DESTINY (Chapter 1) – by bebebaek_

image

By bebebaek_

| Prolog |

Main cast : Park Chan Yeol (EXO), Nam Hye Jin (oc).

Addicional Cast : Oh Se Hun (EXO), Byun Baek Hyun (EXO), Song Ji Han (oc), Kim Jong Dae (EXO), Do Kyung Soo (EXO), Lee Yee Rim (oc).

Genre : romance, school life, drama.

Length : Chaptered | Rating : General.

Hasil khayalan sendiri, don’t plagiat.

Sorry Bertaburan Typo-.-

.

.

.

Hyejin memperhatikan salah satu contoh soal di buku yang terbuka di hadapannya dengan serius. Namun, keseriusan itu hanya mampu bertahan beberapa detik. Detik berikutnya pikirannya kembali melayang kepada kejadian tadi pagi.

“Haisstt!” Hyejin menggeleng keras-keras lalu mencoba kembali memusatkan perhatian pada buku di depannya. Tapi lagi-lagi dia hanya mampu bertahan beberapa detik dan kejadian tadi pagi kembali mengambil alih.

Hyejin menghela nafas berat “Yak, mengapa aku selalu memikirkan hal itu?” Di ketuk-ketuknya dahinya dengan pensil. Kesal hyejin.

Sekali lagi dipaksanya otaknya berkonsentrasi pada buku di depannya. Bukan apa-apa. Tugas dari Yoo saem memang tidak harus di kumpul hari ini tetapi jumlahnya yang begitu banyak membuat hyejin berniat untuk menyicilnya. Ya salahkan Yoo saem yang tidak masuk kelas dan hanya memberi tugas kepada kelasnya.

Berhasil. Ya hampir enam menit hyejin sanggup memusatkan perhatiannya pada deretan angka di depannya tanpa interupsi. Sampai kemudian tanpa dia sadari, satu pikiran kembali menyelinap perlahan dan tercetus keluar dalam bentuk bisikan tanpa hyejin sadari.

“Namja itu benar-benar tampan” sepintas hyejin terbayang kembali namja itu memberikan senyuman hangat kepadanya saat berada di lapangan utama.

Hyejin langsung tercengang setelah sadar akan perkataannya.
“Astaga, mengapa bisa seperti ini ?” Hyejin melepas pensil dari tangannya kemudian menelungkupkan wajahnya diatas meja.

Hyejin memejamkan matanya. Berusaha menenangkan diri dan menghilangkan bayangan namja tadi secepat mungkin. Belum lagi usaha itu membuahkan hasil hyejin kembali mendengar teman-teman yeojanya mengelu-elukan namja itu.

“Chanyeol terlihat begitu sempurna”

“Ya, badannya yang tinggi benar-benar membuatnya terlihat keren”

“Bukankah dia begitu kaku”

“Apa dia sudah memiliki yeojachingu ?”

“Andwee! Ku harap tidak”

“Tapi sepertinya dia seorang siswa yang pembangkang”

“Bukankah itu menambah ke sexyannya”

“Yak! Kau berbicara apa?”

“Ku rasa chanyeol anak orang kaya”

“Ya mungkin saja”

Hyejin hanya mendengarkan setiap perkataan teman-teman di kelasnya tanpa berminat untuk ikut serta. Sampai akhirnya Ji Han sahabatnya yang duduk tepat di samping hyejin berkata.

“Hyejin-ah, apa kau benar-benar tidak mengenal chanyeol?” Tanya Ji Han yang sukses membuat seisi kelas menatap kearah Hyejin.

“Eoh, aku ? Aku benar-benar tidak mengenalnya” jawab Hyejin setelah sadar dari keterkejutannya.

“Tapi dia berdiri tepat dibarisan kelas kita dan dia berdiri di depanmu” Kata salah satu siswa lain.

“Entahlah, aku tidak tahu” jawab hyejin malas.

“Apa jangan-jangan dia namjachingumu ?” Kali ini Yee Rim bersuara dengan nada sinisnya.

“Huh ? Namjachingu ? Tidak. Aku tidak memiliki namjachingu”

Yee Rim tersenyum miring setelah mendengar jawaban dari hyejin.

“Ahhh benar, chanyeol juga melindungimu dari matahari tadi pagi. Aku melihatnya” kata Ji Han lagi.

