{Yun-Dae Couple} A Dark Kiss – by bebebaek_

image

by bebebaek_

Yours |

Main cast : Shim Yun Mi (oc), Kim Jong Dae (EXO).

Genre : romance, school life.

Length : Ficlet | Rating : PG teen.

Hasil khayalan sendiri, don’t plagiat.

Sorry Bertaburan Typo-.-

.

.

.

Bip bip bip!

Yunmi membuka pintu apartemen jongdae setelah sebelumnya memasukkan deretan angka yang sudah di hapalnya di luar kepala.

Ruang apartemen gelap tanpa ada satupun lampu yang menyala, yunmi menekan sakelar lampu apartemen membuat apartemen itu kini terang.

Yunmi berjalan memasuki ruang tengah apartemen, yunmi tidak juga menemukan adanya sang empunya apartemen. Gadis itu berjalan menuju kamar jongdae, membukanya dan menemukan namjachingunya itu tengah terlelap di atas tempat tidur masih dengan seragam basketnya.

Yunmi menghela nafas berat, rasa kesal menjalar di hatinya bagaimana tidak gadis itu telah menunggu sajak satu jam yang lalu di rumahnya, dengan mengenakan dress polka hitam selutut yunmi beranjak menuju apartemen jongdae saat namja itu tidak juga mununjukkan batang hidungnya.

Hari ini keduanya berencana akan makan malam bersama di luar, keduanya memang telah lama tidak berkencan. Jongdaelah yang terus-terusan mengajak yunmi untuk berkencan, namja itu berjanji untuk tidak terlambat dan siap tepat sebelum waktunya. Namun apa ? Jongdae tetaplah jongdae, namja itu masih memejamkan matanya. Yunmi ingin sekali marah tidak bisa karena saat melihat wajah damai jongdae tertidur rasa kesalnya hilang seketika.

Yunmi melangkah ke sisi tempat tidur jongdae, mengusap lembut punggung namja itu.

“Chagi-ya, irona…” panggil yunmi pelan.

“Jongdae-ya, bangunlah” panggil yunmi lagi karena tidak juga mendapat respon dari jongdae.

“Yak, apa kau tidak ingin pergi ? Chagi-ya… ini sudah sore” lanjut yunmi.

Jongdae menggeliat sesaat kemudian menelantangkan tubuhnya dan mengerjap setelah terbangun dari alam mimpi.

“Eum, yunmi-ya, kau di sini” kata jongdae dengan suara khas bangun tidur.

Yunmi hanya memandang jongdae, gadis itu mengulurkan lengannta dan menarik lengan jongdae memaksa agar namja itu bangun.

“Kajja! Bangunlah”

Namun jongdae malah menarik kembali lengan yunmi dengan tenaga yang tentu lebih besar dari gadis itu. Yunmi terhuyung, tubuhnya kini mendarat mulus diatas tubuh jongdae.

Jongdae tersenyum dengan jarak wajah yang sangat dekat diantara keduanya. Namja itu melingkarkan lengannya pada pinggang ramping yunmi.

“Aku sangat merindukanmu” ucap jongdae setelahnya.

“Yak, apa yang kau lakukan ? Kajja! Bangun dan mandilah kau benar-benar bau keringat” kata yunmi menepuk pelan dada jongdae.

“Apa kita tidak bisa seperti ini sebentar ?”

“Tidak” jawab yunmi cepat.

Jongdae tersenyum dan kembali mengeratkan pelukannya.

“Yak! Kim jongdae” pekik yunmi saat merasakan pelukan jongdae yang semakin erat.

“Jongdae kembali tersenyum melihat gadisnya marah dengan ekpresi kesal di depannya membuat namja itu gemas untuk kembali menggoda yunmi.

“Kajja! Bangunlah kita sudah terlambat” kata yunmi lagi.

Jongdae merenggangkan pelukannya, yunmi segera bangkit dan kembali menarik paksa lengan namja itu, membuat jongdae duduk diatas tempat tidurnya. Yunmipun mendorong tubuh jongdae dan menuntun namja itu menuju kamar mandi.

“Mandi dan bersiap-siaplah. Aku akan menunggu di luar” kata yunmi setelah jongdae hilang di balik pintu kamar mandi.

.

.

.

