DESTINY (Chapter 2) – by bebebaek_

image

By bebebaek_

Prolog | Chapter 1

Main cast : Park Chan Yeol (EXO), Nam Hye Jin (oc).

Addicional Cast : Oh Se Hun (EXO), Byun Baek Hyun (EXO), Song Ji Han (oc), Kim Jong Dae (EXO), Do Kyung Soo (EXO), Lee Yee Rim (oc).

Genre : romance, school life, drama.

Length : Chaptered | Rating : General.

Hasil khayalan sendiri, don’t plagiat.

Sorry Bertaburan Typo-.-

.

.

.

Semenjak kejadian hari itu seluruh siswa tidak ada yang berani mencari masalah dengan chanyeol, bukan apa-apa pasalnya mereka melihat sendiri bagaimana chanyeol dengan kesetanan memukul jongdae hingga namja itu harus di larikan ke IGD.

Sejak hari itu pula berbagai gosip mengenai chanyeol menyeruak. Seluruh siswa begitu penasaran siapa dan bagaimana sebenarnya seorang park chanyeol.

“Yak, yak aku mendapat beberapa info mengenai park chanyeol dari saudara sepupuku yang bersekolah ditempat yang sama dengan chanyeol dulu” kata seorang siswa yang sukses mendapat perhatian dari seluruh isi kelas.

“Apa ?”

“Yak, ayo katakan aku benar-benar ingin tahu”

Mereka akhirnya berkumpul disalah satu meja hingga membuat sebuah kerumunan yang menimbulkan keramaian.

“Cepat katakan”

“Tunggu” siswa itu terlebih dahulu melihat ke kiri dan ke kanan takut secara tiba-tiba chanyeol masuk dan memergoki mereka.

Ya seperti hari-hari sebelumnya hari ini chanyeol juga belum menampakkan batang hidungnya bahkan sejak awal jam pelajaran membuat mereka semua dapat membicarakan chanyeol dengan leluasa.

“Ternyata chanyeol memang suka membangkang dan tidak masuk kelas sejak disekolah dulu” kata gadis itu memulai.

“Eyyy bukankah itu sudah jelas”

“Tidak perlu di ragukan lagi”

“Kita semua sudah mengetahuinya”

“Dia juga jago berkelahi”

“Yak, bukan kah kita melihatnya sendiri”

“Benar”

“Itu menakutkan”

“Apa tidak ada info lain ?”

“Dulu katanya dia juga pernah menghajar seorang anak pejabat di sekolahnya hingga anak itu koma”

“Jeongmal ?”

“Benar-benar menakutkan”

“Ahh aku sampai merinding”

“Ku dengar dia juga sering keluar masuk klub” lanjut gadis itu.

“Tentu saja. Melihat bagaimana dia..”

“Yak, bukankah itu wajar untuknya”

“Tapi walaupun dia sering keluar masuk klub ku dengar dia tidak pernah minum”

“Eyy mana mungkin”

“Itu mustahil”

“Yang benar saja”

“Benar temanku yang bersekolah ditempat itu juga mengatakan hal yang sama” kata siswa lainnya.

“Benarkan. Aku tidak berbohong”

“Benarkah ?”

“Aneh”

“Hmmm benar-benar mengagumkan”

“Yak!”

“Tapi mengapa dia seperti itu ?”

“Entahlah semua orang tidak mengetahuinya”

“Benar-benar namja misterius”

“Apa karena dia patah hati?”

“Ahhh benar itu bisa saja”

“Tidak mungkin. Setahuku menurut info chanyeol tidak pernah berkencan dengan siapapun”

“Eyyy bukankah itu lebih tidak mungkin”

“Yak, mana mungkin namja setampan dia tidak..”

“Itu benar. Ya walaupun dia di kelilingi banyak yeoja cantik tapi dia tidak bernah berkencan”

“Wahhh benar-benar keren”

“Berarti aku masih memiliki kesempatan”

“Yak! Kau”

“Tunggu” kata salah satu siswa namja yang berdiri dibelakang mereka.

“Aku baru saja mendapat info yang lebih mencengangkan” lanjutnya kemudian berjalan menghampiri kerumunan.

“Apa ?”

“Cepat katakan”

“Aku sudah penasaran”

“Ternyata park chanyeol adalah putra dari pemilik yayasan sekolah ini”

“Mwo ?”

“Benarkah ?”

“Pantas saja sifatnya..”

“Yak, yak apa yang sedang kalian bicarakan” tanya baekhyun setelah memasuki kelas dengan santainya bersama sehun.

Seluruh isi kelas terdiam, mereka bergegas menuju tempat masing-masing.

“Yak, isshhhh… dasar kunyuk ini” kata baekhyun kemudian memukul punggung seorang siswa namja yang melewatinya.

