DESTINY (Chapter 4) – by bebebaek_

image

By bebebaek_

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

Main cast : Park Chan Yeol (EXO), Nam Hye Jin (oc).

Addicional Cast : Oh Se Hun (EXO), Byun Baek Hyun (EXO), Song Ji Han (oc), Kim Jong Dae (EXO), Do Kyung Soo (EXO), Lee Yee Rim (oc).

Genre : romance, school life, drama.

Length : Chaptered | Rating : General.

Hasil khayalan sendiri, don’t plagiat.

Sorry Bertaburan Typo-.-

.

.

.

Kyungsoo termenung seorang diri di atas bangsal di dalam ruangan yang di dominasi dengan warna putih dan bau obat-obatan khas rumah sakit.

Pikiran remaja itu kembali menilik pada kejadian beberapa tahun yang lalu dimana dia menjadi siswa kebanggaan di sekolahnya terdahulu. Memiliki kepandaian, kepribadian yang ramah dan sopan santun membuat kyungsoo di elu-elukan baik guru maupun gadis-gadis di sekolahnya.

Semuanya berubah sejak chanyeol pindah ke sekolahnya. Hampir seluruh gadis di sekolahnya berpaling mengagumi namja jangkung itu. Namun kyungsoo tidak ambil pusing karena pada kenyataannya namja itu memang sangat tampan. Bagi kyungsoo selama predikat siswa terbaik masih melekat padanya, chanyeol bukanlah apa-apa. Ya, walaupun chanyeol di gandrungi banyak gadis namja itu tetaplah sang biang onar.

Tapi semua itu tidak berlangsung lama, setelah kyungsoo mengetahui -na mi- gadis yang selama ini di sukainya ternyata memendam rasa kepada chanyeol. Membuat pandangan kyungsoo berubah pada namja itu. Hanya saja kyungsoo masih berusaha menerima hal menyakitkan itu dengan sebuah prinsip selama orang yang di cintainya bahagia maka dia juga akan bahagia.

Sementara kyungsoo berusaha menerima kenyataan na mi yang jauh lebih memilih chanyeol dari pada dirinya, namja itu bersikap sebaliknya di saat na mi menyatakan perasaan kepada chanyeol, dengan terang-terangan namja itu menolak na mo membuat gadis itu menitikkan air mata di depan kyungsoo.

Dan yang lebih membuat kyungsoo marah adalah cara chanyeol memperlakukan gadis yang di cintainya itu. Na mi menanggung rasa malu karena seluruh isi sekolah mengetahui penolakan chanyeol atas dirinya.

Gadis itu bahkan tidak ingin kembali ke sekolah karena selalu di cibir dan di gunjing seisi sekolah. Kemarahan kyungsoo memuncak, hatinya terasa di paksa keluar dari tempatnya saat mendapati tubuh kaku na mi terkapar di halaman gedung sekolah. Gadis itu nekat mengakhiri hidupnya dengan terjun dari atap sekolah karena tidak tahan akan tekanan terhadapnya.

Setelah kembali dari pemakaman na mi, kyungsoo kembali ke sekolah dengan mata memerah dan kedua tangan yang mengepal erat. Kyungsoo menerobos ruang kelas chanyeol tanpa menghiraukan saem yang masih berdiri di depan kelas, kyungsoo menerjang tubuh namja itu memberikan sebuah bogem mentah di wajah mulus chanyeol.

Chanyeol yang sedari tadi tengah terlelap lantas terbangun oleh tinju mendadak dari kyungsoo. Merasa terkejut dan di serang tiba-tiba tanpa tahu salahnya, chanyeol membalas perlakuan kyungsoo menghajar namja manis itu tanpa ampun. Dengan membabi buta chanyeol menghancurkan wajah kyungsoo, memberi bekas lebam di mana-mana dan darah segar yang mengucur dari pelipis serta sudut bibirnya.

Karena kejadian itulah kyungsoo bertekad akan membalas chanyeol. Begitu mengetahui chanyeol kembali pindah sekolah dan masuk di sekolah yang sama dengannya, diam-diam kyungsoo memperhatikan setiap gerak chanyeol.

