Is This Love ? – Chapter 5

by bebebaek_
Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4

Main cast : Byun Baekhyun & Z.Hera.

Genre : romance.

Length : Ficlet | Rating : General.

-aku yang masih gamon berkelanjutan sama ini couple. Di ambil dari beberapa adegan drama moon lovers : scarlet heart ryeo dan di adaptasi ke zaman modern. Murni imajinasi aku ya, don’t plagiat. Bikin cerita itu susah!-

Happy reading

***
Hera menggeliat kecil saat sinar matahari menelusup mengusik tidurnya. Gadis itu membuka matanya perlahan mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya ia terdiam mematung. Bola mata hera membulat sempurna saat kini maniknya terpaku pada wajah damai baekhyun yang masih terlelap di sampingnya.

Perlahan hera menaikkan lengannya ingin menyentuh wajah baekhyun. Ragu-ragu ia menggantungkan tangannya di udara saat kedua kelopak mata baekhyun bergerak menandakan pemuda itu telah kembali dari alam mimpinya.

Dengan cepat hera menarik kembali lengannya. Hera kembali memejamkan matanya tepat sebelum baekhyun membuka matanya.

Tidak jauh berbeda dari apa yang terjadi kepada hera sebelumnya. Saat ini baekhyun tengah menikmati pemandangan yang baru pertama kali ini ia lihat. Pemandangan yang begitu indah tepat di depan matanya ketika ia baru saja membuka mata.

Tidak pernah baekhyun sadari jika hera ternyata begitu manis saat kedua matanya tertutup seperti saat ini.

Hening. Hanya ada deburan ombak dan deru angin yang menjadi satu-satunya sumber suara yang menghiasi ruang kamar. Baekhyun masih betah memandangi wajah hera yang entahlah, menurutnya gadis itu terlihat berbeda pagi hari ini.

Sementara keheningan masih menyelimuti kamar hotel yang keduanya tempati. Hera yang sedari tadi kembali menutup matanya tidak juga merasakan gerakan dari baekhyun di sisinya.

“Apa mungkin baekhyun kembali terlelap ? Atau ia sama sekali belum bangun” benak hera lalu perlahan ia membuka kembali matanya.

Dua pasang mata itu akhirnya bertemu. Dengan ekspresi sama-sama terkejut, baik baekhyun maupun hera terdiam, bisu dan membatu di tempatnya.

Baekhyunlah akhirnya orang pertama yang memutuskan kontak mata keduanya. Ia tidak tahan. Sungguh jika saja ia tidak segera memalingkan wajahnya mungkin sekarang jantung baekhyun telah meledak karena ya, tepat saat manik bening itu menatapnya seolah tatapan itu memerintah setiap aliran darah baekhyun dan memompanya begitu kuat hingga jantungnya berdegup begitu cepat.

Baekhyun berbalik mengubah posisi tubuhnya menjadi telentang dan meletakkan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya yang terasa memanas. Baekhyun merutuki tindakannya karena telah begitu terhanyut akan wajah damai hera namun sejurus kemudian senyum simpul merekah di bibir tipis pemuda itu.

“Ehem!” Baekhyun berdehem memecah suasana hening dan kecanggungan di antara mereka.

“Bersiap-siaplah kita akan pergi ke perkebunan jeruk hari ini” suara baekhyun sebelum ia pergi menuju kamar mandi dengan langkah terburu-buru.

“Manis” suara hera di sela aktifitas mengunyahnya. Hera dan baekhyun berjalan berdampingan menyusuri kebun jeruk bersama. Entah sudah berapa jam mereka berada di sana, memetik dan sesekali mencicipi jeruk yang menjadi salah satu kebanggaan pulau jeju itu.

“Tentu saja. Kau tau aku begitu pandai dalam memilih jeruk mana yang manis dan yang tidak” jawab baekhyun membanggakan dirinya.

“Eum” hera mengangguk antusias. “Kau memang hebat. Jeruk pilihan baekhyun selalu memiliki rasa manis” lanjut hera dan itu berhasil menerbitkan senyum baekhyun.

“Tapi- apa ini cukup untuk kita bawa pulang”  kata hera sembari menilik keranjang berisi jeruk hasil petikan mereka.

“Cukup. Dan harus cukup. Lagi pula membawa jeruk terlalu banyak akan menyusahkan” jawab baekhyun sembari membalas tatapan hera padanya.

Keduanya telah keluar dari area perkebunan jeruk saat baekhyun menatap pada langit yang mulai menjingga.

“Mau melihat sunset ?” Tawar baekhyun dengan senyumnya.

Belum sempat hera mengangguk untuk sekedar memberi jawaban. Tangan hera telah di raih baekhyun untuk mengikuti langkah lebarnya.

“Woahhh!” Seru hera sesaat setelah keduanya menghentikan langkah. Mata hera menatap takjub pada hamparan luas laut biru di depannya.

Indah. Sangat indah. Baekhyun menurunkan pandangannya beralih pada hera yang masih berdiri di sampingnya. Senyum baekhyun kembali terukir saat mendapati hera menutup matanya menikmati semilir angin menyapa kulit wajahnya.
“Kau tidak kedinginan ?” Tanya baekhyun setelah beberapa menit mereka berdiri di tempat.

Hera menggeleng pelan. “Apa kita benar-benar akan melihat sunset ?” Tanya hera kemudian.

“Ya”

“Di sini ?” Tanya hera lagi dengan mata berbinarnya.

“Eum” angguk baekhyun memastikan.

“Woah! Daebak! Aku benar-benar akan melihat sunset. Nghhhe” kata hera antusias.

“Yak, kau hanya akan melihat sunset. Mengapa berlebihan seperti ini ? Apa kau tidak pernah melihatnya ?” kata baekhyun kemudian.

“Ya, aku memang tidak pernah melihatnya” respon hera lemah dan itu membuat baekhyun menatapnya tidak percaya namun juga merasa bersalah.

“Ahh aku-”

“Tidak apa-apa, lagi pula kita akan melihatnya” potong hera kembali cerita.

“Kemarilah” kata baekhyun sebelum ia kembali meraih lengan hera dan membawa gadis itu duduk di atas pasir putih. Keduanya duduk saling berdampingan, menatap langit sore menunggu sang raja hari kembali keperaduannya.

“Baek-ah, apa kita tidak bisa bermain air ?” Tanya hera dengan wajah polosnya.

“Tidak. Sekarang musim dingin. Kau bisa membeku jika menyentuh air. Lagi pula sekarang berangin berbahaya jika kita bermain di pantai dan kau- kau lupa kau terkena demam semalam” jawab baekhyun berujar serius.

Hera diam, tidak membantah baekhyun sama sekali. Keduanya kembali di landa keheningan beberapa saat sebelum-

“Ahh ini -untukmu” kata hera membuka suaranya kembali setelah ia mengambil sesuatu di dalam tas kecilnya dan menyodorkannya kepada baekhyun.

Alis baekhyun mengernyit saat hera menyodorkan sebuah pulpen kepadanya.

“Tadi sebelum kita pergi ke kebun jeruk, aku melihatnya di sebuah toko di pinggir jalan. Ini indah pulau jeju terlukis seutuhnya di badan pulpen ini. Dan- baekhyun suka menulis lagu baik itu musik ataupun lirik” hera memberi jeda pada kalimatnya dan menyempatkan diri untuk melirik baekhyun sesaat.

“Setelah ini kau bisa menggunakannya. Ku- harap” lanjut hera lemah.

Baekhyun meraih pulpen tersebut. “Bagus” suara pemuda itu menatap pulpen di tangannya.

Hera tidak bisa menahan senyumnya kala baekhyun berujar memuji pulpen pemberiannya. Gadis itu mengalihkan pandangannya kembali pada ujung lautan di mana matahari telah mulai turun.

“Hera-” panggil baekhyun membuat sang empunya nama meneloh kepadanya.

Bola mata hera menatap terkejut saat baekhyun mengangkat satu lengannya ke udara membiarkan sebuah gantungan kunci teddy bear terselip di jari-jemarinya.

“Kau begitu menginginkannya bukan ?” Kata baekhyun menyerahkan gantungan kunci tersebut di atas telapak tangan hera.

“Bagaimana kau tahu ?” Tanya hera tidak percaya.

“Siapa yang tidak tahu. Kau menatapnya penuh minat kemarin” jawab baekhyun kembali meluruskan kepalanya dan tersenyum tipis.

Hera masih menatap baekhyun. “Terima kasih” suaranya pelan membuat baekhyun kembali menoleh padanya.

“Eoh ?” Suara hera saat baekhyun menunjukkan jari telunjuknya ke depan. Hera menurut. Ia menoleh dan takjub saat menyaksikan salah satu pemandangan yang luar biasa indah di depannya.

Sang raja hari telah kembali keperaduannya. Gelap mulai mengelilingi mereka namun biasan jingga itu terasa begitu menghangatkan pandangan mereka.

“Indah”

~

Baekhyun dan hera telah kembali ke seoul. Keduanya keluar dari pintu kedatangan. Baekhyun berjalan sembari mendorong troli berisi tumpukan koper dan beberapa barang bawaan mereka.

“Sini biar ku bantu” kata hera yang berjalan di samping baekhyun. Gadis itu akan mengambil kopernya saat-

“Ssstttt biar aku saja” cegah baekhyun tidak terbantahkan namun di iringi senyum ramahnya.

Hera menarik kembali lengannya. Gadis itu ikut tersenyum lalu mengalihkan lengannya merangkul lengan baekhyun tanpa ia sadari.

Sesaat baekhyun sempat terkejut akan rangkulan lengan hera di lengannya, tapi itu tidak bertahan lama karena setelahnya baekhyun mengulum senyumnya sembari terus mendorong trolinya dalam diam.

Baekhyun dan hera menghentikan langkah mereka bersamaan saat keduanya melihat nyonya byun dan dahyun berdiri di depan keduanya.
“Uuuuu eomma, seperti bulan madu oppa dan eonni berjalan lancar. Lihatlah mereka masih saling merangkul” goda dahyun tepat ketika manik jelinya menemukan suatu pemandangan yang jarang ia temukan.

Nyonya byun tersenyum lebar sementara hera segera melepas rangkulannya pada lengan baekhyun. Hera menunduk malu dan baekhyun hanya diam tanpa reaksi.

“Bagaimana ? Apa perjalanan kalian menyenangkan ?” Tanya nyonya byun yang hanya di jawab hera dengan senyumnya.

“Jadi kalian membuat ponakan untukku ? Benar-benar membuatnya ?- oukhhhh oppa kau seorang lelaki sejati” timpal dahyun mengambil tempat di sisi baekhyun.

“Apa menyenangkan oppa ? Kau membuatkan ponakan untukku lelaki atau perempuan ?” Lanjut dahyun semakin menjadi-jadi.

“Ouchhh kau masih kecil tapi otakmu ouchh menjijikkan” suara baekhyun dengan ekspresi tidak tahannya. Pemuda itu segera mengambil langkah beranjak lebih dulu meninggalkan dahyun dengan gerutuan kesal namun puas karena telah berhasil menggoda kakaknya.

Dahyun ikut mengambil langkahnya, berusaha mengejar baekhyun untuk kembali melancarkan aksinya.

“Kajja” nyonya byun meraih lengan hera, merangkul lengan menantunya itu untuk ikut melangkah menyusul baekhyun dan dahyun.

Baekhyun keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk kecil yang tersampir di kedua pundaknya. Ia sibuk mengeringkan rambutnya yang masih setengah basah.

Baekhyun menghentikan aktifitasnya saat ia melihat hera menggelar selimut tebal di bawah sisi tempat tidurnya.

Baekhyun harusnya tidak perlu bertingah berlebihan. Bukankah ia sudah sering melihat hera melakukannya ? Entahlah. Sejak kejadian di pulau jeju itu, saat ia melihat hera kesakitan baekhyun merasa bersalah.

Baekhyun melangkah pelan mendekati tempat tidur dan berhenti tepat di sisi hera yang masih sibuk menyiapkan tempat untuknya tidur.

“Apa tidak apa-apa kau tidur di lantai ?” Tanya baekhyun dengan nada khawatir yang tidak bisa ia sembunyikan.

Hera menghentikan aktifitasnya. Ia lalu mendongak dan tersenyum lembut kepada baekhyun.

“Tidak apa-apa, aku memiliki mereka” kata hera tersenyum sumringah menunjukkan selimut, bantal, guling dan alas untuknya tidur.

Baekhyun menaikkan bahunya acuh “terserah kau-” suara pemuda itu lalu menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuknya.

Baekhyun kembali berbalik, pemuda itu terus saja bergerak gusar. Entah sudah berapa kali ia terus berbalik mengubah posisi berbaringnya. Baekhyun mendongak menilik pelan hera yang sudah terlelap di bawah sana.

Baekhyun menghela nafasnya berat, ia lalu meraba tempat kosong di sisi tempat tidurnya. Untuk beberapa saat pikiran baekhyun melayang.

Buru-buru baekhyun menggeleng keras berusaha menyingkirkan pikiran aneh di kepalanya. Baekhyun lalu berbalik dan membenamkan wajahnya di empuknya bantal miliknya dan berusaha untuk tidur.

~

Libur smester telah berakhir dan perkuliahan kembali di mulai. Baekhyun terus melangkah menyusuri gedung kampusnya. Ia tidak tahu harus kemana karena memang ia belum mendapat jadwal perkuliahan.

Langkah baekhyun terhenti saat seseorang berdiri menghalangi langkahnya. Baekhyun menatap pemuda itu sinis.

“Yak, mau sampai kapan kau menatapku seperti itu ?” Jongdae membuka suaranya.

“Ahhh, kau marah padaku karena kejadian tempo hari” lanjut jongdae mengingat-ingat. “Yahhh ternyata seorang byun baekhyun bersikap seperti ini jika cemburu” jongdae beujar dengan senyum lebarnya.

“Siapa yang cemburu hah!?” Balas baekhyun dengan suara meninggi.

“Lalu jika tidak cemburu mengapa kau menatapku dengan tatapan seolah kau ingin membunuhku. Heyy kau tidak perlu mengelak padaku. Jelas sekali kau telah jatuh cinta pada gadis itu”

Baekhyun terdiam. Apa benar kata jongdae ? Apa dia telah jatuh cinta pada hera. Apa mungkin-

“Tenanglah kawan. Aku tidak akan merebut gadis sahabatku. Kecuali jika kau memberikannya” kata jongdae dengan senyum menyebalkannya. Membuat baekhyun kembali mendelik tidak suka pada pemuda bersuara cempreng itu.
“Oh ya. Apa kau mengikuti mata kuliah guru park tahun ini ?” Tanya jongdae setelahnya.

“Ya”

Jongdae tersenyum miring. “Ku rasa kau harus bersiap dari sekarang karena barusan aku mendengar guru aneh itu akan memberikan tugas berat untuk mahasiswanya”

Baekhyun menaikkan kedua alisnya. Seberat apapun itu bukankah tahun lalu ia selalu berhasil menyelesaikan tugas dari guru park. Namun di luar hal itu baekhyun tetap penasaran tentang tugas yang akan di dapatnya.

“Ku dengar guru park akan membuat dua mahasiswa untuk berkolaborasi membuat lagu dan menyanyikan lagu itu bersama untuk penilaian tengah smester nantinya”

“Benarkah ?” Tanya baekhyun. Ia sedikit merasa tertantang akan tugas yang di jelaskan jongdae. Bagaimanapun membuat lagu bersama tidaklah mudah. Terlebih jika pasangan duetmu tidak sepemikiraan.

“Kau bisa memegang perkataanku karena informanku jelas selalu benar” kata jongdae memuji bakat minseok.

Dan benar saja. Di hari selanjutnya tepat di jam perkuliahan guru park. Baekhyun mendapat tugas seperti apa yang di katakan jongdae tempo hari. Tapi satu hal yang baekhyun sungguh tidak pernah menyangkanya. Teman kolaborasi baekhyun adalah suzy.

Siapa yang tidak mengenal suzy di angkatan mereka. Gadis bersuara merdu dengan rupa menawan. Apa baekhyun pernah menyelamatkan negara di masa lalunya, ia bahkan tidak pernah bermimpi sekalipun bisa mendapat kesempatan luar biasa itu.

Baekhyun memasuki kediaman keluarga byun dengan langkah ringan dan senyum yang setia terpampang di wajahnya. Hari ini lagi-lagi pemuda itu pulang terlambat karena harus mengerjakan tugas yang dari sekarang ia dan suzy cicil.

