Shouldn’t Have #9

image

By bebebaek_

Prologchapter 1 chapter 2 | chapter 3 | chapter 4 | chapter 5 | chapter 6 | chapter 7 | chapter 8

Main cast : Park Ae Yeon (oc), Oh Se Hun (EXO).

Addicional Cast : Park Chan Yeol (EXO), Nam Hye Jin (oc), Kim Ra Ra (oc), Byun Baekhyun (EXO), Song Ji Min (oc), Kim Jong Dae (EXO).

Genre : family, marriage life, sad, romance.

Length : Chaptered | Rating : PG 15

Hasil khayalan murni, don’t plagiat.

Sorry Typo-.-

.

.

.

Sehun melangkah pasti menuruni anak tangga rumahnya dengan pakaian rapi lengkap dengan tas kerja di tangan kanannya.

Namja itu duduk di ruang makan, mengambil sepotong roti bakar dan memasukkannya ke dalam mulutnya, masih dengan kegiatan mengunyahnya namja itu kembali melihat pada jam tangan yang melekat di tangannya kirinya.

Masih pukul 07:21. Namun namja itu kembali bergegas bangkit dari duduknya kemudian menenggak habis segelas jus wortel dan melangkah menuju pintu.

Sejak satu pekan pasca sehun meninggalkan kediaman keluarga kim, kegiatan namja itu semakin padat. Entah sengaja menyibukkan diri agar dapat mengindari rara atau agar dirinya tidak larut dalam kesedihan karena ae yeon yang terus menghindar darinya.

Setelah hari itu, sehun memang tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di kediaman tuan kim, berkali-kali rara menghubunginya namun tidak pernah di indahkan oleh sang namja. Bahkan saat rara menemuinya di kantor pun, sehun tetap diam seribu bahasa.

Sama halnya dengan apa yang dilakukan sehun kepada rara, hal itu juga diberlakukan ae yeon kepadanya. Hampir setiap malam sehun berkunjung ke rumah sakit, menawarkan diri untuk mengantarkan gadis yang dicintainya itu pulang namun selalu mendapat penolakan dari sang gadis. menghubungi ae yeon pun sehun tidak bisa. ponsel gadis itu selalu tidak aktif setelah ae yeon memutuskan untuk tidak lagi bertemu.

Sehun melajukan mobilnya menuju kantor kebesaran milik ayahnya. Namja itu memiliki meeting penting pagi ini.

.

.

.

Di dalam sebuah ruangan besar dengan nuansa kream seorang namja paruh baya duduk di atas kursi kerjanya.

“Berapa lama dia telah meninggalkan putriku ?” Suara kim junsu bertanya pada seorang namja dengan pakaian rapi berdiri di depan namja paruh baya tersebut.

“Satu minggu tuan” jawab namja itu tegas.

Kabar mengenai kepergian sehun dan perselingkuhan namja tersebut akhirnya sampai ke telinga tuan kim, ya tuan kim yang tengah berada di jepang untuk urusan bisnisnya tidak pernah sekalipun meninggalkan sang putri tunggal tanpa pengawasan.

“Hmmm, jadi dia lebih memilih untuk pergi dan meninggalkan putri sendirian dalam keadaan terpuruk. Kurang ajar! Aku harus memberinya pelajaran” kata tuan kim penuh amarah.

“Lalu bagaimana keadaan rara ?” Tanya tuan kim lagi setelah sebelumnya mengambil nafas untuk meredakan amarahnya.

“kondisi nona melemah tuan, nona hanya mengurung diri di kamar, tidak mau makan dan tidak mau meminum obatnya” jawab namja tadi dengan nada melemah di akhir kalimat.

“namja tidak tau diri, berani-beraninya dia berselingkuh dan menyia-nyiakan putriku. Kau. Suruh anak buahmu dan beri pelajaran namja brengsek itu” suruh tuan kim setelah kembali terbakar emosi.

“Nae tuan” jawab namja tersebut kemudian pergi meninggalkan ruangan setelah sebelumnya membungkuk hormat.

.

.

.

“Yak! kau tidak makan siang ?” Suara ji min membangunkan ae yeon yang baru saja terlelap di atas meja di ruangan tim bagiannya.

“Eoh ?” Suara ae yeon sembari mengerjap.

