{Yun-Dae Couple} Injury – by bebebaek_

image

by bebebaek_

Missing You |

Main cast : Shim Yun Mi (oc), Kim Jong Dae (EXO).

Genre : romance, school life.

Length : Ficlet | Rating : PG teen.

Hasil khayalan sendiri, don’t plagiat.

Sorry Bertaburan Typo-.-

.

.

.

Yunmi tengah asik di depan laptop di ruangan klubnya, ya yunmi juga tidak berbeda dari baekhyun maupun nana, gadis itu juga tergabung dalam sebuah klub.

Yunmi bergabung dengan klub MSC (movie school club) yang biasanya akan sibuk hanya di tahun akhir ajaran atau ulang tahun sekolah. Karena tidak begitu padatnya jadwal klubnya itulah yang membuat yunmi sejak awal berminat untuk bergabung. Ya, selain gadis itu juga suka menonton film sehingga membuatnya ingin tahu bagaimana proses pembuatannya.

Masih asik berkutat dengan laptopnya yunmi tiba-tiba teringat sesuatu. Gadis itu segera meraih tasnya yang berada di samping meja kemudian mengambil ponselnya dan menekan-nekan benda persegi itu hingga terhubung dengan sebuah nomer.

“Anyeong chagi-ya!” Suara jongdae berbarengan dengan munculnya wajah namja itu di depan layar ponsel yunmi.

“Anyeong chagi” jawab yunmi sembari melambaikan tangannya.

“Kau sudah bersiap untuk pergi ?” Tanya gadis itu setelahnya.

“Eoh, kau datang ?”

“Mian, aku tidak bisa. lay sunbae tiba-tiba menyuruhku untuk mengedit beberapa video. Kau tau ini sudah mendekati acara pelepasan siswa kelas akhir” jelas yunmi.

“Eum, baiklah”

“Berhati-hatilah, dan pastikan menang chagi-ya”

“Eoh, kau juga semangatlah. Dan ingat pakai kacamata antiradiasimu”

“Eum” angguk yunmi.

“By chagi-ya, mumuach” yunmi memajukan bibirnya kearah layar ponsel.

“Ughhh kau menggodaku ?”

Yunmi hanya tertawa membalas pertanyaan jongdae.

“Baiklah akan ku tutup” kata yunmi setelahnya”

“Eum” jongdae mengangguk dan

Bip! Sambungan terputus.

“Ahhh aku benar-benar haus” kata yunmi kemudian membuka laci disamping kursinya mengambil sebuah mug merah dengan gambar dua beruang yang saling bergandengan pemberian jongdae untuknya saat keduanya berkencan di pasar malam. Yunmi bangkit dari duduknya dengan membawa mug tersebut dan berjalan menuju sisi belakang ruang klubnya untuk mengambil air minum.

Setelah mengisi mugnya dengan air, gadis itu kembali duduk di kursinya, mengambil kotak kacamata di dalam tasnya kemudian memakainya

“Ckckc, jongdae selalu ingat benda ini” gumam yunmi tersenyum kemudian kembali fokus pada layar laptopnya.

Sementara itu di tempat yang berbeda, jongdae tengah berjuang penuh keringat dalam pertandingannya kali ini, babak pertama sudah hampir berakhir namun skor diantara kedua tim masih berkejar-kejaran.

Jongdae dan timnya masih berusaha memperbanyak perolehan skor sampai ketika namja itu tengah mendrible bolanya menuju ring lawan tiba-tiba seseorang dari sisi kirinya menabrak jongdae hingga namja itu terhuyung dan jatuh di tengah lapangan.

“Akhhh…” pekik jongdae sesaat sebelum tubuhnya benar-benar terjatuh. Namja itu merasakan kaki besar namja yang menambraknya menginjak kakinya kuat.

Bug!

Tubuh jongdae mendarat sempurna di permukaan lantai, namja itu terus saja memegang kaki kirinya dengan wajah kesakitan. Hingga beberapa orang menghambur ketengah lapangan.

Di waktu yang bersamaan, yunmi masih sibuk dengan kegiatannya saat tanpa sengaja lengannya menyenggol mug berisi air dan membuat mug tersebut jatuh hingga pecah dan menimbulkan suara yang cukup keras.