Suluruh teman-teman kelasnya kembali menatap Hyejin dan Yee Rim kembali menatap hyejin tidak suka.

Merasa diperhatikan seperti itu membuat Hyejin jengah.
“Molla, molla. Aku tidak tahu dan aku juga tidak mengenalnya” kata hyejin kemudian membetulkan posisi duduknya.

Setelah mendengar jawaban dari hyejin seluruh teman-teman dikelasnya tidak lagi bertanya dan kembali sibuk mengelu-elu kan chanyeol.

Tanpa mereka sadari hyerin memalingkan kepalanya pelan menatap kearah deretan kursi belakang ya chanyeol memang duduk di belakang hyejin dengan dua deretan kursi menjadi jaraknya.

Mendapati chanyeol tidak ada di kursinya hyerin sadar pantas saja seisi kelas membecirakan namja itu begitu lantang.

Merasa sekarang masih jam pelajaran Yoo saem, tidak seharusnya chanyeol pergi dari kelas karena itu akhirnya hyejin bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kursi chanyeol. Setibanya di kursi chanyeol, hyejin menatap seseorang dengan kaca mata bulatnya dan rambut kriting dengan belahan ditengahnya. Ya dia adalah teman sebangku chanyeol.

“Jongdae-ya, apa kau tahu chanyeol kemana ?” Tanya hyejin.

“Eoh ?” Jongdae mendongak kemudian membetulkan letak kaca matanya dengan sebelah tangannya “tadi dia keluar bersama baekhyun dan chanyeol” lanjut jongdae pelan.

Hyejin hanya diam setelah mendengar perkataan jongdae memikirkan apakah chanyeol akan berteman dengan sehun dan baekhyun yang terkenal selalu membuat keributan di kelasnya.

“Begitu. Gomawo jongdae-ya” kata hyejin kemudian tersenyum lalu kembali ke kursinya.

Beberapa lama hyejin kembali berusaha fokus dengan bukunya sampai sebuah perkataan dari temannya kembali membuat konsentrasinya hilang.

“Yak, bagaimana jadinya jika chanyeol akan bergabung dengan baekhyun dan sehun ?”

Hyejin hanya diam kembali mendengarkan teman-temanya berbicara.

“Bukankah mereka akan menjadi sekumpulan namja-namja tampan”

“Yak, bukan itu maksudku. Kau ini..” kesal salah satu siswa laki-laki dikelas itu.

.

.

.

Chanyeol terus melangkah menaiki anak-anak tangga menuju atap sekolah dengan langkah panjangnya.

Setibanya di atap sekolah chanyeol berjalan sedikit ketengah, masih dengan kedua tangan di dalam saku celananya chanyeol menghela nafas sejenak kemudian memandang kearah langit.

“Yak, berhenti mengikutiku” kata chanyeol setelahnya.

“Aku tau kalian mengikutiku jadi keluarlah”

Baekhyun dan sehun segera keluar dari tempat persembunyian mereka dibalik tumpukan meja bekas yang berada di samping pintu atap tersebut.

Ya, baekhyun dan sehun memang mengikuti chanyeol sejak namja itu keluar dari kelas. Chanyeol mengetahuinya bahkan sejak awal.

Chanyeol berbalik menghadapkan tubuhnya kepada dua namja yang sejak kedatangannya kesekolah ini berusaha mendekatinya.

“Yak, mengapa kalian mengikutiku ?” Tanya chanyeol dengan suara yang benar-benar tegas.

“Hehehe” baekhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal “tenanglah kami tidak memiliki maksud jahat” lanjut baekhyun.

“Benar, kami hanya ingin mengenalmu lebih dekat” sehun menimpali namun setelahnya mendapat pukulan tepat dikepalanya dari baekhyun.

“Yak, lebih dekat kepalamu. Apa kau tidak sadar perkataanmu barusan benar-benar menjijikkan” kata baekhyun.

Sehun mengerutkan kedua alisnya dan bergumam “memang apa salahnya ?”

“Issshh mengenalmu lebih dekat ? Apa kau kira chanyeol seorang yeoja seperti banyaknya korban-korbanmu”

“Ahhhh” sehun akhirnya mengerti maksud baekhyun dan tersenyum canggung setelahnya.

Melihat keduanya chanyeol hanya diam ditempat menatap tanpa minat.

“Aku tidak ingin berteman dengan kalian” kata chanyeol

“Wae ?” Tanya baekhyun.