“Kajja!” Ji min menarik paksa lengan ae yeon, membuat gadis itu bangkit dari duduknya dengan terhuyung-huyung.

“Tunggu. Aku ingin cuci muka dulu” interupsi ae yeon.

“Ahh, tidak perlu. Mau kau cuci berapa kalipun wajah kusutmu itu tidak akan hilang” suara ji min tanpa dosa dan tetap menarik ae yeon menuju kantin rumah sakit.

Setelah duduk di salah satu meja kantin dengan senampan penuh menu makan siang di depan masing-masing ji min kembali berujar.

“Yak, kau. Mengapa akhir-akhir ini kau sering menggantikan jadwal berjaga para sunbae heum ?” Kata ji min memicingkan matanya penuh selidik.

“Eoh ? Aniya. Hanya ingin menolong para sunbae yang terbentur jadwal atau ada sesuatu urusan mendesak yang tidak bisa mereka tinggalkan” jawab ae yeon setelah menelan menu pertama makan sianganya.

“Benarkah ? Kau tidak berniat untuk menghianatiku kan ?” Lagi ji min berkata penuh selidik.

ae yeon hanya menatap sahabatnya itu dengan kening berkerut tidak mengerti.

“Kau tidak berencana lulus terlebih dahulu dengan cara….”

“Yak! Apa yang kau pikirkan. Aku bukan orang seperti itu” potong ae yeon segera setelah mengetahui arah pembicaraan ji min.

“Baiklah. Baiklah. Aku mengerti. Mian. Tapi- ae yeon-ah kau yakin ? Hanya ingin membantu ?” Tanya ji min lagi.

“Kau meragukan ku ?”

“Bukan begitu. Hanya saja-, yak! setidaknya bercerminlah. Kau tidak melihat bagaimana lingkaran hitam di matamu ? Eungh~ jika aku seorang anak yang menjadi pasienmu aku pasti menolak dan menangis keras di tangani oleh dokter sepertimu. Bahkan untuk melihat jarumpun aku ragu kau bisa melihatnya” kata ji min mengejek.

Ae yeon hanya mengerucutkan bibirnya menanggapi ocehan ji min, gadis ini memang akan diam tanpa peduli perkataan siapapun jika telah berhadapan dengan makanan.

“Ae yeon-ah, setidaknya kau harus meminta jadwal pergantian. Jika seperti ini terus kau bisa mati karena tidak tidur”

“Arraseo”

“Bagus. karena jika tidak sunbae-sunbae itu akan selalu memanfaatkanmu” lanjut ji min.

“Sunbae-sunbae seperti apa yang akan memanfaatkan ae yeon ?” Suara seseorang menginteruspsi kegian makan siang ji min dan ae yeon.

Ji min menoleh kearah sumber suara dan menemukan seorang namja kini berdiri di depan meja keduanya.

“Eoh, baekhyun sunbae” kejut ji min.

“Boleh aku duduk di sini bersama kalian ?” Tanya baekhyun dengan senyum ramahnya.

“Ahh.. ya tentu saja” kata ji min.

“Bukan begitu ae yeon-ah ?” Lanjut gadis itu.

“Eoh” jawab ae yeon sekenanya.

“Yak, ada apa lagi dengan gadis ini ?” Tanya baekhyun menunjuk gadis di depannya dengan dagunya.

Merasa di tanya baekhyun yang duduk di sampingnya ji min lantas menjawab.

“Molla, sejak beberapa hari ini dia kembali bersikap aneh”

“Heum, sepertinya penyakitnya kambuh lagi” lanjut ji min dengan mimik muka di buat-buat yang membuat baekhyun tergelak menahan tawa namun berbeda dengan ae yeon yang kini hanya menekuk wajahnya.

“Sunbae, apa kau sering pulang melewati jalan setapak di samping rumah sakit ini ?” Tanya ji min setelahnya.

“Ya. Memangnya kenapa ?”

“Kau tidak melihat. Ahjumma yang menjual ikan teri kering itu benar-benar mirip dengan wajah ae yeon sekarang” ji min kembali tertawa karena perkataannya sendiri.

Baekhyun tidak tahan u menahan tawanya kali ini, dengan memegang perutnya namja itu tertawa terpinggkal.

