mischievous glance

1405139165944

By bebebaek_

Main cast : Lim Shasa (oc), Park Chan Yeol (EXO)

Addicional Cast : Park Ae Yeon (oc), Song Na Mi (oc),

Nam Woo Hyun (Infinite), Byun Baekhyun (EXO).

Genre : comedy, campus life,

Length 😐 Oneshoot| Rating : PG 16

Hasil khayalan sendiri, don’t plagiat.

Sorry Bertaburan Typo-.-

.

.

.

“Shasa-ya, palli wasseo.. makan siang sudah siap” panggil seorang ahjumma. “Shasa !!, yak !! kau tidak sedang tidurkan ?” teriak ahjumma tersebut karena tidak mendapat respon dari seseorang yang dipanggil.

“Ishhh, anak itu benar-benar. Apa Cuma tidur saja yang bisa dia lakukan” gumam ahjumma itu sambil berjalan naik kelantai atas kamar gadis yang sejak tadi dipanggilnya.

Setibanya di depan kamar gadis tersebut, ahjumma segera menggedor-gedor pintu kamar. Masih tidak mendapat respon ahjumma memutar kenop pintu kamar tersebut dan yah kamar tersebut tidak dikunci oleh pemiliknya yang memang menjadi kebiasaanya.

Ahjumma masuk kedalam kamar dan mendapati gadis tersebut masih bergemul didalam selimut tebal berwarna soft pink itu, dengan perlahan ahjumma mendekati tempat tidur sang gadis dan mendudukkan diri disamping kanan tepi tempat tidur itu.

“Yak !! shasa-ya iroena.” ahjumma masih berusaha membangunkan dengan menepuk pundak gadis tersebut. Dan yang dibangukan hanya menggeliat dibalik selimut tebalnya.

“Yakk !! Lim shasa, apa kau tuli ? ini bahkan masih terlalu pagi untuk tidur siang” ahjumma meninggikan suaranya karena sudah terlanjur kesal.

“Eomma…. Tidak bisa kah kau hanya membiarkan ku saja” gadis tadi akhirnya memberi respond dan bangun dari posisi tidurnya dengan gusar.

“Gereuh, eomma mu ini memang tidak bisa membiarkanmu tidur dengan tenang bahkan hidup dengan damai pun tidak bisa, eomma akan selalu mengganggumu” jawab eomma shasa. “Shasa –ya apa kau tidak punya kegiatan lain selain tidur ?” eomma shasa kembali bertanya.

“eopseso..” jawab shasa lemah.

“Gereuh, gereuh kau bahkan tidak punya namjachingu” gumam eomma shasa sambil berlalu menuju pintu kamar shasa.

“Yak eommaaa !!” teriak shasa karena kembali di sindir tentang statusnya.

“Makan siang sudah siap dibawah, kau makan sendiri ne, eomma sudah telat kebutik” kembali eomma shasa bersuara sesaat sebelum berlalu dari pintu kamar.

“jangan salahkan eomma, salah kau sendiri mengapa tidur dan lagi berhenti memasang muka jelek diwajahmu…” seolah tahu yang dilakukan shasa, eomma shasa berkata dari lantai bawah sebelum berangkat kebutik milik nyonya Lim itu sendiri.

.

.

.

Lim shasa memang anak terakhir dari pasangan nyonya dan tuan lim, shasa memiliki seorang oppa yang bekerja diluar kota. Ayah shasa memiliki sebuah toko yang menjual ikan segar dipasar Noryangjin yang terkenal dengan ikan segarnya. Eomma shasa ?, ya seperti yang kita ketahui eomma shasa menjalankan usaha butik di daerah Myeongdong. Ini memang masa libur musim panas. Shasa tidak memiliki kegiatan lain selain tidur sesekali membantu ayahnya di toko dan sesekali mengantar barang eommanya yang tertinggal di rumah kebutik.

Teman ? bukannya shasa tidak memiliki teman, hanya saja saat ini dua sahabatnya tidak berlibur dirumah saja, ya seperti dirinya. Shasa iri bahkan sangat dengan kedua sahabatnya yang bisa berlibur keluar kota bahkan luar negeri.

.

.

.

Makan malam keluarga lim sama dengan keluarga lainnya, selesai makan eomma shasa membuka suara ”Bukankah ini tanggal 21, berarti libur musim panas mu telah berakhir”.

“Benarkah ?” jawab shasa enteng setelah meminum segelas susu dan meletakkannya kembali ke meja.

“Yak, lim shasa bahkan tanggal berapa hari inipun kau tidak tahu ?” kembali eomma shasa bersuara

“Eoh aku tidak melihatnya” . Jawab shasa sembari menggeser layar handphonenya. “Oohh benar eomma… ottokke aku belum menyiapkan baju besok buku tugas, astaga tugasku bahkan blm ku kerjakan.” Lanjut shasa dengan wajah panic setelah memastikan apa yang dikatakan eommanya benar.

“Yak. yak neo jinja… apasaja sebenarnya yang kau lakukan”. Kata eomma shasa kesal

“Tidur eomma.” Kembali shasa menjawab dengan enteng yang membuat eommanya semakin kesal.

“Yak!, lim shasa…” eomma shasa geram

“Sudahlah yeobo..” tuan lim menengahi.

“Kau tidak ada bedanya degan bocah shasa-ya.. neo sini kau sini…” kata nyonya lim berdiri menuju tempat shasa duduk.

“Yeobo… “ tuan lim kembali menahan nyonya lin dengan memegang tangan istrinya. “shasa-ya kau naiklah dan siapkan segalanya buat besok” lanjut tuan lim.

“eoh ne appa gomawo” kata shasa dengan tersenyum kearah tuan lim lalu beranjak naik kemarnya tetapi sebelum itu shasa melirik kearah eommanya dan berkata “eomma saranghe”.

“Lim shasa……” pekik nyonya lim.

.

.

.

Pagi ini kamar shasa bisa dibilang sama seperti kapal pecah, ah ani bisa dibilang lebih atau hampir seperti kereta api terputus. Yah pagi ini shasa rusuh karena seperti biasa dia bangun kesiangan. Jangan tanyakan ini kebiasaan atau tidak karena memang pasti jawabannya iya di tambah semalaman dia mengerjakan semua tugas yang selalu ditunda – tundanya selama liburan ini, menyetrika pakaian oh tentu itu juga dikerjakan tadi malam. Dan pagi ini shasa rusuh dan membuat kamarnya sangat sangat sangat berantakan hanya karena mencari pasangan kaos kakinya yang entah dimana dia meletakkannya.

