Shouldn’t Have #8

image

By bebebaek_

Prolog | chapter 1 | chapter 2 |chapter 3 | chapter 4 | chapter 5 | chapter 6 | chapter 7

Main cast : Park Ae Yeon (oc), Oh Se Hun (EXO).

Addicional Cast : Park Chan Yeol (EXO), Nam Hye Jin (oc), Kim Ra Ra (oc), Byun Baekhyun (EXO), Song Ji Min (oc), Kim Jong Dae (EXO).

Genre : family, marriage life, sad, romance.

Length : Chaptered | Rating : PG 15

Hasil khayalan murni, don’t plagiat.

Sorry Typo-.-

.

.

.

Sehun mematikan mesin mobilnya saat sudah tiba di seberang rumah sakit tempat biasa namja itu melihat gadis yang di cintainya.

Tidak lama sehun menunggu, ae yeon akhirnya keluar dari rumah sakit melewati pintu utama dan menuruni beberapa anak tangga. Sehun tersenyum melihat ae yeon, namja itu kembali menyalakan mesin mobilnya, mengendarai mobil menuju tempat ae yeon berjalan.

Tit tit!

Sehun membunyikan kalkson mobilnya ketika ae yeon telah berada di sisi mobilnya. Sehun menurunkan kaca mobil mendongakkan wajahnya untuk melihat ae yeon.

“Selamat sore nona”

“Sehun” kata ae yeon tersenyum.

“Masuklah” tawar sehun.

Ae yeon masuk ke dalam mobil, sehun langsung membawa mobilnya pergi meninggalkan halaman rumah sakit. Suasana di dalam mobil hening, tidak ada yang memulai untuk berbicara. Sehun fokus pada kegiatan menyetirnya walau sesekali namja itu mencuri-curi pandang pada ae yeon yang tengah memandang ke luar jendela.

Setelah beberapa menit keduanya terdiam, ae yeon akhirnya memecah keheningan.

“Kita mau kemana ?”

“Kau akan tahu setelah kita tiba di sana nona” jawab sehun dengan senyum tipisnya, membuat wajah tampan namja itu semakin sempurna.

Tidak lama keduanya tiba di area sungai han, sehun segera memarkirkan mobilnya di salah satu sudut taman di dekat sungai han. Sehun melepas safety beltnya kemudian turun ke sisi berlawanan mobilnya membukakan pintu untuk ae yeon.

Keduanya berjalan beriringan menuju tepi sungai han, setelah tiba di sana sehun mengajak ae yeon untuk duduk di salah satu kursi taman yang menghadap langsung ke arah sungai.

Ae yeon mengepalkan kedua tangannya diatas pangkuannya saat angin berhembus menerpa tubuhnya. Ya sekarang memang telah memasuki musim dingin. Sadar ae yeon tengah kedinginan, sehun melepaskan mantel yang dikenakannya menyampirkannya pada bahu ae yeon.

“Gumawo” kata ae yeon sesaat setelah sehun meletakkan mantelnya.

“Eum” jawab sehun dengan senyuman tulusnya.

“Sehun-ah, apa tidak mengapa kita melakukan hal ini ? Bertemu dan berjalan bersama. Kau memiliki istri. Aku meraa bersalah. Ya, aku merasa benar-benar jahat. Aku juga seorang yeoja, istrimu pasti akan kecewa jika mengetahui hal ini” tutu ae yeon, kepala gadis itu menunduk setelahnya.

Sehun meraih lengan ae yeon, membawa ke pangkuannya dan menggenggamnya erat.

“Aku mengerti. Tapi ae yeon-ah ini semua bukan salahmu. Aku hanya mencintaimu. Percaya padaku. Aku akan menyelesaikan semuanya. Kau tidak perlu merasa bersalah eum ?” Kata sehun. Namja itu memeluk ae yeon ke dalam dekapannya.

Sehun mengelus lembut suri hitam ae yeon, membuat gadis itu merasa nyaman dalam pelukannya. Ae yeon hanya diam. Keduanya di selimuti keheningan saat menyaksikan indahnya langit senja yang berwarna jingga dengan burung-burung yang terbang kembali menuju sarangnya seolah membuat keduanya terhipnotis hingga menciptakan keheningan.