“Terus saja kalian tertawa. Ya. Aku memang seperti ahjumma, kalian puas ?” Marah ae yeon.
“Ishhh membuatku kesal saja” lanjut gadis itu kemudian bangkit dan melenggang pergi meninggalkan baekhyun dan ji min yang terdiam di tempat.

“Apa itu tadi benar-benar ae yeon ?” Tanya baekhyun sembari memandang kepergian ae yeon.

“Eum” angguk ji min. “Ckckc, ini pasti karena teman namja brengsek itu” gumam ji min.

“Ahhh, mengapa aku mengingat namja brengsek itu lagi. Bodoh” lanjut ji min memukul pelan kepalanya.

“Heum ?” Baekhyun bertanya tidak mengerti.

“Ahh. aniya sunbae” elak ji min sembari tersenyum canggung kemudiam kembali memukul pelan kepalanya lagi.

Baekhyun yang masih melihat ke arah ji min diam-diam tersenyum manis melihat tingkah gadis di sampingnya itu.

.

.

.

Sehun masih di sibukkan dengan setumpuk kertas yang harus di tanda tanganinya.

Malam telah larut saat namja itu menyelesaikan tanda tangan pada kertas terakhirnya. Sehun melepaskan pulpen yang masih tersemat diantara jemarinya. Namja itu sesaat merentangkan kedua tangannya untuk sekedar merenggangkan otot-ototnya.

Sehun meraih ponselnya melihat angka jam saat ini dan menatap sesuatu yang membuatnya terpaku untuk beberapa saat. Ya, sejak tidak lagi bisa bertemu dan berbicara dengan sang gadis pujaan sehun memasang foto ae yeon untuk di jadikan wallpaper ponselnya. Persetan jika dia dianggap namja murahan, sehun tidak peduli. Baginya melihat wajah tersenyum ae yeon di layar ponselnya cukup untuk menjadi obat rindunya.

Sehun menghela nafasnya pelan, namja itu kemudian bangkit. Mengambil tas kerjanya dan melangkah meninggalkan ruangannya. Ya, sehun kembali berniat untuk pergi menemui ae yeon, berharap gadis itu berubah pikiran dan mau berbicara dengannya.

Dengan langkah pasti sehun masuk ke dalam mobilnya yang masih terparkir di tempatnya. Namja itu menyalakan mesin mobil dan melaju meninggkan kawasan perkantoran milik sang ayah.

Tanpa sehun sadari dua buah mobil sedan berwarna hitam tengah membuntutinya, sesaat setelah mobil sehun melaju, dua mobik tersebut juga ikut melaju.

Saat mobil sehun melaju menyusuri kawasan yang cukup sepi tiba-tiba dua mobil sedan di belakangnya memblokir laju mobil sehun membuat sehun refleks menginjak remnya kuat.

Sehun tersentak, namja itu menangkupkan rahangnya saat menyadari dua mobil itu kini berhenti di depan mobilnya.

Tanpa banyak pikir, sehun turun dari mobilnya dengan emosi yang memuncak. Namja itu melangkah cepat menuju mobil yang masih diam di depannya tanpa ada seorangpun yang keluar.

“Yak! keluar huh!” marah sehun mengetuk kaca mobil salah satu diantaranya.

“Kau ingin mati ? Yak! Jika kau ingin mati jangan membahayakan orang lain” lanjut sehun di depan mobil yang sama.

“Yak! Keluar!” Lagi sehun berteriak.

Tiba-tiba pintu mobil terbuka seorang pria dengan pakaian rapi serba hitam keluar dari kursi kemudi di ikuti beberapa orang dari kursi belakang dan dari mobil satunya.

Pria yang dapat sehun lihat berjumlah delapan itu kini berdiri di depannya dengan raut meremehkan.

Perlahan sehun memundurkan langkahnya namun saat satu orang diantaranya menerjang sehun membuat namja itu terhuyung.

Sehun di serang. Satu dua kali namja itu berhasil membela diri bahkan membalas serangan kepada beberapa di antaranya namun, saat seseorang berhasil memukul tengkuknya dengan tongkat bisbol pertahanan sehun roboh.

Sehun tersungkur diatas aspal jalanan dengan darah bercucuran dari kepala, pelis dan sudut bibirnya. Namja itu hanya meringis saat beberapa diantara pria-pria berpakaian hitam itu menendang bahkan menginjak-injak tubuhnya.

