Shouldn’t Have #7

image

By bebebaek_

Prolog | chapter 1 | chapter 2 |chapter 3 | chapter 4 | chapter 5 | chapter 6

Main cast : Park Ae Yeon (oc), Oh Se Hun (EXO).

Addicional Cast : Park Chan Yeol (EXO), Nam Hye Jin (oc), Kim Ra Ra (oc), Byun Baekhyun (EXO), Song Ji Min (oc), Kim Jong Dae (EXO).

Genre : family, marriage life, sad, romance.

Length : Chaptered | Rating : PG 15

Hasil khayalan murni, don’t plagiat.

Sorry Typo-.-

.

.

.

Setelah sehun dan ra ra menikah, keduanya tinggal di kediaman keluarga kim. Bukan karena keluarga kim dan keluarga oh tidak mampu memberikan sebuah apartemen sebagai hadiah pernikaha  untuk sehun dan ra ra. Sehun juga mampu membeli sendiri apartemen untuknya namun di larang tuan kim karena menurutnya sehun dan ra ra harus tetap tinggal di kediamannya karena bagaimanapun seluryh kekayaannya pada akhirnya memang akan menjadi milik ra ra.

Karena tinggal di kediaman keluarga kim, sehun sama sekali tidak bisa melakukan niatnya untuk tidur di kamar tersipah dengan ra ra. Sehun hanya bisa menerima tinggal di satu kamar dan berbagi tempat tidur dengan ra ra.

Sehun selalu menghindar bahkan sejak malam pertama mereka. Sehun memasuki kamar terlebih dahulu setelah acara selesai kemudian membersihkan diri dan langsung tidur di saat ra ra tengah membersihkan diri di kamar mandi.

Setelah selesai membersihkan diri, ra ra keluar dengan masih menggunakan kimono handuknya. Ra ra mendekat ke arah tempat tidur dan mendapati sehun telah terlelap dengan celana panjang hitam berbahan kain dan baju kaos putih polos. Rambut sehun yang masih setengah basah membuat namja itu terlihat begitu tampan di mata ra ra.

Ra ra tersenyum kemudian menarik selimut di bawah kaki sehun lalu menariknya hingga batas perut sehun.

“Mungkin dia begitu kelelahan” gumam ra ra kemudian gadis itu beranjak dari tempatnya.

.

.

.

Terhitung dua  bulan pernikahannya dengan ra ra, sehun selalu terlihat sibuk. Namja itu selalu berangkat pagi-pagi bahkan sebelum ra ra terbangun dari tidurnya dan pulang lewat tengah malam di saat ra ra telah tertidur. Sehun sengaja. Ya dai sengaja menghindari ra ra.

Sama seperti malam-malam sebelumnya, malam ini sehun kembali pulang lewat tengah malam. Sehun memasuki kamarnya dan mendapati ra ra telah terlelap di tempat tidur mereka.

Sehun meletakkan tasnya di meja nakas samping tempat tidurnya kemudian melepaskan dasinya. Masih berdiri di samping meja nakas ra ra tiba-tiba terbangun kemudian bangkit duduk bersandar di atas tempat tidur.

“Eoh, sehun-ah kau sudah pulang ?” Kata ra ra dengan suara parau khas bangun tidur.

“Maap membuatmu terbangun”

“Gwenchana” kata ra ra “kau mau mandi ? Akan ku siapkan air hangat untukmu” lanjutnya kemudian ingin bangkit dari duduknya.

“Tidak perlu” cegah sehun “aku bisa melakukannya sendiri” kemudian namja itu berjalan menuju kamar mandi.

Ra ra menatap punggung sehun yang hilang di balik pintu kamar mandi kemudian gadis itu menghela nafas berat.

Setelah beberapa saat sehun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian rumahan. Sehun berjalan mendekati tempat tidur dan mendapati ra ra telah kembali berbaring di salah satu sisi tempat tidur mereka.

Sehun mendudukkan dirinya di sisi kosong tempat tidur mereka kemudian merebahkan diri. Tidak lama setelahnya ra ra menggeser posisinya mendekati sehun dan menyentuh lengan namja itu.