“Astaga! apa yangku lakukan” pekik yunmi terkejut. Gadis itu diam sesaat kemudian bangkit berniat membersihan pecahan mug tersebut.

Baru tiga pecahan berhasil dipindahkannya ke dalam kantong plastik tiba-tiba saat kembali mengambil pecahan tersebut jemarinya tertusuk tajamnya pecahan mug hingga berdarah.

“Akhhh!” Pekik yunmi merasa perih pada jemarinya.

“Ada apa ini ?” Tanyanya kemudian sembari bangkit dan berjalan menuju westafel.

Saat masih membersihkan lukanya, tiba-tiba ponsel yunmi yang tergeletak di atas mejanya berdering, gadis itu tidak mengindahkan kegiatannya hingga deringan itu berakhir, namun tidak lama kemudian ponselnya kembali berdering kembali.

Masih dengan langkah santainya gadis itu berjalan menuju mejanya, mengambil ponselnya.

“Eoh, nomer siapa ini ?” Gumam yunmi setelah melihat nomer yang tidak di kenal menghubunginya.

“Yeoboseo ?” Suara yunmi setelah sebelumnya menggeser layar benda persegi itu.

“Eoh, jongin. Ada apa menelponku ?” Tanya yunmi setelah mengetahui orang di seberang sana adalah kim jongin.

“Mwo ?” Kaget yunmi “L-la-lu bag-gaimana keadannya ?” Tanya yunmi tergagap.

“Menuju rumah sakit ?, rumah sakit mana ?”

“Eoh. Aku akan ke sana. Gomawo jongin-ssi” kata yunmi kemudian segera menutup sambungannya.

Dengan tergesa-gesa dan raut wajah yang nampak cemas yunmi segera mengambil tasnya di atas meja. Gadis itu keluar dari ruangan klubnya kemudian berlari keluar sekolah.

.

.

.

Setelah keluar dari taxi yang membawanya, yunmi terus berlari menyusuri koridor rumah sakit menuju kamar yang beberapa saat lalu di sebut perawat saat dia bertanya.

Cukup lama yunmi berlari sampai akhirnya gadis itu menemukan ruangan yang di maksud. Lelah bahkan tidak yunmi rasakan, gadis itu semakin mempercepat langkahnya saat jarak pintu ruangan tersebut hampir di gapainya.

Brak!

Pintu terbuka keras memunculkan seorang gadis dengan nafas memburu dan kening di penuhi keringat.

“Jongdae. Kau ti-” perkataan yunmi terputus ketika mendapati di dalam ruangan tersebut tidak hanya menampakkan namja yang benar-benar membuatnya khawatir namun juga seorang wanita paruh baya dan seorang pria dengan jas putih yang bisa yunmi pastikan seorang dokter.

“Ahh, maafkan saya-“

“Emmmm kau pasti shim yunmi ?” Tanya wanita paruh baya tadi bahkan saat yunmi belum menyelesaikan kalimatnya.

“Nae. Maafkan saya karena-“

“Aigoo~ akhirnya eomma bisa melihatmu. Jongdae sering bercerita tentangmu” wanita paruh baya tadi kembali bersuara.

Yunmi hanya bisa tersenyum menanggapi kalimat wanita paruh baya yang kali ini dapat yunmi simpulkan pasti eomma jongdae.

“Bercerita tentangku ? Astaga, apa yang harus aku lakukan” seru yunmi di dalam hati, gugup karena ini merupakan kali pertama dirinya bertemu eomma jongdae, gadis itu bahkan melupakan sejenak apa yang terjadi kepada jongdae.

“Baiklah, kalau begitu saya permisi nyonya” kata dokter membuyarkan lamunan yunmi.

“Ya. Terima kasih” sahut eomma jongdae.

Setelah dokter meninggalkan ruangan, eomma jongdae berjalan menghampiri yunmi. Eomma jongdae tersenyum dan setelahnya berbicara.

“Temuilah jongdae, dia pasti membutuhkanmu, eomma akan keluar sebentar mengurus segala sesuatunya”

“Ahh nae” kikuk yunmi.

“Nanti kita akan berbicara lagi” lanjut eomma jongdae sebelum akhirnya melangkah meninggalkan ruangan.

