DESTINY (Chapter 5) – by bebebaek_

image

By bebebaek_

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4

Main cast : Park Chan Yeol (EXO), Nam Hye Jin (oc).

Addicional Cast : Oh Se Hun (EXO), Byun Baek Hyun (EXO), Song Ji Han (oc), Kim Jong Dae (EXO), Do Kyung Soo (EXO), Lee Yee Rim (oc).

Genre : romance, school life, drama.

Length : Chaptered | Rating : General.

Hasil khayalan sendiri, don’t plagiat.

Sorry Bertaburan Typo-.-

.

.

.

Chanyeol terus terusan mengekori langkah hyejin sejak gadis gadis itu berjalan meninggalkan ruangan kelas. Hyejin terus melangkah pasti menuruni anak tangga menuju perpustakaan tanpa menghiraukan pertanyaan-pertanyaan chanyeol di sampingnya.

“Jadi mengapa kau mendekatiku ?”

“Bukankah kau tidak ingin melihatku ?”

“Apa kau merindukanku ?” Tanya chanyeol dengan senyum merekah. Kebahagian terpancar jelas di wajah pemuda tampan itu.

Chanyeol masih setia melangkah mengikuti hyejin. Namja itu sedikit mempercepat langkahnya menyamakan langkahnya dengan hyejin hingga keduanya tiba di depan perpustakaan. Hyejin masuk terlebih dahulu kemudian di susul chanyeol setelahnya.

“Kau pasti sudah jatuh cinta kepadaku ?”

“Terpesona dengan wajah tampanku eoh ?” Chanyeol kembali melontarkan deretan pertanyaannya.

“Yak! hyejin-ah” panggil chanyeol dengan suara tinggi karena tidak mendapati hyejin merespon satupun pertanyaannya.

Hyejin segera berbalik menghadap kepada namja yang begitu tinggi di depannya itu “Sstttt, kau bisa diam tidak ? Ini perpustakaan jika kau ingin ribut lebih baik keluar” kata hyejin tepat di depan wajah chanyeol.

Chanyeol tersenyum kemudian menundukkan sedikit tubuh jangkungnya mensejajarkan wajahnya dengan wajah hyejin di depannya.

“Baiklah aku akan diam. Apapun akan aku lakukan untukmu, my destiny” kata chanyeol mengedipkan sebelah matanya di akhir kalimat.

Jantung hyejin terasa melompat dari dalam dadanya melihat wajah chanyeol yang begitu dekat dengan wajahnya dan mendengar perkataan chanyeol benar-benar membuat wajahnya memanas. Tidak tahan hyejin mengerjap pelan menguasai diri kemudian berlalu melewati namja itu, menyenggol pelan bahu chanyeol dan berjalan menuju rak buku kedua perpustakaan.

Asik mencari buku yang di perlukannya hyejin begitu fokus melihat deretan buku yang tersusun rapi diatas rak. Tiba-tiba jongdae yang berjalan dari arah yang berlawanan dengan mata yang juga fokus pada deretan buku tanpa sengaja menabrak hyejin di depannya.

Chanyeol yang sedari tadi memperhatikan hyejin dengan bersandar pada tembok perpustakaan segera menghampiri jongdae, menarik kerah kemeja namja itu membuat jongdae harus menjijitkan kedua kakinya.

Hyejin yang melihat tindakan chanyeol segera menghampiri namja itu, menyentuh lengan chanyeol menatapnya dan bersuara.

“Chanyeol-ah, hentikan. Jongdae hanya tidak sengaja”

Chanyeol menatap hyejin sekilas, rahang manja itu telah mengeras, sorot matanya tajam namun di balas hyejin dengan senyum lembutnya kemudian menuntun tangan chanyeol melepaskan cengkramannya dari kerah kemeja jongdae.

Setelah chanyeol melepaskan cengkramannya, hyejin kembali tersenyum lembut kemudian mengalihkan tatapannya pada jongdae.

“Kau tidak apa ?” Tanya hyejin.

Jongdae hanya menunduk sembari memegang kerah kemejanya yang tadi di cengkram oleh chanyeol.

Sadar namja di depannya masih ketakutan hyejin kembali bersuara “Maapkan chanyeol jongdae-ya dia hanya terbawa emosi”

“Yak, minta maap” lanjut hyejin menyenggol lengan chanyeol.

Chanyeol menatap penuh tanya kepada hyejin di sampingnya.

“Ayo” desak hyejin.

Chanyeol berdecak, memandang sekilas kepada jondae kemudian kembali mengalihkan pandangannya dan berkata

“Maap” kata chanyeol pelan.

Jongdae tersentak. Namja itu menatap tidak percaya pada chanyeol. Maap ? namja sang biang onar meminta maap kepadanya hanya karena kejadian barusan. Dulu saat dia berakhir di IGD namja itu bahkan tidak peduli.

“Gwenchana jongdae-ya, kalau begitu kami duluan eoh ?” Suara hyejin lagi kemudian berlalu dengan menarik lengan chanyeol meninggalkan jongdae dan keluar dari perpustakaan.

Saat keduanya melewati koridor hyejin yang baru saja tersadar tangannya masih memegang lengan chanyeol segera melepas lengan namja itu.

“Mangapa di lepas ?” Tanya chanyeol menatap hyejin.