Baekhyun meletakkan ranselnya sembarang. Sembari bersiul gembira pemuda itu melepas jaketnya dan mengambil pakaian bersih untuk mengganti pakaiannya.

“Sepertinya kau bahagia hari ini- apa latihannya menyenangkan ?” Suara hera dari meja belajarnya. Manik gadis itu mengekori setiap gerakan baekhyun dengan tatapan ingin tahu.

“Ya, sangat menyenangkan! Kau tau aku pernah bercerita padamu jika di hari pertama aku memuji betapa cantiknya suzy” kata baekhyun mulai bercerita setelah ia mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur.

“Di minggu kedua aku tau dia gadis yang cerdas dan sekarang aku lagi-lagi terkejut oleh suara merdunya” lanjut baekhyun dengan mata berbinar.

“Yahhh ku rasa hatiku meleleh saat mendengarnya bersenandung”

Hera tersenyum kecut. Ya, selama ini baekhyun memang selalu bercerita tentang pasangan tugasnya itu bahkan saat baekhyun mengetahui siapa temannya heralah orang pertama yang menjadi saksi kebahagiaan baekhyun.

Hera ikut bahagia jika pemuda itu bahagia, namun hari demi hari hera merasa iri pada gadis itu, seperti gadis itu hera juga ingin baekhyun memujinya, baekhyun senang karenanya dan baekhyun memperhatikannya. Ya, hera cemburu.

“Oh ya, hera-ya apa kau tau hadiah yang bagus untuk di berikan kepada suzy. Ya, aku ingin memberinya hadiah karena telah menerimaku sebagai pasangan tugasnya. Kau kan juga seorang gadis, kau pasti tau hadiah yang tepat” kata baekhyun kembali membuka suara.

“Eumm bagaimana dengan gantungan kunci” aju hera ragu-ragu.

“Hahhh” baekhyun tersenyum sumbang. “Yang benar saja. Usulmu benar-benar. Mana mungkin aku memberikan benda tidak berharga itu padanya-” lanjut baekhyun tanpa memperhatikan hera.

Hera memalingkan wajahnya, kedua tangannya menggenggam erat gantungan kunci taddy bear yang di berikan baekhyun kepadanya.

“Ya sama sepertiku, benda ini tidak berharga bagi baekhyun” batin hera tersayat.

~

Harapan untuk melewati akhir pekan yang menenangkan bagi baekhyun hari ini sepertinya harus ia relakan. Pasalnya bukan berbaring di atas kasur empuk ataupun bersantai di sofa ruang tv baekhyun justru berakhir di depan kemudi mobil yang ia lajukan.

Setelah memarkirkan mobilnya baekhyun turun mengikuti langkah antusias dua gadis yang telah turun mendahuluinya. Dengan wajah datarnya baekhyun terus melangkah tanpa minat. Ya, jika saja ia tidak di paksa oleh ibunya, baekhyun bersumpah ia tidak akan mau berada di tempat ini sekarang.
Apa tenaga dua gadis di depannya ini tidak ada habisnya ? Mengapa mereka seolah tanpa lelah berjalan mondar-mandir, masuk dan keluar setiap toko di dalam pusat perbelanjaan ini.

Baekhyun menggeleng pelan saat menyaksikan adiknya dan istrinya yang berperilaku bagai anak TK saat melihat jejeran pernak pernik di salah satu toko aksesoris.

Setelah berjam-jam lamanya akhirnya baekhyun dapat menghembuskan nafas leganya saat dahyun dan hera keluar dari salah satu toko pakaian dan berencana untuk mencari makan.

“Hera-” suara seseorang memanggil nama hera.

Hera menghentikan langkahnya yang kemudian di ikuti dahyun dan baekhyun. Gadis itu lalu berbalik pada sumber suara di belakang mereka.

Senyum hera mengembang sumringah saat mendapati siapa yang baru saja memanggilnya. “Oppa!” Pekik hera setelahnya. “Jisoo oppa, kau juga di sini ?” Lanjut hera sembari melangkah mendekati pemuda bernama jisoo itu.

Jisoo tidak diam di tempatnya, ia juga melangkah mendekati hera dengan senyum tidak memikat. Jisoo segera merengkuh punggung hera saat gadis itu berada di jangkauannya. Ya, jisoo memeluk hera. Pelukan erat yang siapapun tau pelukan itu sarat akan kerinduan.

“Yah, aku tidak menyangka aku akan bertemu denganmu di sini. Ku kira kita tidak akan bertemu lagi” suara jisoo setelah ia melepas pelukannya.

“Sudah berapa lama sejak kau tidak lagi ikut latihan- yak, kau memberiku kabar tentang pernikahanmu begitu mendadak” lanjut jisoo.

Sementara hera dan jisoo sedang asik bercengkrama bahkan keduanya mungkin lupa jika di sana ada dua orang yang sedari tadi menatap keduanya tanpa berani bersuara.

“Ehem!” Dehem baekhyun menyadarkan hera akan di mana mereka saat ini.

“Ah. Oh-ya oppa ini baekhyun oppa” kata hera memperkenalkan baekhyun canggung.

“Suamimu ?” Tanya jisoo dengan ekspresi yang sumpah demi apapun baekhyun ingin menyobek pemilik wajah sok di depannya ini.

“Y-ya” jawab hera malu-malu.

“Lalu ? Eum-” jisoo mengangkat alisnya sembari menatap hera dan dahyun bergantian.

“Aku dahyun- adik ipar hera eonni” sahut dahyun mengerti. Gadis itu serta merta mengulurkan lengannya yang tentu saja di sambut jisoo dengan senyum tampannya.

“Eonni, kau memiliki teman yang begitu tampan” celetuk dahyun dengan senyum tertahan.

“Apa kalian ingin pergi ?” Tanya jisoo lagi.

“Kami ingin mencari makan” jawab dahyun cepat yang di balas senyum mengiyakan dari hera.

“Ah kalau begitu kebetulan, aku juga ingin mencari makan. Apa aku boleh bergabung ?” Tanya jisoo kemudian.

“Ya, tentu saja” dahyun mengiyakan cepat.

Dahyun, jisoo dan hera lalu berjalan berdampingan mengabaikan baekhyun yang sedari tadi tanpa ketiganya sadari memasang wajah tidak sukanya.

Baekhyun menutup pintu mobilnya keras setibanya ketiganya kembali di halaman rumah kediaman keluarga byun. Tanpa mengindahkan hera dan dahyun yang membawa barang belanjaan mereka baekhyun terus melangkah masuk.

Dug!

Lengan baekhyun menabrak ujung meja makan saat ia beranjak menuju lemari es untuk mengambil minuman dingin.

“Yak! Siapa yang menggeser meja ini” kesal baekhyun dengan wajah bertekuknya. Pemuda itu menutup kembali lemari es dengan kasar dan menjauh dengan langkah uring-uringan.

“Tidak ada yang menggeser posisi meja makan” jawab nyonya byun terheran-heran dengan sikap baekhyun yang uring-uringan setibanya ia di rumah.

“Apa yang terjadi padamu ?” Tanya nyonya byun saat hera dan dahyun juga berada di sana.

Tidak ada jawaban dari baekhyun. Pemuda itu hanya meminum minumannya tanpa suara lalu menarik kursi dan duduk di balik meja makan yang beberapa saat lalu di tabraknya.

Hera mendekati baekhyun dan mengambil kursi di sebelahnya. “Apa ada yang sakit ?” Tanya hera peduli dengan wajah khawatirnya.

Baekhyun masih tidak bersuara. Pemuda itu mendelik kesal pada hera sesaat namun setelahnya baekhyun menaikkan lengannya dan menunjukkan sikunya yang memerah kepada hera.

Hera mendekatkan wajahnya meniup pelan siku baekhyun.

Hening.

Wajah baekhyun sedikit berubah. Ia tidak lagi terlihat kesal, tatapan baekhyun melembut seiring teduh wajah hera menghiasi maniknya.
“Oppa cemburu eomma. Tadi kami tidak sengaja bertemu dengan teman eonni. Woahhh dia benar-benar tampan eomma” cerita dahyun mengembalikan petikan kekesalan di hati baekhyun.

Baekhyun menarik lengannya kasar. Ia lalu beranjak cepat menuju kamar dan membanting pintunya keras setelahnya.

“Woahh. Oppa benar-benar cemburu” gumam dahyun tidak percaya. Ketiganya mendongak takjub ke arah atas menatap pintu cokelat yang baru saja menimbulkan deburan nyaring itu.

Nyonya byun menyentuh pundak hera sembari tersenyum hangat. “Susulah dia” suaranya yang tidak di jawab hera namun gadis itu dengan segara gadis itu beranjak menuju kamarnya.

Hera membuka pintu kamarnya perlahan. Gadis itu mendudukan dirinya pada kursi  rias di sudut ruangan. Dapat hera lihat dengan jelas baekhyun menekuk wajahnya duduk menunduk di ujung tempat tidur.

“Ada apa baek-ah?” Tanya hera lembut.

“Kau marah padaku? Apa aku melakukan suatu kesalahan?” Lanjut hera kembali bertanya.

“Ckckc, tentu saja kau salah dan kau masih bertanya ?” Suara baekhyun tersenyum masam.

Hera diam. Ia bingung karena sama sekali tidak merasa telah membuat suatu kesalahan.

“Yak! kau berpelukan dengan seorang pria lain di depan suamimu. Kau juga tersenyum manis padanya” ungkap baekhyun mengeluarkan kekesalannya.

“Kau bahkan lupa jika aku juga di sana” lanjut baekhyun dengan suara pelan.

Hera masih terdiam. Namun, sejurus kemudian gadis itu mengulas sebuah senyum di bibirnya. Entahlah hatinya terasa menghangat mendengar penuturan yang keluar dari mulut baekhyun.

“Apa kau menyukai pria itu? Atau apa dia cinta pertamamu ? Mantanmu?” Tanya baekhyun ingin tahu.

“B-bukan dia hanya sahabatku. Kami berada di kelas taekwondo yang sama sebelum kita menikah” jelas hera setelahnya

“Ahhh”

“Baek-ah apa kau cemburu pada jisoo oppa?” Tanya hera hati-hati.

“Hahh!” Baekhyun tertawa sumbang. “Aku cemburu? Tentu saja tidak. Ya lagi pula untuk apa aku cemburu” elak pemuda itu berlebihan.

“Ahhh ku kira kau cemburu seperti aku cemburu pada gadis yang selalu kau ceritakan padaku” Hera berujar lemah.

Baekhyun terdiam. Ia merasa tertohok dalam. Sejenak ingatan tentang ia yang selalu bercerita tentang seseorang terlintas di benaknya.

“Suzy ?” Tanya baekhyun kemudian.

Hera mengangguk pelan. Baekhyun nampak terkejut tapi itu tidak lama sebelum kemudian pemuda itu menahan senyum simpul di wajahnya.

“Kau tidak perlu cemburu padanya. Aku lupa bercerita padamu. Aku baru saja patah hati” kata baekhyun menatap hera lembut.
Hera mendongak menyambut lembut tatapan baekhyun dengan tatapan bertanyanya.

Baekhyun senyum “ternyata suzy sudah memiliki seorang tunangan dan tunangannya begitu tampan juga tinggi” jawab baekhyun tersenyum kecut setelahnya.

“Jadi kau tidak perlu lagi cemburu padanya”

Hera mengangguk.

“Tapi- ya, apa kau baru saja mengaku jika kau cemburu padaku ? Hhhh kenapa kau baru bilang sekarang ?”

“Itu. Itu- karena”

“Tidak apa-apa” potong baekhyun bangga. “Tapi berjanjilah mulai sekarang kau tidak boleh berpelukan dengan sembarang pemuda ?”

“Kenapa ?”

“Yak! Bisakah kau tidak perlu bertanya alasannya. Hanya bilang saja iya, apa itu susah ?” Jer baek salah tingkah.

“Maaf” hera menunduk

“Yak. Aku tidak bermaksud-”

“Iya” kata hera mengangguk.

“Eoh ?”

“Ya, aku berjanji tidak akan berpelukan dengan sembarang orang lagi kecuali appa dan kau” lanjut hera malu-malu.

Baekhyun tidak lagi dapat menahan senyumnya. Pemuda itu tersenyum simpul, ia tersenyum sembari menatap kelain arah. Membiarkan hera juga tersenyum dengan senyum yang ia sembunyikan. Hera menekan dalam kepalanya. Malam ini entah karena apa suasana kamar mereka menjadi terasa lebih hangat dari biasanya.

TBC

{Yun-Dae Couple} The War – by bebebaek_

by bebebaek_

| New Hair |

Main  cast : Kim Jongdae (EXO) & Shim Yunmi (oc)

Genre : romance

Rating : General

Don’t plagiat!!!

Sorry typo bertebaran and happy reading.

***

“Ya tuhan! Sampai kapan aku harus selalu berperang dengan diriku sendiri”

***

Drrrrttt…

Drrrrt. Drrrrt.

Ponsel berwarna rose gold milik yunmi terus saja bergetar. Entah sudah berapa puluh kali catatan panggilan tidak terjawab itu mengisi notif pada ponsel yang tergelak di atas tempat tidur sang empunya.

Drrrrrt…

Ponsel yunmi kembali bergetar sementara yunmi baru saja keluar dari kamar mandi. Yunmi menghampiri tempat tidurnya kemudian meraih dan menjawabnya.

“Oh. Chagi-ya” suara yunmi setelah sebelumnya ia menggeser tombol hijau di layar ponselnya.

“Ya, mengapa baru menjawab panggilanku ?”

“Eoh ? Aku baru saja selesai mandi. Kenapa ?” Jawab yunmi polos tanpa merasa bersalah.

“Ahh, begitu ? Pantas saja”

“Memangnya ada apa ? Apa ada hal penting ?”

“Ya. Ini sangat penting. Cepatlah bersiap-siap. Kita akan piknik”

“Piknik ?” Ulang yunmi bingung.

“Ya, kita akan piknik tapi chagi-ya. Maaf-“

“Maaf ? Kenapa ?” Tanya yunmi semakin kebingungan.

“Eumm- aku tidak bisa menjemputmu, jadi bisa kah kau pergi seorang diri ?” Tanya jongdae hati-hati.

“Kenapa ?” Tanya yunmi kali ini dengan rasa penasarannya.

“Ada beberapa hal yang harus aku urus sebelumnya” jawab jongdae beralasan.

“Yak! Kim jongdae. Jika ada hal yang perlu kau urus lalu mengapa kau mengajakku piknik ?” Bentak yunmi kesal. Ya, tentu saja. Siapa yang tidak akan kesal jika sang pacar dengan tiba-tiba mengajak piknik namun di saat itu juga mengatakan jika ia tidak bisa menjemputnya.

“Karena aku merindukanmu” jawab jongdae lembut namun penuh penekanan.

Yunmi terdiam di tempatnya. Entahlah, kalimat yang di lontarkan jongdae terasa begitu menyentuh hatinya.

“Maafkan aku” suara yunmi kemudian.

“Ya, mengapa kau harus meminta maaf” jongdae bersuara dengan nada cerianya.

“Bagaimana ? Kau bisa menyusulku seorang diri ?” Lanjut jongdae kembali.

“Tentu saja, memangnya kau ingin piknik dimana ?”

“Di belakang bukit tidak jauh dari sekolah kita dulu. Kau ingat ?”

“Eoh, ya”

“Baiklah kalau begitu aku tunggu di sana chagi-ya”

“-tunggu, chagi” tahan yunmi saat jongdae akan mengakhiri panggilannya.

“Hmmmm, ada apa ?”

“Kau tahu piknik bukan hanya tentang pergi menyusulmu tapi kita memerlukan berbagai perlengkapan-“

“Ahhh itu, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Pangeranmu sudah menyiapkan segalanya. Kau percaya padaku bukan ?”

“Ahhh! Tentu saja” seru yunmi antusias.

“Jadi- cepatlah tuan putri datang. Jangan biarkan pangeranmu ini menunggu lama”

Yunmi tersenyum di sela panggilannya. “Baiklah, aku akan berangkat sebentar lagi”

“Hmmmm, aku menunggumu”

“Hmmm. Akan ku tutup panggilannya”

“Eoh. Baiklah. Hati-hati chagi-ya”

“Eoh-“

Klik.

Panggilan keduanya terputus. Yunmi segera beranjak dari tempatnya, memilah-milah pakaian di dalam lemarinya untuk bersiap.

