It This Love ? – Chapter 3

by bebebaek_

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2

Main cast : Byun Baekhyun & Z.Hera.

Genre : romance.

Length : Ficlet | Rating : General.

-aku yang masih gamon berkelanjutan sama ini couple. Di ambil dari beberapa adegan drama moon lovers : scarlet heart ryeo dan di adaptasi ke zaman modern. Murni imajinasi aku ya, don’t plagiat. Bikin cerita itu susah!-

Happy Reading

***

Ceklek.

Baekhyun membuka pintu kamarnya setibanya ia di rumah. Sejak pagi pemuda itu pergi ke kampusnya untuk menyelesaikan beberapa urusan menyangkut kuliahnya dan pulang saat langit telah menggelap.

Baekhyun mengedarkan pandangannya mencari-cari sosok hera, gadis yang sudah dua bulan belakangan ini menghuni kamar bersama dengannya.

“Eoh kemana ia pergi” gumam baekhyun karena tidak menemukan hera di manapun, seingatnya tadi di bawah hanya ada dahyun dan ibunya. Sedangkan ayahnya ? Tentu saja masih di kantornya.

Baekhyun mengangkat kedua bahunya cepat “kenapa aku mencarinya” gumam baekhyun tersadar.

Baekhyun meletakkan sembarang ransel yang semula menggantung di punggungnya. Dengan  wajah yang kembali datar baekhyun beranjak menuju kamar mandi.

Baekhyun tidak mendengar apapun, bahkan suara gemericik air dari dalam kamar mandipun tidak mampu menyapa rungunya karena saat ini baekhyun sibuk mengeluh dalam hatinya.

 

 

 

Baekhyun kesal, mengapa ia bisa-bisanya mencari gadis itu. Bukankah ia tidak menggapnya ada ? Bukankah gadis itu hanyalah seorang pengganggu ? Bukankah baekhyun tidak-. Tidak. Tidak. Baekhyun tidak mungkin menyukainya.

“Issshhh kemana dia! Bisa-bisanya ia pergi tanpa membersihkan kamar!” Bentak baekhyun menghentikan langkahnya. Ia lalu menarik selimut di atas tempat tidurnya yang telah tertata rapi. Tidak lupa baekhyun juga mengurai sembarang selimut tebal yang selama ini menjadi alas tidur hera.

Sejujurnya kamarnya tidaklah berantakan. Semuanya tertata rapi dan saat ini justru baekhyunlah yang mengacaukannya. Entahlah baekhyun kesal dan ia kesal tanpa suatu alasan.

Baekhyun kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Dengan kasar pemuda itu menarik gagang pintunya.

“Aaaaaaaaaaa!!”

Teriak seseorang dari dalam kamar mandi. Hera. Ya, heralah pemilik suara itu. Ia baru saja selesai mandi dan tengah mengenakan pakaian saat baekhyun tiba-tiba membuka pintu yang bodohnya hera karena lupa menguncinya.

“Yak! Kau mengagetkanku bodoh!” Bentak baekhyun setelah tersadar akan keterkejutannya.

Buru-buru hera membenarkan kaosnya yang belum terpasang sempurna di tubuhnya. Hera menunduk malu sembari satu lengannya menaikkan lengan bajunya yang merosot.

Baekhyun menelan salivanya samar, bagaimanapun tampilan hera di depannya saat ini benar-benar membuatnya-. Tidak itu terlalu berbahaya.

“Kenapa ? Kenapa bahkan tanpa polesan di wajahnya ia tampak bersinar saat ini” tutur baekhyun dalam hatinya.

“Tidak. Tidak! Apa yang telahku katakan” batin baekhyun menyangkal.

“Tapi-“

Baekhyun kemudian menggerakkan maniknya ragu-ragu ia menatap hera yang sialnya juga telah menatapnya penuh teliti.

“Apa!!!?” Suara baekhyun meninggi tidak suka dan risih akan pandangan hera kepadanya.

“Tidak- dari tadi kau hanya diam jadi aku-, ahh. Apa kau ingin mandi ? Atau kau ingin buang air ?” Kata hera dengan wajah polosnya.

“Eoh! Karena itu kelaurlah!”

“Gunakanlah. Aku sudah selesai” jawab hera tersenyum lalu beranjak keluar.

Baekhyun tidak lagi dapat bersuara, pemuda itu masuk ke dalam kamar mandi selepas hera melewatinya. Baekhyun lalu membanting pintunya membuat deburan nyaring yang berhasil menyentak hera hingga gadis itu menutup matanya terkejut.

“Hoahh! Kenapa jantungku jadi seperti ini” gumam baekhyun di balik pintu kamar mandi. Baekhyun menggelengkan kepalanya lalu beranjak menuju wastafel dan mencuci mukanya.

“Ouhhh! Dingin!” Pekiknya kesal karena air dinginlah yang mengalir dari sana.

“Issshhh. Apa dia ingin membuatku membeku. Mengapa ia tidak mengaturnya menjadi hangat. Hanya orang gilalah yang mencuci wajahnya dengan air dingin di musim dingin seperti ini” omel baekhyun tidak habis-habisnya.

Tidak lama baekhyun keluar dari kamar mandi, kini ia telah berganti pakaian dengan handuk kecil menggantung di bahunya.

“Yak! Apa kau sudah tidak waras ? Mengapa kau tidak mengubah suhu airnya. Kau ingin membuatku mati kedinginan” cecar baekhyun setelah ia mendudukkan dirinya di atas tempat tidur.

Hera yang sebelumnya telah berbaring di atas selimut tebal yang menghampar di sisi bawah tempat tidur baekhyun beranjak bangun dan menatap baekhyun dengan ekspresi tanpa dosa.

“Aissshh sudahlah. Tidak ada gunanya lagipula aku sudah mengaturnya” suara baekhyun kembali lalu berbaring di kasur miliknya.

Hera hanya menatap baekhyun dalam diam. Wajah hera lagi-lagi kecewa, dua bulan ini baekhyun sama sekali tidak berubah. Ia tetap  saja selalu bersuara kasar kepadanya. Hera menghela nafasnya berat. Ia menguatkan hatinya. Inilah keputusannya, ia sama sekali tidak boleh menyesal. Tidak mengapa baekhyun berujar kasar dan tidak peduli padanya asalkan ia bisa selalu bersama dengan pemuda itu maka hera sudah cukup bahagia.

“Yak-” suara baekhyun bangkit dari posisi telentangnya dan kembali menatap hera yang masih duduk diam dalam posisinya.

“Tadi aku baru saja dari kampusku, aku melihat papan pengumuman mahasiswa baru di jurusanku. Dan- namamu ada di sana ? Apa itu benar kau ? Atau orang lain yang bernama sama denganmu ?” Tanya baekhyun kemudian.

“Benarkah ?” Suara hera antusias dan itu membuat wajah baekhyun mengerut.

“Jangan katakan itu benar kau” suara baekhyun tidak yakin.