Sesaat yunmi kembali terdiam, bagaimanapun eomma jongdae tersenyum ramah kepadanya rasanya tetap saja gadis itu takut dan kikuk di depannya.

Yunmi tersadar, gadis itu melangkahkan kakinya mendekati ranjang putih lengkap dengan segala sesuatunya. Dapat yunmi lihat dengan jelas sebelah kaki namja itu terangkat keatas dengan penahan khusus dan jangan lupakan gips yang membalut kakinya.

Yunmi beringsut mendakat di sisi kiri tubuh jongdae, namja itu tengah terjepam. Mungkin tengah menahan rasa sakitnya simpul yunmi.

Mata jongdae tebuka saat gadis itu menyentuh lengan atas jongdae dengan tangan hangatnya.

Jongdae menatap nanar kepada gadis yang tengah berdiri di sampingnya, membuat gadis itu terasa ikut merasakan apa yang di rasa jongdae.

“Apa begitu sakit ?” Tanya yunmi akhirnya tidak tahan berada dalam suasana sunyi.

“eum” angguk jongdae pelan.

“Tenanglah, kau pasti cepat sembuh”

Sudut bibir jongdae terangkat mengulas sebuah senyuman namun terlihat begitu pahit. “Kau bahkan tidak mendengar apa kata dokter yunmi-ya” kata namja itu setelahnya.

“Eoh ? Memangnya apa kata dokter ?” Tanya yunmi bingung.

Jongdae menggerakkan kepalanya di atas bantal seolah mencari posisi nyaman untuknya dan setelahnya namja itu menghela nafasnya panjang.

“Mian yunmi-ya” bukannya menjawab pertanyaan yunmi justru kalimat lain yang meluncur dari bibir namja itu.

“Wae ? Mengapa meminta maaf ?”

“Karena tidak bisa mengabulkan permintaanmu untuk menang”

Diam-diam yunmi menghela nafasnya lega, sebenarnya gadis itu menahan rasa khawatirnya dan takut jongdae berujar sesuatu yang tidak ingin di dengarnya.

“Yak! Kau benar kau harus meminta maaf untuk itu terlebih aku benar-benar marah padamu, karna kau tidak mengabulkan dua permintaanku” kata yunmi setelahnya dengan wajah berpura-pura kesal.

Jongdae tidak menanggapi perkataan gadisnya, namja itu hanya menatap yunmi dalam diam.

“Kau tidak dengar apa permintaan-ku ?” Kata yunmi tertahan, sesuatu terasa membuat dadanya penuh hingga gadis itu sulit mengambil nafas. “Ku bilang berhati-hatilah, kau tidak perlu menang. Hanya tetaplah sehat untukku” lanjut yunmi saat pertahanan gadis itu runtuh sudah. Bulir kristal itu lolos dari sudut mata beningnya.

Jongdae tertugun, melihat yunmi kembali menangis karenanya membuat namja itu mengulurkan satu lengannya menarik yunmi dalam dekapannya berharap gadis itu dapat kembali tenang karena pelukannya.

“Maaf, maafkan aku” suara jongdae. “Kau tau setelah mendengar pertakaan dokter tadi, aku terus memikirkanmu. Aku takut kau akan pergi meninggalkanku karena hal ini” lanjut jongdae.

“Bodoh. Mengapa berpikir seperti itu. Kau kira aku gadis apa meninggalkanmu hanya karena cedera”

“Dokter bilang cedera ku memang masih tergolong ringan, hanya saja untuk sembuh aku harus istirahat dan tidak boleh terlalu banyak bergerak”

“Eum, aku setuju. bukakah setelahnya kau akan sembuh ?”

“Ya. Tapi untuk itu aku memerlukan waktu 6 sampai 12 minggu” lanjut jongdae lemah.

“Gwenchana chagi-ya, aku akan membantumu dan merawatmu” kata yunmi mendongakkan kepalanya.

Lagi-lagi jongdae hanya bisa tersenyum menutupi sesuatu yang masih mengganjal di hatinya.

“Eum, aku percaya kau akan merawatku dengan baik tapi yunmi-ya…” jongdae menghentikan kalimatnya membuat yunmi bangun dari pelukannya dan menatap lurus pada manik jongdae.

“Wae ?” Tanya yunmi pelan.