Sehun memejamkan matanya menahan sakit di sekujur tubuhnya. Beberapa saat serangan pada tubuhnya berhenti saat seseorang berkata.

“Yak, sudah cukup. Tuan kim hanya memerintahkan kita untuk memberinya pelajaran bukan membunuhnya”

Sehun dapat mendengar jelas perkatan salah seorang dari pria tersebut walaupun dengan masih memejamkan mata, kesadaran namja itu belum hilang.

Sehun kembali dapat mendengar saat suara mesin mobil menyala dan melaju meninggalkannya yang masih tersungkur di atas jalanan.

Dengan sekuat tenanga namja itu berusaha bangkit, memegang satu lengannya yang sakit kemudian berjalan dengan terseok-seok ke arah mobilnya.

Setelah berhasil masuk ke dalam mobil, sehun kembali terdiam. Namja itu mengingat-ingat apa yang baru saja dia dengar. tanpa sadar tangannya mengepal erat.

Sehun kembali menyalakan mobilnya, dengan sekuat tenaga namja itu menahan rasa sakitnya dan melaju kembali menuju rumah sakit.

Setelah tiba di depan rumah sakit, masih dengan langkah terseok-seok sehun masuk. Beberapa perawat terus saja menghampirinya menawarkan bantuan namun selalu di tepis oleh sehun.

Bukannya IGD yang di tuju namja dengan kondisi yang penuh luka itu, sebaliknya sehun terus melangkah menuju ruang perawatan khusus anak. Namja itu terus berjalan tanpa mengindahkan suara-suara tangis anak kecil yang takut melihatnya. Lagi-lagi sehun menipis setiap perawat yang berusaha menahannya.

Langkah sehun berhenti saat menatap punggung seseorang yang tengah berjalan di depannya. “Ae yeon-ah” suara sehun pelan. Cukup keras usaha namja itu untuk dapat mengeluarkan suaranya.

Ae yeon tersentak saat mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. suara yang begitu dia rindukan, suara yang mampu membuat sistem sarafnya lambat memproses perintahnya.

Ae yeon hanya diam tak begeming. Gadis itu masih dalam pendiriannya.

“A-ae ye-eon a-ah, mi-anha-ae” suara sehun kali ini lebih pelan.

Bug!

Tubuh sehun jatuh di atas dinginnya keramik, namja itu sudah tidak dapat membendung sakit di sekujur tubuhnya.

Semua orang yang berada di dalam ruangan terhenyak dan beberapa diantaranya bahkan secara tidak sadar bersuara membuat sedikit kegaduhan di dalam ruangan.

Para perawat mengahambur mendekati tubuh sehun. sedangkan ae yeon masih diam di tempatnya, gadis itu bimbang, rasa takut dan rasa bersalah masih dominan di dalam hatinya. Keputusannya untuk tidak menyakiti siapapun terlampau begitu bulat. Namun, saat mendengar pekikan dan kegaduhan di sekitarnya perlahan ae yeon membalikkan tubuhnya dan seolah waktu berhenti saat itu juga. Dengan begitu nyata ae yeon melihat tubuh lemah sehun tergeletak di atas lantai dengan beberapa lebam dan luka di mana-mana.

Ae yeon menutup mulutnya dengan satu tangannya merasa begitu terkejut dengan kondisi seseorang yang baru saja memanggilnya lirih. Hanya terasa perih, merasa begitu bodoh saat seseorang yang di rindukannya tengah begitu kesakitan dan diringa membiarkannya tanpa menengok sedetikpun.

Perlahan ae yeon menggerakkan kedua kakinya yang entah sejak kapan terasa begitu kaku mendekat menghampiri sehun. Tangan kanannya terulur gemetar menyentuh wajah pucat penuh lebam itu dan setelahnya sebulir air mata lolos melewati pipi putihnya.

Tangis ae yeon pecah gadis itu mendekap erat bahu namja yang kini tidak sadarkan diri itu. Ae yeon telah melupakan pendiriannya, meninggalkannya jauh dan berusaha egois untuk kembali dapat bersama orang yang cintainya.

.

.

.

Tiga jam setelah sehun jatuh tidak sadarkan diri di ruang perawatan anak, namja itu kini terbaring di atas bangsal ruang perawatan khusus untuknya.