“Tidak ada. Hanya aku tidak ingin memiliki teman”

Baekhyun dan sehun ternganga mendengar perkataan chanyeol. Aneh. Benar-benar aneh chanyeol yang adalah seorang siswa pindahan dimana biasanya siswa pindahan akan mencari seorang teman untuk membuatnya betah atau bahkan mempermudahnya bergaul tp tidak dengan chanyeol bahkan ketika baekhyun dan sehun menawarkan untuk berteman dia menolaknya.

“Kau bercanda ? Yak. Kau benar-benar hebat berakting” kata baekhyun setelah beberapa saat sadar dari keterkejutannya.

“Kami tidak akan melakukan hal-hal yang keras kepadamu” kali ini kembali sehun berkata perkataan yang juga terdengar aneh ditelinga baekhyun.

“Aku tidak bercanda. Aku benar-benar tidak ingin memiliki teman” jawab chanyeol kemudian kembali menghela nafas singkat “karena jika kalian berteman denganku, itu akan berdampak buruk bagi kalian” lanjut chanyeol.

Baekhyun tersenyum miring kemudian kembali bekata “kami memang sudah buruk bahkan sejak kau belum menginjakkan kaki di sekolah ini”.

“Terserah. Aku sudah memperingatkan kalian” kata chanyeol ringan kemudian berjalan melewati baekhyun dan sehun meninggalkan atap sekolah.

.

.

.

Chanyeol baru saja tiba di rumahnya yang super mewah, yah bangunan besar dengan tiga lantai memiliki halaman yang begitu luas baik di depan, samping maupun belakang. Garasi yang besar dengan berbagai koleksi mobil mewah. Yah chanyeol benar-benar anak orang kaya.

Setelah keluar dari mobil yang dikendarai oleh supir yang menjemputnya chanyeol langsung masuk ke dalam rumah dan mendapati suasana sunyi seperti biasanya. Yah rumah chanyeol memang benar-benar besar namun begitu sunyi bagi chanyeol hanya banyak para pelayan yang setiap jamnya akan melakukan tugasnya.

Ayah chanyeol ? Ayahnya memang jarang pulang bahkan bisa dibilang tidak pernah pulang. Tuan park akan pulang hanya jika ada sesuatu yang mendesak dalam pekerjaannya. Bahkan chanyeol lupa kapan terakhir kali dia bertemu dengan ayahnya. Pernah tuan park tidak pulang sama sekali selama dua tahun dan pulang setelah chanyeol hampir membunuh seorang anak pejabat.

Yah ayah chanyeol memang seorang pengusaha yang benar-benar sibuk. Banyak perusahan yang bergantung pada perusahaan tuan park.

Baru saja chanyeol akan menginjakkan kakinya di atas tangga menuju kamarnya. Langkah chanyeol berhenti setelah sebuah suara memanggilnya.

“Tuan muda, anda sudah pulang ?”

Chanyeol berbalik menghadap kesumber suara dan berkata “Ne, bibi”

“Tuan muda mau makan apa ? Biar bibi buatkan”

“Tidak bi, aku sudah makan. Aku hanya ingin ke kamar dan tidur” jawab chanyeol sopan. Lalu membungkuk dan kembali berbalik menuju kamarnya.

Bibi shin adalah salah satu pelayan di kediaman tuan park. Bibi shin lah yang mengasuh dan menyayangi chanyeol sejak kecil setelah perstiwa pahit itu menimpanya.

Sekeras dan sekasar apapun chanyeol kepada orang-orang chanyeol tidak pernah seperti itu jika berhadapan dengan bibi shin. Bagi chanyeol bibi shin adalah orang tuanya, orang yang begitu di sayanginya dan bibi shinlah harta satu-satunya bagi chanyeol.

Di dalam kamarnya yang sengaja di biarkan hening, tanpa alunan musik seperti biasanya chanyeol membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur dan menatap lurus langit-langit kamarnya.

Chanyeol kembali teringat kejadian pagi tadi saat dia asal masuk barisan dan entah mengapa melakukan tindakan yang tidak biasanya dia lakukan. Yah melindungi gadis itu dari sinar matahari yang begitu menyengat.

Chanyeol juga kembali teringat saat Yoo saem memanggil nama gadis itu. Nama yang sudah lama berusaha dia lupakan.