Setelah memakai sepatunya dengan tergesa-gesa shasa menuruni anak tangga yang membuat hentakan kakinya begitu keras dan jelas terdengar menuju meja makan. Shasa menghampiri eommanya yang sedang memasak dan mencomot roti isi bakar diatas meja lalu mencium pipi eommanya, setelah itu shasa berlalu menuju appanya yang duduk dikursi meja makan dengan secangkir teh dan Koran pastinya, shasa hanya mengangkat satu tangannya keatas kening seperti tanda hormat lalu berlalu dan berucap aku pergi setelah didepan pintu.

***

Shasa akhirnya tiba didepan gedung Universitasnya, yah Sogang University. Universitas yang berdiri di pusat kota Seoul, tepatnya di wilayah Mapo-gu. Shasa mengambil jurusan managemen bisnis sama dengan ketiga sahabatnya. Yah mereka memang baru berteman setelah sama-sama bertemu diawal kuliah, berasal dari sekolah yang berbeda-beda saat SHS tidak membuat persahabatan mereka terkendala bahkan saat ini mereka seperti sudah bersahabat puluhan tahun lamanya, saling bertingkah konyol, berbagi cerita, bahkan cerita tentang namja yang disukai semuanya mereka bagi baik itu suka maupun duka.

“Heyy” kata salah satu yeoja yang duduk dikursi pojok tengah kelas sambil melambai-lambaikan tangannya.

Shasa yang melihatnya dari depan pintu langsung tersenyum manis dan membalas lambaian yeoja tersebut lantas berjalan menuju yeoja tersebut dan duduk disamping yeoja satunya.

“Euhhhhh, bogoshiphoyeo……..” kata yeoja yang duduk disamping shasa dan memeluk shasa.

“Eohh nado” jawab shasa dengan ikut memeluk yeoja itu juga.

“Mana oleh-oleh untukku ae yeon-ah ?” kata shasa dengan menengadahkan tangan kanannya setelah yeoja yang bernama ae yeon tadi melepas pelukannya.

Ae yeon hanya tersenyum melihat kelakuan sahabatnya satu ini, lalu mencari sesuatu di dalam tasnya. “ ini…” kata ae yeon setelahnya menyerahkan gantungan kunci berbentuk patung liberty ketangan shasa.

“Hanya ini ?” kata shasa tercengang meliat benda ditangannya.

“Eoh, memangnya kau mau apa lagi ? lagi pula itukan lambang amerika eoh” kata ae yeon membela diri.

“yak, ae yeon-ah kau jauh-jauh liburan ke amerika dan hanya membeli ini ? ckckc kau benar-benar” kata shasa lagi. “kau Na mi-ya, apa kau juga diberinya gantungan ini ?” lanjut shasa bertanya pada yeoja yang melambaikan tangan padanya tadi.

“eoh” kata Na mi dan tersenyum setelahnya.

“Ah iya, Na mi-ya kau juga mana oleh-olehmu untukku ? jangan bilang gantungan kunci juga” kata shasa dengan wajah dikesal-kesalkan.

“eummm, nenekku hanya memberi ini untuk dibawa pulang, jadi ini oleh-oleh untuk kalian” kata Na mi dengan senyuman polosnya.

Shasa dan Ae yeon hanya menatap bungkusan ditangan Na mi dengan wajah tanpa ekspresi dan mulut menganga. Bukan apa-apa, mereka hanya kelewat heran bagaimana bisa sebungkus cumi kering bisa menjadi oleh-oleh untuk mereka. cumi kering bisa dengan mudah ditemukan di market-market, bahkan dipasar.

“Hahahahhahaha….” Setelah hening sesaat ae yeon akhirnya membobol keheningan dengan ledakan tawanya. “yak, ini baru seperti kita, hahaha”.

“hmmm, iya siapa lagi yang akan memberiku oleh-oleh seperti ini jika bukan kalian, hahaha” shasa menimpali dan ikut tertawa.

Berbeda dari kedua sahabatnya Na mi hanya tersenyum canggung, dan meliat itu ae yeon kembali bersuara.

“yak, Na mi-ya gwenchana.. kau tak perlu merasa tidak enak”

“Eo, Na-mi-ya ae yeon benar, sini cumi keringnya biar ku makan kebetulan tadi pagi aku hanya sarapan roti” kata shasa membenarkan dan mengambil bungkusan cumi kering dari tangan Na mi lalu membukanya.

“Jadi bagaimana liburanmu shasa-ya?” Tanya ae yeon sambil mengambil cumi kering dari tangan shasa.

“Liburan ku ?” shasa balik bertanya dengan menunjukkan jari telunjuknya kearah dirinya sendiri. “jangan kalian tanyakan..” lanjut shasa setelahnya dengan wajah malas.

“Wae ?, memangnya ada apa ?” Tanya Na mi kali ini.

“Tidak ada apa-apa, aku hanya tidur, tidur dan tidur” jawab shasa setelahnya.

“Kau tidak mengikutinya ?” lagi ae yeon bertanya.

“Huffh mengikutinya kemana ? dia juga keluar kota selama liburan” jawab shasa lesu.

“Eoh benarkah ? kemana ? jangan-jangan menemui pacarnya” lanjut Na mi yang sukses membuat wajah shasa berubah kesal.

“Yak, Na mi-ya, kau benar-benar tidak bisa menyenangkan hatiku ?, tidak tentu saja tidak chanyeol dan appanya hanya pergi ke kampung halaman kakeknya” kata shasa yakin.

“Daebak, kau tau ? darimana eoh ? darimana kau tau chanyeol pergi ke kampung halaman kakeknya?” Tanya ae yeon antusias.

“Aku, aku tau dari akun instagramnya” jawab shasa.

“Heol, ku kira chanyeol yang memberitahukan kepadamu” kata ae yeon sedikit kecewa.

“Memberitahu kepada shasa langsung ? kau bercanda. Kau tau sendiri selama ini dia tidak penah memberi shasa respon, bahkan saat berpapasan, bertemu dihalte, shasa menemukan bukunya yang jatuh dan mengembalikannya kepadanya saja, dia tidak memberi sepatah katapun bahkan ucapan terima kasih saja tidak” Kali ini Na mi berkata panjang lebar.

