DESTINY (Chapter 3) – by bebebaek_

image

By bebebaek_

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2

Main cast : Park Chan Yeol (EXO), Nam Hye Jin (oc).

Addicional Cast : Oh Se Hun (EXO), Byun Baek Hyun (EXO), Song Ji Han (oc), Kim Jong Dae (EXO), Do Kyung Soo (EXO).

Genre : romance, school life, drama.

Length : Chaptered | Rating : General.

Hasil khayalan sendiri, don’t plagiat.

Sorry Bertaburan Typo-.-

.

.

.

Hyejin duduk di kursinya, meletakkan buku-bukuny di atas meja kemudian membuka beberapa diantaranya.

Jam masuk pelajaran pertama memang belum di mulai, hanya saja hyejin memang sudah terbiasa menyiapkan segalanya dan belajar mengulang materi minggu lalu agar dia tidak melupakannya.

Masih bergelut dengan beberapa bukunya tiba-tiba pintu kelas terbuka dengan hentakkan keras hingga menimbulkan bunyi ‘brak!’.
Seluruh isi kelas termasuk hyejin tersentak dan menoleh kearah pintu yang menampakkan sosok tinggi chanyeol dengam dua pendampingnya -baekhyun dan sehun- di sisi kanan dan kiri namja itu.

Chanyeol melangkah memasuki kelas kemudian berhenti tepat di sisi meja hyejin. Chanyeol menatap hyejin yang di balas oleh gadis itu dengan tatapan dingin.

“Pagi my destiny” kata chanyeol di iringi senyuman miringnya.

Chanyeol masih tersenyum kemudian namja itu duduk di kursinya. Ya belakangan ini, semenjak chanyeol memproklamirkan secara sepihak bahwa hyejin adalah takdirnya namja itu selalu menggoda gadis itu. Beberapa kali chanyeol bahkan menjahili hyejin.

Menurut chanyeol, hyejin benar-benar berbeda. Di saat gadis lain pasti akan senang dan tersanjung di goda ataupun mendapat pujian dan perhatian dari namja itu. Hyejin menunjukkan reaksi yang berbeda, gadis itu terlampau cuek dan bahkan terkadang memberikan perlawanan dan balik menghina chanyeol.

Chanyeol merasa tertantang. Namja itu merasa seakan memiliki sebuah mainan baru. Ya, karena memang baru kali ini chanyeol mendapati seorang gadis yang dapat menampik pesonanya.

Saat jam makan siang. Hyejin duduk di salah satu meja dekat jendela paling pojok kantin sekolahnya bersama beberapa teman yeojanya. Semula suasana benar-benar menyenangkan saat mereka menikmati makan siang mereka sembari sesekali maling melempar gurauan.

Tiba-tiba semuanya diam saat chanyeol berdiri di depan meja mereka. Ya semua teman-teman hyejin, satu kelas bahkan satu sekolah mengetahui jika hyejin saat ini adalah bulan-bulanan atau bahkan bisa di swbut mangsa chanyeol.

Tidak ada yang berani melawan chanyeol saat ini jika mereka tidak ingin berakhir di ruang IGD, karena itu ketika chanyeol menggerakkan kepalanya mengisyaratkan pada semua teman-teman hyejin untuk pergi beranjak dari tempat tersebut semuanya segera bangkit dan menjauh.

“Kau juga song Ji han” kata chanyeol penuh penekanan saat melihat taman sebangku hyejin itu tidak bergeming dari tempat duduknya.

Ji han bangkit dari kursinya kemudian beranjak pergi setelah sebelumnya berkata kepada hyejin

“Mian hyejin-ah”

Setelah semuanya kini telah pergi menyisakab hyejin yang kini duduk seorang diri, chanyeol tersenyum penuh kemenangan. Namja itu kemudian duduk tepa di depan hyejin meletakkan nampan berisi makanan siangnya kemudian menyantapnya dengan tetap memandang ke arah hyejin.