Tidak lebih dari tiga puluh menit yunmi telah siap dengan pakaian casualnya. Kemeja berwarna biru muda yang di padukan dengan jeans berwarna biru gelap.

Yunmi tersenyum melihat penampilannya di balik kaca besar di kamarnya. “Baiklah, aku akan pergi sekarang” gumam gadis itu seorang diri.

Yunmi segera beranjak dari kamarnya menuju tempat dimana saat ini jongdae telah menunggunya di sana.

Yunmi turun dari bus yang membawanya menuju arah sekolahnya dulu. Gadis itu melangkah menaiki tanjakan kecil bukit dimana saat sekolah menengah dulu ia dan jongdae sering pergi ke sana.

Lama yunmi berjalan dengan senyum yang setia terukir di bibirnya. Ingatan akan masa lalu saat ia dan jongdae berada di bangku sekolah menengah terasa begitu menyenangkan saat kembali terlintas di kepalanya.

Yunmi berhenti saat menyadari ia telah berada di bawah pohon besar yang saat dulu belumlah sebesar ukurannya saat ini. Gadis itu mendongak menatap rimbunnya dedaunan yang menghalangi dirinya dari sinar matahari. Sejenak yunmi menghirup dalam udara di sekitarnya.  Tidak ada yang berubah, tempat ini tetaplah menjadi tempat dengan udara segar di tengah ibu kota yang begitu padat.
Entah berapa waktu yang di lewati gadis itu sendiri sampai akhirnya ia kembali meneruskan langkahnya. Namun, baru beberapa langkah yang yunmi ayunkan gadis itu kembali berhenti saat di lihatnya sebuah pemandangan tidak jauh di depannya.

Seorang pemuda yang berbaring di atas tikar piknik dengan sebuah keranjang piknik tidak jauh dari tubuhnya. Jongdae memejamkan kedua matanya dan hal itu adalah sebuah pemandangan yang menyilaukan bagi yunmi.

Yunmi kembali menghentikan langkahnya ketika lagi-lagi pandangannya menangkap sebuah objek yang tidak biasa. Sebuah mobil berwarna biru gelap dengan atap terbuka terasa asing bagi yunmi. Ya, ini kali pertama ia melihat mobil itu.

Yunmi mengalihkan pandangannya kembali pada jongdae yang masih menutup matanya dengan ekspresi damainya.

“Ouhhh, apa dia tertidur” gumam yunmi mendalami pandangannya pada wajah jongdae.

“Oh. Yak,mengapa pemuda itu selalu mengenakan kemeja putih” protes yunmi seorang diri saat ia menyadari pakaian yang sedang di kenakan jongdae.


“Dia semakin bersinar dengan kemeja itu terlebih dengan rambut barunya. -yah, harusnya aku tidak mengatakan jika kemeja putih itu berbahaya saat di kenakan olehnya”
gerutu yunmi dalam hatinya.


“Lihatlah, ia selalu mengenakan kemeja berwarna putih dan aku- ouhhh mengapa aku harus selalu berperang batin di saat melihat penampilan seperti sekarang”

“Chagi-ya!” Panggil jongdae membuat yunmi tersentak dari lamunannya sendiri.

Yunmi menatap pemuda yang tengah menampilkan senyum merekah kepadanya. “Ouchhh ia bahkan tidak mengancing pakaiannya dengan benar. Apa dia begitu suka menggodaku sekarang ?”


“Tidak. Yunmi-ya tidak, kali ini kau tidak boleh kalah lagi. Jadilah gadis yang kuat dan jangan tergoda”
batin yunmi mantap.

“Ya, chagi-ya. Mengapa terus berdiri di sini ?” Suara jongdae setelah pemuda itu beranjak menghampiri yunmi.

“Ah, eo-h. Tidak-” jawab yunmi galagapan.

Jongdae tersenyum manis sebelum kemudian di rengkuhnya tubuh yunmi ke dalam pelukannya. Jongdae memeluk yunmi erat.

“Kau tau aku begitu merindukanmu” suara jongdae di sela pelukannya.

Yunmi membalas pelukan jongdae dengan mengusap pelan punggung pemuda itu. “Apa gadis jepang tidak ada yang mendekatimu” celetuk yunmi kemudian membuat jongdae merenggangkan pelukannya.

“Tidak ada yang secantik tuan putriku di sana” jawab jongdae dengan senyum andalannya.

“Ckckck” yunmi terkekeh geli karenanya.

“Ayo-” suara jongdae lembut sembari menggandeng halus tangan yunmi dan menuntun gadis itu menuju tikar piknik yang telah di siapkan olehnya.

Jongdae dan yunmi tengah duduk bersama di atas tikar lipat berwarna jingga. Sementara yunmi tengah sibuk membuka satu demi satu kotak bekal yang berada di dalam keranjang yang juga di siapkan oleh jongdae sebelumnya, jongdae justru terus saja menatap yunmi tanpa teralihkan barang sedetikpun.

“Apa kau begitu merindukanku hingga terus menatapku seperti itu” suara yunmi tanpa mengalihkan pandangannya dari kegiatannya.

Jongdae tersenyum lebar. “Eummm aku begitu merindukanmu. Tapi mengapa kau hanya sibuk dengan bekal itu” jawab jongdae kemudian.

Yunmi menghentikan aktifitasnya. Gadis itu berbalik dan menatap jongdae membuat keduanya duduk saling berhadapan.

“Karena aku begitu menghargai apa yang pangeranku siapkan untukku” jawab yunmi kemudian mengambil satu buah sandwich dan mengigitnya.

Jongdae tersenyum bahagia. “Kau menyukainya ?” Tanya pemuda itu kemudian.

“Tentu saja. Aku selalu menyukai masakan namjachingu-ku ini”

“Bagaimana ? Enak ?” Tanya jongdae lagi dan yunmi hanya mengangguk antusias sebagai jawabannya.

“Aigoo… lihatlah cara makanmu” kata jongdae membersihkan sudut bibir yunmi dari remah roti. Jongdae menatap yunmi sesaat sebelum ia menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajah yunmi dan menariknya.

Jongdae mendaratkan banyak kecupan di wajah gadisnya itu. Dari bibir, kening, kedua sisi pipi, ujung hidung dan kembali ke bibir yunmi kembali.

“Hmmmm, -yak” suara yunmi setelah jongdae mendaratkan ciuman bertubinya.

“Sudahku katakan aku begitu merindukanmu” jawab jongdae dengan wajah tanpa dosanya.
“Ckckc, kau mencuri ciumanku” gerutu yunmi dengan wajah kesal di buat-buatnya.

Jongdae tertawa. “Itu karena sedari tadi kau tidak menciumku. Apa kau tidak merindukanmu ?” Tanya jongdae kemudian.

“Hmmmm- entahlah ku rasa-“

“Kau pasti sangat. Sangat. Sangat merindukanku” potong jongdae merebahkan kembali punggungnya. Pemuda itu kemudian merentangkan kedua tangannya.

“Kemarilah peluk aku” suara jongdae lagi.

“Hmmmm, cham- dasar” gumam yunmi sebelum kemudian ia menghambur kepelukan jongdae.

“Hhaaa begini lebih terasa nyaman bukan ?” Suara jongdae mendekap erat tubuh yunmi yang jauh lebih kecil darinya.

“Yak, bukankah ini memalukan ?” Tanya yunmi kemudian.

“Kenapa ?”

“Tidak. Hanya saja- terasa memalukan”

“Eyyy tidak ada seorangpun orang lain di sini”

“Yak, apa yang kau katakan ?” Suara yunmi bersemu membuat jongdae lagi-lagi mengeluarkan tawanya.

“Chagi-ya ?” Panggil yunmi kemudian.

“Hmmmm”

“Bagaimana urusanmu di jepang, apa berjalan lancar ?”

“Tentu saja harus berjalan lancar” jawab jongdae membuat yunmi mengangkat kepalanya dan menatap jongdae dengan tatapan bertanyanya.

“Karena jika semuanya tidak lancar maka aku akan semakin lama di sana dan semakin lama memendam rinduku” jawab jongdae membenturkan kening keduanya.

Ada jeda hening diantara keduanya sebelum kemudian tangan bebas yunmi tanpa sengaja menyentuh dada jongdae yang tidak tetutup karena kemeja yang tidak di kancingkannya sepenuhnya.

“Yak, mengapa kau berpakaian seperti ini ?”

“Hmmmm seperti ?”

“Mengapa tidak mengancingkan kemejamu dengan benar ?” Kata yunmi lagi sembari bangkit yang juga di ikuti oleh jongdae kemudian.

“Sekarang musim panas chagi-ya”

“Walaupun musim panas tetap saja-, apa kau mau gadis di luar sana juga melihatnya ?”

“Yahhh, kau cemburu ? Aku begitu lama tidak melihatmu cemburu. Ahhh bahagia rasanya melihatmu kembali cemburu”

“Tidak. Aku tidak- cemburu”

“Eyyy, katakan saja” goda jongdae kembali menautkan kedua lengannya di pinggang yunmi. Jongdae kembali mendaratkan ciuman kilatnya di bibir yunmi.

“Yak!” Suara yunmi kesal.

“Itu karena kau tidak juga memberiku ciuman sedari tadi” suara jongdae sembari merengut manja.

“Chagi-ya, kau ingin pergi kemana malam ini ?”

“Kenapa ?”

“Aku akan mengantarmu kemana saja. Kau tidak lihat itu” jawab jongdae menunjuk ke arah mobil di depan keduanya.

“Apa itu mobilmu ?”

“Yak, pertanyaam macam apa itu ?” Tanya jongdae sembari terkekeh geli.

“Tentu saja itu mobilku. Kau tau ? Pangeranmu tidaklah pangeran berkuda putih tapi pangeran dengan sebuah mobil dark bluenya” kata jongdae bangga.

“Ckckk, dasar-“

“Karena itu berikan aku ciumann” desak jongdae kemudian.


“Tidak. Tidak. Yunmi-ya, kau harus kuat” batin yunmi kembali bersuara.

“Chagi-ya”


“Tidak. Aku harus kuat”

“Chagi…”


“Ouchhh mengapa aku harus berperang dengan diriku sendiri”

“Chagi”

Chu~

Jongdae lagi-lagi mengecup satu sisi pipi yunmi dan itu semakin membuat yunmi gelagapan seorang diri.

“Eoh. Eoh. Chagi-” desak jongdae tanpa pitus asa.


“Oh. Astaga! Ya, jongdae-ya mengapa kau selalu membuatku harus berperang batin seperti ini”
batin yunmi dalam.

“Chag-“

Jongdae tidak lagi dapat melanjutkan suaranya karena belum selesai kalimat yang akan di ucapkannya lolos bibir pemuda itu lebih dahulu di bungkam oleh yunmi.

Ya, pada akhirnya yunmi kembali menyerah. Gadis itu lagi-lagi kalah dalam peperangan melawan dirinya sendiri. Entahlah, sebulat apapun tekadnya untuk tidak tergoda tapi jongdae pemuda bersinar di depannya saat ini selalu menyilaukannya.


“Persetan dengan peperangan itu. Aku kalah. Ya, aku selalu kalah akan kilau yang selalu keluar darimu setiap harinya”

Fin

Hahahhaha😂 bebeb kembali hadir lagi-lagi karena efek dari blondenya chen.

Oh astaga! Kenapa tiser dia so sekseh sih… kemeja putih. Kancing terbuka. Mata meremnya. Sudut bibirnya. Ughhhh siapa yang gak lemah coba.

Silau! Kalau kata seseorang sih😄😄

Gimana kalian silau gak ??

Semoga suka ya.

bebebaek_

Crush On You – Prolog

by bebebaek_

Main cast : Kim Jongdae (EXO) & Shim Yunmi (oc).

Genre : romance.

Length : Ficlet | Rating : General.

Happy Reading

***

‘Yunmi-ya, aku ingin melamarmu’

Bagai di terpa hembusan badai angin di tengah-tengah tanah lapang, yunmi merasa jiwanya tidak lagi berada di dalam raganya.

Apa baru saja ia salah membaca atau tiba-tiba saja penglihatannya bermasalah ?. Tidak. Yunmi bahkan telah berkali-kali melihat dan membaca ulang isi dari pesan chat di ponselnya.

Dari seseorang yang tidak asing baginya namun juga tidak terlalu di kenalnya.

Kim Jongdae.

Yunmi tahu pasti siapa pemilik nama itu dan ia juga yakin jika kontak yang mengiriminya pesan tersebut memanglah kontak jongdae yang sebenarnya.

Yunmi memang mengenal jongdae. Keduanya berada di kelas yang sama selama dua tahun semasa sekolah menengah. Keduanya memang tidak begitu dekat. Jongdae dan yunmi hanyalah teman satu kelas yang berinteraksi sebagaimana teman pada umumnya.

Hanya saling menyapa. Selain itu keduanya akan berinteraksi jika itu berurusan dengan tugas dan seingat yunmi itupun hanya satu kali saat keduanya berada di kelompok yang sama dalam pelajaran bahasa asing.

Jongdae hanyalah siswa biasa di ingatan yunmi. Pemuda pendiam dan pintar. Ya, itu terbukti dengan hanya ialah siswa laki-laki satu-satunya yang berhasil memasuki posisi lima besar dalam peringkat kelas.

Ya, yunmi juga ingat jongdae adalah salah satu saingan kuat untuknya meraih posisi juara kelas.

Jongdae tidaklah semenawan sehun yang selalu menjadi pusat perhatian di kelasnya. Tidak selincah baekhyun yang selalu membuat keributan dan tidak juga sebrengsek chanyeol yang selalu mengumbar rayuan kemana-mana.

Jongdae hanyalah siswa biasa. Siswa yang duduk di kursi pojok nomer dua di samping dinding kelas.

Tapi apa ? Apa dia bercanda ? Setelah hampir berbulan-bulan lamanya sejak interaksi keduanya terakhir kali tiba-tiba jongdae mengiriminya sebuah pesan ingin melamar. Apa pemuda itu sedang mabuk atau ia dengan sintingnya mengejek yunmi yang notabene begitu terkenal dengan status jomblo kronisnya.

Ya, siapa yang tidak tahu status yunmi. Predikat jomblo kronis itu telah tersemat pada dirinya sejak ia berada di tahun terakhir masa sekolah dan itu terus berlanjut hingga predikat sebagai dokter ahli bedah tersemat di balik namanya. Karena statusnya yang selalu jadi bahan ejekan itulah yang membuat yunmi selalu berpikir panjang setiap kali ia mendapat undangan reuni sekolah.

Yunmi selalu dilema. Tentu saja, setiap kali ia hadir dalam acara yang di adakan satu tahun sekali itu jika ia hadir maka ia selalu jadi bahan olok-olok temannya. Entah itu pertanyaan kapan menikah ? Pacar ? Atau sekedar menanyakan siapa gebetan yunmi saat ini dan itu sangat memuakkan bagi yunmi.

Tapi, jika ia tidak berhadir. Hal yang sama juga akan terjadi, teman-temannya pasti bertanya alasan mengapa ia tidak hadir. Dan tentu saja mereka tidak akan percaya dengan alasan yunmi jika itu menyangkut pekerjaan. Teman-temannya pasti akan menuduhnya kembali tentang status dan pasangan.

Lalu bagaimana dengan jongdae ? Setahu yunmi pemuda itu juga tidak pernah membawa pasangannya setiap kali mereka mengadakan reuni. Pemuda itu juga tidak pernah memasang foto dengan wanita manapun.

Yunmi ingat jongdae pernah berkata padanya lewat pesan chat sewaktu keduanya baru memasuki dunia kerja. Ya, pemuda itu sempat berujar hanya ingin fokus bekerja dan menyiapkan segala sesuatu untuk masa depannya.

“Apa jangan-jangan……” yunmi bergumam seraya memandang layar ponselnya penuh terawang. Ya, interaksinya dengan jongdae memang tidak terlalu sering. Tiga bulan bahkan enam bulan sekali bisa jadi hanya sekali jongdae menghubunginya lewat pesan chat dan itupun hanyalah chat sapaan layaknya hubungan pertemanan.

Ingatan yunmi melayang pada saat-saat dimana ia akan memasuki masa perkuliahan.

*flashback on*

Yunmi telah selesai merapikan kamar kostnya yang mulai saat ini akan ia tinggali selama ia menempuh perkuliahan di luar kota jauh dari kedua orang tuanya.