“Dan orang yang selalu mengabaikanmu itulah yang mati-matian kau kejar” lanjut Na-mi dengan wajah datar.

“karena chanyeol begitu tampan, dan pintar” kata shasa dengan kedua tangan ditangkupkan dan mata yang berbinar saat membayangkan namja yang sedang mereka bicarakan.

Chanyeol, yah namja dengan marga park itu memang namja yang selama dua setengah tahun ini mati-matian dikejar shasa. Ahhh tidak mati-matian hanya menganguminya dari kejauhan. kemanapun chanyeol pergi bisa dipastikan ditempat itu shasa ada. Shasa begitu menyukai chanyeol yang merupakan mahasiswa andalan di jurusannya tidak hanya berwajah rupawan, tubuh tinggi dan otak yang berlian membuat chanyeol benar-benar menjadi sosok namja yang sempurna dan dielu-elukan semua gadis di universitasnya.

.

.

.

Shasa, ae yeon dan na mi sedang asik bercengkarama bercerita ini itu pengalaman yang mereka dapatkan selama liburan, shasa yang hanya mengisi liburannya dengan tidur kebanyakan hanya mendengarkan dan ikut tertawa jika mendengar cerita lucu dari kedua sahabatnya. Saat Ae yeon sedang asik bercerita tiba-tiba Na-mi menyenggol tangan shasa dan berkata.

“Yak, yak pangeranmu sudah datang..”

“Hmmmm, dia semakin tampan, akhhh akhirnya hari-hariku kembali berwarna” kata shasa sambil memandangi chanyeol yang berlalu didepannya menuju kursi didepan lalu duduk dan membuka buku.

Tidak lama setelah chanyeol duduk dikursinya, sesosok namja masuk dari pintu utara dan menghampiri chanyeol. Lama mereka bercengkrama, sesekali mereka berdua tertawa, yah chanyeol tertawa dan itu semakin membuat dia tampan, shasa semakin betah, semakin tidak bisa memalingkan matanya dari chanyeol.

Shasa masih setia memendang pahatan indah tuhan dengan iris hitamnya, saat masih fokus memandangi wajah chanyeol tanpa shasa sadari namja lawan bicara chanyeol tadi mengarahkan pandangannya kepada shasa, lama shasa tidak menyadarinya sampai akhirnya namja itu bersuara.

“Hai, penguntit..”

Shasa yang sadar dengan sapaan itu lantas merubah arah pandangannya ke namja didepan chanyeol dengan wajah kesal dan bergumam.

“ckckc, si mulut lemes itu”

“Yak, penguntit. Selama liburan kau kemana saja ?” namja itu berjalan kearah shasa dan kembali bersuara. “Bukan kah chanyeol pergi ke luar kota, apa kau juga mengikutinya ?” lanjut namja itu dan bersandar disamping meja shasa.

“Yak, Baekhyun jaga ucapanmu. Kau kira shasa tidak punya kegiatan lain?” bukannya shasa yang menjawab ae yeon terlebih dulu membuka suara tidak suka dengan pertanyaan namja yang bernama baekhyun tadi.

Baekhyun yah namja kecil dengan mulut yang pedas, hobby menggunakan eyeliner ini memang teman, ani sahabat chanyeol. Yah mereka selalu bersama kemana-mana, sama-sama menjadi namja yang banyak digandrungi gadis-gadis. Baekhyun juga terkenal dengan keusilan dan sifat tidak bisa diamnya, mengetahui shasa yang suka mengikuti chanyeol kemanapun dan jelas mengetahui jika shasa menyukai sahabatnya membuat sifat usil baekhyun tersalurkan, tidak jarang shasa menjadi korban keusilan baekhyun seperti saat ini baekhyun dengan senyuman liciknya menggoda shasa.

“Apa aku salah ? bukankah shasa memang tidak punya kegiatan lain selain menguntit chanyeol”

“Lalu apa urusanmu ? kau keberatan ? chanyeol saja hanya diam kenapa kau banyak omong sekali ?” kali ini Na mi yang bersuara.

“Keberatan ? tidak. Hanya saja aku heran sahabat kalian ini sangat gigih dan pantang menyerah sekali.” Kata baek menggoda dengan meletakkan sebelah tangannya dipundak shasa.

“kenapa ? kau iri atau kau cemburu karena tidak ada yeoja yang mengejarmu seperti shasa ?” sambar ae yeon.

“cemburu ?” Tanya baekhyun dengan senyum meremehkan “yak, sahabatmu ini saja tidak mendapat respon sama sekali dari chanyeol. Dan aku sama sekali tidak ingin di ikuti oleh seorang yeoja penguntit seperti dia”.

“kau….” Pekik ae yeon.

“Sudahlah !” akhirnya shasa bersuara karena sudah terlalu muak mendengar perdebatan baekhyun dan dua sahabatnya. “aku tidak mengikuti chanyeol selama liburan, kau puas ?” lanjut shasa.

“Aigoo, kau marah..” Baekhyun kembali menepuk pundak shasa. “puas ? aniyo tapi aku kecewa ternyata kau tidak segigih yang ku bayangkan” lanjut baekhyun dengan wajah sedih yang dibuat-buat.

Dari tempatnya duduk chanyeol terus memperhatikan mereka berempat, sesekali bibirnya membentuk sudut menyajikan senyuman tipis dibibir indahnya. Tapi kali ini tepat disaat baekhyun akan bersuara kembali chanyeol akhirnya berdiri dan mendekat kearah mereka, merangkul bahu baekhyun dan bersuara “ayo kita pergi keperpustakaan.”

Ae yeon dan Na mi menatap kepergian dua namja itu, memandangi punggung mereka yang semakin menjauh dengan wajah bingung.

“Yak, dia sama sekali tidak memberi respon ?” kata Na mi.

“Eoh, sebenarnya dia namja apa ?” sahut ae yeon bingung.

Setelah sebelumnya bengong shasa akhirnya bersuara “Euhhhh, chanyeol menyelamatkanku lagi. Dia menyelamatkan ku lagi dari rentetan pertanyaan konyol baekhyun”.