“Sehun-ah, apa-“

“Aku mengantuk, jika kau ingin bicara besok saja” kata sehun dingin kemudian meletakkan salah satu lengannya yang bebas di keningnya.

“Ah ya, kau pasti lelah. Tidurlah. Jaljayeo” kata ra ra setelahnya dengan senyum yang terkesan di paksakan.

Sehun tidak menjawab. Namja itu hanya diam dan memejamkan matanya bahkan saat ra ra memeluk pinggangnya sehun tetap tidak bergeming. Ya sehun masih bersikap dingin kepada ra ra.

Sehun sadar sebagai seorang istri ra ra pasti ingin memeliki sehun seutuhnya, namun entahlah sehun tidak bisa. Hatinya kini sudah terisi oleh seseorang dan itu bukan ra ra.

Berbeda dengan sehun. Ra ra selalu berusaha menjadi istri yang sesungguhnya walaupun kerap kali kecewa ra ra tidak pernah marah ataupun menyerah, gadis itu hanya tersenyum dan diam. Menunggu sehun membuka hati untuknya. Ra ra yakin suatu saat sehun pasti akan mencintainya. Ya paling tidak ra ra bahagia karena sehun tidak pernah menolak pelukan dan ciuman darinya meskipun namja itu hanya diam dan tidak membalasnya.

.

.

.

Sehun mematikan mesin mobilnya setelah berhenti di seberang rumah sakit. Sehun membuka pintu mobil, melangkan dan berdiri di samping mobilnya. Sehun kembali menunggu seseorang yang ada di hatinya. Ya sehun memang masih memperhatikan ae yeon walaupun hanya dengan melihat gadis itu dari jauh.

Sehun melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ae yeon yang begitu ceria berubah menjadi seorang gadis yang pemurung tanpa semangat. Sebenarnya sehun benar-benar ingin menghampiri, bertemu dan berbicara dengan ae yeon, namun sehun masih tidak memeliki kebaranian melakukannya.

Lama sehub menunggu hingga akhirnya gadis itu muncul berjalan diantara beberapa orang, gadis itu tidak lagi murung seperti satu bulan yang lalu. Sehun tersenyum melihat sosok yang hampir setiap hari di tunggunya hanya untuk melihat gadis itu. Dan senyum sehun semakin mengembang saat melihat ae yeon tengah tersenyum dan membalas sapaan dari beberapa orang.

Ada rasa lega di hati sehun melihat ae yeon kini kembali tersenyum, namun rasa lenga tersebut tidak memenuhi seluruh isi hatinya.

Sesuatu masih mengganjal di ruang paling luas hatinya. Sehun benar-benar ingin bertemu langsung dan mengungkapkan seluruh isi hatinya. Sehun ingin meluapkan rasa rindunya, memeluk gadis itu dan menyampaikan permintaan maafnya, hanya saja sehun masih tidak berani. Ya sehun terlalu pengecut untuk muncul di hadapan ae yeon. Fakta bahwa dia telah begitu menyakiti gadis itu membuat sehun kembali mengurungkan niatnya.

Setelah ae yeon menghilang di balik pintu masuk rumah sakit, sehun masih berdiri ditempatnya. Menatap ke arah di mana ae yeon berada sebelumnya. Tanpa sehun sadari seseorang tengah memperhatikannya dan mengikuti arah pandangan sehun.

“Sehun ?” Panggil orang itu setelah berdiri tepat di samping sehun.

Sehun menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya dan setelahnya ekspresi wajah sehun berubah.

“Apa yang kau lakukan di sini ?” Tanya orang itu lagi.

Sehun diam sesaat kemudian memberanikan diri membuka suara “aku-, tidak. Aku hanya-“

“Kau melihat ae yeon ?”

Jleb.. sehun benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tebakan orang itu benar bahkan sangat tepat sasaran.

“Chanyeol hyung” kata sehun pelan.

Benar seseorang itu adalah chanyeol. Chanyeol baru saja tiba, dia berniat akan memberikan berkat milik ae yeon yang ketinggalan di apartemennya.