Perlahan langit jingga berubah menjadi gelap. Bintang-bintangpun telah mengintip ingin keluar. Sehun mengajak ae yeon untuk pulang, namja itu bangkit dari duduknya menarik lengan ae yeon seolah membantu gadis itu bangkit kemudian berjalan berdampingan menuju mobil dengan lengan yang masih saling bertaut.

Sehun membukakan pintu mobil untuk ae yeon kemudian berjalan di sisi berlawanan dan masuk. Sehun menyalakan mesin mobilnya melaju membelah jalanan kota seoul di malam hari.

Sampai di depan rumah ae yeon, sehun menghentikan mobilnya.

“Mau masuk dulu ?” Tanya ae yeon.

“Nanti. Setelah aku pantaselewati pintu itu dan meminta dirimu untukku” jawab sehun lembut.

Ae yeon hanya tersenyum mendengar ucapan dari bibir tipis namja di sampingnya.

“Ae yeon-ah”

Ae yeon menoleh mengarahkan kepalanya menghadap sehun. Gadis itu terpaku mendapati wajah sehun hanya beberapa jarak dengan wajahnya. Bisa ae yeon rasakan jantungnya meletup-letup di dalam sana. Ae yeon semakin gugup saat sehun kembali mencondongkan tubuhnya ke arah ae yeon dan kembali memangkas jarak diantara keduanya.

Sehun memajukan lengannya setelah tubuhnya benar-benar menghimpit ae yeon. Sehun melepaskan safety belt ae yeon kemudian kembali membenarkan posisi duduknya.

Ae yeon terpaku untuk beberapa saat. Setelah kesadaran kembali menguasainya ae yeon bersuara

“Eoh. Gumawo” gadis itu kemudian membuka pintu mobil. Baru saja ae yeon hendak melangkah turun dari mobil, sehun tiba-tiba menarik lengannya membuat tubuh ae yeon terhuyung dan mendarat dalam pelukan sehun.

“Ahhh.. rasanya aku tidak ingin berpisah denganmu. Baru saja hendak berpisah aku sudah merindukanmu” kata sehun memeluk erat ae yeon dalam dekapannya.

Ae yeon tersipu dalam diam, bisa di rasakan wajahnya kini memanas. Seulas senyumpun tidak bisa di tahannya lolos terukir di bibir mungilnya.

Akhirnya sehun melepaskan pelukannya. Ae yeon turun dari mobil kemudian berdiri di sisi mobil menatap pada sang pengendara.

“Aku pulang” kata sehun

“Eum. Hati-hati”

Sehun kembali melajukan mobilnya meninggalkan ae yeon yang menatap kepergian mobil sehun yang semakin menjauhinya.

.

.

.

Malam telah larut, jam dinding menunjukkan pukul 00:54 namun rara belum juga terlelap dalam mimpinya. Rara duduk bersandar pada kepala tempat tidur, menatap kosong kedepan.

Ketika sehun telah pulang dan memasuki kamar mereka, rara tetap diam tidak mengindahkan kedatangan namja yang merupakan suaminya itu. Sama halnya dengan rara, sehun juga diam tanpa suara setelah menutup kembali pintu kamar, meletakkan tas kerjanya diatas meja nakas, melonggorkan dasinya, sehun masuk ke dalam kamar mandi.

Setelah sehun selesai membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi, sehun berjalan menuju tempat tidur merebahkan tubuh panjangnya di sisi kosong tempat tidur tepat di samping rara. Saat sehun telah memejamkan matanya, rara membuka suara

“Sehun-ah, apa-” perkataan rara terpotong saat sehun menyelanya.

“Aku lelah, aku ingin tidur”

Rara mengepalkan kedua tangannya, dadanya benar-benar terasa sesak, matanya memanas membuat genangan kristal putih terlihat jelas disana. Apa salahnya ? Apa kurangnya rara bagi sehun ? Mengapa namja itu terus saja mendiamkannya, tidak membuka hatinya untuk rara dapat masuk ke dalam bahkan hanya untuk mengetuknya saja tidak.