“Yak ! lim shasa bagaimana kau bisa menyimpulkan seperti itu”

Shasa tidak menjawab sibuk membayangkan kembali tindakan chanyeol barusan yang dianggapnya menyelamatkan dirinya.

.

.

.

Beberapa minggu lagi shasa akan melakukan praktek lapangan, beruntung praktek kali ini professor membagi mereka dalam beberapa kelompok dan sepertinya keberuntungan sedang berada ditelapak tangan shasa karena chanyeol sang pangeran impiannya berada disatu kelompok dengannya, tapi seolah tidak ada kebahagian yang tidak melalui rintangan, baekhyun yah si mulut cabai itu bergabung dalam kelompok berasama Na mi.

Sebelum kegiatan praktikum dilakukan kelompok shasa yang diketuai oleh chanyeol melakukan observasi, tepat disalah satu perusahaan ternama di kota seoul mereka berkumpul di depan gedung perusahaan, setelah berkumpul mereka masuk dan melakukan observasi ke berbagai aspek yang menjadi target mereka.

Setelah selesai dan berpamitan dengan ketua divisi, mereka berjalan keluar gedung. Saat didepan gedung mereka berhenti.

“Chanyeol ah, aku pulang duluan ne ? aku masih ada urusan” kata baekhyun segera setelah mereka keluar gedung.

“Eoh, baiklah”

“Okay, na kanda. “ baekhyun menepuk pundak chanyeol dan kembali membuka suara. “aku duluan penguntit” sembari tersenyum miring.

Shasa hanya bisa mencibir dan memutar matanya jengah, sampai ae Na mi mengamit lengannya dengan dan bersuara.

“Shasa-ya, aku tidak bisa pulang denganmu, woohyun akan menjemputku, mian”

“Eoh, begitu ? gwenchana. Aku bisa pulang sendiri”

“Mian shasa-ya”

“Gwenchana, eoh itu woohyun sudah tiba cepat kau susul dia” shasa berujar setelah melihat motor woohyun telah tiba.

“Eoh, aku duluan shasa-ya, by” Nami melaimbaikan tangannya.

Shasa ikut melambai kearah Na mi, setelah melihat sahabatnya meluncur dengan kendaraan yang dikendarai woohyun yah namjachingu Na mi yang berkuliah di universitas sama dengan mereka namun berbeda jurusan. Melihat kendaraan yang dikendarai woohyun telah hilang dari pandangannya shasa menoleh kearah kiri, shasa terkejut mendapati chanyeol masih berdiri ditempatnya.

Lama hening diantara mereka sampai akhirnya chanyeol bertanya “Kau tidak pulang ?”

“Eoh ?” jawab shasa bingung dan jujur kaget karena untuk pertama kalinya chanyeol berbicara dengannya.

“Kau tau arah pulang ?”

“Ne ?”

“Aku Tanya kau tidak pulang ?”

“A-aku akan pulang” jawab shasa gugup

“Kau tau arah pulang ?” chanyeol kembali mengulang pertanyaannya

“eoh” shasa melihat kesekelilingnya dan kembali bersuara “sejujurnya a-aku ti-tidak tahu ?” lanjut shasa tangan kanannya menggaruk leher karena malu.

“Apa kau tau halte bis terdekat ?” lanjut shasa lagi

“Baiklah, aku akan mengantarkan kau kehalte terdekat” Chanyeol bersuara dan setelahnya berjalan meninggalkan shasa.

“Ne ?”

Merasa shasa tidak juga bergerak dari posisinya chanyeol berhenti dan menoleh ke belakang lantas berujar “Ayoo ikuti aku ?” .

“Eoh, ne” shasa mengekori chanyeol dari belakang

Sepanjang jalan menuju bis shasa hanya mengekori langkah chanyeoal. Baik chanyeol maupun shasa tidak ada satupun diantara mereka yang bersuara. Setibanya di halte bis terdekat chanyeol berhenti dan membuka suara memecah kehinangan diantara mereka.

“Aku akan menunggu denganmu sampai bis kearah rumahmu datang ?”

Shasa hanya menatap chanyeol dengan tatapan tidak percaya, shasa tidak mampu membalas perkataan chanyeol dan akhirnya dia hanya menganggukan kepalanya.

Chanyeol yang melihat tingakah laku gadis didepannya itu yang hanya menundukkan kepalanya memandangi ujung kaki dan sesekali menendangkan kakinya ketumpukan pasir didepannya, menaikkan sudut bibirnya dan tersenyum tipis.

Hening kembali menyelimuti mereka, keduanya sama-sama diam tidak ada yang berani memulai pembicaraan. Hanya sesekali mereka saling melirik dan tersenyum setelahnya. Chanyeol merasa ada sesuatu didalam dirinya yang meronta-ronta perasaan seperti seseuatu akan meledak yah meledak seperti bom, chanyeol tidak tahu perasaan apa itu dan untungnya dia dapat mengendalikannya dengan sesekali menarik nafas dalam. Shasa ? jangan Tanya bangaimana perasaannya sekarang. Senang ? tentu saja ani dia bahagia, sesekali mencuri pandang chanyeol dengan sudut matanya mendapati chanyeol disampingnya membuat senyum dibibirnya tidak bisa untuk tidak terukir, mengingat kejadian beberapa menit lalu dimana utuk pertama kalinya chanyeol mengajaknya bicara membuat pipi shasa memerah. Sampai akhirnya sebuah bis berhenti dan shasa berujar.

“eoh, ini bis kea rah rumahku”

“Benarkah ? naiklah”

“Ne, kalau begitu aku duluan”

“Baiklah”

Shasa berbalik lalu masuk ke dalam, tepat dipintu bis shasa kembali berbalik dan memanggil chanyeol “Chanyeol-ah, gomawo” dengan senyuman tersipu

Chanyeol hanya membalas ucapan shasa dengan tersenyum lantas bis melaju memecah jalan kota seoul.

.

.

.

Weekend ini shasa kembali melewatinya sendiri tidak ada jalan-jalan bersama kedua sahabatnya karena mereka memiliki acara masing-masing, Na mi yah tentu saja dia akan berkencan dengan woohyun. Ae yeon ? jangan tanyakan karena setiap harinya dia memang selalu memiliki acara sendiri.