Hera mengangguk antusias membenarkan jika nama yang tercantum tersebut memanglah namanya. Sementara hera sekarang tersenyum bahagia, baekhyun justru menekuk wajahnya tidak suka.

“Apa kau tidak lelah selalu mengikutiku kemanapun ? Yak, dengarkan aku baik-baik jurusan seni itu tidak hanya mengandalkan kemampuanmu senimu di satu bidang. Jika kau tidak memiliki bakat atau kemampuan sama sekali lebih baik kau mengundurkan diri” kata baekhyun berbicara serius.

“Aku akan -berusaha” jawab hera pelan dengan senyum tipisnya.

Baekhyun memutar bola matanya malas. “Terserah kau. Jangan pernah mengeluh padaku nantinya. Aku sudah memperingatimu eoh” kata baekhyun kemudian kembali membaringkan tubuhnya.

~

Pagi kali ini terlihat berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Kediaman keluarga byun terlihat begitu sibuk pagi kali ini. Sedari subuh nyonya byun telah terjaga dan sibuk bergelut di balik kompor dapurnya.

Heralah orang pertama yang turun menghampiri nyonya byun. Gadis itu tersenyum cerah dan berdiri di samping ibu mertuanya itu.

“Ada sesuatu yang bisaku bantu eomma ?” Tanya hera setelahnya.

Nyonya byun tersenyum ramah “kau terlihat begitu cantik hari ini hera-ya” kata nyonya byun membuat hera tersipu malu.

“Bagaimana apa semuanya sudah siap ? Jangan sampai ada sesuatu yang ketinggalan di hari pertamamu kuliah” lanjut nyonya byun.

“Eoh. Semuanya sudah siap. Jadi apa aku bisa membantu eomma sekarang ?” Tanya hera lagi.

“Oh astaga eomma sampai lupa menjawab pertanyaanmu sayang” suara nyonya byun tertawa renyah.

“Baiklah. Tolong bawakan piring-piring itu ke meja makan. Tolong tatakan ya sayang supaya kita bisa sarapan bersama” kata nyonya byun lagi.

Hera mengangguk lalu membawa piring-piring itu dan menatanya di meja makan. Belum selesai hera menata piring-piring itu, dahyun turun dari kamarnya menyusul dan membantu hera.

Saat hera dan dahyun selesai menata piring-piring yang telah berisi berbagai lauk pauk. Tidak lupa nyonya byun menuangkan susu hangat untuk baekhyun, hera dan dahyun sedangkan tuan byun, nyonya byun telah menyuguhkan secangkir kopi hangat untuk suaminya yang telah duduk di kursinya di temani dengan koran hariannya.

Baekhyun turun dengan pakaian rapi dan tas yang telah tersampir di bahunya. Baekhyun duduk di kursinya, mengambil dua potong roti dan mengolesinya dengan selai cokelat kesukaannya.

“Eonni kau kuliah di jurusan yang sama dengan oppa bukan ?” Dahyun membuka suaranya saat hera dan nyonya byun juga telah duduk di kursi mereka masing-masing.

Hera mengangguk sembari melirik baekhyun yang terlihat mengabaikan pertanyaan dahyun.

“Woahh. Kalian memang pasangan serasi” antusias dahyun berusaha mencuri perhatian baekhyun. “Eonni karena kau satu kampus dengan oppa. Kau bisa mengawasi oppa kapanpun dan dimanapun. Jika oppa terlihat bersama seorang gadis lain atau ia menggoda gadis lain kau bisa langsung menghajarnya” kata dahyun yang kali ini sukses membuat baekhyun mendelik tajam padanya.

“Aku selasai” kata baekhyun setelah mengalihkan tatapannya dari dahyun. Ia kemudian bangkit dan kembali menyampirkan tasnya di salah satu punggungnya.

“Aku berangkat” suara baekhyun lagi.

“Baek- hey nak” seru nyonya byun menghentikan pergerakan baekhyun yang akan melangkah pergi.

Baekhyun berbalik dan menatap eommanya dengan tatapan datar. “Kenapa kau mau pergi begitu saja ?” Tanya nyonya byun balas menatap baekhyun dengan tatapan penuh tanya.

“Hera-ya, berangkatlah bersama baekhyun” lanjut nyonya byun mengalihkan tatapannya kepada hera.

Hera menatap ragu baekhyun yang sama sekali diam tanpa suara. “Y-ya, aku mengambil tasku sebenatar” suara hera kemudian bangkit menuju kamarnya di lantai atas.

“Haissshh lama sekali. Yak! Cepatlah! Aku bisa terlambat” teriak baekhyun semabari menatap ke lantai atas.

Tuan byun yang melihat baekhyun lagi-lagi berkata kasar kepada istrinya menghela nafasnya berat. “Byun baekhyun” suara tuan byun berat membuat pemuda yang di panggil itu menatap padanya.

“Mau sampai kapan kau bersikap seperti itu kepada hera ?” Tanya tuan byun yang kemudian hanya membungkam mulut baekhyun tanpa menjawabnya.

“Bagaiamanapun dia adalah istrimu. Tidak bisakah kau sedikit bersikap lembut padanya ?” lanjut tuan byun.

“Appamu benar baek-ah, hera adalah istrimu kau harus menjaganya. Hari ini adalah hari pertamanya kuliah, tidak bisakah kau membantunya” nyonya byun menimpali.

Hera telah turun dan berdiri di sisi baekhyun. Ia sama sekali tidak menyadari suasana yang menghening selepas kedatangannya. Hera menatap setiap orang bingung. Tidak ada yang membuka suara sama sekali.

“Apa kita akan berangkat sekarang ?” Tanya hera pada baekhyun.

“Hmmm” gumam baekhyun melirik hera lalu beralih menatap ayah dan ibunya bergantian. Baekhyun kemudian melangkah mendahului hera.

“Aku pergi dulu” ucap hera berpamitan sembari membungkuk kepada taun dan nyonya byun yang di balas keduanya dengan senyum ramahnya.

“Bagaimana kau sama sekali tidak disiplin di hari pertamamu kuliah” baekhyun membuka suaranya setelah keduanya keluar dari rumah mereka.

Hera menatap baekhyun dengan kedua alis berkerut. Ia tidak mengerti akan apa yang di katakan baekhyun. Tidak disiplin ? Hera sama sekali tidak merasa apa yang di tuduhkan baekhyun kepadanya itu benar. Ia disiplin bahkan ia bangul lebih awal dari biasanya.

“Kau- mengapa kau tidak membawa tasmu sekalian. Membuang-buang waktu saja” kata baekhyun menajamkan letak kesalahan hera.

“Ahh. Maafkan aku”

“Semua salahmu jika aku terlambat hari ini” suara baekhyun tanpa memperdulikan permintaan maaf hera.

“Ingat jangan menyusahkanku di kampus”

“Jangan ikut campur dalam berbaragai urusanku”

“Kau harus berkerja keras sendiri. Aku sudah pernah bilangkan jurusan seni itu sulit”

“Apa kelas pertamamu hari ini ?” Tanya baekhyun entahlah kenapa ia bertanya seperti itu tiba-tiba.