Sampai pada hari dimana kyungsoo dengan tidak sengaja mendengar chanyeol berbicara dengan seorang gadis di ruang penyimpanan olahraga.

Kyungsoo sengaja mendekati hyejin dengan niat akan balas dendam agar chanyeol merasakan apa yang di rasakannya selama ini. Ya, merasakan betapa sakitnya kehilangan orang yang di cintainya.

.

.

.

Setelah kejadian hari itu, chanyeol di jatuhi hukuman skorsing selama dua minggu. Terkesan cukup ringan untuk sebuah tindakan kekerasan. Ya, kenyataan itu memang tidak bisa di bantah, alasan utama pihak sekolah hanya memberikan hukuman skorsing adalah karena chanyeol merupakan anak dari pemilik yayasan sekolah.

Chanyeol berjalan keluar dari rumah megah layaknya istana yang di bangun ayahnya dengan langkah gontai.

Rumah yang terlihat seperti surga, menarik setiap mata yang memandangnya menjadi rumah impian bagi beberapa orang. Namun, terasa bagai neraka saat chanyeol berada di dalamnya.

Hampir setiap kali tuan park pulang ke rumahnya setelah lama melakukan perjalanan bisnis, bukan suasana hangat atau saling melepas rindu yang di ciptakan keduanya seperti layaknya hubungan ayah dan anak melainkan pertengkaran atau hanya saling diam seakan tidak melihat satu sama lain.

Hubungan chanyeol dengan tuan park memang buruk sejak chanyeol berusia 9 tahun. Saat ayahnya selalu memarahi dan memukuli ibunya setelah pulang berkerja dan setelah mengetahui jika ayahnya memiliki hubungan dengan sekretarisnya chanyeol benar-benar membenci ayahnya.

Puncaknya saat kedua orang tuanya sepakat untuk bercerai. Chanyeol yang ingin ikut bersama ibunya dengan paksa di seret oleh anak buah ayahnya untuk kembali pulang ke rumah. Chanyeol terpisah dengan ibunya hingga umurnya beranjak remaja saat ini dan hingga saat ini pula chanyeol tidak dapat menemukan keberadaan ibunya. Tuan park begitu rapi menghilangkan jejak ibunya dari dirinya.

Chanyeol berjalan menyusuri trotoar melewati keramaian di deretan toko-toko di pinggir jalan. Chanyeol berhenti di depan sebuah mini market, namja itu masuk kemudian mengambil satu cup ramyeon dan sebotol air mineral. Chanyeol duduk di kursi teras mini market, menghabiskan ramyeon dan air mineralnya dalam sekejap.

Setelah merasa kenyang chanyeol bangkit dari kursinya beranjak meninggalkan tempat itu. Baru satu langkah chanyeol mengayunkan kakinya, chanyeol kembali menghentikan langkahnya saat kini gadis yang beberapa hari tidak dilihatnya namun begitu di rindukannya. Gadis yang selalu memenuhi isi kepalanya berada tepat di depannya.

“Hyejin-ah” kata chanyeol lemah kemudian melangkah mendekati gadis itu.

“Berhenti” kata hyejin setelah lama terdiam menatap chanyeol dengan sorot mata yang sulit di artikan.

Chanyeol menghentikan langkahnya, menatap hyejin dengan mata penuh penyesalan.

“Jangan mendekat. Jangan pernah mendekatiku dan jangan pernah muncul di depanku lagi. Aku membencimu park chanyeol” kata hyejin mantap kemudian melangkah pergi meninggalkan chanyeol yang masih membatu di tempat.

Hyejin berjalan dengan langkah cepat. Hatinya kembali perih setelah bertemu dengan namja yang membuat hari-hari damainya selama ini berubah 180° karenanya. Namja yang juga telah mencuri ciuman pertama yang selama ini di jaganya, namja yang menghancurkan angannya akan ciuman pertama bersama pangeran yang dicintainya.