Shasa tengah berjalan dengan membawa tas gentong yang cukup besar, yah seperti biasanya shasa mengantarkan barang eommanya yang baru saja tiba dirumah. Shasa telah tiba di butik eommanya dan shasa sama sekali tidak bertemu dengan eommanya karena sedang sibuk dengan klien, akhirnya shasa menitipkan barang tersebut kepada pegawai butik eommanya.

Setelah selesai mengantarkan barang tersebut shasa keluar dari butik dan berjalan menuju arah pulang, saat shasa melewati penyeberangan jalan didepan sebuah market shasa meliahat seorang namja baru saja keluar dari market tersebut, dengan membawa satu kantong plastik besar. Bisa shasa kenali dengan sekali pandang namja tersebut adalah park chenyeol yah pangeran impiannya tanpa pikir panjang shasa langsung mengikuti chanyeol dari belakang.

Chanyeol yang baru berjalan beberapa meter dari market merasa ada seseorang yang mengikutinya lantas namja tersebut berhenti berjalan yang membuat shasa beberapa langkah dibelakangnya terkejut dan menghindar dengan berlindung dibalik papan iklan dipinggir jalan. Chanyeol meneloh kearah belakang dan tidak menemukan seseorang atau apapun yang mencurigakan lantas chanyeol kembali berjalan. Beberapa langkah chanyeol berjalan, chanyeol kembali merasakan seseorang mengikutinya hanya saja kali ini chanyeol tetap berjalan dan meliat kearah belakang dengan ekor matanya. Benar saja seseorang memang mengikutinya, seorang yeoja yang selama ini memang selalu ada disekitarnya.

“Dengan gaya seperti itu mana ada orang yang tidak sadar kalau kau sedang mengikutiku ?” gumam chanyeol dengan sudut bibir terangkat.

Chanyeol melangkah cepat mengambil jalan panjang dan sepi, berbelok ke kanan dan kembali berbelok ke kiri, sengaja chanyeol entahlah tiba-tiba chanyeol memiliki sebuah ide di kepalanya. Setelah merasa cukup jauh lantas chanyeol berhenti diujung jalan buntu dan dengan cepat berbalik. Shasa yang tidak menyadari gerak cepat chanyeol terpaku dibelakang chanyeol dan hanya bisa menatap chanyeol dengan wajah khas orang yang tertangkap basah.

“Kau mengikutiku ?” kata chanyeol setelah berbalik kebelakang.

“A-ani, aku hanya.. eumm mengantarkan barang eommaku” jawab shasa gugup.

“Lantas kenapa kau disini sekarang ?”

“igo…… A-aku akan pulang” jawab shasa dengan menarik dan menggenggam tali tas selempangnya erat dan kepala yang tertunduk.

Meliahat itu chanyeol tersenyum dan kembali betanya “Kau tau arah pulang ?”

“Ne ?”

“Ku rasa kau tau, karena kau baru saja mengantarkan barang eommamu..” chanyeol tersenyum sekali lagi, lantar mengambil langkah dan berjalan melewati shasa.

Shasa melihat kearah sekeliling dan mendapati daerah sekitar terasa asing. Shasa sekuat tenaga mengingat rute jalan tapi sia-sia karena dia benar-benar sulit untuk mengingat jalan. Akhirnya shasa memberanikan diri dengan menelan saliva samar, mengeratkan pegangan tangannya pada tali tasnya shasa bersuara.

“Tunggu chanyeol-ah”

Mendengar shasa memanggil namanya chanyeol menghentikan langkahnya, sudut bibirnya naik yah chanyeol menahan senyumnya. Chanyeol berbalik kemudian menatap shasa.

“Aku tidak tahu jalan pulang” suara shasa kembali dengan wajah menunduk.

Chanyeol tidak bisa lagi menahan senyumnya, senyum itu terukir indah dibibir namja tinggi itu dan kembali chanyeol merasakan bom di dadanya kembali aktif yah perasaan ini selalu muncul tanpa aba-aba.

“Baiklah, ayo aku akan mengantarkanmu”

Setelah mengatakan itu chanyeol berjalan di ikuti shasa dari belakang, lama mereka berjalan dengan posisi seperti itu membuat chanyeol jengah karena sesekali chanyeol melirik shasa dengan ekor matanya sepertinya shasa sama sekali tidak memiliki niat untuk berjalan disampingnya. Akhirnya chanyeol berhenti dan berbalik arah menyusul shasa dan berdiri disamping shasa.

Shasa terkejut, dia hanya memandang chanyeol yang sekarang berdiri disampingnya dengan tatapan bingung.

“Ayo jalan.., kau mau kemalaman” kata chanyeol tanpa mempedulikan kebingungan shasa.

Akhirnya mereka berjalan beriringan sesekali saling melirik dan sesekali chanyeol menahan senyumnya.

“Kau lelah ?” Tanya chanyeol karena melihat shasa sepertinya kelelahan.

Belum shasa menjawab pertanyaan chanyeol, namja itu kembali bersuara “Baiklah kita istirahat dulu” chanyeol melelihat sekeliling kebetulan saat ini mereka melewati taman kota dan chanyeol melihat ada kursi kosong di bawah lampu taman “ayoo kita duduk disana sebentar” kata chanyeol lagi dan kali ini menarik lengan shasa menuju kursi tersebut.

Shasa yang terkejut dengan perlakuan chanyeol yang menarik lengannya hanya bisa menatap tangan chanyeol tersebut dengan tatapan berbinar.

Mereka duduk dikursi taman untuk beristirahan karena terlalu lama berjalan, shasa sedang menepuk nepuk kakinya yang terasa pegal sampai akhirnya dia berhenti karena chanyeol menyodorkan sekaleng minuman yang tadi dibeli chanyeol dimarket kepadanya.

“Ini minumlah, kau pasti haus” tawar chanyeol.

“Ne, gomawo” shasa menerima sekaleng minuman dari chanyeol dengan tersipu.

Setelah meneguk minuman mereka beberapa, kembali chanyeol membuka suara “Gomawo karena kau telah menemukan dan mengembalikan buku ku”

“Ne ?” untuk kesekian kalinya hari ini shasa kaget dan terpaku.

Sebenarnya saat hari pertama kuliah setelah libur musim panas chanyeol mendengar semua pembicaraan shasa dengan kedua sahabatnya termasuk tentang chanyeol yang sama sekali tidak mengucapkan terima kasih saat shasa menemukan dan mengembalikan bukunya.