Berbeda dari teman-temannya hyejin yang sejak tadi hanya duduk di kursinya dengan kepala menelungkup di atas meja namun tetap mendengarkan pembicaraan sahabatnya dengan serius mendesah pelan.

Hyejin kembali memikirkan namja itu, pikirannya kembali berkecamuk hebat. Meskipun info mengenai chanyeol yang dibicarakan teman-temannya  mengatakan chanyeol adalah seorang yang gelap, menakutkan dan kasar. Entah kenapa hyejin merasa namja itu sebenarnya baik. Hanya saja sisi baiknya itu seperti sengaja dia tidurkan.

Mungkin karena hyejin pernah merasakan ketika sisi baik chanyeol menyeruak diantara sisi buruknya yang lebih aktif dan dominan. Mungkin karena dia pernah merasakan pertolongan dan perlindungan yang diberikan namja itu. Genggaman tangannya, sekilas tatapan hangatnya dan rasa khawatir yang terselip diantara kata-kata kasarnya. Mungkin ada sesuati yang tidak diketahui siapapun kecuali chanyeol sendiri.

.

.

.

Setelah jam pelajaran terakhir usai hyejin bergegas merapikan buku-bukunya kemudian melangkah meninggalkan kelas.

Hyejin berencana akan mampir ketempat ibunya bekerja. Ya ibu hyejin memang masih berkerja mengingat mereka hanya hidup berdua setelah ayah hyejin meninggal 4 tahun yang lalu dalam sebuah kecelakan pesawat yang dikemudikannya dalam perjalanan pulang dari belanda menuju seoul.

“Anyeong haseyo” sapa hyejin setelah tiba ditempat kerja ibunya.

“Aigoo… lihat siapa yang datang. Uri hyejin bibi merindukanmu” kata seorang ahjumma sesaat setelah melihat kedatangan hyejin dan melangkah kemudian memeluk gadis itu.

“Na do. Aku juga merindukan bibi kim” hyejin membalas pelukan ahjumma itu.

Ya bibi kim adalah rekan kerja ibu hyejin namun mereka sangat dekat hingga seperti saudara. Bibi kim juga begitu dekat dan menyayangi hyejin seperti putrinya sendiri.

“Bibi, dimana eomma ?” Tanya hyejin.

“Ada di dalam, kau masuklah” kata bibi kim dan setelahnya hyejin masuk ke dalam tempat penitipan anak tersebut.

Setelah masuk hyejin melihat ibunya tengah merapikan mainan anak-anak. Perlahan hyejin masuk dan memeluk ibunya dari belakang.

“Eomma”

“Hyejin, yak mengapa kau ke sini” kata ibu hyejin dan setelahnya melepaskan pelukan dari putrinya kemudian berbalik menghadap gadis itu.

“Aku ingin bertemu dan pulang bersama eomma. Aku juga ingin bertemu bibi kim”

“Kau seharusnya cepat pulang dan beristirahat tidak perlu repot-repot datang ke sini”

“Aku begitu kesepian dirumah eomma” kata hyejin pelan dengan kepala menunduk.

Ibu hyejin terkesiap mendengar perkataan dari putrinya. Ibu hyejin kemudian tersenyum dan menggenggam kedua tangan putrinya lalu berkata.

“Baiklah, ayo bantu eomma bersiap-siap. Kita pulang bersama” kata ibu hyejin membuat gadis itu tersenyum pada akhirnya.

.

.

.

Bel tanda pergantian pelajaran berbunyi. Seluruh isi kelas mengganti seragam mereka dengan baju olahraga, kecuali chanyeol. Namja itu masih menggunakan seragamnya berjalan dengan santai melewati lorong kelas menuju lapangan sepak bola di iringi baekhyun dan sehun di sisi kanan dan kirinya. Berbeda dari chanyeol, seehun dan baekhyun telah mengganti seragam mereka.

Sepanjang perjalanan ketiganya diiringi dengan bisik-bisik dan pekikkan dari banyak siswa yeoja. Ya walaupun hampir seluruh siswa takut kepada ketiganya namun tidak sedikit yang mengagumin dan mengelu-elukan ketiganya karena ketampanan mereka.

Masih berjalan ditepi lapangan chanyeol melihat siswa lainnya telah berkumpul ditengah lapangan entah mengapa melihat itu membuat chanyeol kembali kehilangan moodnya. Akhirnya namja itu memutuskan untuk kembali pergi.

Chanyeol menghentikan langkahnya yang kemudian di ikuti sehun dan baekhyun.

“Chanyeol-ah, wae ?” Tanya baekhyun bingung karena chanyeol menghentikan langkahnya tiba-tiba.

“Tidak. Kalian kesanalah aku akan pergi”

“Lagi ?” Tanya sehun terkejut.