Ae yeon masih setia menunggu sehun siuman, gadis itu tidak melepas barang satu menit pun tangan sehun. kedua tangan mungil ae yeon menangkup satu tangan sehun erat. Raut wajah gadis itupun masih terlihat begitu cemas bahkan saat dokter mengatakan sehun baik-baik saja. Ya. mungkin ae yeon pun mengetahuinya tapi rasa khawatir itu tidak bisa pergi dari hatinya.

Ae yeon kembali tersentak saat di rasanya jemari sehun bergerak. Gadis itu mendongak menatap wajah sehun yang masih terpejam.

“Se-hun ah”  panggil ae yeon pelan.

Ae yeon dapat melihat jelas saat kedua mata sehun mengerjap pelan kemudian perlahan membukanya.

“Se-sehun” panggil ae yeon lagi sesaat setelah sang namja membuka matanya.

Sehun tersenyum lembut, bahagia. Ya bahagia. Walaupun tubuhnya terasa begitu sakit. Namun, hatinya bahagia. Ya, setidaknya dengan begini dia dapat melihat gadis yang di cintainya berada di dekatnya, menyebut namanya bahkan menggenggam tangannya.

“A-ae yeon-ah” suara sehun berusaha bangkit dari posisi tidurnya.

“Yak, jangan terlalu banyak bergerak tubuhmu dipenuhi dengan lebam” peringat ae yeon. “Kau. Apa kau di tabrak orang lagi ?” Tanya ae yeon.

Sehun tersenyum, namja itu tidak dapat menahan rasa bahagianya saat melihat ekpresi ae yeon berbicara.

“Ani. Aku hanya minta seseorang untuk memukulku agar kau mau bertemu dan berbicara padaku” bohong sehun.

Ae yeon cemberut, nampak ekpresi tidak suka di wajahnya. Gadis itu kemudian melepas genggamannya pada tangan sehun dan menarik tubuhnya sedikit menjauh dari sehun.

Sehun menahan pergerakan ae yeon, namja itu mengambil kembali tangan ae yeon yang beberapa saat lalu melepas tangannya. Kali ini bukan ae yeon yang menggenggam lengan namja itu tapi sebaliknya.

“Aniya” suara sehun sembari menggenggam hangat tangan ae yeon yang entah sudah berapa lama tidak dapat di sentuhnya.

“Aku di serang sekumpulan orang-orang saat dalam perjalanan kesini. Mereka sengaja menjegal mobilku di jalanan sepi” cerita sehun.

“Sekumpulan orang-orang ?”

“Heum” angguk sehun “sekumpulan orang-orang suruhan”

“Suruhan ? Kau tau siapa yang mengutus mereka ?”

“Ya. Sepertinya aku tau siapa” kata sehun kembali mengengingat perkataan seseorang saat dirinya masih tersungkur diatas jalanan.

Sesaat keduanya di selimuti kesunyian, sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Ae yeon-ah” suara sehun memecah keheningan.

“Eoh ?”

Sehun bangkit dari posisi tidurnya kemudian duduk dan kembali menggenggam tangan ae yeon erat.

“Ku mohon jangan pernah meninggalkanku dan” sehun menggantungkan kalimatnya, sesaat namja itu menatap mata ae yeon di depannya dalam. “Menikahlah denganku” lanjut sehun mantap.

Ae yeon tersentak. Gadis itu benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar meskipun tidak bisa di pungkiri jantungnya kini berdetak cepat di dalam sana.

“Sehun-ah” suara ae yeon berusaha keluar dari rasa terkejutnya.

“Tapi kau sudah menikah sehun-ah. Kau-“

Grep!

Sebuah pelukan hangat memutus perkataan ae yeon. “Aku akan menyelesaikannya. Aku janji. Aku akan cepat menyelesaikannya. Aku hanya mencintaimu ae yeon-ah. Kau tau itu. Aku tidak ingin kembali berpisah denganmu” kata sehun masih memeluk ae yeon.

Ragu-ragu ae yeon membalas pelukan sehun. Membenamkan wajahnya di pundak sehun, melepas kerinduan di antara keduanya.

“Kau percaya padaku ?” Tanya sehun tepat di manik ae yeon setelah sebelumnya merenggangkan pelukannya, memberikan jarak diantara keduanya.