Merasa sudah tidak terlalu capek lagi akhirnya mereka kembali berjalan, hening kembali menyelimuti keduanya sampai akhirnya mereka tiba di depan rumah shasa.

“Kita sudah sampai, ini rumahku” kata shasa setelah menghentikan langkah.

“Eoh aku tau” jawab chanyeol ringan.

“Ne ?”

“Masuklah”

“Ahh, ne” shasa berbalik dan berjalan menuju pagar rumahnya, membukanya dan sebelum masuk shasa berbalik lantas bersuara.

“Chanyeol ah, gomawo”

Chanyeol hanya tersenyum mendapat ucapan terimakasih dari shasa sebagai jawaban dan akhirnya dia melambaikan tangannya.

.

.

.

Setelah masuk kedalam rumah shasa mendapati eommanya di balik pintu dan dengan cepat menghampirinya.

“Yak, shasa ya siapa namja itu ?”

“Teman eomma”

“Sejak kapan kau mempunyai teman namja setampan dia?”

“eommmma….”

“Heheh, arasseo kau mandilah lalu turun untuk makan malam”

“Ne” shasa berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya dan baru tiga anak tangga yang berhasil dia leawati sebelum akhirnya eomma shasa kembali bersuara.

“Shasa-ya namja itu siapa namanya ?”

“Park chanyeol eomma….” Jawab shasa setengah berteriak karena jengah dengan godaan eommanya.

.

.

.

Setelah selesai makan malam, shasa kembali kekamarnya, merebahkan diri dikasur empuknya dan kembali mengingat kejadian hari ini, beberapa kali dia terkejut dengan perlakuan dan ucapan chanyeol membuatnya tidak tahan untuk menahan senyuman bahkan sekarang wajah shasa benar-benar memerah.

“Chanyeol tahu namaku, dia berterima kasih padaku” gumam shasa sembari tersenyum.

“yak.. dia bahkan tau jalan kerumah ku” shasa kembali beujar.

“jadi apakah chanyeol menyukaiku ?”

“Eyyy….” Shasa kembali tersenyum

“Ya bisa saja dia menyukaiku. Kyaaaaaa” shasa memekit dengan menutup wajahnya dengan bantal dan tertidur setelahnya.

***

Hari demi hari shasa masih saja mengikuti chanyeol kemanapun, memandang namja itu dari jauh. Namun setelah hari dimana chanyeol mengantarkan shasa pulang, keesokan harinya chanyeol tetap sama, dikampus chanyeol kembali menjadi chanyeol seperti biasanya, tidak ada kemajuan bahkan chanyeol kembali tidak memberi respon jika baekhyun menggoda shasa dan meminta pendapat chanyeol. Karena itu shasa merasa putus asa dan akhirnya shasa menulis seluruh isi hatinya, pendapatnya dan semuanya kedalam selembar kertas dan memasukkannya kedalam ampop soft violet dengan pita berwarna ungu cerah. Shasa berniat akan memberikannya kepada chanyeol setelah hari ini. Dan tepat setelah shasa selesai memasukkan suratnya kedalam amplop ae yeon masuk kedalam kamarnya yah ini memang sudah menjadi kebiasaan ae yeon yang datang dan langsung masuk kedalam kamar sahabatnya tersebut tanpa mengetuk pintu.

“Heyyy sedang apa ?” Tanya ae yeon segera setelah masuk kamar shasa.

“Ahh tidak sedang apa-apa”

“Eummm, itu apa ?” Tanya ae yeon lagi menunjuk benda disamping tangan shasa.

“Ahhh bukan apa-apa” jawab shasa sembari hendak menyembunyikan benda tersebut.

“Yakk, ayoolah benda apa itu aku penasaran. Kelihatannya seperti surat ?” tebak ae yeon.

“Surat ? yak jangan bilang kau akan memberikannya kepada chanyeol?” lagi ae yeon bersuara setelah tersadar benda apa ditangan shasa.

“Eoh, Ne” jawab shasa dengan meringis.

“Yak, kau gila ? apa kau tidak memikirkan akibatnya ?” kata ae yeon dengan suara meninggi

Shasa hanya diam tidak menjawab pertanyaan ae yeon karena memang dia sama sekali tidak memikirkan apa akibatnya yang dia bayangkan hanya setelah ini chanyeol akan tahu perasaannya. Ya hanya itu.

“Yak bayangkan jika chanyeol tidak menerima suratmu ? dan baekhyun tahu ? apa kau tidak memikirkannya ?”

“Tidak” jawab shasa lemah.

“Kau tau jika baekhyun tahu? Semua seisi kelas bahkan satu fakultas bisa tahu? Kau hanya akan merasa malu” nasehat ae yeon “apa kau siap dicemooh dan diolok-olok eoh ? shasa-ya kuliah kita masih beberapa smester lagi ? kau sanggup menahannya selama itu ?”

“Tidak” jawab shasa lagi.

“Shasa-ya, menurutku kau urungkan saja niatmu itu, lagi pula kalau chanyeol memang benar-benar manusia normal dia pasti tahu kau menyukainya” kata ae yeon kali ini dengan lembut.

“Ne, gomawo ae yeon-ah telah mengingatkan ku” kata shasa dan memeluk sahabatnya itu.

Ae yeon hanya tersenyum dan membalas pelukan shasa.

.

.

.

Sore hari sehabis keluar dari jam kuliah terakhir shasa dan kedua sahabatnya sepakat mampir ke kedai tteokbokki favorit mereka. Setibanya disana mereka memilih tempat duduk ditempat biasanya. Sedang asik mengobrol datang sekelompok pelanggan yang ternya chanyeol, baekhyun dan satu lagi namja tinggi yang tidak pernah shasa dan sahabatnya liat sebelumnya. Awalnya shasa, Na mi, dan Ae yeon tidak menyadari kedatangan mereka sampai akhirnya baekhyun bersuara

“Heii penguntit kau disini juga ? sudah lama ?” Tanya baekhyun dan kemudian bersuara lagi “woahhh kau sepertinya benar-benar ber jodoh dengan chanyeol disemua tempat kau selalu ada”.

Mendengar perkataan baekhyun, shasa menoleh kearah chanyeol melihat bagaimana ekspresi namja itu, namun kecewa shasa mendapati wajah chanyeol yang hanya berekspresi datar.

