendekatkan wajahnya dan mempertemukan bibirnya dengan bibir yunmi, menyapunya lembut kemudian menyesap dan melumatnya pelan. Mengahantarkan rasa hangat pada keduanya untuk terus saling menyayangi, tersenyum dan tertawa bersama.

Fin

image

image

image

Kira-kira gitulah bentuk deretan hadiah jongdae buat yunmi.

Banyak bener jadi ngiri *plak (di gampar yunmi)

Advertisements

One thought on “{Yun-Dae Couple} Valentine’s Day – by bebebaek_

  1. Pingback: {Yun-Dae Couple} Don’t Flirt – by bebebaek_ | BABY BEE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s