“Kau tau, kejuaraan musim ini masih berlangsung dua minggu lagi dan masih ada 4 pertandingan yang harus timku lakukan. A-ku, aku merasa terlalu buruk yunmi-ya, dan akulah yang menjadi penyebab kekalahan timku hari ini” tutur namja itu tidak tahan menyimpan perasaannya seorang diri.

“Jadi karena itu ? Chagi-ya, kau tidak perlu merasa bersalah. Kekalahan hari ini bukanlah kesalahanmu dan timmu juga tidak akan menyalahkanmu. Ini kecelakan. mereka tidak akan setega itu. Jika mereka menyalahkanmu akan mengomeli mereka semua. Astaga memangnya siapa yang membawa timmu selalu menang selama ini” yunmi terus berujar yang jongdae akui begitu ampuh menenangkan hatinya. Jongdae tersenyum, kali ini terlihat tulus dengan hatinya binar pahit yang sebelumnya bersarang sepertinya telah berangsur pergi.

“Ya begitu, tersenyumlah. Namjachinguku tidak tampan jika tidak tersenyum” goda yunmi membuat senyum namja itu lebih merekah.

“Dan untuk pertandingan kedepan, kau tidak perlu khawatir. Kau hanya perlu mempercayakannya pada timmu, jongin dan kawan-kawan pasti akan berusaha sekeras mungkin. Kau, kau juga tidak perlu gusar nantinya karna bagaimanapun timmu dapat melaju sampai ketahap ini semua juga karena usahamu” lanjut yunmi.

“Eum, nae. nae. Aigoo… sejak kapan yeojachinguku yang cerewet ini bisa berkata bijak seperti tadi” kali ini jongdae menggoda yunmi.

“Yak, kau baru tahu ? Kalau di pikir-pikir aku juga bisa jadi seorang motivator” kata yunmi yang membuat keduanya kini tersenyum bersama.

“Chagi-ya” panggil yunmi, setelah keduanya kembali terdiam beberapa saat.

“Eum”

“Tadi eomma-mu bilang, kau banyak bercerita tentangku ?”

“Ya”

“Kau bercerita apa ?” Tuntut yunmi, namun jongdae hanya diam dan tersenyum menggoda.

“Yak, kau bercerita apa ?” Lagi yunmi memaksa

“Chagi-ya… kau bercerita apa ?”

“Beritahu padaku eoh ?” Yunmi tidak menyerah, namun bertepatan dengan itu tiba-tiba pintu ruangan kembali terbuka, menampilkan eomma jongdae yang kini melangkah mendekati keduanya.

“Apa eomma mengganggu kalian ?”

“A-hh, ani bibi” yunmi kembali tergagap.

“Jika kau ingin tahu, tanyakan saja pada eomma” jongdae membuka suara yang sukses mendapat kerlingan mematikan dari yunmi.

.

.

.

Bel tanda berakhirnya pelajaran terakhir membuat seisi kelas berseru riuh setelah sebelumnya sepi dalam nuansa tenang yang mereka ciptakan saat saem masih menerangkan beberapa materi.

Yunmi dengan sigap memasukkan buku-buku dan perlengkapan belajar lainnya kedalam rancelnya kemudian menyampirkannya di kedua bahunya dan beranjak melesat meninggalkan ruang kelas.

Setelah menunggu beberapa saat gadis itu kemudian masuk ke dalam bus yang baru saja tiba dan membawanya menuju rumah sakit.

Lima hari setelah jongdae mengalami cedera angkle, hari ini namja itu di perbolehkan pulang dan melakukan perawatan di rumah. Cukup singkat bagi yunmi namun terasa begitu lama dan menyesakkan bagi jongdae yang menjalaninya. Ya namja itu benar-benar tidak betah berada di rumah sakit.

Yunmi membuka kembali pintu ruangan yang beberapa hari terakhir selalu di datanginya, menyembulkan kepalanya kemudian masuk mendekati sang empunya kamar.

“Eoh, kau sudah datang ?” Tanya jongdae yang sekarang telah duduk di atas kursi roda, baru menyadari kedatangan yunmi

“Eum, di mana bibi”

“Sedang mengurus administrasi kepulanganku”

“Ah…” yunmi mengangguk.