Yunmi tengah merapikan beberapa keping dvd yang berserakan di lantai di depan lemari tv. Tidak lama setelahnya jongdae keluar dari kamarnya dengan mengenakan kemeja putih yang dilapisi sweater double patch berwarna hitam.

Yunmi bangkit dari posisi berjongkoknya, mengahmpiri jongdae yang tengah berdiri di sping sofa, gadis itu memandang pada satu titik jongdae yang kini di depannya. Yunmi mengangkat lengannya merapikan kerah kemeja jongdae yang agak berantakan. Ya mungkin namja itu terburu-buru.

Saat yunmi tengah merapikan kerah kemejanya, jongdae sibuk memandang wajah yunmi yang begitu dekat dengannya, namja itu tersenyum melihat raut serius yunmi yang dengan lengan telatennya merapikan penampilannya.

“Mengapa memandangku seperti itu ?” Tanya yunmi mendapati jongdae tengah memandangnya.

Jongdae tidak menjawab pertanyaan yunmi, namja itu masih menatap dalam gadis di depannya memerangkap yunmi dengan manil beningnya membuat yunmi tidak bisa lepas dari mata itu. Jongdae tersenyum cerah kemudian bersuara.

“Cantik”

Yunmi terkesiap. Rona merah tidak bisa di sembunyikannya. “Yak! Kau..” yunmi mencubit dada jongdae kemudian berbalik mengambil tasnya diatas sofa.

Jongdae tertawa renyah dengan memegang dadanya yang baru saja di cubit gemas gadisnya.

“Kajja!” Ajak jongdae mengambil tangan yunmi, menggandengnya dan keduanya melangkah keluar dari apartemen.

Setelah keduanya berada di luar gedung apartemen tiba-tiba hujan  deras turun mengguyur.

“Yunmi-ya, ottokhae ?” Jongdae membuka suara setelah cukup lama keduanya diam menatap hujan.

Yunmi menghembuskan nafasnya pelan “hmmm, mau bagaimana lagi, sebaiknya kita kembali masuk anginnya begitu kencang” kata yunmi kemudian berbalik ingin kembali masuk kedalam apartemen.

Baru saja yunmi hendak melangkah lengannya tiba-tiba di cekal jongdae, yunmi kembali berbalik menoleh namja itu.

“Mianata, yunmi-ya” kata jongdae dengan wajah bersalah.

Yunmi tersenyum lembut, menarik lengan jongdae kemudian merangkul pinggang namja itu “gwenchana, tadi aku melihaf beberapa dvd yang sepertinya asik untuk kita tonton” ujar gadis itu. Keduanya kemudian kembali masuk ke dalam apartemen.

Setelah keduanya kembali berada di dalam apartemen. Yunmi segera menuju lemari tv mencari-cari beberapa dvd yang tadi baru saja di rapikannya.

Sementara yunmi tengah menyalakan dvd, jongdae melangkah menuju lemari es mengambil beberapa minuman dan makanan ringan.

Jongdae membawa beberapa minuman dan makanan ringan menyusul yunmi yang sudah duduk diatas sofa menonton film yg tadi di pilihnya. Jongdae meletakkan minuman dan makanan ringan di atas meja kemudian manja itu duduk di samping yunmi merangkul pundak gadis itu dan ikut menonton.

Lama keduanya larut menonton film hingga terdengar suara “kruk” dari perut yunmi. Jongdae tidak tahan untuk tidak tersenyum, namja itu mengelus pelan puncak kepala yunmi dan berkata.

“Kau lapar ?”

Yunmi mengerucutkan bibirnya, ada rasa malu mendapati suara yang berasal dari perutnya.

“Hmmm” gumam yunmi mengangguk masih dengan bibir kerucutnya.

Jongdae kembali tersenyum “baiklah aku akan memasakkan sesuatu untukmu” lanjut jongdae.

“Eoh, yang enak ya chagi”

“Hmmm pasti. Untuk yunmiku”

Yunmi tersipu mendengar kalimat yang lolos dari mulut jongdae. Dan saat namja itu hendak beranjak yunmi kembali bersuara.

“Dae-ya” panggil yunmi.

“Eoh” jongdae menoleh yunmi yang masih duduk diatas sofa.

“Apa aku boleh meminjam bajumu ? Dresa ini tidak enak di kenakan untuk bersantai di rumah”

“Tentu saja kau boleh meminjam bajuku, bahkan lebih dari bajupun boleh” goda jongdae.