“Yak, kau tidak bisa diam ? mengganggu saja dasar berisik” Ae yeon membuka suara

“Ckckc, mengapa kau selalu merasa terganggu ? shasa saja hanya diam” jawab baekhyun dengan senyum miringnya.

“Baekhyun-ah apa kau tidak bisa sehari saja tidak mengganggu shasa ?” kali ini Na mi yang bersuara.

Saat baekhyun hendak menjawab perkataan ae yeon namja tinggi berkulit pucat itu bersuara

“Chanyeol-ah sebenarnya ada apa ini ?”

Dan yang ditanya sama sekali tidak memberikan jawaban, chanyeol hanya berjalan menuju kursi kosong dan memesen tteokbokki.

“Sehun-ah kau mau tau ceritanya sungguh menarik ?” kata baekhyun.

Oh sehun benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi dan cerita apa yang dimaksud baekhyun. Benar saja karena oh sehun yang merupakan sepupu chanyeol baru saja tiba di seoul datang dari luar kota untuk mengisi weekendnya.

Diam-diam sehun melirik sekumpulan yeoja yang tadi dibuat kesal oleh baekhyun, sehun memandang ae yeon dari mejanya yang naasnya ditangkap basah oleh ae yeon. Bukannya malu sehun malah tersenyum kearah ae yeon. Mendapat perlakuan seperti itu ae yeon segera mengalihkan pandangannya yang membuat senyum sehun semakin mengembang.

Lama mereka sibuk di meja masing-masing sampai akhirnya baekhyun bangkit dari kursinya dan berjalan kearah meja shasa dan dua sahabatnya.

“Shasa-ya apa kau memesan tteokbokki pedas juga ?” Tanya baekhyun

“Eoh, tidak aku tidak suka pedas” jawab shasa polos.

“Yah bagaimana ini, ternyata kalian tidak cocok karena chanyeol menyukai tteokbokki pedas” kata baekhyun lagi berujar hal yang tidak penting dan itu membuat Na mi muak.

“Sudahlah baek, kami lelah ?”

“Ahhh bagaimana kalau aku menantangmu untuk menghabiskan dua porsi tteokbokki pedas ?” lanjut baekhyun tidak menghiraukan perkataan Na mi

“Yak, apa untungnya bagi shasa ?” kata ae yeon. Sedangkan shasa hanya diam saja, yah shasa memang sudah hilang tenaga untuk menanggapi baekhyun karena bagaimanapun shasa menjawab dan mengelak baekhyun tidak pernah mau kalah.

“Jika shasa berhasil sebagai imbalannya shasa akan berkencan dengan chanyeol ?” kata baekhyun santai yang sukses membuat semua orang terkejut tak terkecuali shasa dan chanyeol, hanya saja chanyeol tersenyum setelahnya.

“Kau gila baek ? memangnya chanyeol itu kau ?” Tanya Na mi.

“Hhmmm bagaimana kau berani shasa-ya ?” kembali baekhyun bertanya dan mengacuhkan Na mi.

Shasa hanya diam tidak menanggapi tantangan baekhyun

“Kau tidak berani ?” lanjut baekhyun semakin songong.

“Ternyata kau tidak benar-benar menyukai chanyeol” lanjut baekhyun semakin membuat telinga shasa berdengung.

“Okay aku setuju” kata shasa untuk pertama kalinya membuka suara dan sukses membuat semua orang membuka mulutnya. Chanyeol juga ikut menoleh setelah mendengar kalimat yang lolos dari mulut shasa.

“Shasa-ya jangan termakan omongannya” Na mi mengingatkan.

“Tidak, Na mi-ya aku akan membuktikan padanya” tunjuk shasa pada baekhyun.

“Okay, setuju. Ahjumma pesan tteokbokki pedas dua porsi” pesan baekhyun.

Setelah dua porsi tteokbokki tersedia didepan mereka, Bekhyun tersenyum. Shasa hanya menatap serius kearah dua porsi tteokbokki tersebut. Dan karena penasaran sehun juga beranjak dari kursinya menuju meja shasa.

“Kau yakin shasa-ya ?” Tanya Na mi.

“Eummm” jawab shasa optimis dengan menganggukkan kepala.

Melihat sahabatnya seperti itu Na mi hanya bisa menghela nafas berat, dan setelahnya berbicara pada ae yeon. “Ae yeon-ah hentikan tindakan nekat shasa” lama tidak mendapat jawaban ae yeon, Na mi menengok kearah ae yeon dan mendapati ae yeon tangah berbicara dengan namja berkulit pucat itu. Na mi menggeleng kepala dan menari ae yeon.

“Yak, kau sama sekali tidak peka dengan situasi” marah Na mi.

“Mian, na mi-ya” jawab ae yeon dengan senyum manisnya.

Keputusan shasa sudah bulat, dia akan membuktikan kepada baekhyun bahkan dan lainnya bahwa perasaannya bukan bahan lelucon bahwa dia benar-benar menyukai chanyeol. Akhirnya shasa menerima dengan optimis tantangan baekhyun dan mulai memakan tteokbokki pedas yang benar-benar tidak dia sukai.

Dari mejanya chanyeol memperhatikan shasa dan sesekali sudut bibirnya naik melihat tinggah gadis itu yang menurutnya lucu saat kepedasan.

Perjuangan shasa tidak main-main, tekadnya benar-benar akan menghabiskan dua porsi tteokbokki pedas ini sampai akhirnya perjuangan shasa berhasil yah shasa benar-benar enghabiskan dua porsi tteokbokki pedas dengan keringan bercucuran. Melihat shasa berhasil dua sahabatnya ae yeon dan na mi sontak berteriak hesteris dan memeluk shasa. Shasa bahagia berbanding terbalik dengan baekhyun yang sejak tadi memasang wajah cemas sekarang wajah itu berganti dengan wajah tak percaya dan mulut menganga, baekhyun sudah tidak bisa berkata apa-apa. Sehun ? lelaki yang belum kenal shasa ini benar-benar kagum dengan kegigihan shasa. Dan chanyeol, namja itu tetap diam dikursinya.