Chanyeol tersenyum singkat kemudian mengangguk lalu kembali berkata “eoh, dan seperti biasa jika kalian ditanya saem, katakan saja kalian tidak tahu. Karena memang kalian tidak tahu”

“Tentang itu kau tenang saja” kali ini sehun berkata dengan menepuk pundak chanyeol.

“Bagus. Baiklah. Aku pergi” kata chanyeol kemudian berlari meninggalkan sehun dan baekhyun.

Sehun dan baekhyun hanya menatap punggung chanyeol yang semakin menjauh dan hilang setelah namja itu melompat dari pagar sekolah yang di panjatnya.

“Aku benar-benar tidak mengerti dengannya” kata sehun setelahnya.

“Sudahlah. Kajja!” Jawab baekhyun kemudian keduanya berjalan menuju siswa lainnya di tengah lapangan.

.

.

.

Langit telah gelap ketika hyejin berjalan melewati jalan-jalan ramai menuju rumahnya. Hari ini hyejin kembali pulang terlambat karena harus membantu mengumpulkan beberapa tugas kelasnya kepada yoo saem.

Hyejin berjalan dengan menatap lurus ke depan dan tepat saat dia melewati sebuah bar seseorang yang tidak asing baginya keluar dari bar tersebut.

Hyejin menghentikan langkahnya, menatap sosok yang baru saja keluar dari pintu bar dan berkata.
“Chanyeol”

Chanyeol menoleh kearah suara yang menyebut namanya kemudian setelah mendapati gadis yang memanggilnya adalah hyejin, chanyeol tersenyum sekilas dan mendekat kearah hyejin dan berkata.
“Eoh, ketua kelas”

“K-kau.. sedang apa di tempat ini ?” Tanya hyejin.

“Aku ? Ah tentu saja bermain-main. Kau mau ikut ?” Ajak chanyeol dengan senyum miringnya.

Hyejin tidak menjawab dan gadis itu hanya diam. Hyejin masih berusaha tidak percaya namun kenyataannya tepat di depan matanya namja itu memang seperti apa yang dibicarakan teman-temannya beberapa hari yang lalu.

Mendapati hyejin yang hanya diam tanpa suara, chanyeol kembali berkata.
“Ahhh.. tentu saja kau tidak pernah ketempat seperti ini”

“Kau…” hyejin akhirnya memberanikan diri bersuara.

“Kau akan melaporkanku ?” Tanya chanyeol “laporkanlah, tapi ketua kelas setelahku pikir-pikir kita selalu bertemu secara kebetulan”

Hyejin mendongak menatap chanyeol setelah mendengar perkataan namja itu.

“Ku rasa mungkin saja kita ditakdirkan. Ya kau mungkin saja takdirku” lanjut chanyeol tanpa memperdulikan ekspresi hyejin yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

“Baiklah. Baiklah mungkin kau bingung tapi mari kita lihat jika sekali lagi kita bertemu secara kebetulan maka kau benar-benar takdirku” kata chanyeol lagi kemudian kembali tersenyum.

Hyejin masih diam namun gadis itu kemudian berlalu tanpa menghiraukan perkataan chanyeol. Mendengar perkataan lancang dari chanyeol membuat hyejin entah mengapa merasa kesal dengan namja bertubuh jangkung itu.

Tepat dipersimpangan jalan kecil tiba-tiba saja hyejin di hadang oleh tiga orang tidak dikenal dengan pakaian serba hitam. Menyadari hal itu hyejin mundur perlahan dengan rasa takut yang telah menyelimutinya.

Saat salah satu dari ketiga orang itu mendekat dan ingin menyentuh hyejin tiba-tiba seseorang datang menghalangi namja itu kemudian bertarung dengan ketiganya.

Hyejin memekik takut. Gadis itu berlari ketepi trotor menyaksikan perkelahian dengan deburan jantung yang begitu kencang.

Tidak lama setelahnya ketiga orang itu pergi entah kemana meninggalkan seorang namja yang menyelamatkannya. Namja itu berjalan mendekat kearah hyejin dan betapa terkejutnya gadis itu setelah melihat namja yang baru saja menyelamatkannya adalah park chanyeol, lagi untuk kedua kalinya.

Chanyeol mendekat kearah hyejin dengan rasa cemat tergambar jelas di wajahnya. Ya bagaimana tidak waja gadis itu benar-benar pucat sekarang.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya chanyeol.

Hyejin masih dengan keterkejutannya. Entah kenapa bibirnya terasa kelu dan sulit untuk berkata, gadis itu hanya dapat memandang namja di depannya. Berbeda. Ya kembali ini adalah chanyeol yang berbeda dari chanyeol yang baru saja ditemuinya di depan bar. Ini adalah chanyeol yang melindunginya dari sinar matahari dan chanyeol yang menyelamatkannya tempo hari. Ya hyejin kenal dengan mata hangat itu.