“eum” ae yeon mengangguk ragu. Ya, kali ini ae yeon berusaha yakin dengan hatinya, membiarkan egonya menuntunnya untuk memiliki sehun seutuhnya.

Sehun kembali tersenyum kemudian menarik kembali tubuh mungil ae yeon ke dalam pelukannya.

.

.

.

“Bagaimana anak buahmu sudah menjalankan tugasnya ?” Tanya tuan kim pada seorang namja yang sama beberapa hari yang lalu.

“Ya. Sudah tuan”

“Bagus. Apa dia sudah kembali ke rumah dan bersimpuh di hadapan putriku ?”

“Tentang itu. Belum ada kabar ke datangan tuan muda ke kediaman nona tuan”

“Apa ? Jadi dengan gertakkan kecil seperti ini namja kurang ajar itu masih tidak takut” kata tuan kim dengan seringaian miringnya.

“Baiklah, perintahkan beberapa investor untuk menarik saham mereka dari perusahaan oh”

“Anda yakin tuan ?”

“Aku selalu yakin jika hal itu berkaitan dengan putriku”

“Nae baiklah tuan”

Namja tersebut keluar dari ruangan tuan kim. Menyisakan lelaki paruh baya tersebut dalam keheningan. Bagaimanapun dia begitu menyayangi putri semata wayangnya. Apapun akan di lakukannya demi kebahagian sang putri.

.

.

.

Setelah dua hari di rawat di rumah sakit sehun akhirnya di perbolehkan pulang atas dasar desakannya yang harus segera kembali ke kantor untuk menyelesaikan beberapa urusan.

Luka dan lebam di wajah maupun tubuhnya bahkan belum sembuh seutuhnya namun dokter telah memastikan kondisinya baik-baik saja.

Setelah beberapa saat yang lalu sehun keluar dari ruang perawatan anak hanya untuk berpamitan kepada ae yeon, namja itu segera menyalakan mesin mobilnya dan melaju menuju rumah.

Setibanya sehun di rumahnya tepatnya kediaman keluarga oh, namja itu di sambut oleh kedua orang tuanya -tuan oh dan nyonya oh- yang baru saja tiba di korea beberapa jam yang lalu.

“Jadi kau selama ini tinggal di rumah sehun-ah ?” Tanya tuan oh penuh penekanan.

“Aboeji, eommoni ? Kapan kalian tiba ? Meng-“

“kau tinggal di rumah dan meninggalkan istrimu sendirian di kediaman kalian ? Yak! Apa yang kau pikirkan oh sehun ?” Kata tuan oh lagi penuh amarah tanpa mempedulikan pertanyaan sehun.

“Kau seorang namja yang memiliki istri, kau sudah menikah. Kau memeliki tanggung jawab untuk melindungi istrimu tapi apa yang kau lakukan. Kau meninggalkannya dan membuat semua investor dari KGrup meninggalkan perusahaan kita” jelas tuan oh.

“Ahh jadi karena itu ?” Suara sehun sembari tersenyum miring.

“Apa aku pernah menyetujui pernikahan ini ? Apa aboeji pernah bertanya padaku ? Tidak!. Aboeji hanya mementingkan perusahaan aboeji. Aboeji tidak pernah memikirkanku. Kalian merencanakan pernikahan ini tanpa sepengetahuanku. Kalian lupa ?”

“Yak! Kau-“

“Yeobo, yeobo tenanglah” potong nyonya oh.

“Sehun-ah, bukankah kau tidak menolak perjodohan tempo hari nak ?” Tanya nyonya oh lembut.

“Ya. Aku memang tidak menolak perjodohan itu. Dan itu jauh sebelum aku tau jika kakek park dan kakek oh telah terlebih dahulu menjodohkanku dengan ae yeon”

Deg!

tuan oh dan nyonya oh terhenyak bagaimana sehun mengetahuinya ?

“Apa kalian pernah memberitahukan hal itu kepadaku ? Apa kalian pernah meminta pendapatku ? Tidak. Aboeji dan eommoni bahkan merahasiakannya dariku. Kalian hanya mementingkan perusahan”

“Lihat. kalian bahkan tidak menanyakan kondisiku setelah tiba di rumah ini. Ckck”

Tuan oh dan nyonya oh terdiam, merasa tertohok dengan semua penuturan dari sang putra.