Hyejin tetap dengan aktivitas makannya. Gadis itu benar-benar tidak memperdulikan chanyeol di depannya yang terus saja menatap ke arahnya. Seolah buta dan tuli gadis itu tidak memberi tanggapan saat chenyeol terang-terangan menggodanya.

Setelah selesai makan hyejin bangkit, mengangkat nampannya kemudian beranjak dari tempat masih dengan tanpa suara sepatah katapun.

Sepeninggal hyejin, chanyeol menatap punggung hyejin yang menjauhinya. Namja itu tersenyum dan bergumam

“Dia benar-benar menarik”

.

.

.

Chanyeol berjalan melewati lorong di lantai tiga, setelah beberapa saat yang lalu namja itu berada di atap sekolah di saat jam pelajaran masih berlangsung.

Tanpa sengaja manik chanyeol mendapati hyejin bersama seseorang di depan kelas yang mungkin adalah kelas namja itu.

Raut wajah chanyeol berubah ketika tiba-tiba orang itu menatap ke arahnya dan menampilkan seringaian miring kepada chanyeol.

Chanyeol balas menatap namja itu kemudian berlalu menuju kelasnya tanpa memperdulikan hyejin dan seorang namja itu.

Bel pulang sekolah berdering keras. Hyejin berjalan seorang diri melewati koridor utama saat tiba-tiba chanyeol menarik lengan gadis itu, membuat hyejin tersentak kaget karenanya.

“Yak! Park Chanyeol!” Pekik hyejin, dia tidak tahu kemana chanyeol akan membawanya dan apa lagi yang akan namja itu lakukan krpadanya.

Chanyeol terus menarik hyejin dari koridor hingga ke taman belakang sekolah, sesampainya di sana chanyeol menghempaskan lengan hyejin yang tadi di cengkramnya, membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan hyejin dan menatap dalam gadis di depannya itu.

“Dari mana kau mengenal namja itu ?” Tanya chanyeol penuh penekanan. Tidak ada raut main-main di wajahnya.

Alis hyejin berkerut tidak mengerti dengan siapa yang di maksud chanyeol.

“Do Kyungsoo. Dari mana kau mengenalnya ?” Kata chanyeol lagi.

Hyejin mengerti sekarang siapa yang di maksud namja itu, hanya saja hyejin masih bingung untuk apa chanyeol ingin tahu dan dari mana dia mengenal kyungsoo.

Tidak mendapati hyejin menjawab pertanyaannya, chanyeol kembali bertanya.

“Dari mana kau mengenalnya ?” Kali ini chanyeol telah diliputi emosi yang terlihat di tahannya.

“Dia teman satu klubku” jawab hyejin acuh.

“Jangan terlalu dekat dengannya” kata chanyeol tak kalah acuh.

“Wae ?” Tanya hyejin bingung.

“Aku tidak menyukainya. Jadi jangan pernah lagi dekat-dekat dengan namja itu” kali ini chanyeol berkata yang lebih terdengar seperti perintah.

“Siapa kau berani menyuruh-nyuruhku eoh ?. Aku tidak mau. Kau tidak berhak melarangku”

“Yak, bagaimanapun kau harus menjauhinya” chanyeol kembali mencengkram lengan kanan hyejin.

Hyejin menatap chanyeol dengan tatapan kemarahan dan penuh kebencian. Gadis itu kemudian menghempaskan lengan chanyeol hingga cengkraman chanyeol pada lengannya terlepas. Kemudian gadis itu berlalu meninggalkan chanyeol.

.

.

.

Hari ini chanyeol kembali tidak mengikuti jam pembelajaran, namja itu kembali keluar saat saem baru masuk ke kelasnya.

Kali ini chanyeol memilih untuk pergi ke perpustakaan karena menurutnya tempat itu adalah tempat terbaik untuk tidurnya. Suasana yang sepi dan sinar yang sedikit masuk karena terhalang tingginya rak-rak buku benar-benar pemanggil kantuk yang sempurna.

Chanyeol masih terlelap dalam tidurnya sebelum samar-samar dua buah suara mengusik pendengarannya.