Baru saja chanyeol turun dari mobilnya maniknya tanpa sengaja menangkap sehun yang serius menatap ke arah pintu masuk rumah sakit. Tanpa berpikir panjang chanyeol mendekat dan menghampiri chanyeol.

“Kau melihat ae yeon ?” Tanya chanyeol lagi dengan raut wajah serius dan nada yang tegas.

“Ya” jawab sehun singkat.

Chanyeol tersenyum sesaat kemudian kembali menunjukkan raut wajah serius dan bersuara.

“Sehun-ah, sebaiknya jangan pernah menemui ae yeon lagi” kata chanyeol dengan menepuk bahu sehun.

“Kau tau betapa terpukulnya dia setelah mengetahui orang yang di jodohkan dengannya adalah kau. Tapi lebih dari itu yang benar-benar membuatnya terpuruk adalah pernikahanmu. Ya sepertinya dongsaengku benar-benar telah jatuh cinta kepadamu” lanjut chanyeol.

Sehun tetap diam dan hanya menatap tajam chanyeol di depannya.

“Dan sebagai pria yang sudah menikah seharusnya kau tidak melakukan hal ini” chanyeol kembali bersuara kemudian namja itu berlalu meninggalkan sehun yang masih terpaku ditempat.

.

.

.

“Baiklah aku akan masuk” kata ra ra setelah mendengar pemberitahun bahwa pesawat yang akan membawanya ke negeri paman sam akan lepas landas.

Ya. Ra ra akan berangkat ke amerika untuk beberapa minggu ke depan. Entah untuk urusan apa sehun sama sekali tidak peduli. Yang sehun tahu ra ra akan menyusul eommanya yang sudah beberapa bulan di sana.

“Gomawo sudah mengantarkanku” kata ra ra lagi.

“Emmm” sehun hanya menjawab dengan gumaman.

“Setelah urusanku selesai. Aku akan segera pulang. Kau jangan terlalu lelah dan jangan lupakan makan” kata ra ra dengan membenarkan letak dasi sehun.

“Hmmm” sehun mengangguk “kau juga hati-hati” kata sehun akhirnya.

Ra ra tersenyum kemudian mengangguk dan berbalik menuju pintu keberangkatan.

Sehun diam ditempatnya beberapa saat setelah ra ra menghilang di balik pintu. Namja itu menatap kosong ke depan. Pikirannya kini kembali teringat perkataan chanyeol tempo hari. Ya setelah hari itu sehun memang tidak lagi melihat ae yeon.

Sehun merasa perkataan chanyeol memang benar. Tapi sekarang sehun tidak bisa menahannya lagi. Sehun begitu merindukan gadis itu. Sekuat apapun usahanya dan sekeras apapun sehun menahannya. Dia benar-benar tidak bisa.

Akhirnya sehun beranjak dari tempatnua, melangkah masuk ke dalam mobilnya dam melaju menuju rumah sakit. Setelah tiba di depan rumah sakit sehun berhenti di tempat biasa, kali ini dia hanya melihat dari dalam mobilnya.

Lama sehun menunggu hingga kini langit menjadi gelap. Sehun masih menunggu hingga akhirnya dia melihat sosok itu berjalan keluar dari pintu masuk bersama jimin dan…

“Bukankah itu namja yang pernah ku lihat bersama ae yeon dulu ?” Gumam sehun.

Melihat ae yeon, jimin dan seorang namja yg pernah di lihatnya berjalan bersama membuat sehun ingin tahu akan kemana dan melalukan apa ketiganya.

Sehun turun dari mobilnga mengikuti ketiganya yang berjalan di depan. Sehun segaja memberi beberapa jarak di belakang ketiganya agar dia tidak ketahuan.

Sehun menghentikan langkahnya saat namja yang berjalan di sisi paling kiri tepat di sebelah ae yeon merangkul punggung gadis itu dan bahkan sesekali namja itu membenarkan rambut ae yeon.

“Yak. Apa yang dilakukan namja itu ? Berani-beraniya dia..” gumam sehun lagi.