“Aku- eumm kelas musik”

“Kenapa kau ragu ? Apa kau tidak ingat jadwalmu ? Yak. Bagaimana kau bisa melupakannya. Apa kau-“

“Ya, kelas pertamaku kelas musik” potong hera meyakinkan”

Baekhyun mendengus kesal “ruang musik ada di lantai dua ujung lorong” kata baekhyun memberi tahu.

“Terima kasih” ucap hera pelan.

“Ah ya- aku hampir lupa dengan yang satu ini. Ingat semua pemuda di kampus berbeda dengan pemuda di sekolah mereka sedikit- eumm tidak bisa di percaya, mereka juga suka mengambil kesempatan karena itu kau jangan begitu akrab dengan mereka. Kau mengerti” kata baekhyun terus menerus.

Hera lagi-lagi hanya mengangguk mengiyakan. Suaminya itu terus saja mengoceh tanpa henti bahkan ketika keduanya telah berada di kampus mereka.

“Woahhh sungguh pemandangan yang indah. Pagi-pagi seperti ini aku sudah melihat sepasang suami istri datang ke kampus bersama-sama” suara cempreng seseorang menginterupsi langkah baekhyun yang di ikuti oleh hera.

“Uuuuu… kalian terlihat harmonis sekali” lanjut pemuda itu setibanya ia dan minseok di depan baekhyun dan hera.

“Yak! Apa suaramu tidak bisa lebih tinggi lagi. Atau kau perlu aku pinjamkan pengeras suara” suara baekhyun kesal pada jongdae sang empunya suara.

Jongdae hanya terkikik geli melihat reaksi dari baekhyun. Ya, mungkin perkataannya tadi memang terlalu bernada tinggi. Bagaimanapu di kampus mereka tidak ada yang mengetahui perihal pernikahan baekhyun selain jongdae dan minseok.

“Mau bagaimana lagi bakatku memang di suara emasku” jawab jongdae melenceng dari pembicaraan.

“Ahh.. annyeonghaseo hera-ssi” sapa minseok sopan pada hera yang sejak tadi terabaikan di samping baekhyun.

“A-annyeong” jawab hera canggung. Ia balas menunduk setelahnya.

“Kau tidak lupa padaku kan ?” Tanya minseok yang di jawab hera dengan wajah bingungnya.

“Aku adalah anak paman kim-mu. Kita sering bertemu jika ada peringatan di markas militer ayah kita” kata minseok menjelaskan.

“Ahh…” hera hanya ber ah ria mengingat-ingat sedikit masa lalu dimana ia dan minseok saling bertemu. “Senang bisa bertemu denganmu lagi” suara hera kemudian.

“Dan aku ?” Suara jongdae lagi membuat manik hera beralih dari minseok.

“Kau tidak mungkin lupa padaku bukan ?” Lanjut jongdae sembari jemari telunjuknya mengelus pelan batang hidungnya.

Sejenak sekelebat ingatan masa lalu kembali menghampiri hera. Hari itu-.

“Maafkan aku. Maafk-“

“Tidak apa-apa” potong jongdae sembari tersenyum renyah. “Tidak apa-apa karena kau cantik. Ahh rasanya aku bangga karena hidungku patahkan oleh gadis secantik kau” lanjut jongdae yang ikuti dengusan tidak suka dari baekhyun. Mulut jongdae ini memang semakin blong setiap harinya.

“Yak, sudah jam berapa sekarang. Kita bisa terlambat masuk kelas pertama” peringat minseok setelah melirik sekilas jam di tangannya.

“Kajja” kata baekhyun kemudian melangkah mendahului ketiganya.

Minseok dan jongdae terheran-heran. Bagaimana bisa baekhyun begitu acuh dan meninggalkan hera begitu saja.

“Yak, kau tidak pamitan atau semacam- eumm begitulah pada istrimu” bisik minseok pada baekhyun namun di abaikan olehnya.

“Eoh. Hera-ya sampai bertemu lagi” seru minseok tersenyum sembari melambaikan tangannya.

“Hera-ya, jaga dirimu baik-baik” suara jongdae ikut melambaikan tangannya yang lagi di dengar oleh telinga baekhyun dan membuatnya menggerutu pelan.

“Tentu saja ia bisa menjaga dirinya”

“Apa katamu ?” Tanya minseok yang tidak mendengar jelas gumaman baekhyun.

“Tidak ada” jawab baekhyun cepat sembari terus melangkah menuju kelas bersama minseok dan jongdae.

~

“Baek-ah bisakah kau menolongku ?” Tanya hera pelan sesampainya ia di ruang tengah dimana baekhyun sedang bersantai sembari menonton tv yang menyala di depannya.

“Mmmm memangnya kapan kau tidak menyusahkanku ?” Sindir baekhyun. “Baiklah kali ini kau mau bertanya apa ?” Lanjutnya membuat senyum seketika terbit di wajah polos hera.

“Ckc, kau harus bersyukur karna suamimu ini menguasai segala hal yang menyangkut dengan seni. Aku ini tidak hanya berbakat tapi jenius kau tau ?” Baekhyun langsung membagakan dirinya katika hera menyodorkan sebuah buku kepadanya.

“Minggu depan materi pertama ujian akhirku tentang not balok dan aku belum terlalu mengerti bagaimana cara membacanya” kata hera jujur.

“Ouchh ini akan sulit untuk orang sepertimu mengerti. Tapi mari kita coba” kata baekhyun lalu membuka lembar demi lembar buku di tangannya. Dengan jelas dan begitu rinci ia menjelaskan berbagai jenis not balok yang sebelumnya tidak di mengerti hera sama sekali.

“Bagaimana apa kau mengerti ?” Tanya baekhyun setelahnya.

Hera hanya mengangguk ragu dan itu membuat baekhyun memicingkan mata kecilnya tidak percaya.

“Aku akan mengujimu. Jika kau masih saja tidak bisa aku akan mencoret wajahmu. Aku sudah lelah menjelaskan segalanya awas saja jika kau-”
“Eumm baiklah. Mari bermain, jika aku benar maka aku yang akan mencoret wajahmu” potong hera dengan anggukan antusias.

“Hehhh” baekhyun tertawa sumbang. “Kau ingin menguji kemampuanku ? Baiklah ayo kita mulai” tantang baekhyun yang tidak suka di remehkan sama sekali.

“Aku yang pertama eoh. Ku pastikan akan ada banyak coretan di wajahmu” kata baekhyun penuh keyakinan.

“Baiklah… ada berapa macam kunci dalam not balok ?”

Hera tampak berpikir sejenak. Tadi baekhyun sempat menjelaskan kepadanya hanya saja ia sedikit ragu.

“1….2….3- baiklah kau kalah!” seru baekhyun lalu dengan antusias ia meraih spidol di tangan hera dan mencoret alis gadis itu membuat kedua alis hera menjadi satu.