Mendapati hyejin yang masih diam tanpa berkata-kata. Chanyeol kemudian memanggil taxi untuknya kemudian menuntun gadis itu masuk di kursi penumpang dan menutupnya. Chanyeol beralih kesamping jendela sang supir lalu memberikan beberapa lembar uang dan meminta agar sang supir mengantarkan gadis tersebut kealamat yang di sebutnya. Chanyeol kemudian kembali beralih kejendela penumpang dan tersenyum lalu berkata
“Ku rasa kau benar-benar takdirku”

.

.

.

Hyejin memasuki kelasnya setelah beberapa saat yang lalu gadis itu tengah berada di ruang guru. Gadis itu terus melangkah melewati mejanya dan berdiri tepat disamping meja chanyeol di mana namja itu tengah menelungkupkan wajahnya di atas meja.

Menyadari seseorang tengah berdiri di sampingnya chanyeol mendongak kemudian menatap gadis itu dengan senyum miringnya.

“Kau di panggil yoo saem” kata hyejin kemudian gadia itu berpaling menuju mejanya.

Chanyeol tersenyum sekilas kemudian bangkit dari duduknya dan berkata.
“Aku tidak mau”

Hyejin menghentikan langkahnya kemudian kembali menoleh dan berbalik menghadap chanyeol.

“Tolong kau katakan kepada yoo saem aku tidak mau” lanjut chanyeol.

Hyejin mendesah pelan “kau katakan saja sendiri kepadanya” kata hyejin setelahnya.

“Bukankah aku telah menyuruhmu” chanyeol kembali berkata kali ini dengan nada tinggi.

Hyejin mulai menahan emosinya “yak, park chanyeol. Kau kira kau siapa ? Menyuruh-nyuruhku ? Apa kau merasa berkuasa ? Kau kira semua orang takut kepadamu ?” Kata hyejin sama dengan nada yang cukup tinggi “Hahh” hyejin tersenyum sesaat “kau ingat aku sama sekali tidak takut kepadamu, kau begitu menyedihkan park chanyeol” lanjut hyejin.

Keduanya menjadi pusat perhatian seisi kelas bahkan tidak sedikit yang merutuki hyejin karena berani melawan dan berkata seperti itu kepada chanyeol.

Chanyeol terdiam, rahangnya mengeras. Namja itu benar-benar tidak suka jika disebut menyedihkan. Chanyeol melangkah cepat menuju kearah hyejin menggenggam lengan hyejin kasar kemudian menarik gadis itu keluar dari kelas.

Hyejin terkejut tubuhnya tehuyung karena kuatnya chanyeol menarik lengannya dan dengan langkah lebar hyejin mengiringi langkah chanyeol yang menarik lengannya. Hyejin berontak berkali-kali dia berusaha melepaskan genggaman chanyeol dilengannya namun sama sekali tidak berhasil.

Kepergian keduanya dari ruang kelas di ikuti oleh banyak mata yang begitu penasaran apa yang akan terjadi setelah ini dan bagaimana nasib hyejin. Saat seluruh isi kelas akan keluar sehun dan baekhyun menghalangi semuanya membuat mereka takut dan kembali ketempat masing-masing dengan berbagai pemikiran.

Chanyeol membawa hyejin ke ruang penyimpanan olahraga menghentakkan genggaman pada lengan gadis itu tepat di sudut ruangan membuat hyejin terhuyung hingga ke sisi dinding.

Mata chanyeol memerah, nafasnya memburu membuat hyejin benar-benar diliputi rasa takut. Chanyeol mendekat kearaj hyejin memerangkap gadis itu diantara dinding dan tubuhnya, kepalanya dia tundukkan kemudian berkata
“Kau bilang aku apa ?” Tanya chanyeol pelan namun penuh emosi.

Hyejin tidak menjawab gadis itu benar-benar takut hingga gemarinya meremas sudut ujung roknya.

“Ku tanya kau bilang aku apa!! ?” Kali ini chanyeol berteriak dan sukses membuat hyejin menundukkan kepalanya takut.

Chanyeol menghembuskan nafas berat kemudian mengangkat dagu hyejin membuat gadis itu mendongak dan menatap namja di depannya yang menurutnya kali ini adalah chanyeol yang tidak di kenalnya.

Chanyeol menatap gadis itu dalam kemudian berkata.
“Bukankah sudah ku bilang kau adalah takdirku” kata chanyeol kemudian dengan suara pelan.

“Hyejin-ah, kau adalah takdirku. Kau milikku” lanjut chanyeol dengan tatapan tajamnya.

Tepat di depan pintu ruangan itu seorang namja mendengar apa yang dikatakan chanyeol kepada hyejin. Namja itu menggenggamkan lengannya kemudian tersenyum sesaat dan berkata.
“Aku akan membalasmu park chanyeol”

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s