“Pegang lagi eoh, eoh, eoh…” lanjut namja itu menyodorkan lengannya.

Hyejin tidak menganggapi godaan chanyeol, gadis itu hanya menatap lurus kedepan kemudian bersuara.

“Jadi kita akan mengerjakan tugas itu dimana ?” Tanya hyejin mengalihkan pembicaraan.

“Eumm terserah kau saja, aku akan mengikutimu kemanapun”

“Bagaimana untuk tugas minggu ini kita kerjakan di cafe saja” usul hyejin.

“Baiklah, hitung-hitung kencan pertama kita” jawab chanyeol dengan senyum yang menunjukkan deretan gigi putihnya.

Hyejin hanya memutar matanya jengah kemudian mempercepat langkahnya meninggalkan chanyeol yang menatapnya dengan senyum tulus untuk pertama kalinya.

.

.

.

Setelah pulang sekolah keduanya langsung pergi menuju cafe terdekat tempat biasa siswa-siswa dari sekolah mereka berkumpul ataupun juga mengerjakan tugas.

Kini keduanya telah duduk berhadapan di salah satu kursi paling dekat dengan dinding kaca cafe. Baik hyejin maupun chanyeol tengah fokus pada buku masing-masing. Chanyeol yang akan mengambil laptop mendekatkan kearahnya dan sesekali mencuri pandang kepada hyejin.

Sadar tengah di pandang chanyeol, hyejin mengalihkan tatapannya dari buku dan menabrakkan maniknya pada manik chanyeol. Bukannya malu karena tertangkap basah chanyeol malah tersenyum manis kepada hyejin tanpa mengalihkan tatapannya.

“Yak, berhenti menatapku” suara hyejin.

“Huhh, dasar pelit” gerutu chayeol mengalihkan tatapannya “tapi hyejin-ah kau benar-benar can-” kata chanyeol kembali menatap hyejin namun terpotong karena hyejin bersuara.

“Kerjakan tugasmu atau aku pulang” potong hyejin.

“Baiklah. Baiklah” chanyeol mengalah kemudian mulai mengetik jemari panjangnya di atas keyboart laptop hyejin.

Lama keduanya diam sibuk dengan pembagian tugas masing-masing hingga akhirnya hyejin melepas pengangan pada pulpennya. Menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk sekedar mengurangi rasa lelahnya. Hyejin menyesap strawberry milk shakenya menatap lurus ke depan dan tanpa sengaja maniknya menangkap sosok jihan dan jongdae yang duduk di deretan meja paling pojok cafe.

Sesaat hyejin menatap lekat keduanya.

“Chanyeol-ah, lihat ternyata jihan dan jongdae juga mengerjakan tugas mereka di sini. Astagaa aku bahkan baru menyadarnya”

Tidak ada jawaban dari chanyeol, namja itu masih sibuk dengan kegiatan mengetiknya.

“Yak, chanyeol-ah”

“Eum” gumam chanyeol tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop.

“Kurasa jongdae menyukai jihan”

Chanyeol akhirnya menghentikan kegiatannya, menatap hyejin di depannya kemudoan mengikuti arah pandangan gadis itu.

“Benarkah ?”

“Eoh. Lihatlah cara memandang jongdae pada jihan benar-benar berbeda”

“Eum. Hyejin-ah dari pada membicarakan mereka lebih baik kita membicarakan tentang kita” kata chanyeol menatap hyejin lekat.

“Kita ?” Tanya hyejin bingung.

“Ya kita. Aku menyukaimu lalu bagaimana denganmu ?” Kata chanyeol mantap dengan pandangan tajam dan senyum lembutnya.

Hyejin membeku di tempat, jantungnya kembali meletup letup di dalam sana. Bagaimana namja di depannya saat ini bisa membuat kerja jantungnya ratusan kali lebih cepat dari biasanya hanya dengan kata-kata.

“E-oh, k-kau sudah menyelesaikan tu-gasmu ?” Kata hyejin tergagap setelah terdiam beberapa saat.

“Hmmm” angguk chanyeol masih dengan senyum yang seolah tidak pernah hilang dari wajahnya.

“Baiklah, k-kalau be-gitu aku puang duluan” hyejin merapikan beberapa buku, peralatan menukis dan beberapa bahan tugas mereka kemudian bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan chanyeol yang masih duduk di tempatnya.

“Ckck, selalu saja melarikan diri” gumam chanyeol tersenyum geli.

.

.

.

Bel berdering kencang memberitahukan jam pembelajaran telah berganti jam istirahat makan siang. Setelah saem beranjak dari kelas, chanyeol segera bangkit dari kursinya dan melangkah santai berjalan ke depan kelas denga kedua tangannya di selipkan pada saku celananya.

Chanyeol menghentikan langkahnya tepat di samping kursi hyejin, namja itu kemudian tanpa aba-aba meraih lengan hyejin menarik gadis itu bangkit dari duduknya dan menggandengnya membawa hyejin keluar dari kelas mereka.

Dengan susah payah hyejih berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah chanyeol yang berjalan di depannya. Hyejin sadar semua mata teman-teman di kelasnya dan bahkan seluruh siswa sekolah mereka memperhatikannya. Tentu saja apalagi saat ini chanyeol dan hyejin memasuki kantin dengan tangan hyejin yang masih di genggam erat oleh chanyeol.