“Hyejin” gumam chanyeol pelan.

Masih dengan efek yang sama seperti beberapa tahun yang lalu. Sesuatu seperti menghantam dadanya kuat-kuat dan membuatnya sesak nafas.

Chanyeol kembali mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, kejadian yang benar-benar mengguncang jiwanya. Membuat mata chanyeol memerah dan kedua tangannya mengepal sempurna. Emosi chanyeol benar-benar berada di tingkat paling atas batasnya sekarang.

Chanyeol tiba-tiba bangkit dari posisi tidurnya dan berjalan gontai menuju sebuah pintu tersembunyi dibalik lemari pakaiannya. Pintu itu menyalurkan jalan masuk dengan ruang sebelah yang terlihat hanya seperti tembok jika dilihat dari luar.

Chanyeol mendekati pintu dengan gembok yang mengunci ruangan itu. Saat ini chanyeol benar-benar ingin ke tempat yang selalu ditujunya setiap kali dia merasa kacau. Satu tempat yang membuatnya bisa melepaskan semua emosi yang menyesakkan dadanya, yang bisa membuatnya menanggalkan topeng yang selama ini dia kenakan. Satu-satunya tempat yang masih tersisa dari banyak tempat yang telah menghilang dalam kenangannya.

Perlahan chanyeol memegang gembok yang mengunci pintu ruangan itu dan membukanya. Chanyeol masuk kedalam ruangan tersebut dengan langkah gontainya kembali mengingat pecahan-pecahan kenangan yang dia simpan di ruangan tersebut.

.

.

.

Chanyeol berjalan dengan santai di    koridor utama melawati banyaknya para siswa yang memandang takjub pada ketampanannya. Chanyeol terus berjalan tanpa memperdulikan sekelilingnya hingga tiba-tiba sebuah suara nyarik tertangkap indera pendengarannya.

“Hyejin-ah” panggil Ji han kepada hyejin yang ternyata berjalan tidak jauh di depan chanyeol.

Hyejin berpaling dan tersenyum kearah ji han. Ji han lantas berlari menghampiri hyejin dan melewati chanyeol yang kini berdiri membatu ditempat.

Chanyeol terkesiap. Tubuhnya terhuyung. Cepat-cepat chanyeol menepi dan bersandar pada dinding bangunan. Kekagetan itu tidak bisa disembunyikannya. Chanyeol benar-benar membatu, dia masih belum terbiasa mendengar nama itu dan efeknya benar-benar kuat di dalam dirinya.

Chanyeol berbalik badan dan jalan menuju keluar sekolah. Namja itu melangkah menuju gerbang dan berlari keluar dengan wajah pucat dan langkah yang gamang. Tatapannya lurus ke depan, tetapi semua orang yang berpapasan dengannya dapat melihat fokus chanyeol tidaklah disana. Bahkan namja itu seperti tidak mendengar saat penjaga sekolah berteriak kepadanya ketika chanyeol melewati gerbang sekolah dan berlari melewatinya.

.

.

.

Hyejin pulang dengan menaiki bus menuju arah rumahnya, yah dia memang pulang agak terlambat hari ini karena harus mengembalikan beberapa buku yang dipinjamnya ke perpustakaan.

Hyejin turun dari bus kemudian mengambil langkah menuju rumahnya, rumah hyejin memang memiliki jarak yang lumayan jauh dari terminal bus tempat dia turun.

Hyejin terus berjalan melewati ramainya lingkungan sekitarnya. Banyak tenda-tenda makanan yang berdiri di malam hari.

Hyejin berjalan dengan memandang ujung kakinya entah mengapa hari ini untuk kesekian kalinya bayangan chanyeol selalu mengisi kepalanya.

“Kemana dia hari ini ? Mengapa tidak masuk sekolah” gumam hyejin.

Hyejin masih dengan pemikirannya mengenai chanyeol yang benar-benar berani tidak masuk sekolah di hari keduanya.

Hyejin terus melangkah dengan pandangan menunduk, sampai di sebuah penyeberangan jalan hyejin tetap melangkah tanpa melihat rambu-rambu.

Beberapa meter dibelakang hyejin, seorang namja tengah memperhatikannya. Namja itu terus mengikuti langkah hyejin di depannya sampai saat hyejin terus melangkah di penyeberangan jalan walaupun lampu telah berwarna kuning. Dan dari arah berlawanan sebuah mobil besar tengah melaju dengan kencangnya.