Setelah berjalan cukup lama ketiganya memasuki sebuah kedai, sehun berhenti melangkah kemudian matanya menangkap sebuah kedai yang buka tepat di seberang kedai yang di kunjunhi ae yeon, jimin dan baekhyun. Sehun melangkah kembali menyeberangi jalan kemudian masuk ke dalam kedai tersebut. Sehun duduk di tempat yang dapat melihat dengan jelas ketiganya di seberang sana.

Sehun terus saja menatap ke arah ae yeon. Namja itu ikut tersenyum saat melihat ae yeon tersenyum. Sesekali sehun juga bergumam kesal saat melihat namja yang pernah dilihatnya itu menyuapkan makanan kepada ae yeon.

Sehun kembali tersenyum saat melihat ae yeon tertawa dengan lepas. Ya rasanya sudah sangat lama tidak melihat ae yeon tertawa. Sehun menatap kosong pada meja dengan beberapa pesanannya yang sama sekali tidak di sentuhnya. Kemudian namja itu menghela nafas berat dan bangkit dari duduknya berjalan meninggalkan tempat itu.

.

.

.

Sehun tengah sibuk memeriksa beberapa berkas miliknya sampai ketika seseorang masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Sehun menatap kearah pintu dan mendapati kim jongdae sedang berjalan kearahnya.

“Yak, sehun-ah. Kau sudah menikah ?”

“Mengapa kau tidak memberi kabar kepadaku ?”

“Siapa gadis beruntung itu eoh ?”

“Yahh ku dengar dia anak seorang pengusaha yang berkuasa”

“Apa kau di jodohkan ?” Tanya jongdae tanpa henti.

“Yak, yak kau baru saja tiba tapi sudah membuatku pusing” kata sehun.

“Yak, aku begitu penasaran”

“Kenapa kau ada disini ?” Tanya sehun tanpa menghiraukan pertanyaan jongdae.

“Aku ? Yak bukankah aku kariyawan di perusahaan ini ? Tentu saja aku disini untuk berkerja. Kau lupa masa cutiku berakhir kemarin”

“Ahhh jadi bulan madumu selesai ?”

“Ya”

“Bagaimana kabar istrimu ?”

“Mengapa kau menanyakan kabar istriku ? Yak, cepat jawab pertanyaanku. Bagaimana kau bisa menikah dengan tiba-tiba ?”

“Bagaimana dengan hadiah pernikahan dariku ? Kau menyukainya ?”  Kembali sehun tidak menghiraukan pertanyaan jongdae.

“Eoh, kami sangat menyukainya. Yak. Mengapa kau terus saja mengalihkan pembicaraan ?”

Sehun menghela nafas yang terdengar berat, namja itu kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri jongdae yang berdiri di depan mejanya.

“Ya aku memang menikah karena perjodohan” aku sehun.

“Benar ? Dan kau mengikutinya ? Aku kira kau menyukai gadis dokter itu ?”

Sehun terdiam. Matanya kembali menatap kosong.

Melihat sehun yang terdiam seperti itu jongdae kembali bersuara

“Apa benar kau menyukainya ?”

“Hmmm, ya sepertinya aku menyukainya. Aku merasa begitu bersalah padanya”

“Kau gila ? Yak, kau sudah menikah sekarang. Bagaimanapun itu tidak bisa. Sehun-ah cobalah menerima istrimu dan nikamati pernikahan” jongdae berujar yang diakhiri dengan senyuman miringnya. “Kau tau aku benar-benar berhenti menjadi seorang playboy” lanjut namja itu.

Sehun tersenyum mendengar penuturan dari jongdae, namja itu kemudian bersuara.

“Memangnya kau bisa menghilangkan hobbymu itu ?”

“Sebenarnya aku tidak yakin” jawab jongdae dan setelahnya keduanya tertawa bersama.

“Yak, bukankah jam makan siang sebentar lagi akan habis ? Kau tidak makan ?”

“Tidak. Kau saja”

“Yak kau benar-benar tidak asik. Ayo makan bersamaku”

“Tidak. Masih banyak yang harus ku periksa. Kau duluan saja”

“Benarkah ? Baiklah kalau begitu”

Jongdae keluar dari ruangan sehun meninggalkan namja itu kembali sendiri. Sehun kembali mendudukkan tubuhnya diatas kursi, memeriksa kembali beberapa berkas di depannya.