Hyejin berusaha melepaskan cengkraman chanyeol pada lengannya namun tidak ada hasilnya lengan kokoh namja itu masih mencengkram semakin erat tangannya.

Chanyeol menghentikan langkahnya di depan sebuah meja kosong kantin. Namja itu menarik sebuah kursi kemudian menuntun hyejin duduk diatasnya. Hyejin menurut, gadis itu kemudian duduk. Chanyeol tersenyum melepas cengkramannya pada tangan hyejin dan kembali berbalik melangkah menjauh.

Tidak lama chanyeol kembali dengan membawa dua buah nampan makan siang untuknya dan hyejin. Chanyeol meletakkan nampan untuk hyejin di depan gadis itu kemudian duduk di seberangnya.

“Makanlah” kata chanyeol tersenyum.

“Eoh, gumawo” kata hyejin mulai menyentuh nampan miliknya.

Chanyeol kembali tersenyum melihat gadis di depannya tengah menyantap makan siangnya dengan tenang. Chanyeol kemudian juga menyantap makan siangnya.

.

.

.

Setelah pulang sekolah chanyeol berdiri di depan gerbang utama menunggu hyejin yang sejak tadi tidak juga terlihat batang hidungnya. Lama chanyeol menunggu hingga akhirnya matanya menangkap sosok itu.

“Yak, kau dari mana saja ? Bel pulang bahkan berdering sejak 30 menit yang lalu” marah chanyeol.

“Eoh, aku baru saja dari ruang guru. Tadi song saem menyuruhku untuk memindahkan beberapa buku” kata hyejin menjelaskan “tapi, yak! Aku tidak menyuruhmu menungguku, kenapa kau marah ?”

“Aishhh kau lupa ini hari apa ?”

“Selasa memangnya kenapa ?” Polos hyejin.

Chanyeol mendekatkan tubuhnya kearah hyejin kemudian kemudian namja itu menyentuh pertengahan dahi hyejin dengan jari telunjuknya.

“Itu artinya besok hari rabu dan tugas ilmu alam minggu ini harus di kumpulkan” jelas chanyeol kemudian menarik kembali tangannya.

Hyejin melongo. Refleks satu tangannya menepuk dahinya sendiri.

“Astagaa, kita sama sekali belum mengerjakannya. Jadi bagaimana ?” Panik hyejin.

“Tentu saja kita harus mengerjakannya sekarang” jawab chanyeol santai berbeda dengan ekspresi hyejin. Entahlah chanyeol menyukai ekpresi terkejut, bingung dan panik gadis itu.

“Eoh. Ya. Dimana ? Dimana kita mengerjakannya ?”

“Bagaimana kalau di rumahmu ?”

“Rumahku ? Ya baiklah. Kajja!” Jawab hyejin tanpa pikir panjang, dengan terburu-buru gadis itu melangkah terlebih dahulu.

Chanyeol yang memperhatikan tingkah hyejin di depannya tersenyum penuh arti. Ya sebenarnya chanyeol hanya asal-asalan mengusulkan rumah hyejin sebagai tempat untuk mereka mengerjakan tugas, selain itu sebenarnya chanyeol hanya ingin mengetahui dimana gadis itu. Tidak chanyeol sangka hyejin menyetujuinya bahkan tanpa protes.

Setelah tiba di depan rumah hyejin, gadis itu denga piawai membuka pagar rumahnya dan mempersilahkan chanyeol masuk.

Keduanya kini tengah berada di ruang tengah rumah hyejin, hyejin mempersiapkan beberapa bahan tugas mereka sementara chanyeol memperhatikan sekeliling ruangan tersebut dengan mata tajamnya.

“Kenapa begitu sepi ?” Tanya chanyeol.

“Eoh. Ya eommaku sepertinya belum pulang” jawab hyejin.

“Eumm. Ayahmu apa beliau sedang bertugas ? Ku lihat dari foto-foto di ruangan ini ayahmu sepertinya seorang pilot”

“Ya. Ayahku memang seorang pilot. Appa sedang bertugas dan beliau tidak pernah pulang. Pesawat yang di bawa ayah terjatuh” jawab hyejin dengan suara melemah di akhir kalimat.

“Mian. Hyejin-ah, aku tidak bermaksud” kata chanyeol tersentak. Namja itu merasa bersalah membuat hyejin kembali mengingat masa sulitnya. Ya itu pasti masa tersulit untuknya.

“Gwenchana” hyejin tersenyum. “Kajja, sebaiknya kita mulai” lanjutnya.

“Eoh” chanyeol duduk dan mulai mengerjakan tugasnya.

Belum lama keduanya duduk mengerjakan tugas mereka, bel rumah hyejin berbunyi. Gadis itu bangkit dari duduknya berjalan menuju pintu kemudian membukanya.

“Anyeong!” Suara nyaring baekhyun langsung terdengar jelas setelah hyejin membuka pintu rumahnya, namja itu segera masuk mendahului hyejin dan duduk di depan chanyeol. Sehun dengan hyejin menyusul setelahnya. Sehun duduk di samping chanyeol dan hyejin di samping baekhyun.

“Yak, mengapa kalian ke sini ?” Tanya chanyeol tajam.