Keesokan harinya, begitu sehun berangkat ke kantor. Rara meraih ponselnya, mencari satu kontak kemudian menyambungkannya.

“Hallo, oppa ini aku”

“Oppa, apa kau bisa membantuku ?”

“Nae, tolong carikan info seseorang, namanya park ae yeon, seorang dokter residen di rumah sakin hwangju. Aku ingin oppa mendapatkan profil juga kontaknya”

“Eu. Aku mengandalkanmu. Gumawo jeonmyeon oppa”

Rara baru saja menghubungi salah seorang bawahan ayahnya. Jeonmyeon adalah seorang pemuda yang sejak kecil di rawat tuan kim setelah menemukan anak itu terlantar seorang diri di pinggir jalan kecil kota daegu. Jeonmyeon memang terbilang cukup dekat dengan rara karena sejak kecil jeonmyeon di tugaskan untuk menemani dan menjaga rara.

Setelah mematikan sambungan teleponnya, rara melangkah meninggalkan rumahnya masuk ke dalam mobilnya kemudian melaju menjauhi rumah.

Rara mematikan mobilnya tepat di depan kantor sehun berkerja, mengamati setiap orang yang keluar dan masuk dari pintu utama dari dalam mobilnya.

Tidak lama rara mengamati setiap orang dari dalam mobilnya, manik tajamnya menangkap sosok sehun tengah berjalan keluar kemudian masuk ke dalam mobilnya melaju meninggalkan tempat tersebut.

Rara yang merasa penasaran ikut menyalakan mobilnya dan melaju  mengikuti mobil sehun di depannya. Ya rara ingin tahu ke mana sehun akan pergi.

Sehun menghentikan mobilnya di sebuah toko souvenir yang menjual pernak-pernik untuk kado dan hadiah. Sehun memasuki toko tersebut sementara rara mengamatinya dari dalam mobil tidak jauh dari toko tersebut.

Sehun keluar dari toko tersebut dengan membawa sebucket bunga dan boneka besar di kedua tangannya. Sehun berjalan menuju mobilnya meletakkan bucket bunga dan boneka itu di kursi bagian belakang mobilnya kemudian masuk dan beranjak dari tempat itu.

Mobil sehun telah memasuki area parkir rumah sakit hwangju, begitupun dengan mobil rara yang mengikuti di belakangnya. Rara masih diam di dalam mobilnya membiarkan sehun masuk terlebih dahulu dengan membawa kedua souvenir yang di belinya beberapa saat yang lalu. Setelah di rasa cukup aman rara akhirnya keluar dari mobilnya berjalan masuk ke dalam rumah sakit dan kembali mengikuti jejak sehun.

Rara menghentikan langkahnya saat melihat sehun dengan senyum yang baru pertama ini di lihat rara terukir indah di bibir namja itu. Sehun tengah melambaikan tangannya pada seorang gadis dengan jas putih yang menandakan dia adalah seorang dokter, gadis itu tengah berdiri di samping bangsal dimana seorang gadis kecil tengah berbaring di atasnya.

Ae yeon membalas senyum sehun ketika namja itu telah berada di sampingnya tersenyum lembut kepada ae yeon dan mengusap puncak kepala gadis kecil yang beberapa hari terakhir selalu di temui sehun saat bersama ae yeon.

Sehun memberikan boneka yang tadi di belinya kepafa gadis kecil itu yang di sambut olehnya dengan senyum cerah khas anak kecil.

Ae yeon ikut tersenyum melihat binar kebahagiaan di wajah gadis kecil tersebut, tidak ae yeon ketahui sehun tengah menatapnya kemudian mengedepankan lengan yang sedari tadi di sembunyikannya di balik badannya. Ae yeon terkejut untuk beberapa saat kemudian menerima bunga tersebut dan tersenyum yang begitu cantik dimata sehun.

Rara yang melihat semuanya dari jarak yang tidak terlalu jauh memandang tajam kepada sehun dan ae yeon. Dapat rara lihat sehun tersenyum bahagia, memperlakukan gadis itu dengan hangat jauh berbeda dengan sikap namja itu saat bersamanya.