Sehun masih bergelut dengan berkas-berkasnya hingga sesaat sehun berhenti, menjatuhkan pulpen yang di pegangnya dan setelahnya memegang kepalanya.

Kepala sehun benar-benar terasa pening. Sejenak sehun memejamkan matanya agar pening yang dirasanya dapat berkurang.
Akhir-akhir ini sehun memang tidak begitu memperhatikan tubuhnya, sehun kurang istirahat dan namja itu bahkan lupa kapan terakhir kali dia makan. Ya kehidupan sehun benar-benar tidak teratur.

Langit telah gelap, perlahan sehun berjalan menuji mobilnya. Peningnya memang sudah berkurang hanya saja belum hilang seutuhnya.

Sehun menyalakan mesin mobilnya kemudian melaju membelah jalanan. Masih mengemudikan mobilnya tiba-tiba pening itu kembali muncul di kepala sehun. Kali ini rasanya lebih dahsyat hingga membuat sehun kehilangan fokus pada menyetirnya dan tepat saat mobil sehun melewati sebuah persimpangan dari arah kiri persimpangan sebuah mobil penganggut barang melaju tepat kearah mobil sehun dengan kecepatam tinggi.

BRUKKKKK !

Tidak bisa di hindari tabrakanpun terjadi, sehun kritis dan langsung dilarikan ke rumah sakit.

.

.

.

Ae yeon berjalan melewati pintu keluar rumah sakit seorang diri, menuruni beberapa anak tangga dan berjalan di depan gedung rumah sakit. Masih berjalan di depan rumah sakit tiba-tiba ae yeon menghentikan langkahnya setelah beberapa saat yang lalu sebuah bangsal yang di dorong beberapa petugas melewatinya.

“Se-hun” gumam ae yeon setelah sekilas melihat orang yang terbaring diatas bangsal dengan berlumuran darah itu melewatinya.

Ae yeon diam di tempat. Matanya bergerak gelisah. Gadis itu tidak yakin apakah benar yang dilihatnya barusan adalah sehun atau hanya ilusinya saja.

Dengan di rundung rasa cemas ae yeon akhirnya beranjak dari tempatnya, dengan berlari gadis itu kembali masuk ke dalam rumah sakit dan masuk ke ruang IGD. Mata ae yeon menyapu seluruh ruangan mencari-cari seseprang yang beberapa saat lalu di bawa keruang itu.

Tidak mendapati orang itu berada di sana, ae yeon melangkah menghampiri seorang perawat dan bertanya.

“Apa kau melihat seseorang yang baru saja di bawa kemari, sepertinya pasien kecelakaan”

“Ah, ne. Dia baru saja di pindahkan ke ruang operasi karena mendpat beberapa tulang yang patah akibat kecelakaan”

“Ahhh, siapa nama pasien itu ?” Tanya ae yeon memastikan.

“Tn. Oh Sehun”

Hati ae yeon mencelos mendengar nama sehu. Tangannya bergetar hebat. Ae yeon bahkan hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan jika saja perawat yang berdiri di depannya tidak menahan tubuhnya.

Dengan langkah pelan ae yeob beranjak dari tempatnya membawa tubuh lemahnya mendekati ruang operasi. Saat ruang operasi tinggal berjarak beberapa meter dari tempatnya ae yeon menghentikan langkahnya, melihat di sana tepat di depan pintu ruang operasi tuan dan nyonya oh tengah menunggu. Raut wajah keduanya jelas terlihat begitu cemas.

Lama ae yeon berdiri hingga akhirnya gadis itu berbalik dan melangkah keluar. Ae yeon mendudukkan dirinya di kursi tunggu, mengepalkan tangannua dan berdoa agar sehun dapat melewati operasinya.

Ae yeon masih menunggu dengan perasaan cemas, sesekali gadis itu menoleh ke arah ruang operasi hingga akhirnya beberapa perawat muncul dari arah ruang operasi dengan mendorong bangsal dimana sehun berbaring lemas di atasnya. Ae yeon menghela nafas lega setelahnya kembali mendudukkan diri.