Hera mengerut sementara baekhyun tersenyum bahagia. Permainan mereka terus berlanjut dan sekarang kedudukan berpaling jauh. Wajah baekhyunlah yang saat ini di penuhi dengan coretan-coretan hasil karya hera. Entahlah baekhyun tidak tahu mengapa setiap pertanyaan yang keluar dari mulut hera tidak bisa ia jawab dengan benar meski ia tahu betul akan materi tersebut.

“Tangan ini milikku sekarang” kata hera sembari memberi coretan di lengan baekhyun.

“Mata ini juga milikku” kata hera lagi dalam kurun waktu yang berdekatan.

“Coret saja semuanya. Tangan. Kaki. Leher. Ambil saja semuanya!” Suara baekhyun meninggi. Ia tidak terima akan kekalahannya.

“Ishhhh, kau- apa kau hanya berpura-pura bodoh untuk mengujiku. Yak! Aku tidak akan mengajari ataupun membantumu lagi”

“Kau begitu pandai berakting. Ya, preman tetaplah preman mana bisa menjadi orang normal. Kedokmu sekarang terlihat olehku dasar preman” lanjut baekhyun dengan kata-kata yang semakin tajam.

Hera yang tiba-tiba saja mendapat makian terdiam. Sudut matanya telah mengabur menahan bendungan bening yang entah sejak kapan menggenang di sana.

Hera berbalik membelakangi baekhyun meski masih diam tanpa sepatah katapun.

“Y-yak, kau tidak menangis bukan-” suara baekhyun melemah, ia sedikit merasa tidak nyaman. Ya, baekhyun mungkin sadar apa yang ia katakan terlalu kelewatan.

Hera tidak menjawabnya dan justru bergerak mengambil langkah untuk menjauh dari tempat itu. Baekhyun yang melihat hera akan beranjak meninggalkannya buru-buru ia menarik lengan hera.

Hera refleks terhuyung kebelakang karena tarikan baekhyun pada lengannya begitu kuat. Baekhyun yang juga dalam posisi yang tidak begitu siap menahan beban tubuh hera ikut terhuyung dan menyebabkan keduanya terjatuh di atas sofa dengan posisi hera yang menindih tubuh baekhyun.

Rambut hitam panjang terurai hera menyapu lembut wajah baekhyun. Baik hera maupun baekhyun terdiam sesaat, tidak ada yang berani membuka suara sampai akhirnya-

“Omo! Apa yang kalian lakukan” pekik nyonya byun yang baru saja tiba di ruang tengah.

Secepat kilat hera langsung bangkit dari tumpuannya di atas tubuh baekhyun. Gadis itu tersenyum canggung pada ibu mertuanya.

“Ohh. Wajah kalian kenap-“

“Ahh ini. Tadi baekhyun membantuku belajar eomma. Karena bosan kami jadi sedikit bermain” jelas hera gelagapan.

“Ber-main ?” Tanya nyonya byun penuh teliti.

“Eumm” hera mengangguk sembari menunjukkan senyumnya.

“Uhh kalian begitu manis” kata nyonya byun ikut tersenyum.

“Oh ya, hera-ya nanti malam ayahmu akan datang” lanjut nyonya byun yang langsung di sambut pekikan girang dari hera. Gadis itu memeluk nyonya byun erat dan ikut mengiri langkahnya meninggalkan baekhyun yang masih diam dalam posisinya.

“Ouchhh ada apa dengan jantungku. Mengapa tiba-tiba jantungku berdetak begitu cepat. Apa aku akan terkena serangan jantung ?” Gumam baekhyun bangkit dari posisinya. “Wajahku- wajahku juga memanas ohhh aku pasti sakit sekarang” lanjut baekhyun sembari menyentuh kedua pipinya yang memerah.

~

Ayah hera telah berada di kediaman keluarga byun. Setelah makan malam bersama kini mereka semua berkumpul di ruang tengah sembari menikmati secangkir teh hangat bersama.

“Bagaimana kuliah kalian ? Dan kapan kalian ujian akhir ? Tanya nyonya byun membuka suara.

“Biasa saja dan ujian akan di laksanakan minggu depan” jawab baekhyun sembari meletakkan cangkir tehnya.

“Ahhh jadi kalian akan libur bulan depan bukan ?” Tanya nyonya byun lagi.

“Ya”

“Kalau begitu eomma akan mengatur perjalanan bulan madu kalian yang sudah tertunda begitu lama. Kosongkan jadwal kalian selama libur kali ini” kata nyonya byun kembali mengemukakan kuasanya.

Hera tersipu malu. Jelas tersirat di wajah gadis itu ronanya sementara baekhyun nampak akan beujar menolak rencana sang ibu “tapi eomma aku-“

“Eomma tidak menerima penolakan. Pokoknya kalian akan berangkat ke jeju setelah kalian mendapat waktu libur” potong nyonya byun tak terbantahkan.

“Eomma jeju begitu dingin saat ini. Apa tidak ada tempat lain ?” Protes baekhyun lagi.

“Tidak apa-apa bukankah itu justru baik kalian bisa saling menghangatkan jika kedinginan” jawab nyonya byun dengan senyum jahilnya.

Tuan byun, tuan ji dan dahyun ikut tertawa bersama membuat wajah hera yang sedari tadi duduk di samping ayahnya semakin memerah.

“Eomma, appa- bolehkah malam ini aku ikut pulang bersama appa” suara hera menatap tuan dan nyonya byun bergantian.

“Ya, tidak apa-apa sayang. Kau pasti sangat merindukan appamu bukan ? Nikmatilah eomma tidak melarangmu” jawab nyonya byun lembut.

“Y-yak, bagaimana kau hanya meminta izin dari eomma dan appa ? Kau tidak menganggapku ?” Kata baekhyun menatap tajam hera.

“Benar hera-ya, kau tidak boleh seperti itu. Baekhyun adalah suamimu, segalanya darimu adalah haknya. Kau harusnya juga meminta izin darinya” kata tuan ji membenarkan.

“Ya” jawab hera lemah kemudian mendongak dan menatap baekhyun di depannya.

“Yak! Oppa kau berlebihan. Terlalu protektif tadi kau menolak bulan madu kalian tapi mendengar eonni akan pulang bersama appanya kau sepertinya keberatan ?” Celoteh dahyun menimpali.

“Siapa yang keberatan!” Elak baekhyun dengan suara yang sedikit meninggi.

“Ouhh oppa! Kau terlalu kentara bahkan semua orang di sini menyadarinya” ejek dahyun tersenyum mengejek.

“Eomma, appa, paman sepertinya oppa tidak bisa jauh dari eonni. Oppa tidak bisa berpisah sebentar saja dengan eonni. Ohhh cute”  lanjut dahyun semakin menjadi-jadi.

“Bukankah kita sewaktu masih muda juga begitu ?” Suara tuan byun pada tuan ji.

“Ya aku mengerti. Kita telah melewatinya” jawab tuan ji tersenyum dan mengundang tawa semuanya terkecuali baekhyun yang sedari tadi diam menahan kesal dan malu.