Tidak lama pintu ruangan tersebut kembali terbuka “eoh, yunmi sudah datang rupanya” suara eomma jongdae yang baru saja memasuki ruangan.

“Nae” sopan yunmi.

“Kajja! Kita pulang, supir telah menunggu di luar”  eomma jongdae kembali berkata sembari mendekati jongdae berniat mendorong kursi anak bungsunya tersebut.

“Ah, biar saya saja yang melakukannya bi” yunmi mengambil alih kursi roda jongdae.

“Benarkah ? Baiklah” eomma jongdae beralih ke sisi namja tersebut.

“Ah jadi begini rasanya di perebutkan dua yeoja cantik” gurau jongdae.

“yak, dasar” tegur yunmi kemudian ketiganya tersenyum bersama dan beranjak meninggalkan ruangan tersebut.

.

.

.

Yunmi menutup dengan pelan daun pintu kamar jongdae setelah memastikan namja itu meminum obat dan tertidur setelahnya sebagai efek dari obatnya.

“Apa jongdae sudah meminum obatnya ?” Tanya seseorang bahkan sebelum yunmi membalikkan tubuhnya.

Yunmi tersentak sesaat, setelah berhasil menguasai rasa keterkejutannya gadis itu berbalik dan tersenyum
“Nae, bi. Jongdae sedang tidur sekarang”

“Gumawo, yunmi-ah” eomma jongdae tersenyum manis yang di sambut yunmi dengan anggukan dan senyuman yang masih menampakkan kecanggungan.

“Bisa duduk sebentar dengan eomma di sini ?”

“nae ?” Kikuk yunmi namun, gadis itu tetap beranjak menuju sofa di ruang tengah apartemen jongdae, duduk di sebelah eomma jongdae yang telah duduk di sana entah sejak kapan.

“Yunmi-ah, apa eomma bisa meminta bantuanmu ?” Tanya eomma jongdae.

“Nae, tentu saja bi”

“Ah, jangan panggil eomma dengan sebutan bibi. Panggil saja eomma” pinta eomma jondae.

“Nae, eom-ma” kikuk yunmi.

“Nah, begitu terdengar lebih baik.

“Jadi begini yunmi-ya, eomma minta tolong padamu untuk menjaga dan merawat jongdae. Eomma harus segera kembali ke paris menyusul appa jongdae, masih ada beberapa urusan yang harus kami selesaikan. sebelumnya eomma sudah berbicara dengannya, dia memang memperbolehkan eomma pergi. Anak itu memang mandiri dari dulu. Tapi yunmi-ya, tetap saja eomma merasa khawatir” jelas eomma jongdae.

“Ahh, tentu saja aku akan menjaga dan merawatnya eom-ma, eomma tenang saja”

“Gumawo yunmi-ya”

“Nae” jawab yunmi tersenyum.

“Kalau begitu eomma pergi sekarang” eomma jongdae meraih tas di samping tubuhnya kemudian bangkit membuat yunmi terperangah bagaimana bisa ?

Yunmi ikut bangkit dari duduknya, berjalan mengekor di belakang wanita paruh baya yang nampak terlihat elegan tersebut.

Eomma jongdae membuka pelan pintu apartemen jongdae, dan setelah wanita itu keluar, wanitua itu membalikkan tubuhnya.

“Tidak perlu mengantar eomma ke bawah. Kau di sini saja, jaga dan rawat jongdae dengan baik nae ?”

“Nae, eomma”

Eomma jongdae maju beberapa langkah kemudian memberikan pelukan hangat kepada yunmi, “kalau begitu sampai jumpa yunmi-ya”

“Eoh. Hati-hati eom-ma” kata yunmi yang mendapat balasan senyuman dari eomma jongdae senyum yang hilang bersama dengan tertutupnya kembali pintu apartemen itu.

.

.

.

Yunmi terjaga dari tidurnya saat kepala gadis itu berbenturan dengan sandaran sofa di depan tv. Ya gadis itu rupanya tertidur saat menonton tv di ruang tengah apartement jongdae.

Gadis itu membenarkan posisinya kemudian mendongak menatap pada jam dinding yang menempel pada tembok di atas tv.