“Eoh. Tadi sehun mengirim chat, bertanya tentang tugas minggu ini, ada beberapa yang dia tidak mengerti karena kita juga belum mengerjakannya jadi aku menyuruh mereka ke sini, mengerjakan bersama. Jadi sehun-ah jika kau merasa tidak jelas tanyakan saja. Kami akan membantu semampu kami” jelas hyejin dengan senyum di akhir kalimatnya.

Chanyeol menatap tidak suka pada sehun di sampingnya. “Yak, seharusnya kalian bisa mengerjakannya berdua”

“Aku juga inginnya begitu. Tapi bacon ini benar-benar tidak membantu”

“Yak, sudahku katakan ilmu alam bukan bakatku” kilah baekhyun.

“Lalu apa bakatmu hem ? Menggoda yeoja, berpikir kotor atau membuat keributan ?”

“Hey, kalau itu bukan bakat tapi kelebihanku” jawab baekhyun dengan senyum penuh arti.

Tiba-tiba pintu rumah kembali terbuka. Menampakkan sesosok wanita paruh baya yang sedang melepaskan sepatunya.

“Eoh ada teman-teman hyejin” kata wanita paruh baya tersebut setelah masuk.

Chanyeol, sehun dan baekhyun segera bangkit dari duduknya “nae bibi” kata mereka serentak.

“Ya, eomma. Kami mengerjakan tugas bersama” lanjut hyejin.

“Lanjutkanlah, bibi masuk ke dalam dulu” kata eomma hyejin kemudian masuk menuju kamarnya, namun sebelum benar-benar masuk, eomma hyejin kembali berbalik. “Hyejin-ah, bawakanlah teman-temanmu minuman dan beberapa kue”

“Nae eomma”

Eomma hyejin kemudian hilang di balik pintu kamarnya.

“Kalian mau minum apa ?” Tawar hyejin.

“Orange jus” jawab baekhyun cepat.

“Yak, kau benar-benar” kata sehun menimpuk pundak baekhyun.

“Baiklah. Kalian berdua ?” Tanya hyejin lagi.

“Terserah kau” jawab chanyeol tanpa minat.

“Apa yang ada saja” sehun tersenyum.

“Baiklah” hyejin beranjak menuju dapur. Tidak lama setelahnya gadis itu kembali dengan membawa sebuah nampan yang di isi beberapa gelas orange jus dan setoples kue kering.

“Asa! Gumawo hyejin-ah” ucap baekhyun sesaat setelah hyejin meletakkan nampan yang tadi di bawanya. Baekhyun segera mengambil segelas orange jus dan mengamit beberapa kue kering.

Chanyeol dan sehun yang melihat tingkah sahabatnya itu hanya mampu menggelengkan kepala.

.

.

.

Pagi ini hyejin datang lebih awal, suasana kelas masih sepi. Hyejin hanya seorang diri berada di kelasnya.

Tidak lama seorang yeoja masuk ke dalam kelas, meletakkan tasnya di bawah meja kemudian duduk di kurainya. Hyejin menatap yeoja tersebut sesat, kemudian gadis itu bangkit dari duduknya melangkah mendekati meja yeoja tersebut.

“Kau datang pagi hari ini yeerim-ssi” sapa hyejin setelah tiba di samping meja yeerim.

“Ya. Sepertinya aku datang terlalu pagi”

“Yeerim-ah, eum bagaimana keadaan kyungsoo ?” Tanya hyejin ragu.

“Kyungsoo. Ya dia sudah membaik. Lusa dia akan kembali ke sekolah”

“Ah. Baguslah kalau begitu” kata hyejin tersenyum tulus kemudian berbalik berniat kembali ke mejanya.

Baru dua langkah hyejin beranjak dari tempatnya tiba-tiba yeerim kembali memanggilnya.

“Hyejin-ah”

“Eoh ?” Sahut hyejin setelah berbalik dan menatap yeerim kembali.

“Ku harap-, kau harus berhati-hati”

“Aku ? Wae ?” Tanya hyejin bingung dengan maksud perkataan yeerim.

“Kyungsoo. Dia masih begitu membenci chanyeol”

“Lalu apa hubungannya denganku ?”

“Karena chanyeol sepertinya begitu menyukaimu”

Hyejin tercengang, kalimat yeerim barusan benar-benar memiliki efek     aneh di dalam dadanya. Ada rasa bahagia mendengatnya namun hyejin cukup malu untuk jujur.

“Aku benar-benar tidak mengerti. Mengapa kyungsoo membenci chanyeol dan mengapa dia memanfaatkanku untuk membalaskan dendamnya pada chanyeol. Dan lagi mengapa aku harus hati-hati karena chanyeol menyukaiku” ungkap hyejin dengan nada rendah di akhir kalimatnya.

“Begini………”

Hyejin kembali tercengang mendengar cerita yeerim tentang kyungsoo, nami dan chanyeol di sekolah mereka dulu. Mulut hyejin bahkan terbuka tidak percaya akan hal mengerikan yang telah terjadi itu. Cukup lama hyejin terdiam dengan mata yang menatap kosong.

“Ku harap kau berhati-hati hyejin-ah” kata yeerim menyadarkan hyejin.

“Eoh. Ya. Gumawo yeerim-ah telah menceritakannya padaku”

“Eum” angguk yeerim.