Yunmi menyalakan laptopnya berencana akan menonton drama yang ia ikuti satu bulan terakhir. Menunggu layar persegi itu menyala, yunmi bangkit dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidurnya.
Alis yunmi meengernyit saat menemukan notif pesan chat di ponsel yang tengah ia pasangkan mode hening itu. Tanpa pikir panjang yunmi menyentuh ikon aplikasi chat tersebut.

‘ yunmi-ya, selamat. Kau benar-benar luar biasa. Akhirnya aku mempunyai teman calon dokter ‘ isi pesan chat yang tidak lain dari jongdae.

Tidak ada hal yang mengganjal dari pesan tersebut. Bukankah tidak salah jika seorang teman mengucapkan selamat kepada temannya ?.

‘ ya, terima kasih. Kau juga selamat bisa masuk di jurusan teknik industri. Woaaah itu pasti akan sangat melelahkan ‘ balas yunmi kala itu.

‘ hahaha. Yang pasti mungkin rambutku akan menipis ‘

‘ oh. Sudah dulu ya, aku harus masuk kelas. Siswa baru harus menunjukkan semangatnya bukan ? ‘

‘Ckckck, dasar. Semangatlah’

*flashback end*

Yunmi menggelengkan kepalanya pelan. Ia rasa tidak ada yang salah dengan masa itu. Lalu fokusnya kembali tertuju pada layar ponsel yang berisi pesan tentang lamaran itu.

“Hha! Tidak. Tidak mengapa aku menyentuhnya. Oh astaga aku harus bagaimana ? Jongdae akan tahu jika aku telah membaca pesannya” pekik yunmi panik karena tanpa sengaja ia membuka pesan chat dari jongdae.

“Hmmmm jika semasa sekolah ia biasa-biasa ja dan di awal perkuliahan ia juga terlihat tidak memiliki motif apapun apa mungkin…” yunmi bergumam sembari kembali melayangkan pikirannya pada masa tahun terakhir perkuliahannya.

*flashback on*

Yunmi menghempaskan tubuhnya di atas empuk tempat tidur sepulangnya ia dari kampus yang benar-benar melelahkan. Ya, ia telah berada di akhir smester dan tengah sibuk melakukan revisi untuk hasil penelitiannya.

Yunmi meraih ponsel di dalam tasnya, membukanya lalu mengecek salah satu aplikasi chat dan yunmi menemukan jongdae telah mengganti foto profilnya. Pemuda itu terlihat tersenyum renyah dengan memakai toganya.

Yunmi lantas mengklik untuk mengirim sebuah pesan pada pemuda itu. ‘ Ouchhh senangnya yang sudah terbebas dari segala revisi ‘ tulis yunmi kemudian.

‘ hahaha. Semangatlah. Kau juga akan melewati tahap ini ‘ balas pemuda itu.

Yunmi tersenyum kecut membacanya. ‘ oh ya, selamat telah menjadi juara umum dengan nilai terbaik. Aku benar-benar iri padamu ‘

‘ terima kasih dan aku yakin kau juga akan mendapat nilai terbaik ‘

‘ semoga saja. Jongdae-ya ? Bagaimana perasaanmu setelah lulus ? Dan apa yang akan kau lakukan sekarang ? ‘ tanya yunmi yang tiba-tiba penasaraan.

‘ tidak ada yang berbeda. Hanya merasa lega.  Dan tentang apa yang aku lakukan setelahnya, tentu saja aku akan berkerja ‘

‘ bekerja ? Apa kau sudah mendapat pekerjaan ? Secepat itu ? ‘ tanya yunmi lagi.

‘ ya, aku mendapat beberapa tawaran dari beberapa perusahaan sebelumnya dan sepertinya aku sudah menemukan perusahaan mana yang cocok denganku ‘

‘ woahhh aku benar-benar ini denganmu jongdae-ya. Baiklah karenamu aku jadi semangat untuk mengerjakan revisiku ‘

‘ Ohh semangatlah ‘

Beberapa bulan berselang dan tibalah hari di mana akhirnya yunmi juga dapat mengenakan toganya. Dan seperti apa yang jongdae katakan sebelumnya, benar saja yunmi mampu meraih nilai terbaik sama seperti pemuda itu.

Seharian ini tidak terasa melelahkan bagi yunmi, gadis itu terus tersenyum akan pencapaian yang di perolehnya dan saat kini ia telah berbaring di tempat tidur rumahnya. Yunmi lantas mengambil ponsel dan mengganti fotonya sekedar berbagi kebahagian dengan memasang foto wisudanya.

Ting!

Sebuah notif tiba-tiba masuk tidak lama setelah yunmi memasang fotonya. Maka dengan senyum merekah gadis itu membuka pesan tersebut.

‘ apa kataku, benar bukan kau juga mendapat nilai terbaikmu. Selamat yunmi-ya ‘ pesan jongdae yang semakin membuat senyum yunmi mengembang karenanya.

‘ oh ya, apa yang kau dapatkan dari universitasmu ? ‘ tanya jongdae kemudian.

‘ tidak ada, hanya sebuah tropi dan piagam. Kau ? Apa kau mendapat uang pesangon ? ‘ balas yunmi yang tiba-tiba saja mengerti maksud jongdae. Ya, mereka memang biasa membahas uang pesangon jika meraih juara karena semasa sekolah di sekolah keduanya setiap juara akan mendapatkan uang pesangon.

‘ hahahha, ya. Ternyata tentang itu aku jauh lebih beruntung darimu ‘

‘ yahhh kau benar-benar beruntung ‘

‘ jadi apa kau sudah memikirkan akan bekerja di mana ? ‘ tanya jongdae kemudian.

‘ entahlah, sepertinya tentang hal itu aku juga harus iri kepadamu. Tidak ada rumah sakit yang menawarkan pekerjaan kepadaku ‘

‘ Heyyy tenanglah, kau memilik modal yang cukup bagus. Dengan nilai terbaikmu kau bisa memilih rumah sakit mana yang ingin kau lamar ‘

‘ oh iya, sepertinya aku tahu salah satu rumah sakit yang bagus. Kau bisa mengajukan diri di sana ‘

‘ Ya, ku rasa aku bisa mencobanya ‘

‘ semangatlah, tidak perlu rumah sakit yang bagus untuk menjadi tempat bekerja tapi pengabdianmulah yang akan menentukan suksesmu. Bukan begitu ibu dokter ? ‘

‘ Hahahha. Kau bisa saja. Ya, baiklah. Mulai sekarang aku akan mencari di mana rumah sakit yang benar-benar memerlukan jasaku ‘

‘ nah begitu terdengar lebih baik ‘

‘ terima kasih, jongdae-ya ‘

*flasback end*

Yunmi kembali mengehela nafasnya. Bahkan saat itupun terasa tidak ada tanda-tanda jika pemuda itu tertarik padanya.

“Bahkan setelah itu ia tidak pernah menghubungiku lagi. Yahh bagaimana itu bisa di katakan tertarik” kata yunmi bicara seorang diri.

“Oh! Tidak. Setelah hari itu jongdae pernah menghubungiku lagi ya satu kali walaupun hanya satu kali” ingat yunmi lagi.

*flasback on*

Yunmi terus berjalan menuju ruangannya. Hari ini terlalu banyak jadwal operasi untuknya hingga membuat wajah gadis itu nampak begitu kelelahan.

Yunmi duduk di balik kursinya. Ia lalu merogoh ponsel di saku jas putihnya. Yunmi menekan ikon permainan yang beberapa hari yang lalu sempat ia instal di ponselnya.

Beberapa menit berlalu. Yunmi nampak tersungut-sungut karena kesal terhadap permainan yang akan menjawab segala bentuk pertanyaannya.

Yunmi lalu menscreenshot permainan tersebut lalu iseng ia posting di salah satu jejaring sosialnya. Tidak berselang detik yunmi menemukan notif komen pada postingannya tersebut.

Dari jongdae.

‘ kau juga memainkan permainan ini ? ‘

‘ ya, sekedar untuk melepas penat tapi ternyata permainan ini justru menambah penatku ‘

‘ hahaha. Ya, permaianan ini memang terkenal dengan mengesalkannya. Teruslah bermain maka kau akan semakin kesal ‘

‘ tidak. Aku akan menghapusnya ‘

‘ apa kau sedang istirahat ? ‘

‘ mmmm ya ‘

‘ jangan lupa makan siangmu. Aku harus kembali bekerja ‘

*flashback end*

Ting!

Ting! Ting!

Lamunan yunmi buyar kala bunyi notif mengejutkannya.

Bola mata yunmi terbuka sempurna saat mengetahui dari siapa pesan yang masuk di ponselnya.

‘ yunmi-ya, kau tidak sedang berada di ruang operasi bukan ? ‘

‘ Heyy ‘

‘ yunmi-ya ‘

Gelagapan yunmi mengetik deretan huruf di ponselnya. Gadis itu terlalu bingung harus membalas apa.

‘ tidak ‘ balas yunmi singkat.

‘ kau membaca pesan dariku sebelumnya bukan ? ‘ tanya pemuda itu membuat rasa gugup yang menerpa yunmi semakin menjadi-jadi.

‘ ya ‘

‘ jadi, kapan kau inginku lamar ? ‘

Tubuh yunmi seketika menegang, kedua kakinya terasa lemas. Apa dia benar-benar tidak bermimpi ?. Yunmi merasa pikiran terasa kosong saat ini. Sungguh ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.

TBC

It This Love ? – Chapter 4

by bebebaek_

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

Main cast : Byun Baekhyun & Z.Hera.

Genre : romance.

Length : Ficlet | Rating : General.

-aku yang masih gamon berkelanjutan sama ini couple. Di ambil dari beberapa adegan drama moon lovers : scarlet heart ryeo dan di adaptasi ke zaman modern. Murni imajinasi aku ya, don’t plagiat. Bikin cerita itu susah!-

Happy reading

***

Final test semester telah selesai sejak dua hari yang lalu namun perkuliahan belum juga di liburkan. Tentu saja alasannya adalah belum keluarnya nilai akhir untuk seluruh mahasiswa.

Hera terus melangkah tanpa tujuan di sepanjang koridor lantai dua kampusnya, tidak ada yang harus di kerjakannya selain menunggu beberapa nilai mata kuliah yang menurut kabar akan di keluarkan hari ini.

Langkah hera berhenti tepat di depan ruang vokal dimana pintunya tidak tertutup rapat, meski sedikit ragu hera akhirnya melangkah masuk. Kedua bola mata hera mengedar ke seluruh ruangan. Sepi, tenang dan hera merasa nyaman di sini. Ia terus melangkah menuju sebuah piano yang terletak di ujung ruangan.

Langkah hera berhenti saat ia berada tidak jauh dari piano di depannya tepatnya karena jongdae yang duduk di balik piano itu.

“Annyeong hera-ssi” sapa jongdae sesaat setelah ia menyadari kehadiran hera yang baru saja menginjakkan kakinya di ruang tersebut.

“Ahh. Maaf jika aku mengganggmu-” kata hera tidak enak karena masuk tanpa permisi.

 Jongdae tersenyum ramah. “Tidak apa-apa, lagi pula ruang ini adalah tempat umum aku tidak memiliki hak untuk melarang siapapun masuk ke sini” jawab jongdae setelahnya.

“Apa kau ada keperluan ?” Tanya jongdae kemudian.

“Tidak. Aku hanya berkeliling” jawab hera canggung. “Eumm jongdae-ya, soal waktu dulu-, itu maafkan aku” lanjut hera kembali meminta maaf atas apa yang di lakukannya pada jongdae di waktu keduanya masih kecil.

Jongdae lagi-lagi jongdae tersenyum. “Santailah hera-ya, mau berapa kali kau meminta maaf ? Aku bahkan sudah melupakannya”

Hera ikut tersenyum, lalu manik gadis itu beralih fokus pada piano di depan jongdae. “Kau pandai memainkannya ?” Tanya hera kemudian.

“Ah ini, sebenarnya aku tidak terlalu jago dalam memainkan alat musik” aku jongdae. “Alat ini suamimu itu yang jago memainkannya” celetuk jongdae lagi.

“Ah benarkah ? Aku tidak tahu tentang itu” kata hera rendah.

“Ya, kapan-kapan kau minta saja baekhyun untuk menyanyikan sebuah lagu untukmu”

“Ku rasa dia tidak akan mau” jawab hera dengan suara pelannya namun dapat jongdae dengar dengan jelas.

“Maaf- aku tidak bermaksud-” sadar jongdae kemudian akan hubungan baekhyun dan hera. Ya, jongdae menyadarinya dari perubahan wajah hera.

“Eumm apa kau ingin belajar memainkannya ?” Jongdae berusaha mengubah atmosfir yang telah berubah tidak mengenakkan. “Jika itu tentang hal dasarnya saja ku rasa aku bisa mengajarkannya padamu” lanjut jongdae dengan senyum merekah.

“Benarkah !?” Seru hera antusias kedua manik matanya bahkan berbinar senang.

“Ya, jika kau berjanji tidak akan menertawakan kemampuanku” celetuk jongdae yang di angguki hera antusias.

“Kalau begitu kemarilah” suara jongdae menepuk sisi kosong kursi di sampingnya memberi isyarat pada hera untuk duduk di sana.

Tanpa berpikir sedikitpun hera segera beranjak dan duduk tepat di samping jongdae berbagi kursi yang sama berdua. Jongdae mulai mengajari hera saat tiba-tiba pintu ruangan di depan mereka kembali terbuka.

Minseok dan baekhyun yang melangkah dengan saling berangkulan memasuki ruang vocal menghentikan langkah mereka bersama saat mendapati hera dan jongdae yang bahkan tidak menyadari kedatangan keduanya.

“Ehem!” Dehem minseok sengaja untuk menyadarkan jongdae dan hera akan keberadaan mereka.

“Eoh! Kalian sudah datang” suara jongdae tanpa dosa setelah melihat baekhyun dan minseok berdiri di depan mereka.

“Apa yang kalian lakukan di sini ?” Tanya minseok kemudian.

“Ah ini- hera secara tidak sengaja ke sini di saat aku menunggu kalian dan untuk mengisi waktu aku sedikit mengajarinya dasar-dasar bermain piano” jawab jongdae jujur namun itu justru membuat seseorang yang sedari tadi berdiri tanpa bersuara sepatah katapun di samping minseok mengepalkan kedua tangannya tidak suka.

Rahang baekhyun mengeras terlebih saat ia mendapati hera yang saat ini justru tengah tersenyum bersemu di depan orang lain. Baekhyun tidak suka. Ya, baekhyun benci melihat hera merona untuk orang lain.
“Ahh!! Jadi begitu. Kalian tidak sengaja bertemu!” Kata minseok nyaring berusaha mencairkan suasana yang mungkin hanya minseoklah yang menyadari perubahan raut baekhyun.

“Ikut aku-” kata baekhyun singkat. Baekhyun menarik keras lengan hera dan membawanya keluar dari ruangan tersebut.

“Yak! Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan?” Celetuk minseok mendelik tajam pada jongdae selepas baekhyun dan hera pergi.

Jongdae hanya tersenyum miring menanggapi pertanyaan minseok. “Dia jatuh cinta. Tapi begitu gengsi untuk mengakuinya” ujar jongdae menatap pintu terbuka di depannya.

“Yak, baek-ah lepaskan. Ini sakit” ringis hera sepanjang koridor. Baekhyun menariknya dengan cengkraman begitu kuat pada lengan kanannya.

Baekhyun menghempaskan kasar lengan hera dari cengkramannya setelah keduanya berada di ujung lorong yang begitu sepi. Tatapan baekhyun jelas terlihat berbeda, dingin menahan amarah.

Hera meringis pelan, gadis itu mengusap lengannya yang terasa perih saat baekhyun bersuara tajam “apa kau ingin mempermalukanku ?”

Hera mendongak menatap baekhyun yang kini menodongnya dengan tatapan seolah akan mengulitinya hidup-hidup.

“Apa yang kau lakukan ?” Suara baekhyun lagi tegas.

Hera mengernyit sesaat. Ia tidak pernah melihat ekspresi baekhyun seserius saat ini. “Apa kau tuli ? Ku tanya apa yang kau lakukan di sana!?” Suara baekhyun mengeras. Baekhyun tidak lagi dapat menahan amarahnya terlebih saat gadis di depannya diam seolah tidak mengerti apa-apa.

Hera tersentak. Sekasar apapun baekhyun padanya baru kali ini hera mendengar nyaring pemuda itu membentaknya. Hati hera terasa di paksa keluar dari tempatnya.

“Ak-u hanya tidak se-ngaja masuk dan-“

“Dan kau memintanya mengajarimu- hahhh!! Kau- ? Apa merubah targetmu sekarang ?” Potong baekhyun.