“eung~ sudah malam rupanya” geliat yunmi merentangkan kedua tangannya. namun, saat kedua tangannya masih berada di atas udara gadis itu teringat sesuatu.

Dengan langkah pasti yunmi melangkah beranjak kemudian masuk ke dalam kamar jongdae, menyalakan sakelar lampu pada dinding kamar tersebut membuat kamar yang sedari tadi tampak gelap gulita menjadi terang hingga menampakkan sosok jongdae yang masih tertidur pulas.

“Dia masih tidur ? Wah efek obat itu benar-benar luar biasa dia tidur hampir 6jam” gumam yunmi.

Gadis itu kembali melangkah keluar kamar, membiarkan jongdae tetap terlelap. Yunmi berjalan menuju lemari es merasakan tenggorokannya yang mengering.

Setelah mengambil sebotol air mineral. mata yunmi menangkap pada sayuran dan seekor ayam di dalam lemari es tersebut.

Sejenak yunmi berpikir mungkin jongdae akan merasa lapar saat bangun nanti. Akhirnya gadis itu mengambil sekantung sayuran dan seekor ayam tersebut dan membawanya menuju dapur.

“Emmm, sebaiknya akanku apakan bahan-bahan ini ?” Tanya yunmi pada dirinya sendiri.

“Aku harus membuat apa ? Aku tidak bisa memasak sebelumnya” lagi gadis itu berujar sendiri.

“Ah! Benar” yunmi memekik setelah sebuah ide melintas di kepalanya, gadis itu kemudian beranjak menuju sofa mengambil ponselnya dan mengetik beberapa kata. Ya gadis itu mencari tutor tentang memasak dan step-step membuat bubur.

“Nah, ini dia!” Yunmi kembali bersuara setelah menemukan apa yang dicarinya. Gadis itu kemudian meletakkan ponselnya diatas meja pantri dan menyiapkan segala sesuatu untuknya memasak.

Satu jam lebih yunmi berada di dapur hanya untuk membuat semangkuk bubur. Tidak terbayang bagaimana kondisi dapur rapi milik jongdae karenanya.

“Selesai!” Seru yunmi setelah menyelesaikan pekerjaan beratnya, dengan senyum cerah gadis itu meletakkan bubur buatannya di atas nampan. Satu lengannya terangkat menyeka keringat menggunakan lengan bajunya.

“apa jongdae sudah bangun ? Sepertinya belum” yunmi menjawab sendiri perkataannya setelah mendongak sesaat ke arah kamar jongdae.

Yunmi membalikkan tubuhnya dan setelahnya gadis itu membulatkan matanya “astaga! Apa ini semua kerjaanku ?” Pikik yunmi saat melihat kondisi dapur jongdae.

“Oh, aku harus merapikannya” kata yunmi lagi kemudian mengambil beberapa dan meletakkannya di dalan wastafel.

“Okay, sekarang sudah kembali seperti dapur jongdae” yunmi melihat seluruh dapur jongdae dan saat pandangannya tertuju pada wastafel gadis itu kembali mengernyit.

“Ah, untuk itu tidak” tunjuk yunmi “tapi nanti akan ku cuci” lanjutnya.

Yunmi kemudian mengambil segelas air mineral dan meletakkannya di atas nampan yang sama, tidak lupa gadis itu juga meletakkan sendok di samping mangkuk bubur buatanya.

“Cha! Ayo kita menemui orang yang akan memakanmu” kata yunmi sembari mengangkat nampannya dan berjalan kearah kamar jongdae dengan perlahan.

Pelan-pelan yunmi membuka pintu kamar jongdae “eoh, kau sudah bangun ? Mengapa tidak memanggilku ?” Tanya yunmi mendapati jongdae telah terbangun dari tidurnya.

“Ku kira kau sudah pulang” kata jongdae  dengan tersenyum tipisnya.

“Yak, mana mungkin aku meninggalkanmu sendiri” kata yunmi sembari meletakkan nampan yang di bawanya di atas meja nakas samping tempat tidur jongdae.

“Eommamu sudah berangkat sejak 8 jam yang lalu” lanjut yunmi.

“Eoh, aku tahu”

“Kau tidak sedih ?”

“Mengapa aku harus sedih, aku bukan lagi anak kecil. Dan lagi ada kau disini” kata jongdae yang cukup membuat yunmi merona.