“Apa buku ini ?”

“Eoh. Ku rasa itu bagus untuk referensi”

“Kau sudah pernah membacanya ?”

“Ya. Endingnya benar-benar romantis. Kau harus membacanya”

“Ckck, semua gadis selalu mengatakan bagus jika itu berbau romantis”

“Tidak juga”

Chanyeol bangkit dari posisi tidurnya di kursi baca dengan kepala menungkup di atas lengan pada meja di depannya.

Raut wajah chanyeol kembali berubah saat mendapati di depannya saat ini hyejin masih berdekatan dengan namja itu. Keduanya berdiri berhadapan, di tangan hyejin terdapat beberapa buku yang sesekali di tunjukkannya pada kyungsoo.

Kyungsoo yang berdiri menghadap ke arah chanyeol mengetahui kehadiran namja itu. Kyungsoo menatap tajam ke arah chanyeol dan setelahnya menyeringai miring terkesan meremehkan.

Chanyeol tidak tahan, namja itu kemudian bangkit dari duduknya menghampiri hyejin dan kyungsoo kemudian menarik lengan kiri hyejin keras hingga buku-buku yang di pengangnya terjatuh.

Hyejin terkejut, gadis itu memekik merasa sakit karena cengkraman chanyeol. Tanpa bersuara dengan langkah panjang dan mantap chanyeol menyeret hyejin ke gudang penyimpanan.

Sesampainya di sana, chanyeol menghentakkan cengkramannya pada lengan hyejin dengan cukup keras.

“Bukankah sudah ku katakan jauhi namja itu!” Kata chanyeol lantang bahkan bisa di bilang sebuah teriakan.

Hyejin kembali terkejut mendapati chanyeol yang kini membentaknya.

“Yak, park chanyeol. Apa kau sudah gila ?. Kau bukan siapa-siapaku. Kau tidak berhak mengatur hidupku dan memutuskan dengan siapa aku harus berhubungan. Aku benar-benar muak dengan sikap kekanakkanmu. Kau pikir itu keren ?. Apa kau merasa bangga di takuti oleh seluruh siswa di sekolah ini ? Dan lagi aku adalah takdirmu ? Hehh” hyejin menyeringai “berhenti membuat park chanyeol, apa kau ti-“

Perkataan hyejin terpotong karena dengan tiba-tiba chanyeol membungkam bibir hyejin dengan bibirnya. Hyejin tersentak, matanya membola sempurna saat merasakan kini bibir chanyeol tidak hanya menempel di permukaan bibirnya.

Chanyeol melumat, menyesap dan meraup ganas bibir hyejin, chanyeol bahkan tidak segan menggigit bibir bawah gadis itu dan memperdalam ciumannya.

Hyejin tidak hanya diam. Setelah tersadar dari rasa terkejutnya gadis itu terus saja mendorong tubuh chanyeol agar menjauh darinya. Tidak berhasil dengan itu hyejin kembali berusaha dengan memukul keras dada chanyeol, hyejin juga terus berusaha menutup kedua bibirnya rapat menyusahkan akses chanyeol.

Seluruh usaha hyejin sia-sia chanyeol benar-benar tidak bergeming dan terus mencium gadis itu dengan rakus. Sampai akhirnya chanyeol mengakhiri sendiri ciuman solonya dan menarik kepalanya memberi jarak di antara keduanya.

Baru saja chanyeol mengangkat wajahnya sebuah tamparan telah mendarat mulus di wajah tampan namja itu.

“Kau benar-benar gila. Aku membencimu” kata hyejin dengan suara bergetar. Bulir bening nampak telah menggenang di pelupuk matanya.

Hyejin melangkah pergi dari tempat itu. Meninggalkan chanyeol seorang yang kini diam membatu di tempatnya.

Ya, melihat hyejin pergi meninggalkannya dengan mata yang berkaca-kaca membuat chanyeol sadar akan kesalahannya. Seharusnya namja itu tidak bersikap seperti itu. Apalagi tatapan hyejin benar-benar menampakkan sorot kebencian.