“Yahhh sekarang aku tahu bagaimana dirimu sebenarnya. Kau berlagak tidak tahu apapun, kau tidak hanya seorang preman tapi juga gadis-“

“Cukup!” Pekik hera tidak tahan akan segala tuduhan yang di lontarkan baekhyun kepadanya. Hera tidak sanggup sungguh ia tidak ingin mendengar kalimat yang lebih pahit keluar dari mulut pemuda yang selama ini di sukainya.

“Tidak bisakah kau mendengar apa penjelasanku ? Selama ini kau hanya percaya pada apa yang kau yakini. Apapun yang aku katakan akan selalu salah karena kau selalu menganggap aku dan kehadiranku memanglah sebuah kesalahan sejak awal” kata hera dengan perasaan yang bergemuruh. Dadanya terasa sesak dan kedua matanya terasa memanas menahan bendungan air matanya.

“Kau tidak perlu menjadikan kejadian ini sebagai sebuah alasan. Mempermalukanmu ? Tidak baek-ah aku tidak pernah berniat sekalipun untuk mempermalukanmu. Hanya kaulah selama ini yang malu akan keberadaanku”

“Dan seandainya aku memintamu mengajariku, apa kau yakin kau mau mengajariku ?” Lanjut hera lemah. Hera kemudian beranjak pergi meninggalkan baekhyun yang diam dengan sisa-sisa amarahnya. Dapat baekhyun lihat dengan jelas gadis itu menyeka kasar air matanya di sela laju langkahnya. Hera menangis dan itu karenanya.

~

“Besok kalian akan berangkat ke pulau jeju pukul 09.00, jadi persiapkan barang-barang kalian dan jangan sampai terlambat” suara nyonya byun di sela aktifitas mengunyahnya.

“Woahhh oppa dan eonni benar akan berbulan madu di jeju ?” Tanya dahyun antusias.

“Eomma! Apa aku boleh ikut ? Aku juga ingin berlibur” lanjutnya kemudian.

“Tentu saja tidak. Kau hanya akan mengganggu mereka” sahut nyonya byun cepat.

Dahyun menekuk wajahnya. “Kalau begitu oppa, eonni tolong bawakan aku seorang keponakan setelah kalian kembali nanti” celetuk dahyun kembali.

 Tuan dan nyonya byun yang mendengar ucapan dari putri bungsu mereka ikut tersenyum antusias. “Hahaha. Benar baek-ah, appa juga sudah tidak sabar ingin menggendong cucu appa” kata tuan byun ikut menimpali.

“Eommapun begitu, kalian harus berusaha keras di sana eoh” lanjut nyonya byun menatap keduanya bergantian.
Sementara semua orang di ruang makan itu begitu antusias. Hal berbeda justru terlihat pada baekhyun dan hera, keduanya tidak lagi berbicara sejak hari itu. Hera ingin baekhyun sadar akan kesalahannya. Dan baekhyun yang sama sekali tidak ingin di salahkan. Keduanya berdiri di atas ego masing-masing.

Pagi ini saat matahari masih tertutup tebalnya awan musim dingin baekhyun dan hera telah berada di Gimpo Airport Seoul untuk menunggu penerbangan menuju pulau jeju.

Keduanya berdiri di depan dua buah koper yang beberapa saat lalu di keluarkan oleh supir tuan byun. Ya, mereka pergi hanya di antar oleh sang supir keluarga. Tuan dan nyonya byun serta dahyun hanya menghantarkan keduanya hingga depan pintu rumah mereka.

Baekhyun menarik koper berwarna hitam miliknya kemudian berjalan tanpa sepatah katapun meninggalkan hera yang masih berdiri menatap sekelilingnya. Hera yang mendapati pergerakan baekhyun hanya bisa mencibir tertahan lalu ikut menarik kopernya dan mengikuti langkah panjang baekhyun.

Hera kembali kesusahan saat keduanya telah berada di dalam pesawat. Hera yang ingin memasukkan ranselnya ke dalam kabin nampak kesusahan karena tingginya. Sesekali hera melirik baekhyun yang nampak sama sekali tidak peduli padanya. Lagi-lagi hera hanya dapat mendengus kesal sebelum seorang pramugari menghampirinya dan membantunya meletakkan ranselnya.

“Terima kasih” suara hera berterima kasih sebelum sang pramugari beranjak pergi. Hera kemudian duduk di kursinya tepat di sebelah baekhyun yang benar-benar mengabaikannya. Hera tidak peduli, kali ini ia tidak ingin kembali mengalah.

Baekhyun dan hera telah tiba di pulau jeju setelah melewati penerbangan selama kurang lebih satu jam. Kini keduanya telah berada di salah satu kamar hotel ternama di pulau jeju.

Baekhyun melangkah lebih dulu sembari melepas coat tebal di tubuhnya dan meletakkan di atas tempat tidur pemuda itu lalu beranjak menuju kamar mandi.

Hera masih berdiri di depan pintu kamar mereka. Manik gadis itu meniliti setiap sudut kamar. Wajah hera terlihat gelisah pasalnya di dalam kamar ini hera tidak menemukan satupun sofa atau kursi.

Hera beranjak melangkahkan kakinya menuju salah satu lemari. Hera membuka lemari itu berharap menemukan tambahan selimut di dalam sana namun sepertinya hera hanya dapat menghembuskan nafasnya berat. Tidak ada apapun di dalam lebari tersebut selain rak-raknya yang masih kosong.

“Bagaimana aku tidur…” keluh hera dalam hati.

Baekhyun keluar dari dalam kamar mandi setelah ia selesai membersihkan dirinya. Ia beranjak menuju kopernya untuk mengambil beberapa pakaian dan meletakkannya di dalam lemari.

Baekhyun membuka lemari satu-satunya di dalam kamar tersebut dan menemukan susunan pakaian dan barang-barang hera yang sudah tertata rapi di salah satu sisi raknya. Baekhyun lalu memalingkan wajahnya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar. Ia tidak menemukan hera di manapun.

“Kemana dia ?” Gumam baekhyun pelan.

Baekhyun memperhatikan semua barang-barang hera dan ia tersadar jika tas kecil yang semalam sempat ia lihat di masukkan gadis itu ke dalam kopernya tidak ada.

“Ckck, apa dia telah pergi seorang diri ? Bahkan di tempat yang baru pertama kali ia kunjungi ia berani- hhhh apa peduliku. Dia bisa menjaga dirinya sendiri lagipula dia preman” kata baekhyun sembari meletakkan barang-barangnya.

Ceklek.

Pintu kamar kembali tersebuka. Hera memasuki kamar dan menemukan baekhyun yang telah tertidur di atas tempat tidurnya.

“Apa dia tidak lapar ? Dia tidak memakan apapun sejak di pesawat tadi” gumam hera menilik teduh wajah tidur baekhyun. Hera lalu meletakkan kantong plastik belanjaannya di atas meja dan bergerak mengambil jaket tebal lain miliknya di dalam lemari.

Hera berbaring tepat di sisi bawah tempat tidur dan menutup separuh tubuhnya dengan jaket tebal miliknya.

“Oh dinginnya” pekik hera pelan saat ia telah berbaring di atas lantai telanjang kamar hotel.
Baekhyun mengerjap samar saat sinar matahari menelusup mengusik tidurnya di balik tirai tertutup kamar. Baekhyun merentangkan kedua tangannya saat maniknya menemukan hera yang masih menutup kedua bola matanya rapat, tidur tanpa beralas apapun di bawah tempat tidur.

Seketika perasaan baekhyun di dera angin yang meharu biru di dalam hatinya. Melihat damai wajah hera membuatnya merasa bersalah telah mengabaikan, bersikap seenaknya dan berlaku kasar pada gadis yang tidak bisa baekhyun pungkiri adalah isterinya. Baekhyun tahu kejadian tempo hari murni kesalahannya namun, lagi-lagi pemuda itu tidak ingin mengalah pada egonya.

“Yak, bangun. Apa kau ingin tetap tidur seperti itu ?” Suara baekhyun pertama kalinya menyapa rungu hera sejak hari itu.

“Kau tidak bangun ? Yak. Yak! Bangunlah” suara baekhyun lagi saat pemuda itu akan beranjak menuju kamar mandi.

“Jika kau tidak bangun sampai aku selesai mandi. Kau akan ku tinggal berjalan-jalan sendiri” lanjut baekhyun sebelum ia menghilang di balik pintu kamar mandi.

Hera membuka matanya sembari menahan senyum saat di dengarnya suara pintu yang telah tertutup. Hati hera terasa ringan saat mendengar suara baekhyun berbicara padanya dan bukan dirinya yang memulai tapi baekhyun sendiri.

“Baek-ah ini” suara hera setelah keduanya di selimuti keheningan kembali.

Baekhyun menyambut lembar kertas yang di sodorkan hera kepadanya. “Woahhh ternyata eomma benar-benar serius merencanakannya” suara baekhyun setelah ia selesai membaca isi dari lembaran kertas tersebut.

Hera menatap baekhyun dengan tatapan ingin tahunya. “Ini-” ujar baekhyun menunjuk pada baris pertama kolom pada kertas itu.

“Kita lewati saja wisata ke Jeju Loveland ini” lanjut baekhyun setelahnya.

“Kenapa ?” Tanya hera bingung. “Dari namanya sepertinya itu adalah tempat yang bagus”

“Tidak. Di sana tidak ada apa-apa, membosankan. Ya- kau pasti akan menyesal jika pergi kesana” kata baekhyun meyakinkan. Bukan karena apa-apa, baekhyun tahu betul apa yang di suguhkan di sana dan ia tidak dapat membayangkan bagaimana jika pergi ke tempat seperti itu bersama hera.

“Eomma memang benar-benar…” batin baekhyun.

“Lalu- Museum Taddy Bear kita juga akan melewatinya lagi pula kau seorang preman mana pantas pergi ke tempat seperti itu” lanjut baekhyun terlalu lancar berujar. Baekhyun kemudian terdiam dan mencuri lirik pada hera yang telah menunduk sembari menekuk wajahnya.

Baekhyun sadar ia kembali menyinggung hera dengan kata-kata yang bagi baekhyun sudah menjadi kebiasaan baginya.

“Baiklah kita akan pergi ke tempat ini” suara baekhyun canggung namun sejurus kemudian menerbitkan senyum di wajah hera yang sekarang kembali ceria.

Luasnya museum yang menyuguhkan segala macam bentuk boneka beruang dan ukurannya yang bermacam-macam telah keduanya kelilingi. Hera yang begitu antusias dan baekhyun yang selalu memasang wajah datarnya di setiap kali hera menariknya ke sana ke mari.

“Baek-ah aku lapar” suara hera setelah gadis itu merasa cacing-cacing di dalam perutnya telah berdemo meminta jatahnya.

“Kau baru merasakannya sekarang ? Kajja-” sahut baekhyun lalu melangkah mendahului hera.

“Woahhh!” Seru hera penuh semangat saat bibi pemilik kedai menyajikan dua mangkuk jeonbokjuk di depannya dan baekhyun.

“Aku akan makan” suara hera kembali sebelum ia mengayunkan sendok pertamanya pada bubur abalon itu.

“Bagaimana ?” Tanya baekhyun dengan mulut penuhnya.

“Hemmmm enak! Woah daebak” jawab hera juga dengan mulut penuh yang bahkan mengepulkan asap.

Baekhyun tersenyum puas. “Makanlah. Setelah ini kita kembali ke hotel, jalan-jalannya kita lanjutkan besok saja” kata baekhyun lagi masih dengan aktifitas makannya. Ya, baekhyun sudah terlalu lama menahan laparnya saat hera terlalu antusias berkeliling sebelumnya.

Hera hanya mengangguk mengiyakan. Gadis itu terlalu takjub akan rasa bubur abalon yang konon merupakan makanan yang sering disajikan untuk raja-raja. Meskipun berwarna cokelat kehitaman, rasanya enak dan gurih.

~
Baekhyun menemukan hera telah terlelap di lantai hotel dengan berselimutkan jaket tebal untuk menutup setengah tubuhnya saat baekhyun kembali dari kamar mandi.

“Apa tidak apa-apa dia tidur seperti itu” gumam baekhyun melihatnya khawatir.

Baekhyun menatap hera sesaat dan setelahnya ia melanjutkan langkahnya dan berbaring di tempat tidur nyamannya. Baekhyun tidak terlalu memikirkan hera, gadis itu mungkin sudah terbiasa dan baekhyun tahu hera adalah gadis yang kuat.

Baekhyun menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Jeju mungkin tidaklah bersalju seperti seoul namun udara musim dingin di sini tetaplah begitu menyengat hingga tulang-tulangnya.

“Sthhhh hehhh hahhh” sebuah suara halus mengusik rungu baekhyun saat baru beberapa jam pemuda itu larut dalam alam mimpinya. Baekhyun berusaha mengabaikannya sebelum kesadarannya kembali di tarik setelah suara itu kembali muncul dan terdengar jelas.

“Hahhh ehhh” sebuah suara racauan. Dengan enggan baekhyun akhirnya membuka matanya dan betapa terkejutnya ia saat mendapati heralah pemilik suara itu.

Segera baekhyun meletakkan telapak tangannya di atas dahi hera yang terlihat banyak mengeluarkan kerigat.

“Panas. Ia demam” gumam baekhyun sembari menarik kembali tangannya.

Tanpa pikir panjang baekhyun mengangkat tubuh hera dan membaringkannya di atas tempat tidur. Ya, siapapun pasti akan sakit jika tidur tanpa beralas apapun di musim dingin saat ini. Bodohnya baekhyun yang mengira hera telah terbiasa akan hal itu.

Baekhyun membuka pela jaket di tubuh hera lalu menutupinya dengan selimut. Tidak lupa baekhyun juga mengompresnya. Berjam-jam lamanya baekhyun terus terjaga mengganti handuk yang mengering di dahi hera dengan yang baru dan terus memastikan jika demamnya tidak semakin tinggi.

“Eung-” hera menggerakan kepalanya pelan. Sepertinya gadis itu telah bangun.

“Kau sudah merasa baikan ?” Tanya baekhyun segera setelah hera membuka matanya.

“Hemm” gumam hera memejamkan matanya sebagai jawaban jika ia telah merasa baikan.

“Baek-ah apa-“

“Kau terkena demam. Kau kelelahan, makan siang terlambat di tambah dengan tidur tanpa alas- yaah kau benar-benar ceroboh” jelas baekhyun yang tidak lupa selalu di sertai dengan ejekannya.

“Malam ini tidurlah di tempat tidur. Anggap saja pengecualian. Aku tidak ingin eomma memarahiku karenamu” lanjut baekhyun.

“Lalu kau- ?” Tanya hera ragu.

“Aku akan tidur sepertimu. Lagi pula aku ini seorang pria, tubuhku pasti lebih kuat dari gadis preman sepertimu” jawab baekhyun lalu menggelar jaket hera sebagai alas tidurnya.

Hening. Tidak ada yang membuka suara kembali, baik baekhyun maupun hera tenggalam dalam pikiran masing-masing. Keduanya belumlah terlelap.

“Yak. Kau sudah tidur ?” Suara baekhyun mendelik ke arah tempat tidur di atasnya.

“Belum”

“Eummm tentang- hemmm maafkan aku” kata baekhyun sekuat hati menekan egonya.

“Eum” jawab hera menahan senyumnya.

Hening.

“Yak, kau tidak ingin meminta maaf kepadaku juga ?” Suara baekhyun lagi, ia bahkan bangkit dari posisi tidurnya dan menilik hera yang masih berbaring. Hera terkejut. Gadis itu menatap baekhyun tanpa berkedip.

“Kau harus meminta maaf karena telah mengabaikanku” lanjut baekhyun salah tingkah. Ia kemudian kembali berbaring seperti posisinya semula.

“Kau tau- aku tidak suka di abaikan” gumam baekhyun pelan.

“Maafkan aku” suara hera lembut membuat baekhyun kembali mengalihkan pandangan menatap pada sisi tempat tidur di mana hera berbaring di sana.

“Tapi- aku tidak mengabaikanmu. Kaulah yang mengabaikanku. Aku hanya tidak berani mengajakmu-“

“Harusnya kau berusaha mengajakku bicara” potong baekhyun cepat.

“Maaf” lirih hera.

Hening kembali tercipta saat tidak ada lagi yang membuka suara. Baekhyun telah kehabisan topik dan hera yang tidak tahu ingin berbicara apa membuat keduanya kembali diam dengan pikiran masing-masing.