“Kau membawa apa ?” Tanya jongdae.

“Ah. Iya. Hampir saja aku lupa. Aku membuatkanmu semangkuk bubur” jawab yunmi sembari mengangkat mangkuk bubur tersebut kedepan jongdae.

Jongdae menautkan alisnya tidak yakin “kau memasak ?” Tanya namja itu setelah menerima semangkuk bubur dari yunmi.

“Eum” angguk yunmi “aku memasak untuk pertama kalinya dan itu untukmu” lanjut gadis itu malu-malu.

“yahh, yeojachinguku begitu perhatian”

“Tenti saja eommamu sudah menitipkanmu kepadaku. Jadi aku harus merawatmu dengan baik. Cobalah” pinta yunmi.

“eum” angguk jongdae sembari mengambi sesendok penuh bubur buatan yunmi kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya.

“Bagaimana ?” Tanya yunmi dengan wajah penuh harap.

Jongdae terdiam sesaat, “astaga! Ini bubur atau muntahan kucing, mengapa tidak ada rasanya sama sekali” suara jongdae dalam hati.

Setelahnya namja itu menelan pelan bubur di mulutnya dan tersenyum kepada yunmi.

“Enak” kata jongdae masih dengan senyumnya.

“Ah, benarkah ? Wahh ternyata aku berbakat memasak juga” seru gadis itu bahagia.

“Eum” jongdae hanya mengangguk menanggapinya, kemudian namja itu kembali memasukkan sendok demi sendok bubur ke dalam mulutnya. Bagaimanapun jongdae tetap menghargai usaha yunmi memasak untuknya, dia tidak akan tega berkata jujur dan menyakiti gadisnya.

“Ah, kau makanlah. Aku pinjam kamar mandi mu nae, aku terlalu berkeringat” kata yunmi kembali.

“Eoh, gunakan saja seperti biasanya. Mengapa meminta izin segala”

“Ah, hanya lebih baik meminta izin” jawab yunmi sembari melesat memasuki kamar mandi.

Jongdae tersenyum sembari menggelengkan kepalanya pelan, entah apa yang dia pikirkan. Apa dia begitu mencintai gadisnya sampai dia rela memakan habis semangkuk bubur tanpa rasa.

Setelah selesai menghabiskan bubur buatan yunmi, jongdae menatap ke arah kamar mandi. Masih terdengar suara kemericik air menandakan gadisnya masih melakukan aktivitasnya di dalam sana.

Jongdae berusaha bangkit dari posisi duduknya, ya kakinya memang sudah tidak di balut gips keras hanya menyisakan bebat sederhana dengan gips elastis untuk meminimalisir pergerana pada anklenya.

Jongdae berhasil berdiri, dengan terbopoh-bopoh dan betumpu pada sisi tempat tidur namja itu keluar dari kamarnya.

Setibanya namja itu di dapur matanya lurus menangkap tumpukan cucian di wastafelnya.

“Seperti yang ku pikirkan” kata jongdae lagi menggelengkan kepalanya.

Namja itu kemudian kembali melanjutkan langkahnya, kali ini bertumpu pada dinding apartemennya. Setelah tiba di depan wastafel namja itu segera mengambil sepasang sarung tangan untuk mencuci banyaknya cucian kotor.

Baru saja jongdae meraih sepasang sarung tangan berwarna merah muda itu tiba-tiba sebuah suara menginterupsinya.

“Chagi-ya, kau di sini ?” Tanya yunmi setelah keluar dari kamar namja itu. Gadis itu kini hanya mengenakan hotpants dan kaos kebesaran hitam milik jongdae.

“Aku mencarimu di kamar, bagaimana kau bisa kesini ?”

“Eoh, tentu saja berjalan. Kau kira namjachingumu ini lumpuh ?” Sahut jongdae.

“Yak! Mengapa berkata seperti itu. Maksudku kau harusnya di kamar saja beristirahat. Nanti kakimu-“

“Aniya, chagi-ya. Aku bosan terus-terusan di kamar. Dan lagi walaupun kata dokter kaki ku harus meminimalisir gerakan bukan berarti tidak boleh bergerak bukan” potong jongdae.