TBC

Namjachingu ? (Kiss. Kiss. Kiss) – by bebebaek_

By bebebaek_

| Namjachingu? (Choco Kiss) |

Main cast : Byun Baek Hyun (EXO), Kim Na Na (oc).

Addicional Cast : Shim Yun Mi (oc), Kim Jong Dae (EXO).

Genre : romance, school life

Length : Oneshoot | Rating : PG teen.

Hasil khayalan sendiri, don’t plagiat.

Sorry Bertaburan Typo-.-

.

.

.

Suasana tenang dan bau kertas mendominasi ruangan yang di penuhi rak demi rak di setiap sisinya. Banyak orang-orang di sana, dengan laptop dan beberapa buku di depan mereka. Tidak ada yang bersuara, semua orang sibuk dengan apa yang di kerjakan mereka masing-masing.

Dan salah satu di antara orang-orang yang di berada di perpustakan kampus itu. Nana duduk di kursi deretan rak kedua dari ujung ruangan seorang diri. Laptop yang menyala di depannya dan buku-buku yang terbuka di sisi laptopnya, nana terlihat serius menarikan jemari-jemari kecilnya di atas keyboard laptopnya.

Headset yang terpasang di kedua telinga nana semakin melarutkannya dari orang-orang di sekitarnya. Nana benar-benar fokus pada apa yang ia kerjakan.

Nana tersentak saat sebotol minuman dingin seseorang letakkan di depannya. Gadis itu mendongak mengalihkan pandangannya dari layar laptop yang entah telah berapa lama ia pandangi.

“Eoh! Baek-ah” seru nana ketika senyum manis pemuda itulah yang ia lihat pertama kali saat ia mengalihkan tatapannya. Ya, baekhyunlah orang yang meletakkan minuman dingin itu di depan nana.

“Ujianmu sudah selesai ?” Tanya gadis itu kemudian. Nana ingat betul tadi malam pemuda itu berkata padanya jika siang ini ia memiliki ujian.

“Belum di mulai” jawab baekhyun santai sembari mengambil kursi di samping nana dan mendudukinya.

Nana mengerutkan alisnya, bertanya tanpa bersuara kepada pemuda di sampingnya itu.

“Masih ada waktu, ujianku di mulai 15 menit lagi” jawab baekhyun pada akhirnya. Ya, baekhyun benar-benar tidak tahan jika nana telah mengeluarkan tatapan intimidasi itu kepadanya.

“15 menit lagi ?” Tanya nana memastikan dan baekhyun hanya mengangguk sebagai jawabannya.

“Oh! astaga baek-ah, 15 menit lagi ujianmu akan di mulai dan kau masih di sini ? Yaa, jarak antara perpustakaan ini dengan kelasmu begitu jauh. Kau bisa terlambat” panik nana bersuara tanpa mengingat di mana dirinya saat ini.

Nana terdiam saat banyak pasang mata menatap tajam ke arahnya. Ya, ia melakukan sebuah kesalahan. Nana membungkuk kikuk meminta maaf sebelum kemudian ia kembali mendelik tajam kepada baekhyun.

“Apa yang kau tunggu baek-ah, cepat pergi ke kelasmu” suara nana lagi kali ini dengan nada rendah seakan ia berbisik kepada baekhyun.

“Sebentar lagi” jawab baekhyun dengan senyumnya. Pemuda itu masih saja menatap lekat nana di sampingnya.

“Yaaa, kau bisa terlambat” kata nana lagi, gadis itu mengguncangkan kedua lengan baekhyun.

“Tidak apa-apa nana-ya, sebentar lagi. Aku hanya ingin melihatmu sebentar lagi” baekhyun tersenyum lembut. Meraih kedua sisi wajah nana dengan telapak tangan hangatnya.

“Kau tau ? Aku ingin melihatmu sebelum ujianku karena setelah melihatmu aku akan bersemangat mengerjakan semua soal-soal itu” kata baekhyun berujuar sembari menatap lekat manik gelisah nana.

“Kau bisa menelponku tanpa harus berlari ke sini ?” Jawab nana rendah.

Baekhyun menggeleng pasti. “Tidak. Itu berbeda dengan melihatmu secara langsung” kata baekhyun menjauhkan kedua tangannya dan beralih mengelus pelan puncak kepala nana.

“Baiklah aku akan kembali” lanjut baekhyun setelah melihat jam tangan yang melingkar di lengan kirinya.

“Eummm” nana mengangguk mengiyakan.

“Tapi- ” baekhyun menggantungkan kalimatnya. Di raihnya satu buku yang terbuka di depannya dan-

Kedua manik jernih nana membola saat begitu cepatnya baekhyun mendaratkan bibir tipisnya pada bibir pink nana. Sebuah buku yang sebelumnya di raih baekhyun di jadikan pemuda itu untuk menutupi apa yang tengah ia lakukan dari banyaknya orang-orang yang berada di perpustakaan itu.

Hanya sebuah kecupan ringan. Baekhyun menarik kembali wajahnya, sembari tersenyum simpul pemuda itu meletakkan kembali buku itu di atas meja.

Bug!

Satu pukulan ringan mendarat di lengan baekhyun. Wajah nana terlihat bersemu namun ekpresi gadis itu jelas menunjukkan rajukkannya yang sumpah demi apapun semakin membuat baekhyun gemas dan tidak ingin beranjak pergi.

“Jangan marah kepadaku nana-ya” rengek baekhyun menilik wajah semerah tomat nana.

Nana tidak menjawab. Gadis itu mengalihkan pandangannya dari baekhyun.

“Baiklah, aku akan tetap di sini hingga kau berhenti marah kepadaku. Biarkan saja ujianku terlewat” kata baekhyun kembali.

“Yaaa” suara nana kembali menatap baekhyun. Bola mata gadis itu terlihat memerah dan baekhyun tahu jika ia harus berhenti sekarang.

“Baiklah aku akan pergi. Tapi sebelum itu tersenyumlah” pinta baekhyun dengan wajah memelasnya.

“Lebih nana-ya”

Nana tersenyum lebar kepada baekhyun. Namjachingunya ini terkadang memang begitu suka menggodanya.

“Kau sudah tidak marah padaku ?”

“Tidak. Karena itu cepatlah pergi, kau akan benar-benar terlambat” dorong nana pada kedua lengan baekhyun.

“Baiklah. Baiklah. Karena itu berikan suntikkan semangat kepadaku” kata baekhyun sembari mengerucutkan bibirnya meminta sebuah suntikkan semangat yang nana pasti mengerti apa maksudnya.

“Tidak sebelum ujianmu selesai” jawab nana tanpa berpikir panjang.

Baekhyun lantas bangkit dari duduknya. Dengan kedua manik berbinar pemuda itu menatap nana. “Kau sudah berjanji kepadaku eoh!” Kata baekhyun penuh penekanan pada akhir kalimatnya.

Nana mengangguk ragu namun karena waktu yang terus berlalu gadis itu akhirnya hanya mengiyakannya.