Chanyeol terbelalak dengan cepat namja itu berlari kearah hyejin menggapai lengan gadis itu dan menariknya kembali ke pinggir  jalan.

Hyejin terkejut. Dan lebih terkejut lagi saat gadis itu mendongak dan mendapati wajah chanyeol yang kini menatapnya khawatir dan jangan lupakan posisu hyejin sekarang yang mendekap dalam pelukan namja itu.

Chanyeol mendorong bahu hyejin keras hingga membuat jarak diantara keduanya.

“Yak, dasar bodoh ?”

“Apa kau ingin mati ?”

“Kau punya mata tidak ?”

Sederet kata-kata kasar keluar dari mulut chanyeol dengan ekspresi yang hyejin simpulkan sebagai ekspresi kekhawatiran.

Hyejin tidak bisa menjawab setiap perkataan chanyeol. Gadis itu masih terlalu schok, bukan karena dirinya hampir saja menjadi korban tabrakan tetapi karena kini chanyeol berada tepat di depannya.

Hyejin tersadar lantas hanya mampu besuara “mianhae” dengan wajah menunduk.

Chanyeol mendengus kasar kemudian berbalik dan meninggalkan hyejin di tempat.

Hyejin kembali mendongak dan mendapati punggung chanyeol yang telah menjauhinya. Hyejin kembali memberanikan diri untuk bersuara.

“Chanyeol-ah” panggil hyejin namun namja itu seperti tidak mendengar atau sengaja menulikan telinganya sama sekali tidak memalingkan tubuhnya.

“Gomawo” teriak hyejin meskipun kembali tidak mendapat respon dari chanyeol.

.

.

.

Setelah istirahat makan siang hyejin kembali menuju kelas setelah beberapa saat yang lalu hyejin kembali dari ruang guru untuk meletakkan beberapa alat peraga.

Hyejin tiba dilorong kelasnya dan mendekat menuju pintu kelasnya. Baru saja hyejin membuka pintu kelasnya suasana ramai telah menyambutnya.

Hyejin bingung dengan apa yang terjadi lantas gadis itu berjalan mendekat dan melewati beberapa siswa lainnya yang bergerumbul.
Setelah tepat di depan hyejin benar-benar terkejut, matanya membulat sempurna. Yah bagaimana tidak sekarang dihadapannya chanyeol sedang memukuli teman sebangkunya dengan membabi buta. Terlihat darah segar mengalir di ujung bibir dan hidung jongdae, dan beberapa lebam disana-sani karena pukulan dari chanyeol.

Hyejin tidak tahan. Sebagai ketua kelas dia harus melerai perkelahian ini. Hanya saja tidak mungkin dia akan berjalan kesana dan ikut memukul chanyeoal. Bukankah sudah pasti kekuatan namja itu lebih besar dari dirinya. Akhirnya hyejin mengambir nafas dalam dan berteriak.

“Berhenti!”

Chanyeol berhenti dengan genggaman diudara, menatap ke arah sumber suara kemudian setelah mengetahui siapa yang telah menginterupsi kegiatannya chanyeol menghenyakkan tubuh jongdae hingga namja itu terlempar kelantai.

Chanyeol membenarkan bajunya dengan sekali hentakan kasar, berjalan menuju hyejin berdiri.

Seluruh isi kelas hening, takjub dengan apa yang terjadi dan sibuk meramalkan setelah ini akan seperti apa.

Hyejin berdiri membatu di posisinya kedua tangannya mengepal erat mendapati chanyeol melangkah kearahnya dengan tatapan tajam yang baru kali ini hyejin lihat.

Chanyeol berdiri tepat di depan hyejin, menatap gadis itu tajam cukup lama kemudian berlalu dengan menabrak kasar bahu hyejin dan membelah keramaian.

Setelah chanyeol meninggalkan ruang kelas hyejin masih membatu ditempat, cukup lama setelah kemudian gadis itu menghela nafasnya panjang. Hyejin benar-benar merasa sosok chanyeol yang baru saja meninggalkan kelas bukanlah sosok chanyeol yang beberapa kali dia lihat. Chanyeol yang hari ini dia lihat benar-benar kasar, gelap dan jujur membuat hyejin takut saat melihat chanyeol menatap kearahnya.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s