“Yak, apa maksudmu” rengut yunmi.

Jongdae kembali tersenyum “ambillah di dalam kamarku, kau boleh memilih yang mana saja”

“Hmmm baiklah” kata yunmi kemudian bangkit dari duduknya melewati jongdae dan mendekati kamar namja itu. Saat yunmi hendak membuka pintu kamar tersebut jongdae kembali memanggilnya.

“Yunmi-ya”

“Eum, wae ?” Tanya yunmi setelah kembali menoleh kearah jongdae.

“Sekalian ganti bajunya di dalam kamar saja jangan di depanku” lagi namja itu menggoda gadisnya.

“Tentu saja, bodoh” kesal yunmi.

Tawa jongdae pecah, dia begitu menikmati menggoda gadisnya.

“Cepatlah masak sesuatu untukku. Aku lapar” tambah yunmi lagi kemudian masuk ke dalam kamar jongdae meninggalkan deburan pintu yang di tutup keras.

“Eoh! Baiklah nona” teriak jongdae setelahnya namja itu beranjak menuju dapurnya.

.

.

.

Yunmi keluar dari kamar jongdae dengan mengenakan kaos putih polos namja itu yang terlihat kebesaran di tubuh mungilnya hingga menutup hotpants yang telah dia gunakan sedari tadi.

Gadis itu melangkah menuju ruang tengah untuk kembali melanjutkan acara menonton filmnya. Saat tengah berjalan, yunmi menoleh ke arah dapur mendapati jongdae yang tengah serius memasak, sweater namja itu telah lolos dari tubuhnya menyisakan kemeja putih dengan kedua lengan yang di naikkan hingga batas siku membuat jongdae terlihat seksi di mata yunmi. Yunmi hanya memandang jongdae sesaat kemudian kembali melanjutkan langkahnya.

Saat yunmi kembali terlarut dengan film yang di tontonnta, jongdae menghampirinya dengan membawa semangkuk bimbimbap buatannya. Jongdae duduk di samping yunmi menyerahkan satu sendok dari dua sendok yang di bawanya kepada yunmi.

“Eoh kau mengenakan kaos putihku yang berbahaya untukmu”

“Ya. Anggaplah antisipasi. Dari pada kau yang mengenakan dan berbahaya untukku, lebih baik aku yang mengenakannya”

“Hmmmm tapi kalau seperti ini kelihatannya akan jadi berbahaya untukku” kata jongdae pelan.

“Yak!” Pekik yunmi kemudian menyuapkan sesendok bimbimbap ke mulut namja itu.

Setelah selesai menghabiskan bimbimbap buatan jongdae hingga menyisaan mangkuk kosong yang telah tergeletak di atas meja. Yunmi dan jongdae kembali melanjutkan kegiatan menonton mereka.

“Dae-ya, sebaiknya waktunya aku mundurkan ya ? Aku tidak fokus menonton saat kita makan”

“Ya terserahmu nona” jawab jongdae yang kemudian meraih remote.

Baru saja jongdae kembali memplay film di layar tv besarnya tiba-tiba.

Trek!

Listrik mati membuat seisi ruangan gelap gulita, suara hujan di luar sana semakin terdengar jelas.

“Dae-ya, kau dimana ?” Gusar yunmi, gadis itu tidak dapat melihat apapun karena tidak adanya penerangan.

“Aku di sini chagi-ya” kata jongdae meraih  tangan yunmi dan menggenggamnya “tanganmu dingin. Apa kau takut ? Atau kau memang kedinginan ?” Tanya jongdae.

“Aku takut gelap dae-ya” ucap yunmi pelan.

“Hmmmm tenanglah, aku ada di sampingmu. Kau tidak perlu takut” kata jongdae lembut.

Yunmi mengangguk, merasa sedikit saat jongdae menggenggam tangannya erat. Namun itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba.

Jeder!

Petir menyambar nyaring di luar sana membuat yunmi melonjak kaget. Gadis itu memekik takut dan menghambur dalam pelukan jongdae. Sesaat keduanya terdiam, hanya tangan jongdae yang bergerak mengelus punggung yunmi bermaksud menenangkan.