Hyejin tersenyum, kembali berbalik dan gadis itu baru menyadari suasana kelas telah ramai, hampir seluruh siswa telah berada di dalam kelas. Gadis itu benar-benar terlarut dalam cerita yang di dengarnya.

Hyejin kembali tersentak saat mendapati chanyeol tengah berjalan ke arahnya dengan wajah penuh tanya.

“Apa yang sedang kau lakukan ?” Tanya chanyeol setibanya di depan hyejin.

“Tidak ada. Aku hanya berbicara dengan yeerim” elak hyejin.

“Apa yang kalian bicarakan ?” Tanya chanyeol ingin tahu.

“Sudahlah. Nanti akan aku ceritakan. kau ? Apa kau sudah sarapan ?” Tanya hyejin mengalihkan pembicaraan.

“Wae ? Kau belum sarapan ?”

“Eoh. Mau menemaniku ?”

“Baiklah, kajja!”

Hyejin segera melangkah menarik lengan chanyeol sekali kemudian meninggalkan ruang kelas.

Kini keduanya telah duduk berhadapan di salah satu meja kantin sekolah dengan sekotak susu di depan hyejin.

“Kau tidak makan ? Tadi kau bilang belum sarapan” kata chanyeol memecah keheningan.

“Tidak”

“Jadi mengapa kau mengajakku ke sini ?” Tanya chanyeol bingung namun tidak lama setelahnya sebuah seringaian muncul di wajah tampannya ” kau merindukanku ? Ahh, kau ingin berduaan denganku”

Tidak ada tanggapan dari hyejin. Gadis itu hanya diam memperhatikan kotak susu di depannya.

“Chanyeol-ah” suara hyejin setelahnya.

“Eum”

“Apa kau tau mengapa kyungsoo begitu membencimu ?”

“Mungkin karena aku terlalu tampan” jawab chanyeol sekenanya.

“Yak, aku serius” marah hyejin.

“Tidak. Aku tidak tahu. Dia memang membenciku sejak di sekolah dulu”

“Kau mengenal nami ?”

“Nami ?” Chanyeol mengerutkan alisnya bingung.

“Ya. nami seorang yeoja di sekolahmu dulu”

Chanyeol hanya mengerutkan alisnya, menatap bingung pada gadis di depannya. Chanyeol nampak sedang berpikir.

“Jadi nami…….”

Chanyeol terdiam. Namja itu bahkan tidak bergerak saat hyejin menyudahi ceritanya.

Terkejut ? Ya. Chanyeol benar-benar terkejut. Dia memang tidak mengetahui apapun yang terjadi di sekolahnya dulu, namja itu memang tidak peduli dan tidak ingin tahu apapun.

“Jadi karena itu ? aku benar-benar tidak tahu” kata chanyeol membuka suara. “Tapi mengapa dia menyalahkanku. Itu bukan salahku. Aku memang tidak menyukai gadis itu” lanjut chanyeol.

“Ya memang bukan salahmu. Hanya saja kyungsoo sangat mencintai gadis itu. Dia pasti merasa begitu kehilangan”

Chanyeol hanya diam “chanyeol-ah, kau juga harus berhati-hati” khawatir hyejin.

“Eum” chanyeol tersenyum “maap karenaku kau jadi terlibat dalam masalahku”

“Gwenchana” hyejin ikut tersenyum “lalu minggu ini kita akan mengerjakan tugas dimana ?” Tanya hyejin.

“Terserah kau”

“Di rumahmu ?”

“Apa ? Di rumahku ? Tidak. Cari tempat lain”

“Wae ? Minggu kemarin kita telah mengerjakan di rumahku jadi minggu ini aku ingin di rumahmu. Adilkan ? Yak, tadi kau bilang terserahku” cerocos hyejin.

“Tidak. Cari tempat lain. Rumahku gelap, sunyi dan-”

“Pokoknya harus di rumahmu” potong hyejin.

Chanyeol kembali terdiam. Sebenarnya bukan namja itu tidak ingin hyejin tahu rumahnya hanya saja chanyeol tidak ingin gadis itu tahu sisi lain dirinya.

Chanyeol menghembuskan nafas panjang “baiklah” kata namja itu membuat senyum cerah terbit di wajah hyejin.

.

.

.

Sore hari dengan mengenakan pakaian santai di lapisi jaket tebalnya hyejin menyusuri komplek perumahan alamat yang beberapa jam lalu di terimanya dari chanyeol.

“Apa alamat ini tidak salah ?” Gerutu hyejin.

Setelah kembali berjalan beberapa langkah gadis itu menghentikan langkahnya. Hyejin melongo tidak percaya, mulutnya terbuka, dengan mata membulat sempurna. Bagaimana tidak, kini di depannya hyejin menatap kagum pada rumah yang besar dan kian mewah bak istana.

“Chanyeol tidak membohongiku kan ? Awas saja jika dia mengerjaiku” bicara hyejin sendiri.

Cukup lama hyejin diam di tempat hingga akhirnya gadis itu mengulurkan tangannya dan menekan bel di depan gerbang rumah mewah itu.

Tidak lama seorang ahjumma keluar dari pekarangan samping dengan berlari kecil menghampiri hyejin.

“Mencari siapa nona ?” Tanya ahjumma itu setelah berdiri di depan hyejin dengan pagar rumah di tengah keduanya.