Chanyeol berteriak keras, lengannya memukul udara. Namja itu tidak tahu harus membuat apa. Yang ada di kepalanya kini hanya hyejin, hyejin dan hyejin.

Apa dia telah jatuh hati pada gadis itu ?. Apa perasaannya telah ikut andil dalam hal ini ?. Mengapa jantungnya berdetak kencang saat mencium hyejin ?. Dan kenapa terasa sakit saat melihat tatapan benci hyejin kepadanya. Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja terlintas di benak chanyeol.

Mungkin benar, chanyeol telah melibatkan perasaannya kali ini. Chanyeol tidak suka hyejin berdekatan dengan namja lain terlebih lagi dengan kyungsoo, namja yang pernah hampir mati di tangan chanyeol. Takut. Ya chanyeol mungkin takut kyungsoo akan merebut hyejin darinya.

Chanyeol mengusap kasar wajahnya, melangkah keluar dan berjalan kembali menuju perpustakaan dengan langkah panjang dan di liputi emosi pada tingkat paling tinggi chanyeol membuka pintu perpustakaan kasar. Setelah mendapati kyungsoo masih berdiri di tempatnya chanyeol segera menghampirinya. Menarik kerah kemeja namja itu dan tanpa aba-aba menghantamkan tinjunya ke wajah kyungsoo.

Kyungsoo terhuyung hingga jatuh tersungkur di deretan kaki kursi perpustakaan. Tidak sampai disitu chanyeol kembali memukul kyungsoo tanpa ampun dan membabi buta.

Penjaga perpustakaan yang menyaksikan hal itu lekas menghubungi pihak sekolah. Hingga beberapa saat setelahnya beberapa guru dan kepala sekolah menghampiri keduanya dan melerai chanyeol yang terus saka menghantamkan pukulan demi pukulan di wajah kyungsoo.

Setelah chanyeol berhasil di pisahkan. Namja itu di seret menuju ruang kepala sekolah. Seluruh siswa menyaksikannya. Saling berbisik dan melontarkan pendapat mereka.

Lama chanyeol duduk diam dengan pandangan tidak menampakkan penyesalan sedikitpun di matanya. Ayah chanyeol memasuki ruang kepala sekolah. Setelah berbincang lama akhirnya keduanya mengakhiri pembicaraan mereka dan saling membungkuk. Ayah chanyeol memalingkan tubuhnya dan berjalan mendekati chanyeol yang tengah duduk di sofa.

“Kau ikut ayah pulang” kata tuan park kemudian melangkah keluar ruangan.

Chanyeol bangkit dari duduknya dengan langkah pasti namja itu mengekor jejak ayahnya dan masik ke dalam mobil kemudian melaju meninggalkan halaman sekolah.

Setelah mobil berhenti di kediaman tuan park. Chanyeol segera keluar dan masuk melewati pintu masuk kemudian berjalan menuju kamarnya. Tanpa menghiraukan tuan park yang masih berada di dalam mobil.

Di kamarnya chanyeol menatap kosong ke arah jendela hingga tiba-tiba seseorang masuk merusak keheningannya.

“Kau masih bersikap seperti itu ?”

“Apa kau benar-benar tidak ingin berubah ?”

“Dasar anak tidak tahu terima kasih”

“Park chanyeol apa kau hanya bisa membuat keributan ?”

“Kau benar-benar seperti ibumu” kata tuan park kemudian melangkah meninggalkan chanyeol.

Kalimat teakhir yang meluncur dari mulut tuan park sukses membuat chanyeol menoleh ke arah lelaki paruh baya tersebut. Chanyeol menatap punggung tuan park penuh kebencian.

Setelah tuan park keluar dari kamarnya chanyeol menggenggam erat kedua lengannya menahan segala emosi yang ingin meledak di dalam dirinya. Chanyeol berteriak kencang kemudian menghempaskan beberapa barang di kamarnya. Matanya memanas. Chanyeol benar-benar benci ketika ayahnya menyebut-nyebut ibunya.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s