Rara benar-benar kecewa, hatinya terasa di remas kuat. Matanya kembali memanas. Dengan kedua tangan mengepal erat gadis itu melangkah pergi.

Baru saja rara memasuki mobilnya ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari jeonmyeon. Rara segera meraih ponselnya dan menyentuh tanda hijau di layarnya.

“Ada apa oppa ?”

“Ah. Ya. Aku akan memeriksanya. Gumawo oppa”

Setelah sambungan terputus, rara segera membuka aplikasi email dari ponselnya memeriksa hasil kerja yang di temukan jeonmyeon. Rara memeriksa dengan teliti setiap informasi dan profil ae yeon yang di temukannya. Rara kembali menutup ponselnya kemudian melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.

Rara masuk ke dalam rumahnya, mendudukkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah. Sesaat rara kembali mengingat apa yang dilihatnya pagi ini. Rasa sakit itu kembali menjalar di hatinya. Gadis itu kemudian menegakkan tubuhnya, mengambil ponsel dari dalam tasnya kemudian memencet benda persegi tersebut dan menyambungkan sambungan teleponnya.

“Anyeonghaseo” suara di seberang telepon.

“Hai, park ae yeon” kata rara terdengar tegas.

“Nuguseyo ?”

“Ah. Aku kim rara”

Di seberang telepon ae yeob menegang mendengar nama yang tidak asing baginya. Setelah diam beberapa saat ae yeon kembali bersuara.

“A-ah, wae ?”

“Aku ingin bertemu denganmu, bagaimana ? Apa kau bisa ?”

“Eoh ? Y-ya. Kapan ?”

“Nanti sore. Tempatnya akan ku kabari nanti”

“Eoh. Baiklah”

“Okay. Sampai jumpa”

.

.

.

Setelah pergantian shifnya ae yeon segera pergi menuju cafe yang di maksud rara dalam pesan yang dikirim gadia itu beberapa saat yang lalu.

Ae yeon memasuki cafe, mencari-cari seseorang. Setelah menemukan orang yang di maksud tengah duduk di salah satu meja di dalam cafe tersebut, ae yeon menghampirinya.

“Maaf membuatmu menunggu” kata ae yeon berdiri di sisi meja gadis itu.

“Duduklah” jawab rara ketus.

Ae yeon duduk di kursi kosong tepat di depan rara. Sesaat hening menyelimuti keduanya. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Ae yeon hanya menatap canggung pada rara, sebaliknya rara menatap ae yeon tajam.

“Aku tidak akan berbasa-basi” suara rara memecah kehinangan “kau tahu siapa aku bukan ?” Lanjut rara.

“Eoh ?” Ae yeon menarap bingung

“Ya. Aku adalah istri oh sehun, terlepas dari apapun yang mengikat kalian berdua entah itu perjodohan atau apapun aku tidak peduli. Kau mungkin di jodohkan terlebih dahulu dengannya tapi aku. Aku yang terlebih dahuku memilikinya” kata rara dengan rentetan penuturannya.

Ae yeon terkejut. Ya, ae yeon benar-benar terkejut bagaimana bisa rara mengetahui tentang perjodohan dirinya dengan sehun yang dilakukan alm kakek park dengan kakek oh. Ae yeon tidak bisa  bersuara. Keterkejutan masih menyelimutinya.

“Jadi ae yeon-ssi, ku harap kau bisa menjauhi suamiku. Aku mencintainya dan aku tidak akan membiarkan sehun pergi dariku” lanjut rara, gadis itu kemudian bangkit dari duduknya meninggalkan ae yeon yang masih diam di tempat.

Sepulangnya dari cafe ae yeon kembali ke rumah sakit dengan wajah murung, ae yeon banyak melamun menatap kosong pada setiap objek.

Ae yeon melangkah keluar dari rumah sakit, ae yeon terus teringat apa yang di katakan rara padanya. Dengan langkah gontai dan kepala yang terus menunduk, ae yeon bahkan tidak menyadari saat ini sehun telah berada di sampingnya.