“Baiklah. Aku pergi”

“Pulang nanti aku akan menjemputmu. Tunggu aku di kelasmu eoh!” Suara baekhyun lagi saat ia berada di depan pintu perpustakaan.

Nana lagi-lagi harus membungkuk kikuk saat kembali banyak pasang mata menatap tajam ke arahnya. Baekhyun. Pemuda itu benar-benar.

Nana menggelengkan kepalanya pelan tidak habis pikir akan hal-hal yang di lakukan oleh namjachingunya itu. Namun sejurus kemudian gadis itu tersenyum karenanya. Ya, baekhyun memang tidak pernah berubah.  Selalu ada saja hal-hal baru yang di lakukan pemuda itu. Bagi nana baekhyun selalu punuh akan sebuah kejutan.

Fin

#happybaekhyunday 😍😍😍😘😗😗😙😚 yeowlaaaaa gak kerasa bebeb gak update ini series setahun. Huhuhu😢😢 gak ada yang kangen gitu ???? *ngarep

Okay! Berhubung hari ini ayangnya bebeb si ayangbeb ultah. Bebeb kadoin satu ff yang sungguh sangat gaje. *maafin bebeb kalau hasilnya gek sefeel karya dulu 😣😣

Doanya buat ayangbeb moga sukses segala projectnya. Baik bareng exo, cbx, duet, solo, drama (please main drama lagi please?😶)

Makin semok, makin gak bisa diem, makin sering live instagram *ngeheh😆

Terakhir. Semoga suka ya🤗🤗🤗

🙈bebebaek_

 

It This Love – Chapter 2

by bebebaek_

Prolog | Chapter 1

Main cast : Byun Baekhyun & Z.Hera.

Genre : romance.

Length : Ficlet | Rating : General.

-aku yang masih gamon berkelanjutan sama ini couple. Di ambil dari beberapa adegan drama moon lovers : scarlet heart ryeo dan di adaptasi ke zaman modern. Murni imajinasi aku ya, don’t plagiat. Bikin cerita itu susah!-

Happy reading

***

“Jadi kau akan di jodohkan dengan gadis penyerang itu ?” Kata jongdae yang kini bangkit dari posisi berbaringnya di atas sofa panjang studio musik kampus mereka.

“Hera, namanya hera” tekan minseok yang sedikit risih akan nama panggilan yang di sematkan kedua sahabatnya itu pada anak salah satu kenalan ayahnya itu.

Jongdae tersenyum miring “ya kurasa namanya cukup unik seperti orangnya” jongdae berujar sembari melirik kecil ke arah baekhyun namun baekhyun tetap diam tidak mengindahkan sedikitpun perkataan jongdae.

“Tapi baek-ah, ku rasa kau orang yang cukup beruntung” timpal minseok menepuk pundak baekhyun.

Baekhyun mendelik, menatap tidak suka minseok di depannya. Baekhyun mendengus kesal “beruntung ? Kau bilang aku beruntung akan menikah dengan seorang preman ?”

“Heyy aku tidak berkata seperti itu. Maksudku- bukankah sejak dulu hera menyukaimu ?”

“Menyukaiku ? Dengan mengganggu semua aktifitas dan merusak hariku. Yak dia lebih pantas di sebut seorang penguntit!” Kata baekhyun kesal namun sukses mengundang delak tawa jongdae dan minseok.

Ya, selama ini hera memang selalu menjadi bayangan gelap bagi hari-hari baekhyun. Baru saja setahun belakangan baekhyun bisa bernafas lega setelah ia berstatus mahasiswa, dimana hera tidak bisa mengikutinya. Tapi ternyata bayangan hera semakin menakutkan terlebih setelah kesepakatan perjodohan itu.

“Tenanglah bro. Kau bisa memberikannya kepadaku jika kau tidak suka” jongdae berujar dengan senyum menyebalkannya entah itu senyum mengejek atau berusaha menghiburnya.

“Sialan! Apa kau ingin gadis itu mematahkan lagi hidungmu ?” Celetuk baekhyun lagi-lagi membuat tawa jongdae pecah.

~

Hari yang tidak di harapkan baekhyun akhirnya tiba. Jika saja bisa baekhyun benar-benar ingin menghapus hari ini dari kalender tahunan. Ya, hari ini adalah hari pernikahannya. Segala sesuatunya telah di siapkan begitu sempurna oleh sang ibu.

Nyonya byun begitu antusias akan pernikahan ini, terlihat jelas dari segala usahanya untuk membuat acara ini semeriah mungkin. Kegigihan nyonya byun tidak perlu di ragukan lagi terbukti dengan berhasilnya ia memboyong baekhyun untuk menghandiri upacara kelulusan hera meski dengan segala upaya.

Dan sepertinya hari ini nyonya byun juga harus berusaha keras karena sejak semalam baekhyun sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Pemuda itu hanya diam dan mengurung diri di kamarnya. Ia sama sekali tidak mengindahkan panggilan dari siapapun termasuk dari tuan byun.

Nyonya byun menghela nafasnya berat saat berdiri di depan pintu kamar baekhyun yang masih tertutup rapat sementara semua orang telah siap dan acara akan di mulai kurang dari tiga jam lagi.

“Apa oppa belum keluar juga eomma ?” Tanya dahyun yang baru saja tiba di sisi ibunya.

Nyonya byun menoleh dan menatap dahyun dengan ekspresi wajah berusaha memberi ketenangan. “Duluanlah masuk ke mobil dan temani appamu”

Dahyun mengangguk patuh lalu berbalik tapi sebelum melangkah gadis itu menyempatkan dirinya menyeletuk tajam “dasar tukang merepotkan” sindir dahyun pada pemilik kamar di depannya.

Nyonya byun lagi-lagi menghela nafasnya berat. Lengannya terulur pasti mengetuk pintu kamar baekhyun yang ia yakini dengan pasti baekhyun berada di dalam sana dan mendengar segalanya.

“Baek-ah, keluarlah” suara nyonya byun lembut.

Tidak ada jawaban dari baekhyun.

“Baek. Nak. Keluarlah, kita akan terlambat jika tidak berangkat sekarang” nyonya byun kembali bersuara di balik pintu.

“Appa dan dahyun sudah berada di mobil. Baek. Dengarkan eomma baik-baik-” lanjut nyonya byun tidak menyelesaikan kalimatnya.

“Baiklah baek-ah, eomma mengerti. Kau pasti bimbang saat ini. Tapi setidaknya bicaralah dengan eomma. Buka pintunya eoh.”

“Baek-ah” lirih nyonya byun.

“Tolonglah. Eomma mohon-”
Sret~

Pintu kamar baekhyun terbuka, memberi sedikit celah pada nyonya byun untuk mengintip putranya di dalam sana. Nyonya byun tidak menyelesaikan kalimatnya saat jemarinya kini menyentuh daun pintu itu dan bergerak lebih dekat.

“Baek-ah, apa eomma boleh masuk ?” Suara nyonya byun lembut.