Nyonya oh memandang pada sehun yang berdiri di depan mereka. Wanita paruh baya tersebut menemukan keganjilan di wajah tampan putranya.

“Se-sehun-ah, ada apa dengan wajahmu ?” Tanya nyonya oh mendekat mengulurkan tangannya menyentuh wajah sempurna sehun yang masih meninggalkan jejak luka dan lebam.

“Kalian pasti akan terkejut jika mengetahuinya” suara sehun kemudian berbalik berniat beranjak menuju kamarnya.

“Sehun-ah, setidaknya jelaskanlah kepada kami” nyonya oh kembali bersuara.

Sehun berbalik kemudian tersenyum tulus kepada nyonya oh. “Ini adalah hadiah dari ayah mertuaku eommoni dan mungkin karna beliau belum puas karenanya sekarang beliau mengincar perusahan” jelas sehun kemudian kembali berbalik dan beranjak menuju kamarnya yang berada di lantai atas.

“Yeobo, bagaimana ini ?” tanya nyonya oh kepada suaminya yang masih terdiam.

Tuan oh menatap punggung sehun yang menjauh darinya, seolah tersadar akan sesuatu. Lelaki paruh baya itu menghela nafasnya berat kemudian duduk di atas sofa ruang tengah tersebut.

.

.

.

Satu bulan setelah sehun meninggalkan kediaman keluarga kim, setelah mendapati sejumlah orang mencegat dan memberinya banyak lebam. Tidak sampai di situ perusahan milik keluarganya pun ikut goyah karena ulah seseorang yang di yakini sehun adalah tuan kim.

Sehun tahu apa maksud dari semua kejadian yang di alaminya beberapa hari belakangan ini. Namun, namja itu tetap pada pendiriannya. Dia tidak ingin lemah dan menyerah begitu saja.

Sehun berkali-kali lipat lebih sibuk saat ini, bahkan untuk pulang ke rumah saja namja itu tidak sempat, sehun berusaha membuktikan dan memberikan yang terbaik kepada ayahnya yang telah memberikan kepercayaan untuknya menyelesaikan semua permasalahan pada perusahaan tanpa harus mengemis kepada tuan kim.

Sehun menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerjanya, satu tangannya terangkat menyentuh keningnya yang terasa begitu tegang dan membiarkan posisinya seperti itu untuk beberapa saat.

Seakan teringat sesuatu namja itu lantas kembali dalam posisi duduknya, mengambil ponsel yang tergelatak di sisi kiri meja kerjanya. Sehun tersenyum saat membuka pesan chat yang di kirim ae yeon untuknya beberapa jam yang lalu. Ya, sudah berapa hari dia tidak bisa bertemu dengan gadis yang di cintainya itu.

Keesokan harinya mobil sehun memasuki gerbang megah kediaman keluarga kim. Para penjaga
dan pelayan menunduk hormat setelah sehun berjalan melewati pintu utama rumah tersebut.

Dengan langkah pasti sehun menaiki anak tangga menuju kamar rara. Sehun membuka pintu perlahan menampakkan seseorang yang masih duduk di atas tempat tidurnya menatap kosong ke arah luar jendela.

Perlahan sehun melangkah masuk dan berdiri di sisi tempat tidur dan seolah tersadar akan kedatangan seseorang, rara menoleh ke arah derap langkah yang masuk ke dalam pendengarannya.

Mata kosong rara seketika berbinar saat mendapati orang yang benar-benar di harapkannya kini berada di depannya. Dengan tubuh lemahnya rara berusaha bangkit dan berdiri di hadapan sehun.

“Se-sehun ah” panggil rara mengulurkan tangannya ke sisi wajah sehun.

“Sehun-ah, aku tau kau pasti akan kembali” nanar rara.

“Eoh. Kau mau mandi ? Biar aku siapkan air hangat untukmu. Ah ani. Apa kau sudah sarapan ?”

“Aku hanya ingin menyerahkan ini” sehun mengulurkan sebuah amplop berwarna cokelat.

Rara hanya memandang tidak mengerti pada amplop yang di ulurkan sehun kepadanya.

Tidak juga menyambut amplop tersebut dari tangannya, sehun kemudian meletakkan amplop tersebut di atas meja nakas tepat di samping keduanya berdiri saat ini.

“Itu surat perceraian kita, aku sudah menandatanganinya. Sekarang giliranmu” suara sehun dingin kemudian berbalik berniat untuk keluar.