“Selamat malam nona” kata sehun membuyarkan lamunan ae yeon.

“Eoh ?” Kaget ae yeon setelah gadis itu menegakkan kepalanya.

“Masuklah, aku akan mengantarkanmu”

“Eum” jawab ae yeon kemudian masuk ke dalam mobil setelah sehun membukakan pintu untuknya.

Ae yeon membuka suara ketika beberapa saat gadis itu diam menatap kosong keluar jendela.

“Sehun-ah, bisakah kita berhenti sebentar di taman depan”

“Eoh ? Ya. Tentu saja”

Setelah memarkirkan mobilnya sehun dan ae yeon berjalan berdampingan kemudian duduk di kursi taman tepat di bawah penerangan lampu taman. Untuk beberapa saat ae yeon kembali terdiam.

“Sehun-ah” kata ae yeon memecah keheningan. Gadis itu menolehkan wajahnya menatap sehun yang duduk di sampingnya.

“Eum” jawab sehun tersenyum.

“Ku rasa-” ae yeon menggantungkan kalimatnya, menautkan jari jemarinya gusar “ku rasa sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi” lanjut ae yeon.

Sehun terkejut mendengar perkataan ae yeon, sehun terdiam menahan gemuruh di dalam dadanya. Sakit. Ya, sehun tidak ingin kembali berpisah, baerjauhan dan tidak bisa bertemu gadis yang di cintainya. Bagaimana sehun dapat mengatasi rasa rindunya untuk tidak bertemu ae yeon sedangkan satu detik saja berjauhan dari gadis itu membuatnya benar-benar merindukannya.

“Wae ?” Suara sehun akhirnya “apa aku melakukan kesalahan ?”

“Aniya, kau tidak melakukan kesalahan apapun. Aku hanya, hanya merasa menjadi seorang gadis yang jahat” kata ae yeon menundukkan kepalanya dalam. “Kau sudah memiliki istri. Sebagai seorang istri dia pasto akan kecewa jika mengetahui apa yang kita lakukan”

Sehun hanya diam mencermati setiap kata yang keluar dari mulut ae yeon, setiap kata yang menoreh luka di hatinya. Tiba-tiba sebuah prasangka menghampiri hatinya. Sehun menoleh ae yeon di sampingnya.

“Apa. Kau bertemu rara ?” Tanya sehun meyakinkan.

“Eum” ae yeon mengangguk.

Sehun kembali terkejut. Bagaimana bisa rara bertemu dengan ae yeon, bagaimana gadis itu mengetahuinya. Untuk beberapa saat sehun terus berfikir sampai akhirnya dia menyadari. Ya sehun telah melupakan siapa rara. Kim ra ra, putri tunggal tuan kim itu pasti dapat dengan mudah mengetahui apapun yang dilakukannya dan dengan siapa dia berhubungan.

“Apa dia melakukan sesuatu padamu ?”

“Tidak. Dia tidak melakukan apapun padaku. Dia hanya mengingatkanku bahwa kau sudah menikah” ae yeon tersenyum sesaat “yah.. semua yeoja akan melakukan hal yang sama jika mengetahui suaminya sering menemui yeoja lain”

Sehun terdiam. Namja itu hanya menatap ae yeon lekat.

“Jadi sehun-ah, kau tidak perlu menjemputku atau ke rumah sakit lagi. Cobalah menerima istrimu” ae yeon kembali tersenyum, menatap sehun sesaat kemudian bangkit dari duduknya.

“Aku akan pulang” lanjut ae yeon.

“Biar aku mengantarmu” kata sehun cepat menghentikan langkah ae yeon.

Ae yeon membalikan tubuhnya menghadap sehun.

“Tidak perlu. Aku bisa sendiri” kata ae yeon meninggalkan sehun yang masih terpaku di tempat, menatap punggung ae yeon yang semakin menjauh.

.

.

.

Sehun mematikan mesin mobilnya yang melaju cepat setelah tiba di kediaman tuan kim.