.

.

.

Ke esokan harinya ae yeon berjalan menuju ruang perawatan sehun dan tepat setelah berada di depan pintu ruangan tersebut ae yeon menghentikan langkahnya. Tangan ae yeon terulur memegang gagang pintu ruang perawatan tersebut. Lama ae yeon hanya memegang gagang pintu itu sampai akhirnya ae yeon menarik kembali tangannya kemudian berbalik dan melangkah menjauhi ruangan.

Baru beberapa langkah ae yeob beranjak dari depan ruang perawatan sehun tiba-tiba seseorang memanggilnya.

“Eoh, ae yeon-ah”

Ae yeon menegakkan kepalanya memandang lurus ke depan dan mendapati jongdae berada tepat di depannya.

“Kim Jongdae” kata ae yeon.

“Mengapa kau tidak masuk ?”

“Ah. Tidak. Aku hanya kebetulan lewat” kilah ae yeon.

“Benarkah ?”

“Ya. Kalau begitu aku duluan” kata ae yeob kemudian melangkah melewati jongdae.

Beberapa langkah ae yeo  berjalan jongdae kembali bersuara.

“Ae yeon-ah”

Ae yeon menghentikan kembali langkahnya dan menoleh ke arah jongdae.

Dan di sinilah keduanya, ae yeon dan jongdae tengah duduk di kantin rumah sakit dengan salinh berhadapan. Beberapa saat yang lalu jongdae berujar ada suatu hal yang ingin di sampaikannya kepada ae yeon.

.

.

.

Jongdae telah menceritakan seluruh fakta yang diketahuinya, keluh kesah sehun, perasaan namja itu dan bagaimana sehun melalui harinya setelah menikah.

Jongdae juga membeberkan bagaimana hidup sehun benar-benar tidak teratur akhir-akhir ini. Namja itu selalu berusaha menyibukkan diri dan bahkan melupakan waktu makannya. Sehun benar-benar tidak peduli dengan tubuhnya.

Terakhir jongdae mengungkapkan bahwa sehun benar-benar menyukai ae yeon.

“Namja itu benar-benar tidak bisa melupakanmu. Dia bahkan mampir di depan rumah sakit setiap harinya hanya untuk melihatmu”

Kalimat terakhir yang jongdae katakan kepada ae yeon terus saja terulang berkali-kali di kepala ae yeon. Entahlah ae yeon tidak tahu harus bahagia atau marah karenanya yang jelas apa yang dirasakan sehun sebenarnya sama dengan apa yang dirasakannya.

Selama ini ae yeon memang terlihat kembali ceria dan telah melupakan sehun. Tapi sejujurnya jauh di lubuk hati terdalamnya ae yeon masih tidak bisa menghapus namja itu dari hatinya.

Masih memikirkan setiap perkataan yang di sampaikan jongdae kepadanya entah sejak kapan ae yeon berjalan hingga kini ae yeon telah sampai di depan pintu ruang perawatan sehun. Ae yeon membuka pintu tersebut kemudian masuk dan mendapati sehun tengah tertidur diatas bangsal rumah sakit.

Hati ae yeon terasa teriris mendapati beberapa perban di beberapa bagian tubuh sehun dan gips pada lengan kananya. Ae yeon mengulurkan tangannya menyentuh alis sehun dan sisi wajah namja itu untuk beberapa saat sampai tiba-tiba mata sehun terbuka.

Ae yeon mengerjap mendapati sehun terbangun dari tidurnya, cepat-cepat ae yeon menarik lengannya namun saat ae yeon hendak menarik lengannya dari sisi wajah sehun tiba-tiba sehun menahannya. Kemudian namja itu menarik ae yeon hingga gadis itu terjatuh tepat di depan wajah sehun. Namja itu sedikit mengangkat kepalanya dan mempertemukan bibirnya dengan bibir pink milik ae yeon.

Ae yeon membulatkan matanya dan berusaha melepaskan ciuman sehun dengan mendorong pelan dada sehun. Namun usaha ae yeon sia-sia karena sehun mencengkran erat lengan gadis itu.