Bayangan kejadian di hari itu kembali terlintas di kepala hyejin membuat matanya kembali memanas, hatinya terasa sakit, terasa di sayat-sayat ribuan sembilu di dalam sana tapi mengapa di saat rasa benci dan sakit di hatinya, jantungnya kembali berdegup kencang seolah berbeda suara dari yang lainnya. Jantung itu selalu berdegup kencanh saat dirinya melihat chanyeol.

.

.

.

Hari ini hyejin kembali mengikuti pembelajaran seperti biasanya, satu minggu setelah chanyeol dijatuhi hukuman skorsing. Hari hyejin kembali damai, namun gadis itu merasa ada sesuatu yang hilang. Ya, dia memang selalu menginginkan hidupnya yang tenang tanpa keributan yang muncul karena chanyeol. Tapi setelah semua itu hilang mengapa hyejin merasa kehilangan. Sesaat dirinya bahkan merindukan sosok menyebalkan itu.

Hyejin menggelengkan kepalanya pelan, menghilangkan pemikiran yang melayang terlalu jauh. Hyejin menepuk pelan pipinya.

“Yak! Hyejin. Sadarlah” gumam gadis itu.

Bel tanda pulang berbunyi. Seluruh isi kelas menghambur meninggalkan ruang kelas begitupun dengan hyejin. Gadis itu beranjak dari kursinya melangkah keluar kelas.

Hari ini hyejin berencana menjenguk kyungsoo yang masih di rawat di rumah sakit. Walaupun semua adalah ulah chanyeol, bagaimanapun hyejin tetap merasa bersalah atas apa yang terjadi pada kyungsoo.

Sampai di depan ruang perawatan kyungsoo, hyejin mengulurkan satu tangannya hendak membuka pintu ruangan tersebut. Baru saja hyejin akan mendorong pintu itu, tiba-tiba hyejin mendengar pembicaraan kyungsoo dengan seorang gadis di dalam sana.

Hyejin membatalkan niatnya membuka pintu ruangan itu, kemudian berdiam diri disana mendengarkan apa yang di bicarakan keduanya.

“Kau berakhir di tempat yang sama kyungsoo-ya” cibir gadis itu.

Kyungsoo menyeringai “paling tidak aku telah membuatnya marah dan merasakan bagaimana di tinggal gadis yang di sukainya”

“Jadi apa kau sudah puas ?”

“Belum. Aku belum puas sampai namja itu merasakan bagaimana hancurnya aku kehilangan na mi”

“Yak! Apa kau tidak terlalu berlebihan ? Kyungsoo-ya sadarlah. Na mi itu bunuh diri bukan di bunuh chanyeol”

“Yee rim-ah hentikan” kata kyungsoo dengan raut tidak suka.

“Kau tidak tahu bagaimana perasaanku” lanjut kyungsoo.

“Aigoo… yak! Sepupuku ini benar-benar seorang pendendam”

Hyejin tersentak mendengar pembicaraan keduanya. Benar yang di katakan chanyeol selama ini. Hyejin benar-benar merasa bodoh bagaimana bisa dia di manfaatkan kyungsoo untuk membalaskan dendam namja itu kepada chanyeol. Hyejin juga merasa bersalah karenanya chanyeol harus mendapat hukuman skorsing.

Akhirnya dengan perasaan penuh di liputi rasa bersalah, hyejin beranjak dari tempatnya berdiri.

.

.

.

Pagi ini chanyeol kembali ke sekolah. Berbeda dari biasanya namja itu terlihat asik dengan kedua sahabatnya -sehun dan baekhyun- tanpa memperdulikan hyejin. Sepertinya chanyeol benar-benar telah melupakan hyejin.

Saat istirahat jam makan siang, hyejin menatap gugup ke depan dimana chanyeol tengah berjalan dengan membawa nampan makan siang ke arahnya.

Hyejin menghembuskan nafas berat merasa kecewa saat mendapati chanyeol hanya lewat di samping meja yang di tempatinya. Namja itu bahkan tidak melirik ke arahnya. Jujur hyejin merasa kecewa sebenarnya gadis itu begitu berharap chanyeol akan duduk di depannya dan mengusir teman-temannya. Ya, hyejin merindukan hal itu.