“Baek-ah” heralah akhirnya yang membuka suara terlebih dahulu.

“Hmmm”

“Kau belum tidur ?”

“Hmmm”

“Apa kau tidak bisa tidur ?”

“Entahlah”

“Kau kedinginan ?”

“Sedikit”
Hera bangkit dari posisi berbaringnya yang kemudian juga di ikuti baekhyun ketika ia menyadari pergerakan hera.

“Kenapa ?” Baekhyun menatap hera penuh tanya.

“Baek-ah, kau tidurlah di sini. Biar aku yang tidur di bawah. Kau tidak terbiasa, kau bisa sakit karenanya. Biar aku saja eum” pinta hera sembari bergerak akan turun dari tempat tidur.

“Tidak. Kau masih sakit. Tetaplah tidur di sana. Aku tidak apa-apa” cegah baekhyun.

“Kau yakin ?” Tanya hera ragu.

“Ti-dak” jawab baekhyun canggung namun membuat hera tersenyum karenanya. Ya, karena pemuda itu berbicara jujur.

“Kalau begitu- eummm. Kalau begitu kau tidurlah di sini” lanjut hera menunjuk tempat kosong tempat tidur di sisinya.

Baekhyun menatap hera tidak percaya. Gadis itu, apa dia yakin dengan apa yang di katakannya ?

“Kau tidak mau ?” Tanya hera lagi dengan wajah polosnya.

“Y-ya” jawab baekhyun tergagap namun secepat kilat pemuda itu beranjak dan segera masuk ke dalam selimut yang sama di sisi hera. Jujur saja baekhyun sudah hampir membeku berbaring di dinginnya lantai. Ya, ia akhirnya merasakan apa yang di rasakan hera selama ini.

“Se-selamat malam” kata baekhyun lalu berbalik memunggungi hera.

“Malam” sahut hera pelan. Hatinya tiba-tiba terasa di terpa deru angin kencang saat melihat punggung tegas baekhyun di sisinya. Hera sadar betul wajahnya telah memanas lalu gadis itu ikut berbalik takut jika baekhyun mungkin saja akan berbalik dan menemukan rona di wajahnya.

Cukup lama keduanya tidak dapat memejamkan mata bahkan saat banyak waktu telah berlalu. Keduanya begitu sibuk mengatur perasaan masing-masing, menjinakkan jantung mereka yang entah kenapa berdetak begitu kencang saat keduanya berbagi tempat tidur.

Baekhyun dan hera akhirnya terlelap dengan sendirinya. Keduanya beranjak memasuki alam mimpi dengan posisi tidur saling memunggungi. Bagaimanapun baik hera maupun baekhyun akhirnya merasa lega karena tidak lagi terlibat perang dingin yang di ciptakan oleh mereka sendiri.

TBC

{Yun-Dae Couple} New Hair – by bebebaek_

by bebebaek_

Everytime |

Main  cast : Kim Jongdae (EXO) & Shim Yunmi (oc)

Genre : romance

Rating : General

Don’t plagiat!!!

Sorry typo bertebaran and happy reading.

***

Lama yunmi duduk di sofa ruang tengah rumahnya. Sedari tadi gadis itu hanya menggonta-ganti stasiun tv tanpa satupun yang berhasil menarik minatnya

Yunmi menghela nafasnya berat. Sudah lebih dari satu setengah jam yang lalu ia telah siap dengan dress berwarna peach selututnya serta sapuan tipis make up di wajahnya.

Di raih yunmi ponselnya yang tergeletak di atas meja di depannya. Yunmi kembali membuka aplikasi chatnya membaca kembali pesan terakhir jongdae yang memberitahunya jika ia tengah dalam perjalanan.

“Tidak biasanya ia lama” keluh yunmi gusar.

Yunmi telah di landa rasa bosan. Gadis itu juga merasa begitu kesal karena di buat  menunggu terlalu lama. Yunmi berbaring di atas sofanya sampai ketika suara klakson mobil jongdae menyapa rungunya.

Beberapa kali klakson mobil jongdae berbunyi nyaring untuk memanggilnya namun yunmi sudah begitu kesal hingga terus mendiamkannya tanpa bergerak sedikitpun dari posisi berbaringnya.

Ceklek.

Suara pintu terbuka jelas di dengar yunmi. Ia bahkan tahu siapa orang yang baru saja melewati pintu itu dan berjalan lurus mendekatinya.

Yunmi tetap tidak bergeming bahkan saat pemuda itu telah berdiri di sisi tubuhnya. Yunmi tetap mempertahankan pandangannya pada layar tv yang entah menayangkan apa.

“Chagi-ya” panggil jongdae lembut.

Tidak ada jawaban dari gadis itu. Yunmi benar-benar teguh pada rasa kesalnya terhadap jongdae. Bukankah pemuda itu tahu jika yunmi benar-benar benci menunggu.

“Apa aku membuatmu menunggu lama ?” Tanya jongdae lemah namun tidak juga meluluhkan pertahanan yunmi.

“Maaf” suara jongdae lagi.

“Chagi-ya” panggil jongdae kembali dan menyentuh pelan lengan yunmi.

Yunmi tidak juga mengalihkan tatapannya. Gadis itu benar-benar enggan bahkan hanya untuk melirik jongdae.

“Chagi-ya, maafkan aku” suara jongdae dengan nada putus asanya.

“Maafkan aku”

“Maaf”

“-eoh, chagi-ya” jongdae terus mendesak yunmi dengan suara manja di buat-buatnya.

“Chagi-ya, maaf” suara jongdae lagi kali ini pemuda itu menilik wajah yunmi berusaha membuat gadis itu untuk melihatnya.

“Chagi-ya” jongdae terus berusaha bahkan ketika yunmi terus saja mengalihkan tatapannya pemuda itu tetap tidak putus asa.

Jongdae menunduk mencongkankan tubuhnya ke arah yunmi membuat wajah pemuda itu berada tepat di depan wajah yunmi.

“-maafkan aku chagi-ya” suara jongdae dengan senyum andalannya tepat ketika yunmi tidak lagi dapat mengelak darinya.

Gadis itu terdiam. Kedua bola mata yunmi membola. Yunmi membeku di tempatnya. Betapa senyum jongdae selalu saja membuat luluh pertahanannya. Tapi tidak kali ini, ada yang berbeda dari pemuda itu. Tidak hanya senyumnya tapi-

“Maaf karena aku terlalu lama membuatmu menunggu” suara jongdae membuat yunmi kembali dalam kesadarannya.

“C-chagi-ya” panggil yunmi terbata. Manik gadis itu tidak lagi teralihkan dari wajah jongdae yang tetap setia dengan senyum manisnya.

“Hmmmm” sahut jongdae dengan gumaman lembutnya.

“Kau- kau mengubah warna rambutmu ?” Tanya yunmi sembari bangkit dari posisi berbaringnya. Lengan gadis itu menangkup wajah jongdae membuat jongdae serta merta mengeringi pergerakan yunmi dan duduk di sisi gadis itu.

“-jadi kau lama karena ini ?” Tanya yunmi lagi.

“Ya. Maafkan aku chagi-ya” aku jongdae sedikit ragu jika yunmi mungkin tidak akan menyukai perubahan warna rambutnya.

Yunmi terdiam. Masih dengan tatapan telitinya gadis itu menatap jongdae lekat. “Chagi-ya, mengapa kau bahkan lebih bersinar dari terik matahari hari ini” suara yunmi dalam hati.

“Oh. Astaga. Apa aku kembali jatuh cinta padanya ?”

“Yak, kim jongdae mengapa kau selalu terlihat menakjubkan di mataku ?”

“Yunmi-ya, kau baik-baik saja ?” Tanya jongdae menghentikan monolog yunmi dalam hati.

“A-ah, aku tidak apa-apa” jawab gadis itu terbata.

“Aissh. Yah, shim yunmi bukankah kau sedang marah padanya ? Lalu mengapa kau menjawabnua. Bodoh. Oh aku terlalu terpana” batin yunmi kembali.

Jongdae tersenyum. Ia tahu jika gadisnya itu pasti tengah merutuki dirinya sendiri. Kali ini jongdae telah dapat bernafas lega, perlahan di dekatkannya wajahnya ke arah yunmi berusaha meyakinkan dirinya jika gadis itu telah lupa akan kekesalannya.

“Bagaimana kau menyukainya ?” Tanya jongdae dengan senyumnya.

Yunmi tidak menjawab gadis itu berusaha mengalihkan kembali tatapannya.

“Apa aku terlihat tampan ?”

“Karena kau diam. Ku rasa aku terlalu tampan. Benar ?” Jongdae tertawa di akhir kalimatnya dan itu sukses membuat yunmi kembali menatapnya.

“Chagi-ya, aku bahkan mengenakan kemeja berwarna putih” kata jongdae membuat yunmi kembali meneliti penampilan pemuda itu.

“Bukankah kau bilang. Aku selalu telihat berbahaya jika mengenakan pakaian berwarna putih” usaha jongdae semakin gigih.

Yunmi masih meneliti tampilan jongdae dari kepala hingga mata kakinya. Rambut dengan warna baru, kemeja putih dan celana hitamnya. Ugh, mengapa- mengapa jongdae terlihat sempurna bahkan hanya dengan setelan sederhana.

“-kenapa kau mengubah warna rambutmu ?” Tanya yunmi kemudian. Entahlah, persetan dengan rasa kesal yang telah luntur entah kemana itu.

“Tidak ada alasan. Aku hanya ingin mencari suasana baru. Kenapa ? Kau tidak suka ?” Jongdae balik bertanya.

“Ti-dak, ah maksudku-“

“Aku tampan. Tentu saja. Jongdaemu ini bukankah selalu tampan di matamu. Terlebih dengan kemeja ini. Ketampananku pasti meningkat 200% bukan ?” Potong jongdae percaya diri.

“Ckckkc, seperti jongdae biasanya. Kau terlalu percaya diri tuan kim” jawab yunmi dengan decaknya.

“Chagi-ya, kau tertawa ?” Jongdae kembali bersuara dengan senyum merekahnya.

“E-eoh. Tidak- aku tidak-” gelagapan yunmi bersikap salah tingkah.

“Eyyy, kau sudah tidak marah padaku”

“Benar. Aku terlalu bersinar untuk di acuhkan chagi-ya”

Yunmi menyerah. Ia tidak lagi tahan bersikap kesal terlebih saat rasa kesal itu telah menghilang. Yang terpenting bagi gadis itu sekarang adalah ia ingin menatap namjachingunya itu lebih lama, lama dan lama dari biasanya.

“Apa kau berencana menggodaku dengan berpenampilan seperti ini ?” Tanya yunmi menyentuh sisi rambut baru jongdae dengan satu lengannya.

“Sejujurnya tidak ada, tapi- jika kau merasa tergoda maka aku akan bersyukur tentang hal itu” jawab jongdae menangkup kedua sisi wajah yunmi dengan gemasnya.

“Begitu ? Tapi- mengapa aku merasa di goda olehmu sekarang chagi-ya ?”

Jongdae tersenyum puas. “Kenapa ? Apakah aku semenakjubkan itu ?”

“Eoh. Tentu saja” jawab yunmi lugas dan itu kembali membuat jongdae tidak dapat menahan senyumnya.

“Jika hanya akan pergi ke acara pernikahan temanmu mengapa kau harus mengubah penampilanmu seperti ini ?”

“Entahlah, mungkin aku-“

“Menggodaku ? Tentu saja kau senang melakukannya” balas yunmi memotong perkataan jongdae.

Jongdae tekekeh. Ia tidak lagi dapat menahan rasa gemasnya. Di rengkuhnya tubuh yunmi ke dalam pelukannya dengan tiba-tiba.

“Eoh. Aku ingin menggodamu”

“Aku selalu ingin menggodamu”

“Aku menyukai saat kau bersemu”

“Saat kau terpana menatapku”

“-dan saat kau lagi-lagi jatuh cinta pada pesonaku” suara jongdae di depan wajah yunmi.

Keduanya saling menatap beberapa saat. Jongdae terus saja tersenyum kepada yunmi sementara gadis itu mati-matian menahan degupan di jantungnya.

“Yunmi-ya, apa-“

Jongdae tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena sebelum sempat pemuda itu menyelesaikan kalimatnya bibir yunmi lebih dulu membungkamnya.

Jongdae tersenyum bahagia di sela kecupan hangat yunmi kepadanya. Pemuda itu balas memberikan lumatan singkat pada bibir yang selalu terasa manis dan sangat manis setiap kali ia menyentuhnya.

Jongdae perlahan menutup kedua matanya. Menyelami rasa yang di berikan yunmi kepadanya. Ya, ia harus bertanggung jawab atas apa yang membuat yunmi kehilangan kendalinya.

“Jongdae-ya, kau membuatku gila”

“Aku. Aku gila karenamu”

Fin.

Wkwkkwwk. Hai. Hai.

Bebeb kembali menyapa nih. Setelah sekian lama. Bebeb gak bikin lanjutan series yundae ini. Setelah lama bebeb galau gak punya ide.

Dan setelah seseorang yang baru aja ketar-ketir, kliyengan, mabok sama foto preview Dinamic Duo chen yang menghambur di tl meminta dengan penuh kerinduan *tsahhh buat bebeb bikinin ini ff lanjut.

-dan akhirnya ff kilat ini rampung dalam hitungan menit. So, maklumin ya kalau ada bagian-bagian yang mungkin kurang penggambarannya atau typo dimana-mana.

Ini karena kamu kim jongdae-ya! Blonde-mu ituloh kok kek beda…… gitu😆.

😍bebebaek_

It This Love ? – Chapter 3

by bebebaek_

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2

Main cast : Byun Baekhyun & Z.Hera.

Genre : romance.

Length : Ficlet | Rating : General.

-aku yang masih gamon berkelanjutan sama ini couple. Di ambil dari beberapa adegan drama moon lovers : scarlet heart ryeo dan di adaptasi ke zaman modern. Murni imajinasi aku ya, don’t plagiat. Bikin cerita itu susah!-

Happy Reading

***

Ceklek.

Baekhyun membuka pintu kamarnya setibanya ia di rumah. Sejak pagi pemuda itu pergi ke kampusnya untuk menyelesaikan beberapa urusan menyangkut kuliahnya dan pulang saat langit telah menggelap.

Baekhyun mengedarkan pandangannya mencari-cari sosok hera, gadis yang sudah dua bulan belakangan ini menghuni kamar bersama dengannya.

“Eoh kemana ia pergi” gumam baekhyun karena tidak menemukan hera di manapun, seingatnya tadi di bawah hanya ada dahyun dan ibunya. Sedangkan ayahnya ? Tentu saja masih di kantornya.

Baekhyun mengangkat kedua bahunya cepat “kenapa aku mencarinya” gumam baekhyun tersadar.

Baekhyun meletakkan sembarang ransel yang semula menggantung di punggungnya. Dengan  wajah yang kembali datar baekhyun beranjak menuju kamar mandi.

Baekhyun tidak mendengar apapun, bahkan suara gemericik air dari dalam kamar mandipun tidak mampu menyapa rungunya karena saat ini baekhyun sibuk mengeluh dalam hatinya.

 

 

 

Baekhyun kesal, mengapa ia bisa-bisanya mencari gadis itu. Bukankah ia tidak menggapnya ada ? Bukankah gadis itu hanyalah seorang pengganggu ? Bukankah baekhyun tidak-. Tidak. Tidak. Baekhyun tidak mungkin menyukainya.

“Issshhh kemana dia! Bisa-bisanya ia pergi tanpa membersihkan kamar!” Bentak baekhyun menghentikan langkahnya. Ia lalu menarik selimut di atas tempat tidurnya yang telah tertata rapi. Tidak lupa baekhyun juga mengurai sembarang selimut tebal yang selama ini menjadi alas tidur hera.

Sejujurnya kamarnya tidaklah berantakan. Semuanya tertata rapi dan saat ini justru baekhyunlah yang mengacaukannya. Entahlah baekhyun kesal dan ia kesal tanpa suatu alasan.

Baekhyun kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Dengan kasar pemuda itu menarik gagang pintunya.

“Aaaaaaaaaaa!!”

Teriak seseorang dari dalam kamar mandi. Hera. Ya, heralah pemilik suara itu. Ia baru saja selesai mandi dan tengah mengenakan pakaian saat baekhyun tiba-tiba membuka pintu yang bodohnya hera karena lupa menguncinya.