Masih tidak ada suara dari baekhyun. Nyonya byun lalu melangkah pelan memasuki kamar baekhyun. Hembusan nafas lega terdengar samar saat nyonya byun menemukan sosok baekhyun duduk termangu di tepi tempat tidurnya. Bagaimanapun ia lega karena baekhyun telah mengenakan setelan pengantinnya.

Nyonya byun meraih pundak baekhyun dan duduk tepat di samping putranya itu.
“Eomma tahu kau begitu ragu akan hal ini” suara nyonya byun lembut sembari menyentuh sisi wajah baekhyun dan membawanya hingga kini keduanya saling bertemu tatap.

“Eomma mengerti baek-ah. Karena itu eomma mohon-, eomma mohon agar kau juga mengerti. Hal ini adalah sesuatu yang besar bagi appamu, keluarga kita dan begitupula bagi keluarga hera”

“Kau tidak ingin membuat appamu malu bukan ? Kau tidak ingin keluarga kita kehilangan kehormatan bukan ?”

“Baek-ah, eomma yakin hari ini tidak akan menjadi sebuah penyesalan untukmu. Percaya pada eomma” bujuk nyonya byun dengan tatapan teduhnya.

Dan nyonya byun lagi-lagi berhasil. Sekarang baekhyun telah berada di dalam mobil bersama dengan ayah, ibu dan dahyun yang duduk mengapitnya.

Setelah melewati perjalanan yang cukup memakan waktu menuju sebuah gereja dengan interior klasik dimana ayah hera dan ibu hera menikah dulu. Ya, ini adalah salah satu permintaan hera. Ia ingin menikah di tempat yang sama dengan ayah dan ibunya. Mungkin hera memang tidak pernah bertemu dengan ibunya namun gadis itu begitu mengidolakan sosok itu di hatinya.

“Baek-ah, dalam pernikahanmu ini ada suatu hal yang berbeda. Ayah hera tidak akan mengantarkan hera menuju depan altar kepadamu tapi kaulah yang akan berjalan bersama dengan hera menuju altar” suara nyonya byun mengingatkan baekhyun setibanya keduanya di sebuah ruangan kecil di dalam gereja itu.

Alis baekhyun mengernyit bingung dan nyonya byun yang melihatnya tersenyum tipis sebelum kembali berujar. “Hera tidak ingin ia atau ayahnya menangis di hari bahagia ini. Bagaimanapun kau harus mengerti mereka hanya hidup berdua” jelas nyonya byun.

“Nah sekarang kau temuilah calon istrimu di ruangannya. Ia pasti telah menunggumu. Eomma percaya padamu baek-ah” kata nyonya byun kembali menepuk pundak baekhyun menginterupsi pemuda itu untuk segera beranjak menuju pintu yang menghubungkan ruangan ini dengan ruang tunggu mempelai wanita.

Baekhyun sama sekali tidak bersuara, ia hanya menunduk sopan pada ibunya sebelum merajut langkahnya perlahan menuju pintu di ujung ruangan tersebut.

Perlahan baekhyun membuka pintu itu dan segera setelahnya ia menemukan sosok hera tengah berdiri membelakanginya dengan gaun pengantin yang terurai panjang hingga menutupi mata kakinya.

Hera lantas berpaling saat derap langkah baekhyun terdengar jelas di telinganya. Senyumnya mengembang menghilangkan raut cemas yang sebelumnya memenuhi dirinya. Ya, sebelumnya hera takut jika mungkin saja baekhyun pergi dan tidak akan datang mengingat pemuda itu tiba begitu terlambat dari waktu acara yang telah di tentukan.

“Mari menikah” suara baekhyun berat. Pemuda itu mengulurkan tangannya meski dengan wajah yang terkesan tidak bersahabat. Tapi hera menyambutnya dengan bahagia, senyumnya lagi-lagi merekah di depan baekhyun.

Sejenak baekhyun larut dalam lamunannya. Tidak bisa di pungkirinya, hari ini tampilan hera begitu berbeda. Ia terlihat- cantik.

“Apa aku yakin dengan apa yang ku lakukan sekarang ?” Benak baekhyun berujar gelisah.

Lamunan baekhyun buyar saat dua orang wanita membuka pintu ruangan tersebut yang menandakan keduanya harus segera memasuki altar pernikahan. Lengan baekhyun bergerak mengambil lengan hera menuntun lengan kecil itu mengamit lengannya.
Hera sedikit tersentak akan perlakuan baekhyun yang bisa di katakan hanyalah sebuah perlakuan kecil namun begitu berarti bagi hera. Gadis itu menoleh menatap wajah datar baekhyun di sampingnya.

Keduanya berjalan beriringan menuju altar di saksikan beberapa undangan dari keluarga terdekat tuan byun serta tuan ji. Tuan ji begitu tersentuh saat melihat sang putri berjalan melewatinya.

Setelah selesai mengucapkan janji suci, keduanya kini berdiri saling berhadapan. Baekhyun menatap dingin hera yang tengah menunduk malu di depannya. Baekhyun tahu betul prosesi apa yang harus ia lakukan setelah ini, sekilas ia mengedarkan pandangan pada semua orang yang hadir.

Mata baekhyun kini tertuju pada ibunya di mana wanita itu tengah mendekap kedua tangannya dan mengepalkannya erat penuh permohonan di depan dada.

Baekhyun menghembuskan nafasnya berat. Ia lalu berangsur mendekat mempertipis jarak diantaranya dan hera. Baekhyun menggerakkan kepalanya ke sisi kiri wajah hera. Terlihat seperti ia akan mencium pipi gadis itu. Para undangan mengira mungkin baekhyun memang melakukannya tapi nyatanya pemuda itu hanya berbisik tepat di depan daun telinga hera.

“Jangan pernah berharap aku akan melakukan apa yang tengah kau dan orang lain pikirkan di tempat ini” bisik baekhyun lalu kembali menarik wajahnya. Dapat di lihatnya dengan jelas raut kecewa di wajah hera namun baekhyun tidak peduli.

Suara tepuk tangan meriah mengalihkan fokus baekhyun. Ia kembali menatap sang ibu yang sekarang terlihat tersenyum lega.

Setelah menyelesaikan upacara pernikahan dan resepsi di tempat yang sama. Sekarang baekhyun dan hera telah berada di kamar baekhyun. Ya, hera yang sejak beberapa jam lalu telah sah menjadi istri dari seorang byun baekhyun mengikuti suaminya itu tinggal bersama di kediaman keluarga byun.

Ayah hara telah kembali menuju perbatasan segera setelah acara berakhir. Sedih ? Tentu saja namun hera tidak begitu terlarut karena sekarang ia tidak lagi tinggal sendiri. Hera telah memiliki keluarga baru dan ia tidak akan membuat ayahnya khawatir akan hal itu lagi.

Hera tengah duduk di depan meja rias yang baru saja menghuni kamar baekhyun, gadis itu melepas aksesoris di kepalanya dengan canggung karena ya, baekhyun sedang berada di belakangnya, duduk diam di tepi tempat tidur dengan pandangan kosong menerawang.

“Ehem!” Canggung baekhyun membuka suaranya.