Sehun memperdalam ciumannya. Melumat pelan bibir ae yeon dan menyesapnya. Sehun menyalurkan seluruh perasaannha kepada ae yeon selama ini melalui ciuman. Tidak dapat lepas dari cengkraman sehun pada akhirnya ae yeon memejamkan matanya menerima perlakuan sehun kepadanya dan                       juga menyalurkan perasaannya selama ini.

Lama bibir keduanya saling bertaut sampai akhirnya sehun mengakhiri ciumannya, menarik kempali wajahnya kemudian menatap manik gadis di depannya dan berkata.

“Mianhae. Keurigu saranghae”

Sehun kembali mendekap ae yeon dalam pelukannya. Sementara sehun mempererat pelukannya ae yeon hanya diam tanpa suara.

Sehun melepas pelukannya membiarkan ae yeon kini kembali berdiri tegak di samping sisi tubuhnya. Namja itu kemudian berusaha bangkit daro posisi tidurnya yang kemudian di bamtu oleh ae yeon untuk duduk diatas bangsal.

“Gomawo” kata sehun kemudian menepuk sisi kosong didepannya mengisyaratkan agar ae yeob duduk di depannya.

Ae yeon menurut. Gadis itu kemudian duduk di depan sehun. Sehun tersenyum kemudian meraih tangan ae yeon dan menggenggamnya.

“Maafkan aku ae yeon-ah, aku benar-benar…” kalimat sehun terpotong karena ae yeon ikut menggenggamkan satu lengan bebasnya di punggung tangan sehun.

“Aku mengerti” ae yeon tersenyum “tapi sehun-ah sekarang kau-“

Kali ini giliran kaliamat ae yeon yang terputus karena sehun terlebih dahuli berkata.

“Aku tahu. Tapu ku mohon percayalah padaku aku akan menyelesaikannya”

“Sehun-ah”

“Jebal ae yeon-ah” tuntut sehun kemudoan namja itu kembali memeluk ae yeon erat.

.

.

.

Beberapa hari setelahnua ae yeon selalu menemui sehun di ruang perawatannya, merawat namja itu dan bahkan menyuapinya ketika sehun menolak untuk makan.

Setiap kali ae yeon tidak memiliki jadwal berjaga gadis itu selalu menemani  sehun sampai akhirnya namja itu diperbolehkan untuk pulang.

Ae yeon membantu namja itu berjalan menuju mobil yang dikirim tuan oh. Tuan dan nyonya oh tidak dapat menjeput sehun karena ada meeting dengan beberapa klien. Ya untuk sementara ini nyonya oh menyuruh sehun untuk tinggal di kediaman mereka.

Setelah melewati pintu keluar rumah sakit, supir keluarga oh segera menghampiri keduanya dan mengambil tas yang dibawa ae yeon kemudian memasukkannya ke dalam bagasi.

Sehun menatap ae yeon kemudian bersuara “aku pergi. Nanti aku akan menemuimu”

“Emm” jawab ae yeon menganggukkan kepalanya dan tersenyum

“Hati-hati” lanjut gadis itu.

Sehun tersenyum kemudian masuk ke dalam mobil dan berlalu. Mobil yang membawa sehun melaju menjauhi rumah sakit.

.

.

.

Ra ra tiba di incheon international airport setelah melaluo penerbangan panjang dari amerika. Ra ra keluar dari pintu kedatangan kemudian mengedarkan pandangannya mencari sosok yang di rindulannya. Tidak mendapati sehun menjemputnya tiba-tiba seorang pria dengan setelan rapi menghampirinya.

“Maaf nona saya terlambat” kata pria itu setelah tiba dan membungkuk di depan ra ra.

“Eoh. Kau siapa ?” Tanya ra ra bingung.

“Saya kim minseok, supir pribadi keluarga oh. Tuan muda sehun tidak bisa menjemput nona karena baru saja mengalami kecelakan” tutur pria itu.

“Apa ? Kecelakaan ?” Kaget ra ra. Raut wajah gadis itu berubah cemas.