“Lagi pula aku harus membayar semangkuk bubur buatan yeojachinguku” lanjut jongdae tersenyum.

Yunmi hanya menatap diam jongdae dengan raut tidak mengerti.

“Karena yeojachinguku sudah memasak untukku jadi aku akan mencuci semuanya” perjelas jongdae kemudian memasukkan salah satu tangannya pada sarung tangan yang sejak tadi berada di genggamannya.

“Yak! andwae! biar aku saja” yunmi yang baru mengerti segera menghampiri jongdae dan berusaha merebut sarung tangan tersebut.

Gerakan yunmi kalah cepat dengan jongdae, namja itu segera mengangat sebelah lengannya, menjauhkan sarung tangan tersebut dari yunmi.

Masih tidak putus asa yunmi tetap berjinjit bahkan melompat kecil untuk menggapainya. Ya postur yunmi yang hanya sebahu jongdae memang lebih menguntungkan bagi namja itu.

“Yak, chagi-ya. Biar aku saja. kakimu tidak boleh banyak bergerak”

“Chagi-ya, ini tidak lucu”

“Jongdae-ya”

“Kim jongdae!”

“issshh, yak! Chen hentikan” marah yunmi.

Kali ini jongdae berhenti, mengikuti berhentinya gadis di depannya berusaha untuk merebut sarung tangan tersebut, gadis itu menatap tajam pada jongdae dengan nafas memburu. Tidak mau kalah jongdae ikut membalas tatapan yunmi hanya saja dengan tatapan lembutnya namun namja tetap menempatkan sebelah tangannya di udara.

Detik berikutnya, saat yunmi masih menatap sengit pada jongdae, namja itu justru mengukir senyum tulusnya dan dengan cepat bahkan tanpa yunmi duga tangan jongdae yang semula berada di udara menariknya hingga membuat jarak keduanya menipis dan berakhir saat jongdae mempertemukan bibir mereka.

Jongdae mengecup lembut bibir pink yunmi, tiga kali. Ya tiga kali namja itu memberikan yunmi kecupan kilat setelah sesudahnya namja itu memberikan ciuman dalam bahkan di sertai lumatan-lumatan ringan.

Jongdae kembali menarik pinggang ramping yunmi, melingkarkan lengan kokohnya di sana. Membuat yunmi akhirnya membalas pelukan namja itu dengan melingkarkan kedua lengannya di punggung jongdae.

Saat keduanya mulai merasakan pasukan oksigen mereka menipis, jongdae memutuskan tautan keduanya.

Namja itu kembali menatap yunmi dalam, melepas sarung tangan yang sebelumnya terpasang di sebelah tangannya kemudian meletakkannya di samping wastafel tanpa mengalihkan pandangannya dari yunmi.

“Aku baru menyadari penampilanmu, mengapa kau begitu seksi ? Kau mau menggodaku” kata jongdae setelahnya saat mendapati penampilan yunmi yang sekilas kelihatan hanya mengenakan kaos kebesaran berwarna hitam yang kontras dengan kulit putihnya.

“Ah. Ani. Ini-“

“Mau menemaniku tidur malam ini ?” potong jongdae menyeringai.

“Yak! Apa yang kau pikirkan ?”

“Memikirkan apalagi kalau bukan-“

“Yak! Hentikan pikiran kotormu”

“Kajja! Antar aku ke kamar”

“Kau ke sini sendiri jadi kembalilah sendiri”

“Kau tidak akan tega melakukannya, aku sedang cedera yunmi-ya” kali ini jongdae memasang wajah memelasnya.

“Isshh, kajja!” Yunmi menyerah, gadis itu akhirnya merangkul jongdae kemudian menuntun namja itu menuju kamarnya.

“Kau akan menemaniku tidur kan ?” Jongdae kembali bersuara.

“Jangan becanda, bukankah kau yang bilang sendiri kakimu sedang cedera”

“Tidak masalah, aku bisa mengatasinya” jawab jongdae enteng.

“Yak!” Yunmi memekik saat dengan sengaja jongdae menurunkan satu lengan bajunya hingga memperlihatkan bahu mulus gadis itu.

“Aku akan melepaskanmu jika kau masih seperti ini”

“Kau tidak akan tega”

“Yak! Jongdae-ya”

“Jongdae!”

Fin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s