“Yak” panggil baekhyun menginterupsi kegiatan hera.

“Dengar baik-baik” suara baekhyun kembali setelah hera berpaling dan kini duduk menghadap padanya.  “Kita mungkin menikah. Tapi aku tidak menganggapmu sebagai istriku. Aku akan hidup sama seperti sebelumnya. Jangan coba-coba mengomel ataupun bersikap mengaturku” lanjut baekhyun dengan ekspersi angkuhnya.

“Apa kau paham ?”

Hera hanya diam, menunduk tanpa membuka suara.

“Aku bertanya padamu. Jawablah!” Suara baekhyun mulai meninggi.

“Kau amat menyebalkan. Sejak dulu kau memang menyebalkan. Tidak ada yang berubah. Tidak akan. Hehh” gumam baekhyun pelan namun dapat dengan jelas hera dengar.

“Kita sudah menikah. Sebagai seorang istri aku akan menuruti semua perkataanmu dengan begitu rumah tangga kita akan bertahan” jawab hera dengan nada pasti.

“Apa katamu ?  Omong kosong. Kau dapat dimana kalimat itu ?” Tanya baekhyun tidak suka akan jawaban hera.

“Ini adalah tempat tidurku, sejak dulu sampai sekarang tempat tidurku adalah milikku. Aku menempati seluruhnya” baekhyun berujar kemudian berbaring di tengah-tengah tempat tidur tanpa memberi tempat kosong sedikitpun.

Hera masih duduk diam di tempatnya, tatapan hera masih tidak lepas pada baekhyun yang kini telah memejamkan matanya rapat. Wajah gadis itu sedikit murung akan sikap baekhyun yang sama sekali tidak berubah walaupun mereka telah menikah.

Tapi hera tidak begitu memikirkannya asalkan sekarang ia bisa selalu bersama dengan baekhyun maka semua itu tidak ada artinya. Hera bangkit dan bergerak mendekati baekhyun yang telah terlelap dalam mimpinya.
Hera duduk meringsut di lantai keramik kamar baekhyun, memperhatikan wajah tidur baekhyun yang terlihat begitu damai. Sebuah senyum lantas terukir di bibir pink hera, ia kemudian berbaring di dinginnya lantai keramik. Perlahan mata lelah hera mulai tertutup menghilangkan sosok baekhyun yang sedari tadi menjadi pusat fokusnya dan beralih memasuki alam mimpi.

~

Malam berganti hari dan pagi ini hera bangun terlambat, kemarin adalah hari yang melelahkan baginya karena harus berdiri dengan memasang senyum dan menyapa setiap undangan yang memberikan ucapan selamat untuk pernikahannya.

Hera yang telah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian beranjak menuju dapur dimana semua anggota keluarga barunya telah berkumpul mengelilingi meja makan di ruang itu.

Nonya byun adalah orang pertama yang menyadari kehadiran hera, sembari tersenyum wanita itu melambaikan tangannya “hera-ya, kemarilah kita sarapan bersama” suara nyonya byun setelahnya.

Hera mengangguk canggung, bagaimanapun ia malu karena bangun terlambat di hari pertamanya tinggal sebagai anggota keluarga byun.

“Tidak. Tidak- kau tidak boleh duduk di sini” suara nyonya byun menginterupsi hera ketika ia akan duduk di kursi kosong di sebelah nyonya byun.

“Ini kursiku eonni, kursimu di sana” tunjuk dahyun setibanya ia dari meja pantri.

Hera menatap ragu kursi kosong di seberangnya yang berada tepat di sebelah baekhyun. Pemuda itu tengah menyantap sarapannya tanpa memperdulikan hera, ibunya dan dahyun.

“Duduklah hera-ya” suara tuan byun menyentaknya. Beberapa kali hera mengerjap sebelum akhirnya ia melangkah pelan dan duduk di sebelah baekhyun dengan kikuk.

Tuan dan nyonya byun serta dahyun memperhatikan gerakan canggung hera. Mereka tersenyum geli melihat tinggah kedua pengantin baru itu.

“Ini makanlah, kau harus mengisi tenagamu” suara nyonya byun menyodorkan roti panggang kepada hera.

Hera mengangguk sopan dengan senyum tipisnya lalu mulai menyantap sarapannya.

“Bagaimana hera-ya, apa kau tidur nyenyak ?” Tanya nyonya byun tiba-tiba.

“Ya ?” Jawab hera sedikit tersedak.

Nyonya byun tersenyum jahil. “Apa tubuhmu sakit ? Apa baekhyun kasar padamu ?” Lanjut nyonya byun dengan senyumnya sembari melirik baekhyun yang sepertinya sama sekali tidak terusik.

Hera terdiam. Gadis itu menghentikan aktifitas mengunyahnya. Kedua alisnya mengernyit bingung. “Ah tidak. Aku tidur dengan baik eo-mma” jawab hera polos.

“Eyyyy, eonni kau terlalu jujur” goda dahyun tersenyum jahil dan itu membuat nyonya dan tuan byun tidak lagi dapat menahan tawa geli mereka.

“Emmm bagaimana apa kalian sudah memiliki rencana bulan madu ?” Tanya nyonya byun lagi yang kali ini berhasil membuat baekhyun menghentikan aktifitas makannya.

“Kemarin eomma tidak mengatur acara bulan madu kalian karena takut jika itu tidak sesuai dengan keinginan kalian. Lagipula kalian masih libur sepertinya bulan madu adalah pilihan tepat untuk mengisi waktu libur kalian bukan ?” Kata nyonya byun panjang lebar.

Hera memasang wajah antusiasnya. Bagaimanapun ia begitu senang mendengar kata liburan. Ya, selama ini hera tidak pernah tahu bagaimana cara menghabiskan waktu liburnya selain berdiam di rumah.

“Tidak eomma, aku tidak bisa pergi jauh saat ini, lagipula hera juga harus menyiapkan diri untuk ujian masuk universitas” baekhyun akhirnya membuka suaranya.

Semua orang di meja makan itu menatap baekhyun tidak percaya. Tuan dan nyonya byun serta dahyun tidak percaya akan kalimat yang baru saja keluar dari mulut baekhyun. Sedangkan hera, gadis itu semula kecewa karena seperti biasanya ia sepertinya memang boleh merasakan apa itu liburan. Tapi rasa kecewa itu sirna saat hera menemukan sedikit makna peduli di akhir kalimat baekhyun.

“Uuuuuuu… oppa ternyata tipe suami yang begitu perhatian” dan dahyunlah yang akhirnya membuka suara untuk pertama kalinya membuat tuan dan nyonya byun kembali tersenyum sementara hera menunduk malu olehnya.

Ketiganya tertawa lepas, terlebih saat baekhyun menatap kesal pada mereka dan pergi meninggalkan meja makan.

TBC

Yeyyyyyy!!! baekhera udah sah (lagi).

Bebeb masih gamon kronis nih. Moga yang ngidap penyakit ini gak cuma bebeb ya😄😄

🙈bebebaek_