Setelah kembali menguasai dirinya, yunmi melonggarkan pelukannya kemudian mendongak. Dapat yunmi lihat wajah jongdae yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya karena cahaya samar kilat di luar sana.

Sama halnya dengan yunmi, jongdae yang sedari tadi telah memandang wajah yunmi perlahan menundukkan wajahnya memangkas jarak diantara keduanya. Hidung yunmi dan jongdae bahkan telah bersentuhan dan saat jongdae menutup matanya perlahan…

Trang!

Ruang apartemen jongdae kembaki terang, yunmi mengerjap melepaska  pelukannya dan membenarkan posisi duduknya. Begitupun dengan jongdae, namja itu berdehem pelan.

Sesaat ada rasa canggung diantara keduanya sampai akhirnya jongdae membuka suara.

“Sepertinya kau tidak bisa pulang malam ini”

“Eoh ?” Kaget yunmi, gadis itu mendelik tajam kearah jongdae.

Jongdae tersenyum gemas kemudian menyentuh ujung hidung yunmi “yak! Apa yang kau pikirkan ? Lihat di luar sana hujan begitu deras dan berangin. Aku tidak akan membiarkanmu pulang”

“Eo-oh” gagap yunmi karena tertangkap basah telah berpikir tentang… “ya. Aku akan menginap dan tidur di kamar. Kau ? Akan tidur di sini” lanjut yunmi.

“Tidak bolehkah kita tidur bersama ?”

“Tentu saja tidak”

“Tapi ini begitu dingin. Apa kau tega membiarkanku kedinginan”

“Kau bisa mengenakan selimut”

“Tapi aku ingin memelukmu seperti ini” jongdae menggeser tubuhnya dan memeluk yunmi dengan wajah tersenyum dan menutup kedua matanya.

“Yak, jongdae-ya. Apa yang kau lakukan ?” Protea yunmi berusaha melepaskan pelukan jongdae.

“Aku tidak akan melakukan sesuagu yang berlebihan. Aku hanya akan memelukmu” lanjut jongdae tidak menghiraukan pemberontakan yunmi.

“Yak! Kau benar-benar” kata yunmi kesal setelah berhasil lepas dari pelukan jongdae.

Tiba-tiba trek!

“Eoh ?” Kaget yunmi saat mendapati ruangan kembali gelap.

“Jongdae-ya”

“Yak, chagi-ya” panggil yunmi lagi setelah tidak mendapat jawaban dari jongdae.

“Dae-ya” masih tidak ada jawaban.

“Chen!” Pekik yunmi mulai marah dan takut.

“Eoh aku disini sayang” suara jongdae akhirnya, namja itu kembali memeluk yunmi di tengah gelap. “Kali ini aku tidak akan melepaskanmu” lanjut jongdae, kemudian dengan insting tajamnya jongdae mempertemukan bibirnya dengan bibir yunmi.

Yunmi kembali mengerjap saat jongdae mengecup hangat bibirnya, menyesapnya dan melumatnya pelan. Terhanyut oleh perlakuan jongdae, yunmi akhirnya memejamkan matanya, kedua tangannua melingkar sempurna di leher jongdae. Satu telapak tangan yunmi bahkan mengelus rambut belalang jongdae dan membalas perlakuan namja itu.

Yunmi terkesiap. Matanya membola sempurna saat merasakan telapak tangan hangat jongdae menyentuh kulit pinggngnya. Gadis itu berusaha melepaskan tautan keduanya.

“Ya-a-ak, apa yang kau lakukan” pekik yunmi pelan suaranya tercekat di tenggorokan.

“Yak, dae-ya”

“Kim jongdae!” Suara yunmi meninggi, namun seolah tuli jongdae sama sekali tidak membero tanggapan. Bahkan saat tautan keduanya terlepas namja itu masih saja memeluk tubuh yunmi erat.

“Yak, angkat tanganmu dari sana”

“Jongdae-ya”

“Yak!” Yunmi kembali memekik, tubuhnya kembali menegang.

“Kau. Dasar mesum. Ku bilang angkat tanganmu dari sana bukan menyingkapnya” marah yunmi.

“Kau bilang angkat tanganku. Aku sudah mengangkatnya” suara jongdae polos.

“Maksudku keluarkan tanganmu dari dalam sana”

“Yak! Jongdae-ya. Kau-”

Fin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s