Baru dua langkah sehun mengayunkan kakinya rara tiba-tiba beranjak dan berdiri di depannya mencegah namja itu untuk menggapai pintu kamarnya.

“Tidak sehun-ah, aku tidak ingin berpisah denganmu” rara berujar sembari menggerakkan kepalanya gusar. Gadis itu melangkah mendekati sehun kemudian menghambur memeluk sehun erat.

“Kau tidak boleh meninggalkanku, kau tidak boleh pergi lagi. Ku mohon” isak rara menahan tangisnya di sela pelukannya.

Rara merenggangkan pelukananya membuka sedikit jarak antara dirinya dan sehun. Gadis itu mendongak menatap sehun yang hanya diam tanpa suara. Seperti biasa namja itu tidak berubah selalu dingin kepadanya.

“Aku tidak ingin bercerai denganmu. Ak-ku mencintaimu sehun-ah” tutur rara dan setelahnya gadis itu menjinjitkan kedua kakinya, kedua tangannya betumpu merangkul pundak sehun. Rara mengecup bibir tipis sehun. Menciumnya sepihak meski tidak mendapat respon dari sehun. Namja itu hanya diam mematung bahkan saat rara semakin gencar memperdalam ciumannya, tangan indah gadis itu dengan gegabah membuka tiga kancing kemeja sehun, menyentuh kulit pucat dada namja yang selama ini benar-benar ingin di milikinya.

Gadis itu akhirnya mengakhiri ciuman sepihaknya saat menyadari sehun tidak juga membalas perlakuannya.

Rara melepaskan tautannya kemudian kembali berdiri di depan sehun dengan wajah menunduk dalam.

Sehun yang sedari tadi hanya diam tanpa suara lantas menjauhkan lengan rara dari tubuhnya.

“Mianhae, aku tidak bisa mencintaimu dan aku tidak bisa memaksakannya. Karena itu jika kau sudah menandatanganinya beritahu aku” kata sehun kemudian berlalu meninggalkan rara yang masih menunduk.

Cukup lama setelah sehun kembali pergi meninggalkannya, rara masih terdiam dengan posisi yang sama hingga akhirnya sebuah isakan lolos dari bibirnya, bahu gadis itu terguncang hebat menandakan suatu kesakitan yang mendalam tengah menimpanya.

Rara mendongak, menatap nanar pada pintu kamar yang beberapa saat yang lalu dilewati oleh seseorang yang dicintainya, sesorang yang benar-benar pergi meninggalkannya.

Rara mengerang, menyalurkan rasa sakitnya, gadis itu menghempaskan setiap benda yang ada di atas meja nakas di sampingnya termasuk amplop cokelat yang begitu di bencinya.

Air mata terus saja mengalir di pipi mulus gadis itu, dadanya terasa sesak hingga tubuh lemahnya sudah tidak sanggup menahan pijakannya. Gadis itu roboh, terkulai tidak sadarkan diri dalam kesedihannya.

Para pelayan dan penjaga menghambur memasuki kamar yang nona muda, raut panik nampak terpatri di setiap wajah mereka.

“Tuan, nona jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri” suara seseorang tengah berbicara melalui ponselnya.

“Apa ?” suara terkejut begitu kentara di dengar oleh sang lawan bicara. Raut wajah seseorang di seberang sana nampak begitu khawatir.

“Kau. Lekas bawa dia ke rumah sakit” perintah tuan kim.

“Baik, tuan” seseorang itu kemudian menutup sambungannya. Sementara orang di seberang sana masih membatu di tempatnya.

“Aku tidak akan pernah memaafkanmu oh sehun”

TBC

Yess! Akhirnya setelah sekian lama mandek sama ide gimana mau ngelanjutin ini ff gaje bisa di lanjut jg meskipun gak tau ntar lanjutin laginya kapan. Tp tenang-tenang pasti bakal di selesain.

mksh buat yg udah mau baca, sider jg gak papa kok mksh yaaaa^^

Advertisements

8 thoughts on “Shouldn’t Have #9

  1. Pingback: Shouldn’t Have #10 | BABY BEE

  2. Pingback: Shouldn’t Have #11 | BABY BEE

  3. Pingback: Shouldn’t Have #12END | BABY BEE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s