.

.

.

Bel pergantian jam pembelajaran berbunyi, song saem yang merupakan guru mata pelajaran ilmu alam memasuki ruang kelas.

“Selamat siang anak-anak”

“Siang” jawab seluruh isi kelas

“Hari ini ibu hanya sebentar, sekedar memberitahu kalian jika selama satu smester kedepan pelajaran ilmu alam akan kita lakukan dengan sistem kelompok. Setiap kelompok memiliki anggota maksimal dua orang. Untuk pemilihan anggota ibu serahkan kepada kalian. Minggu depan kalian harus sudah memiliki kelompok dan mempersiapkan bahan belajar dengan materi ekosistem. Bagaimana kalian mengerti ?”

“Ne”

“Apa ada pertanyaan ?”

“Baiklah. Karena tidak ada pertanyaan, ibu sudahi hari ini. Selamat siang”

Setelah song saem meninggalkan ruang kelas. Seluruh isi kelas menghambur mencari teman kelompok masing-masing. Adalah sehun yang berusaha mencari teman kelompok seorang yeoja namun di halang-halangi oleh baekhyun. Namja itu menakut-nakuti bahkan mengancam setiap yeoja yang diajak sehun menjadi teman kelompoknya.

“Yak! Byun baekhyun apa yang kau lakukan ?” Marah namja albino itu.

“Mencegahmu memiliki teman kelompok lain selain aku” jawab baekhyun jujur.

“Yak! Mengapa aku harus terus-terusan satu kelompok denganmu ?”

“Tentu saja karena kita sahabat”

“Cih. Bilang saja kau tidak ingin terbebani tugas karena pada akhirnya hanya aku yang mengerjakan semua tugas itu”

Mendengar perkataan sehun, baekhyun hanya nyengir tanpa dosa.

Tidak jauh berbeda dari baekhyun dan sehun. Jongdae yang telah kembali bersekolah sejak dua minggu yang lalu juga beranjak dari tempat duduknya.

“Ji han-ah” panggil namja itu pelan, menundukkan kepalanya setelahnya.

“eoh ? Jongdae-ya wae ?”

“Apa kau mau menjadi teman kelompokku ?”

“Eoh ?” Ji han terkejut gadis itu kemudian menoleh ke arah hyejin yang duduk di sampingnya dengan wajah seakan bertanya ‘bagaimana?’

Menyadari kebingungan sahabatnya, hyejin hanya tersenyum dan mengangguk menyetujuinya.

“Emmm. Ya. Baiklah” jawab ji han setelahnya.

Jongdae tersenyum cerah dan membenarkan letak kacamatanya setelahnya.

“Eoh. Jongdae-ya, duduklah disini kalian pasti ingin berdiskusi tentang tugas dari song saem” kata hyejin.

“Gumawo hyejin-ah”

Hyejin bangkit dari duduknya, gadis itu kemudian berdiri dan memandang seisi kelasnya. Semuanya nampak telah memiliki teman kelompok masing-masing kecuali…….

Mata bening hyejin menangkap seseorang yang masih duduk dengan menelungkupkan wajahnya di atas meja bertumpu pada kedua tangannya.

Tanpa pikir panjang hyejin berjalan ke arah namja itu kemudian duduk di kursi kosong milik jongdae tepat di sebelah namja itu.

Chanyeol yang sedari tadi hanya diam dengan menelungkupkan wajahnya di atas meja bangkit, menegakkan tubuhnya setelah merasakan seaeorang duduk di sebelahnya dengan menghentakkan kursi itu keras.

Chanyeol menatap bingung mendapati hyejin tengah duduk di sebelahnya.

“Wae ? Aku tidak memiliki pilihan lain. Hanya kau yang tersisa” kata hyejin ketus.

Bukannya marah dengan perkataan hyejin, sebaliknya chanyeol tersenyum dan memandang sisi wajah gadis yang tengah duduk di sampingnya.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s