“Lalu bagaimana keadaannya ? Tidak. Dia berada dimana sekarang ?” Lanjut ra ra.

“Tuan muda berada di kediaman keluarga oh”

“Kalau begitu kajja kita kesana”

“Ne”

.

.

.

Setibanya di kediaman keluarga oh, ra ra nergegas masuk, menaiki anak tangga dan melangkah menuju kamar sehun.

Setelah tiba di depan kamar sehun, ra ra membuka pintu kamar kemudian masuk dan mendapati sehun tengah duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Ra ra segera menghampiri namja itu kemudian duduk di tepi tempat tidur.

“Sehun-ah, kau tidak apa-apa ?”

“Apa masih terasa sakit ?”

“Dimana yang sakit eoh ?”

“Yak! Mengapa kau tidak memberitahuku ?” Kata ra ra dengan nada panik.

“Gwenchana. Aku tidak ingin mengganggu mu” jawab sehun.

“Mengapa kau bisa mengalami hal ini ?”

“Entahlah”

“Yak!” Marah ra ra.

“Gwenchana. Lagi pula lukaku tidak parah”

“Tidak parah bagaimana, lenganmu sampai begini” gumam ra ra memandang lengan sehun yang masih di balut gips.

Sehun tidak menanggapi perkataan ra ra dan kembali berkata.

“Beristirahatlah, kau pasti lelah”

.

.

.

Malam hari di kediaman keluarga oh, tuan dan nyonya oh berserta sehun dan ra ra makan malam bersama. Tuan oh terus saja mengajak ra ra berbicara yang sesekali di timpali oleh nyonya oh. Berbeda denga ketiganya sehun hanya diam dan fokus pada makananya.

“Apa kau ingin menambah lauk?” Tanya ra ra kepada sehun

“Tidak”

“Kau ingin ini ?”

“Tidak” jawab sehun lagi dan setelahnya namja itu bergerak mengambil sup di tengah meja makan

“Biar aku ambilkan” tawar ra ra

“Tidak perlu. Aku bisa sendiri” kata sehun kembali.

Tuan dan nyonya oh terus saja memperhatikan ra ra dan sehun. Keduanya bingung dengan sikap sehun kepada istrinya.

Setelah selesai makan malam sehun dan ra ra kembali ke kamar mereka kemudian bersiap untuk tidur.

Beberapa saat setelah tertidur sejenak, ra ra tiba-tiba terbangun. Merasa tenggorokannya kering ra ra kemudian berjalan keluar menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.

Saat melewati ruang kerja tuan oh tanpa sengaja ra ra mendengar pembicaraan tuan dan nyonya oh, merasa penasaran perlahan ra ra berdiri di depan pintu dan mendengarkan pembicaraan keduanya.

“Apa kau melihat sikap sehun kepada istrinya ?”

“Ya. Aku melihatnya” jawab nyonya oh.

“Mengapa dia bersikap sedingin itu kepada istrinya ? Ini bahkan sudah dua bulan sejak pernikahannya tapi mengapa dia sama sekali tidak berubah”

“Entahlah” nyonya oh menghela nafas berat “yeobo, apa ini karena ae yeon ? Apa sehun benar-benar mencintai gadis itu ? Apa mereka benar-benar terikat jodoh ? Tebak nyonya oh.

“Ae yeon ? Apa mungkin bisa seperti itu ?”

“Mungkin saja. Bukankah kata chanseul, ae yeon juga sering mengurung diri setelah sehun menikah”

Ra ra mendengar pembicaraan tuan dan nyonya oh tanpa sadar mengepalkan tangannya, matanya terasa panas “jadi karena itu ? Jadi itu alasan mengapa sehun bersikap dingin kepadaku dan tidak bisa menerimaku selama ini ? Tidak. Aku tidak akan melepaskan sehun. Sehun milikku” gumam ra ra di dalam hati.

TBC

Advertisements

8 thoughts on “Shouldn’t Have #7

  1. Pingback: Shouldn’t Have #11 | BABY BEE

  2. Pingback: Shouldn’t Have #12END | BABY BEE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s