“Apa benar ini rumah chanyeol ?” Tanya hyejin.

“Ah. Nae nona”

“Bisakah aku bertemu dengannya ?”

“Tentu saja” seperti tersadar. Ahjumma itu segera membukakan pagar rumah chanyeol kemudian mempersilahkan hyejin masuk.

Hyejin melangkah mendekati pintu utama rumah tersebut sementara ahjumma menutup kembali pagar rumah. Hyejin berdiri di depan pintu saat tiba-tiba pintu besar itu terbuka dan menampilkan sosok chanyeol di belakangnya dengan senyum lebarnya.

“Annyeong my destiny, apa kau sudah lama ?”

“Annyeong, ani. Aku baru saja” gugup hyejin.

“Masuklah” suruh chanyeol manis.

“Nae” angguk hyejin sembari melangkah masuk.

“Ayo kita ke kamarku” ucap chanyeol kemudian ikut melangkah di samping hyejin.

Hyejin segera menghentikan langkahnya dan di ikuti oleh chanyeol. Gadis itu menatap horror pada namja di sampingnya. Chanyeol yang menyadari hal itu hanya tersenyum dan berkata.

“Di rumah ini daerah kekuasaanku hanya kamarku”

Hyejin masih menatap tajam kemudian bersuara.
“kau bohong”

“Tidak. Destiny, aku tidak pernah berbohong kepadamu”

“Tidak ? yak, kemarin kau berbohong kepadaku”

“Kemarin ?” Tanya chanyeol mengerutkan kedua alisnya.

“Eoh. Kau bilang rumahmu gelap, sunyi dan-”

“Aku tidak berbohong. Lihag benar sunyi dan gelap bukan ?”

Hyejin diam dan memandangi sekeliling rumah. Ya benar. Chanyeol tidak berbohong tapi untuk hitungan rumah namja itu yang sebesar ini hyejin benar-benar merasa di bohongi. Ya walaupun diaemang tidak pernah bertanya.

“Hey mengapa diam ? Kajja!” Chanyeol menarik lengan hyejin mengajak gadis itu untuk beranjak dari tempatnya. Namun, hyejin tetap tidak bergeming membuat chanyeol sekali lagi membatalkan langkahnya dan menoleh. Kali ini chanyeol melihat ada binar takut di mata gadis itu.

Chanyeol kembali tersenyum jahil dan berkata “kau tenang saja aku tidak akan menyerangmu”

Hyejin semakin menatap tajam chanyeol yang kini menyeringai jahil kepadanya.

“Tapi jika kau yang memintanya aku akan dengan senang hati melakukannya” lanjut chanyeol menggoda.

Melihat hyejin yang terus terusan menatapnya, chanyeol menghela nafas ringan “aku hanya bercanda, aku tidak akan melakukannya sebelum kau benar-benar jadi milikku” kata chanyeol dengan tenangnya.

“Kajja!” Namja itu kembali menarik lengan hyejin yang kali ini mengikuti langkah chanyeol dengan tatapan tidak percaya. Ya, hyejin masib mencerna perkataan chanyeol. Gadis itu masih tidak percaya namja seperti chanyeol bisa mengatakan hal seperti itu.

Setelah masuk ke dalam kamar chanyeol yang berada di lantai dua. Hyejin kembali terperangah. Kamar namja itu begitu besar dengan muansa maskulin. Setiap sudutnya benar-benar tertata rapi. Ya, sangat rapi untuk hitungan seorang namja.

“Kita kerjakan di sini saja bagaimana ?” Chanyeol bertanya sembari berjalan menuju meja belajarnya dan menarik kursi di depannya untuk hyejin.

“Eoh” setuju hyejin kemudian duduk.

Chanyeol melangkah mengambil kursi lain di samping gitarnya kemudian membawanya dan meletakkannya di samping hyejin untuk kemudian di dudukinya, keduanya lantas mengerjakan tugas mereka.

Di pertengahan mengerjakan tugasnya, chanyeol berhenti sejenak, meletakkan pulpen di tangannya kemudian menoleh ke arah hyejin.

“Kau mau minum ?”

“Eum, boleh” jawab hyejin masih sibuk dengan laptopnya.

“Mau minum apa ?”

“Terserah kau. Apa yang ada saja” kali ini hyejin menjawab dengan menatap chanyeol.

Chanyeol tersenyum “baiklah. Tunggu sebentar” namja itu kemudian bangkit dan beranjak keluar dari kamarnya.

Setelah berada di dapur, chanyeol mengambil sebuah nampan dan dua buah gelas meletakkannya di atas konter dapur kemudian namja itu beranjak mendekati lemari es membukanya dan mengambil sebuah gelas kaca berisi jus jambu.

Baru saja chanyeol hendak berbalik sebuah suara menginterupsi langkahnya.

“Kau ada di rumah ? Kali ini apa lagi ulahmu ? Apa kau membuat seseorang masuk IGD lagi ?” Suara tuan park dengan rentetan pertanyaan yang membuat telinga chanyeol memanas.

Chanyeol tetap diam tidak bergeming dari tempatnya bahkan untuk berbalik dan menatap ayahnya saja chanyeol enggan.

“Mengapa hanya diam ? Apa dia anak seorang presiden ?” Kata tuan park lagi.