Akhirnya dengan terpaksa baekhun mengakui kemenagan shasa dan berjalan menuju chanyeol meminta maaf dan menarik chanyeol kearah shasa, mengambil tangan chanyeol dan meletakkannya ditangan shasa membuat keduanya bergandengan tangan. Shasa luar biasa bahagianya saat dua sahabat dan seluruh penggunjung kedai bersorak. Sementara itu chanyeol hanya diam namu sebenarnya jauh di dalam hatinya chanyeol benar-benar bahagia dan bom di dalam diri chanyeol kembali aktif untuk kesekian kalinya.

.

.

.

Pulang dari kedai tteokbokki chanyeol berjalan berbarengan dengan sehun sepupunya. Karena penasaran sehun bertanya dengan chanyeol

“Chanyeol-ah apa kau benar-benar menyukainya ?”

“Hmmmm entahlah” jawab chanyeol singkat yang sama sekali tidak memuaskan bagi sehun.

“Yak, aku bersungguh-sungguh. Dia jauh dari tipemu tapi saat ku liat tadi kau sama sekali tidak menolak bahkan mencegah baekhyun saat mengajukan taruhan gila itu”

Chanyeol menarik nafas singkat “Hmmm aku juga bingung dengan perasaanku, awalnya aku memang terganggu diikuti kemana-mana aku sampai merasa ke toilet pun dia mengikuti ku, hanya saja lama kelamaan aku menikmatinya. Setelah lama dia mengikuti dan sama sekali tidak mendapat respon dariku, dia benar-benar tidak menyerah dan tetap mengikutiku bahkan saat dia mengetahui kelemahanku. Berbeda dari yeoja lainnya yang hanya menginginkan kesempurnaanku” jawab chanyeol.

“Uuuuuu… chanyeol-ah kau benar-benar keren”

Chanyeol hanya tersenyum mendapat pujian dari sepupunya

“Tapi chanyeol-ah kurasa temannya lumayan juga” lanjut sehun

Mendengar perkataan sehun lagi-lagi chanyeol hanya tersenyum dan berujar “ ckckc,kau ini”

.

.

.

Hari demi hari pasca kejadian dikedai deobokki chanyeol masih sama tidak ada perubahan, chanyeol juga tidak memperdulikan shasa, chanyeol hanya tersenyum dan itupun sangat langka. Karena merasa tidak ada perubahan dari sifat chanyeol Na mi bertanya “Yak, kalian sebenarnya kencan apa tidak.?”

“Molla” jawab shasa lemah.

“setelah kejadian itu tidak terjadi apa-apa, bahkan menghubungimu ?” ae yeon bertanya kali ini.

“Aku bahkan tidak tau dia punya kontakku atau tidak”

“Ckckck benar-benar.” Ae yeon hanya bisa berdecak.

.

.

.

Keluar dari kelas chanyeol berjalan kearah perpustakaan, setibanya disana chanyeol sibuk mencari buku yang diperlukannya. Lim shasa seperti biasanya mengikuti chanyeol diam-diam. Kebiasaan ini sulit ditinggalkannya, chanyeol sudah seperti candu baginya, mengikutinya kemanapun, memandang wajah serius chanyeol adalah sebuah vitamin melewati hari yang panjang baginya.

Saat chanyeol sibuk dengan buku ditangannya di depan rak buku, shasa duduk di kursi paling pojok menghadap kearah rak buku yah tempat yang sangat pas untuk meliat chanyeol saat ini. Tidak berapa lama chanyeol mengarahkan pandangan kepada shasa. Shasa terkejut, dia berusaha mengalihkan pandangannya dengan berpura-pura membaca buku yang berada ditangannya. Chanyeol yang melihat itu, kembali meliat buku ditangannya dan tersenyum. Melihat gadis yang selalu mengikutinya, yang membuat dia kadang-kadang merasa risih diikuti kesana-kemari, berasa dikuntit tapi anehya entah kenapa chanyeol merasa tidak keberatan saat shasa mengikutinya dan lama kelamaan chanyeol terbiasa dan menyukainya.

Chanyeol berjalan kearah rak buku yang berada di pojok ruangan perpustakaan. Shasa yang memperhatikan buku kembali melihat kearah chanyeol berdiri sebelumnya tidak mendapati keberadaan chanyeol disana merasa penasaran, shasa berdiri dari kursinya dan berjalan ketempat rak buku dimana disitu tadinya chanyeol sedang membaca bukunya, sasha yang bingung tidak mendapati chanyeol disana kembali meneruskan langkahnya dideretan rak buku sampai tiba-tiba satu lengan kekar menariknya dan memperangkap shasa di antara rak buku dan tubuh namja yang menariknya tadi. Shasa memekik kaget dan semakin kaget saat menyadari wajah chanyeol sangat dekat di depan wajahnya.

“Chanyeol-ah” kata shasa dengan suara tercekat

Chanyeol tidak menjawab hanya senyum yang mengambang dari bibirnya sebagai jawaban. Chanyeol membukkukan tubuhnya, memiringkan wajahnya lalu sedikit demi sedikit memangkas jarak diantara keduanya.

Sadar akan situasi dimana wajah tampan chanyeol tepat didepan matanya shasa hanya bisa memejamkan matanya tidak sanggup menatap mata indah chanyeol.

Melihat shasa menutup matanya chanyeol tersenyum dan setelahnya ikut memejamkan matanya bertepatan dengan bibirnya yang menempel dibibir shasa.

Shasa kaget, matanya refleks terbuka. Sedangkan chanyeol mulai berani menggerakkan bibirnya dipermukaan bibir shasa sembari lengannya melingkar dipinggang shasa. Merasakan pergerakan bibir chanyeol shasa kembali memejamkan mata.

Setelah beberapa saat chanyeol menyudahi ciumannya perlahan menjauhkan wajahnya dari shasa, bersama-sama shasa dan chanyeol membuka mata lantas chanyeol tersenyum melihat shasa memandangnya tepat dimatanya

“Aku mencintaimu shasa-ya” kata chanyeol singkat yang berhasil membuat jantung shasa yang masih belum berdetak dengan normal karena perlakuan chanyeol tadi kembali berdetak tidak karuan.

Shasa hanya tersenyum tidak mampu menjawab, dia hanya mengangguk dan itu cukup bagi chanyeol. Chanyeol lantas memeluk shasa dan shasa membalas pelukan chanyeol.

Fin

Advertisements

One thought on “mischievous glance

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s