Dengan wajah datarnya sehun memasuki kediaman tuan kim, naik ke lantai atas kemudian membuka pintu kamar rara yang jua kamarnya.

Sehun menutup pintu kamar kasar membuat rara yang tengah duduk di depan meja rias menoleh ke arahnya.

“Eoh. Kau pulang cepat hari ini ?”

Sehun tidak menjawab pertanyaan rara, namja itu maju beberapa langkah mendekati rara.

“Kau menemui ae yeon hari ini ?” Tanya sehun serius.

Rara terdiam untuk beberapa saat kemudian tersenyum dan bangkit dari duduknya.

“Ah.. jadi dia sudah memberitahumu”

“Apa saja yang kau katakan padanya”

“Tidak banyak. Aku hanya menyuruhnya untuk tidak lagi bertemu denganmu. Ya aku hanya mengingatkannya untuk tidak menjadi yeoja murahan yang merusak rumah tangga orang lain”

“Yak, kim rara jaga ucapanmu” kata sehun penuh penekanan, rahangnya mengeras. Ekspresi tidak suka dengan apa yang di katakan rara pada ae yeon jelas tergambar diwajahnya.

Rara yang baru pertama kali melihat ekpresi marah dari namja yang berhasil merebut hatinya itu terkejut, namun rara berusaha tidak memperlihatkannya. Rara menekan rasa takutnya dan kembali berujar.

“Apa aku salah ? Bukankah dia memang menggodamu. Huhh” rara tersenyum mengejek “dia dokter tapi kelakuannya benar-benar seperti jalang”

“Kim rara! Kau tidak berhak mengatakan hal itu. Kau tidak tahu. Kau tidak mengenalnya!” sehun terpancing emosi.

“Lalu apa ? Kalian berselingkuh ? Ckck.. sehun-ah kau harus ingat aku adalah istrimu. Kau sudah menikah denganku. Persetan jika kau mencintainya aku tidak peduli. Yang ky tahu kau suamiku dan tidak ada yeoja lain yang boleh mendekatimu” rara ikut terpancing emosi. Benar ya benar rara sudah tidak bisa menahannya.

Sehun menghela nafas panjang berusaha menekan emosinya. “Ya kau benar aku memang suamimu. Kita telah menikah tapi rara-ya, aku tidak mencintaimu. Aku menyukai orang lain jauh sebelum kita menikah”

Rara benar-benar tersakiti mendengar perkataan sehun. Dadanya bergemuruh, matanya berair siap runtuh dari tempatnya.
“Lalu mengapa kau menyetujui perjodohan ini ?” Suara rara lemah.

“Aku menyetujuinya karena perjodohan ini dilaksanakan sebelum aku bertemu dengannya. Tapi dengan pernikahan ? Aku berniat untuk menolaknya tapi apa ? Aku tidak bisa karena semuanya di rencanakan tanpa sepengetahuanku” kata sehun “rara-ya aku tidak ingin terus menyakitimu ataupun memberimu harapan. Karenanya rara-ya kita akhiri saja” lanjut sehun menatap rara di depannya.

Rara terhenyak tidak percaya, kepalanya mendongak menatap sehun nanar. Air matanya sudah lolos mengalir membasahi pipi mulusnya.

“Aniya. Tidak sehun-ah, aku tidak mau. Aku tidak ingin berpisah denganmu” kata rara mengguncang lengan sehun.

“Maafkan aku” sehun melepaskan lengan rara dari lengannya. “Aku akan mengurus semuanya” lanjut sehun kemudian pergi meninggalkan rara dengan air mata yang terus mengalir dari mata indahnya.

Rara tepaku, kakinya lemah tidak dapat menopang tubuhnya. Air mata terus mengalir mengiringi langkah sehun yg menjauhinya.

Tubuh rara terhuyung, terjembab diatas lantai keramik putih kamarnya.

“Aniya sehun-ah, aku tidak mau. Aku mencintaimu”

TBC

Advertisements

7 thoughts on “Shouldn’t Have #8

  1. Pingback: Shouldn’t Have #11 | BABY BEE

  2. Pingback: Shouldn’t Have #12END | BABY BEE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s