Merasa chanyeol tidak juga menanggapi perkataannya membuat tuan park geram dan terpancing emosi.

“Dasar anak tidak tahu terima kasih, seharusnya aku tidak mengambilmu. Seharusnya ku biarkan saja kau pergi bersama ibumu”

Sebelah tangan chanyeol mengepal erat, tangan satunyapun mencengkram botol jus kuat. Chanyeol berusaha menekan amarahnya.

“Yak! Park chanyeol. Apa kau tuli ? Kau-. Kau benar-benar mirip dengan ibumu” kata tuan park penuh penekanan di akhir kalimat.

Bruk!

Botol jus pecah membentur lantao keramik, chanyeol membalikkan tubuhnya, kedua lengannya mengepal erat. Matanya memerah. Chanyeol benar-benar tidak tahan jika ayahnya menyebut-nyebut ibunya. Seolah chanyeol tidak rela kata ibu untuknya keluar dari mulut sang ayah.

“Tidak. Ayah salah, aku sama sekali tidak seperti ibu melainkan sepertimu. Kai kira selama ini aku tidak tahu ? Ibuku sama sekali todak salah. Tapi kau! Kau yang telah menghianati ibuku!” Kata chanyeol emosi.

“Yak!” Teriak tuan park melayangkan satu tangannya dan ‘PLAK’ sebuah tamparan keras mendarat di rahang tegas chanyeol mengahantarkan rasa panas di sekujur tubuhnya.

“Dan aku sama sekali tidak ingin ikut bersamamu” lanjut chanyeol dengan memegang pipinya.

“Dasar anak, kau-” tuan park tidak melanjutkan kalimatnya. Pria paruh baya itu meninggalkan ruangan dan hilang di balik pintu utama. Meninggalkan chanyeol yang masih berdiri di tempat.

“ARRGGHHHHH!” Teriak chanyeol, emosinya meledak. Amarah memuncak di dalam dirinya. Namja itu melangkah cepat menuju meja konter kemudian menerjang semua benda di atasnya hingga jatuh menghambur dan pecah. Chanyeol mengambil sebuah gelas, menggenggamnya hingga pecah dan menorehkan luka di tangannya. namja itu tidak peduli. Sakit bahkan tidak di rasanya.

Hyejin yang sejak tadi berdiri di depan pagar pembatas lantai atas segera turun melihat darah segar menetes dari telapak tangan chanyeol dengan wajah khawatir gadis itu melangkah cepat menuruni anak tangga.

Hyejin memang menyaksikan hampir selurub pertengkaran ayah dan anak itu. Gadis itu keluar saat mendengar suara botol yang pecah karena chanyeol. Hyejin yang merasa khawatir lantas keluar dari kamar namun gadis itu berhenti dan memilih diam di tempat saat melihat chanyeol dan tuan park saling berhadapan.

“Chanyeol-ah” suara hyejin saat kini telah berada di depan chanyeol.

Chanyeol diam, mendongak menatap hyejin dengan mata merah dan nafas yang memburu.

“Mianata. Aku tidak ingin kau melihatku seperti ini” suara chanyeol bergetar.

“Gwenchana. Gwenchana” kata hyejin mendekat kemudian menepuk pelan pundak namja janggung itu.

“Kajja kita kembali ke atas” ajak hyejin sembari menuntun chanyeol.

Setelah kembali berada di kamar chanyeol, hyejin mendudukkan namja itu di tepi tempat tidurnya. Matanya mengedar ke selurub ruangan kemudian berhenti pada kotak putih di atas rak kecil chanyeol. Hyejin mengambilnya kemudian kembali dan duduk di samping chanyeol mengobati tangan namja itu dalam diam.

“Maap. Kau pasti terkejut” suara chanyeol memecah keheningan dan di balas hyejin hanya dengan senyum tulusnya.

“Karena itulah aku benci rumah ini. Dan aku. Aku benci kau melihat kelemahanku” chanyeol menahan isakannya.

“Gwenchana” hyejin meraih satu lengan chanyeol.

Chanyeol kembali diam dan menundukkan kepalanya semaki  dalam. Bisa hyejin lihat namja itu menahan tangisnya.

Hyejin mendekat kemudian memeluk chanyeol erat “tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja” ucap hyejin sembari mengelus punggung chanyeol.

Chanyeol tidak tahan. Tangisnya akhirnya pecah di pelukan hyejin. Namja itu semakin erat memeluk hyejin sementara gadis itu terus mengelus punggung chanyeol menenangkan.

Hyejin melonggarkan pelukannya kemudian menatap chanyeol, tangan mungil gadis itu terangkat menghapus jejak basah di wajah chanyeol. Chanyeol membalas tatapan dalam hyejin dengan mata sendunya. Dan entah mendapat dorongan dari mana hyejin perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah chanyeol. Saat wajah keduanya hampir tidak berjarak hyejin menuutup matanya tepat saat bibirnya menyentuh bibir dingin chanyeol.

Chanyeol terkejut namun hanya berlaku sesaat kemudian namja iti ikut memejamkan matany melumat pelan bibir hyejin yang hanya menempel di bibirnya. Chanyeol menyesap lembut bibir hyejin. Keduanya saling bertaut menyalurkan seluruh perasaan yang tengah mereka rasakan.

.

.

.