“Yak! Kau mengagetkanku bodoh!” Bentak baekhyun setelah tersadar akan keterkejutannya.

Buru-buru hera membenarkan kaosnya yang belum terpasang sempurna di tubuhnya. Hera menunduk malu sembari satu lengannya menaikkan lengan bajunya yang merosot.

Baekhyun menelan salivanya samar, bagaimanapun tampilan hera di depannya saat ini benar-benar membuatnya-. Tidak itu terlalu berbahaya.

“Kenapa ? Kenapa bahkan tanpa polesan di wajahnya ia tampak bersinar saat ini” tutur baekhyun dalam hatinya.

“Tidak. Tidak! Apa yang telahku katakan” batin baekhyun menyangkal.

“Tapi-“

Baekhyun kemudian menggerakkan maniknya ragu-ragu ia menatap hera yang sialnya juga telah menatapnya penuh teliti.

“Apa!!!?” Suara baekhyun meninggi tidak suka dan risih akan pandangan hera kepadanya.

“Tidak- dari tadi kau hanya diam jadi aku-, ahh. Apa kau ingin mandi ? Atau kau ingin buang air ?” Kata hera dengan wajah polosnya.

“Eoh! Karena itu kelaurlah!”

“Gunakanlah. Aku sudah selesai” jawab hera tersenyum lalu beranjak keluar.

Baekhyun tidak lagi dapat bersuara, pemuda itu masuk ke dalam kamar mandi selepas hera melewatinya. Baekhyun lalu membanting pintunya membuat deburan nyaring yang berhasil menyentak hera hingga gadis itu menutup matanya terkejut.

“Hoahh! Kenapa jantungku jadi seperti ini” gumam baekhyun di balik pintu kamar mandi. Baekhyun menggelengkan kepalanya lalu beranjak menuju wastafel dan mencuci mukanya.

“Ouhhh! Dingin!” Pekiknya kesal karena air dinginlah yang mengalir dari sana.

“Issshhh. Apa dia ingin membuatku membeku. Mengapa ia tidak mengaturnya menjadi hangat. Hanya orang gilalah yang mencuci wajahnya dengan air dingin di musim dingin seperti ini” omel baekhyun tidak habis-habisnya.

Tidak lama baekhyun keluar dari kamar mandi, kini ia telah berganti pakaian dengan handuk kecil menggantung di bahunya.

“Yak! Apa kau sudah tidak waras ? Mengapa kau tidak mengubah suhu airnya. Kau ingin membuatku mati kedinginan” cecar baekhyun setelah ia mendudukkan dirinya di atas tempat tidur.

Hera yang sebelumnya telah berbaring di atas selimut tebal yang menghampar di sisi bawah tempat tidur baekhyun beranjak bangun dan menatap baekhyun dengan ekspresi tanpa dosa.

“Aissshh sudahlah. Tidak ada gunanya lagipula aku sudah mengaturnya” suara baekhyun kembali lalu berbaring di kasur miliknya.

Hera hanya menatap baekhyun dalam diam. Wajah hera lagi-lagi kecewa, dua bulan ini baekhyun sama sekali tidak berubah. Ia tetap  saja selalu bersuara kasar kepadanya. Hera menghela nafasnya berat. Ia menguatkan hatinya. Inilah keputusannya, ia sama sekali tidak boleh menyesal. Tidak mengapa baekhyun berujar kasar dan tidak peduli padanya asalkan ia bisa selalu bersama dengan pemuda itu maka hera sudah cukup bahagia.

“Yak-” suara baekhyun bangkit dari posisi telentangnya dan kembali menatap hera yang masih duduk diam dalam posisinya.

“Tadi aku baru saja dari kampusku, aku melihat papan pengumuman mahasiswa baru di jurusanku. Dan- namamu ada di sana ? Apa itu benar kau ? Atau orang lain yang bernama sama denganmu ?” Tanya baekhyun kemudian.

“Benarkah ?” Suara hera antusias dan itu membuat wajah baekhyun mengerut.

“Jangan katakan itu benar kau” suara baekhyun tidak yakin.

Hera mengangguk antusias membenarkan jika nama yang tercantum tersebut memanglah namanya. Sementara hera sekarang tersenyum bahagia, baekhyun justru menekuk wajahnya tidak suka.

“Apa kau tidak lelah selalu mengikutiku kemanapun ? Yak, dengarkan aku baik-baik jurusan seni itu tidak hanya mengandalkan kemampuanmu senimu di satu bidang. Jika kau tidak memiliki bakat atau kemampuan sama sekali lebih baik kau mengundurkan diri” kata baekhyun berbicara serius.

“Aku akan -berusaha” jawab hera pelan dengan senyum tipisnya.

Baekhyun memutar bola matanya malas. “Terserah kau. Jangan pernah mengeluh padaku nantinya. Aku sudah memperingatimu eoh” kata baekhyun kemudian kembali membaringkan tubuhnya.

~

Pagi kali ini terlihat berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Kediaman keluarga byun terlihat begitu sibuk pagi kali ini. Sedari subuh nyonya byun telah terjaga dan sibuk bergelut di balik kompor dapurnya.

Heralah orang pertama yang turun menghampiri nyonya byun. Gadis itu tersenyum cerah dan berdiri di samping ibu mertuanya itu.

“Ada sesuatu yang bisaku bantu eomma ?” Tanya hera setelahnya.

Nyonya byun tersenyum ramah “kau terlihat begitu cantik hari ini hera-ya” kata nyonya byun membuat hera tersipu malu.

“Bagaimana apa semuanya sudah siap ? Jangan sampai ada sesuatu yang ketinggalan di hari pertamamu kuliah” lanjut nyonya byun.

“Eoh. Semuanya sudah siap. Jadi apa aku bisa membantu eomma sekarang ?” Tanya hera lagi.

“Oh astaga eomma sampai lupa menjawab pertanyaanmu sayang” suara nyonya byun tertawa renyah.

“Baiklah. Tolong bawakan piring-piring itu ke meja makan. Tolong tatakan ya sayang supaya kita bisa sarapan bersama” kata nyonya byun lagi.

Hera mengangguk lalu membawa piring-piring itu dan menatanya di meja makan. Belum selesai hera menata piring-piring itu, dahyun turun dari kamarnya menyusul dan membantu hera.

Saat hera dan dahyun selesai menata piring-piring yang telah berisi berbagai lauk pauk. Tidak lupa nyonya byun menuangkan susu hangat untuk baekhyun, hera dan dahyun sedangkan tuan byun, nyonya byun telah menyuguhkan secangkir kopi hangat untuk suaminya yang telah duduk di kursinya di temani dengan koran hariannya.

Baekhyun turun dengan pakaian rapi dan tas yang telah tersampir di bahunya. Baekhyun duduk di kursinya, mengambil dua potong roti dan mengolesinya dengan selai cokelat kesukaannya.

“Eonni kau kuliah di jurusan yang sama dengan oppa bukan ?” Dahyun membuka suaranya saat hera dan nyonya byun juga telah duduk di kursi mereka masing-masing.

Hera mengangguk sembari melirik baekhyun yang terlihat mengabaikan pertanyaan dahyun.

“Woahh. Kalian memang pasangan serasi” antusias dahyun berusaha mencuri perhatian baekhyun. “Eonni karena kau satu kampus dengan oppa. Kau bisa mengawasi oppa kapanpun dan dimanapun. Jika oppa terlihat bersama seorang gadis lain atau ia menggoda gadis lain kau bisa langsung menghajarnya” kata dahyun yang kali ini sukses membuat baekhyun mendelik tajam padanya.

“Aku selasai” kata baekhyun setelah mengalihkan tatapannya dari dahyun. Ia kemudian bangkit dan kembali menyampirkan tasnya di salah satu punggungnya.

“Aku berangkat” suara baekhyun lagi.

“Baek- hey nak” seru nyonya byun menghentikan pergerakan baekhyun yang akan melangkah pergi.

Baekhyun berbalik dan menatap eommanya dengan tatapan datar. “Kenapa kau mau pergi begitu saja ?” Tanya nyonya byun balas menatap baekhyun dengan tatapan penuh tanya.

“Hera-ya, berangkatlah bersama baekhyun” lanjut nyonya byun mengalihkan tatapannya kepada hera.

Hera menatap ragu baekhyun yang sama sekali diam tanpa suara. “Y-ya, aku mengambil tasku sebenatar” suara hera kemudian bangkit menuju kamarnya di lantai atas.

“Haissshh lama sekali. Yak! Cepatlah! Aku bisa terlambat” teriak baekhyun semabari menatap ke lantai atas.

Tuan byun yang melihat baekhyun lagi-lagi berkata kasar kepada istrinya menghela nafasnya berat. “Byun baekhyun” suara tuan byun berat membuat pemuda yang di panggil itu menatap padanya.

“Mau sampai kapan kau bersikap seperti itu kepada hera ?” Tanya tuan byun yang kemudian hanya membungkam mulut baekhyun tanpa menjawabnya.

“Bagaiamanapun dia adalah istrimu. Tidak bisakah kau sedikit bersikap lembut padanya ?” lanjut tuan byun.

“Appamu benar baek-ah, hera adalah istrimu kau harus menjaganya. Hari ini adalah hari pertamanya kuliah, tidak bisakah kau membantunya” nyonya byun menimpali.

Hera telah turun dan berdiri di sisi baekhyun. Ia sama sekali tidak menyadari suasana yang menghening selepas kedatangannya. Hera menatap setiap orang bingung. Tidak ada yang membuka suara sama sekali.

“Apa kita akan berangkat sekarang ?” Tanya hera pada baekhyun.

“Hmmm” gumam baekhyun melirik hera lalu beralih menatap ayah dan ibunya bergantian. Baekhyun kemudian melangkah mendahului hera.

“Aku pergi dulu” ucap hera berpamitan sembari membungkuk kepada taun dan nyonya byun yang di balas keduanya dengan senyum ramahnya.

“Bagaimana kau sama sekali tidak disiplin di hari pertamamu kuliah” baekhyun membuka suaranya setelah keduanya keluar dari rumah mereka.

Hera menatap baekhyun dengan kedua alis berkerut. Ia tidak mengerti akan apa yang di katakan baekhyun. Tidak disiplin ? Hera sama sekali tidak merasa apa yang di tuduhkan baekhyun kepadanya itu benar. Ia disiplin bahkan ia bangul lebih awal dari biasanya.

“Kau- mengapa kau tidak membawa tasmu sekalian. Membuang-buang waktu saja” kata baekhyun menajamkan letak kesalahan hera.

“Ahh. Maafkan aku”

“Semua salahmu jika aku terlambat hari ini” suara baekhyun tanpa memperdulikan permintaan maaf hera.

“Ingat jangan menyusahkanku di kampus”

“Jangan ikut campur dalam berbaragai urusanku”

“Kau harus berkerja keras sendiri. Aku sudah pernah bilangkan jurusan seni itu sulit”

“Apa kelas pertamamu hari ini ?” Tanya baekhyun entahlah kenapa ia bertanya seperti itu tiba-tiba.

“Aku- eumm kelas musik”

“Kenapa kau ragu ? Apa kau tidak ingat jadwalmu ? Yak. Bagaimana kau bisa melupakannya. Apa kau-“

“Ya, kelas pertamaku kelas musik” potong hera meyakinkan”

Baekhyun mendengus kesal “ruang musik ada di lantai dua ujung lorong” kata baekhyun memberi tahu.

“Terima kasih” ucap hera pelan.

“Ah ya- aku hampir lupa dengan yang satu ini. Ingat semua pemuda di kampus berbeda dengan pemuda di sekolah mereka sedikit- eumm tidak bisa di percaya, mereka juga suka mengambil kesempatan karena itu kau jangan begitu akrab dengan mereka. Kau mengerti” kata baekhyun terus menerus.

Hera lagi-lagi hanya mengangguk mengiyakan. Suaminya itu terus saja mengoceh tanpa henti bahkan ketika keduanya telah berada di kampus mereka.

“Woahhh sungguh pemandangan yang indah. Pagi-pagi seperti ini aku sudah melihat sepasang suami istri datang ke kampus bersama-sama” suara cempreng seseorang menginterupsi langkah baekhyun yang di ikuti oleh hera.

“Uuuuu… kalian terlihat harmonis sekali” lanjut pemuda itu setibanya ia dan minseok di depan baekhyun dan hera.

“Yak! Apa suaramu tidak bisa lebih tinggi lagi. Atau kau perlu aku pinjamkan pengeras suara” suara baekhyun kesal pada jongdae sang empunya suara.

Jongdae hanya terkikik geli melihat reaksi dari baekhyun. Ya, mungkin perkataannya tadi memang terlalu bernada tinggi. Bagaimanapu di kampus mereka tidak ada yang mengetahui perihal pernikahan baekhyun selain jongdae dan minseok.

“Mau bagaimana lagi bakatku memang di suara emasku” jawab jongdae melenceng dari pembicaraan.

“Ahh.. annyeonghaseo hera-ssi” sapa minseok sopan pada hera yang sejak tadi terabaikan di samping baekhyun.

“A-annyeong” jawab hera canggung. Ia balas menunduk setelahnya.

“Kau tidak lupa padaku kan ?” Tanya minseok yang di jawab hera dengan wajah bingungnya.

“Aku adalah anak paman kim-mu. Kita sering bertemu jika ada peringatan di markas militer ayah kita” kata minseok menjelaskan.

“Ahh…” hera hanya ber ah ria mengingat-ingat sedikit masa lalu dimana ia dan minseok saling bertemu. “Senang bisa bertemu denganmu lagi” suara hera kemudian.

“Dan aku ?” Suara jongdae lagi membuat manik hera beralih dari minseok.

“Kau tidak mungkin lupa padaku bukan ?” Lanjut jongdae sembari jemari telunjuknya mengelus pelan batang hidungnya.

Sejenak sekelebat ingatan masa lalu kembali menghampiri hera. Hari itu-.

“Maafkan aku. Maafk-“

“Tidak apa-apa” potong jongdae sembari tersenyum renyah. “Tidak apa-apa karena kau cantik. Ahh rasanya aku bangga karena hidungku patahkan oleh gadis secantik kau” lanjut jongdae yang ikuti dengusan tidak suka dari baekhyun. Mulut jongdae ini memang semakin blong setiap harinya.

“Yak, sudah jam berapa sekarang. Kita bisa terlambat masuk kelas pertama” peringat minseok setelah melirik sekilas jam di tangannya.

“Kajja” kata baekhyun kemudian melangkah mendahului ketiganya.

Minseok dan jongdae terheran-heran. Bagaimana bisa baekhyun begitu acuh dan meninggalkan hera begitu saja.

“Yak, kau tidak pamitan atau semacam- eumm begitulah pada istrimu” bisik minseok pada baekhyun namun di abaikan olehnya.

“Eoh. Hera-ya sampai bertemu lagi” seru minseok tersenyum sembari melambaikan tangannya.

“Hera-ya, jaga dirimu baik-baik” suara jongdae ikut melambaikan tangannya yang lagi di dengar oleh telinga baekhyun dan membuatnya menggerutu pelan.

“Tentu saja ia bisa menjaga dirinya”

“Apa katamu ?” Tanya minseok yang tidak mendengar jelas gumaman baekhyun.

“Tidak ada” jawab baekhyun cepat sembari terus melangkah menuju kelas bersama minseok dan jongdae.

~

“Baek-ah bisakah kau menolongku ?” Tanya hera pelan sesampainya ia di ruang tengah dimana baekhyun sedang bersantai sembari menonton tv yang menyala di depannya.

“Mmmm memangnya kapan kau tidak menyusahkanku ?” Sindir baekhyun. “Baiklah kali ini kau mau bertanya apa ?” Lanjutnya membuat senyum seketika terbit di wajah polos hera.

“Ckc, kau harus bersyukur karna suamimu ini menguasai segala hal yang menyangkut dengan seni. Aku ini tidak hanya berbakat tapi jenius kau tau ?” Baekhyun langsung membagakan dirinya katika hera menyodorkan sebuah buku kepadanya.

“Minggu depan materi pertama ujian akhirku tentang not balok dan aku belum terlalu mengerti bagaimana cara membacanya” kata hera jujur.

“Ouchh ini akan sulit untuk orang sepertimu mengerti. Tapi mari kita coba” kata baekhyun lalu membuka lembar demi lembar buku di tangannya. Dengan jelas dan begitu rinci ia menjelaskan berbagai jenis not balok yang sebelumnya tidak di mengerti hera sama sekali.

“Bagaimana apa kau mengerti ?” Tanya baekhyun setelahnya.

Hera hanya mengangguk ragu dan itu membuat baekhyun memicingkan mata kecilnya tidak percaya.

“Aku akan mengujimu. Jika kau masih saja tidak bisa aku akan mencoret wajahmu. Aku sudah lelah menjelaskan segalanya awas saja jika kau-”
“Eumm baiklah. Mari bermain, jika aku benar maka aku yang akan mencoret wajahmu” potong hera dengan anggukan antusias.

“Hehhh” baekhyun tertawa sumbang. “Kau ingin menguji kemampuanku ? Baiklah ayo kita mulai” tantang baekhyun yang tidak suka di remehkan sama sekali.

“Aku yang pertama eoh. Ku pastikan akan ada banyak coretan di wajahmu” kata baekhyun penuh keyakinan.

“Baiklah… ada berapa macam kunci dalam not balok ?”

Hera tampak berpikir sejenak. Tadi baekhyun sempat menjelaskan kepadanya hanya saja ia sedikit ragu.

“1….2….3- baiklah kau kalah!” seru baekhyun lalu dengan antusias ia meraih spidol di tangan hera dan mencoret alis gadis itu membuat kedua alis hera menjadi satu.

Hera mengerut sementara baekhyun tersenyum bahagia. Permainan mereka terus berlanjut dan sekarang kedudukan berpaling jauh. Wajah baekhyunlah yang saat ini di penuhi dengan coretan-coretan hasil karya hera. Entahlah baekhyun tidak tahu mengapa setiap pertanyaan yang keluar dari mulut hera tidak bisa ia jawab dengan benar meski ia tahu betul akan materi tersebut.

“Tangan ini milikku sekarang” kata hera sembari memberi coretan di lengan baekhyun.

“Mata ini juga milikku” kata hera lagi dalam kurun waktu yang berdekatan.

“Coret saja semuanya. Tangan. Kaki. Leher. Ambil saja semuanya!” Suara baekhyun meninggi. Ia tidak terima akan kekalahannya.

“Ishhhh, kau- apa kau hanya berpura-pura bodoh untuk mengujiku. Yak! Aku tidak akan mengajari ataupun membantumu lagi”

“Kau begitu pandai berakting. Ya, preman tetaplah preman mana bisa menjadi orang normal. Kedokmu sekarang terlihat olehku dasar preman” lanjut baekhyun dengan kata-kata yang semakin tajam.

Hera yang tiba-tiba saja mendapat makian terdiam. Sudut matanya telah mengabur menahan bendungan bening yang entah sejak kapan menggenang di sana.

Hera berbalik membelakangi baekhyun meski masih diam tanpa sepatah katapun.

“Y-yak, kau tidak menangis bukan-” suara baekhyun melemah, ia sedikit merasa tidak nyaman. Ya, baekhyun mungkin sadar apa yang ia katakan terlalu kelewatan.

Hera tidak menjawabnya dan justru bergerak mengambil langkah untuk menjauh dari tempat itu. Baekhyun yang melihat hera akan beranjak meninggalkannya buru-buru ia menarik lengan hera.

Hera refleks terhuyung kebelakang karena tarikan baekhyun pada lengannya begitu kuat. Baekhyun yang juga dalam posisi yang tidak begitu siap menahan beban tubuh hera ikut terhuyung dan menyebabkan keduanya terjatuh di atas sofa dengan posisi hera yang menindih tubuh baekhyun.

Rambut hitam panjang terurai hera menyapu lembut wajah baekhyun. Baik hera maupun baekhyun terdiam sesaat, tidak ada yang berani membuka suara sampai akhirnya-

“Omo! Apa yang kalian lakukan” pekik nyonya byun yang baru saja tiba di ruang tengah.

Secepat kilat hera langsung bangkit dari tumpuannya di atas tubuh baekhyun. Gadis itu tersenyum canggung pada ibu mertuanya.

“Ohh. Wajah kalian kenap-“

“Ahh ini. Tadi baekhyun membantuku belajar eomma. Karena bosan kami jadi sedikit bermain” jelas hera gelagapan.

“Ber-main ?” Tanya nyonya byun penuh teliti.

“Eumm” hera mengangguk sembari menunjukkan senyumnya.

“Uhh kalian begitu manis” kata nyonya byun ikut tersenyum.

“Oh ya, hera-ya nanti malam ayahmu akan datang” lanjut nyonya byun yang langsung di sambut pekikan girang dari hera. Gadis itu memeluk nyonya byun erat dan ikut mengiri langkahnya meninggalkan baekhyun yang masih diam dalam posisinya.

“Ouchhh ada apa dengan jantungku. Mengapa tiba-tiba jantungku berdetak begitu cepat. Apa aku akan terkena serangan jantung ?” Gumam baekhyun bangkit dari posisinya. “Wajahku- wajahku juga memanas ohhh aku pasti sakit sekarang” lanjut baekhyun sembari menyentuh kedua pipinya yang memerah.

~

Ayah hera telah berada di kediaman keluarga byun. Setelah makan malam bersama kini mereka semua berkumpul di ruang tengah sembari menikmati secangkir teh hangat bersama.

“Bagaimana kuliah kalian ? Dan kapan kalian ujian akhir ? Tanya nyonya byun membuka suara.

“Biasa saja dan ujian akan di laksanakan minggu depan” jawab baekhyun sembari meletakkan cangkir tehnya.

“Ahhh jadi kalian akan libur bulan depan bukan ?” Tanya nyonya byun lagi.

“Ya”

“Kalau begitu eomma akan mengatur perjalanan bulan madu kalian yang sudah tertunda begitu lama. Kosongkan jadwal kalian selama libur kali ini” kata nyonya byun kembali mengemukakan kuasanya.

Hera tersipu malu. Jelas tersirat di wajah gadis itu ronanya sementara baekhyun nampak akan beujar menolak rencana sang ibu “tapi eomma aku-“

“Eomma tidak menerima penolakan. Pokoknya kalian akan berangkat ke jeju setelah kalian mendapat waktu libur” potong nyonya byun tak terbantahkan.

“Eomma jeju begitu dingin saat ini. Apa tidak ada tempat lain ?” Protes baekhyun lagi.

“Tidak apa-apa bukankah itu justru baik kalian bisa saling menghangatkan jika kedinginan” jawab nyonya byun dengan senyum jahilnya.

Tuan byun, tuan ji dan dahyun ikut tertawa bersama membuat wajah hera yang sedari tadi duduk di samping ayahnya semakin memerah.

“Eomma, appa- bolehkah malam ini aku ikut pulang bersama appa” suara hera menatap tuan dan nyonya byun bergantian.

“Ya, tidak apa-apa sayang. Kau pasti sangat merindukan appamu bukan ? Nikmatilah eomma tidak melarangmu” jawab nyonya byun lembut.

“Y-yak, bagaimana kau hanya meminta izin dari eomma dan appa ? Kau tidak menganggapku ?” Kata baekhyun menatap tajam hera.

“Benar hera-ya, kau tidak boleh seperti itu. Baekhyun adalah suamimu, segalanya darimu adalah haknya. Kau harusnya juga meminta izin darinya” kata tuan ji membenarkan.

“Ya” jawab hera lemah kemudian mendongak dan menatap baekhyun di depannya.

“Yak! Oppa kau berlebihan. Terlalu protektif tadi kau menolak bulan madu kalian tapi mendengar eonni akan pulang bersama appanya kau sepertinya keberatan ?” Celoteh dahyun menimpali.

“Siapa yang keberatan!” Elak baekhyun dengan suara yang sedikit meninggi.

“Ouhh oppa! Kau terlalu kentara bahkan semua orang di sini menyadarinya” ejek dahyun tersenyum mengejek.

“Eomma, appa, paman sepertinya oppa tidak bisa jauh dari eonni. Oppa tidak bisa berpisah sebentar saja dengan eonni. Ohhh cute”  lanjut dahyun semakin menjadi-jadi.

“Bukankah kita sewaktu masih muda juga begitu ?” Suara tuan byun pada tuan ji.

“Ya aku mengerti. Kita telah melewatinya” jawab tuan ji tersenyum dan mengundang tawa semuanya terkecuali baekhyun yang sedari tadi diam menahan kesal dan malu.

TBC

Namjachingu ? (Kiss. Kiss. Kiss) – by bebebaek_

By bebebaek_

| Namjachingu? (Choco Kiss) |

Main cast : Byun Baek Hyun (EXO), Kim Na Na (oc).

Addicional Cast : Shim Yun Mi (oc), Kim Jong Dae (EXO).

Genre : romance, school life

Length : Oneshoot | Rating : PG teen.

Hasil khayalan sendiri, don’t plagiat.

Sorry Bertaburan Typo-.-

.

.

.

Suasana tenang dan bau kertas mendominasi ruangan yang di penuhi rak demi rak di setiap sisinya. Banyak orang-orang di sana, dengan laptop dan beberapa buku di depan mereka. Tidak ada yang bersuara, semua orang sibuk dengan apa yang di kerjakan mereka masing-masing.

Dan salah satu di antara orang-orang yang di berada di perpustakan kampus itu. Nana duduk di kursi deretan rak kedua dari ujung ruangan seorang diri. Laptop yang menyala di depannya dan buku-buku yang terbuka di sisi laptopnya, nana terlihat serius menarikan jemari-jemari kecilnya di atas keyboard laptopnya.

Headset yang terpasang di kedua telinga nana semakin melarutkannya dari orang-orang di sekitarnya. Nana benar-benar fokus pada apa yang ia kerjakan.

Nana tersentak saat sebotol minuman dingin seseorang letakkan di depannya. Gadis itu mendongak mengalihkan pandangannya dari layar laptop yang entah telah berapa lama ia pandangi.

“Eoh! Baek-ah” seru nana ketika senyum manis pemuda itulah yang ia lihat pertama kali saat ia mengalihkan tatapannya. Ya, baekhyunlah orang yang meletakkan minuman dingin itu di depan nana.

“Ujianmu sudah selesai ?” Tanya gadis itu kemudian. Nana ingat betul tadi malam pemuda itu berkata padanya jika siang ini ia memiliki ujian.

“Belum di mulai” jawab baekhyun santai sembari mengambil kursi di samping nana dan mendudukinya.

Nana mengerutkan alisnya, bertanya tanpa bersuara kepada pemuda di sampingnya itu.

“Masih ada waktu, ujianku di mulai 15 menit lagi” jawab baekhyun pada akhirnya. Ya, baekhyun benar-benar tidak tahan jika nana telah mengeluarkan tatapan intimidasi itu kepadanya.

“15 menit lagi ?” Tanya nana memastikan dan baekhyun hanya mengangguk sebagai jawabannya.

“Oh! astaga baek-ah, 15 menit lagi ujianmu akan di mulai dan kau masih di sini ? Yaa, jarak antara perpustakaan ini dengan kelasmu begitu jauh. Kau bisa terlambat” panik nana bersuara tanpa mengingat di mana dirinya saat ini.

Nana terdiam saat banyak pasang mata menatap tajam ke arahnya. Ya, ia melakukan sebuah kesalahan. Nana membungkuk kikuk meminta maaf sebelum kemudian ia kembali mendelik tajam kepada baekhyun.

“Apa yang kau tunggu baek-ah, cepat pergi ke kelasmu” suara nana lagi kali ini dengan nada rendah seakan ia berbisik kepada baekhyun.

“Sebentar lagi” jawab baekhyun dengan senyumnya. Pemuda itu masih saja menatap lekat nana di sampingnya.

“Yaaa, kau bisa terlambat” kata nana lagi, gadis itu mengguncangkan kedua lengan baekhyun.

“Tidak apa-apa nana-ya, sebentar lagi. Aku hanya ingin melihatmu sebentar lagi” baekhyun tersenyum lembut. Meraih kedua sisi wajah nana dengan telapak tangan hangatnya.

“Kau tau ? Aku ingin melihatmu sebelum ujianku karena setelah melihatmu aku akan bersemangat mengerjakan semua soal-soal itu” kata baekhyun berujuar sembari menatap lekat manik gelisah nana.

“Kau bisa menelponku tanpa harus berlari ke sini ?” Jawab nana rendah.

Baekhyun menggeleng pasti. “Tidak. Itu berbeda dengan melihatmu secara langsung” kata baekhyun menjauhkan kedua tangannya dan beralih mengelus pelan puncak kepala nana.

“Baiklah aku akan kembali” lanjut baekhyun setelah melihat jam tangan yang melingkar di lengan kirinya.

“Eummm” nana mengangguk mengiyakan.

“Tapi- ” baekhyun menggantungkan kalimatnya. Di raihnya satu buku yang terbuka di depannya dan-

Kedua manik jernih nana membola saat begitu cepatnya baekhyun mendaratkan bibir tipisnya pada bibir pink nana. Sebuah buku yang sebelumnya di raih baekhyun di jadikan pemuda itu untuk menutupi apa yang tengah ia lakukan dari banyaknya orang-orang yang berada di perpustakaan itu.

Hanya sebuah kecupan ringan. Baekhyun menarik kembali wajahnya, sembari tersenyum simpul pemuda itu meletakkan kembali buku itu di atas meja.

Bug!

Satu pukulan ringan mendarat di lengan baekhyun. Wajah nana terlihat bersemu namun ekpresi gadis itu jelas menunjukkan rajukkannya yang sumpah demi apapun semakin membuat baekhyun gemas dan tidak ingin beranjak pergi.

“Jangan marah kepadaku nana-ya” rengek baekhyun menilik wajah semerah tomat nana.

Nana tidak menjawab. Gadis itu mengalihkan pandangannya dari baekhyun.

“Baiklah, aku akan tetap di sini hingga kau berhenti marah kepadaku. Biarkan saja ujianku terlewat” kata baekhyun kembali.

“Yaaa” suara nana kembali menatap baekhyun. Bola mata gadis itu terlihat memerah dan baekhyun tahu jika ia harus berhenti sekarang.

“Baiklah aku akan pergi. Tapi sebelum itu tersenyumlah” pinta baekhyun dengan wajah memelasnya.

“Lebih nana-ya”

Nana tersenyum lebar kepada baekhyun. Namjachingunya ini terkadang memang begitu suka menggodanya.

“Kau sudah tidak marah padaku ?”

“Tidak. Karena itu cepatlah pergi, kau akan benar-benar terlambat” dorong nana pada kedua lengan baekhyun.

“Baiklah. Baiklah. Karena itu berikan suntikkan semangat kepadaku” kata baekhyun sembari mengerucutkan bibirnya meminta sebuah suntikkan semangat yang nana pasti mengerti apa maksudnya.

“Tidak sebelum ujianmu selesai” jawab nana tanpa berpikir panjang.

Baekhyun lantas bangkit dari duduknya. Dengan kedua manik berbinar pemuda itu menatap nana. “Kau sudah berjanji kepadaku eoh!” Kata baekhyun penuh penekanan pada akhir kalimatnya.

Nana mengangguk ragu namun karena waktu yang terus berlalu gadis itu akhirnya hanya mengiyakannya.

“Baiklah. Aku pergi”

“Pulang nanti aku akan menjemputmu. Tunggu aku di kelasmu eoh!” Suara baekhyun lagi saat ia berada di depan pintu perpustakaan.

Nana lagi-lagi harus membungkuk kikuk saat kembali banyak pasang mata menatap tajam ke arahnya. Baekhyun. Pemuda itu benar-benar.

Nana menggelengkan kepalanya pelan tidak habis pikir akan hal-hal yang di lakukan oleh namjachingunya itu. Namun sejurus kemudian gadis itu tersenyum karenanya. Ya, baekhyun memang tidak pernah berubah.  Selalu ada saja hal-hal baru yang di lakukan pemuda itu. Bagi nana baekhyun selalu punuh akan sebuah kejutan.

Fin

#happybaekhyunday 😍😍😍😘😗😗😙😚 yeowlaaaaa gak kerasa bebeb gak update ini series setahun. Huhuhu😢😢 gak ada yang kangen gitu ???? *ngarep

Okay! Berhubung hari ini ayangnya bebeb si ayangbeb ultah. Bebeb kadoin satu ff yang sungguh sangat gaje. *maafin bebeb kalau hasilnya gek sefeel karya dulu 😣😣

Doanya buat ayangbeb moga sukses segala projectnya. Baik bareng exo, cbx, duet, solo, drama (please main drama lagi please?😶)

Makin semok, makin gak bisa diem, makin sering live instagram *ngeheh😆

Terakhir. Semoga suka ya🤗🤗🤗

🙈bebebaek_