Pagi ini hyejin berdiri gelisah di depan gedung sekolahnya. Gadis itu khawatir bagaimana keadaan chanyeol setelah kejadian semalam. Namja itu benar-benar kacau. Walaupun saat hyejin pulang keadaan chanyeol sudah terlihat tenang namun tetap saja hyejin khawatir.

Bisa saja. Ya bisa saja chanyeol kembali kacau saat dirinya sudah pulang. Pikiran mengenai keadaan chanyeol terus saja menyesaki kepalanya. Gadis itu bahkan lupa pada apa terjadi di antara dirinya dan chanyeol. Ah tepatnya apa yang telah hyejin lakukan.

Saat tubuh jangkung chanyeol melewati gerbang sekolah, hyejin melihatnya dengan saksama namun berbeda dengan kekhawatiran hyejin namja itu masuk dengan wajah tenangnya. Seolah tidak terjadi apa-apa, chanyeol bahkan tersenyum cerah saat melihat hyejin. Namja itu kemudian berlari menghampirinya.

“Annyeong! My destiny” sapa chanyeol dengan senyum lebarnya yang di tatap hyejin dengan raut bingung dan tidak percaya.

“Hyejin-ah, kita resmi berkencan bukan ?” Kata chanyeol lagi namun masih mendapat jawaban berupa tatapan bingung dari gadis di depannya.

“Semalam kau menciumku”

Deg!

Serasa di sambar petir di siang hari, hyejin membulatkan matanya “Astaga, bagaimana aku melupakan hal itu ? Aku menciumnya ? Apa aku tidak bermimpi ?” Suara hyejin dalam hati.

“Kau yang memulainya hyejin-ah, jadi kita-” kalimat chanyeol terpotong karena kini hyejin melangkah meninggalkannya. Gadis itu tidak tahan mendengar kalimat chanyeol. Ya hyejin malu.

“Yak! Hyejin-ah, kita berkencan eoh ?”

“Hyejin-ah”

“Tunggu aku yak!” suara chanyeol di belakang hyejin yang terus berusaha mengejar gadis itu.

“Yak, tunggu” chanyeol berhasil mencengkram lengan hyejin membuatnya mau tidak mau menghentikan langkahnya.

Chanyeol berdiri di depan hyejin kemudian meletakkan kedua tangannya di sisi lengan hyejin.

“Gumawo karena tidak takut padaku dan mianhae membuatmu melihat apa yang seharusnya tidak kau lihat. Aku benar-benar mencintaimu nam hyejin, berkencanlah denganku” kata chanyeol tanpa keraguan.

Hyejin tersentak. Gadis itu berusaha mencari keraguan di mata chanyeol namun tidak ada. Hyejin masih tidak bisa bersuara melihat chanyeol memandangnya seperti itu benar-benar membuat sistem syarafnya tidak berfungsi. Lidahnya terasa kelu.

Akhirnya hyejin hanya mengangguk menjawab pertanyaan chanyeol, namun itu cukup membuat senyum chanyeol semakin merekah. Namja itu bergerak ingin memeluk hyejin tapi segera di dorong gadis itu hingga keduanya tertawa bersama.

Tiba-tiba jongdae datang dari arah yang entahlah. Namja itu menerjang tubuh hyejin hingga keduanya jatuh di sisi lain lapangan. chanyeol yang melihat ingin marah namub setelah mendengar bunyi pot yang pecah disisinya tepat di tempat hyejin berdiri tadinya membuat chanyeol mendongak dan melihat seseorang di atap tengah menyeringai kepadanya.

Chanyeol segera berlari menuju atap dengan langkah panjangnya, setelah tiba chanyeol mendapati kyungsoo yang tersenyum pahit kepadanya.

“Yak! Apa yang kau lakukan ?” Marah chanyeol.

“Aku ?” Kyungsoo tersenyum “tentu saja membuat gadismu pergi darimu” lanjut kyungsoo kali ini dengan tatapan membunuh.

“Apa ini karena nami ? Aku sama sekali tidak mengetahuinya. Dia bunuh diri bukan aku yang membunuhnya” jelas chanyeol.

“Kau yang membunuhnya, kau yang membunuh namiku!” suara kyungsoo meninggi.

“Ya. Walaupun aku memang penyebabnya. Tapi apa kau rasa dengan melakukan hal seperti ini namimu akan bahagia ? Namimu akan semakin menyayangimu ? Tidak. Namimu akan membencimu, namimu akan marah padamu”

“Tidak!” Kyungsoo berteriak “namiku tidka akan marah, dia tidak akan membenciku”ucap kyungsoo dengan mata gelisah.

“Aniya kyungsoo-ya, namimu akan marah, namimu sedih karena kau hampir melukai seseorang” suara chanyeol kali ini dengan nada pelan kemudian namja itu pergi meninggalkan kyungsoo.

“Aniya. Aniya” kyungsoo menutup kedua telinga dengan keduan tangannya, matanya terus bergerak gelisah.

“Nami-ya jangan marah, kau tidak boleh membenciku. Tidak nami-ya jangan menangis, aku tidak ingin melihatnya. Nami-ya tidak jangan pergi nami-ya tidak” kyungsoo berhalusinasi. Namja manis itu duduk terjembab dengan masih menutup kedua telinganya.

“Aniya, nami-ya aniya!”

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s